Formula X [Memory 16]

Formula x 5

Judul: Formula X [Memory 16]

Main Cast:

Jung Yonghwa CNBLUE sebagai Jung Yonghwa

Seo Joohyun SNSD sebagai Seo Joohyun

Other Cast:

Lee Jonghyun CNBLUE sebagai Lee Jonghyun

Im Yoona SNSD sebagai Im Yoona

Rating: PG-17

Lenght: Chaptered

Genre: Romance, Action, AU

 Teaser – Prolog – Memory 1 – Memory 2 – Memory 3 – Memory 4 – Memory 5 – Memory 6 – Memory 7 – Memory 8 – Memory 9 – Memory 10 – Memory 11 – Memory 12 – Memory 13 – Memory 14 – Memory 15

Soju Tents, Side Road Myeongdong

Pukul 22.30 KST

Wajahnya mendongak dengan mulut terbuka lebar menunggu tetes cairan yang akan jatuh dari gelas aluminium kecil yang dipegangnya. Mulutnya mengecap begitu tetesan itu jatuh tepat ke dalam ujung lidah dan larut masuk ke tenggorokannya. Ia menggoyang-goyangkan lagi gelas itu di atas wajah, berharap masih tersisa beberapa tetes cairan yang akan masuk ke dalam mulutnya.

Ia berdecak begitu menyadari cairan itu telah habis. Lalu dengan suara serak ia berteriak sambil menggoyangkan gelas kosongnya di udara. “Ahjuma, satu lagi!!”.

Penglihatannya yang mulai buram, bau soju menyengat yang keluar dari mulutnya, ditambah kepalanya yang terasa hampir meledak, berhasil meyakinkannya bahwa saat ini ia benar-benar sudah diambang batas kesadaran. Padahal selama ini Yoona tidak pernah suka dengan gaya mabuk-mabukkan seperti ini. Ia merupakan salah satu orang yang menganut paham bahwa alkohol merupakan benda yang sama sekali tidak sehat dan tidak mempunyai manfaat saat kau meminumnya, kecuali jika kau menggunakan itu untuk mensterilkan luka dan membunuh kuman.

Namun sepertinya malam ini ia akan menyingkirkan pemahaman itu dari otaknya. Mungkin alkohol juga bisa membantu menyembuhkan luka di hatinya dan membunuh ingatan menyakitkan yang saat ini tengah menggerogoti tubuhnya. Maka dari itu ia belum akan berhenti. Ia bahkan berniat menghabiskan tiga, empat, atau bahkan lima botol soju lagi malam ini sampai hatinya benar-benar sembuh dan ingatan itu benar-benar hilang dari kepalanya.

Yoona kembali menuangkan soju keempatnya yang baru diberikan oleh pelayan ke dalam gelas. Namun lebih dari separuh soju yang berusaha ia tuangkan justru tumpah dan membanjiri seluruh permukaan meja. Kesal dengan kemampuan tangannya yang tidak bisa lagi diajak kerjasama, Yoona akhir meneguk soju langsung dari mulut botol kemudian terbatuk-batuk. Tubuhnya masih belum juga terbiasa dengan alkohol itu.

“Dasar brengsek” umpatnya kesal. Yoona menyeka hidungnya dan kembali meminum beberapa teguk lagi. Panasnya soju yang ditelan terasa membakar tenggorokan, membuatnya kembali harus terbatuk-batuk sampai cairan itu harus keluar lewat hidung dan mulutnya. Walau begitu, Yoona tidak berhenti. Ia justru kembali menelan minuman itu, memaksakan tubuhnya yang sudah lemah untuk beradaptasi dengan air keras itu.

‘Tidak. Aku tidak mengenalnya’

Kalimat itu terus saja bergema di telinganya, membuatnya jengah dan mual. Suara lelaki itu dan tatapan dinginnya juga terus saja menghujam hingga rasanya ia kehilangan kemampuan untuk bernapas.

‘Aku tidak mengenalnya

 Aku tidak mengenalnya

 Aku tidak mengenalnya’

“Tidak!! Tidak!!!” Yoona membanting botol soju kuat-kuat di atas meja kemudian menutup kedua telinganya rapat-rapat. Ia menggeleng kuat mengusir suara-suara itu menjauh. Namun sekuat apapun ia berusaha mengusirnya, suara itu tetap leluasa menggema di dalam kepalanya.

Dan setelah itu, Yoona seakan meledak. Air mata tiba-tiba saja tumpah di wajahnya tanpa sempat ia sadari. Ia menangis kencang hingga membuat semua orang yang berada di sana memperhatikannya dan berdecak penuh iba akan nasib gadis menyedihkan di sudut tenda itu.

Yoona tahu bahwa kini ia terlihat sangat menyedihkan. Ini seperti bukan dirinya, terlihat begitu lemah dan tak berdaya, dan ia benci kenyataan itu. Namun kejadian setengah jam yang lalu benar-benar membuatnya hancur. Seperti inikah rasanya ditolak? Sesakit inikah rasanya diabaikan?

Memang ia tidak seharusnya merasa sakit hati. Ia bahkan tidak punya sedikitpun hak atas apa yang dilakukan oleh lelaki itu. Dengan siapa ia pergi dan kemana ia akan menghabiskan waktunya. Namun sekuat apapun ia mencoba untuk tidak peduli, pada akhirnya ia yang akan terluka. Seperti saat ini, melihat lelaki itu bergandengan tangan dengan wanita lain, tatapan dinginnya yang menusuk, dan satu kalimat menyakitkan itu berhasil membuat pertahanannya hancur lebur hingga tak berbekas, hingga ia harus berakhir menjadi gadis menyedihkan yang menangis di pojok tenda kecil malam ini.

Yoona menenggelamkan kepalanya di atas meja. Mencoba meredam tangisnya yang tak kunjung reda. Matanya bengkak, hidungnya merah, dan rambutnya basah terkena tumpahan soju yang telah bercampur air mata di atas meja. Namun tangisannya tak juga reda, seolah tubuhnya menolak untuk berhenti. Ia tenggelam, terpuruk dan tak berdaya oleh kenyataan menyakitkan yang harus ia terima.

-X-

Lotte Seoul Hotel

Myeongdong, Seoul

Pukul 23.00 KST

Jonghyun berjalan santai keluar loby dengan seringaian khas. Sesekali ia bersiul sambil memutar-mutar kunci mobil di tangannya. Kekehan kecil keluar dari balik bibirnya ketika membayangkan apa yang akan terjadi besok. Kali ini ia yakin Yonghwa pasti tidak bisa membantah feromon kemaskulinannya dan julukan ‘cassanova sejati’ yang telah ia miliki. Ia sendiri juga tidak menyangka bahwa yang kali ini akan jadi semudah itu. Begitu mudahannya sampai-sampai ia sendiri tidak merasakan sensasi menengangkan seperti yang sebelum-sebelumnya. Pastilah wanita itu sudah benar-benar jatuh dalam pesona seorang Lee Jonghyun.

