Formula X [Memory 14]

Formula x 5

Judul: Formula X [Memory 14]

Main Cast:

Jung Yonghwa CNBLUE sebagai Jung Yonghwa

Seo Joohyun SNSD sebagai Seo Joohyun

Other Cast:

Lee Jonghyun CNBLUE sebagai Lee Jonghyun

Im Yoona SNSD sebagai Im Yoona

Choi Siwon Super Junior sebagai Choi Siwon

Tiffany Hwang SNSD sebagai Tiffany Hwang

Rating: PG-17

Lenght: Chaptered

Genre: Romance, Action, AU

Teaser – Prolog – Memory 1 – Memory 2 – Memory 3 – Memory 4 – Memory 5 – Memory 6 – Memory 7 – Memory 8 – Memory 9 – Memory 10 – Memory 11 – Memory 12 – Memory 13 

Kediaman Jung Yonghwa

Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

Pukul 07.00 KST

Seohyun terbangun dengan kepala yang berdenyut hebat. Berdentam-dentam hingga telinganya terasa sakit dan berdengin. Ia berguling, membiarkan tubuhnya mencari posisi yang nyaman untuk mengurangi rasa sakit itu. Kedua tangannya dengan refleks memeluk sebuah benda di sampingnya. Menenggelamkan kepalanya ke dalam benda yang hangat dan nyaman dengan aroma cinnamon yang manis dan lembut.

Seohyun makin merapatkan tubuhnya. Menutup matanya rapat-rapat dan bergelung nyaman di dalam benda itu sehingga rasa sakit di kepalanya perlahan-lahan menghilang. Sebuah suara dengkuran halus dan teratur membuatnya mengernyitkan dahi. Dengan berat hati, ia mengangkat kepalanya.

Tanpa perlu berpikir dua kali, ia segera melompat dan duduk tegak di atas ranjang. Matanya menatap tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Yonghwa tertidur lelap di sampingnya, dengan sebelah tangan terulur di atas bantalnya.

Apa yang sebenarnya terjadi? Pikir Seohyun. Ia memandang ke setiap sudut kamar dan memastikan tidak ada sesuatu yang janggal di sana. Pakaian masih melekat utuh di tubuhnya dan begitupula Yonghwa. Ia bernapas lega ketika pemikiran buruk yang sempat terlintas di benaknya tidak benar-benar terjadi.

Ketika Seohyun masih sibuk mencari-cari alasan kenapa lelaki ini bisa berada di dalam kamarnya, Yonghwa mulai menggeliat pelan. Ia mengusap kedua matanya dengan kesadaran yang masih separuh.

“Kenapa kau bisa berada di dalam kamarku?” suara nyaring Seohyun membuat Yonghwa mau tidak mau membuka lebar kedua matanya.

Yonghwa menyingkap selimut di atas tubuhnya kemudian duduk. “Bagaimana keadaanmu?” tanyannya dengan suara serak khas pagi hari. Seolah pertanyaan Seohyun barusan merupakan sesuatu yang tidak perlu repot-repot dijawab.

Seohyun menatap Yonghwa dengan mata hitamnya yang berkilat tajam. “Kenapa kau bisa berada di dalam kamarku??” tanyanya untuk yang kedua kali. Kali ini dengan intonasi yang jauh lebih tinggi dan mengancam.

“Jika kau sudah mampu menunjukkan ekspresi seperti itu, berarti kondisimu telah jauh lebih baik”.

Seohyun mengernyit, kemudian sebuah bantal melayang tepat mengenai wajah Yonghwa. “Oke. Oke” ucap Yonghwa menyerah. “Sepertinya serangan itu membuatmu tidak sadar ya?”

“Serangan?” tanya Seohyun tak mengerti.

Yonghwa tak menjawab. Dalam diam ia hanya mengamati wajah Seohyun yang tengah berpikir dengan segala perubahan ekspresinya.

“Apa sakit kepalaku kembali kambuh tadi malam?” terka Seohyun setelah bergelut dengan ingatannya selama beberapa menit.

Yonghwa menjawab dengan anggukan singkat. Kemudian ia turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar. “Keluarlah. Ahjuma pasti telah menyiapkan sarapan untuk kita”.

-X-

Seohyun hanya dapat memandang punggung Yonghwa yang perlahan menghilang di balik pintu, kemudian beralih memandang tempat dimana Yonghwa tidur di sampingnya, yang masih meninggalkan rasa hangat dan aroma cinnamon yang manis. Semuanya masih belum terhubung. Antara sakit kepalanya dan Yonghwa yang tidur di sampingnya. Apa sebenarnya yang terjadi?

Kemudian perlahan-lahan potongan ingatan itu mulai nampak. “Uranium 235” gumam Seohyun ketika berhasil memancing ingatannya tadi malam.

Dan sekarang ia tahu, bahwa serangan tadi malam merupakan salah satu yang terburuk yang pernah ia rasakan. Ia seharusnya tidak perlu repot-repot mengingat kembali kejadian itu karena hanya makin memperburuk sakit di kepalanya.

Satu lagi yang membuatnya menyesal mengingat kejadian tadi malam. Ketika Yonghwa mencoba membantunya kembali sadar, ia justru menarik Yonghwa dan memeluk lelaki itu begitu erat dan menolak melepaskannya. Sehingga Yonghwa mau tidak mau harus tertidur di ranjangnya semalaman.

Seohyun mengacak rambut panjangnya frustasi. Jelas ia malu dengan tindakannya tadi malam, mengingat beberapa jam sebelumnya ia bertengkar hebat dengan Yonghwa. Apa yang harus ia lalukan? Sepertinya ia tidak sanggup lagi untuk menampakkan muka di depan lelaki itu.

