Formula X [Memory 9]

formulax copy

Judul: Formula X [Memory 9]

Main Cast:

Jung Yonghwa CNBlue sebagai Jung Yonghwa

Seo Joohyun SNSD sebagai Seo Joohyun

Other Cast:

Lee Jonghyun CNBlue sebagai Lee Jonghyun

Im Yoona SNSD sebagai Im Yoona

Cho Kyuhyun Super Junior sebagai Cho Kyuhyun

Kwon Yuri SNSD sebagai Kwon Yuri

Kang Minhyuk CNBlue sebagai Kang Minhyuk

Rating: PG-17

Lenght: Chaptered

Genre: Romance, Action, AU

Teaser – Prolog – Memory 1 – Memory 2 – Memory 3 – Memory 4 – Memory 5 – Memory 6 – Memory 7 – Memory 8

J n J Design Architecture Office, Gangnam-gu, Seoul

Pukul 09.00 KST

Sepuluh menit Seohyun habiskan untuk memandangi layar ponselnya. Sudah puluhan kali ia mencoba menghubungi sebuah nomor yang sama namun selalu ia batalkan tepat sebelum telepon itu tersambung. Ia akhirnya menyerah dan melemparkan ponsel itu ke atas meja kerjanya yang dipenuhi dengan segala sketsa yang sama sekali belum ia sentuh sejak pagi.

Ini aneh. Otaknya terasa mengalami disfungsi akut secara tiba-tiba akibat sebuah halusinasi, mimpi, atau mungkin kenyataan yang bahkan ia sendiri belum yakin kebenarannya. Entahlah jika ia akan disebut sebagai maniak atau mungkin si penghayal ulung, namun ia merasa begitu yakin dengan kejadian yang menimpanya tadi malam. Ia yakin bahwa rasa sakit kepalanya kembali kambuh tadi malam, bahkan ia juga ingat sebuah kata yang kembali muncul dari ingatan-ingatan abstaknya. Plutonium 240. Begitu jelas dan begitu nampak. Namun yang jadi permasalahan utama hari ini adalah ia sangat yakin bahwa tadi malam Yonghwa masuk ke dalam apartemennya. Lelaki itu bahkan membantunya untuk menenangkan diri. Namun begitu ia bangun di pagi hari, tidak ada tanda atau bukti yang membenarkan bahwa lelaki itu berada di dalam apartementnya tadi malam. Lagipula, berpuluh-puluh kali berpikirpun, tidak ada yang dapat menjelaskan kenapa lelaki itu bisa sampai di dalam apartementnya dan dengan cara apa ia masuk. Terdengar terlalu mengada-ngada tiap kali ia melontarkan alasannya sendiri.

Maka dari itu ia ingin memastikannya. Ia ingin menghubungi Yonghwa untuk menanyakan perihal itu secara langsung. Namun bukankah itu justru akan terasa canggung? Apa yang akan ia tanyakan nanti? ‘Apa tadi malam kau masuk ke dalam apartementku?’ atau ‘Terimakasih sudah menolongku tadi malam’. Ia yakin mukanya akan memerah sebelum pertanyaan itu berhasil keluar dari mulutnya.

Seohyun mengambil ponselnya lagi dan kembali menimbang untuk menghubungi lelaki itu. Dengan helaan napas berat, akhirnya ia memutuskan untuk kembali menyimpan ponsel itu ke dalam saku blazernya. Tidak sekarang, mungkin nanti.

 

-X-

Kediaman Jonghyun, Cheongdam-dong, Gangnam-gu, Seoul

Pukul 09.00 KST

“Habiskan”

Jonghyun menatap pil-pil berwarna-warni dalam telapak tangannya kemudian kembali menghela napas. Entah sudah berapa banyak gas karbondioksida yang ia keluarkan dari mulutnya ketika berurusan dengan pil-pil sialan itu.

“Hentikan helaan napasmu yang menyebalkan itu. Minum obat tidak lebih berat ketimbang terkena tusukan sebuah pisau sedalam 5 cm”

Jonghyun mendelik tajam ke arah si pemilik suara. Namun tanpa protes ia mulai menelan pil-pil itu satu per satu.

“Lalu kenapa kau datang lagi hari ini?” protes Jonghyun sambil meletakkan gelas kosongnya di atas meja. “Bukankah sudah ku bilang bahwa aku baik-baik saja?”

“Bukankah aku sudah bilang bahwa aku dokter pribadimu sekarang?”

“Sejak kapan dokter pribadi mengunjungi rumah pasiennya setiap hari?” sindir Jonghyun yang langsung mendapatkan cibiran kesal dari gadis di sampingnya.

“Arasho, aku pulang” rajuk si gadis. Tanpa pikir panjang, gadis itu segera bangkit dari tempat duduknya dan bersiap melangkah pergi.

Jonghyun buru-buru menahan tangan gadis itu sebelum ia melangkah jauh. “Arasho, Arasho. Aku hanya bercanda, Im uisanim yang baik hati”

Yoona menatap Jonghyun tajam kemudian kembali menghempaskan tubuhnya di atas sofa sambil mendengus kesal. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan memasang wajah tak bersahabat, yang menandakan bahwa ia masih belum bisa menerima candaan Jonghyun yang menurutnya sama sekali tidak lucu.

Ia sudah banyak berkorban demi kesembuhan lelaki itu. Ia bahkan dengan sengaja mengambil shif malam beberapa hari berturut-turut agar mendapatkan libur pada pagi dan sore hari sehingga dapat mengontrol kondisi lelaki itu di rumahnya. Ia juga meliburkan diri dari jadwal praktek pribadinya dan menyerahkan tugas sebagai penanggung jawab mahasiswa resident pada rekan sejawatnya yang lain, semua itu ia lakukan demi lelaki playboy menyebalkan yang tidak tahu terimakasih yang bahkan telah mengusirnya beberapa menit yang lalu. Sungguh ironis.

