Formula X [Memory 15]

Formula x 5

Judul: Formula X [Memory 15]

Main Cast:

Jung Yonghwa CNBLUE sebagai Jung Yonghwa

Seo Joohyun SNSD sebagai Seo Joohyun

Other Cast:

Lee Jonghyun CNBLUE sebagai Lee Jonghyun

Im Yoona SNSD sebagai Im Yoona

Choi Siwon Super Junior sebagai Choi Siwon

Lee Jungshin CNBLUE sebagai Lee Jungshin

Kwon Yuri SNSD sebagai Kwon Yuri

Rating: PG-17

Lenght: Chaptered

Genre: Romance, Action, AU

Teaser – Prolog – Memory 1 – Memory 2 – Memory 3 – Memory 4 – Memory 5 – Memory 6 – Memory 7 – Memory 8 – Memory 9 – Memory 10 – Memory 11 – Memory 12 – Memory 13 – Memory 14

The Kitchen Italian Restaurant, Sinsa-dong, Gangnam-gu

Pukul 19.30 KST

Ada keheningan panjang yang mengisi detik demi detik kebersamaan mereka di meja makan. Sesaat Yoona merasa keheningan ini tidak akan pernah berakhir. Hanya dentingan suara pisau dan garpu yang saling beradu yang menghiasi latar belakangnya. Ayahnya sibuk memotong daging panggang dalam diam. Ibunya sesekali meliriknya, membuka mulut kemudian kembali menutup lagi seolah kalimat yang akan keluar tiba-tiba tertelan masuk ke dalam tenggorokannya. Sedangkan Yoona sendiri disibukkan oleh pikirannya mengenai berita tiba-tiba yang diberikan sang ayah. Memikirkan pekerjaannya yang akan ia tinggalkan, panti jompo yang telah dengan susah payah ia urus, dan mengenai keadaan Seohyun tentu saja. Semua terasa membingungkan dan tiba-tiba. Bagaimana ia bisa membereskan semua urusannya dalam waktu kurang dari satu bulan?

“Yoonie…” suara lembut ibu yang memanggilnya berhasil menyeret Yoona kembali di antara mereka.

“Ya, eomma”.

“Kau___” ibunya melirik ke arah sang ayah beberapa saat kemudian kembali melanjutkan, “___ apa kau dan Jonghyun benar-benar telah berakhir? Apa kalian tidak berusaha membicarakannya untuk memperbaiki keadaan?”

Pukulan keras tepat menghantam ulu hatinya. Yoona terdiam sambil memperhatikan sorot mata khawatir sang ibu. Inilah yang ia takuti. Kebohongannya di depan kedua orang tuanya justru berubah menjadi tumpukan-tumpukan harapan di mata mereka. Yang tanpa Yoona sadari, harapan-harapan itu menekannya, membebaninya, dan memberikan rasa sesak yang lama kelamaan tidak bisa ia tanggung seorang diri.

“Tidak eomma” Yoona menggeleng. Menegaskan keadaan dengan perasaan tertusuk-tusuk yang menyakitkan. “Ada perbedaan di antara kami yang terlalu sulit disatukan”.

Ya, perbedaan yang terlalu sulit disatukan. Pemilihan kata yang begitu tepat.

Jujur, Yoona mencintai lelaki itu, entah sejak kapan. Perasaan itu tiba-tiba saja muncul dan tumbuh subur di dalam dirinya. Namun ia sadar, Jonghyun tidak pernah merasakan hal yang serupa kepadanya. Itulah perbedaan mendasar yang tidak akan pernah bisa menyatukan mereka. Memisahkan mereka seperti jurang dalam tanpa batas.

Sang ibu terdiam, enggan melontarkan pertanyaan lanjutan. Tatapan iba yang diberikannya membuat perasaan bersalah Yoona menjadi berkali-kali lipat lebih menyakitkan.

Yoona mencoba mengakhiri pembicaraan mereka dengan menyibukkan diri dengan daging panggang di piringnya. “Makanan di sini enak” katanya sambil memasang kembali topengnya dan tersenyum.

Kedua orang tuanya tidak merespon. Mereka justru terdiam sambil memperhatikan sesuatu di balik tubuhnya.

“Selamat malam. Maaf mengganggu acara kalian” ucap sebuah suara dari balik tubuhnya.

Gerakan Yoona tiba-tiba terhenti. Topeng yang baru saja terpasang di wajahnya hancur tak tersisa. Jantungnya melompat cepat hingga ia rasa dapat meretakkan tulang rusuknya menjadi kepingan-kepingan kecil. Ia begitu mengenal suara itu.

“Jjong seobang?” ucap sang ibu yang berhasil membuat lemas seluruh tubuh Yoona.

“Maaf, tapi bolehkah aku membawa Yoona sebentar? Aku membutuhkannya untuk suatu hal yang penting”.

Ibunya hanya mengangguk kaku tanpa berkedip. Dan Jonghyun telah berhasil menarik Yoona sebelum sang ayah sadar akan apa yang sedang terjadi.

Yoona merasa dunia berputar-putar begitu Jonghyun menarik tangannya ke luar restaurant. Separuh keadarannya seperti tertinggal di atas meja makan tadi.

Sebelum mereka memasuki mobil, kesadaran Yoona kembali tepat pada waktunya. Ia berteriak sambil menghentakkan tangannya dari genggaman Jonghyun.

“Apa yang kau lakukan?? Apa kau tidak sadar bahwa kau telah mengacaukan acara keluarga kami?” geram Yoona. Ada kilatan amarah yang begitu jelas dalam mata bulatnya. “Kau boleh menolak datang dalam acara makan malam kami, tapi apakah kau tidak merasa keterlaluan telah menyeretku tiba-tiba dari sana?? Tolong pikirkan juga perasaan kedua orangtuaku”.

Tanpa menunggu penjelasan Jonghyun, Yoona segera berbalik dan berniat kembali ke dalam restaurant. Kembali ke tempat orang tuanya dan menjelaskan bahwa apa yang baru saja terjadi hanya sebuah kesalahan kecil yang tidak perlu mereka pikirkan. Namun perkataan Jonghyun selanjutnya berhasil membuat langkahnya terhenti. “Seo Joohyun sakit. Kondisinya tidak baik. Ia membutuhkanmu saat ini”.

-X-

Kediaman Jung Yonghwa

Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

Pukul 08.00 KST

‘Seo Joohyun… Seo Joohyun…’

Aroma cinnamon yang lembut dan manis bersatu dengan kehangatan yang membungkus tubuhnya. Wajah dengan garis oval yang tegas, hidung mancung, bibir penuh yang menawan, serta matanya yang bulat besar. Semuanya seakan diukir indah oleh seniman paling jenius di muka bumi. Mempesona. Membuatnya betah berlama-lama meniti tiap inci keindahan yang terukir di sana.

Wajah itu mendekat dan aroma cinnamon itu semakin kuat terasa. Senyum simpulnya berhasil merobek segala pertahanan yang ia miliki. Bibir menawan itupun berhasil menyentuh bibirnya. Mengecapkan berbagai rasa manis dan lembut yang menjadi satu di ujung lidahnya. Feromon yang dimilikinya membuatnya lupa diri. Ia gila. Ia tidak waras. Ia sinting. Namun ia suka semua sentuhan yang diberikan lelaki itu. Semuanya, tanpa bisa ia tolak.