Jonghyun melajukan mobil keluar gedung hotel, dan dengan begitu ia dapat menyatakan bahwa misi malam ini sukses besar. Sekarang yang perlu ia lakukan hanyalah membuat laporan dan menyerahkannya kepada Siwon esok hari.

Wanita yang bersama dengannya di hotel tadi merupakan salah satu pekerja di Yongbyon Nuclear Scientific Research Center di Pyongyang. Jonghyun tidak tahu bagaimana caranya wanita itu bisa sampai ke Seoul, lagipula ia tidak peduli. Ia hanya fokus pada misinya untuk mencari informasi mengenai Prof. Seo dan keterlibatan beliau dalam pembuatan Formula AZ887.

Awalnya Jonghyun ragu dengan rencana yang akan ia buat untuk mendapatkan informasi dari wanita itu. Terlebih ia merupakan wanita dewasa yang mungkin tidak akan terpengaruh dengan rayuan bocah kecil sepertinya. Namun ternyata semua di luar dugaan. Wanita itu seperti seekor kuncing kampung lapar yang baru menemukan ikan segar. Ia masuk ke dalam perangkapnya dengan begitu mudah. Hanya dengan sedikit rayuan dan beberapa kalimat gombal murahan, ia sudah bersedia diajak bertemu di kamar hotel.

Lalu selanjutnya Jonghyun tinggal menyiapkan sebotol wine, beberapa butir obat tidur dan alat perekam suara, dan dalam kondisi setengah sadar wanita itu langsung menceritakan semua kejadian mengenai keterlibatan Prof. Seo dari awal hingga akhir. Ia sendiripun heran, bagaimana bisa wanita itu membocorkan informasi sepenting itu dengan begitu mudah?

Jonghyun kembali terkekeh mengingat kebodohan wanita yang saat ini mungkin telah tertidur pulas di dalam kamar hotel itu. Mengingat bagaimana wajah wanita itu ketika ia berkata ‘Aku menginginkanmu’ dengan nada seduktif yang menggelikan. Kerlingan matanya yang sama sekali jauh dari kesan seksi. Wajahnya yang seperti seekor rubah tua dengan suara cicitan tikus tanah. Ya Tuhan, jika tidak karena kepentingan pekerjaan, ia tidak akan sudi berkencan dengan wanita mengerikan seperti itu.

Kekehannya tiba-tiba terhenti begitu melihat seseorang di tepi jalan. Seorang gadis berjalan sempoyongan dengan tiga orang lelaki mengerumuninya. Bahkan salah satu di antaranya terang-terangan menggerayangi tubuhnya. Jonghyun menghentikan mobil dan keluar tanpa sempat mengunci pintu. Ia berjalan cepat menyebrangi jalan kosong. Wajahnya yang sejak tadi terus tertawa mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Sorot matanya tajam, rahangnya mengeras dengan urat-urat leher yang menyembul keluar. Emosinya tiba-tiba meluap dan siap untuk meledak.

BUGH!!!

Tanpa basa-basi Jonghyun langsung melayangkan pukulan pada salah satu lelaki yang tengah menggerayangi tubuh gadis itu. Lelaki itu langsung jatuh tersungkur dengan darah segar yang mengalir dari lubang hidungnya.

“Ya!!!” Salah seorang dari ketiga lelaki itu –dengan tubuh paling gemuk dan wajah menyeramkan- mendorong kasar tubuhnya. “Apa maumu??”

Bukannya menjawab, Jonghyun justru melayangkan sebuah pukulan tepat di rahang lelaki itu. Kemudian menendangnya berkali-kali ketika ia jatuh tersungkur.

“Sialaaan!!!” lelaki terakhir mencoba melayangkan tinju, namun Jonghyun dengan mudah menahannya. Tanpa ampun, ia memelintir tangan lelaki itu hingga ia berteriak kesakitan. Ia bahkan tidak berhenti ketika lelaki itu berteriak minta ampun. Sebuah tamparan kuatlah yang berhasil menghentikan aksi brutalnya.

Jonghyun membatu ketika menyadari bahwa gadis yang tengah ditolongnya justru berbalik menyerang. Im Yoona berdiri di depannya dengan tatapan mengerikan dan tangan terangkat yang siap kembali untuk menyerang.

“Im Yoona” Jonghyun menahan tangan Yoona, mencoba menyadarkan gadis itu yang jelas-jelas telah mabuk berat.

“PERGI!!!” Yoona berteriak seperti kesetanan lalu dengan kuat menghentakkan tangannya dari genggaman Jonghyun. “Jangan ikut campur urusanku. Pergi!!!” usirnya dengan memukulkan tas tangannya ke tubuh Jonghyun berkali-kali.

Dengan cepat Jonghyun kembali menahan tangan Yoona dan menarik gadis itu ke dalam pelukan untuk menghentikan serangan brutalnya. “Im Yoona, sadarlah” ucapnya sambil berusaha menenangkan Yoona yang masih meronta untuk melepaskan diri.

Yoona mendorong tubuh Jonghyun kuat-kuat lalu menendang kakinya ketika berhasil melepaskan diri. Kemudian dengan lantang ia berkata, “Ya! Kau pikir hanya kau yang bisa bersenang-senang dengan wanita? Aku juga bisa. Aku akan bersenang-senang dengan mereka. Jadi jangan mengangguku, sialan!” ucapnya sambil menunjuk ketiga lelaki yang sudah terkapar tidak berdaya di bawah mereka.

Jonghyun mengerang kesakitan sambil memegangi kaki kirinya akibat serangan tak terduga dari Yoona. Ketika perhatiannya teralih, Yoona telah berjalan menjauh dengan tubuh sempoyongan sambil meraba-raba tembok dan pohon untuk tempat berpegang. Sedangkan ketiga lelaki itu cepat-cepat kabur ke arah berlawanan.

Beberapa meter setelahnya, Yoona jatuh tersungkur dan kemudian terdengar suara ringisan kesakitan yang diikuti suara tangisan darinya.

Jonghyun berdecak melihat semua kejadian itu. Dengan langkah pincang, ia menghampiri Yoona dan duduk di hadapannya. Jonghyun bisa melihat sebuah luka sebesar koin seratus won di lutut kanan Yoona yang mengeluarkan darah dan lebam berwarna biru pada pegelangan kaki kanannya. Jonghyun menatap gadis yang masih menangis itu beberapa saat kemudian menghela napas panjang. Dilepasnya sepatu high heels yang dikenakan Yoona, lalu mengeluarkan sebuah sapu tangan putih dari saku blazer kemudian mengikatnya untuk menutupi luka di lutut Yoona.

“Kau tidak biasa mabuk dan berani berjalan dengan sepatu seperti ini?” Jonghyun mengangkat sepatu heels berwarna beige itu sambil menggeleng heran. Yoona sama sekali tidak terpengaruh oleh ucapan Jonghyun dan masih saja menangis kuat, yang terlihat sedikit berlebihan untuk luka seperti itu.

