Formula X [Memory 12]

Formula x 5

Judul: Formula X [Memory 12]

Main Cast:

Jung Yonghwa CNBLUE sebagai Jung Yonghwa

Seo Joohyun SNSD sebagai Seo Joohyun

Other Cast:

Lee Jonghyun CNBLUE sebagai Lee Jonghyun

Im Yoona SNSD sebagai Im Yoona

Cho Kyuhyun Super Junior sebagai Cho Kyuhyun

Choi Siwon Super Junior sebagai Choi Siwon

Rating: PG-17

Lenght: Chaptered

Genre: Romance, Action, AU

Teaser – Prolog – Memory 1 – Memory 2 – Memory 3 – Memory 4 – Memory 5 – Memory 6 – Memory 7 – Memory 8 – Memory 9 – Memory 10 – Memory 11

 

Suara-suara itu begitu dekat. Seperti sebuah gumaman-gumaman pelan di dalam telinganya.

“Bagaimana keadaannya?” Suara cemas seorang lelaki menggema.

“Ia akan baik-baik saja” jawab sebuah suara yang lebih tinggi. Suara seorang perempuan. Suara itu menunjukkan sedikit rasa tenang.

Lelaki itu mengerang. “Tapi ini sudah dua hari. Dua hari!” desisnya frustasi.

“Tenanglah hyung! Ia gadis yang kuat. Kau tahu itu” kali ini suara seorang lelaki lain yang terdengar lebih berat mencoba menenangkannya. “Istirahatkanlah tubuhmu. Kau terlihat kacau” sarannya.

Lelaki itu berdecak.

“Sebentar lagi mungkin ia sadar. Kita hanya tinggal menunggu efek anastesinya menghilang” perempuan tadi menjelaskan dengan suara selembut sutra.

Samar-samar Seohyun mendengar semua pembicaraan mereka. Namun sepertinya hanya indera pendengarannya saja yang baru mulai berfungsi. Sekuat apapun ia mencoba, ia tidak mampu membuka mata dan bahkan mencoba mengerang untuk memberitahu kepada mereka bahwa dirinya sudah mulai sadar.

Seohyun kemudian mendengar suara sebuah kursi diseret di sampingnya. Tidak lama setelah itu, sebuah tangan menggenggam tangan lemahnya. Seohyun dapat merasakan sentuhan itu samar-samar namun ia masih belum bisa meresponnya.

Orang itu menggenggam lembut tangannya. Kehangatannya membuat Seohyun tenang dan membuatnya ingin berlama-lama dalam keadaan seperti itu.

“Aku akan membuat perhitungan” geram lelaki di sampingnya, lelaki yang saat ini menggenggam tangannya.

“Jangan melakukan hal berbahaya, hyung” lelaki yang satu lagi memperingatkan dengan cemas. Ia sepertinya tahu bahwa ucapan lelaki itu bukan hanya sebuah bualan belaka.

Entah kenapa, mendengar percakapan itu membuat Seohyun takut. Ia tidak tahu apa yang mereka maksud dengan ‘membuat perhitungan’ namun ia yakin bahwa itu merupakan hal berbahaya. Ia tidak ingin lelaki itu pergi. Bisakah ia terus berada di sini menemaninya? Menunggunya sampai ia mampu membuka mata?

Di detik berikutnya, genggaman tangan itu dilepas. Seohyun mencoba menggapai, namun sekeras apapun usahanya, tangan itu tidak bisa ia raih.

“Kau mau ke mana hyung?” lelaki tadi mencoba menghentikannya.

“Minggir!” suara lelaki itu terdengar menakutkan sekarang. Seolah ia siap melakukan hal paling gila jika seseorang mencoba menghentikannya.

Seohyun mencoba berteriak, namun tidak hanya suaranya yang tercekat, bibirnya pun terasa kelu dan mati rasa. Seumur hidup, baru kali ini ia merasa begitu frustasi. Seluruh tubuhnya sama sekali tidak dapat ia kendalikan. Seolah ia berada di sebuah penjara gelap dengan seluruh tubuh yang terikat kuat.

Seohyun merasakan darah berdenyut-denyut di lehernya, berdentam-dentam di belakang telinga dan rasa terbakar mulai menjalar dari arah pundaknya. Ia merasakan kesakitan yang amat sangat.

Sekali, dua kali, Seohyun terus berusaha tanpa henti. Sampai akhirnya suara itu terdengar.

“Ja-ngan”

Ia berhasil. Suara lemahnya akhirnya dapat meluncur keluar dari balik bibir pucatnya.

“Ja-ngan per-gi” gumamnya terbata.

Seluruh orang yang berada di ruangan itu kini terdiam. Seolah tahu apa artinya, semua bergegas berdiri mengelilingi Seohyun.

Dengan perlahan, Seohyun mencoba membuka mata. Bayangan-bayangan berkelebat di penglihatannya. Sejurus kemudian, cahaya terang yang menyakitkan menusuk retinanya yang belum siap. Seohyun mengerang dan memalingkan wajahnya dari lampu neon di langit-langit kamar.

Semuanya menunggu dalam diam sampai Seohyun mampu membuka matanya melebar perlahan-lahan.

“Seo Joohyun” suara lelaki itu memanggil namanya. Seohyun mencari asal suara itu dan menemukan Yonghwa tengah menatapnya cemas di sisi ranjang.

Belum sempat Seohyun merespon, seseorang tiba-tiba memeriksa refleks bola matanya. Ia juga memeriksa suhu tubuh dan pernapasannya untuk memastikan kondisinya.

“Bagaimana perasaanmu?” Yoona bertanya dengan nada cemas.

Seohyun mengerjap-ngerjapkan matanya menatap Yoona. “Eonni” panggilnya lemah.

Di detik berikutnya, rasa nyeri itu kembali menyerang di daerah pundak kanannya. Rasa nyeri itu lama kelamaan berubah menjadi rasa panas terbakar yang membuatnya meringis kesakitan.

“Apa lukanya mulai sakit?” tanya Yoona cemas.

“Pundakku” Seohyun mencoba memberitahukan lokasi di mana rasa sakit itu berasal. Ia kemudian menggigit bibir bawahnya untuk meredam rasa sakit itu.