“Kau tahu, kau bahkan terlihat lebih cantik ketika merajuk”

Yoona kembali mendengus mendengar kalimat Jonghyun. Akhirnya sifat dasarnya sebagai seorang playboy keluar juga. “Kalimat itu sama sekali tidak berefek padaku” ucap Yoona datar.

Jonghyun mendekatkan wajahnya di depan wajah Yoona kemudian memasang wajah berpikir yang sok innocent. “Kau benar. Seorang Im Yoona tidak akan terpikat hanya dengan sebuah kalimat mainstream seperti itu”

“Benar. Pintar jika kau mengerti” balas Yoona dengan menantang menatap mata Jonghyun lurus-lurus. Ia tidak mau kalah dengan lelaki playboy ini. Sekali-sekali ia harus mendapatkan balasan atas sikapnya yang menyebalkan dan terkesan seenaknya. Ia pikir ia bisa meluluhkan hati seorang Im Yoona dengan sebuah kata-kata konyol yang murahan itu? Maaf saja, tapi ia bukan gadis seperti itu.

Jonghyun mengangguk-ngangguk sambil bergumam kecil. Yoona tersenyum diam-diam, merasa dirinya menang dalam adu mulutnya dengan Jonghyun kali ini.

“Kalau begitu, bagaimana dengan ini__”. Kali ini sebuah senyuman licik menghiasi wajah Jonghyun, membuat senyuman Yoona yang sebelumnya mulai mengembang mau tidak mau perlahan memudar.

Dalam hitungan detik, Jonghyun berhasil mengecup singkat bibir Yoona. Membuat Yoona terdiam mematung selama beberapa detik berikutnya. Jonghyun yang melihat ekspresi terkejut Yoona, sontak terkekeh geli kemudian dengan santai ia berkata, “Sebuah kalimat mungkin memang tidak berefek padamu. Tapi lain halnya jika dengan sebuah tindakan bukan?”

Yoona mengerjap-ngerjapkan matanya cepat untuk memulihkan kesadarannya. Lalu tanpa aba-aba, ia segera mendaratkan beberapa pukulan pada tubuh lelaki itu. “Dasar kau pria mesum! Maniak! Hidung belang! Playboy!” teriaknya kesal.

“Arrrrghhh!!” Jonghyun mengerang kesakitan dengan kedua tangan memegangi perut. Melihat itu, Yoona segera menghentikan aksi brutalnya untuk memeriksa kondisi Jonghyun.

“Ke-Kenapa? Apakah aku mengenai lukamu? Apakah lukanya kembali sakit? Biar ku periksa” ucapnya khawatir.

Begitu Yoona ingin memeriksa luka Jonghyun, dengan cepat lelaki itu menahan kedua tangannya lalu tanpa rasa bersalah ia berkata, “2-0. Kau kalah kali ini, Im uisanim”

Yoona menganga mendengar perkataan Jonghyun barusan. Ia tertipu mentah-mentah. Ya Tuhan, lelaki ini benar-benar tahu bagaimana membuat darah tingginya kumat.

“Ya! Lee Jonghyun, mati saja kau!!” teriak Yoona sambil memukul tubuh Jonghyun dengan bantal kursi tanpa ampun. Namun tiba-tiba Jonghyun memberikan isyarat kepadanya untuk berhenti dan mengeluarkan ponselnya yang berdering dari dalam saku.

“Yonghwa hyung” ucap Jonghyun menjelaskan. Kemudian lelaki itu segera mengangkat telponnya.

“Ada apa Hyung?”

Ada yang ingin ku bicarakan. Bisakah kita bertemu?

“Tentu. Di mana? Ah! Jangan di NIS office. Aku belum siap untuk menerima semua ledekan rekan-rekan mengenai kondisiku ini”

Arasho. Bagaimana jika di rumahmu?

“Rumahku? Jangan hyung. Aku tidak suka membicarakan pekerjaan kita di rumahku. Bagaimana jika di rumahmu saja?”

Tsk!! Kau ini banyak maunya. Sebenarnya kita mau berkencan atau membicarakan pekerjaan?

Jonghyun terkekeh mendengar pernyataan protes Yonghwa. “Sebenarnya aku hanya ingin keluar. Aku muak jika terus terkurung di dalam rumah”

Baiklah. Lagipula aku sudah lama tidak pulang ke rumah. Kita bertemu di rumahku empat puluh menit lagi

“Oke”

Jonghyun mengakhiri sambungan teleponnya kemudian bangkit dan bersiap untuk pergi. Yoona memperhatikan seluruh gerakannya dalam diam.

“Kau bawa mobil?” tanya Jonghyun tiba-tiba setelah ia mengambil jaketnya dari dalam kamar. Yoona mengangguk pelan. “Kalau begitu, kau yang menyetir. Kajja”

 

-X-

 

Pyeongchang-dong, Jongno-gu, Seoul

Pukul 09.55 KST

Yoona memarkirkan mobilnya tepat di depan salah satu dari puluhan rumah mewah yang berdiri kokoh di sepanjang jalan. Tidak aneh memang melihat rumah-rumah mewah berjejer rapi di daerah ini mengingat mereka tengah berada di kawasan elit Pyeongchang-dong yang terkenal dengan sebutan Beverly hills-nya Korea. Kawasan ini hampir sama elitnya dengan daerah Gangnam-gu. Namun yang membedakannya, kawasan ini terkenal dengan ketenangan, harmonisasi alam, dan estetika dari bangunan-bangunan berarsitektur modern ataupun tradisional yang jarang di temukan di pusat kota seperti Gangnam.