Aroma manis itu berubah menjadi bau terbakar yang menyengat. Kobaran api menjalar dari balik pundak kanannya terus ke seluruh tubuhnya. Membakar dan menjilat seluruh tubuhnya tanpa ampun. Menimbulkan rasa sakit yang menusuk-nusuk sampai ke tulang. Dengan susah payah ia berusaha memadamkannya, namun api itu semakin berkobar. Api itu terus membakar dan melahapnya bulat-bulat, namun tidak sampai membuatnya mati.

Di sisa kesadaran yang tidak sampai separuh, suara ledakan yang memekakkan menghantamnya. Tubuhnya gamang dan limbung di balik cahaya abu-abu yang menyilaukan. Sesosok pria setengah baya duduk di sampingnya, bergelut dengan stang kemudi di hadapannya.

“Appa?” tanyanya. Namun suaranya tak keluar. Hanya ada daya ekstra kuat yang seakan mendorong tubuhnya mengikuti jalanan beraspal di depan. Berbelok-belok menghindari kejaran mobil lain di belakang mereka. Dalam sekejap ketakutan menghantui dirinya. Tubuhnya gemetar hebat. Ia tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Ingatan itu bergitu jelas dan sekarang nampak begitu nyata.

Tubuh mereka terhamtam keras. Suara nyaring klakson berdengin-dengin di telinganya. Bau anyir darah membuatnya mual dan ingin muntah. Ia melihat pria di sampingnya tak bergerak dan berlumuran darah. Namun ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang salah.

Aroma manis dari cinnamon itu muncul tiba-tiba. Namun yang kali ini membuat bulu kuduknya meremang ketakutan. Ia ingin menangis dan meraung sekuat-kuatnya. Pria di sampingnya; si wajah dengan garis oval yang tegas, hidung mancung, bibir penuh, dan mata yang bulat besar, tak sadarkan diri dengan tubuh berlumuran darah di sana.

“Tidaaaaaaaaak!!!”.

Seohyun menjerit. Ia terbangun dengan napas putus-putus dan keringat mengucur deras dari dahinya. Tatapan matanya yang dipenuhi ketakutan mencari-cari sesuatu tanpa arah.

“Hyunnie, kau baik-baik saja?” Yoona menghampiri. Bertanya dengan kekhawatiran yang nampak jelas di balik wajah lelahnya. “Apa yang kau rasakan?”.

“Eonni, Yonghwa. Dimana Yonghwa??” tanya Seohyun. Matanya terus mencari-cari di dalam kamar kosong itu. Suaranya yang serak terus saja memanggil nama Yonghwa.

“Ada apa?” Seohyun mendadak berhenti mencari. Yonghwa telah berdiri di ambang pintu dengan tubuh sempurna tanpa setitikpun darah di sana. Dan Seohyun segera melompat ke dalam pelukannya pada detik itu juga. Yonghwa yang masih belum mengerti akan situasi hanya dapat mematung kemudian mengangkat alis meminta penjelasan kepada Yoona. Yoona hanya menggelengkan kepalanya sedikit, sama bingungnya dengan Yonghwa.

Desahan lega keluar dari bibir Seohyun. Dalam pelukan Yonghwa ia bergumam, “Syukurlah kau baik-baik saja. Syukurlah”.

-X-

“Kurasa yang tadi itu hanya mimpi buruk. Keadaannya sudah membaik. Kau tidak perlu khawatir” Yoona menjelaskan kondisi Seohyun pada Yonghwa tepat sebelum ia pamit pulang.

Yonghwa mendesah lega mendengar penjelasan Yoona. Untunglah Yoona datang tepat waktu malam tadi sehingga keadaan Seohyun yang mengkhawatirkan dapat segera ditangani. Andai Yoona tidak datang, ia sendiri juga tidak yakin akan apa yang harus ia lakukan untuk menolong Seohyun.

“Terimakasih untuk semua bantuanmu” Yonghwa mengucapkan kalimat itu dengan sungguh-sungguh kepada Yoona.

“Aku juga harus berterimakasih atas segala yang kau lakukan untuk Seohyun” ucap Yoona sama tulusnya. Ia bersyukur Yonghwa segera menghubunginya ketika Seohyun dalam kesulitan.

Merasa kondisi Seohyun akan membaik setelahnya, maka Yoona memutuskan untuk pamit pulang. Ia tidak ingin membuat cemas kedua orang tuanya yang harus ia tinggal begitu saja di restoran tadi malam. Ia berhutang penjelasan kepada orang tuanya sesampainya di rumah nanti.

“Biar Jonghyun yang mengantarmu” tawar Yonghwa sambil melirik Jonghyun yang berdiri di samping mereka tanpa suara sejak tadi.

“Tidak usah” tolak Yoona cepat. Sudut matanya melirik Jonghyun sekilas. “Aku bisa pulang dengan taksi”. Demi apapun yang ada di dunia ini, Yoona sama sekali tidak berharap Jonghyun yang mengantarkannya pulang sekarang. Selain akan adanya kecanggungan aneh yang melingkupi mereka nanti, Yoona juga sudah tidak ingin memberikan harapan hampa pada dirinya sendiri. Sudah cukup baginya menjadi orang bodoh yang menyedihkan dalam hubugan mereka. Kali ini ia hanya ingin memperjelas batasan-batasan yang harus ia sadari sebagai ‘seorang kenalan’. Dan menurutnya, mengantarkan pulang merupakan salah satu hal yang melewati batasan sebagai seorang kenalan.

“Aku bisa pulang sendiri, sungguh!” tambah Yoona setelah mendapatkan tatapan ragu-ragu dari Yonghwa.

Yonghwa akhirnya mengalah dan menyetujui permintaan Yoona. “Kalau begitu berhati-hatilah di jalan”.

-X-

“Jadi, apa kau tidak ingin menjelaskannya kepadaku?” Yonghwa bertanya pada Jonghyun tepat ketika mereka memasuki ruang tengah.

“Apanya?” Jonghyun balik bertanya, tak mengerti.

Yonghwa memutar bola matanya malas. “Tentu saja antara kau dan Yoona. Aku tahu telah terjadi sesuatu pada kalian. Apa yang terjadi?”.

Yonghwa tahu Jonghyun selalu membuat masalah dengan gadis-gadis di sekitarnya. Sejak awal bertemu, julukan cassanova telah melekat dengan baik pada diri Jonghyun. Berkencan dengan banyak gadis, bersenang-senang tanpa status yang jelas, kemudian mencampakkan mereka ketika ia merasa waktunya telah habis, tanpa sedikitpun rasa bersalah. Itulah Jonghyun yang ia kenal selama ini.

Karena merasa tidak punya hak untuk mengurusinya, maka selama ini Yonghwa hanya membiarkan Jonghyun bersenang-senang dalam dunianya. Namun jika sekarang Yoona juga terlibat dalam salah satu permainan bodohnya, maka Yonghwa tidak akan tinggal diam. Kali ini ia akan bertindak.

Jonghyun menuangkan air ke dalam gelas dan meneguknya dengan santai, membuat Yonghwa yang melihatnya merasa geram.