“Efek anastesinya mulai habis. Itu membuat lukanya kembali terasa sakit” jelas Yoona tanpa diminta.

“Tidak bisakah kita memberikannya obat penghilang rasa sakit?” tanya lelaki yang sejak tadi berdiri di ujung ranjang.

“Dua jam. Aku baru dapat memberikan obat penglihang rasa sakit dua jam lagi” jelas Yoona. “Hyunnie, apakah begitu sakit? Kau bisa menahannya?” tanya Yoona khawatir.

Seohyun mengangguk samar masih sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.

“Kau butuh sesuatu?” Yoona kembali bertanya. Suaranya terdengar lebih cemas.

Seohyun kembali menggeleng lemah. Ia tidak butuh apa-apa saat ini kecuali sebuah obat penghilang rasa sakit.

Yoona melirik ke arah Yonghwa. Mereka beradu pandang beberapa saat. Seolah tahu bahwa Yonghwa menginginkan sebuah pembicaraan empat mata dengan Seohyun, Yoona akhirnya berkata, “Bertahanlah. Aku akan membuatkanmu bubur. Kau beristirahatlah dulu”. Iapun segera beranjak pergi dari dalam kamar sambil menyeret Jonghyun bersamanya.

 

-X-

 

Di dalam kamar, Seohyun mencoba mengatur napasnya. Mencoba terbiasa dengan rasa sakit yang masih mendera tubuhnya. Matanya terpejam dan bibir bawahnya ia gigit, meminimalisir rasa sakit.

Di sisi lain, Yonghwa berdiri mematung di sudut ruangan. Tubuhnya kaku tak bergerak dan matanya berkilat tajam menatap Seohyun. Rahangnya terkatup kuat tiap kali Seohyun mengeluarkan erangan penuh rasa sakit.

Diam-diam, Seohyun melirik Yonghwa melalui sudut matanya. Kecangungan melingkupi mereka berdua. Seohyun tidak tahu harus berkata apa terlebih mengingat pertemuan terakhirnya dengan Yonghwa yang kurang mengenakkan ketika lelaki itu hendak pindah dari apartement.

Seohyun membasahi bibirnya, kemudian dengan suara serak ia bertanya, “Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja?”

Yonghwa menatap Seohyun dengan ekspresi yang tidak dapat terbaca. Mulutnya terbuka kemudian segera terkatup lagi, seolah dengan sengaja menahan apa yang ingin diucapkan.

“Maafkan aku” Seohyun setengah berbisik dengan mata yang menatap lekat ke arah Yonghwa, seolah tengah membaca ekspresi lelaki itu.

Yonghwa mengerang kesal, tidak tahan. “Maaf? Untuk apa kau meminta maaf??” ledaknya tiba-tiba. “Demi Tuhan Seo Joohyun, apa kau sadar dengan apa yang telah kau lakukan???”

Yonghwa berjalan mendekat dengan kedua tangan terkepal dan urat-urat di lehernya menyembul tegas.

Seohyun menatap Yonghwa tidak mengerti, dan dengan sisa tenaganya ia mencoba bangkit dari posisi tidur. Apa kali ini ia melakukan kesalahan besar?

“Kau__” ucapan Yonghwa putus tiba-tiba. Tubuhnya bergetar hebat menahan semua emosi yang meluap-luap. Ia mengambil napas sebanyak mungkin seolah paru-parunya akan hancur tak bersisa, sebelum kembali berbicara. “Jangan pernah berpikir untuk melakukan hal gila itu lagi. Jangan pernah!!!” ancamnya.

Seohyun terdiam. Mencoba mencari tahu penyebab lekaki itu sampai sekalut ini. Matanya mengikuti gerakan Yonghwa yang tengah berjalan keliling kamar tanpa arah. Terlihat jelas bahwa lelaki itu sangat emosi.

Dan akhirnya Seohyun paham. Kejadian itu, kejadian ketika ia menyelamatkan Yonghwa dari serangan orang yang tidak dikenal tempo hari. Pasti itulah penyebab Yonghwa seperti ini.

“Aku hanya menyelamatkanmu. Apa aku salah?”

Yonghwa mendadak berhenti melangkah dan menatap Seohyun tajam, seolah perkataan Seohyun tadi merupakan kalimat kutukan terlarang yang tidak seharusnya ia ucapkan.

“Menyelamatkanku? Dengan mempertaruhkan nyawamu?? Hah!!” Yonghwa mendegus kesal. Ia berjalan medekati Seohyun di sisi ranjang. Matanya menatap lekat bahu Seohyun yang masih terbalut perban putih.

Pikirannya benar-benar kacau. Memang tidak seharusnya ia bersikap kasar pada Seohyun di saat seperti ini. Ia kehilangan kendali. Tapi jika kembali mengingat bahwa gadis itu terkapar tidak berdaya selama dua hari karena dirinya, dan mengingat bisa saja nyawa gadis itu hilang karena dirinya, membuat Yonghwa kembali merasakan amarah yang teramat sangat. Ia marah pada dirinya sediri. Dirinya yang begitu ceroboh, dirinya yang tidak dapat melindungi gadis itu, dan dirinya yang bahkan bisa menjadi penyebab hilangnya nyawa gadis itu.

Sangat memalukan. Sungguh memalukan.

Yonghwa menatap luka Seohyun dalam diam. Tanpa kembali berkata-kata, akhirnya ia berbalik dan berjalan meninggalkan Seohyun di dalam kamar seorang diri.

 

-X-

 

Tidak lama setelah kepergian Yonghwa, Yoona muncul dari balik pintu dengan membawakan satu porsi bubur buatannya. Ia kemudian duduk di sisi ranjang dan membantu Seohyun duduk  pada posisi yang benar.

“Apa masih sakit?” tanya Yoona khawatir.

Seohyun menggeleng pelan.

“Makanlah dulu sebelum aku memberikanmu obat” Yoona meraih mangkok berisi bubur dari atas meja. “Biar aku yang menyuapimu. Tangan kananmu masih belum boleh banyak bergerak”.

“Eonni, di mana ini?” Seohyun bertanya sambil menatap sekeliling ruangan besar itu. Ini jelas bukan Rumah Sakit, dan bukan pula Rumah Yoona yang sudah lama ia ketahui.