-X-

Setelah membersihkan diri dan berganti baju di dalam kamarnya, Yonghwa duduk berdiam diri di atas ranjang. Kedua sikunya bertumpu pada lutut sedangkan kedua tangannya menopang kepalanya yang masih terasa limbung. “Tidak mungkin” Yonghwa bergumam pelan sambil menggelengkan kepala. Menyergah apapun hal konyol yang terlintas di dalam benaknya.

Apa yang salah dengan dirinya? Kenapa ia tidak menolak ketika Seohyun memeluknya dan memintanya untuk tidak pergi? Kenapa ia merasa khawatir berlebihan terhadap keadaan gadis itu tadi malam? Kenapa ia tidak bisa melepaskan pandangannya dari wajah gadis itu tadi pagi? Dan kenapa jantung sialannya berdetak cepat seakan hilang kendali ketika ia menatap sepasang bola mata hitam itu? Ini aneh.

Ia dan Seohyun jelas bukan siapa-siapa. Seohyun hanyalah sebuah misi yang diberikan pada NIS untuknya. Seperti misi-misi sebelumnya yang berhasil ia lalui. Yonghwa menekankan kata-kata itu berulang kali dalam dirinya. Ia tidak akan melewati garis lagi. Ia akan lebih berhati-hati sehingga misi ini cepat berlalu dan berjalan dengan baik. Dengan begitu, ia dapat kembali pada kehidupannya, dan gadis itupun dapat kembali dan menjalani kehidupan dengan tenang.

-X-

Ruang Makan, Kediaman Jung Yonghwa

Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

Pukul 08.30 KST

“Apa kau masih berpikir untuk kembali ke apartemenmu?” Yonghwa memecahkan kesunyian panjang di antara mereka berdua semenjak duduk di meja makan.

Seohyun menghentikan gerakannya untuk menyendok bubur ayam buatan Ahjuma dan menatap Yonghwa di seberang meja. “Aku berencana seperti itu” jawabnya.

Jika boleh jujur, Yonghwa akan lebih bersyukur jika Seohyun benar-benar kembali ke apartemennya, sehingga dengan begitu ia memiliki kesempatan untuk berkompromi dengan hatinya, dan memantapkan dirinya sebelum kembali harus terlibat misi panjang dengan gadis itu. Namun di sisi lain, keinginannya itu terlalu berisiko. Keselamatan Seohyunlah yang menjadi prioritas utama saat ini, bukan hatinya. Maka dengan setengah hati, ia berkata. “Tetaplah di sini. Kau akan lebih aman”.

Seohyun menatapnya tanpa berkedip. Meniti setiap inci wajah Yonghwa untuk mencari tahu adanya tanda keberatan di mimik mukanya atau di balik nada suaranya. Maka cepat-cepat Yonghwa menambahkan kata “Ku mohon” yang diikuti ekspresi wajah seserius mungkin yang bisa ia tampilkan.

Seohyun terdiam beberapa saat, menimbang. “Baiklah” ucap Seohyun pada akhirnya, yang membuat Yonghwa dapat bernapas lega. “Tapi dengan satu syarat” Seohyun buru-buru menambahkan. “Bawa aku ke NIS Office”.

-X-

YBS Office. Yeouido, Yeongdeungpo-gu, Seoul

Pukul 12.10 KST

Yoona berjalan melewati lobi besar dan berhenti tepat di depan meja receptionist yang berada di sisi Utara gedung. Seorang gadis cantik berambut coklat bergelombang berusia dua puluhan menyapanya dengan ramah dan menanyakan tujuannya ke sini.

“Aku ingin bertemu Lee Jonghyun, ah! Maksudku Presdir Lee” ucap Yoona.

“Apa kau sudah ada janji sebelumnya?”

“Belum” jawab Yoona jujur.

Gadis itu meminta izin untuk menelepon sebentar kemudian kembali melayani Yoona dengan senyum yang masih sama ramahnya. “Maaf, tapi Presdir Lee saat ini tengah makan siang di luar”.

“Aku akan menunggu” ucap Yoona cepat. Ada beberapa alasan ia harus menemui Jonghyun hari ini. Ia telah menanyakan pada Yonghwa sebelumnya apakah ada kemungkinan Jonghyun pergi ke rumahnya atau ke kantor NIS hari ini. Namun Yonghwa berkata bahwa hari ini Jonghyun hanya memiliki jadwal di YBS. Maka di sinilah tempat satu-satu harapan Yoona untuk bertemu dengan lelaki itu.

“Maaf, tapi jadwal Presdir akan penuh sampai nanti jam makan malam”.

Yoona hanya dapat menghela napas pasrah mendengar penjelasan gadis itu. Iapun akhirnya berbalik pergi, tanpa mencoba mencari usaha lain.

Tepat ketika melewati pintu utama gedung, Yoona berpapasan dengan Jonghyun yang tengah asik berbicara dengan seseorang di sampingnya, bahkan sampai tidak mengetahui keberadaan Yoona di sana. Ia berbicara dengan seorang wanita cantik berpenampilan necis khas pegawai kantoran yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Wanita itu jelas bukan wanita yang ia temui bersama Jonghyun di restoran tempo hari.

“Lee Jonghyun!” Yoona memanggilnya yang dengan otomatis menghentikan langkah kaki lelaki itu untuk mencari arah sumber suara. Jonghyun tersenyum dan melambai ketika berhasil mendapati sosok Yoona yang tengah berjalan menghampirinya.

“Kau pergilah dulu ke atas” Jonghyun berbicara dengan wanita itu.

“Baiklah. Ku tunggu di atas, Jjong” jawab wanita itu kemudian pergi menjauh.