“Tidak ada yang terjadi antara aku dan Yoona” Jonghyun akhirnya berkata setelah menghabiskan satu gelas penuh air.

Yonghwa menunggu penjelasan lebih lanjut dan mendetail, namun sepertinya Jonghyun hanya berniat membuka suara sampai situ.

Gemas tak ada lagi tanggapan, akhirnya Yonghwa berkata, “Kau tidak melakukan hal-hal bodoh kepadanya kan? Kau tidak mempermainkannya kan? Kau tidak menempatkannya dalam masalah kan?”.

Jonghyun menghentakkan gelasnya di atas meja kuat-kuat, sehingga berhasil membuat Yonghwa terdiam. “Justru saat ini aku berusaha untuk tidak melakukan hal yang bodoh dan menempatkannya dalam masalah!!!” teriaknya penuh emosi.

Ketika itu Yonghwa baru sadar bahwa sahabatnya itu tengah kacau. Jonghyun berdiri di sisi meja makan, dengan tangan yang masih memegang gelas di atas meja. Kepalanya tertunduk dan bahunya terlihat jatuh dan lelah. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Kau OK kan?” tanya Yonghwa setelah ia berada di samping Jonghyun.

Jonghyun terdengar menarik napas panjang. “Hyung, tolong katakan padaku, apa yang harus aku lakukan untuk membuat gadis itu menjauh? Apa yang harus aku lakukan agar ia tidak terlihat dalam kasus berbahaya ini?”.

Yonghwa menatap Jonghyun dalam diam. Wajahnya jelas terlihat sangat lelah, dan terlihat kepedihan mendalam di balik mata hitamnya. Dan tepat ketika itu, Yonghwa mengerti. Tanpa butuh penjelasan lebih jauh, Yonghwa mengerti apa yang sedang Jonghyun rasakan. Ia mengerti apa yang sedang lelaki itu khawatirkan dan apa yang sedang lelaki itu lakukan. Dan Yonghwa merasa bersedih untuk Jonghyun dan segala semua perasaannya saat ini.

Merasa tidak dapat berbuat apa-apa, maka yang dapat ia lakukan hanyalah menepuk pelan bahu sahabatnya itu untuk memberikannya kekuatan. Karena Yonghwa sendiripun mungkin akan butuh dukungan kekuatan seperti itu suatu hari nanti.

“Kau telah melakukannya dengan baik, Jjjong-ah”.

-X-

Dengan susah payah Yonghwa mengetuk pintu kamar Seohyun sambil membawa baki dengan satu porsi bubur dan segelas susu untuk sarapan gadis itu.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Yonghwa setelah berhasil masuk ke dalam kamar.

“Lebih baik. Namun bahuku masih terasa sakit” keluh Seohyun sambil mengangkat tubuhnya untuk duduk di atas ranjang.

Yonghwa meletakkan mangkok di atas meja nakas kemudian memeriksa suhu tubuh Seohyun. “Suhu tubuhmu sudah normal. Habiskan makananmu. Yoona memberikan obat antibiotik untukmu”.

Seohyun mengangguk patuh dan mulai menyuap bubur ke dalam mulutnya yang masih terasa pahit.

“Yoona eonni sudah pulang?”

“Hmmm…” gumam Yonghwa sambil memperhatikan Seohyun yang tengah menghabiskan buburnya.

“Lee Jonghyun-sii?”

“Ia juga sudah pergi. Ada urusan di NIS”

Seohyun mengangguk dalam diam. Tatapan tajam Yonghwa yang memperhatikannya membuat Seohyun salah tingkah. Aneh rasanya jika kau makan bubur di atas tempat tidur sambil diperhatikan seorang laki-laki seintens itu.

“Ku dengar tadi kau mengalami mimpi buruk?” tanya Yonghwa setelah beberapa menit tak berbicara.

Seohyun sontak menghentikan gerakan tangannya untuk menyuap bubur ke dalam mulut. Cepat-cepat ia meletakkan mangkuk di atas meja karena tangannya terasa mulai bergetar. Pertanyaan Yonghwa barusan sukses membuatnya kembali mengingat mimpi buruknya beberapa waktu yang lalu. Tentang dirinya yang habis dilahap api dan tubuh Yonghwa yang dipenuhi darah. Ia segera menggeleng kuat-kuat untuk mengeyahkan gambar-gambar mengerikan itu dalam kepalanya.

“Kenapa?” Yonghwa mendekat begitu menyadari wajah Seohyun yang mulai pucat. “Kau merasa sakit?”

“Mimpi itu” Seohyun mencoba menjelaskan dengan perasaan tersiksa yang menyakitkan. “Mimpi itu sungguh aneh. Sebelumnya, aku selalu mengalami mimpi yang berhubungan dengan ingatan mengenai formula rahasia itu. Mimpi itu selalu sama setiap kali. Berulang terus menerus. Namun tadi malam, mimpi itu berbeda”

“Berbeda?” ulang Yonghwa tak mengerti.

Seohyun menatap Yonghwa dengan kedua alis menyatu. Ketakutan dalam kedua bola matanya terlihat jelas. “Ada kau di dalam mimpiku sekarang” bisiknya yang membuat Yonghwa terdiam. “Aku juga tidak mengerti apa artinya itu. Di dalam mimpiku, kau sekarat. Kau berlumuran darah dan ___”. Belum sempat Seohyun melanjutkan kalimatnya, air mata telah mengalir deras di pipinya.

Yonghwa yang masih tidak mengerti, akhirnya mencoba menenangkan Seohyun dengan memeluknya. “Itu hanya mimpi. Semua akan baik-baik saja. Tenanglah” ucapnya sambil mengelus puncak kepala Seohyun.

Seohyun hanya dapat mengangguk dalam pelukan Yonghwa. Tubuhnya masih saja gemetar tiap kali mengingat mimpi itu. Ia tahu bahwa Yonghwa hanya mencoba menenangkannya dengan semua kalimat-kalimat itu. Namun jauh di dalam hatinya, rasa takut yang sangat kuat masih membayangi. Firasatnya mengatakan akan terjadi hal buruk pada Yonghwa. Karena di dalam mimpi itu, Yonghwa mati tepat di sisinya.

-X-

National Intelligence Service Office Center, Naegok-dong, Seocho-gu, Seoul

Pukul 11.00 KST

Jonghyun mengetuk pintu lalu membukanya setelah terdengar suara Siwon yang menyuruhnya masuk dari dalam. Siwon mempersilahkannya duduk di sofa tepat di hadapannya. Jonghyun duduk sambil memperhatikan Siwon dalam diam. Ada kesunyian aneh yang timbul ketika Siwon tidak berbicara dan lebih disibukkan oleh kertas-kertas di atas mejanya. Siwon lalu menyerahkan selembar kertas kepadanya tanpa diikuti oleh sedikitpun penjelasan.

“Apa ini?” Jonghyun bertanya setelah selesai membaca semua informasi mengenai seseorang yang tidak dikenalnya di dalam kertas itu.

“Tugasmu” jelas Siwon dengan aura kharismatik yang luar biasa. Membuat Jonghyun merasa seperti budak menyedihkan yang tidak bisa menolak perintahnya.