“Rumah Yonghwa” jawab Yoona yang mendapatkan tatapan tidak percaya dari Seohyun. “Maaf, kami harus membawamu ke sini. Hanya ini tempat yang paling memungkinkan untuk merawatmu. Terlalu beresiko jika kau harus dirawat di Rumah Sakit terlebih lagi dengan luka tembakanmu itu”

Seohyun mengangguk mengerti.

Mereka berdua tidak bersuara untuk beberapa saat. Hanya terdengar suara dentingan mangkuk dan sendok ketika Yoona menyuapi Seohyun.

“Eonni” panggil Seohyun setelah ia berhasil menghabiskan setengah mangkuk bubur yang terasa pahit di mulutnya. “Kurasa saat ini Yonghwa marah padaku. Tidakkah lebih baik jika aku segera pulang ke apartementku? Aku tidak ingin membuatnya tidak nyaman di rumahnya sendiri”.

Yoona menatap Seohyun lembut kemudian berkata, “Ia tidak marah, namun ia khawatir. Percayalah padaku. Tidak akan ada orang yang marah namun berusaha keras untuk menungguimu setiap malam, tidak akan ada pula orang yang marah namun bersikeras untuk mencari orang yang telah melukaimu”.

Seohyun menunduk dan menatap selimut putih yang membalut tubuhnya. Tangannya bergerak-gerak cemas meremas selimut itu. “Apa aku melakukan hal yang salah?” bisiknya pelan.

“Tentu saja tidak. Kau melakukan hal yang paling berani, Hyunnie”.

Seohyun mengangkat wajahnya dan menatap Yoona penuh rasa terimakasih. Akhirnya ada juga orang yang berpikir bahwa tindakannya bukanlah sesuatu yang gila. Menyelamatkan nyawa orang bukan sesuatu yang gila kan?

“Namun Yonghwa mungkin hanya belum dapat memahaminya” lanjut Yoona yang membuat ekspresi Seohyun kembali terlihat muram.

“Istirahatlah. Kau masih butuh istirahat agar kondisimu segera pulih” Yoona mengakhiri makan siang Seohyun dengan beberapa tablet obat anti infeksi dan penghilang rasa sakit.

 

-X-

 

“Aku sudah memberikan Seohyun obat untuk siang ini. Besok pagi aku akan kembali lagi. Ku titipkan Seohyun padamu. Jangan lupa untuk memberikannya obat setelah makan malam” pesan Yoona kepada Yonghwa sebelum pamit pergi.

Yonghwa mengangguk mengerti sambil membaca ulang kertas note yang Yoona buatkan untuknya yang berisi semua takaran dan dosis obat Seohyun.

“Jangan lupa ganti perbannya nanti malam” tambah Yoona.

“Aku mengerti. Kau bisa mengandalkanku, tenang saja” ucap Yonghwa yang sudah mulai jengah dengan perkataan Yoona yang selalu sama sejak setengah jam yang lalu.

“Hyung, ku titipkan Joohyun-sii padamu” canda Jonghyun sambil terkekeh geli yang dijawab oleh tatapan kesal dari Yonghwa.

“Kau juga, ku harap kau dapat mengantarkan Im uisanim ke rumahnya dengan selamat, tidak kurang satu apapun” balas Yonghwa yang justru dijawab oleh kerlingan nakal Jonghyun.

“Kalau yang itu aku tidak bisa janji” Jonghyun berkata dengan gaya cassanova-nya yang menyebalkan.

Yoona menatap Jonghyun kesal kemudian segera merebut kunci mobil dari tangan Jonghyun dan berjalan menjauh. “Kau pulanglah naik taksi” teriaknya santai.

Jonghyun segera berlari menghampiri Yoona, dan samar-samar Yonghwa dapat mendengar lelaki itu memohon agar Yoona memberikannya tumpangan.

Yonghwa tersenyum miris. Lihatlah, seorang Lee Jonghyun juga dapat terlihat menyedihkan di depan seorang gadis. Pengaruh Im uisanim benar-benar menakjubkan.

 

-X-

 

Jonghyun menghentikan mobil di sebuah taman kosong sesuai permintaan Yoona. Lalu ia melirik gadis itu tanpa suara. Yoona terlihat menatap lurus ke depan. Pandangannya kosong dan wajahnya sedikit pucat. Berbeda sekali dengan keadaannya ketika di Rumah Yonghwa tadi.

Yoona segera mengambil kotak tissue dari dalam dashboard. Ia menarik beberapa lembar tissue dengan brutal kemudian menutupi wajahnya dengan tissue-tissue tersebut.

Beberapa detik kemudian, tangisnya pecah. Yoona menangis seperti kesetanan, membuat Jonghyun terkejut setengah mati.

“Im Yoona, ada apa denganmu?” tanya Jonghyun cemas sambil sesekali melirik sekeliling taman. Takut jikalau ada orang yang melintas dan mengira dirinya tengah melakukan tindakan asusila kepada gadis ini.

Yoona tidak menjawab. Tangisnya justru makin kuat terdengar. Tubuhnya bergetar hebat, menandakan bahwa gadis itu benar-benar menangis saat ini.

“Im Yoona” Jonghyun kembali berusaha menenangkan gadis itu. Tangannya mengelus puncak kepala Yoona ragu-ragu.

Aneh. Tadi Yoona terlihat baik-baik saja. Apa yang menyebabkannya sampai menangis sehisteris ini? Jonghyun benar-benar tidak mengerti. Otaknya terasa lumpuh karena suara tangisan Yoona.

Setelah melalui beberapa menit tersulit dalam hidupnya, akhirnya Jonghyun berhasil membuat Yoona kembali tenang.

Gumpalan tissue sebesar bola basket telah menumpuk di dalam mobil. Yoona mengangkat wajahnya yang telah bengkak dan hidungnya yang memerah.

“Aku sudah lebih baik, terimakasih” ucap Yoona dengan suara sumbang.

“Ada apa denganmu?” Jonghyun bertanya tidak mengerti. Wajah bingungnya tidak dapat tertutupi.

