Formula X [Memory 13]

Formula x 5

Judul: Formula X [Memory 13]

Main Cast:

Jung Yonghwa CNBLUE sebagai Jung Yonghwa

Seo Joohyun SNSD sebagai Seo Joohyun

Other Cast:

Lee Jonghyun CNBLUE sebagai Lee Jonghyun

Im Yoona SNSD sebagai Im Yoona

Lee Jungshin CNBLUE sebagai Lee Jungshin

Rating: PG-17

Lenght: Chaptered

Genre: Romance, Action, AU

Teaser – Prolog – Memory 1 – Memory 2 – Memory 3 – Memory 4 – Memory 5 – Memory 6 – Memory 7 – Memory 8 – Memory 9 – Memory 10 – Memory 11 – Memory 12

Seoul International Hospital

Pukul 11.30 KST

“Ada apa eomma?” Yoona berjalan pelan menjauhi lorong Rumah Sakit dengan ponsel tertempel di telinganya. Ia kemudian memutuskan duduk di salah satu kursi taman yang tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri.

Yoonie, Ayahmu menganjak kita untuk makan malam bersama besok malam. Bisa kau kosongkan waktumu untuk hari itu?” Ibunya menjelaskan dengan nada suara gembira yang begitu kentara. Sudah cukup lama mereka sekeluarga tidak makan malam bersama di luar, terlebih lagi karena kesibukan ayahnya dan padatnya jadwal pekerjaan Yoona akhir-akhir ini.

“Tentu saja eomma” Yoona menyanggupi. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan berharga untuk berkumpul bersama keluarganya. Ia sendiripun sadar bahwa akhir-akhir ini perhatian terhadap kedua orang tuanya sangat kurang. Ia sudah cukup disibukkan dengan pekerjaannya di Rumah Sakit, belum lagi ia harus merawat Seohyun beberapa hari terakhir yang membuat hampir seluruh waktunya tersita.

Baguslah” Suara helaan napas ibunya terdengar di ujung telepon, membuat kedua sudut bibir Yoona membentuk lekungan sederhana. “Kalau begitu, bisakah kau juga membawa Jonghyun bersamamu?

“Hah??” Sebelah alisnya terangkat. Tanpa sadar ia menjauhkan ponsel dari telinganya dan menatap aneh benda itu, seolah-olah baru saja ada kerusakan yang terjadi dan menyebabkan kesalahan penerjemahan gelombang suara yang keluar. Atau justru telinganya yang bermasalah?

Kau ajak Jonghyun untuk makan malam bersama kita” Ibunya mengulangi, membuat Yoona akhirnya menyadari bahwa tidak ada yang salah dengan ponsel ataupun telinganya.

“Tapi eomma, bukankah ini makan malam keluarga?” tanya Yoona tak paham.

Iya. Bukankah Jonghyun sebentar lagi akan menjadi bagian keluarga kita? Tidak masalah bukan?” Ibunya berkata begitu santai, membuat Yoona memijat pelan pelipisnya. ‘Mulai lagi’ gumamnya jengah.

Kau harus mengajaknya. Oke?

“Jonghyun sedang sibuk eomma” Yoona berkilah. “Beberapa hari ini ia disibukkan oleh pekerjaan kantornya”

Ibunya mendesah kecewa. “Kalau begitu biar eomma yang berbicara langsung padanya

“EOMMA!!” Yoona mulai merajuk. Ibunya benar-benar tidak bisa dianggap remeh. Ia pasti tidak akan menyerah hanya dengan alasan klise seperti itu. “Baiklah, aku akan mengundangnya. Biar ku tanyakan dulu padanya” Yoona akhirnya menyerah.

Bagus” Sebuah kekehan ringan terdengar di telepon. “Kalau begitu katakan pada Jjong sobang, sampai jumpa besok malam”.

Klik!

Yoona menghela napas panjang begitu sambungan telepon terputus. Ditatapnya ponsel yang masih berada di dalam genggamannya sambil merebahkan punggung pada kursi taman. Sekarang, apa yang harus ia lakukan? Apakah ia benar-benar harus mengajak Jonghyun? Atau harus mulai memikirkan alasan paling masuk akal untuk berbohong pada ibunya? Ia tidak ingin dikatakan tebal muka jika kembali harus melibatkan Jonghyun dengan masalah pribadinya lagi. Jonghyun sudah cukup banyak membantu. Lagipula dia sudah cukup direpotkan dengan kasus Seohyun yang semakin rumit dan pelik. Tidak bijak rasanya jika harus melibatkannya lagi pada masalah sepele seperti ini.

Yoona menggigit bibir bawahnya ragu. ‘Tapi mungkin akan lebih menyenangkan jika Jonghyun dapat hadir pada makan malam itu’.

Ia menggeleng kepala cepat untuk menghalau pikiran konyol yang baru saja mampir di dalam otaknya. Ya Tuhan, apa yang baru saja kau pikirkan Im Yoona? Sepertinya akhir-akhir ini pemikiran dan keinginannya tidak dapat berjalan beriringan dengan normal. Lee Jonghyun, semua itu karena ulahmu!

-X-

“Biar kuantrakan kau sampai ke dalam”.

Seohyun tersenyum. Ia menghentikan langkahnya kemudian menatap lelaki bertubuh tinggi yang masih mengikutinya dengan cemas. “Tidak perlu repot. Sudah ku katakan bukan bahwa aku memiliki teman seorang dokter di Rumah Sakit ini?”.

“Tapi__”

“Tidak apa-apa, Jungshin-sii” potong Seohyun ramah. “Lagipula aku tidak terluka karena kejadian tabrakan kita. Kondisi tubuhku memang sedang tidak baik hari ini. Ini sepenuhnya bukan kesalahanmu”.

Jungshin –lelaki bertubuh tinggi yang mengantarkan Seohyun ke Rumah Sakit ini- terlihat ragu dengan perkataan Seohyun. Dengan berat hati akhirnya ia mengangguk samar. Lalu ia mengeluarkan dompet dan memberikan sebuah kartu nama pada Seohyun.

“Kau bisa menghubungiku jika terjadi sesuatu”.

Seohyun hendak membuka suara namun Jungshin dengan cepat memotongnya. “Jangan menolak. Hanya itu bentuk tanggungjawab yang bisa ku berikan”.