“Siapa dia?” Yoona bertanya tanpa melepaskan tatapannya dari wanita itu yang semakin menjauh.

“Karyawanku” jawab Jonghyun santai.

Yoona mendengus pelan mendengar jawaban Jonghyun. Karyawan? Memanggil atasannya dengan banmal? Apa ada sebutan lain yang belum ia ketahui selain Oppa dan Jjong? Bung-Bung-ie mungkin?? Itu terdengar seperti lelucon di telinganya.

“Ada perlu apa?” pertanyaan Jonghyun membuat Yoona kembali fokus pada tujuannya ke sini –yang pastinya bukan untuk memusingkan soal karyawan yang memanggil atasannya dengan sebutan Jjong-.

“Ini” Yoona menyerahkan sebuah kantong kepada Jonghyun. “Jasmu kemarin” lanjutnya sebelum Jonghyun sempat bertanya.

“Terimakasih. Kau tidak perlu repot-repot mengantarkannya. Aku bisa menjemput ini di rumahmu”

“Tak apa. Kebetulan aku ada waktu”

Ada jeda canggung yang terasa panjang setelah itu. Dan inilah saat yang tepat untuk membicarakan alasan lain Yoona datang ke sini kepada Jonghyun. Namun entah kenapa mulutnya mendadak terkunci rapat tanpa alasan.

“Kalau begitu aku pergi. Aku masih ada urusan di atas” ucap Jonghyun yang berusaha mengakhiri ketidakjelasan jeda waktu yang Yoona timbulkan.

Tepat sebelum Jonghyun melangkah menjauh, Yoona buru-buru menahannya dengan sebuah ucapan, “Ibuku mengundangmu untuk makan malam keluarga hari ini”.

Jonghyun sontak menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menghadap Yoona. Yoona sendiri hanya bisa berdiri menunduk tanpa mampu menatap mata Jonghyun. Rasa malunya sudah sampai ke ubun-ubun.

Yoona dapat mendengar Jonghyun menghela napas panjang di hadapannya. Kemudian ia berbicara dengan pelan, “Kau masih ingat kan bahwa selama ini kita hanya berpura-pura di depan orang tuamu?”

Yoona mendadak menahan napas. Tangannya terasa sedingin es dan tubuhnya membeku dalam posisinya saat ini.

“Im Yoona”. Jonghyun perlahan menjalan mendekat. “Kita akhiri saja kebohongan kita sampai di sini”.

Sontak Yoona mengangkat kepalanya untuk menatap Jonghyun. Dan dalam sekejap ia dihantam kenyataan bahwa Jonghyun bersungguh-sungguh dengan ucapannya saat ini.

“Kita hentikan sampai di sini. Sebelum perasaan yang sesungguhnya menguasi dan menjebak kita dalam hubungan ini”.

Yoona menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Mencoba menahan desakan yang akan keluar dari dirinya. Ia tidak boleh memalukan dirinya di muka publik seperti ini, terlebih lagi di hadapan Jonghyun.

“Kejadian kemarin menyadarkanku, bahwa jika kita terlibat dalam perasaan yang lebih jauh, maka itu hanya akan membahayakan hidupmu”. Jonghyun menepuk pelan kedua pundak Yoona kemudian kembali berkata. “Aku tetap akan berada di sampingmu untuk melindungimu, tidak lebih. Karena bagaimanapun, akulah yang bertanggungjawab karena melibatkanmu dalam masalah ini”.

Lalu lelaki itu melangkah pergi, meninggalkan Yoona yang hanya dapat berdiri mematung tanpa sempat mencerna semua kata-kata yang keluar dari mulutnya. Yoona menatap sekeliling, dimana semua orang berjalan cepat melewatinya, memulai kesibukan seperti sebelum mereka kembali dari jam makan siang. Dan Yoona menduga-duga pada dirinya sendiri, akankah ia sanggup juga untuk terus melanjutkan semuanya seperti sebelum hal ini terjadi? Dan Ia sama sekali tidak yakin.

-X-

National Intelligence Service Office Center, Naegok-dong, Seocho-gu, Seoul

Pukul 14.00 KST

Semua orang menghentikan kesibukannya dan mengarahkan tatapan aneh ketika mereka berjalan melewatinya. Kemudian akan terdengar suara bisik-bisik rendah seperti kawanan tawon mematikan yang tengah mengikutinya di belakang. Setidaknya, itulah yang Seohyun rasakan saat ini.

Ia masih mengekor mengikuti langkah-langkah Yonghwa yang lebar dan mantap di depannya. Sambil sesekali menghindari tatapan aneh dan heran yang ditunjukkan hampir semua orang-orang yang berpapasan dengannya di gedung ini.

Yonghwa baru saja membawanya ke kantor National Intelligence Service untuk pertama kali. Setelah berdebat dan menganalisis untung-ruginya, akhirnya Yonghwa setuju membawa Seohyun ke dalam kantor NIS untuk mengetahui keseluruhan misi yang melibatkan dirinya, itupun setelah Yonghwa berdebat panjang dengan atasannya yang bernama Choi Siwon melalui telpon.

Mungkin inilah kali pertama orang asing seperti dirinya masuk ke dalam kantor NIS, sehingga menimbulkan banyak tatapan aneh dan bertanya-tanya mengenai keberaannya di sini. NIS merupakan organisasi profesional, tidak sembarang orang dapat masuk bahkan sampai campur tangan dalam kasus-kasus yang ditangani mereka. Mereka merupakan agent-agent khusus yang dibentuk oleh pemerintah dengan pengawasan dan seleksi super ketat. Bahkan nama dan identitas mereka di rahasiakan sampai mereka meninggal sekalipun.