“Orang itu merupakan salah satu pekerja di Yongbyon Nuclear Scientific Research Center di Pyongyang. Kemungkinan besar ia mengetahui cerita tentang ayah Seo Joohyun dan keterlibatannya dalam fomula AZ887. Cari tahu kebenarannya. Bagaimanapun caranya”.

Jonghyun mengangguk mengerti kemudian memasukkan selembar kertas itu ke balik jaketnya tanpa berniat memperpanjang pembicaraannya dengan Siwon. Selembar kertas dan satu paragraf perintah Siwon telah lebih dari cukup baginya untuk menjalankan tugas itu. Yakni mencari tahu informasi mengenai Prof. Seo dan perannya dalam pembuatan AZ887 serta kronologis kematiannya yang sampai saat ini masih belum ada kejelasan. Merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, maka Jonghyun segera pamit pergi sebelum kepalanya pusing akibat bau parfum mawar Siwon yang terlalu menyengat bagi hidungnya.

Tepat sebelum ia keluar ruangan, Siwon lebih dulu berkata padanya. “Fokuslah. Kau tidak bisa membagi perhatianmu saat ini. Kasus ini merupakan kasus besar dan kau membutuhkan konsentrasi penuh”.

Jonghyun mengangguk. Kedua tangannya refleks terkepal kuat. Ia mengerti betul dengan apa yang Siwon coba sampaikan. Ia hanya boleh fokus pada kasus ini. Hal-hal di luar dan tidak berhubungan langsung dengan kasus harus segera ia singkirkan dalam daftar prioritas di otaknya. Dan ia sadar, Yoona juga termasuk dalam daftar itu.

Mungkin benar adanya bahwa ia adalah lelaki brengsek. Ia yang membuat Yoona terlibat dalam kasus ini, ia juga yang mengajukan diri untuk diperkenalkan kepada orang tuanya, namun ia pula yang mengakhiri semuanya seperti seorang pengecut. Tapi itu semua di luar perkiraannya; mengenai reaksi kedua orang tua Yoona, perasaan gadis itu, dan juga perasaannya sendiri. Semuanya terasa semakin rumit. Ia tidak suka segala sesuatu yang rumit, ia juga tidak pernah nyaman dengan suatu hubungan yang memiliki komitmen, dan lagipula dirinya kini tidak memiliki kualifikasi untuk menjalani kisah romantisme bahagia bersama oang yang dicintainya karena semua misi-misi yang terlalu beresiko ini.

Maka hanya inilah yang bisa ia lakukan. Melarikan diri dengan alasan keamanan gadis itu dan kelancaran tugas-tugasnya.

-X-

Kediaman Jung Yonghwa

Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

Pukul 21.00 KST

Setelah membersihkan mangkuk sisa makan malam Seohyun, Yonghwa memberikannya beberapa butir obat yang telah disiapkan Yoona tadi pagi. Seohyun menelan semua pil-pil itu tanpa protes. Lalu dengan sukarela Yonghwa membenarkan letak bantalnya dan menyelimutinya. Ia mengucapkan selamat malam sebelum melangkah keluar kamar, namun Seohyun lebih dahulu memegang tangannya dan menahannya agar tidak pergi. Sepertinya salah satu obat yang diberikan Yoona merupakan obat tidur, karena Seohyun merasa tidak mampu lagi mengendalikan dirinya, termasuk mengendalikan lidahnya. Ia seperti orang yang habis minum minuman keras.

Entah karena alasan yang tak dapat ia pahami, namun Seohyun tahu bahwa ia tidak boleh memintanya melakukan itu. Tapi ia tidak ingin Yonghwa pergi. Sesungguhnya, ia ingin Yonghwa naik ke ranjang di sampingnya, berada di sini ketika mimpi buruk menghantam lagi malam ini.

“Jangan pergi dulu. Tunggu aku tidur” katanya.

Yonghwa duduk di samping ranjang, menghangatkan tangan Seohyun dengan tangkupan kedua tangannya. “Bukankah kau bilang kau sudah baikkan?”

“Ya. Tapi aku tidak ingin melewati malam ini dengan mimpi buruk lagi” kata Seohyun. Ia menarik tangan Yonghwa ke atas dan menyandarkan pipinya ke punggung tangan Yonghwa. Seohyun dapat menghirup aroma cinnamon kesukaannya dari tangan kekar itu. Dan beberapa menit setelahnya, ia dapat merasakan dirinya perlahan-lahan hanyut ke alam tidur.

-X-

Tiga hari kemudian

J n J Design Architecture Office, Gangnam-gu, Seoul

Pukul 08.00 KST

“Terimakasih untuk tumpangannya”. Dengan perasaan gembira dan penuh semangat, Seohyun melangkah keluar dari dalam mobil. Sudah hampir dua minggu ia tidak masuk kerja dan ketika mendapati kenyataan bahwa hari ini ia telah berdiri di depan gedung kantor membuat senyumnya terasa tak akan pernah luntur bahkan sampai empat atau lima hari ke depan.

“Berhati-hatilah. Jangan lengah” Yonghwa kembali memperingati sebelum Seohyun sempat menutup pintu mobil.

“Aku tahu. Oh! Ayolah, jangan merusak kebahagiaanku dengan sikap protektifmu yang menyebalkan itu” keluh Seohyun yang mendapati decakan tidak suka dari Yonghwa.

Selama tiga hari berturut-turut ia telah bersusah payah membujuk Yonghwa agar mengizinkannya untuk kembali bekerja di kantor. Seharian penuh di dalam rumah justru membuat kondisi tubuhnya makin memburuk. Ia perlu bersosialisasi, menyibukkan diri dengan tugas-tugas menumpuk di atas meja kerjanya, presentasi kasus, tinjau lapangan, dan segala macam kesibukan harian yang biasa ia lakukan. Ia tidak bisa terus dikurung di dalam rumah Yonghwa yang sepi dan membosankan itu. Kewarasannya lama kelamaan bisa hilang jika ia terus menerus di dalam sana.

Untunglah Yonghwa mengerti dan menyetujuinya. Namun dengan berbagai syarat yang harus ia patuhi. Ia harus mendapatkan izin dari Yonghwa jika hendak ke luar gedung, harus pulang dan berangkat kerja bersama Yonghwa, bahkan Yonghwa yang mempersiapkan bekal makan siangnya agar ia tidak perlu ke luar gedung ketika jam istirahat tiba. Sangat berlebihan memang, dan sampai sekarang Seohyun masih merasa tidak nyaman dengan semua syarat-syarat itu.

“Aku akan menjemputmu tepat jam delapan malam” kata Yonghwa mengingatkan.

“Oke” Seohyun mengangguk. Kemudian ia melepas kepergian Yonghwa hingga mobil Jeep hitam itu hilang di tikungan jalan.