“Hanya mengeluarkan semua emosiku. Sekarang terasa jauh lebih baik” Yoona berkata sambil tersenyum, membuat Jonghyun mengerutkan alis.

“Selama dua hari ini aku terus menahannya. Aku mencoba tetap tenang agar semua keadaan terkendali”

“Apa ini semua berhubungan dengan Seo Joohyun?” tebak Jonghyun.

Yoona mengangguk. “Apa kau tahu perasaanku ketika melihat Seohyun tidak sadarkan diri dengan tubuh berlumuran darah tempo hari?”

Jonghyun menatap Yoona dalam diam. Jadi selama ini gadis itu menahan dirinya. Ketika Yonghwa dengan panik memintanya menolong Seohyun yang sekarat, Yoona terlihat tenang. Ia melakukan pekerjannya dengan baik dan profesional. Ia juga yang selalu menenangkan emosi Yonghwa terkait dengan kondisi Seohyun. Yoona selalu berada di tengah-tengah. Ia selalu bisa diandalkan dan begitu tenang menghadapi semua masalah ini. Dan melihat kondisinya sekarang, membuat Jonghyun sadar bahwa sebenarnya pihak yang paling merasa terbebani adalah Yoona. Ia yang sangat mengenal Seohyun, dan di tangannyalah pula nyawa Seohyun dipertaruhkan. Itu pasti merupakan beban mental yang sangat berat baginya.

“Maafkan aku” Jonghyun tiba-tiba berkata. Yoona menoleh dan menatapnya tidak mengerti.

“Maafkan aku karena telah melibatkanmu ke dalam kasus ini” Jonghyun menyandarkan tubuhnya pada jok mobil. Matanya menatap lurus ke depan. “Kau tidak seharusnya melakukan semua ini. Mengobati lukaku, menolong nyawa Joohyun. Jika saja aku tidak melibatkanmu, kau tidak perlu melakukan semua hal berat ini”

“Tapi aku tidak merasa keberatan” sergah Yoona cepat. “Aku justru berterimakasih kau mengizinkanku terlibat. Dengan begitu, aku bisa menjaga Seohyun dengan tenang. Mengetahui kondisinya tengah dalam kesulitan, lebih baik ketimbang tidak mengetahui apa-apa dan tidak dapat berbuat apa-apa”.

“Tapi nyawamu bisa saja terancam” Jonghyun mengingatkan. Kenapa gadis ini lebih mementingkan keselamatan orang lain ketimbang dirinya sendiri?

“Aku tahu. Kau sudah memperingatiku sejak awal”.

Jonghyun menarik napas panjang. “Mulai dari sekarang, semuanya akan semakin berat. Berjanjilah padaku kau tidak akan melakukan hal-hal berbahaya seperti yang telah Joohyun lakukan”.

Jonghyun menatap Yoona lekat. Rasa khawatir masih saja menyelimutinya sejak Yoona memutuskan untuk ikut terlibat dalam misi mereka. Dan membayangkan Yoona mungkin saja melakukan hal serupa seperti Seohyun, membuatnya bergidik ngeri.

“Tenang saja, kau tidak perlu khawatir” Yoona berkata dengan yakin. Sejak awal ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan membantu dan menjadi sosok yang berguna. Ia tidak akan menyulitkan mereka dengan keberadaannya.

“Berjanjilah satu hal padaku” Jonghyun kembali berkata. “Jika kau berada dalam bahaya, akulah orang pertama yang akan kau hubungi”

Yoona menatap Jonghyun dengan mata membulat, “Tapi bukankah sejak awal aku sudah berjanji untuk bertanggungjawab atas keselamatanku sendiri?”

“Aku menarik perjanjian itu” potong Jonghyun cepat. “Apapun yang terjadi, pastikan akulah orang pertama yang kau hubungi” perkataan Jonghyun seolah tidak dapat terbantah dan Yoona akhirnya hanya dapat mengangguk pelan menyetujui perkataannya.

 

-X-

 

Sinsa-dong, Gangnam-gu, Seoul

Pukul 13.00 KST

 

‘Braaaakkkkk!!!!’

Sebuah kursi kayu melayang dan hancur berantakan di atas lantai marmer. Ini sudah barang yang kedua pada hari ini, pagi tadi sebuah vas bunga juga telah bernasib serupa.

Kyuhyun menggertakkan giginya kuat-kuat. Wajahnya mengeras dengan ekspresi yang sama sekali tidak bersahabat.

“Aku akan kembali mencarinya, Marcus” ucap seorang lelaki bertubuh kurus di sudut ruangan takut-takut.

Kyuhyun menatapnya tidak senang. “Mencarinya? Kau sudah mengatakan hal serupa selama dua hari ini”

“Kali ini aku akan berusaha lebih baik” gumamnya pelan, memohon kebaikan hati Kyuhyun sekali lagi.

“BRENGSEK!!!” Kyuhyun meninju tepat di rahangnya. Membuat lelaki itu terhuyung dan tersungkur ke lantai. “Jadi selama ini kau tidak berusaha dengan lebih baik? Sudah dua hari dan kau belum mendapatkan kabar mengenai gadis itu!! Aku bahkan tidak tahu apakah ia masih hidup atau sudah mati!!”

“Tenangkan dirimu, Marcus” seorang lelaki lain yang berwajah lebih tenang menepuk pelan bahunya. Mencoba menenangkan Kyuhyun yang selama dua hari ini bertingkah seperti orang gila.

Kyuhyun segera menepis tangan itu dari bahunya. “Semua ini salahmu, T.O.P!!! Kau yang menembak Seo Joohyun!! Apa kau tahu tindakanmu itu sangat bodoh??”

T.O.P yang bernama asli Choi Seunghyun itu menggertakkan giginya kesal. Bukannya takut atas ucapan Kyuhyun barusan, ia justru mendekatkan tubuhnya pada Kyuhyun. Dengan santai, ia mengetuk-ngetukkan ujung jari telunjuknya di dada Kyuhyun. “Kau yang memintaku untuk melakukannya, Marcus Cho. Kau ingat?” ucapnya mengintimidasi.