Yonghwa menuntunnya memasuki sebuah ruangan di ujung lorong dengan pintu besi berwarna metalik. Selanjutnya Seohyun dapat melihat seorang lelaki muda di usia awal tiga puluhan tengah sibuk membaca berkas-berkas di atas mejanya. Ia akhirnya menyadari keberadaan mereka beberapa detik setelahnya dan mempersilahkan mereka untuk duduk.

“Seo Joohyun-sii” sapanya ramah sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Seohyun.

Seohyun menyambut uluran tangan itu dengan mantap. “Akhirnya aku dapat bertemu secara langsung denganmu”.

Kesan pertama yang Seohyun dapatkan ketika bertemu lelaki muda itu –Choi Siwon- adalah ia merupakan lelaki yang ramah. Tatapan matanya tajam dengan ambisi yang besar di dalamnya. Tercium aroma mawar ketika ia berada di dekatnya, entah itu merupakan aroma tubuhnya atau wangi bunga mawar merah yang di letakkan di sudut ruangan.

“Aku telah mendengar semuanya dari Agent Jung. Lalu apa yang ingin kau dapatkan dengan kedatanganmu ke sini?” Siwon bertanya sambil menyandarkan tubuhnya di sofa di hadapan Seohyun.

Seohyun melirik Yonghwa sebelum menjawab. Lelaki itu hanya diam tak berkomentar. Tidak menatapnya bahkan membantunya menjawab pertanyaan itu.

“Aku ingin mengetahui semua yang kalian ketahui tentang kasus yang melibatkan ku” jawab Seohyun mantap. Ia merasa punya andil dalam kasus ini. Tidak adil rasanya jika hanya ia seorang yang tidak mengetahui keseluruhan kasus ini padahal ia merupakan objek dan inti dari permasalahan. Yonghwa tidak pernah berusaha untuk menjelaskan kepadanya.

Siwon menatap Seohyun tajam, seolah mencerna kata per kata yang keluar begitu saja dari balik bibirnya. “Aku punya hak” Seohyun menambahi dengan membalas tatapan Siwon tak kalah tajam.

Siwon akhirnya memanggil seseorang ke dalam ruangannya. Beberapa menit kemudian, muncul seorang wanita cantik bertubuh sempurna yang dipanggil Siwon dengan nama Tiffany. Dan pada saat itu Seohyun ingat bahwa ia pernah bertemu dengan Tiffany sebelumnya. Saat ia dan Yoona tanpa sengaja bertemu Jonghyun di sebuah restaurant kemarin. Tiffany-lah wanita yang bersama dengan Jonghyun saat itu.

Tiffany memperkenalkan dirinya sebagai agent NIS yang berkerja dalam divisi Science and Technology. Ia yang mengumpulkan dan mengolah data yang telah di dapatkan NIS. Ia juga yang menghubungkan komunikasi antara pemerintah dan president dengan NIS Pusat.

Tiffany memulai penjelasannya dengan Project Formula yang di kembangkan Korea Utara 16 tahun yang lalu. Dilanjutkan dengan kecelakaan yang merenggut nyawa ayahnya sampai kepada President Korea Selatan yang secara langsung menugaskan NIS untuk melindungi dan mencari tahu mengenai Formula itu pada diri Seohyun.

“Lalu apa yang akan pemerintah lakukan jika berhasil mendapatkan informasi mengenai Formula itu dariku?”. Sontak Tiffany menoleh ada Siwon, mungkin ia berasa tidak berhak menjawab pertanyaan yang satu itu.

“Kami akan mempelajarinya. Mencari tahu seberapa berbahayanya Formula itu” Siwon menjawab dengan tenang.

“Apakah kau dapat meyakinkanku bahwa Korea Selatan tidak akan menggunakan Formula itu sebagai senjata berbahaya?”. Inilah yang perlu ia ketahui. Ia perlu memastikan bahwa keputusannya untuk membantu Korea Selatan adalah tepat.

“Demi nyawaku, kau bisa memegang perkataanku”.

Seohyun menggeleng. Tidak, pernyataan semacam itu tidak cukup kuat untuk meyakinkannya.

“Lalu apa? Kau akan berpihak pada mereka yang telah memanfaatkan dan membunuh ayahmu?” tanya Siwon sarkastik.

Seohyun sontak menoleh. Mata hitamnya menatap Siwon lekat-lekat. “Dari mana kau begitu yakin bahwa mereka telah memanfaatkan dan membunuh ayahku. Kau punya bukti?”

Siwon terdiam menghadapi pertanyaannya. Terlihat bahwa ia tidak memiliki apa-apa untuk meyakinkan Seohyun. Hal tersebut akhirnya membuat Seohyun mendapatkan sebuah ide. Jika mereka membutuhkan dirinya, maka mereka harus dapat meyakinkannya.

“Aku tahu NIS belum sepenuhnya memiliki bukti dalam hal itu. Maka buktikan padaku bahwa pihak Korea Utara yang telah memanfaatkan dan membunuh ayahku. Dengan begitu aku akan percaya dan memberikan segala informasi mengenai Formula itu kepadamu”.

-X-

Cheonggyecheon Stream, Seoul

Pukul 16.30 KST

Suara aliran air yang membentuk melodi menenangkan di sisi sungai Cheonggyecheon membuat Seohyun terhanyut dalam lamunannya, sebelum Yonghwa tiba-tiba menyerahkan secangkir kopi hangat ke dalam tangannya.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Yonghwa sambil duduk bersisian dengannya di sebuah bangku panjang di sisi sungai.

“Apa yang kau pikirkan sampai memberi syarat seperti itu kepada NIS?”