Seohyun merasa lega karena akhirnya hubungannya dengan Yonghwa telah jauh membaik. Perlahan-lahan Yonghwa sudah mulai kembali menjadi sosok yang ia kenal. Sosok lelaki ramah yang menyenangkan yang dulu tinggal di apartement sebelah. Hubungan mereka makin dekat terlebih setelah kejadian malam tiga hari yang lalu, ketika Yonghwa menemaninya tidur hingga ia terlelap. Setelah malam itu, Yonghwa selalu setia menemani di malam-malam berikutnya. Dan sungguh ajaib! Dengan adanya Yonghwa di sisinya, mimpi-mimpi mengerikan itu tidak pernah hadir lagi. Tanpa ia sadari, lama kelamaan Yonghwa telah menjelma menjadi semacam obat addictive bagi dirinya. Terdengar gila memang. Namun ia tidak punya pilihan lain selain terus menempel di dekat lelaki itu.

-X-

Tidak ada yang berubah ketika ia memasuki kantor. Mejanya masih penuh dengan gambar sketsa-sketsa dan proposal-proposal yang terabaikan, kesibukkan rekan-rekan kerjanya yang masih sama seperti sebelumnya, dan suara nyaring ketua tim yang terdengar sedikit menganggu di pagi hari. Seohyun bersyukur dengan semua itu. Sehingga ia merasa waktu yang ia tinggalkan tidak terlalu lama.

Yuri orang pertama yang menyapanya ketika ia memasuki kantor. Senyum cerahnya masih sama seperti ketika terakhir kali mereka bertemu.

“Hyuniiiieeee.. Aku kangen sekali!”. Yuri memeluknya erat-erat hingga Seohyun hampir kehabisan napas kemudian melepasnya setelah merasa puas. “Paris? Kau berlibur ke Paris tanpa sepengetahuanku?? Kau tega sekali!!” Yuri berkata sambil merajuk lucu.

Seohyun tidak bisa berkata apa-apa selain tersenyum kaku. Ia mengambil cuti selama dua minggu dengan beralasan untuk pergi berlibur ke Paris. Terdengar konyol memang jika kau mengetahui kebenarannya. Karena ia tidak mungkin mengatakan bahwa bahunya tertembak dan ia perlu berisirahat sampai kondisinya pulih. Jadi ia harus mengarang cerita meyakinkan agar semua orang tidak curiga akan dirinya yang tiba-tiba menghilang.

“Maaf eonni. Itu benar-benar mendadak” kata Seohyun.

“Lalu mana oleh-oleh untukku?” Yuri mengulurkan kedua tangannya menunggu coklat atau parfum atau bahkan replika menara Paris dari Seohyun untuknya.

“Aku tidak sempat membeli apa-apa eonni” ucap Seohyun dengan rasa bersalah. “Ku traktir makan saja bagaimana?” tanyanya buru-buru sebelum Yuri kembali merajuk lebih hebat.

Yuri mengernyit tidak suka. Namun akhirnya dengan enggan ia menyetujui tawaran Seohyun.

-X-

J n J Design Architecture Office, Gangnam-gu, Seoul

Pukul 12.20 KST

“Aku hanya makan siang dengan Yuri eonni. Tempatnya di depan kantor. Boleh kan?” Seohyun kembali memohon dengan suara yang dibuat-buat memelas.

Di seberang telpon, Yonghwa masih saja bersikeras agar Seohyun tetap di dalam gedung sampai jam pulang kantor tiba.

“Aku sudah berjanji dengan Yuri eonni”

Kau bisa membuat janji lain kali. Lagipula ini sudah menjadi bagian dari syarat yang kita buat” ucapan Yonghwa masih tidak dapat tergoyahkan.

Seohyun berdecak kesal. Yonghwa benar-benar menjadi orang yang menyebalkan dan sensitif jika berhubungan dengan keselamatan dirinya. Padahal selama ini ia baik-baik saja ketika berada di kantor. Terlalu berlebihan rasanya jika ia tidak boleh pergi ke restoran yang hanya berjarak beberapa blok dari kantornya.

“Apa yang kau lakukan? Ayo kita pergi” Yuri tiba-tiba telah berada di sampingnya.

Seohyun mengangguk dan segera menutup teleponnya tanpa berniat melanjutkan percakapan menyebalkannya dengan Yonghwa.

-X-

National Intelligence Service Office Center, Naegok-dong, Seocho-gu, Seoul

Pukul 12.10 KST

“Jadi kali ini apa tugas yang diberikan Siwon untukmu?” Yonghwa duduk di salah satu kursi di seberang meja Jonghyun. Jonghyun yang awalnya tengah disibukkan dengan berkas-berkas di atas meja akhirnya menoleh ke arah Yonghwa. Ia kemudian memberikan selembar kertas kepadanya sebagai jawaban.

“Orang ini yang akan kau selidiki sekarang?” tanya Yonghwa setelah melihat sekilas kertas itu.

“Hmmm… Siwon meyakini bahwa orang itu mengetahui cerita mengenai Prof. Seo”

“Lalu apa rencanamu?”

Sebuah seringai menyebalkan terbentuk di bibir tipis Jonghyun ketika Yonghwa melontarkan pertanyaan tersebut. “Hyung, dia wanita. Rencanaku tentu saja mendekatinya dan membuatnya tergila-gila padaku. Dengan begitu, mengorek data terasa berkali-kali lipat lebih mudah”.

Yonghwa mendengus kesal mendengar penjelasan Jonghyun yang terkesan seperti bualan seorang pria hidung belang. “Ya! Kepercayaan dirimu itu bisa menjadi bumerang suatu saat nanti” ucap Yonghwa sok bijak.

“Tenang saja, Hyung. Tidak ada wanita yang tidak bisa ditaklukkan olehku” Jonghyun berkata dengan tingkat kepercayaan diri yang tidak masuk akal.

“Benarkah? Lalu bagaimana dengan dia?”

Wajah Jonghyun berubah seratus delapan puluh derajat begitu Yonghwa menyinggung perihal gadis itu. Aura di sekitar mereka tiba-tiba berubah menjadi gelap.

“Jonghyun-ah, sebenarnya apa alasanmu menjauhinya? Benarkah semua hanya demi keselamatnya?” Yonghwa bertanya dengan hati-hati.

Jonghyun terdiam untuk beberapa saat. Mencoba mengontrol perasaannya yang campur aduk selama empat hari terakhir. “Entahlah, Hyung. Ia berbeda dari kebanyakan gadis yang kutemui. Ia terlalu berharga untuk ku sakiti. Aku sadar bahwa aku brengsek. Aku tidak menyukai akan adanya komitmen dalam sebuah hubungan. Mungkin karena itulah aku mundur”

Yonghwa hanya dapat mengangguk dalam diam mendengar semua penjelasan Jonghyun. Ia tidak bisa menyalahkan Jonghyun atas keputusan yang telah dibuatnya. Jonghyun adalah Jonghyun. Seorang lelaki brengsek yang hanya berhubungan dengan wanita tanpa berniat memiliki sebuah komitmen atau sebuah ikatan serius. Jonghyun melakukan itu bukan tanpa alasan. Sejak kecil Jonghyun adalah anak yang dibesarkan dari keluarga yang hancur. Kedua orang tuanya telah bercerai sejak ia kecil. Yonghwa sendiri tidak tahu bagaimana cerita detailnya, namun mungkin pengalaman itulah yang membentuk kepribadian Jonghyun seperti sekarang ini.

“Kau sendiri bagaimana Hyung?” pertanyaan Jonghyun yang tiba-tiba itu membuat Yonghwa terkejut. Ia tahu persis siapa yang Jonghyun maksud.