Kyuhyun mengangkat dagunya dan menatap Seunghyun remeh. “Tapi aku memintamu untuk membunuh Jung Yonghwa, bukan Seo Joohyun, kalau kau lupa”

“Gadis itu yang berlari menghampiri peluruku. Apa aku salah?” tanya Seunghyun seolah tak berdosa.

Kyuhyun mendorong tubuh Seunghyun dengan kasar kemudian berkata, “Kau tahu apa yang terjadi jika gadis itu mati? Misi kita akan gagal!!”

“Persetan dengan misi ini!!!” teriak Seunghyun kesal kemudian berjalan pergi meninggalkan ruangan itu.

“Bagus!! Pergi saja kau Choi Seunghyun! Dasar brengsek!!” teriak Kyuhyun dari dalam.

Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi. Kedua rekannya sama sekali tidak berguna di saat seperti ini. Yang satu lamban dan pengecut dan yang satu lagi tidak bisa diatur dan diajak kerjasama. Sampai kapan ia harus berada dalam kondisi seperti ini? Ia ingin segera menyelesaikan misi ini dan kembali ke Korea Utara secepatnya.

Namun keberadaan Seohyun yang masih nihil menghalanginya. Sejak kejadian penembakan itu, Seohyun seolah menghilang. Ia yakin saat ini Seohyun tengah bersama Agent Korea Selatan itu, namun ia tidak tahu di mana tepatnya posisi mereka. Sepertinya mulai sekarang ia harus lebih serius menjalani misi ini. Ia harus segera menemukan Seo Joohyun kemudian mengambil ingatannya tentang Formula itu dan menghabisi semua orang yang menghalangi misinya, termasuk Agent Jung Yonghwa.

 

-X-

 

Kediaman Jung Yonghwa

Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

Pukul 19.10 KST

 

Tok – Tok – Tok

Tanpa menunggu jawaban dari dalam, Yonghwa langsung membuka pintu kamar Seohyun, bermaksud mengambil piring kotor bekas makan malam beberapa menit yang lalu. Begitu membuka pintu, dirinya dikejutkan oleh pemandangan di dalam kamar.

Seohyun tengah berusaha memberikan obat dan melilitkan perban pada bahunya, sehingga ia hanya menutupi tubuh atasnya dengan selimut.

“Ma-Maaf” dengan canggung Yonghwa meminta maaf dan segera kembali menutup pintu kamar.

Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding kayu. Jantungnya berdegup kencang dan terasa hampir melompat keluar tadi. Sekarang ia paham kenapa diperlukan izin untuk memasuki kamar seorang gadis. Tindakannya benar-benar bodoh tadi.

“Yonghwa-sii” Yonghwa kembali dikejutkan dengan kehadiran Seohyun dari balik pintu. Gadis itu menyembulkan kepalanya dan menatap Yonghwa ragu-ragu.

“Adakah orang yang bisa membantuku memasang perban ini?” tanyanya malu-malu. “Aku sedikit kesulitan”.

Yonghwa menggaruk tengkuknya canggung kemudian mengangguk samar. Ia segera berbalik dan mencari Ahjuma di kediaman pelayan.

Setelah berputar-putar mengelilingi rumah, ia tidak juga berhasil menemukan Ahjuma. Kemana wanita itu pergi? Ia tidak pernah meninggalkan rumah tanpa seizinnya. Tunggu! Ia memang mengizinkannya pergi. Tadi pagi Ahjuma meminta izin pulang ke Busan untuk menjenguk keluarganya yang sakit. Sial! Kenapa waktunya begitu tidak tepat?

Yonghwa berhenti tepat di depan pintu kamar Seohyun. Dengan ragu, ia mengentuk pintu geser traditional itu.

Seohyun membuka pintu dan kembali menyembulkan kepalanya dari dalam.

“Maaf, Ahjuma sedang tidak ada di rumah. Apa aku harus menghubungi Im uisanim untuk membantumu?”

Seohyun menggigit bibir bawahnya bingung. Ia tidak mungkin kembali merepotkan Yoona malam-malam. Yoona sudah cukup banyak membantunya dan ia tidak ingin terlalu merepotkan.

“Jangan, tidak perlu” tolak Seohyun. “Kau, apa ___” ucapan Seohyun terputus. Ia tidak tahu harus memulai dari mana. Ia sungguh malu untuk mengatakannya, namun ia tidak punya pilihan lain saat ini. “Apa kau bisa membantuku?” akhirnya Seohyun berhasil juga mengeluarkan pertanyaan itu. Matanya menatap ke lantai kayu, tidak berani menatap Yonghwa langsung.

Yonghwa membeku seakan kehilangan kata karena permintaan Seohyun. Ia menatap gadis yang tengah menunduk di depannya itu dalam diam.

Yonghwa menarik napas panjang. Baiklah, Jung Yonghwa, jangan pikirkan apapun, kau hanya membantunya, batin Yonghwa.

“Oke, tidak masalah”

 

-X-

 

Yonghwa menatap luka di bahu Seohyun dalam diam. Melihat luka itu membuatnya kembali menyalahkan diri sendiri. Seandainya saja saat itu ia lebih waspada, mungkin hal ini tidak akan terjadi.

Yonghwa membalurkan antiseptic pada luka Seohyun perlahan-lahan. Luka tembakan ini cukup dalam, bahkan Yoona sempat kesulitan saat mengeluarkan peluru dari bahu Seohyun tempo hari. Entah sampai kapan luka ini akan sembuh, atau mungkin akan meninggalkan bekas pada tubuh gadis ini.

“Akh!”

Yonghwa menghentikan gerakannya ketika tiba-tiba Seohyun meringis kesakitan.

“Maaf, aku akan lebih berhati-hati”

Seohyun menggeleng cepat, “Tidak apa. Hanya memang masih sedikit nyeri”

Seohyun mencoba melirik Yonghwa, namun tidak berhasil karena posisi Yonghwa yang berada di belakangnya.

Baguslah, dengan begitu Yonghwa tidak dapat melihat wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus. Namun ia tidak yakin jika Yonghwa tidak dapat mendengar suara detak jantungnya yang berpacu sangat gila sejak tadi. Seohyun merasa pusing jika memikirkan keadaannya sekarang. Berada berdua di kamar dengan Yonghwa yang mengobati luka di bahunya benar-benar membuatnya malu. Ia bahkan tidak dapat memikirkan sebuah pembicaraan ringan yang dapat mencairkan suasana yang sangat canggung ini.