Seohyun menoleh ke arah Yonghwa yang wajahnya diliputi kebingungan dan ketidaksetujuan. Belum sepenuhnya paham apa yang sebenarnya Seohyun coba peroleh dari semua percakapannya dengan Siwon tadi. “Apa kau tidak percaya padaku?”

“Aku percaya padamu. Namun tidak pada NIS” ucap Seohyun jujur.

“NIS tidak akan melakukan hal seperti itu. Aku akan menjaminnya”.

“Kau masih belum juga mengerti?” potong Seohyun sambil menatap mata Yonghwa dengan alis bertaut. “Cobalah kau tempatkan dirimu di posisiku. Dengan semua kejadian ini, semua cerita-cerita mengenai ayahku dan formula yang dibuatnya. Korea Selatan dan Korea Utara. Apa kau tidak berpikir betapa ragunya aku? Aku tidak bisa berdiri di satu pihak tanpa adanya bukti yang kuat”.

Yonghwa menatap Seohyun beberapa detik kemudian meneguk kopi hangat dalam diam. Memang sebelumnya tidak pernah sedikitpun terpikir olehnya bagaimana perasaan Seohyun. Setelah semua yang terjadi pada dirinya, pasti sangat sulit baginya untuk menyerahkan seluruh kepercayaan pada salah satu pihak.

“Lagipula aku butuh bukti mengenai ayahku” lanjut Seohyun dengan suara nyaris berbisik. “Aku butuh bukti yang meyakinkan bahwa ayahku bukanlah otak dari semua permasalahan ini. Ayahku bukanlah orang yang bertanggungjawab untuk menciptakan formula yang dapat membahayakan banyak orang. Aku butuh bukti untuk mempercayai bahwa ayahku adalah orang yang tidak bersalah”.

Dengan cepat Seohyun segera meneguk kopinya untuk menghilangkan rasa tercekat yang begitu kuat di tenggorokannya. Memikirkan ayahnya membuatnya terasa sesak dan sulit bernapas. Ia ingin mempercayai ayahnya, maka dari itu ia meminta NIS untuk mencarikan bukti untuk dirinya.

Seohyun tidak dapat mengingat apapun tentang ayahnya. Wajahnya hanya beberapa kali muncul dalam mimpi-mimpi buruknya mengenai potongan-potongan kecelakaan dan formula yang ditinggalkannya. Selebihnya Seohyun tidak ingat.

Setelah menghabiskan satu jam dalam diam hanya untuk bergelut dengan pikiran masing-masing, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke rumah. Cuaca telah memasuki pertengahan musim gugur sehingga udara akan menjadi begitu dingin pada malam hari.

Ketika hendak berjalan menghampiri mobil yang terparkir di pelataran toko di seberang jalan, tiba-tiba Yonghwa menarik tangan Seohyun dan membawanya berlari menembus kerumunan orang-orang di pinggir jalan. Seohyun tidak sempat bertanya bahkan menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya dapat menggenggam tangan Yonghwa dan terus berlari mengikuti di belakangnya.

Suara tembakan terdengar dari belakang. Tubuh Seohyun terlonjak dan gemetar tiba-tiba. Siapa mereka? Siapa yang mengejarnya?

“Sialan” geram Yonghwa sambil terus menarik mereka berdua berlari menjauh. Tadi tiba-tiba saja ia melihat sosok Kyuhyun bersama seorang temannya di antara kerumunan orang. Maka tanpa pikir panjang ia segera membawa Seohyun berlari menjauh. Ia pikir dengan banyaknya orang-orang di jalan akan menyulitkan mereka mengejarnya. Namun ternyata mereka cukup nekat untuk melepaskan sebuah tembakan di tengah kerumukan orang seperti ini.

Sudah hampir lima belas menit mereka berlari namun Kyuhyun masih belum menyerah mengikutinya. Yonghwa terpaksa menghindari jalan utama dan berbelok ke jalan kecil yang lebih sepi untuk menghindari adanya korban dari warga sipil.

Dengan napas yang terengah-engah dan Seohyun yang mulai kehilangan kekuatannya, akhirnya Yonghwa mengeluarkan revolver dari balik jaket kulitnya. Ia melepaskan tembakan, namun meleset dan mengenai tiang listrik di pinggir jalan.

Melihat orang-orang itu lengah, Yonghwa tidak menyiakan kesempatan dan segera menambah kecepatan berlarinya. Ia segera berbelok pada gang kecil pertama yang ia temui dan menerobos masuk ke pekarangan belakang rumah penduduk. Mereka segera bersembunyi di balik tumpukan tong-tong besar.

Yonghwa menahan napasnya begitu mendengar derap kaki yang mendekat. Langkah-langkah cepat itu makin lama makin menjauh, tanpa tahu bahwa mereka telah kehilangan jejak.

Yonghwa menyandarkan tubuhnya di dinding. Dadanya turun-naik dan wajahnya dibanjiri keringat. Namun lega akhirnya mereka dapat terlepas dari kejaran orang-orang itu.

“Kau tak apa-apa?” Yonghwa akhirnya menoleh ke arah Seohyun yang sejak tadi berlari mengikutinya tanpa sedikitpun keluhan. Namun yang didapatinya justru membuatnya kaget. Wajah gadis itu pucat pasi. Keringat sebesar biji jagung membanjiri seluruh tubuhnya. Dan yang lebih mengagetkan, cairan berwarna merah kental telah merembes dari bahu kanannya, tempat dimana lokasi luka tembak Seohyun yang masih belum sembuh berada.

“Seo Joohyun!!” Yonghwa menepuk pelan pipinya. Mencoba membuat gadis itu kembali pada kesadarannya yang sudah hampir hilang.

Ia menatap panik sekeliling. Setelah dirasa aman, ia segera menggendong Seohyun untuk mendapatkan pertolongan secepatnya.