Yoona sendiri masih tidak mengerti mengapa Jonghyun mengajaknya ke tempat ini. Bukankah tadi ia berkata bahwa mereka akan menemui Yonghwa? Namun kenapa mereka justru datang ke tempat ini, bukan ke apartement Yonghwa yang berada di kawasan Apgujeong-dong?

Tanpa berniat untuk bertanya; karena merasa itu bukan kapasitasnya, akhirnya Yoona hanya berjalan mengikuti Jonghyun dalam diam.

Jonghyun berhenti tepat di depan pagar rumah berbahan kayu klasik. Ia lalu menekan interkom yang dijawab oleh suara perempuan yang mungkin sudah berusia sekitar 40 tahunan. Tidak berapa lama menunggu, pagar itu terbuka dan mereka segera di sambut oleh wanita setengah baya yang terlihat ramah yang lansung di panggil Jonghyun dengan sebutan ‘Ahjuma’. Mereka terlihat sangat akrab seperti telah mengenal bertahun-tahun.

“Tuan muda sudah menunggumu di dalam. Masuklah” ucap wanita tua itu kepada Jonghyun. Jonghyun tanpa ragu segera melangkahkan kakinya memasuki rumah bergaya tradisional Korea tersebut.

Yoona sendiri terkesan dengan bangunan Hanok khas Korea yang masih dipertahankan oleh pemilik rumah ini. Jarang-jarang ia melihat bangunan Hanok -selain di kuil atau museum- yang dipakai untuk sebuah kediaman pribadi di kota besar seperti Seoul saat ini.

Rumah ini terlihat sangat simple dengan bagunan utama berbentuk leter ‘I’. Di sekelilingnya terdapat halaman luas yang tertata rapi dengan berbagai jenis pohon berdaun lebar dan tanaman hijau tahunan yang memenuhi setiap sudut halaman. Sebuah kolam teratai berbentuk miniatur sebuah danau menjadi salah satu yang menarik perhatian Yoona. Kolam itu berkelok-kelok di sepanjang halaman dengan sebuah jembatan kayu di atasnya. Dinding kolam terbuat dari batu-batu kali yang tersusun alami. Dan di ujung kolam terdapat sebuah pendopo kecil yang biasa digunakan sebagai Juhamnu (perpustakaan) atau tempat minum teh.

Jonghyun tanpa ragu melangkah memasuki bangunan rumah utama, diikuti Yoona yang masih mengekor di belakangnya. Mereka menyusuri lorong rumah yang begitu panjang –ya, rumah ini begitu besar, bahkan Yoona yakin ia bisa tersasar jika berjalan seorang diri- dengan pilar-pilar kayu yang kokoh di sepanjang sisi dan lantai kayu yang terasa hangat. Di sepanjang lorong terdapat lukisan-lukisan antik yang menghiasi dinding seperti lukisan Gunung Geumgang, lukisan gadis korea klasik, dan lukisan harimau serta burung kucica. Akhirnya mereka tiba di depan sebuah ruangan di ujung lorong yang dibatasi dengan sebuah pintu geser tradisional.

“Kau sudah datang, Jonghyun-ah” sapa seseorang dari dalam ruangan.

“Ya, hyung” Jonghyun segera masuk ke dalam ruangan. Yoona yang masih ragu hanya berdiri di balik pintu. “Masuklah” perintah Jonghyun padanya.

“Oh, Kau juga datang, Im uisanim?” sapa sang pemilik rumah.

“Ka-Kau? Yonghwa-sii??” Yoona tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya mendapati Yonghwa berada di rumah ini. “Kau tinggal di sini?”

“Oh” Yonghwa mengangguk membenarkan seolah itu merupakan hal yang biasa. “Duduklah”

“Ta-Tapi, bukankah kau tinggal di apartement?” tanya Yoona yang masih belum mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.

“Aku tinggal di sana untuk mempermudah pekerjaanku”

Yoona berpikir sesaat kemudian menatap Jonghyun dan Yonghwa secara bergantian. “Apa semua agen rahasia berstatus chaebol seperti kalian?”

“Tidak juga” jawab Yonghwa jujur.

“Lalu apakah gaji kalian begitu besar sehingga bisa menjadi sekaya ini?” terka Yoona.

Jonghyun dan Yonghwa sontak tertawa geli begitu mendengar pertanyaan Yoona yang begitu polos.

“Apa kau pikir gaji kami sebagai agen rahasia yang membuat kami seperti ini?” tanya Jonghyun geli. “Konyol sekali pemikiranmu”

Yoona mendelik kesal pada Jonghyun. Kalau saja tidak ada Yonghwa di sini lelaki itu pasti sudah ia habisi tanpa ampun.

“Sebelum bergabung menjadi agen rahasia, Yonghwa hyung sudah memiliki beberapa saham di perusahaan-perusahaan besar di Korea. Yonghwa hyung bahkan memiliki 14% saham di YBS”

“Investasi masa depan” Yonghwa menimpali sambil terkekeh ringan.

“Salah satu syarat menjadi agen rahasia adalah memiliki pekerjaan lain sebagai kamuflase kami” lanjut Jonghyun menjelaskan. “Tidak akan ada yang curiga bahwa kami adalah seorang agen jika kami memiliki pekerjaan mapan dengan kesibukan dan jadwal padat setiap hari. Rata-rata agen rahasia memiliki pekerjaan tetap sebagai seorang dokter, pengacara atau seorang pengusaha”

“Benarkah?” tanya Yoona takjub. “Kalau begitu aku memenuhi syarat untuk menjadi agen rahasia”

“Kau? Hah! Yang benar saja” ejek Jonghyun sambil memperhatikan Yoona dari atas ke bawah. “Kau sama sekali tidak memenuhi syarat. Kau tidak bisa bela diri, kau ceroboh, dan kau pendek”

“Ya! Kau sudah bosan hidup?” ancam Yoona kesal.