Jonghyun kemudian membopong Yoona dengan terpincang-pincang ke dalam mobil. Untunglah gadis itu tidak memberontak, sehingga ia berhasil membawa gadis itu dengan kondisi kakinya yang juga masih terasa sakit. Tendangan Yoona tadi benar-benar luar biasa. Ia tidak menyangka gadis itu memiliki tenaga sekuat itu di tengah ketidaksadarannya.

Beberapa menit setelah mobil melaju, Yoona telah tertidur pulas. Wajahnya begitu polos seolah sebelumnya tidak pernah terjadi apa-apa.

“Lee Jonghyun, kau sialan”. Namun Yoona tiba-tiba meracau dalam tidur, diikuti oleh tetesan cairan bening yang meluncur mulus di pipinya.

Jonghyun menatapnya heran. Apa yang terjadi dengan gadis ini? Apakah semua ini berhubungan dengan dirinya? Apa sebenarnya yang ia rasakan sampai sekacau ini? Baru pertama kali Jonghyun melihat sisi yang seperti ini dari Yoona. Gadis itu seperti daun musim gugur yang terlihat begitu kering dan rapuh.

-X-

Kediaman Jung Yonghwa

Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

Pukul 07.30 KST

Seohyun menggeliat pelan. Sebelah tangannya meraba-raba tempat kosong di sisi lain tempat tidur dengan mata tertutup. Ia mengernyit kecil ketika menyadari tidak menemukan apa yang ia cari. Dengan perlahan Seohyun membuka mata, yang langsung disambut oleh sinar matahari pagi hangat dari arah jendela. Ia berdecak, lalu menarik selimut dan bersembunyi di baliknya. Kembali menenggelamkan tubuhnya ke dalam kehangatan selimut tebal yang nyaman.

Tidak sampai semenit, selimut itu kembali disingkap. Seohyun membuka mata dan kembali menoleh mencari sesuatu di tempat tidur. Karena tak berhasil menukan, ia akhirnya bangkit dan berjalan keluar kamar.

“Kau sudah bangun?” Suara sapaan lembut dari orang yang sejak tadi ia cari menyambutnya ketika memasuki ruang tengah.

“Hmmm… Kau tidak membangunkanku?” Seohyun bertanya dengan suara serak khas pagi hari.

“Kau tidur pulas sekali. Seperti beruang yang sedang hybernasi” jelas Yonghwa yang diikuti kekehan kecil.

Seohyun mengerucutkan bibirnya mendengar candaan Yonghwa. Ia kemudian bersandar di sisi ruangan sambil memperhatikan Yonghwa berkacamata yang tengah sibuk dengan laptop di hadapannya, menyelesaikan perkerjaan dengan kertas-kertas yang berserakan di atas meja.

Jika diingat-ingat, ia tidak pernah melihat Yonghwa yang seperti ini sebelumnya. Meskipun mereka telah tinggal hampir setengah bulan bersama, namun hampir setiap hari mereka bertengkar. Sehingga Seohyun lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamarnya seorang diri.

Sisi Yonghwa yang seperti ini seolah mengigatkannya bahwa lelaki itu benar-benar seorang agent rahasia profesional. Rasanya sulit sekali menerima kenyataan itu jika ia mengingat kembali sosok Yonghwa yang ia kenal di apartementnya dulu. Sosok Yonghwa yang seperti ini terasa sedikit asing.

“Kenapa kau memperhatikanku seperti itu?” Pertanyaan Yonghwa yang tiba-tiba menyadarkan Seohyun dari lamunan singkatnya. Lelaki itu bertanya tanpa sedikitpun menoleh dari layar laptop.

Karena tidak ada jawaban, Yonghwapun mengangkat wajah dan menatap gadis itu di seberang ruangan. “Terpesona?” godanya penuh percaya diri.

Seohyun mendengus kecil. Tidak hanya menyebalkan, Yonghwa yang ini juga punya tingkat kepercayaan diri yang tidak masuk akal.

“Lihatlah luka-luka menyeramkan di wajahmu itu” Seohyun menunjuk wajah Yonghwa yang masih dipenuhi luka. “Bagaimana bisa kau terlihat mempesona dengan luka-luka seperti itu?”

Seohyun lalu menghampirinya dan duduk tepat di samping Yonghwa. “Pagi ini sudah diberi obat?” tanyanya sambil memperhatikan luka-luka di wajah Yonghwa yang belum kering.

“Belum. Ada beberapa obat yang habis dan aku akan membelinya nanti”

“Biar aku yang pergi” Seohyun menawarkan diri dengan suka rela yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Yonghwa.

“Tidak. Terlalu berbahaya”

Seohyun menggerutu kesal mendengar jawaban Yonghwa. “Apotek hanya berjarak 700 meter dari sini, Tuan Jung. Tidak akan terjadi apa-apa”

“Tetap saja itu berbahaya”

“Terkadang sikap protektifmu itu membuatku kesal” kata Seohyun terang-terangan.

“Memang. Tapi aku tetap tidak akan mengizinkanmu” Yonghwa tetap bergeming dengan ucapan Seohyun dan lebih memilih kembali menyibukkan diri dengan laptop di depannya.

Seohyun menarik napas panjang atas sikap keras kepala Yonghwa. “Jangan memulai perkelahian lagi, Yonghwa-sii”.

Yonghwa berhenti mengetik dan menatap wajah Seohyun yang sudah berubah masam. “Bukankah kau harus ke kantor pagi ini?” Yonghwa melontrakan pertanyaan alihan yang justru makin membuat Seohyun kesal.

Seohyun berdecak sebelum menjawab pertanyaannya. “Aku masuk siang. Hari ini hanya ada agenda untuk tinjau lapangan. Jadi aku masih punya waktu untuk membeli obatmu di apotek”

Seohyun langsung beranjak pergi tanpa menunggu jawaban dari Yonghwa, yang menandakan bahwa debat pagi ini telah berakhir dengan kemenangan olehnya.

-X-

Kediaman Lee Jonghyun

Cheongdam-dong, Gangnam-gu, Seoul

Pukul 07.00 KST

Seluruh tubuhnya sakit. Ototnya seakan tertarik kuat kemudian robek menjadi serabut-serabut asimetris kecil tak beraturan. Seluruh tulangnya remuk redam, nyeri hingga sepertinya ia butuh sekotak obat anastesi untuk menyembuhkannya. Apakah ia masih hidup? Jika iya, kenapa tubuhnya tak mampu ia gerakkan? Jika sudah mati, kenapa rasa sakit ini terasa begitu nyata?

Sebuah desakan tiba-tiba muncul dari dalam perutnya. Mengalir cepat dan berakhir di ujung tenggorokan. Yoona membuka mata dan melompat dari tempat tidur. Tak peduli pada rasa sakit di sekujur tubuhnya, ia berlari cepat ke dalam toilet.

Yoona memuntahkan seluruh isi perutnya, hingga tak ada lagi yang bisa keluar kecuali cairan bening. Dengan sisa tenaga, ia membasuh wajah tirusnya dengan air dingin kemudian berkumur untuk menghilangkan rasa pahit yang tertinggal di dalam mulutnya.