-X-

The Kitchen Italian Restaurant, Sinsa-dong, Gangnam-gu

Pukul 18.30 KST

Yoona menarik napas panjang dan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat sebelum memasuki restaurant. Ia lalu berjalan masuk dan mendapati kedua orang tuanya tengah melambai di sebuah meja di sudut ruangan. Yoona menghampiri mereka dengan berusaha tersenyum sebaik mungkin.

“Yoonie, kau sendirian? Mana Jjong seobang?” tanya sang ibu sambil mencari sosok yang tidak akan pernah ada di sisi Yoona.

“Ia tidak datang” ucap Yoona jujur sambil menarik kursinya untuk duduk.

Kedua orang tuanya saling bertatapan dalam diam yang penuh arti.

“Apa ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya?” tanya ibunya yang masih penasaran.

Yoona menggeleng. “Tidak eomma. Ia tidak akan pernah datang. Aku dan dia___” Yoona mengambil napas panjang sebelum kembali berbicara, “___sudah berakhir”.

Sang ibu kehilangan kata-kata, sedangnya ayahnya meneguk gelas berisi red wine dalam diam.

“Kalau begitu persiapkan dirimu. Bulan depan kita akan pindah ke Los Angeles” ucap sang ayah setelah meletakkan gelas kristalnya di atas meja.

Yoona menatap ayahnya dengan campuran ekspresi terkejut dan tidak mengerti. “Pindah? Apa maksudmu Appa??”.

“Yoonie, perusahaan Appamu telah dipindahkan ke Los Angeles 3 bulan yang lalu. Jadi kami berencana akan pindah ke sana bulan ini. Awalnya kami setuju untuk membiarkanmu tetap berada di Korea namun dengan satu syarat”. Sang ibu menatap Yoona iba dengan kedua mata tuanya. Merasa tidak seharusnya ia mengatakan hal ini ketika sang anak sedang dirundung masalah. Walaupun Yoona tidak menjelaskan kepadanya lebih rinci mengenai masalahnya dengan Jonghyun, namun ia tahu bahwa Yoona tidak dalam kondisi yang baik hari ini.

“Syarat apa Eomma?” tanya Yoona was-was.

“Jika kau telah memiliki orang yang dapat bertanggungjawab terhadap dirimu sehingga membuat kami tenang melepaskanmu”.

Sekarang Yoona mengerti kenapa orang tuanya selalu berusaha menjodohkannya selama ini. Jadi itu alasannya.

“Kami senang begitu mengetahui kau memiliki Jonghyun. Dan yakin bahwa Jonghyun akan selalu menjagamu di sini. Namun keadaan sekarang benar-benar di luar dugaan kami”. Ibunya berucap penuh penyesalan, membuat Yoona merasa bersalah telah membohongi kedua orang tuanya selama ini.

“Maka dari itu kau harus ikut dengan kami. Eomma dan Appa tidak akan pernah bisa pergi meninggalkanmu seorang diri”.

“Tapi aku bisa mengurus diriku sendiri, Eomma” elak Yoona. Masih berharap orang tuanya mau mempertimbangkan keputusan mereka.

“Maaf sayang” Kali ini suara berat ayahnya yang berbicara. “Kau satu-satunya yang paling berharga bagi kami. Dan kami tidak akan melepaskanmu hidup seorang diri di sini”.

Yoona tahu, setelah pernyataan itu keluar dari mulut sang ayah, ia tidak akan bisa lagi menolak. Waktu yang ia miliki di Korea hanya tinggal sebulan. Dan setelah itu, ia tidak yakin apakah ia akan kembali dapat menginjakkan kaki ke negara ini atau tidak.

-X-

Kediaman Jung Yonghwa

Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

Pukul 18.30 KST

Yonghwa berjalan mondar-mandir dengan ponsel yang tertempel di telinganya. Sudah berpuluh-puluh kali ia menghubungi orang yang sama namun tidak juga tersambung.

“Kemana Im uisanim?” ucapnya kesal.

Kemudian ia mencoba menghubungi nomor lain yang mungkin mengetahui keberadaan Im uisanim saat ini.

Ada apa Hyung?

“Jonghyun-ah, kau bersama Yoona?”

Tidak. Ada apa?” Jonghyun bertanya karena mengetahui ada yang tidak beres dari suara Yonghwa yang terdengar panik.

“Joohyun sakit. Aku membutuhkan Yoona sekarang. Ponselnya tidak aktif. Bisakah kau mencarinya?”

Aku tahu dimana dia berada. Aku akan segera menemuinya. Kau tunggulah”.

Sedikit lega dengan bantuan Jonghyun, Yonghwa lalu kembali masuk ke dalam kamar dimana Seohyun tengah terbaring lemah di atas tempat tidur. Yonghwa mengambil kompres yang tertempel di dahi Seohyun dan menggantinya dengan kompres yang baru.

Seohyun mengalami demam tinggi semenjak aksi kejar-kejarannya dengan Kyuhyun. Begitu sampai di rumah, Yonghwa segera mengganti perban di bahu Seohyun dan membaringkannya di ranjang. Kondisinya bukan makin membaik. Luka di bahunya kembali terbuka dan panasnya semakin tinggi. Yonghwa telah mencoba segala hal yang ia bisa, namun tidak banyak membantu. Ia benar-benar membutuhkan Yoona sekarang.

“__ngin” Suara gumaman keluar dari bibir pucat Seohyun. Yonghwa mendekat agar dapat mendengarnya lebih jelas.

“Dingin”. Seohyun bergelung dalam tidurnya. Tubuhnya panas tinggi namun masih gemetar di balik selimut tebal.