Yonghwa diam-diam memperhatikan kedua orang yang sedang bertengkar di depannya itu, lalu tiba-tiba ia bertanya “Jadi, apa sekarang kau sudah tidak bisa pergi tanpa ditemani Im uisanim, Jonghyun-ah?” ledeknya.

“Ya Hyung!! Kondisiku belum pulih betul. Aku mengajaknya untuk berjaga-jaga” sergah Jonghyun cepat yang mendapatkan anggukan persetujan dari Yoona.

“Dia bisa mati tanpa aku” timpal Yoona datar yang mendapatkan delikan tajam dari Jonghyun.

Yonghwa tertawa geli melihat reaksi kedua orang itu. Mereka benar-benar pasangan yang manis.

 

-X-

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan hyung?”

Yonghwa menegakkan duduknya dan menatap Jonghyun dan Yoona bergantian. “Aku punya dua berita kali ini”

“Pertama. Tadi malam Joohyun kembali mendapatkan serangan dan kembali menyebutkan sebuah kata asing saat ia tidur”

“Apa itu?” tanya Jonghyun tidak sabar. Sudah lama tidak mendapatkan kabar mengenai kasus Seohyun membuatnya merasa sangat bersemangat.

Plutonium 240

“Lalu bagaimana kondisi Seohyun?” potong Yoona tiba-tiba. Ia tidak terlalu mengerti mengenai masalah formula yang pernah Jonghyun jelaskan kepadanya, namun yang pasti ia sangat khawatir terhadap kondisi Seohyun, terlebih lagi mendengar gadis itu kembali harus merasakan serangan sakit kepala di saat kalung miliknya –yang merupakan satu-satunya benda penenang bagi Seohyun- telah hilang.

“Tenanglah, sekarang ia baik-baik saja” jawab Yonghwa menenangkan. Memang sebenarnya tadi malam gadis itu jelas tidak baik-baik saja. Kondisinya sungguh kacau. Namun untunglah tindakan nekatnya untuk masuk ke dalam apartemen gadis itu membuahkan hasil. Seohyun terlihat lebih tenang setelah ia datang. Gadis itu bahkan akhirnya dapat tertidur setelah semua serangan itu berhenti sehingga Yonghwa dapat keluar dari apartemennya dengan tenang dan tanpa perlu repot-repot menjelaskan kepada Seohyun bagaimana caranya hingga ia sampai dapat masuk ke dalam kamarnya.

Yoona menghela napas lega mendengar jawaban Yonghwa. Namun Yonghwa kembali berkata padanya, “Tapi ada baiknya kau memeriksa kondisinya kembali dan berbicara padanya. Ku rasa ia butuh seseorang yang dapat diajak bicara”

“Baiklah. Secepatnya aku akan menemuinya”. Yoona menyetujui.

Yonghwa tiba-tiba mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. Sambil menunggu telepon tersambung, ia berkata, “Aku akan melaporkan temuan ini kepada KAERI untuk dianalisis lebih jauh”.

Yonghwa sengaja mengatur panggilan dengan loudspeaker agar Jonghyun dan Yoona dapat mendengarkan pembicaraannya dengan Minhyuk, sang Lab.Assistant nanti.

“Halo, Minhyuk-sii. Ini aku agen Jung. Aku punya kabar baru untuk kau ketahui”

Oh, agen Jung. Lama tidak ada kabar. Apa yang kau punya sekarang?

Plutonium 240. Kau tahu apa itu?”

Plutonium 240? Kau yakin itu 240 bukan 239?” tanya Minhyuk terkejut.

“Aku yakin. Memang apa itu?”

Plutonium adalah salah satu bahan bakar untuk reaktor nuklir. Namun Plutonium 240 tidak pernah digunakan dalam bahan bom nuklir sebelumnya karena tingkat radiasinya yang terlalu kuat. Dapat menyebabkan kerusakan besar dan sangat sulit menanganinya

“Benarkah?” tanya Yonghwa tak percaya. Ia melirik sekilas ke arah Jonghyun dan Yoona yang juga bereaksi sama dengannya.

Ya. Yang biasa digunakan untuk reaktor nuklir adalah Plutonium 239. Itupun harus dicampur dengan bahan Galium untuk menstabilkan radiasi dari Plutonium tersebut

“Lalu apa yang terjadi jika Plutonium 240 itu dipakai untuk reaktor nuklir tanpa bahan campuran?”

Tentu saja sebuah ledakan maha dahsyat dengan tingkat radiasi yang sangat berbahaya

Yonghwa hampir saja berhenti bernapas mendengarkan semua penjelasan Minhyuk. Rasanya ia hampir tidak percaya akan adanya senjata pemusnah mengerikan seperti itu, terlebih lagi orang yang menciptakannya. Apa yang mereka pikirkan ketika menciptakan senjata laknat tersebut? Tidakkah mereka berpikir mengenai akibat yang akan dihasilkannya kelak?

“Baiklah. Terimakasih atas penjelasannya Minhyuk-sii. Aku akan menghubungimu kembali jika mendapatkan kabar baru”

De, aku akan selalu siap membantumu kapanpun kau memerlukannya

Yonghwa menghempaskan tubuhnya pada punggung kursi. Pikirannya kosong. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa terhadap informasi yang baru saja diterimanya. Di sisi lain, Jonghyun dan Yoona juga sama-sama terdiam. Tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing tanpa tahu apa yang harus diperbuat.