Seohyun akhirnya mengangguk pasrah dan dengan ragu mengambil kartu nama itu dari tangan Jungshin. “Terimakasih”.

“Kabari aku kondisimu. Oke?” Seohyun kembali mengangguk, membuat kedua sudut bbir Jungshin terangkat. “Sampai jumpa kalau begitu”. Jungshin membungkuk sopan sebelum membalikkan tubuhnya.

Belum sempat Jungshin melangkah lebih jauh, Seohyun memanggilnya dan menghentikan langkah lelaki itu.

“Mungkin kau tidak ingat, tapi ini bukan pertemuan pertama kita”.

Jungshin menoleh mendengar perkataan Seohyun itu.

“Kita juga pernah bertabrakan di sebuah jalan di daerah Gangnam” Seohyun merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah benda. “Aku menjatuhkan ini ketika itu” jelasnya sambil menunjukkan sebuah botol kaca berisikan daun Clover kepada Jungshin.

“Benarkah?” Jungshin kembali berjalan mendekat sambil memperhatikan botol daun Clover itu lekat-lekat.

“Kebetulan yang luar biasa bukan?” lanjut Seohyun sambil terkekeh ringan.

“Kau mengingatnya? Aku bahkan tidak ingat sedikitpun” Jungshin berkata dengan wajah heran yang tidak dapat ditutupi.

Seohyun hanya mengulas senyum simpul menanggapi pertanyaan Jungshin. Kemudian ia pamit dan melanjutkan langkahnya ke dalam Rumah Sakit untuk segera menemui Yoona.

Jungshin yang masih berdiri di tempatnya menatap punggung Seohyun yang semakin menjauh. Seulas senyuman tersungging di bibirnya.

“Menarik. Seo Joohyun, ternyata benar bahwa kau memiliki kemampuan ingatan fotografi” gumamnya pelan.

-X-

Seohyun melangkahkan kakinya lebih dalam ke lobi Rumah Sakit sambil sesekali mengedarkan pandangan ke sekitar jikalau tiba-tiba ia berpapasan dengan Yoona, mengingat ini sudah memasuki waktu makan siang. Yoona mungkin sudah tidak ada di ruang prakteknya, mungkin di kantin atau pergi makan siang di luar Rumah Sakit.

Seohyun berjalan cepat sambil memegangi bahu kanannya. Guratan rasa sakit terpancar jelas di wajahnya. Tabrakan dengan Jungshin tadi emang tidak terlalu kuat, namun tetap saja hal itu cukup memberikan efek yang luar biasa pada bahunya. Lukanya belum sembuh sama sekali, dan sepertinya sekarang semakin diperparah karena kejadian itu. Lukanya terasa panas dan berdenyut-denyut, membuat jalannya sedikit limbung dan pandangannya menggelap perlahan-lahan.

Karena dirasa kondisi tubuhnya semakin tidak baik, maka Seohyun memutuskan untuk menunggu di depan ruang praktek Yoona. Ia tidak mampu jika harus berkeliling mencari Yoona dalam keadaan seperti ini.

Baru saja ia berjalan melewati lorong Rumah Sakit, tiba-tiba saja sebuah suara memanggilnya.

“Hyunnie!!”

Seohyun menoleh dan mendapati Yoona berjalan menghampirinya dari arah taman.

“Syukurlah aku segera mememukanmu, eonni” ucap Seohyun lega tepat ketika Yoona telah sampai di depannya.

Yoona menatap Seohyun dengan alis bertaut sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling mencari sesuatu. “Kau datang seorang diri?” tanyanya heran.

Seohyun mengangguk membenarkan.

“Oh! Ya Tuhan! Hyunnie, kau tahu, kondisimu sedang tidak baik. Apa yang kau lakukan? Kenapa kau datang seorang diri ke sini? Mana Yonghwa?” sembur Yoona tiba-tiba. Ekspresi khawatir begitu jelas tergambar di wajahnya.

“Nanti ku ceritakan eonni. Sekarang bisakah kau membantuku?”

-X-

Samwon House Resto, Gangnam-gu, Seoul

Pukul 13.00 KST

“Jadi tadi itu karena kau bertabrakan dengan seseorang di Dongdaemun?” Yoona menghentikan gerakan untuk menyuap bibimbap ke dalam mulutnya dan lebih tertarik menatap Seohyun di seberang meja.

Seohyun sendiri hanya menjawab dengan anggukan singkat.

Saat ini mereka berada di sebuah restoran yang berlokasi tidak jauh dari Rumah Sakit. Setelah Yoona mengobati luka Seohyun di ruang parkteknya tadi, mereka memutuskan untuk berbicara di luar sambil menyantap makan siang bersama. Untunglah lukanya tidak terlalu parah akibat kejadian tadi sehingga hanya dengan obat penghilang rasa sakit, antiseptic dan perban pengganti, kondisinya semakin membaik.

“Kenapa kau ke sana seorang diri?” Yoona bertanya dengan nada protektif tingkat tinggi.

“Aku bosan terus berada di dalam rumah, eonni” Seohyun berkata jujur. “Lagipula aku butuh beberapa pakaian untuk beberapa hari ke depan”

“Kau bisa memintaku untuk membawakan pakaianmu dari apartement” protes Yoona. “Atau aku bisa pergi membelikannya untukmu. Kau tidak perlu sampai keluar rumah”. Ia tidak mengerti kenapa Seohyun sampai nekat keluar rumah seorang diri dengan kondisi luka yang sama sekali belum pulih hanya karena sebuah pakaian.

“Aku hanya tidak ingin merepotkanmu” Seohyun membela diri. Sedikit merasa kesal karena sikap orang-orang di sekitarnya yang selalu memandang lemah dirinya.

“Tapi sekarang akhirnya kau merepotkanku” ucap Yoona tidak mau kalah.

Seohyun sontak terdiam mendengar ucapan Yoona barusan. Ia menatap Yoona lekat-lekat kemudian mengangguk samar. Benar, tindakannya tadi bukannya membantu justru malah semakin merepotkan Yoona.

“Maaf” gumamnya pelan. “Maafkan aku eonni. Aku tidak akan melakukannya lagi”. Wajahnya tertunduk sambil sesekali mengaduk bibimbap di hadapannya tanpa minat.