“Entahlah” jawabnya sambil mengangkat bahu. Ia sendiri juga tidak tahu akan apa yang harus ia perbuat. Semua perasaan ini terlalu membingungkan.

“Sepertinya kasus kali ini benar-benar membuat kita kualahan ya?” Jonghyun terkekeh geli ketika memikirkan nasibnya dan Yonghwa yang sama-sama memprihatinkan.

Bunyi ponsel Yonghwa berhasil membuat Jonghyun berhenti tertawa. Yonghwa segera mengangkat teleponnya dengan ekspresi yang sangat serius.

“Ada apa?” Jonghyun bertanya tepat setelah Yonghwa mengakhiri percakapannya di telepon.

“Aku harus pergi. Gadis itu benar-benar tidak bisa membuatku bernapas sebentar saja” Yonghwa terus mengomel sambil membereskan barang-barangnya kemudian pergi dengan tergesa-gesa.

Jonghyun hanya dapat memperhatikan kepergian Yonghwa dengan ribuan tanda tanya.

-X-

Amore Cafe, Gangnam-gu, Seoul

Pukul 12.40 KST

Yonghwa dapat bernapas lega ketika mendapati Seohyun tengah menyantap makan siangnya bersama Yuri di dalam cafe dengan kebahagiaan yang meluap-luap. Gadis itu tengah berbincang santai dengan Yuri. Wajahnya terus saja tersenyum lebar, sampai Yonghwa juga tidak tahan untuk tak ikut tersenyum ketika melihatnya dari seberang jalan.

Mungkin kekhawatirannya terlalu berlebihan dan tidak beralasan. Ia terlalu paranoid jika berkaitan dengan kasus yang ia tangani sekarang. Merasa semua akan baik-baik saja, maka yang Yonghwa lakukan selanjutnya hanya bersandar di salah satu dinding toko sambil mengawasi keadaan sekitar.

Tepat lima menit kemudian, Seohyun dan Yuri berjalan keluar dari toko. Keduanya bergandengan tangan layaknya saudara kandung sambil berbicara hal-hal yang tidak dapat di dengar Yonghwa dari tempatnya. Yonghwa yang merasa semua berjalan lancar berencana untuk segera kembali ke NIS Office tanpa perlu mengawasi kedua gadis itu sampai masuk ke dalam gedung kantor. Namun semua rencana itu ia singkirkan ketika mendapati seorang laki-laki tengah mengikuti mereka.

Dengan sigap, Yonghwa segera mengikuti orang mencurigakan itu dengan kewaspadaan tinggi. Satu tangannya telah siap memegang revolver di dalam saku jas. Ia berjalan cepat sambil memperhatikan keadaan sekitar, melacak dengan cepat jika ternyata orang itu tidak hanya bertindak seorang diri.

Dengan gerakan cepat tanpa suara, Yonghwa akhirnya dapat menyusul lelaki mencurigakan itu. Tanpa pikir panjang, ia segera membekap leher lelaki itu dan menariknya menjauhi jalan dan masuk ke dalam lorong.

Seperti dugaan Yonghwa, lelaki itu cukup lihai. Dengan mudah ia lepas dari bekapan Yonghwa setelah menyikut perut bagian atasnya. Yonghwa terhuyung dan tubuhnya membentur dinding keras di belakang. Belum sempat tubuhnya pulih dari rasa sakit, lelaki itu telah berhasil mencekram kerah kemeja Yonghwa dengan kedua tangannya.

“Lama tidak berjumpa, Hyung” sapa lelaki itu dengan suara yang begitu familiar.

Yonghwa sudah siap mengeluarkan revolvernya dari dalam saku, namun ia urungkan ketika menyadari siapa yang berdiri di hadapannya sekarang. “Lee Jungshin” geramnya.

“Penyambutanmu kurang begitu menyenangkan” ucapnya yang diikuti seringai khas. Lelaki itu berdiri begitu dekat dengan Yonghwa sehingga ia dapat melihat sorot matanya yang tajam dan garis wajahnya yang tegas. Dua tahun tidak betemu, Jungshin telah berubah begitu banyak dari seorang anak laki-laki polos menjadi seorang pria berambisi besar dengan kharisma yang begitu kuat.

“Apa tujuanmu?” tanya Yonghwa tanpa melepaskan tatapannya dari Jungshin. Kedua kakinya hampir tidak menyentuh tanah karena tubuh tinggi Jungshin yang menarik kerahnya.

“Bukankah kau sudah tahu apa tujuanku ke sini?” Jungshin balik bertanya. Mukanya ia buat seolah-olah merasa bingung. “Tentu saja aku mendapatkan tugas dari CIA. Untuk menghabisi Seo Joohyun” Jungshin berbisik tepat di telinga Yonghwa. Suara tenangnya terasa menusuk-nusuk gendang telinga Yonghwa.

Dengan segenap kekuatannya, Yonghwa akhirnya berhasil lepas dari cengkraman Jungshin setelah menendang perut lelaki itu. Sebuah tinju ia daratkan langsung pada pelipis Jungshin. Dengan cepat ia segera mendorong tubuh Jungshin ke dinding dan menahan lehernya untuk mengunci gerakan.

“Jika memang itu tujuanmu ke sini, maka kau harus langkahi dulu mayatku” Yonghwa mengancam dengan sebuah geraman.

Jungshin terkekeh. “Baiklah jika kau memaksa”. Ia lalu menghantamkan kepalanya tepat ke hidung Yonghwa dan diikuti sebuah pukulan tepat di pelipisnya. Yonghwa terpental sejauh hampir dua meter dan merasakan hidungnya berdenyut-denyut hebat. Penglihatannya perlahan mulai menggelap dan berputar-putar. Dengan terhuyung, ia segera bangkit dan menyeka darah di hidungnya dengan punggung tangan. Sebuah pukulan balasan berhasil ia daratkan di wajah tampan Jungshin diikuti oleh sebuah suara ‘krek’ yang nyaring. Mungkin tulang rahang Jungshin bergeser, tapi entahlah Yonghwa tidak peduli.

Jungshin terkapar sambil memang wajahnya. Suara napasnya yang mulai tak beraturan dan putus-putus membuat kondisi makin menegang. Tidak mau menyerah, dengan gerakan cepat ia kembali bangkit dan mendaratkan pukulan juga di rahang Yonghwa. Yonghwa meringis, namun segera membalas dengan sebuah tendangan di perut Jungshin, diikuti pukulan di punggungnya hingga lelaki itu kembali harus jatuh tersungkur.

“Kau tidak berhak mengincar Seo Joohyun dengan alasan Formula itu. Ia juga manusia biasa yang memiliki hak untuk hidup. Batalkan misimu, maka aku akan melepaskanmu sekarang” ancam Yonghwa. Ia sudah terengah-engah. Darah dari hidungnya masih saja mengalir meski telah berkali-kali ia seka. Matanya juga terasa mulai panas dan membengkak.

Bukannya menyerah, justru sebuah kekehan mengejek yang keluar dari bibir Jungshin. “Cih! Membatalkannya? Kau pikir satu nyawa gadis itu sebanding dengan jutaan nyawa yang akan dipertaruhkan jika Formula itu berhasil diciptakan?”.