Tidak bisa hanya diam menunggu sampai Yoona datang, akhirnya Yonghwa naik ke atas ranjang dan bergabung dengan Seohyun di bawah selimut. Suhu tubuhnya normal, jadi mungkin bisa memberikan kehangatan yang Seohyun butuhkan.

Seperti sebuah magnet, Seohyun segera menempel erat di tubuh Yonghwa. Gadis itu sudah di bawah ambang sadarnya, jadi hanya naluri dan refleks yang menggerakkannya mencari sumber kehangatan terdekat. Berusaha mencari kenyamanan untuk tubuhnya yang menggigil kedinginan.

Yonghwa menarik gadis itu dalam pelukannya. Berusaha membungkus tubus gadis yang sepanas api itu dengan tubuhnya. Persetan jika orang melihatnya seperti lelaki brengsek yang mencari kesempatan. Ia hanya ingin menyelamatkan gadis itu. Dan hanya ini yang bisa ia lakukan sekarang. Setidaknya dengan seperti ini, suhu tubuh gadis itu dapat perlahan menyamai suhu tubuhnya.

Dan Yonghwa sadar, sekali lagi ia telah melewati garis yang ia buat. Kali ini ia tidak tahu apakah ia bisa kembali pada posisinya semula, atau tetap berada di luar garis tanpa berniat kembali. Ia tidak pernah tahu. Yang ia tahu, bahwa ia tidak akan pernah melepaskan gadis ini apapun yang terjadi.

-X-

Halo, apa kabar reader? Maaf ya lama update. Kemarin-kemarin masih males buka laptop karena suasana lebaran. Hehehe…

Update selanjutnya diusahakan secepatnya.

Sebelum saya pamit, saya mau ngucapin “Minal aidzin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin” buat readers yang merayakan. Lebih baik telat daripada tidak sama sekali kan??

Selamat membaca, and mind to review??😀

71 thoughts on “Formula X [Memory 14]

  1. Daebakk
    Makin kereenn
    Makinn seruu
    Pnsrang g mna hub deerburning
    Slnjtnya
    Apalg yoona eoni
    Bkalan pindah
    Apkah jonghyun oppa
    Bkalan tw ya
    G mna hub slnjtnya
    Pnasarannnnnnnn bngettt
    D tnggu chap slnjtnya thor:D

  2. jonghyun keterlaluan! udh deer kamu ke LA aja biar si burning sadar klo udh bertindak bodoh.. haha XP

    yoong makin kece deh, teruskan.. jgn lepaskan hyuun krn dia benar2 membutuhkanmu! ahaha ^///^

    eh tp kok rasanya bahasa author agak berubah ya? apa perasaanku aja ya? hehe ^-^
    anyway, chap ini mulai smakin menarik.. so nice.. so sweet.. so good.. so great!!

    • Aduuuuhh… Aku terharu sampe ada yg perhatiin perubahan bahasa yg aku pake…
      Author lg labil nih… Wkwkwkwk
      Wkwkwkwk
      Perubahan bahasa kyk gini lebih baik atau ga? Soalnya aku msh coba2.
      Tolong feedbacknya ya. Untuk memperbaiki kemampuan menulis aku

      • perubahan bahasanya ga masalah kok authornim.. mungkin krn ga akunya blm biasa sama bahasa author yg berubah jd nampak agak aneh.. tp dilanjutkan aja supaya terbiasa.. bagus kok! ^-^

  3. Finally !!!!!
    im already miss this story ><

    Yonghwa. … ma Seohyun sudah makin berkembang aja nih… tidur peluk2… hahahahahaha

    Lee jonghyuuuuuunnnn….. Why???? kau menolak permintaan yoona =(
    pasti ntar bakal nyesel tuuhh… kalo yoona pindah ke LA… hahahahaha

    cant wait ur update thor !!!!!!!

    btw, minal aidzhin juga yah thor… and readers lainnya.

  4. akhirnya diupdate juga.. seohyun sm yonghwa waw hahah😀 itu kasian yoonanya thor kalau kyk gitu >.< jonghyun tega ya, ntar kalau yoona ke LA baru tau rasa dia.

    next chapter ditunggu🙂

  5. Akhirnya di lanjutin🙂
    Yonghwa perduli bgt sm hyun, byginny senyum2 sndri
    Jjong tega sama yoona, kira2 klnjutn hbgnny nt pd gmna ya
    Cara apa yg dipakai nis buat ngeyakinin hyun
    Btw aku suka bhsa aktor yg skrg🙂
    Ditunggu lnjtannya🙂
    Jgn lma ya😀

  6. Aaaaaaa Yongseo cute…tp skrang giliran DeerBurning yg da masalah?! Tp critanya mkin seru thor…Lanjut truz thor Hwaiting?!!
    O ya Minal Aidhin Wal Faidhin, Mhon Maaf Lahir Batin…

  7. Hwaaaa^^
    Daebakkk min^o^ lanjuttt terus yaaaaa, dilanjut nya jangan lama-lama hehe:D. Jonghyun pasti nyesel entar! Wkwk. Ayooo YongSeo fighting wkwk. Minal aidzin juga min^^

  8. Keren pake bgt thor. Yonghwa galau tapi ujung”nya ga bisa lepas jg dr seohyun. Jonghyun pasti nyamperin yoona ke restoran. Penasaran gmn reaksi ortunya yoona. Penasaran jg sama apa yang bakal kejadian ma yongseo.