Ucapan Yoona tadi seakan menohoknya. Ia merasa seperti seonggok parasit menjijikkan yang tidak berguna. Kenapa semua tindakannya selalu disalahkan? Kenapa semua orang terlalu berlebihan terhadap keselamatannya? Dan kenapa ia terlihat begitu menyedihkan? Seohyun tidak mengerti. Ia benar-benar tidak paham dengan keadaannya dan orang-orang di sekitarnya.

Di satu sisi, Yoona menghela napas panjang. Sepertinya ia melakukannya kesalahan. Ia tidak bermaksud membuat Seohyun merasa bersalah. Ia hanya khawatir akan kondisinya.

“Maafkan aku Hyunnie. Aku tidak bermaksud seperti itu” Yoona menatap Seohyun iba. “Kau tahu kan, kondisi lukamu, ditambah Kyuhyun yang sedang mencari keberadaanmu, membuatku takut. Aku takut kau terluka. Aku hanya ingin melindungimu”. Yoona meraih tangan Seohyun dan menggenggamnya lembut. “Dan ku rasa Yonghwa juga berpikiran sama denganku”.

“Aku paham” Seohyun membalas genggaman tangan Yoona. Walau sejujurnya, ia masih belum sepenuhnya menerima semua tindakan perlindungan yang Yoona dan Yonghwa lakukan. Ia juga bisa melindungi dirinya sendiri. Ia hanya ingin mereka paham bahwa ia tidak selemah yang mereka kira.

“Joohyun-sii? Kenapa kau ada di sini?”

Suara seorang lelaki menghentikan pembicaraan mereka. Seohyun menoleh dan mendapati Jonghyun tengah berjalan ke arah meja mereka.

“Kau juga di sini Im uisanim?” sapa Jonghyun sopan.

Yoona terlihat terkejut akan kehadiran Jonghyun yang tiba-tiba di restoran ini. Dan lebih dikejutkan oleh kehadiran seseorang di samping Jonghyun.

“Siapa mereka oppa?” tanya seorang wanita cantik dengan dandanan khas wanita karir yang elegan dan mempesona di samping Jonghyun.

“Mereka kenalanku. Ini Dokter Im dan ini Joohyun-sii” Jonghyun memperkenalkan mereka satu per satu kepada wanita itu.

Yoona hanya menatap Jonghyun dan wanita yang terlihat sexy di matanya itu secara bergantian tanpa berniat membuka suara apalagi sekedar bersopan santun. Untunglah ada Seohyun di antara mereka yang dapat membalas perkenalan itu dengan tingkat kesopanan yang menurut Yoona terlalu tinggi. Sehingga tidak ada aura kecanggungan yang terjadi.

Setelah perkenalan dan basa-basi singkat, Jonghyun dan wanita itu pergi ke lantai 2 yang diperuntukkan khusus untuk tamu VIP.

Seohyun memperhatikan mood Yoona yang tiba-tiba berubah drastis semenjak kedatangan Jonghyun tadi. Dengan hati-hati ia akhirnya bertanya, “Kau tidak apa-apa eonni?”

“Tentu saja. Memangnya aku kenapa?” Yoona berusaha terlihat santai. Walau pada akhirnya justru semua gerakannya terlihat makin aneh di mata Seohyun.

“Eonni, sebenarnya aku ingin menanyakan hal ini sejak kemarin” Seohyun bertanya dengan sedikit ragu.

“Apa itu?” Yoona menatap Seohyun dengan alis terangkat.

“Sejak kapan kau kenal dengan Jonghyun? Bukankah ia seorang detektif dari kepolisian distrik Gangnam?”

“Ia memperkenalkan diri seperti itu padamu?”

“Hmmm…” Seohyun mengangguk. “Ketika apartementku dimasuki oleh seseorang, ia yang menangani kasusnya”.

Yoona sontak tertawa mengejek. Lelaki itu benar-benar. Sudah berapa banyak orang yang telah ia tipu?

“Dulu juga aku sempat menganggapnya seperti itu” aku Yoona. “Polisi, detektif bahkan mata-mata organisasi terlarang” ucapnya sambil menghitung dengan jari.

“Lalu? Yang mana yang benar?” tanya Seohyun penasaran.

“Tidak ada” Yoona berkata sambil mendengus kesal mengingat lelaki itu. “Ia rekan Yonghwa. Seorang agen juga”.

Seohyun mengangguk mengerti, tidak terlalu terkejut. Pantas ia terlihat dekat dengan Yonghwa. “Lalu kenapa kau bisa kenal dengannya? Dan kenapa kau bisa terlibat dalam masalah ini?”

Yoona berpikir beberapa saat untuk menjelaskan secara singkat kepada Seohyun. “Ia meminta informasi mengenai riwayat medismu. Kemudian suatu hari ia juga meminta bantuanku bersangkutan dengan kasus ini. Semenjak itu aku terlibat”.

“Tunggu!” Seohyun tiba-tiba mengangkat tangannya, memotong. “Kau memberikan informasi mengenai riwayat medisku?” tanyanya tidak percaya. “Eonni! Dokter macam apa yang membeberkan riwayat medis pasiennya?”

“Itu demi kebaikanmu, Hyunnie” jawab Yoona santai yang mendapatkan delikan tajam dari Seohyun.

“Semua akan baik-baik saja. Percayalah” Yoona meyakinkan Seohyun dengan suara menenangkan. Membuat Seohyun mau tidak mau mengangguk pelan, meyakinkan diri sendiri.

“Ku antar kau pulang” tawar Yoona setelah makan siang mereka selesai.

“Tidak usah eonni” Seohyun menolak halus. “Kau harus kembali bekerja, lagipula bukankah mobilmu sedang di bengkel sekarang?”

“Tenang saja, pasienku sudah tidak ada. Aku akan mengantarkanmu dengan taksi. Aku tidak bisa membiarkanmu pulang seorang diri dengan kondisi seperti itu”

-X-

Kediaman Jung Yonghwa

Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

Pukul 16.00 KST

“Eonni tidak masuk dulu?”

Yoona melirik jam tangannya. “Tidak usah Hyunnie” tolaknya halus. “Aku akan mampir ke Apotek dulu”.