Jungshin kembali berdiri dan meludahkan darah segar dari dalam mulutnya. Yonghwa sendiri hanya diam memperhatikan tiap gerakan lelaki itu.

“Anggap saja pertemuan kali ini merupakan sambutan darimu untukku. Di lain kesempatan, aku tidak akan segan-segan lagi Hyung” Jungshin akhirnya pergi dengan tergopoh-gopoh, meninggalkan Yonghwa seorang diri di dalam lorong sempit yang gelap dan lembab.

Yonghwa menyandarkan tubuhnya yang sudah tak berdaya. Seluruh tubuhnya sakit, bahkan untuk satu tarikan napas saja terasa menyiksa. Ia menyeka kembali darah di hidungnya. Mungkin tulang hidungnya patah dan beberapa rusuknya retak akibat perkelahian tadi.

Ia tidak menyangka pertemanannya dengan Jungshin bisa berakhir di sebuah lorong sempit seperti ini. Jungshin telah berubah, jauh berubah malah. Kemampuannya bertarung jarak dekat makin meningkat dan refleks gerakannya makin cepat dan terarah. Yonghwa sampai kualahan dibuatnya.

Kini Yonghwa sadar, bahwa lawan yang ia hadapi tidak bisa diremehkan. Baik Kyuhyun ataupun Jungshin, keduanya sama-sama berbahaya.

-X-

Lotte Seoul Hotel, Myeongdong, Seoul

Pukul 21.00 KST

Hampir satu setengah cangkir kopi berhasil Yoona habiskan dalam dua jam terakhir. Kantung matanya telah terasa seberat satu ton gandum kering. Sudah berkali-kali ia mengusap wajahnya untuk mengembalikan konsentrasinya yang telah jauh berkurang. Ia sudah duduk di kursi ini sejak jam delapan pagi. Mendengarkan berbagai macam presentasi mengenai fisiologi dan anatomi otak, metabolisme dan zat-zat yang terkandung dalam tubuh serta berbagai macam bahan-bahan obat dan apa pengaruhnya di dalam tubuh. Otaknya terasa terbakar dan hampir gosong ketika informasi-informasi itu terus masuk menghantam kepalanya.

Saat ini ia tengah menghadiri pertemuan dari Asosiasi Behavioral and Brain Sciences yang mempresentasikan sebuah pengobatan baru bagi pasien-pasien yang mengalami gangguan otak dan perilaku seperti traumatik masa lalu, ketakutan atau phobia berlebih dan gangguan perilaku menyimpang. Beberapa tenaga medis profesional dan berpengalaman seperti dokter spesialis neurologi, psikiatri, dan ahli psikologi berkumpul untuk memulai penelitian pengobatan yang mungkin dapat berguna di kemudian hari.

Mereka merencanakan menciptakan sebuah obat memory loss agar kehidupan pasien di masa yang akan datang menjadi lebih baik tanpa adanya bayang-bayang kelam yang menghantui mereka. Masih banyak pro dan kontra dari berbagai profesi yang mengakibatkan sulitnya pengembangan penelitian ini.

Yoona sendiri ditunjuk sebagai salah satu perwakilan dari dokter spesialis neurologi untuk ikut ambil alih dalam penelitian. Walaupun pada awalnya Yoona menolak, karena ia tahu sebuah penelitian seperti ini akan banyak menghabiskan waktu dan tenaga. Namun akhirnya Yoona menyutujui karena ia rasa akan lebih baik baginya untuk tenggelam dalam sibuknya pekerjaan sehingga pikiran-pikiran dan perasaan negative yang beberapa hari ini menguasainya dapat segera terhapus.

Untunglah tepat pukul sepuluh malam, pertemuan itu selesai sesuai jadwal. Tanpa menunggu lama dan tanpa berniat beramah tamah kepada rekan profesi lain, Yoona segera menghambur keluar aula. Ia menyesal tidak membawa mobilnya, karena itu berarti ia harus meluangkan kembali waktu beberapa menit untuk menunggu taksi.

Ketika melewati loby hotel, tanpa sengaja atau memang karena keberuntungannya yang saat ini sedang buruk, ia berpapasan dengan orang yang paling tidak ingin ia temui saat ini, Lee Jonghyun. Ya Tuhan, dari sekian puluh hotel yang ada di kota Seoul, kenapa mereka harus bertemu di hotel ini??

Yoona berhenti melangkah, dan tepat saat itu, mata mereka bertemu. Jonghyun mengenakan blazer hitam yang terlihat menawan, dengan rambut yang sedikit acak-acakan namun terkesan begitu maskulin, membuat Yoona sedikit mengumpat dalam hati. Di lengan kanannya, bergelayut seorang wanita seksi yang Yoona perkirakan berusia lebih tua dari Jonghyun. Tubuhnya pendek dengan make up tebal yang norak. Wajahnya sama sekali tidak lebih baik dari Yoona. Jadi apa sekarang seorang Lee Jonghyun telah kehabisan stock gadis-gadis muda yang cantik??

Wanita itu mengikuti arah pandang Jonghyun. Matanya yang mirip mata kucing menatap Yoona penuh tanda tanya.

“Siapa dia Jjongie? Kau kenal dengannya?” Yoona hampir muntah ketika mendengar suara sok manja wanita itu yang lebih mirip cicitan seekor tikus tanah.

“Tidak. Aku tidak mengenalnya” Jonghyun menjawab dengan nada datar, kemudian kembali berjalan melewati Yoona seolah ia hanya sebuah tumpukan sampah yang tidak berharga.

Jawaban Jonghyun yang sangat singkat itu seperti sebuah tamparan keras bagi dirinya. Yoona tertawa perih sambil menatap nanar punggung Jonghyun yang semakin menjauh. Tidak mengenalnya? Jadi setelah mengenalkannya sebagai ‘seorang kenalan’ biasa, sekarang lelaki itu sama sekali tidak mengenalnya? Apa otakmu baru mengalami benturan atau kau baru saja lupa ingatan, Lee Jonghyun?

Yoona dapat melihat kedua orang itu berjalan ke arah lift setelah mendapatkan sebuah kunci hotel dari meja receptionist. Setelah mencampakkan dirinya, jadi sekarang lelaki itu akan menghabiskan malam bersama dengan seorang wanita murahan di dalam hotel?

Merasa udara di sekelilingnya terasa makin sesak, akhirnya Yoona segera berlari keluar hotel. Dan kali ini ia tidak mencoba menahan diri lagi. Tiap tetesan air mata yang mengalir di pipinya, ia tujukkan berbagai macam sumpah serapah untuk lelaki itu.

-X-

Kediaman Jung Yonghwa

Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

Pukul 21.00 KST

Keadaan rumah yang terang benderang membuat Seohyun bertanya-tanya. Apa Yonghwa berada di dalam rumah? Lalu kenapa ia tidak menjemputnya di tempat kerja seperti yang ia janjikan tadi pagi? Karena hari ini Seohyun justru dijemput oleh sebuah taksi yang telah dipesan langsung oleh Yonghwa. Awalnya ia pikir Yonghwa tengah sibuk sehingga ia tidak sempat menjemputnya. Namun melihat keadaan rumah yang seperti ini, membuatnya bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi?