“Gila” Jonghyun tiba-tiba berkata. Memecahkan keheningan tanpa arti di antara mereka bertiga. “Benar-benar gila” lanjutnya lagi.

“Apa jadinya jika formula itu benar-benar sampai jatuh ke tangan Korea Utara?” tanya Jonghyun sambil menerawang jauh.

Yonghwa menggeleng menjawab pertanyaan Jonghyun. Ia sendiripun tidak dapat membayangkan apa yang terjadi. Formula itu terlalu berbahaya, siapapun pemilikinya –baik Utara ataupun Selatan- dan harus segera dimusnahkan untuk kepentingan kedamaian hidup manusia di muka bumi.

Merasa tidak ada lagi yang dapat mereka lakukan terhadap formula berbahaya itu saat ini, akhirnya Yonghwa mengeluarkan sebuah map dan memberikannya kepada Jonghyun. “Berita kedua dariku” jelas Yonghwa menjawab tatapan bingung Jonghyun.

“Beberapa hari yang lalu aku mencurigai seseorang sebagai agen rahasia Korea Utara. Lalu aku mencari berbagai informasi tentangnya. Dan itulah hasilnya” Yonghwa menunjuk map yang sekarang berada di dalam tangan Jonghyun dengan dagunya.

“Cho Kyuhyun?” tanya Jonghyun sambil membaca identitas orang yang Yonghwa maksud. “Siapa dia?”

“Pemilik Bloom & Goute Cafe. Salah satu Cafe yang berada di Gangnam yang merupakan Cafe langganan Joohyun”

Jonghyun membaca isi map yang diberikan Yonghwa. Tentang data kependudukan, data kepolisian pusat, data alumni sekolah-sekolah di Korea Selatan sampai data imigran yang keluar-masuk Korea Selatan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Semua tidak terdapat data pasti dari Cho Kyuhyun. Namun satu yang menarik perhatian Jonghyun, di sana terdapat sebuah artikel dari koran lokal tentang kapal imigran gelap yang berhasil ditanggap di semenanjung Korea 8 bulan yang lalu. Di sana disebutkan bahwa beberapa imigran berhasil kabur, di antaranya bernama Choi Seunghyun dan Marcus Cho.

Di halaman berikutnya, Yonghwa berhasil mengumpulkan data dinas kependudukan kota Pyongyang (Ibu kota Korea Utara) –yang entah bagaimana cara ia mendapatkannya- dan melingkari nama dan data Marcus Cho yang terdapat di sana. Dalam data itu dijabarkan bahwa Marcus Cho berusia 27 tahun dengan tanggal lahir 3 Februari 1988, tinggi 180 cm, berat 68 kg, dan bergolongan darah A. Setelah itu, tidak ada data lainnya lagi. Baik itu sebuah foto, ataupun data keluarga yang bisa mereka selidiki.

Jonghyun menutup map itu kemudian berkata, “Hanya ini yang kau dapat? Ini belum cukup membuktikan bahwa lelaki itu agen rahasia”

“Aku tahu” jawab Yonghwa singkat.

“Lalu?” Jonghyun bingung dengan maksud Yonghwa. Jika memang Yonghwa tahu bahwa ia belum memiliki cukup bukti untuk menuduh lelaki itu, lalu apa yang akan mereka lakukan?

“Aku akan menemuinya dan menanyakan langsung padanya”

“Hah?” Jonghyun merasa tiba-tiba telinganya salah menangkap perkataan Yonghwa.

“Aku akan menemuinya langsung” ulang Yonghwa tanpa ragu.

“Kau gila??” sembur Jonghyun cepat. “Kau pikir itu tidak berbahaya?”

Yonghwa tersenyum simpul mendengar ucapan protes Jonghyun. “Tenang saja, ia tidak akan bertindak gegabah. Hanya ini satu-satunya cara yang kita punya. Aku sudah berhari-hari mencari bukti yang kuat namun tidak kujung berhasil. Kau tenang saja”

“Kalau begitu aku ikut denganmu” pinta Jonghyun. “Berdua lebih baik dari pada seorang diri”.

“Tidak bisa” tolak Yonghwa cepat. “Kita harus membagi tugas. Di saat seperti ini, kau harus stand by mengawasi Joohyun. Kita tukar tugas untuk beberapa saat”

Setelah berpikir panjang, akhirnya dengan ragu Jonghyun menyetujui permintaan Yonghwa.

 

-X-

J n J Design Architecture Office, Gangnam-gu, Seoul

Pukul 12.00 KST

“HYUNNIIIIEEE”

Seohyun menahan langkahnya keluar gedung tepat ketika sebuah teriakkan menggema di belakangnya. Iapun menoleh untuk sekedar melihat orang yang memanggilnya tersebut –walaupun ia sudah tahu pasti siapa pemilik suara itu-.

“Waeyo Yuri oenni?”

Yuri berjalan menghampiri Seohyun lalu melingkarkan tangannya pada pundak Seohyun.

“Kajja” ajaknya sambil meneruskan langkah ke luar gedung untuk makan siang.

Seohyun menatapnya bingung lalu berkata, “Aku akan makan siang di Bloom & Goute Cafe. Apa kau akan ikut?”

“Ani” jawab Yuri riang. “Aku hanya ingin berjalan bersamamu sampai___ sini” Yuri menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang.

Seohyun menatap Yuri tidak mengerti. “Hatimu dengan gembira ya eonni?” terka-nya.

Yuri menatap Seohyun berbinar-benar kemudian berkata, “Aigoo, kau memang yang paling mengerti aku”

Seohyun terkekeh melihat sikap Yuri yang di luar kebiasaan. “Apa yang terjadi?”