Seohyun mengangguk kemudian memeluk Yoona sebelum gadis itu pergi. “Hati-hati di jalan eonni”

Setelah mengantar kepergian Yoona hingga menghilang di persimpangan jalan, Seohyun akhirnya masuk ke dalam rumah. Ia berjalan masuk sambil memperhatikan keadaan sekitar. Keadaan baik di dalam maupun di luar rumah sangat sepi. Apa Yonghwa belum pulang? Ia tidak menyangka Yonghwa mampu tinggal seorang diri di rumah sebesar ini. Apa ia tidak merasa kesepian?

Dengan perlahan, sambil memperhatikan lukisan-lukisan yang terpajang di dinding, ia berjalan melewati lorong ke arah kamarnya. Ia sudah beberapa hari tinggal di rumah ini, namun baru kali ini ia benar-benar memiliki kesempatan untuk memperhatikan tiap sudut rumah. Jujur Seohyun kagum dengan design rumah tradisional dan segala macam barang di dalamnya yang masih dipertahankan Yonghwa. Jarang sekali menemukan rumah dengan gaya klasik di jaman modern seperti sekarang ini.

Sebuah suara yang tiba-tiba terdengar membuat Seohyun terlonjak kaget.

“Kau dari mana?”

Seohyun menoleh perlahan dan mendapati Yonghwa telah berdiri tegak di belakangnya dengan tatapan mengintimidasi yang begitu kentara.

“A-Aku__”

“Aku tidak mengerti bagian mana dari semua peristiwa ini yang tidak kau mengerti” potong Yonghwa cepat.

Seohyun mengernyit. Ia memperhatikan Yonghwa sambil menebak-nebak apa maksud ucapan lelaki itu.

“Tidak bisakah kau tidak menempatkan dirimu dalam keadaan bahaya??” Yonghwa bertanya dengan penekanan intonasi di setiap katanya.

“Apa maksudmu?” Seohyun bertanya was-was. Jauh di dalam hatinya, ia merasa paham apa yang ingin Yonghwa ucapkan.

“Apa keselamatan dirimu sebegitu tidak berharganya bagimu??” tanya Yonghwa sarkastik dengan nada suara lebih tinggi dari sebelumnya.

Seohyun menatap Yonghwa tanpa berkedip. Urat matanya mulai memerah.

“Bisakah kau untuk tidak membuat orang lain khawatir? Bisakah kau untuk tidak sok menjadi paling hebat dan membuat semuanya berantakan???”

BUGHH!!!!

Sebuah tas melayang tepat ke tubuh Yonghwa, membuat emosinya yang sedari tadi ditekan sekuat mungkin meluap keluar. “Ya!!” Yonghwa berteriak emosi.

Namun tubuhnya menegang begitu melihat gadis di hadapannya telah beruai air mata. Gadis itu menatapnya lekat dengan mata hitamnya yang berkilat tajam.

“Maaf jika aku menjadi sok hebat selama ini!” ucap Seohyun sambil menggertakan gigi. “Maaf juga atas kesalahanku menyelamatkan nyawamu yang mungkin terlihat sok hebat untukmu!! Seharusnya sejak awal ku biarkan saja peluru itu! Seharusnya sejak awal ku percayakan saja semuanya pada Kyuhyun oppa!!”. Seohyun mengusap kasar air matanya dengan punggung tangan. Ia mengambil napas panjang setelah melontarkan seluruh kalimat penuh emosi itu. Seluruh tubuhnya gemetar hebat.

Ia sudah tidak tahan lagi untuk terus disalahkan. Ia tidak tahan lagi untuk terus diperlakukan seperti makhluk lemah. Ia tidak mengerti bagian mana yang salah di sini. Semua terasa membingungkan.

“Aku tidak pernah meminta perlindungan darimu” Seohyun berbisik. Air matanya kembali jatuh dengan mulus di kedua pipinya. “Besok pagi aku akan kembali ke apartementku. Setelah itu, tolong jangan temui aku lagi”.

Seohyun mengambil tasnya dari tangan Yonghwa dengan kasar kemudian berjalan cepat memasuki kamar.

Di sisi lain, Yonghwa masih berdiri membatu di tempat. Kata-kata yang keluar dari mulut Seohyun serta air mata yang mengalir begitu deras di wajah gadis itu terasa seperti hantaman bertubi-tubi bagi tubuhnya. Kejadian itu terekam jelas dalam ingatannya, dan itu membuat dirinya seperti berandalan brengsek yang tidak tahu diri.

Yonghwa mengusap wajahnya lelah. Ia sendiri tidak mengerti kenapa emosinya cepat sekali tersulut jika berhubungan dengan gadis itu. Ini semua seperti bukan dirinya. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia dikenal sebagai orang yang tenang dan berkepala dingin saat menghadapi seluruh kasus yang terjadi. Namun kenapa kali ini ia berbeda? Kenapa kali ini emosi dan perasaannya seakan lebih mendominasi ketimbang pemikirannya? Semua membuatnya gila! Semua yang berhubungan dengan gadis itu membuatnya gila dan tidak dapat berpikir jernih.

Yonghwa akhirnya berjalan keluar rumah. Ia butuh udara segar untuk tubuhnya yang terasa hampir meledak karena perasaan sesak ini.

-X-

Yoona berusaha mempercepat langkahnya. Sepatu high heels serta mini skirt yang dipakainya, ditambah kontur jalan yang menanjak di daerah ini makin mempersulit garakannya. Sesekali ini melihat sekeliling, berharap menemukan seseorang yang dapat dimintai tolong. Kenapa daerah ini begitu sepi di sore hari seperti ini?

Suara langkah kaki itu semakin mendekat, membuat bulu kuduk Yoona meremang. Ia semakin mempercepat langkahnya. Jantungnya berdegub kencang dan seluruh tubuhnya bergetar hebat ketakutan.

Tadi sejak melalui persimpangan pertama dari rumah Yonghwa, Yoona merasa ada yang tidak beres. Entah kenapa firasatnya merasakan hal yang buruk. Dan ternyata dugaannya benar, ada seorang lelaki yang terus mengikutinya sejak tadi. Yoona tidak tahu siapa lelaki itu dan apa tujuannya. Ia tidak dapat berpikir sama sekali, yang sekarang ada di pikirannya hanyalah bagaimana cara ia melepaskan diri dari si penguntit itu.