Jonghyun sudah berdiri menyambut ketika ia keluar dari toilet. Sebuah nampan berisikan menu sarapan lengkap juga sudah tersedia di atas tempat tidur.

“Bagaimana keadaanmu?” Jonghyun bertanya sambil memberikan sebuah baju ganti kepadanya.

Yoona mengambil baju itu dan melemparkannya ke atas kasur. “Kenapa kau membawaku ke sini?” ia balik bertanya.

Jonghyun menatap baju kemeja putih yang Yoona lempar kemudian menjawab dengan tenang, “Ku rasa kau tidak akan ingin kedua orang tuamu melihat kondisimu tadi malam”

“Kau bisa meninggalkanku di jalan. Kau tahu, tindakanmu ini terlalu berlebihan untuk menolong seseorang yang tidak kau kenal” sidir Yoona. Tindakan Jonghyun untuk menolongnya entah kenapa justru membuatnya merasa tersinggung. Ia lebih memilih tidur di pinggir jalan semalaman, seorang diri dan kedinginan daripada harus memperlihatkan sisi lemahnya pada lelaki itu.

“Tindakanmu itu juga berlebihan. Apa kau pikir tidak berbahaya berjalan tengah malam dalam keadaan mabuk dikelilingi tiga orang preman?” Jonghyun berkata dengan nada meninggi. Kesal dengan sikap keras kepala Yoona dan tindakan gegabahnya tadi malam. Entah apa yang akan terjadi jika ia tidak berada di sana.

Yoona mendengus mendengar jawaban Jonghyun. “Bagiku tiga orang preman jauh lebih baik daripada satu orang lelaki playboy sepertimu”. Ia kemudian berjalan melewati Jonghyun dan mengambil tasnya di atas meja. Tak berniat sedikitpun untuk sekedar berganti baju atau menyicipi sarapan yang sudah tersedia.

Jonghyun menahan Yoona tepat sebelum gadis itu keluar kamar. “Kurasa kita perlu bicara”.

“Berbicara? Apa? Mengenai keselamatanku? Mengenai tanggung jawabmu? Mengenai janjimu untuk melindungiku dan tidak melibatku dalam kasus itu?”. Jonghyun kehilangan karta-kata mendengar semua rentetan kalimat yang keluar dari mulut Yoona.

“Lee Jonghyun”. Yoona membalikkan tubuhnya. Berdiri berhadapan dengan jarak empat puluh sentimeter di depan Jonghyun. Ada jeda panjang yang ia buat selama beberapa detik. Dalam diam, kedua bola matanya meniti wajah Jonghyun lekat-lekat. Menyadari bahwa waktunya untuk melihat wajah itu terbatas, maka setidaknya ini adalah usaha terakhirnya. Mungkin yang paling bodoh dan yang paling gila.

“Berapa yang wanita itu bayar untuk bisa bersamamu satu malam?”. Jonghyun tersentak mendengar pertanyaan gila Yoona yang tiba-tiba. “Aku akan membayarmu lima kali lipat untuk dapat berkencan denganku dalam satu hari. Bagaimana?”

“Kurasa kau masih mabuk” geram Jonghyun. Jelas tidak suka dengan pertanyaan Yoona barusan.

Yoona mengangguk samar sambil tersenyum aneh. “Kalau begitu kita memang tidak perlu lagi bicara. Semua sudah berakhir” Yoona menarik tangannya dari genggaman Jonghyun kemudian bergegas pergi.

Ia berjalan terpincang-pincang dengan sebelah tangan menenteng sepatu high heelsnya. Pergelangan kakinya yang terkilir ditambah luka pada lutut kanan, tak menghalanginya untuk terus melangkah secepat yang ia bisa. Bibirnya yang terus ia gigit untuk meredam rasa sakit sudah terasa bengkak dan mati rasa. Ketika telah berhasil keluar rumah, air matanya luluh tak terbendung. Kini ia harus menerima kenyataan, bahwa semua sudah benar-benar berakhir. Ia akan pergi, tidak akan pernah lagi menyusahkan dan membebani lelaki itu. Persis seperti yang diinginkan Lee Jonghyun.

-X-

Kediaman Jung Yonghwa

Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

Pukul 08.00 KST

“Apa yang sebenarnya kau pikirkan datang sepagi ini?” Yonghwa menatap heran Jonghyun yang baru tiba kemudian duduk dan meminum Americano-nya tanpa izin.

“Saat ini aku merasa menjadi orang paling brengsek di muka bumi. Dan kurasa hanya kau satu-satunya orang yang tetap akan menerima ke-brengsekanku dengan lapang dada”.

Yonghwa mengernyit mendengar penjelasan ‘tepat – tetapi – sedikit – tidak – masuk – akal’ yang dilontarkan Jonghyun. Namun ia tidak berniat untuk bertanya terlebih dulu, karena di saat-saat seperti ini, ia hanya perlu menjadi pendengar yang baik.

“Kenapa dengan wajahmu, Hyung?” Jonghyun tiba-tiba bertanya sambil menunjuk luka-luka di wajah Yonghwa dengan ekspresi geli. Dan entah kenapa Yonghwa merasa bahwa lelaki itu tidak berniat melanjutkan pembicaraan mereka barusan.

“Kemarin aku bertemu Jungshin” jelas Yonghwa yang membuat Jonghyun terdiam.

“Jungshin? CIA?” tanya Jonghyun. Bola matanya membulat kaget. “Bagaimana bisa?”

“Aku melihatnya tengah mengikuti Joohyun kemarin”

“Dan Seohyun tahu kejadian ini?”

“Tidak” Yonghwa menggeleng. “Ia tidak boleh tahu. Ini hanya akan memperburuk keadaan. Kyuhyun dan Korea Utara sudah membuatnya cukup kacau”. Yonghwa tidak bisa membayangkan jika Seohyun mengetahui bahwa Agent CIA juga tengah mengincar dirinya. Terlebih tujuan mereka jauh lebih berbahaya dari tujuan para Agent Korea Utara. Korea Utara menginginkan Formula AZ887, maka setidaknya mereka tidak akan menyakiti Seohyun demi kepentingan mereka. Lain halnya dengan CIA, mereka ingin menghilangkan Formula AZ887, yang juga berarti ingin menghilangkan ingatan Seohyun juga. Berbahaya, karena mereka akan melakukan segala cara agar misi itu tercapai.

“Kau sendiri? Bagaimana tugasmu?” Yonghwa bertanya untuk mengalihkan pembicaraan. Merasa tak nyaman jika membahas mengenai masalah CIA di dalam rumahnya. Meskipun Seohyun sedang tidak berada di rumah, ia tetap harus berhati-hati.

Jonghyun tersenyum dan mengangguk puas sebagai jawaban. “Seperti yang kita duga, Prof. Seo tidak bersalah. Beliau hanya dimanfaatkan. Dugaan NIS selama ini benar”

“Benarkah?” tanya Yonghwa yang terlihat setengah kagum dan setengah tidak percaya akan berita yang baru saja Jonghyun berikan. “Baguslah kalau begitu. Ini akan menjadi kabar baik untuk Joohyun”.