Yuri berdeham sebelum mengumumkan berita yang membuat hatinya terasa berbunga-bunga sejak tadi pagi. “Mulai besok, YBS mengontrakku sebagai arsitek gedung baru mereka!!” sorak Yuri gembira.

Mendengar hal itu, tak ayal membuat Seohyun juga ikut merasa gembira. “Selamat eonni. YBS merupakan perusahaan besar. Semoga proyekmu berjalan lancar”

“Terimakasih Hyunnie. Lain kali kau akan aku traktir. Aku janji” ucap Yuri sambil menggenggam kedua tangan Seohyun. lalu tiba-tiba ia teringat akan sesuatu, “Ah, iya. Bagaimana pengumuman untuk Project Art Museum di Pulau Jeju itu? Bukankah minggu lalu pengumumannya sudah keluar?”

“Ya, sudah keluar minggu lalu” jawab Seohyun datar.

Yuri mengerutkan dahi. Merasa ada yang tidak beres dengan fonem suara Seohyun. “Lalu apa hasilnya?” tanyanya hati-hati.

Seohyun menatapnya lurus kemudian mengangguk. Dengan pelan ia berkata, “Aku menang”

“Ya! Kau menang dalam proyek arsitektur terbesar tahun ini dan hanya itu ekspresi yang kau tunjukkan? Wah! Kau ini benar-benar” ujar Yuri gemas. Ia lalu mengacak-ngacak rambut Seohyun sambil berkata dengan gembira, “Kerja bagus, Hyunnie. Aku tahu kau bisa melakukannya”

“Maaf baru memberitahumu sekarang eonni” sesal Seohyun. Ia memang tidak merasa bahagia ketika keluarnya pengumuman tersebut. Mungkin karena pengumuman itu keluar tepat setelah 2 hari kalung kesayangannya hilang. Ia sama sekali tidak menghiraukan pengumuman itu dan lebih fokus memikirkan nasib kalungnya. Padahal jika ditilik lebih jauh, ia telah banyak berkorban dan berusaha keras demi mengikuti kompetisi itu. Sudah seharusnya dan sewajarnya ia meluapkan kegembiraan layaknya yang Yuri lakukan saat ini. Namun kebahagiaannya terasa terserap habis tak bersisa tiap kali ia memikikan kalungnya.

“Gwenchanna. Tapi kau berjanji harus mentraktirku lain kali. Oke?” Yuri tersenyum lembut sambil menupuk ringan bahu Seohyun.

Seohyun mengangguk menyetujui permintaan Yuri.

“Ah! Dan jangan di Bloom & Goute Cafe” lanjutnya dengan wajah ditekuk sedemikian rupa yang sukses membuat Seohyun tertawa.

“Arrasho eonni. Aku akan mentraktirmu di manapun kau mau asal tidak di Bloom & Goute Cafe”

 

-X-

 

Setelah berpisah dengan Yuri, Seohyun berjalan seorang diri menuju cafe langganannya di blok sebelah. Ia kemudian mengeluarkan botol kaca pemberian Yonghwa beberapa waktu yang lalu dan memperhatikannya. Tiap ia teringat akan kalung clovernya yang hilang, maka dengan menatap botol berisi clover rekayasa genenik buatan Yonghwa, perasaannya akan jauh lebih baik.

Tiba-tiba dari arah berlawanan, seseorang tanpa sengaja menabrak tubuhnya yang membuat botol di dalam genggamannya terjatuh. Orang yang menabraknya segera memungut botol itu –yang untungnya tidak pecah- dan menyerahkannya pada Seohyun sambil meminta maaf.

“Maaf. Aku benar-benar tidak sengaja. Aku sedang tergesa” ucapnya sambil membungkuk.

“Aniyo. Aku juga meminta maaf” Seohyun buru-buru ikut membungkuk. Merasa bersalah karena ia juga tidak memperhatikan jalan tadi.

Ternyata yang menabraknya adalah seorang lelaki bertubuh kurus dan tinggi. Lelaki itu lalu segera melanjutkan langkahnya dengan terburu-buru.

Seohyun menghela napas lega. Untunglah botol ini tidak pecah. Entah apa jadinya jika ia juga harus kehilangan benda ini. Ia lalu segera memasukkan botol itu ke dalam saku dan menggenggamnya di dalam sana, seolah melindungi botol itu dari segala macam bahaya dari luar. Botol itu harus ia jaga dan tidak akan ia hilangkan sampai kapanpun.

Di sisi lain, lelaki bertubuh tinggi itu berbalik menatap Seohyun yang berjalan menjauh. Lelaki itu kemudian menyeringai dan berkata, “Seo Joohyun. Sampai sejauh mana aku bisa membiarkanmu? Kau terlalu berbahaya untuk tetap berada di sini”

 

-X-

Bloom & Goute Cafe, Gangnam-gu, Seoul

Pukul 12.20 KST

“Ini pesanan Anda. Satu Linus Smoked Beef dan Hot Americano” ucap seorang pelayan sambil meletakkan pesanannya di atas meja.

“Kyuhyun oppa tidak ada? Aku tidak melihatnya hari ini” Seohyun bertanya kepada pelayan sambil menatap sekeliling.

“Tadi ada. Mungkin pergi dengan tamunya”

“Tamu?” ulang Seohyun sangsi.

Pelayan itu mengangguk membenarkan. “Seorang laki-laki muda. Mungkin seumur dengan Tuan Cho”

Aneh. Sepengetahuannya, Kyuhyun tidak memiliki kenalan selain para pegawai cafe. Karena Kyuhyun pernah berkata bahwa ia baru pindah ke Seoul 8 bulan yang lalu dan tidak ada satupun sanak saudaranya yang berada di kota ini. Lalu siapa tamu yang bertemu dengannya? Apakah itu keluarganya yang datang dari jauh?