Yoona mulai berlari, tanpa mempedulikan kakinya yang terasa sakit dan mini skirt-nya yang mulai robek. Ia mengeluarkan ponselnya dengan cepat dan menekan dial number yang sudah tersimpan beberapa bulan ini di ponselnya. Di saat-saat seperti ini, ia harus menghubungi orang itu. Orang pertama yang harus ia hubungi ketika sesuatu terjadi pada dirinya.

Namun secara tiba-tiba tangannya ditarik paksa. Yoona terpekik kuat. Belum sempat ia melawan, tubuhnya telah ditarik ke dalam gang kecil.

Beberapa tumpukan kardus bekas serta kain-kain jemuran di dalam gang tidak luput dari hantaman tubuhnya yang masih terus berlari. Seseorang yang menarik tangannya menuntunnya untuk terus berlari menjauh. Yoona mencoba melepaskan genggaman itu, namun tangan itu terlalu kuat baginya. Ia tidak bisa apa-apa selain membiarkan orang tersebut terus membawa tubuhnya yang sudah kehabisan energi.

“Tung-gu” Yoona berkata dengan terbata. Napasnya putus-putus dan paru-parunya seakan kehabisan udara. Ia rasa ia sudah tak sanggup lagi untuk berlari.

Orang itu ikut berhenti, sementara Yoona membungkuk memegang lututnya terengah-engah. Kakinya sudah tidak kuat lagi dan tubuhnya sudah benar-benar tidak bertenaga.

Tanpa aba-aba, orang itu kembali menariknya. Namun sekarang mereka bersembunyi ke dalam sebuah gang sempit pembatas antar rumah. Mereka berdiri berhadap-hadapan. Dan saat itulah Yoona menyadari siapa orang yang sejak tadi menariknya.

“Lee Jonghyun?” tanya Yoona kaget.

“Ssssttt…” Jonghyun segera menempelkan jari telunjuknya di depan bibir Yoona. Ia lalu mengintip ke luar untuk melihat kondisi sekitar.

“Diamlah. Mereka di sini” bisik Jonghyun waspada.

Yoona sontak menahan napas. Tubuhnya kembali bergetar hebat. Siapa orang itu? Siapa yang mengejarnya sampai sejauh ini?

Di sisi lain, Jonghyun masih memperhatikan pergerakan lawan. Pelan-pelan, ia mengeluarkan sesuatu dari balik jas hitamnya tanpa melepaskan tatapannya dari lawan yang masih mencari keberadaan mereka.

Yoona terbelalak kaget melihat sebuah revolver hitam di dalam tangan Jonghyun. Buru-buru ia menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia tidak ingin karena suara pekikannya membuat mereka berdua celaka.

Jonghyun mengokang revolvernya perlahan. Lalu dengan tenang mengarahkan pada seorang lelaki yang masih sibuk mengendap-ngendap mencari keberadaan mereka. Yoona mengernyit ketakutan. Apa Jonghyun akan melakukannya sekarang? Di depannya? Ia sama sekali tidak siap untuk melihat kejadian itu.

Jonghyun yang paham akan ketakutan Yoona, menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan menutup telinga gadis itu dengan tangan kirinya yang bebas. Sementara tangan kanannya dengan cepat menarik pelatuk dan menembak lelaki yang berada kurang lebih 3 meter dari mereka.

Lelaki itu segera tersungkur di tempat dengan darah segar yang merembes keluar dari dada kirinya.

“Maaf” bisik Jonghyun tepat di telinga Yoona. “Maaf kau harus mengalami ini semua”.

Yoona mengeratkan pelukannya pada tubuh Jonghyun. Kepalanya terasa berputar-putar. Tubuhnya juga masih bergetar hebat. Rasanya ia butuh istirahat secepatnya.

-X-

“Siapa dia?” Yoona bertanya masih dalam keadaan sedikit shock. Sorat matanya masih terpancar seberkas rasa takut yang ia rasakan. Seumur hidup, baru kali ini ia mengalami kejadian seekstreme itu. Untunglah tadi Jonghyun sempat memeluknya dan menutup telinganya sehingga ia tidak melihat dan mendengar langsung seseorang mati tertembak di depannya. Jika itu sampai terjadi, ia yakin shock yang ia alami akan jauh lebih parah dari ini.

“Rekan Kyuhyun” jawab Jonghyun mantap. Matanya masih fokus pada jalanan di depannya.

Saat ini mereka tengah dalam perjalanan pulang ke rumah Yoona menggunakan mobil Jonghyun. Jonghyun bersikeras mengantarkan Yoona pulang meski gadis itu awalnya menolak.

“Lalu apa hubungannya denganku? Apa tujuan mereka?” Yoona menggeleng tak mengerti.

Jonghyun melirik Yoona dari sudut matanya, kemudian menjawab, “Ada dua kemungkinan. Pertama, mereka ingin mendapatkan informasi terbaru mengenai Joohyun darimu. Kedua, mereka ingin memanfaatkanku. Menjadikanmu kelemahan bagi Joohyun”

“Memanfaatkan? Maksudnya?”

“Ini hanya dugaanku saja” jelas Jonghyun sedikit ragu. “Kau bisa saja dijadikan sandera atau semacamnya. Sehingga mau tidak mau Joohyun bersedia membantu mereka agar dapat menyelamatkanmu”.

“Mungkin” tambahnya cepat sambil mengangkat bahu.

Yoona memijat pelipisnya. Rasanya semua ini bagaikan mimpi. Ia tidak menyangka bahwa kasus ini akan membawa bahaya yang begitu besar baik terhadap dirinya ataupun orang di sekitarnya. Dan sepertinya ia harus mulai terbiasa dengan kejadian semacam ini kelak. Kini ia harus lebih berhati-hati dan waspada.

“Kau sendiri kenapa bisa tiba-tiba berada di sana?” Yoona menatap Jonghyun penasaran. Bukankah tadi Jonghyun sedang bersama rekan bisnis wanitanya yang sexy itu?

“Aku tadi memang berencana ke rumah Yonghwa hyung” jawab Jonghyun jujur. “Saat aku baru sampai, aku melihatmu berjalan seorang diri. Awalnya ku pikir kau akan baik-baik saja, jadi aku berencana langsung masuk ke dalam rumah. Namun ketika kau melewati persimpangan, aku melihat seseorang yang mencurigakan mengikutimu. Jadi aku segera menyusul dengan berputar arah”.

Yoona mengangguk samar mendengar penjelasan Jonghyun. Kemudian ia mengucapkan terimakasih dengan tulus. “Untunglah kau datang. Aku benar-benar berterimakasih”.