Tepat setelah itu, Seohyun kembali dari apotek dengan membawa beberapa obat yang Yonghwa butuhkan. Dan Jonghyun harus segera pergi ke NIS Office untuk melaporkan beberapa informasi yang ia dapatkan kepada Siwon pagi ini.

-X-

J n J Design Architecture Office, Gangnam-gu, Seoul

Pukul 20.20 KST

Seohyun berdiri menunduk, memandangi ujung sepatunya yang mulai dibasahi oleh titik-titik air hujan yang mulai turun. Hampir dua puluh menit ia bertahan dalam posisi seperti itu, berdiri diam di dekat gerbang depan dengan dilindungi oleh atap canopi yang menghubungkannya dengan pos jaga di ujung sana. Ia lebih memilih untuk menunggu di luar daripada harus menunggu di dalam gedung kantor yang sudah nyaris kosong.

Yonghwa yang seharusnya sudah datang dua puluh menit lalu untuk menjemputnya belum juga tampak. Ia beralasan bahwa ada sedikit masalah dengan mobilnya dan meminta Seohyun untuk menunggu di tempat terang dan ramai. Tapi hujan yang baru saja turun membuat semua orang menghilang, hanya tinggal seorang pak satpam tua dengan seragam lengkapnya yang tengah berjaga-jaga di dalam pos.

Padahal bisa saja ia pulang menggunakan taksi seorang diri. Namun Yonghwa menolak dan bersikeras akan menjemput. Membuatnya mau tidak mau harus menunggu sampai lelaki itu tiba. Ia benar-benar tidak habis pikir dan belum terbiasa dengan sifat keras kepala Yonghwa. Membuatnya harus punya stok kesabaran ekstra untuk menghadapinya.

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil jeep hitam berhenti tepat di depannya. Seohyun yang sudah mengenal betul mobil itu segera berlari menerobos hujan dan masuk ke dalam mobil.

“Kenapa kau seorang diri di sana?” tanya Yonghwa tepat setelah ia berhasil masuk ke dalam mobil dengan tubuh yang sedikit basah.

“Hujan. Semua orang sudah pulang” kata Seohyun.

“Kenapa tidak menunggu di tempat lain yang lebih ramai? Kau membuatku khawatir” protes Yonghwa. Ia lalu mengambil cardigan di jok belakang dan mengeringkan rambut basah Seohyun dengan benda itu. “Aku baru saja ingin membawakanmu payung, tapi kau sudah berlari lebih dulu”.

“Terimakasih” ucap Seohyun sambil mengambil alih cardigan dari tangan Yonghwa dan kembali mengeringkan rambutnya seorang diri.

Tepat sebelum Yonghwa melajukan mobil, Seohyun tiba-tiba bertanya padanya, “Yonghwa-sii, siapa CIA yang kau maksud?”

Yonghwa sontak terkejut dan menoleh pada Seohyun yang justru terlihat tenang dengan pertanyaannya.

“Maaf, aku mendengar pembicaraanmu dengan Jonghyun-sii tadi pagi” jelas Seohyun. “Apa tujuan mereka? Apa mereka juga menginginkan formula itu? Atau___ mereka justru ingin memusnahkannya?” terkanya hati-hati.

Hampir seharian Seohyun memikirkan hal ini. Sejak mendengar pembicaraan Yonghwa dan Jonghyun pagi tadi, ia mulai menerka-nerka tujuan terlibatnya CIA dalam kasus ini. Dan akhirnya ia sampai pada dua kesimpulan. Pertama, mereka juga menginginkan formula itu untuk kepentingan mereka. Kedua –dan yang paling buruk- mereka ingin memusnahkan formula itu, yang berarti harus memusnahkan ingatannya juga.

Ada jeda kosong yang dibuat Yonghwa setelah Seohyun mempertanyakan kebenaran itu. Butuh waktu lama bagi Yonghwa untuk mencerna kalimat terakhirnya. Suara derasnya hujan yang turun seolah mengisi keheningan tanpa akhir. Yonghwa memandang kosong lampu jalan yang samar-samar terlihat di kejauhan. Tak tahu bagaimana memulai pembicaraan yang sangat ia benci ini.

“Ku rasa kau perlu menjelaskannya padaku. Aku berhak tahu” bisik Seohyun. Suaranya nyaris tenggelam di dalam derasnya hujan. “Apa mereka berusaha memusnahkan formula itu?”. Apa mereka juga berusaha memusnahkanku? Pertanyaan itu juga ikut keluar, namun tak berhasil ia ucapkan.

Yonghwa menatapnya. Lidahnya seolah beku dan tak mungkin bisa bicara, namun ia sendiripun kaget begitu berhasil menyahutinya dengan suara yang tenang. “Ya, begitulah yang kutahu”.

Seohyun mengangguk kecil. Kenyataan itu seolah menghantamnya kuat-kuat. “Apa menurutmu semua ini masuk akal?” tanyanya sambil menatap bayangan di kaca mobil. “Aku tidak pernah terlibat dalam pembuatan formula ini, aku juga tidak tahu menahu semua masalah di dalamnya. Menurutmu adilkah jika semua orang kini mengincarku?”

Seohyun mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Tidak, ia tidak ingin menangis sekarang. Namun rasanya semua masalah ini terasa semakin berat dan tak adil baginya. Bukan maunya untuk memiliki ingatan berbahaya ini. Ia hanyalah korban. Ia juga ingin memiliki kehidupan normal seperti kebanyakan orang. Apa tidak terlalu berlebihan jika kini semua pihak turut mengincarnya?

Bayangan dirinya di kaca mobil yang tertutupi tetesan air hujan terlihat menyedihkan. Seohyun tahu pertahanannya telah hancur. Ia hanya dapat menangis tanpa suara, berharap Yonghwa tak menyadari dan suara hujan membantu menengelamkan tangisannya.

Namun yang terjadi selanjutnya justru membuat tangisannya makin pecah. Yonghwa menarik tubuhnya. Menenggelamkan wajahnya di dalam dada bidangnya yang hangat dan nyaman. Dan kini ia kehilangan kendali. Ia menangis kencang seolah menyuarakan ketidakadilan yang ia rasakan pada udara kosong di sekelilingnya.

Namun ucapan Yonghwa selanjutnya berhasil membuatnya merasa jauh lebih tenang. Sambil mengelus puncak kepalanya, Yonghwa berkata, “ Semua akan baik-baik saja. Aku akan melindungimu. Bahkan jika aku harus mengorbankan nyawaku”.

-X-

Keesokan hari

Tosokchon Resto, Jongno-gu, Seoul

Pukul 12.20 KST

Mereka duduk berhadapan, hanya dipisahkan oleh semangkuk samgyetang hangat di atas meja. Seohyun melirik Yoona dari sudut matanya. Bertanya-tanya alasan Yoona memintanya bertemu jauh dari kantor dan tempat tinggal mereka. Namun yang justru ia lakukan hanya mengaduk-ngaduk mangkuk nasinya yang mulai mendingin.