“Rambutmu__”

“Ah! Maaf” Seohyun mengerti apa maksud ucapan Yonghwa. Dengan cepat ia menyibakkan rambutnya yang masih tergerai di punggung.

Aura kecanggungan masih menyelimuti keduanya. Yonghwa masih sibuk memasang perban pada luka Seohyun sedangnya Seohyun sibuk mengatur detak jantungnya sendiri.

“Tinggallah di sini untuk beberapa saat” Yonghwa berkata setelah berhasil melilitkan perban terakhir di bahu Seohyun.

“Tapi kurasa akan lebih baik jika aku kembali ke apartement”.

“Di sini lebih aman” Yonghwa berkata dengan suara beratnya yang khas tepat di belakang telinganya, membuat degupan jantung Seohyun berpacu lebih kuat. “Cho Kyuhyun pasti sedang mencarimu saat ini”

Yonghwa akhirnya berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan susah payah. Ia lalu kembali menurunkan rambut Seohyun yang tadi sempat disingkap ke bahu kirinya.

Dan konyolnya, Seohyun tiba-tiba merasa seperti tersengat aliran listrik ketika Yonghwa memegang rambutnya.

“Euhm” akhirnya ia hanya dapat bergumam sambil mengangguk menyetujui saran Yonghwa karena lidahnya tiba-tiba terasa kelu.

Yonghwa merapikan semua obat dan perban ke dalam kotak. Tidak ada lagi lanjutan pembicaraan mereka. Ia hanya mengucapkan ‘Selamat Malam’ sebelum pergi dari kamar Seohyun.

 

-X-

 

Esok pagi, Kediaman Jung Yonghwa

Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

Pukul 07.00 KST

 

“Apa yang kau lakukan?” Yonghwa tercengang menatap meja makan yang telah terisi sempurna dengan sarapan lengkap pagi ini.

“Selamat pagi” Seohyun menoleh dari kesibukannya di dapur dan menyapa Yonghwa dengan senyum secerah matahari pagi.

Ia kemudian berjalan mendekat dengan membawa segelas Hot Americano pada tangan kirinya. Sepertinya tangan kanannya masih belum bisa bekerja dengan baik.

“Kau yang memasak semua ini?” Yonghwa menatap semua masakan itu tidak percaya.

Seohyun mengangguk membenarkan, kemudian ia duduk di salah satu kursi.

“Kau tidak perlu seperti ini Joohyun-sii. Kau bisa meminta salah satu pelayan di rumah ini untuk membuatkan sarapan” Yonghwa berkata dengan kerutan di dahi, dan Seohyun sadar bahwa lelaki itu tidak menyukai semua ini.

“Maafkan aku” Seohyun berbisik. Kepalanya tertunduk menatap Fried Egg-nya yang masih hangat.

Tanpa berniat menyicipi sarapan, Yonghwa sudah bersiap untuk pergi.

“Kau tidak sarapan?”

“Aku akan sarapan di NIS Office. Kau beristirahatlah”

Seohyun menatap punggung Yonghwa yang makin menjauh. Kemudian beralih menatap semua menu sarapan yang telah ia buat dengan susah payah sejak 2 jam yang lalu. Dan tiba-tiba saja air matanya meleleh.

Seohyun segera menghapus air mata itu dengan punggung tangannya. Sial! Ia terlihat begitu tak berdaya sekarang. Ia tidak menyangka Yonghwa masih marah padanya karena hal itu. Apakah menolong nyawanya itu merupakan sebuah kesalahan besar? Seohyun tidak mengerti. Ia benar-benar tidak mengerti.

Orang itu terlihat berbeda. Ia tidak seperti Yonghwa yang ia kenal yang tinggal di apartement sebelah. Yonghwa yang ramah dan penuh sopan santun. Yonghwa yang dengan senang hati membantunya dan Yonghwa yang akan mengucapkan terimakasih dengan tulus hanya karena beberapa buah sandwitch buatannya. Lelaki itu sekarang seperti orang lain. Tidak banyak bicara dan memiliki tatapan yang membuat Seohyun merasa telah melakukan kesalahan terbesar seumur hidupnya. Sebegitu bencinyakah ia ketika Seohyun menyelamatkannya?

Air matanya kembali mengalir. Kali ini Seohyun tidak berusaha menghapusnya. Jadi biarkan dirinya menangis di atas meja makan hingga ia merasa lega.

 

-X-

 

Yonghwa melempar tas kerjanya begitu berhasil masuk ke dalam mobil. Ia memijat pelipisnya pelan. Apa kali ini ia sudah terlewat batas? Apa seharusnya tadi ia mengambil sepotong roti sebelum keluar rumah? Kini ia merasa menjadi lelaki paling brengsek di seluruh muka bumi.

Ia melakukan semua itu bukan karena ia marah pada Seohyun. Hanya saja ia masih merasa bersalah terhadap gadis itu. Kejadian itu sepenuhnya kesalahannya. Dan ia masih belum dapat memaafkan dirinya sendiri. Maka dari itu dia terlihat menjaga jarak dengan Seohyun. Ia masih belum dapat bersikap normal ketika berhadapan dengan gadis itu. Ketika ia hendak berbicara dengannya, maka saat itu pula bayang-bayang kejadian itu kembali mengisi otaknya, berulang kali. Ketika Seohyun berlari ke arahnya, ketika Seohyun terjatuh ke tanah, ketika tubuh Seohyun mengeluarkan banyak darah, semua itu membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat.

Yonghwa menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Ia harus dapat menguasai dirinya. Sekarang bukan saatnya untuk kembali memikirkan kejadian itu. Ia harus segera pergi ke NIS Office pagi ini. Siwon memberitahunya bahwa ada informasi penting yang harus ia ketahui.