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan rumah Yoona. Yoona pamit sebelum keluar dari dalam mobil.

“Tunggu sebentar” Jonghyun tiba-tiba ikut turun dari mobil dan menghampiri Yoona yang telah berdiri di depan pagar.

Lelaki itu kemudian melepaskan jasnya dan melilitkannya pada pinggang Yoona. Yoona menatap bagian bawah tubuhnya. Oh! Ya Tuhan, ia hampir saja lupa bahwa mini skirt-nya sudah nyaris terbelah menjadi dua. Ia memalingkan wajah, pipinya tiba-tiba terasa panas dan memerah.

“Jangan lupa untuk segera menghubungiku jika terjadi sesuatu” Jonghyun kembali mengingatkan, dan dijawab dengan anggukan patuh dari Yoona.

“Masuklah” Jonghyun mengusap pelan puncak kepala Yoona sebelum beranjak pergi. Yoona mendadak terpaku di tempatnya. Fragmen kecil itu mampu menciptakan percikan aneh dari dalam dirinya.

“Jonghyun” panggilan tiba-tiba Yoona menghentikan langkah Jonghyun. Ia berbalik dan menatap Yoona dengan kedua alis terangkat.

Yoona menggigit bibir bawahnya ragu sebelum membuka suara. “Hmmm… Besok malam, apakah kau ___”. Perkataannya putus sampai di situ. Entah kenapa, bayang-bayang akan kejadian di restoran tadi siang hinggap kembali di ingatannya.

‘Mereka kenalanku. Ini Dokter Im dan ini Joohyun-sii’

Kenalan. Jadi selama ini Jonghyun hanya menganggapnya sebagai seorang kenalan? Bukankah satu kalimat itu sudah menjawab semuanya? Sadarlah Im Yoona.

Yoona tersenyum miris kemudian menatap Jonghyun yang masih setia menunggu di depannya.

“Terimakasih banyak. Hati-hati di jalan”. Akhirnya hanya sebuah kalimat sederhana itu yang berhasil keluar dari mulut Yoona. Ia rasa, ia tidak cukup berani untuk menawarkan undangan makan malam itu kepada Jonghyun. Itu hanya akan membuat semuanya semakin rumit. Sejak awal bukankah ia tidak ingin berharap banyak?

-X-

Kediaman Jung Yonghwa

Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

Pukul 01.00 KST

Yonghwa menghela napas panjang entah untuk yang ke berapa kalinya. Wajah kusam, ditambah dengan dua gelas kopi yang telah habis tak bersisa, tumpukan kertas yang berserakan di atas meja, laptop dalam keadaan hidup dan masih juga belum ia sentuh, menggambarkan jelas bagaimana kacaunya lelaki itu saat ini.

Ia mengusap wajahnya kasar. Sudah berjam-jam ia duduk di meja kerjanya namun tak satupun juga pekerjaan yang berhasil ia rampungkan. Pikirannya benar-benar kacau saat ini. Ia sama sekali tidak dapat fokus. Sekuat apapun ia berusaha, bayang-bayang Seohyun yang menangis tadi siang terus berputar-putar dalam otaknya. Membuatnya terpuruk dengan ribuan rasa bersalah yang tak kunjung hilang.

Yonghwa akhirnya bangkit dari meja kerja. Kakinya melangkah dengan pasti ke arah kamar tidur Seohyun. Ia berhenti tepat di depan pintu. Tangannya ia angkat hendak mengetuk, namun selalu berhenti tepat sebelum menyentuh daun pintu. Gerakan itu terus ia lakukan berulang-ulang seperti orang linglung.

Keberaniannya tiba-tiba saja menciut tiap kali tangannya hendak menyentuh pintu. Yonghwa akhirnya hanya dapat memandangi pintu tak berdaya, sambil sesekali bergerak-gerak gelisah. Apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia berbicara pada gadis itu untuk menenangkan hatinya? Bagaimana jika gadis itu justru semakin marah padanya? Lagipula siapa yang tidak marah jika pintu kamarnya diketuk pada tengah malam seperti ini? Tapi jika ia tidak melakukannya sekarang, ia bersumpah ia tidak akan bisa tidur dengan tenang hingga esok pagi. Yonghwa mengerang frustasi. Baru kali ini dirinya benar-benar kacau sampai tidak tahu apa yang harus ia perbuat.

Perang batinnya tiba-tiba saja berhenti begitu ia mendengar suara aneh dari dalam kamar Seohyun. Yonghwa merapatkan tubuhnya pada daun pintu dan menajamkan indera pendengarannya.

Samar-samar, ia mendengar suara isakan dari dalam kamar. Yonghwa menegang. Apa gadis itu menangis karena dirinya?

Dengan ragu, akhirnya ia mengetuk pintu kamar itu. “Joohyun-sii” panggilnya pelan. “Joohyun-sii, bisakah kita bicara?”

Namun panggilannya sama sekali tidak direspon. Suara isakan itu masih saja terdengar.

“Joohyun-sii, kau tidak apa-apa?” kali ini Yonghwa mengetuk lebih kuat. Berharap gadis itu membuka pintu sehingga ia tahu keadaan yang sebenarnya.

Sudah hampir lima menit Yonghwa berusaha, namun pintu kamar itu tak kunjung terbuka. Aneh. Firasatnya mengatakan bahwa ini bukan pertanda baik. Apa terjadi sesuatu di dalam?

Akhirnya Yonghwa mencoba membuka pintu geser itu, tanpa menghiraukan lagi tata krama yang telah ia pertahankan sejak tadi. Dan ternyata memang sejak awal pintu kamar itu tidak terkunci.

Yonghwa melangkah masuk ke dalam kamar yang gelap tanpa sedikitpun cahaya. Ia meraba-raba sisi dinding dan menghidupkan saklar lampu setelah berhasil menemukannya.

Apa yang dilihatnya setelah itu, membuat Yonghwa hampir berhenti bernapas.

Seohyun terlihat di atas tempat tidurnya, meringkuk dalam keadaan tak berdaya dan mengkhawatirkan. Tubuhnya gemetar dan rambut panjangnya terurai kusut. Sambil terisak, gadis itu terus meracau tidak jelas.