Segera setelah memasuki rumah, Seohyun mencari keberadaan Yonghwa di setiap ruangan. Akhirnya ia menemukan lelaki itu duduk di ruang tengah dengan sebuah kompres es di wajahnya.

“Ya Tuhan, apa yang terjadi?” Seohyun memekik kecil ketika melihat kondisi wajah Yonghwa yang lebam dan luka-luka.

“Tidak apa-apa” Yonghwa segera menghalau tangan Seohyun yang hendak menyentuh wajahnya. “Luka kecil. Aku baik-baik saja”

Seohyun menatap Yonghwa dengan ekspresi campur aduk. Bingung, sedih, kesal, semua menjadi satu menjadi sebuah ekspresi yang sulit ia jelaskan.

“Tidak apa-apa?” ulangnya dengan intonasi tinggi. Mata hitamnya meniti tiap inci wajah Yonghwa yang membengkak.

“Matamu bengkak, hidungmu terluka, dan wajahmu lebam seperti itu kau bilang baik-baik saja??” Seohyun dengan tidak sabar merebut kompres es dari tangan Yonghwa. Dengan hati-hati ia menempelkan kompres itu di atas mata Yonghwa yang mulai membiru.

“Apa yang terjadi?” Kini suara Seohyun jauh lebih lembut. Air matanya mulai menggenang ketika melihat luka-luka terbuka di wajah Yonghwa dengan dekat. “Kyuhyun? Apa ini karena aku tidak mendengarkan perkataanmu tadi siang?”

Jika memang itu yang jadi penyebabnya, maka Seohyun tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Yonghwa pasti diam-diam mengawasinya ketika ia keluar bersama Yuri tadi siang. Dan mungkin ketika itu Kyuhyun mengincarnya. Sehingga Yonghwa harus mengalami semua ini akibat tindakan bodohnya.

Yonghwa tidak menjawab, membuat Seohyun makin yakin bahwa tebakannya tepat.

“Maafkan aku” Seohyun berbisik. Tangannya yang gemetar masih sibuk mengompres luka-luka Yonghwa. Luka-luka itu kembali mengingatkan Seohyun akan mimpi buruknya beberapa hari lalu. Dan tanpa sadar, air mata mengalir membasahi kedua pipi polosnya.

“Lagi” ucap Yonghwa tiba-tiba. “Kau menangis lagi karena aku. Aku selalu benci ketika kau menangis”

Seohyun menatap mata Yonghwa yang mengernyit tidak suka. Dengan sekuat tenaga, ia menghentikan rengekan cengengnya hingga sesenggukan.

“Maafkan aku”. Cepat-cepat Seohyun menghapus jejak air matanya dengan punggung tangan, namun tangan Yonghwa lebih cepat menahan tangannya.

Dengan lembut, Yonghwa menghapus air matanya dengan jari-jari tangannya yang besar. Seohyun sontak menahan napas karena sentuhan tiba-tiba itu.

“Ini bukan salahmu. Ini sudah menjadi tugasku untuk menjagamu” Yonghwa berbisik lembut. Jari-jarinya masih sibuk menghapus air mata Seohyun yang justru semakin banyak mengalir.

Kedua pasang mata mereka seperti terikat. Seperti ada sebuah magnet maha kuat yang membuat Seohyun tidak bisa melepaskan matanya dari mata hitam Yonghwa yang teduh. Entah bagaimana semua itu bermula, namun wajah Yonghwa makin lama makin mendekati wajahnya. Kepala Seohyun terasa berputar-putar ketika aroma cinnamon yang familiar makin kuat menusuk hidungnya. Maka tanpa berpikir panjang, ia menutup kedua matanya, memberikan Yonghwa izin melakukan apa yang ingin lelaki itu lakukan.

Ada sengatan kecil ketika hidung Yonghwa menyentuh ujung hidungnya. Seohyun menahan napas, matanya ia katupkan rapat-rapat, antara sedikit takut dan sedikit mengharapkan setiap sentuhan yang akan diberikan Yonghwa dengan jantung yang berpacu semakin cepat. Namun sebuah rasa kecewa mengguyurnya ketika wajah Yonghwa perlahan semakin menjauh dari wajahnya. Seohyun membuka mata, alisnya berkerut kecewa.

Yonghwa terlihat ragu. Matanya menghindari tatapan bertanya-tanya Seohyun. Ia tidak bisa melakukan ini. Hampir saja ia hilang kendali di hadapan Seohyun. Wajah gadis itu yang begitu dekat membuatnya lupa diri.

Namun kejadian selanjutnya sukses membuat jantung Yonghwa melompat keluar. Seohyun dengan berani menarik kerah kemejanya dan mendaratkan bibir merahnya tepat ke bibir Yonghwa. Saat itu juga Yonghwa nyaris berhenti bernapas.

Seohyun melepaskan ciuman singkat itu. Mata bulatnya menatap Yonghwa malu-malu dengan pipi bersemu merah.

“Kau akan menyesali ini” Yonghwa bergumam pelan. Memperingati Seohyun dengan setengah hati.

“Tidak. Aku tidak akan menyesal” Seohyun berkata dengan yakin.

Sedetik kemudian, Yonghwa sudah menangkup wajah Seohyun dengan kedua tangannya lalu kembali menciumnya.

Untuk yang kali ini, Seohyun sama sekali tidak siap. Kehangatan bibir Yonghwa ketika menekan bibirnya terasa jauh berbeda dari sebelumnya. Kedua tangannya yang besar dan kekar, bisa dengan mudah memerangkap Seohyun di dalamnya. Rasanya samar-sama ia ingat kedua jemarinya yang awalnya terkepal erat, kini berada di dada Yonghwa. Beberapa menit kemudian Yonghwa melepaskannya sambil berkata “Aku mencintaimu”.

-X-

Fiuuuhh… Akhirnya Memory 15 dipublish juga. Maaf kalau waktunya lama…

Aku sendiri ga nyangka kalau cerita ini sudah cukup panjang. Terkadang aku merasa jangan-jangan readers makin lama makin bosen bacanya… huhuhu…

Kalau perhitunganku bener dan tepat waktu, mungkin FF ini bakal tamat dua atau tiga part lagi. Jadi mohon kesebarannya ya…😀

Happy reading and mind to review?

107 thoughts on “Formula X [Memory 15]

  1. akhirnya yonghwa mau jujur sama perasaannya ke seohyun. suka banget sm scene terakhir mereka. hahaha.. xD
    penasaran kelanjutan kisahnya yoona sm jonghyun..
    overall, suka banget sm FF ini ^^

  2. “Tidak. Aku tidak mengenalnya” Jonghyun menjawab dengan nada datar, kemudian kembali berjalan melewati Yoona seolah ia hanya sebuah tumpukan sampah yang tidak berharga.
    ini ngejleb bngt.
    sebenernya yang paling sakit itu jonghyun.sekalinya bener2 jatuh cinta,tapi gak bisa memiliki.

  3. Aiiisshh knp jongyoon malah menjauh dn apa tdi gag mengenalnyaa,,knp jong?? Kok kamu gag kaya yonghwa yg berani ngungkapin perasaannya k seo…
    Gag relaaaa jongyoon…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s