“Hyunnie” Yoona akhirnya terlebih dulu membuka suara. Wajahnya terlihat berbeda dari biasa, lebih pucat dengan kantung mata yang mulai menghitam. “Bagaimana kondisimu?”

“Aku baik-baik saja” Seohyun tersenyum, menegaskan perkataannya dengan anggukan cepat. “Justru kau yang terlihat tidak baik, eonni” ucapanya khawatir.

“Ya, bebeapa hari ini aku kurang istirahat” aku Yoona. “Ada perkembangan mengenai kasusmu?”

“Ya” Seohyun membenarkan. Ia akhirnya menceritakan kepada Yoona mengenai informasi keterlibatan ayahnya yang didapat Jonghyun. Bahwa ternyata selama ini ayahnya tidak bersalah dan hanya dimanfaatkan oleh orang-orang tak bertanggungjawab. Penelitian yang ia habiskan selama bertahun-tahun untuk pengembangan teknologi manusia justru disalah artikan menjadi sebuah formula mengerikan bagi kepentingan pihak tertentu.

Seohyun tentu saja sedih mendengar kenyataan itu, terlebih ayahnya harus meninggal demi menyelamatkan penelitian berharganya. Namun di satu sisi ia juga merasa lega, bahwa ternyata ayahnya tidak seperti yang ia duga selama ini. Beliau bersih, dan sama sekali tidak terlibat dalam rencana mengerikan itu. Dan ia bersyukur berada dalam pihak yang akan menjaganya sekarang.

Dan Seohyun sama sekali tidak menyinggung masalah mengenai pihak CIA yang tengah mengincarnya. Itu hanya akan membuat Yoona khawatir terhadap keselamatannya. Lagipula lebih bagus jika Yoona tidak mengetahuinya. Semakin sedikit informasi yang Yoona ketahui, semakin aman dirinya.

“Aku turut senang mendengar kabar itu” Yoona menggenggam erat tangan Seohyun. Merasa bersyukur akhirnya Seohyun mengetahui semua detail permasalahan ini.

“Aku juga eonni. Dan aku juga harus berterimakasih pada Jonghyun-sii yang telah bekerja keras untuk mengungkapkan kebenaran ini”

Yoona merasa tubuhnya terkena sengatan kecil ketika Seohyun mengucapkan nama itu di depannya. “Bagaimana ia bisa mendapatkan informasi itu?”

“Aku juga tidak tahu secara rinci. Tapi tadi malam Yonghwa menceritakan padaku bahwa Jonghyun mengorek informasi dari salah satu pekerja di  Yongbyon Nuclear Scientific Research Center malam dua hari yang lalu”.

“Dua hari yang lalu?” ulang Yoona seakan ucapan Seohyun terdengar tidak masuk akal di telinganya.

Mendadak rasa bersalah mengguyur habis tubuhnya. Yoona terdiam sambil kembali berusaha memutar ulang kejadian malam dua hari yang lalu. Pasti wanita yang bersama dengan Jonghyun di hotel itu merupakan pekerja yang Seohyun maksud. Rasanya ia ingin menampar dirinya habis-habisan. Kelakuannya benar-benar memalukan dan membuatnya merasa bersalah karena telah berprasangka buruk terhadap Jonghyun.

Namun Yoona kembali sadar, bahwan apapun yang akan ia lakukan untuk memperbaiki keadaan tidak akan ada lagi pengaruhnya. Toh, setelah ini ia tidak akan kembali bertemu Jonghyun. Dan lambat laun waktu juga akan menghilangkan ingatan itu dari mereka berdua.

Yoona kemudian menatap Seohyun. Sudah waktunya ia mengatakan apa tujuan mereka bertemu hari ini. “Hyunnie, besok aku akan pindah ke Los Angeles. Jaga dirimu baik-baik”.

Seohyun terdiam mendengar perkataan Yoona. Mata bulatnya berkedip-kedip pelan, seolah mencoba mencerna kalimat Yoona satu per satu. “Pindah? Los Angeles?”

Yoona mengangguk. “Ya, seharusnya aku pergi tiga minggu lagi. Tapi karena suatu hal, aku mempercepat keberangkatanku. Lagipula, kedua orang tuaku sudah pergi beberapa hari yang lalu”

“Tapi___ kenapa?” Seohyun tergugu. Ia seperti kehabisan kata-kata. Tidak pernah sekalipun ia membayangkan bahwa Yoona akan pergi jauh dari hidupnya. Tubuhnya terasa limbung setelah terhantam berita-berita yang tak terduga selama dua hari terakhir.

“Maafkan aku, Hyunnie. Tapi kupikir, kau akan baik-baik saja tanpa aku. Aku yakin Yonghwa akan menjagamu dengan baik”.

“Tapi___” Semua kenangan-kenangannya bersama Yoona selama ini tiba-tiba kembali berputar di dalam kepalanya. Yoona yang selalu mengkhawatirkannya, yang selalu membantunya ketika ia mengalami kesulitan. Yoona yang bukan hanya sebagai seorang dokter ataupun kenalan, tapi lebih dari itu, ia seperti keluarga baginya. Satu-satunya keluarga yang ia miliki dan dapat ia andalkan di sini.

“Bisakah kau untuk tidak pergi?” Seohyun memohon, berbisik dengan suara bergetar. “Aku membutuhkanmu, eonni”

Yoona menengadahkan wajahnya. Berusaha mencegah air matanya untuk mengalir keluar. Ia tahu Seohyun akan bereaksi seperti ini, namun ia tidak boleh terlihat lemah. “Maafkan aku Hyunnie. Tapi tolonglah mengerti. Suatu saat kita akan kembali bertemu. Aku yakin itu”.

Dan pertemuan siang itu berakhir dengan sebuah pelukan erat dari Yoona. Seohyun tahu ia tidak baik, namun sekuat tenaga ia berusaha tetap terlihat kuat di mata Yoona. Setidaknya, ia tak ingin membuat beban Yoona menjadi lebih berat dengan memperlihatkan kondisinya.

Sebelum mereka berpisah, Yoona berpesan padanya dengan mata yang mulai memerah. “Jangan datang ke bandara besok. Aku tidak yakin dapat mengatasinya jika lebih dari ini”.

-X-

Keesokan hari

Kediaman Jung Yonghwa

Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

Pukul 08.00 KST

“Lee Jonghyun!!” Seohyun berteriak memanggil Jonghyun tepat ketika memasuki ruang makan.

Jonghyun menoleh dengan sepotong roti bakar di mulutnya.

“Apa yang kau lakukan di sini??” tanya Seohyun kesal.

Jonghyun mengangkat sebelah alisnya, kemudian menoleh kepada Yonghwa meminta penjelasan atas sikap Seohyun yang sedikit aneh pagi ini. Yonghwa hanya mengangkat bahu, sama tidak mengertinya dengan Jonghyun.

“Sarapan” jawabnya kemudian menawarkan sepotong roti yang baru ia gigit kepada Seohyun. “Mau?”