“Uranium 235, Uranium 235, Uranium 235”

Yonghwa yang paham apa maksud semua ini, segera berlari menghampiri Seohyun. “Joohyun-sii, sadarlah”. Ia menggucangkan kedua bahu Seohyun. Berharap gadis itu segera mendapatkan kesadarannya kembali.

Seohyun mengangkat wajahnya. Ia menatap Yonghwa dengan mata bulatnya yang kosong. Peluh telah membanjiri wajahnya, menjadi satu dengan air mata yang masih mengalir tanpa henti.

“Uranium 235, Uranium 235, Uranium 235” bibirnya gemetar mengucapkan kata-kata asing itu. Ia seolah kehilangan kontrol dirinya.

Yonghwa meringis, tak tahan melihat kondisi Seohyun yang semakin menyedihkan di matanya. “Seo Joohyun, sadarlah”. Ia kembali mengguncang tubuh gadis itu. Namun berkali-kali dicobapun, hasilnya tetap sama. Seohyun masih kehilangan dirinya. Cahaya di dalam matanya masih redup.

Dengan sedikit harapan, Yonghwa mendekatkan wajahnya pada wajah kecil Seohyun. Ia menangkupkan kedua tangannya di pipi gadis itu. Sambil menatap matanya, Yonghwa berkata, “Aku tahu kau gadis yang kuat. Sadarlah Seo Joohyun. Kalahkan ingatan-ingatan itu”.

Beberapa detik setelahnya, tubuh Seohyun perlahan menenang. Napasnya mulai teratur dan suara racauan itu sudah tidak lagi terdengar. Yonghwa bernapas lega setelah melihat perubahan itu. Namun tubuhnya kembali menegang ketika Seohyun tiba-tiba memeluknya erat. Melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Yonghwa dan menenggelamkan wajah di dadanya. Yonghwa mematung, nyaris berhenti bernapas. Jantungnya berdetak cepat tanpa bisa ia kendalikan.

Kejadian itu membuat Yonghwa sadar, bahwa sesuatu telah terjadi pada dirinya. Sesuatu yang bahkan sulit ia jelaskan dengan logika ataupun kemampuan analisis tingkat tingginya. Sesuatu yang aneh, yang belum pernah ia rasakan sebelumnya…

-X-

Happy reading…

Oiya, cuma mau jelasin biar readers ga bingung bahwa selama ini yang ada di mobil BMW hitam yang selalu aku sebut-sebut di Memory sebelumnya itu Jungshin ya… Agent CIA yang ditugaskan menangani kasus Formula AZ887.

Kalau ada bagian dari FF ini yang membingungkan, langsung tanya aja via comment box…

Last, mind to review?😀

69 thoughts on “Formula X [Memory 13]

  1. Daebakk makin keren
    Siapa yeoja yg d bawa
    Jonghyun oppa?
    Jgn bkin yoona eoni
    Jd salah paham
    Gregetan bnget dgn deerburning couple
    Jonghwa oppa
    Udh mulai sadar trnyta udh jatuh cinta
    Dgn seohyun eonii
    Daebakk
    Topp banget
    Jgn lma” publish chap slnjtnya thor
    D tngguu
    Daeeebbbbakkkkk

  2. Ahhh msh byk halmyg buat penasaran…tapiii terimakasih akhrnya ff ny kluar lagiii…
    Aduhhh jonghyun fan yonghwa cpet2 deh sadar klo ,rk b2 telah sm2 jatuh conta pafa yoona dan seohyun…next chapter soon ya …

  3. ah…semakin penasaran sama ceritanya…
    apalagi kisah cinta yongseo n jongyoon yg selalu buat gemes baca ceritanya…
    daebak chingu ceritanya…

  4. jung soojung! itu pasti cewek yg dibawa jonghyun kaaann???
    smoga ada love story hyukstal (minhyuk-krystal) di ff ini #ngarep
    author-nim, bahasa ff ini mdh dipahami kug, yaa sejauh ini smua msh bisa dimengerti dan tdk membingungkan. hehe ^^
    itu yong2 mulai jatuh cintaaa!!! kyaa~~
    gomapseumnida author-nim utk memory yg sdh sejauh ini, joayo!🙂

  5. kyaaaaa…. thanks for update thorrrrr……
    ciiieeee… si yoona cemburu ma si Jonghyun..
    hahahahahah

    aku juga penasaran siapa cwe yg sama jonghyun…
    jangan2 saudara nya….. LoL

    Yah Jung Yonghwa……
    masa gak nyadar siiiiihhhh…. kalo sdah jatuh cinta.
    hahahahaha

    Jungshin jadi agen CIA brarti bertentangan ma yonghwa….
    aigoo… baru kali ini baca ff Jungshin jadi musu si yong…. hehehee

    tapi ceritanya makin DAEBAK !!!!!

    Cang wait next chap thor…. Fighting !!!!

  6. Wah…..kasihan soehyun semoga az yonghwa bsa nenangin hati dan pikirannya,tp knapa ma jonghyun kok ada perempuan lain sich…… Ah ditunggu chapter selanjutnya jangan lama2 ya!!!!

  7. uwaaaa…yong oppa tega bgt marah2in seohyun trs, kren ihh bkin gemes crt yong ama seo..
    jong ma yoona lucu..wkwkwkw
    krennn thor, nextnya jg kelamaaan ya..^^

  8. ahhhh
    kenapa jungshinsecepet itu deket ama seohyun, ow ow oy jadi yang pernah nabrak seo itu jungshin, aku kira TOP hehe, keren thor jadi tambah penasaran😀

    ecieee yoona cemburu liat jonghyun deket deket ama cewe seksoy(?) tapi tetep akhirnya mereka berdua pasti bersatu kan!!
    yakan yadong(???)o_O

    dan buat yong~ masa agent gak tau sih rasanya jatuh cintrong!!😀
    dan tambahan buat yonghwa jangan galak galak ama seo, ntar di tinggal baru tau!!!
    hehe

    next chapter thor fighting😀

  9. Owalaaaah itu jungshin toh
    Ini masi bingung jungshin itu mau ngapain?
    Aihhhh yongseo diakhir itu bayanginnya senyum2 yong shock dipeluk hyun ya udajh sih itu cinta itu haha
    Ini jonghyun yoona buat gregeeet lagi. Jonghyun gentle aja sih ayo lamar yoona lgsg dpn orang tuanya. Cemburunya yoona lucu deh ahahaha