 

-X-

 

Dongdaemun Market, Jongno-gu, Seoul

Pukul 11.00 KST

 

Dongdaemun Market tidak terlalu ramai siang ini, membuat Seohyun betah berlama-lama berjalan seorang diri. Meskipun lukanya belum sembuh total, namun ia masih bisa bertahan dengan sedikit rasa sakit yang terkadang timbul. Ia pergi bukan karena tidak ada tujuan, namun ia harus membeli baju untuk beberapa hari ke depan. Beberapa hari ini, ia hanya mengenakan piyama Yonghwa, dan ia tidak akan bisa terus mengenakan itu selama di sana.

Ia bisa saja mengambil pakaian di apartement, namun terlalu berbahaya untuk ke sana. Kyuhyun pastilah tengah mengawasi apartementnya saat ini. Dan ia tidak ingin berurusan kembali dengan lelaki itu. Ia harus menghindari tempat-tempat yang biasa ia lalui. Bahkan ia harus meminta izin cuti pada perusahaan tempatnya berkerja.

Setelah dari sini, ia juga berencana pergi ke Rumah Sakit untuk menemui Yoona. Hari ini Yoona tidak datang mengunjunginya, mungkin ia disibukkan dengan pekerjaannya di Rumah Sakit. Banyak yang ingin Seohyun bicarakan dengannya. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan sejak kemarin. Mengenai Yoona yang tiba-tiba terlibat dalam kasus ini, mengenai Jonghyun yang bersama Yoona kemarin –karena seingatnya, Jonghyun merupakan detektif dari kepolisian di distrik Gangnam-, dan sejak kapan Yoona mengenal Yonghwa dan Jonghyun? Semua itu membuatnya penasaran setengah mati.

Seohyun berhenti di depan sebuah toko baju. Ketika hendak masuk, tanpa sengaja ia bersinggungan dengan seseorang. Bahu kanannya terbentur dan seketika itu juga Seohyun jatuh terduduk dan meringis kesakitan. Orang yang menabraknya segera menolong, dengan cemas lelaki itu bertanya, “Maaf. Kau tidak apa-apa?”

Seohyun mengangguk pelan. Bahunya terasa kembali berdenyut hebat dan sangat nyeri sampai pandangannya terasa buram.

“Wajahmu pucat. Biar ku bantu membawamu ke Rumah Sakit” tawar lelaki itu.

“Tidak perlu. Aku baik-baik saja”

“Jangan menolak, kumohon” desak lelaki itu.

Karena sudah merasa tidak kuat hanya untuk sekedar menolak, akhirnya Seohyun mengangguk setuju. Lelaki itupun segera membantu Seohyun masuk ke dalam mobil mewahnya.

 

-X-

 

Siwon Office

National Intelligence Service Office Center, Naegok-dong, Seocho-gu, Seoul

Pukul 11.00 KST

 

“Kali ini apa yang ingin kau sampaikan pada kami?” Yonghwa bertanya lebih dulu sebelum Siwon sempat menjelaskan apapun padanya.

Siwon mendengus kesal mendengar pertanyaan Yonghwa. Sifat arogan lelaki itu tidak juga bisa berubah, padahal ia telah lama kembali bertugas di Korea.

“Bukankah seharusnya kau yang lebih dulu menyampaikan sebuah berita kepadaku?” tanya Siwon yang dijawab oleh tatapan tidak mengerti Yonghwa.

Siwon menatap Yonghwa lekat-lekat, kemudian dengan nada yang lebih serius ia berkata, “Apa yang terjadi dengan Seo Joohyun?”

Yonghwa menelan ludah dengan susah payah. Ia memang tidak seharusnya terkejut. NIS mempunyai banyak sekali jaringan, jadi tidak heran jika Siwon sampai tahu kejadian yang menimpa Seohyun tempo hari.

“Itu kecerobohanku” aku Yonghwa. Jonghyun yang sejak tadi mendengarkan dalam diam, menatap Yonghwa tidak percaya.

“Aku yang salah. Hal seperti ini tidak akan terulang lagi”.

“Tapi itu kecelakaan, hyung!” potong Jonghyun tiba-tiba. Tidak tahan dengan cerita versi Yonghwa yang selalu menyalahkan dirinya atas kejadian itu. “Itu di luar dugaan. Ternyata Cho Kyuhyun tidak bertindak seorang diri saat itu”.

Siwon menatap Yonghwa dan Jonghyun bergantian. “Baiklah. Aku tidak akan memperbesar masalah itu. Setidaknya nyawa Seo Joohyun dapat diselamatkan, itu saja sudah cukup. Namun aku harap, kalian lebih berhati-hati. Terlebih kini telah ada CIA yang ikut campur tangan dalam kasus ini”.

Siwon berjalan ke arah meja kerjanya. Ia mengambil sebuah map berwarna biru dan menyerahkannya pada Yonghwa. “Informasi yang ingin ku berikan hari ini. Ku rasa mungkin kau tahu siapa orang itu”

Yonghwa menatap Siwon dan map di tangannya bergantian. Tanpa bertanya lebih lanjut, iapun membuka dan membaca isi di dalam map itu dengan teliti.

“Ini___” ucapan Yonghwa terhenti begitu melihat sebuah foto Close-Up seseorang yang tidak asing baginya.

“Kau mengenalinya bukan?” tanya Siwon sambil memperhatikan Yonghwa di seberang meja. “Bukankah kalian sempat bekerjasama ketika kau bertugas di CIA?”

Yonghwa menatap Siwon dengan alis bertaut. Tangannya meremas kencang map di genggamannya. Apakah maksudnya orang ini yang bertugas dalam menangani kasus Formula AZ887? Apakah orang ini yang akan berlawanan dengannya nanti?

“Ia adalah Lee Jungshin. Warga Amerika keturunan Korea yang bekerja sebagai Agent CIA. Benar bukan?” tanya Siwon yang berhasil membuat Yonghwa menahan napas.

 

-X-

 

Dalam perjalanan menuju Rumah Sakit, lelaki itu bertanya dengan suara yang begitu lembut padanya.

“Siapa namamu?”

“Seo Joohyun. Kau sendiri?”