Seohyun memutar bola matanya. “Kau tidak pergi ke bandara?” tanyanya gemas.

“Ke bandara? Untuk apa?” tanya Jonghyun bingung. Terlihat sama sekali tidak mengerti akan apa yang sedang Seohyun ucapkan.

“Yoona eonni akan pindah ke Los Angeles hari ini. Apa kau tidak tahu?”

Jonghyun menyemburkan setengah kopi yang baru ia minum. Lalu terbatuk-batuk setelahnya. “Apa katamu?”

“Apa Yoona eonni tidak mengabarkannya kepadamu?” terka Seohyun. Ia lalu segera menarik Jonghyun dari meja makan dan menyuruhnya untuk segera pergi. “Pesawatnya berangkat pukul sembilan. Cepat pergi sebelum terlambat”.

Tak mau membuang-buang waktu, Jonghyun bergegas pergi dari rumah secepat yang ia bisa. Ia sama sekali tak bisa menjabarkan apa yang ada dipikirannya saat ini. Semuanya terasa kacau.

-X-

Terminal keberangkatan Internasional, Incheon Airport

Pukul 08.50 KST

Ia duduk termenung, di tengah hiruk pikuk kesibukan orang-orang yang berusaha mengejar waktu. Yoona seolah terjebak dalam kehampaan, di dalam dimensi asing yang tak ia ketahui, ragu untuk kembali atau bergerak maju. Ia tak bisa melangkah maju, perasaan bersalahnya pada Jonghyun masih menahannya di sini. Namun ia tak bisa kembali, terlalu sulit karena ia telah melangkah sejauh ini.

Suara panggilan penerbangan yang menggema di seluruh bandara berhasil menyadarkannya. Ia sudah harus pergi. Tapi tubuhnya menolak. Entah kenapa ia masih ingin di sini, menunggu seseorang yang mungkin tidak akan pernah datang.

Sepasang sepatu berhenti tepat di depannya. Yoona mengernyit, kemudian mengangkat wajah.

“Jadi seperti inikah caramu pergi?”. Seulas wajah tak asing telah berdiri menjulang di atasnya. Lee Jonghyun tengah menatapnya dengan napas tak beraturan dan keringat yang menetes jatuh di sudut rahang.

Yoona berdiri tanpa melepaskan tatapannya dari wajah Jonghyun. Rasanya tidak lucu jika ia harus berhalusinasi sepagi ini.

“Kenapa___” belum sempat Yoona menyelesaikan kalimatnya, Jonghyun telah berhasil melumat bibirnya tanpa izin. Tubuhnya limbung, karena tak siap akan serangan tiba-tiba itu. Sengatan dari dalam tubuhnya berhasil menyadarkan bahwa ini bukanlah mimpi. Jonghyun nyata, dan pangutan bibir mereka yang menyatu juga terasa sangat jelas.

Yoona menarik kemeja Jonghyun untuk memperdalam ciumannya. Ia tahu ia gila. Ia bahkan tak peduli pada orang-orang yang melihat sengit ke arah mereka. Yang ia inginkan hanyalah, lelaki ini tak lagi pergi darinya. Hanya itu. Dan itu sudah lebih dari cukup.

Beberapa menit kemudian, Jonghyun melepaskannya. Sambil menatap kedua mata bulat Yoona, ia berkata. “Pergilah. Aku tidak akan menahanmu. Dan aku juga tidak akan memintamu untuk menungguku”

Kalimat Jonghyun seperti memaksanya kembali pada realita yang menyakitkan. Ia seperti dilambungkan ke langit paling tinggi, kemudian dihempaskan kuat-kuat ke dalam lembah tak berujung. Dengan tubuh yang tercabik-cabik dan tanpa sisa kekuatan yang ada. Setelah mampu menguasai diri, ia akhirnya bertanya, “Lalu kenapa kau memberiku harapan?”

“Aku tidak memberimu harapan. Aku hanya menyampaikan perasaanku” jelas Jonghyun yang sama sekali tak dapat ia pahami. Jika mereka memiliki perasaannya yang sama, lalu kenapa mereka tak bisa bersatu?

“Kau pengecut, Lee Jonghyun”. Yoona berkata di titik dimana ia tak bisa lagi berpikir. Hanya itu satu-satunya kalimat yang berputar di dalam otaknya.

Tanpa berniat menghabiskan waktu lebih lama, Yoona akhirnya pergi dengan menarik sebuah koper besar di salah satu tangannya. Ia tidak ingin melihat lelaki itu lebih lama, lagipula tak ada lagi kalimat yang perlu ia katakan padanya. Tindakan Jonghyun tadi benar-benar menghancurkannya. Ia merasa dipermainkan dan direndahkan. Dan itu justu memperburuk keadaannya.

Namun kalimat yang Jonghyun teriakkan tak jauh di belakang membuat langkahnya terhenti beberapa saat. Dan pada saat itu pula, air mata kembali tak mampu ia bendung.

“Im Yoona, kau masih memiliki satu hutang padaku. Suatu hari nanti aku pasti akan menagihnya padamu”

-X-

Kediaman Jung Yonghwa

Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

Pukul 08.30 KST

Beberapa menit setelah Jonghyun pergi, Seohyun yang tak mengerti akan sikap Jonghyun bertanya pada Yonghwa, “Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Jonghyun? Ia jelas-jelas memiliki perasaan pada Yoona eonni. Kenapa ia begitu keras kepala?”

Yonghwa tersenyum kecil kemudian dengan tenang berkata, “Pekerjaan kami sebagai agent NIS merupakan pekerjaan berbahaya. Kami selalu hidup di bawah bayang-bayang tekanan para musuh. Kau tahu, hampir delapan puluh persen Agent yang bekerja di NIS merupakan orang-orang yang terbiasa hidup seorang diri tanpa keluarga ataupun orang yang dikasihi, seperti Jonghyun. Karena akan jauh lebih mudah jika kau hanya seorang diri, tanpa perlu mengkhawatirkan keselamatan orang yang kau kasihi”

Seohyun mengangguk kecil, kemudian dengan rasa penasaran ia bertanya, “Lalu bagaimana denganmu? Kenapa kau memutuskan bersama denganku?”

“Bersamamu ataupun tidak, sejak awal aku memang sudah mempunyai tanggungjawab terhadap keselamatanmu. Jadi tak ada bedanya” jawab Yonghwa santai sambil menyesap Americanonya yang hampir habis.

Seohyun mengerucutkan bibir mendengar jawaban tak memuaskan dari Yonghwa. Ia merajuk dan memutuskan untuk pergi meninggalkan lelaki itu seorang diri. Jika saja lelaki itu menjawab ‘Karena aku memang mencintaimu’, maka demi apapun, Seohyun akan langsung melompat ke dalam pelukannya dan memberikan hadiah kecupan pagi hari padanya. Tapi sepertinya ia berharap terlalu tinggi.