  9. Waaah…bikin greget ya chapter ini,bersambungnya jg disaat yg ga tepat,bikin penasaraaan!!semoga next chapter ga lama2 banget ya author..ditunggu sangaat!!.terimakasih utk update-an nya ({})

  10. aaakk author daebakkkk ^_^
    ayoo ff nya di update lagi thor..
    baca ff ini berasa lg nonton film.. keren bgt
    author jjang!!! ~

  11. Kurang panjang thor! Nextnya jangan lama2 ya!

    Yoong pergi ke LA aja biar Jong tau rasa dan ngejar Yoong ke LA😀

    YongSeo juga makin sweet, kapan mereka bklan jadian? Penasaran sama ppart selanjutnya thor!

    Ceritanya Daebak banget (y)

  12. Minal aidin walfaidzin jg…
    Akhrnya update jg, hampir sebulan bolqk balik ni blok…
    Pliss buat jonghyun dan yoona bersatu jng smpe yoona pergi keluar negri..
    Yonghwa segera mengungkapkan rasa cinta sebelum terlambat…
    Next asap ya..

  13. Giliran yong am seo mlai romancenya…..
    Ehhhhh….. jonghyun am yoona hubungannya mkin terlihat jauh…
    Semoga seohyun baik2 ajha….

    Minal aidzin wal faidzin jg thor

  14. Aku seneng ff ini update hehe
    Minal aidzin wal faidzin juga ka🙂
    Aku seneng hubungan yonghyun menjadi lebih baik tapi kenapa jongyoon malah berakhir😦 so sad

  15. sebel sama jonghyun disini

    klo aku diposisi yoona pasti da nangis2
    sudah mempermalukan diri sendiri dan dipermalukan lagi

    padahal dulu jonghyun yg menawarkan bantuan

    yoona ke usa aja
    sekalian ngetest jonghyun merasa kehilangan nggak
    biar dia tahu rasa ditinggal

    saya kejamkah?

  16. lee jonghyun kenapa bilang begitu sm yoona? sedih jadinya:(
    agent jung! sepertinya kau sudah jatuh cinta dengan seohyun kkk aku suka yongseo momentnya, apalagi pas part terakhir heheh
    halo author! minal aidin wal faidzin juga yaa kk thx for update, aku udh nunggu2 kapan ini ff update eh akhirnya update juga hehe update selanjutnya sangat ditunggu ya! fighting^^

  17. Wah…muncul jg ni ff lama banget!author and readers minal aidzin wal paidzin mohon maaf lahir dan batin,banyakin moment deerburning nya donk?knapa hrus pindah k LA?owh….jangan sampai donk….jonghyun tolongin yoona donk…..

  18. Nah kan jong ditinggal yongie ke LA loh ambil seribu langkah sebelum telat langsung lah lamar dpn orang tuanya yongie tuh. #lahakuygngebet

    Kyuhyuuuuuuun, kau masi ngincar joohyun hiks tobat bang. Ini jungshin ga dimunculin lg? Penasaran ma peran jungshin.

    Cieeeee yong cieeee udah gapapa di lyar batas jg ini kan soal hati hihi. Jaga joohyun ya bang.

    Lanjut ya author fighting

  19. minl idzin juga ka,🙂

    ciee seo, hha. eh yoona mau pindah ke LA? ya udh gg apa2, palingan juga ntar jonghyun nya nyusul, hee
    ditunggu lanjutanya, semangaat,😀

  20. aaaaaaahhh abng yong sok nolak diluar batas deh…
    masalah hati tu bg gak masalah ama neng hyunnya..
    hahahaha

    aduh kenapa hyunnya sakit lagi kasian…

    jonghyun cepat banget berubah pikiran.. bukannya melepaskan yoona jadi semakin berbahaya kan yoona uda terlibat sebelumnya..
    aduh mas jong ditinggal yoona kapok koe wkwkwkwk

    dan terakhir..
    minal aidin wal faidzin maaf lahir batin..
    aduh mbah ceritamu makin seru dan penasaran…
    next chapteeerrrr🙂

  21. biasanya bagian yoona jonghyun itu bagian paling unyu tp skrg kasian yoonanya😦
    makin penasaraan sama cerita seohyun
    ditunggu chapter selanjutnya :3

  22. Jangan jangan karyawannya jonghyun yg manggil jjong itu pny hubungan special sm jonghyun,cckkck!! Masalah makin rumit krn ditambah sm masalah cinta,hahhaha!! Jonghyun nnt bakalan syok kl tau yoona mw pindah k la tapi nnt nasib joohyun gmn l dokternya pergi gt,hhuaaa

  23. Ahhhh telat telat
    Heuheu

    Aw aw aw bukannya yong udah jatuh cintrong ama seohyun??

    Eh eh eh, ini apa pula jong seobang ama yoona. Lahhh thor kenapa jadi begindang ceritanyaaaa
    Dan buat jong seobang jangan ampe nyesel yak kalo ntar yoona malah cuek bebek trus ninggalin dirimu baru nyaho lohihhh
    Ehahahahaha

    Next chapter thor eh iya lupa, mohon maaf lahir dan batin juga Thor^^
    Maafin kalo ay bawel bin geje ehahaha
    *tetep xD

  24. ini nylekit banget
    “Kita hentikan sampai di sini. Sebelum perasaan yang sesungguhnya menguasi dan menjebak kita dalam hubungan ini”.“Kejadian kemarin menyadarkanku, bahwa jika kita terlibat dalam perasaan yang lebih jauh, maka itu hanya akan membahayakan hidupmu”.

    BTW,boleh jujur gak?aku baca ff ini karena da jonghyun-yoona doang.dan part mereka selalu bikin nyeri hati…

  25. Jonghyuunnn knp sprti ituu?? Kau mematahkn hati yoona,,apa arti yoona bagimu?? Benarkh hanya seorang kenalan??
    Seo kasiiaann knp dy??
    Yonghwa mulai ada rasa niih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s