 

-X-

Taman Belakang Bloom & Goute Cafe

Pukul 12.25 KST

Di taman belakang yang jauh dari keramaian cafe, Kyuhyun berdiri berhadapan dengan seorang lelaki. Ia tersenyum ramah kepada lelaki itu.

“Ada perlu apa kau ingin bertemu denganku?” tanyanya.

“Membicarakan sesuatu. Ku rasa kau sendiripun sudah tahu apa yang ingin ku bicarakan” jawab lelaki itu.

Kyuhyun memasang wajah polos. “Aku tidak mengerti. Coba kau jelaskan, Jung Yonghwa-sii. Bukankah kita baru bertemu sekali sebelumnya? Kau lelaki yang bersama Seohyun tempo hari bukan? Lalu apa yang ingin kau bicarakan? Kita bahkan tidak saling kenal sebelumnya”

Yonghwa terkekeh ringan mendengar perkataan Kyuhyun. “Aktingmu luar biasa. Ku rasa kau harus mencoba mengikuti casting drama Cho Kyuhyun-sii. Ah! Maaf, maksudku Marcus Cho. Imigran gelap yang tengah menjadi buron sekaligus agen rahasia Korea Utara”

Kyuhyun tertawa geli dengan apa yang baru saja Yonghwa ucapkan. Di sela tawanya ia berkata, “Apa maksudmu Yonghwa-sii? Kau terdengar seperti maniak drama atau penulis naskah yang sedang berhalusinasi oleh dunia khayalmu”

“Begitukah menurutmu?” ucap Yonghwa tenang. “Mungkin kau benar. Karena aku sendiripun tidak memiliki bukti yang cukup kuat”

“Jika kau tidak memiliki cukup bukti, kenapa kau berani menemuiku secara langsung? Kau itu nekat, bodoh, atau nekat yang juga bodoh?” ejek Kyuhyun.

Dengan santai Yonghwa menjawab, “Aku hanya ingin memberi pernyataan perang terbuka denganmu”

Mendengar kalimat Yonghwa, sontak Kyuhyun kembali tertawa. “Kau sungguh orang yang menarik Jung Yonghwa-sii. Ah! Maksudku, agen Jung. Agen yang disebut-sebut sebagai agen terbaik yang dimiliki NIS”

Yonghwa menyeringai. Dengan terlontarnya kalimat Kyuhyun barusan, maka secara tidak langsung ia telah membuka identitas aslinya. “Rupanya kau telah banyak mengumpulkan informasi tentangku, agen Cho. Aku sedikit tersanjung”. Yonghwa membungkukkan kepalanya seolah berterimakasih kepada Kyuhyun. “Tapi aku tidak akan lengah. Seo Joohyun merupakan tanggungjawabku. Jadi jangan coba-coba menyentuhnya” fonem suara Yonghwa tiba-tiba berubah. Penuh penekanan pada tiap kalimatnya.

Kyuhyun terkekeh. “Kau mengancamku? Kau pikir hanya kau satu-satunya yang ditugaskan untuk melindungi Seo Joohyun? Kau pikir ada yang benar dan salah di antara kita?” Kyuhyun berjalan mendekat dan mengetukkan ujung jari telunjuknya di dada Yonghwa. “Kau dan aku sama. Kita sama-sama si brengsek di mata masing-masing lawan” bisiknya pelan.

Kyuhyun mundur beberapa langkah dan kembali berkata, “Perlu kau ketahui, bahwa sejak awal Prof. Seo bekerja dengan Korea Utara. Dan sudah seharusnya formula itu dimiliki oleh Korea Utara. Kau tidak seharusnya ikut campur dalam masalah ini”

“Dan perlu kau ketahui juga bahwa meninggalnya Prof. Seo saat pelariannya berada di dalam wilayah Korea Selatan. Dan mungkin harus ku ingatkan kepadamu, bahwa saat ini Seo Joohyun berstatus warga negara Korea Selatan. Maka dengan begitu, masalah ini jelas-jelas menjadi campur tangan kami” timpal Yonghwa tegas.

“Pelarian?” ulang Kyuhyun. “Jangan mengada-ngada. Kau punya bukti bahwa Prof. Seo meninggal saat pelariannya dari Korea Utara?”

Yonghwa terdiam. Karena baik ia ataupun NIS belum memiliki bukti kuat yang menyatakan bahwa Prof. Seo meninggal dalam pelariannya menyembunyikan Formula itu dari tangan Korea Utara.

“Ku pikir kau pintar. Tapi sepertinya aku salah” ejek Kyuhyun. “Kau mematai Seo Joohyun dengan menaruh micro cam di apartemennya bukan? Kau pikir aku tidak melakukan hal yang sama?”

Yonghwa tersentak dan menatap Kyuhyun tajam. Ia menggertakkan giginya. Tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya membiru. Ia sama sekali tidak berpikir sampai sejauh itu. “Cho Kyuhyun, kau brengsek!!” geramnya.

“Kau juga” ucap Kyuhyun santai. “Kita imbang”

Ketika Kyuhyun hendak pergi meninggalkan Yonghwa, tiba-tiba langkahnya terhenti. Matanya terbelalak kaget dengan wajah pucat pasi. Bibirnya terkatup, seolah mendadak terkunci rapat.

Karena penasaran, Yonghwapun mengikuti arah pandang Kyuhyun dan jantungnya terasa berhenti berdetak begitu melihat pemandangan di depannya.