“Aku Lee Jungshin. Senang berkenalan denganmu Seo Joohyun-sii”

 

-X-

59 thoughts on “Formula X [Memory 12]

  1. Daebakk
    Makin keren ceritanya
    G mna nsip
    Soehyun oeni
    Yg kni dgn lee jungshin
    Pnsaran sma klnjtnya
    Toppp bnget thor:D
    Dikirim melalui BlackBerry® dari 3 – Jaringan GSM-Mu

  2. jungshin keluaaaaar kya. dia baik apa ga ni?
    makin complicated aja ini ceritanya aduh aduh…
    yong emosi aja ushhh sian joohyun. hyun sabar yak. aduh semoga itu bukan diculik hyun ma jungshin ya, bisa makin kalap nanti yonghwa.
    lee jonghyun kyaaaaa jaga toona baik baik yak. nikahin kalo bisa *oot hehe

    ditunggu part selanjutnya

  3. waa.. kecewa g bisa jd pembaca pertama yg ksh komentar, hehe🙂
    oke, alurnya makin pelik tp keren bingit!!! Lee Jungshin-ssi.. lakon atau lawan kah??? aaaghh.. jinjja gumgumeyo~~~
    YongSeo manis di chapter ini, moga next ‘memory’ mrk makin manis ^^ klo JongYoon mah kemanisan! puhahaha😀
    fighting utk chap selanjutnya ya authornim, smoga smua urusan authornim lancar sehingga ff ini juga publishnya mkin cepet, wkwkwk #modusmanis ^-^
    gomapseumnidaaaa~~~

  4. Finally update juga nih…
    thanks for update thor…

    sebel nihhh ma si YongYong….
    gak peka ma perasaan wanita… #eeaaaaa

    stlah seohyun selamat….
    skrang muncul masalah,,,,
    CIA… dan itu Jungshin Chingoo….
    aigoo~~~ mana si Seohyun lagi ma Jungshin
    awwww…. Makin penasaraaaaaannnnn

    Btw,,, thor,,, formula AZ887 serasa familiar…LoL
    stlah di ingat2…. itu AZ887 bukannya strategi RUNNING MAN special idol olimpiade Yonghwa & Jonghyun jd guest… breng sulli kwanghee dll.
    Hahahahahaha

    DAEBAK!!!!!
    CANT WAIT NEXT CHAP THOR!!!!!

  5. Akhrmyaa ini update jg…nungguin hmpir sebulan lbh tiap hr xek ricek nii blok….

    Aduhhh yonghwaa jgn marah2 trs donk, kn kasian seohyun…
    Jungsin ini kira2 baik ato gak yaa?

    Update selqnjutnyaaa asap y eon…

  6. Kereen thor,thanks for update-an nya..heehee
    Yongseo nya nanggung gtu sweetmoment nya tp,jongyoon manis beneran tuh,keep writing yaa,fighting thor \^,^/

  7. daebak…krennnn bgt..
    next chapternya dong tor..
    kangen ku pda yongseo..jdi terbalaskan dgn ff ini..
    gomawo thor ^^

  8. aaaakkkk udah di update :3
    dan tebakanku bener, pasti top yang nembak seohyun.
    ah jongshin chingoooo~o_O
    agent CIA jongshin?
    daebak :”

    ei cie jonghyun pengen jadi yang pertama buat Im uisanim
    cie cie /toeltoel/ xD

    aaaa kenapa semudah ini seohyun ktemu ama jongshin!!!!! :O

    next chapter thor, dan pesen jangan lama lagi yah
    hehe udah kayak strikaan nih diriku yang bolak balik rumah onlinenya author🙂
    fiaghting thor😀

  9. Waaaaah…Daebak?! Aq dah bolak-balik ngcek ap udah da kelanjutannya ap blom tp akhirnya update juga, makasih Thor
    Seneng deh baca FF ni soalnya critanya makin seru aja
    Buat Author tetap semangat nulisnya…Hwaiting

  10. wowowowo akhirnya update juga😀 thanks for update author!^^
    hmm sepertinya ini masalahnya semakin rumit -_- oiya jungshin gimana karakternya?? dia jahat kah??
    next chapter moment yongseo sama deerburningnya lbih banyak dan romantis lg ya thor^^

  11. makasih buat updatenya authornim

    makin gawat keadaannya
    yongseo momentnya lucu
    tapi seohyun kasian dicuekin gitu sama yonghwa
    jonghyun makin manis aja (?)
    kira-kira jungshin bakal jahat atau baik entar?
    terus gimana nasibnya seohyun kalo bareng jungshin?

    update selanjutnya ditunggu
    semangat author

  12. akhirnyaa update chapter 12🙂
    ceritanya makin seru bikin penasaraaann
    makin suka baca bagian jonghyun yoona :3
    di tunggu chapter selanjutnga😀

  13. Aihhh nahan napas pas adegan terakhir!!! Pinter banget bikin orang degdegan sihhhh >< makin seruuuuuuuuu makin kerenn gasabar part selanjutnyaaa! Lanjut ya

  14. baru nemu ff ini dan aaaaaa~ keren bangeeeeeeet author ff nyaa,ceritanya susah ditebak,pairing juga aku suka banget,semangat terus nulisnya author!! :DDDDD

  15. jungshin akhirnya keluar jugaa.. cerita yg semakin menegangkan dan semakin bikin penasaran.. haha🙂
    deerburning moment selalu sweet dan yongseo-nya bikin gregetan.. ahaha..
    author hwaiting buat episode-episode berikutnya ^^

  16. Fifinally jungshin muncul😄
    Mkin mrndebarkan critanya🙂
    Gak sabar tuh buru2 pindah ke part brikutnya hehehe
    Like it this ff🙂
    Hwaiting thor😀

  17. Wah……deabak ceritanya sangat penuh tantangan……apalagi saat soehyun kesakitan sekarang tambh bnyak az oorang yg mnincar seohyun,yoona sangat kuat bsa mnhan semua kekhawatirannya sama seohyun….wah…deabak author……

  18. Ciee yg khawatir ciee pdahal seneng bgt kan dibikinin sarapan sama siseo :3 tpi pura pura biasa aja kkk Jungshinnya perannya jahatt bukann disini lanjutt baca lg!!

  19. Aaahhh jd jungshin yg mau bnuh seo dri agen cia…
    Kasian seo,,nangis,gag d hargai usahanya sm yong…
    Moment jongyoon kuraaaanngg…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s