Yonghwa sendiri hanya bisa terkekeh melihat reaksi yang ditunjukkan Seohyun. Ia tahu betul apa maksud Seohyun memberikan pertanyaan itu padanya. Tapi ia berusaha untuk menahan diri. Ia tak ingin terlihat seperti ‘lelaki murahan’ di depannya. Walaupun sebenarnya ia sangat ingin berkata ‘Tentu saja karena aku mencintaimu’.

-X-

Note: Coba baca kembali bagian akhir Memory 10 jika penasaran dengan Hutang yang Jonghyun maksud.

Sekali lagi aku minta maaf atas keterlambatan update FF ini. Beberapa bulan terakhir pekerjaan benar-benar hectic. Berkali-kali ikut rapat dan buat laporan jadi mohon pengertiannya.

Untuk Memory selanjutnya akan mulai aku protect. Jadi buat yang ingin minta Password, silahkan langsung tanya melalui email yang sudah aku kasih ya.  Dan tolong, kalau minta password jangan kayak preman nagih utang. Jujur, itu benar-benar membuat aku tersinggung. Jadi tolong manner-nya juga dipake ya…🙂

Hari ini tepat 1 tahunnya Bluemoon Jakarta, jadi sekalian aku mau ucapain Happy #1stAnniversaryBMJKT and of course, #WeWantCSJKT. Dan kemarin juga kebetulan tepat 2 tahun umur Blog ini. Jadi aku juga sekalian mau berterimakasih buat semua readers yang udah membaca dan memberikan kritik dan saran atas karya-karyaku di blog ini.

Last but not least, mind to review?🙂

102 thoughts on “Formula X [Memory 16]

  1. suka bgt sm chapter ini. semoga akhirnya jonghyun juga mau jujur sm perasaannya kaya yonghwa. udah, susulin aja yoona ke amerika. hehehe..
    gomawo udah tetep update dan keep writing🙂

  2. akhienya nongol jg .. ko email ku gda notif ff mu lanjut yah .. untung aku ngecek ksini dan ternyata udah ada .. chapt ini ttep bkim gregfetan ma hub jongyooon .. si jjong mah bkin orang gemes sih . yongseo dh soswiit so switan sih jongyoon msih gondok2an . lol

  3. Author gomawo100x cz dah update soalnya aq dah blak-blik blog ni tp blm update tp akhirnya update jg🙂
    Ow Yongseo I Love it…Lanjut thor hwaiting

  4. Whoaaaa daebak authornim…bolak balik aq dtg kesini nyari update an cerita ini..akhirnya datang jg…sukaa bgt moment jongyoon nya..smoga mrk berdua bs bersama..keep writting

  5. yeeeey akhirnyaaaaa aq hampir putus asa nih tadinya sma ff ini tapi skarang aq senaaaaaang bingits Thanks Author yg udah melanjutkan ff ini hwaiting !!! maaf aq ngomen sampe 3 kali gegara penasaran bgt sma kelanjutan ff ini🙂

  6. Akhirnya dtang juga….
    Setelah bolak balik nengok akhirnya diupdate juga…
    Keren bgt ceritanya…..
    Yong hwa ama soehyun akhirnya jadian gak tow??
    Terus yoona kok tetep berangkat chingu??
    ditunggu update an nya ya….
    Fighting…..

  7. baru nemu dan langsung comment di 8 part.penasaran hutangnya yoona,dan saya langsung baca part 10.si jonghyun sialana,gak nyuruh yoona nunggu tapi kasih harapan…ckckc,,suka deerburning couple.

  8. itu sih namanya digantung…lee jonghyun lebih parah dari dikasi harapan wkwkwkwkwk…makin suka sama ini ff…ditunggu part selanjutnya thor….ghamsahamida…

  9. kerennn, thorrrr ays ketinggalan 3 memory
    ahhhhhh gak rido, bacanya jadi sistim kebut semalemmmm
    hhahahaha

    btw cie yong cie udah tembak cie cie hhahaha😛
    kapan jonghyun kayak yong coba…..
    lahhh keren pan, yoona pergi jonghyun gak ngalangin, ntar karma baru nyahooo
    ehhhhh hahahaha

    next story thor😀
    janji dah gakan ketinggalan lagi.
    muhehehehehe😛

  10. new reader^_^
    baru nemu ini blog karena penasaran sama lanjutan ff crush di ffcnblueindo..

    suka banget sama cerita formula x ini.. selalu bikin penasaran..
    ditunggu kelanjutan ff nya..
    hwaiting

  11. Berpikir…… Tik tok tik tok…..
    Aahhh….. Akhirnya langsung aja cus ke chapter 10 lg. Daripada penasaran.
    Mungkin lbh baik yoona ke LA sementara. Biar aman.
    Yong oppa…. Cool bnget deh

  12. Couple yang paling cocok itu emang jongyoon. Kirain tuh jonghyun bakalan nahan yoona biar ga pergi eh taunya malah gitu. Emanilnya yg mana? Ditunggu next partnya🙂 fighting

  13. Authornim rasanya di part ini momentnya yongseo kurang yaaa….#plaaak!#^ _^maaf lg haus romance momentnya yongseo!
    Xixixixixxiixi….
    Tapi ceritanya keren seperti biasanya.
    Yacch next part mulai di protect yaa…
    Hua hua huaaa…

  14. waahhhh aku ini super ketinggalan banget hahahaha,. mian thor😦
    tapi masih boleh dibacakan,, iya dong, boleh dong *abaikan kekeke

    gemes deh liat yongseo, jangan ditahan-tahan bilang aja kenapa sok jual mahal banget deh hahahaha..
    so? Yoona pergi?
    Jonghyun sendiri dong? aku temenin deh *apacoba hahaha

    ini ff super bagus,, walaupun lama harus wajib ditunggu kekekeke..
    keep writing thor,, fighting!!
    see you next chapter!! :* fighting!!🙂

  15. Hiks hiks… yoona nya pergi.. kenapa jonghyun gak kayak yonghwa aja berani ngungkapin isi hati nya dan berani bertarung demi cintanya #eyaabahasague…
    Lanjut thor.. di tunggu loh lanjutan ffnya.. kekekeeke.. semagat thor

  16. authornim. ….
    how r u ????
    btw..kpan nih ff di lanjutttt….
    udah penasaran banget ma kelanjutannya…. >\\\<

    pliiisss update soon !!!!!!!

  17. Penasaraan sm hutang yg di maksud?? Baca chapt 10 yaa?? Aduuuhh knp mreka hrs pisah siii udh tau saling cinta,, mudah2an nntinya jong berani ungkapin perasaannya dn gag nyuruh yoona menjauh,,, ada lanjutannya kaah?? Ayooo saeng,,lanjuuuttt… Semangat ya say… Di tunggu bgt lhooo… Penasaran banget sm jongyoon…

  18. Ooo hutang yg ituu,,jd jelaass deehh kira2 apa yaa permintaan jonghyun nntinya saat nagih k yoonaa,,aiisshh gag sabaar..
    Semangat saeng!!!

  19. eonni ff nya daebakk.. berharap YongSeo tetap bersama sampai misinya kelar dan ga terjadi apa2^^ keep writing eon! aku readers baru dsini.. anyeongg^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s