    Lanjuttt author makin diperjelas lagi bagian jungshin ya

    • Msh bingung soal peran Jungshin ya?
      Jadi JS itu agent CIA yg ditugaskan untuk menghilangkan ingatan Seohyun tentang Formula rahasia.
      Kenapa CIA bisa ikut campur mslh antara Korea Utara dan Korea Selatan? Karna seperti yg kita ketahui klo Amerika itu negara adidaya dan berkuasa. Mereka merasa perlu ikut campur jika masalah itu berkaitan dengan keamanan perdamaian dunia.
      Jadi di sini JS merupakan pihak netral. Ia tidak membela Korut maupun Korsel. Tp ia mengincar Seohyun untuk menghilangkan ingatan berbahayanya.
      Gimana caranya menghilangkan ingatan Seohyun? Ya salah satu caranya bisa dengan membunuh Seohyun, ataau mungkin dgn cara lain.
      Mudah2an bisa dimengerti ya. Klo masih blm jelas, jgn ragu buat bertanya..🙂
      Next memory udh diupdate. Selamat membaca

  10. Akhrx.. moment yg aq tg3u dtng jg. yonghwa mnyadari
    isi htix,, tinggl mnunggu seohyun… 🙂
    prbnyk moment yongseo chingu & q tunggu lnjutnx. fighting….!!!

  11. Yah!Yongwa ah!!marah2 mlulu ama hyunie..bilang aja uda mulai deugun2 jatuh cinta!!jebal!! authornim next part banyakin romantic moment yongseo nya plisss..
    Cewek Yg ama jonghyun siapa yaa..berharap ituuu Jung soojung,trs Ada Love Line Sama Minhyuk,Amiiiin… YongSeo+JongYoon+Hyukstal Jjjang!! Bener2 Cinta Sama ini Couple.

  12. daebak! entah knp tiap baca ff ini selalu bikin aku deg2an. di memory kli ini pertengkaran kecil yongseo bikin aku deg2an bgt-_-
    utk deerburning couple, aku penasaran sm cwe yg sm jonghyun pas ktmu sm yoona dan seohyun d restoran. dan semoga itu cuma rekan kerja jonghyun kkk
    thanks for update author! I’ll wait for the next memory^^ pls update soon..

  13. makiin seru ceritanya bikin deg2an pas bacanya hehehe
    suka banget sama bagian yoona jonghyun :3
    di tunggu chapter selanjutnya🙂

  14. aah, apakah yonghwa mulai menyadari perasaannya?🙂
    hubungan yoona dan jonghyun selalu rumit tapi menarik. haha..
    ditunggu update-an selanjutnya. author hwaiting! ^^

  15. Waaah kirain blom update…tp ternyata udah, seneng bgt deh?! Cerita cinta Yongseo & Deerburning nya tambah seru…Di tunggu next partnya thor…Tetap Semangat?! Hwaiting

  16. Oojhh trnyata itu jungshin kirain tmn kantornya seohyun juga salah satu mata2 trs jungshin itu dipihak baik atau yg jahat thor? Makin gregetan sm yonghwa seohyun dehh..

  17. ya ampun aku ketinggalan satu part dan aku baru baca sambungannya -_-

    dan akhirnya jungshin datang.. hahaha
    aku harap dia tidak menyusahkan yonghwa.

    hey yong! apa kau tidak tahu perasaanmu? kau jatuh cinta dengan hyun..
    omg itu memuaskan hatiku authornim.. akhirnya…
    cant wait to their first kiss.. *oopss hahaha

    terima kasih untuk updatenya unnie..
    your story jjaaang meeennn !!!!
    hwaiting (^-^)9

  18. wahh..
    aku ketinggalan dua part dan aku baru baca sambunganny -_-

    dan jungshin akhirnya datang… hahaha
    aku harap dia tidak menyusahkan yonghwa..

    hey yong! kau tidak tahu perasaanmu sendiri?
    biar aku kasih tahu, kau jatuh cinta dengan hyun!! hahaha
    omg ini memuaskan hatiku author-nim..
    cant wait to their first kiss.. *oops hahahaha

    terima kasih untuk udatenya unnie..
    your story jjaaanng meeen!!!

    go go go go go next chapter author-nim!!!
    ya ampun aku terlalu bersemangat untuk ceritu unnie hihihihi
    hwaiting unnie (^-^)9

  19. Jungshin baik apa jaat sih ? Jongyoon di part ini bkin gregetan .cewe sexy yg dbawa jonghyun sapa ya . ukan ceweknya kan?
    Ini johyun udah inget mngkn. smakin seru thor jgna lama2 yah nextnya

  20. Semakin semangat baca ff yang daebakk ini, ceritanya smakin keren.
    Yonghwa kayanya mulai sadar kalau dia melindungi seohyun karena ada rasa cinta yang mulai berkembang sama Seohyun eonni di hatinya dan bukan karena kesuksesan tugas semata aja.
    Semangat ya author buat next chapternya🙂

  21. Yong cpt sadar dong klo kperdulian ke hyun itu bkn krna cuma tugas tp emg sdh mulai suka sama hyun😄
    Sllu kesenengan sndri tiap moment yongseo, ditambah jongyoon couple yg bikin gregetan bacanya🙂
    Semoga part brikutnya ga bgtu lama update🙂
    Hwaiting thor🙂

  22. “Tapi sekarang akhirnya kau merepotkanku” ucap Yoona tidak mau kalah.sebenernya kasihan yoona juga sih,dia harus melindungi seohyun meskipun tidak ada ikatan darah.
    bagian paling bikin hati gue kretek2 itu yang ini.
    “jonghyun yang paham akan ketakutan Yoona, menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan menutup telinga gadis itu dengan tangan kirinya yang bebas.”

  23. Tinggal nyatain cinta cepetan yoong nanti direbut sama yg lain loh :p kyaa!bayangin pas adegan yoona dipeluk jonghyun senyum2 sendiri bener!! >.< lanjutt baca lg yah

  24. Ooo jdi yg d mobil mercedes itu jungshin bkn seunghyun,,yaaa salahh deehh…
    Aaa syapa wanita yg sm jonghyun, jgn bikin yoona salah paham yaahh waahh kira2 yoona bakal dtg sm jonghyun gag tuuh??
    Neexxt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s