Seohyun telah berdiri tidak jauh dari mereka, di ambang pintu yang menghubungkan taman belakang dengan cafe. Gadis itu menatap Yonghwa dan Kyuhyun bergantian. Sorot matanya berbeda. Terdapat rasa takut sekaligus curiga yang terpancar di dalamnya.

“Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan dariku?”

 

-X-

Halo readers… Bertemu lagi dengan Part 9. Maaf jika updatenya lama ya…

Kritik dan saran sangat penulis harapkan untuk meningkatkan kemampuan penulis. Akhir kata, selamat membaca…😀

41 thoughts on “Formula X [Memory 9]

  1. Huuuaaaa…. Seohyun mendengar pembicaraan Yonghwa & kyuhyun…
    jangan2 stlah ini seohyun gak mau deket dngan yonghwa lagi… ANDWEEEE !!!!!!

    *eh lupa…
    Thanks for Update author….
    Finally… tiap hari berkunjung.. hr nih bru berbuah hasil .. hahaha
    Please Update ASAP !!!!!!

  2. aaaaa harus diakui part ini sungguh menegangkan. marcus cho? cho kyuhyun? woaaaaa dan laki2 bertubuh tinggi kurus itu si miaterius ituuuu
    aaaaaaa berasa nonton drama. hebatttt bgt ternyata kyuhyun jg sama kaya yong. ini wowww bgt
    ini yongseo blm keliatan moment2nya dan second couple lebih unyuuu *penyegar bgt sih jongyoon ini dr smua scene yg buat senyum2 ya mereka haha

    sumpah sumpah author jjang bgt!! next part smoga makin okee ya.

  3. aaaah akhirnya😀

    udah gak bisa komen lagi deh ama kisahnya jongyoon couple😀
    makin suka tambah suka
    haha

    uwo choi seunghyun nongol(?), jangan jangan yang nabrak seohyun tadiiiiiii!!!!!!!

    /tahan napas/
    seohyung denger semuanya???
    lah nasib yong ntar gimana???

    ahhhh makin penasaran thor :O
    next episode(?)nya di tunggu thor
    semangka~😀

  4. wuuh yonghwa dalam masalah tuh, hhe
    semoga seo nya gg ngejauhin yonghwa.

    jongyoon bikin senyum senyum. tinkah mereka konyol, hhe.
    ditunggu part selanjutnya,🙂

  5. Tambah greget baca cerita ini
    Itu siapa laki-laki yang ditabrak sama Seohyun?
    Terus reaksinya Seohyun habis denger pembicaraannya Yonghwa sama Kyuhyun gimana, ya?
    Penasaran banget

    Oh, thanks for update, authornim
    Part selanjutnya selalu ditunggu

  6. Oh? Udah update rupanyaa.. waaaaa… abang jonghyun godainnya begitu amaaattt.. wahahahaha.
    Konflik makin seru. Kira2 seo marah gak ya pas tahu klo yong sbnrnya mata mata..

  7. Hwaaaaa seohyun tau semuanya, eottokke bagaimana ini, yonghwa kau harus kmbli mndpat kepercayaan hyun.. krn hyun brda dalam bahaya…
    kyu kau sebenrnya siapa? kau org baik atau tidak… thor ini mmbuat penasaran semoga nextnya cepar di publis yah …🙂 FIGHTING

  8. menurutku ada yang kurang nich, melihat sifat dan history yoona, pada waktu jonghyun kissed-pecked yoona, kok perasaan yoona biasa2 aja, kurang dijelasin

  9. ceritanyaa keren..
    aku baru nemu ni ff.. aku baca dari teaser hingga part 9 bikin gregetin deh..
    tapi thor ini masih kedikitan.. panjangin lagi dong thor biar makin seru..
    oh yaa pairing romance yongseonya juga kurang menurutku thor soalnya kan mereka main cast.. masukan aja sihh.. hehhe
    tapi jongyoonnya aku suka aku suka, lucu banget deh mereka..
    hahaha

    ditunggu publishan selanjutnya.. figthing thor (^_^)9

    • Kedikitan ya? Duh maaf, pdhal aku buatnya lama bgt lho…
      Iya nih moment Yongseonya msh dikit krn aku msh fokus sm kasus mereka. Tp nnti pasti ada koq. Udh aku persiapin. Jd tenang aja…🙂
      Terimakasih atas masukkannya…😀

  10. annyeong author. new reader disini^^ maaf commemtnya langsung di part 9…

    Huhu.. Seohyun tau kalo Kyu dan Yonghwa oppa agen rahasia>< tidaakk~

    Btw, ditunggu next chapternya. semoga scene deerburning juga makin seru. Fighting!

  11. Aduh ketauan sama seohyun..hoho
    suka liat moment jongyoon apalagi kalo lagi debat kesannya sweet gt karna debatnya suka lucu..
    Omo apakah kuuhyun sebenernya ga jahat walaupun dr pihak utara? Yang nabrak seohuun itu siapa sih thor?? Yuri termasuk orang yang dicurigai ga sih trs yoona juga bisa aja jadi orang yg msti dicurigai..efek paranoid berlebihan,hahaha!
    Kyuhyun sama yonghwa selain memperebutkan seohyun dlm hhal pekerjaan jangan.jangan juga dalam hal cinta.nih..
    Yehet makin seru lah..
    Next chap mohon cepet dippublish ya.authornim..kkaebsong!!!

  12. Wahh kepingan puzle mulai agak terbentuk, trnyata bner kan itu kyuhyun! Markus cho siapa lg selain cho kyuhyun
    Slain kyu ada jga yg ku curigain si yuri, wlpun partnya ga byk tp yuri terkesan mncurigakan
    Hyun jga perlahan mulai inget ttg formula itu
    Deerburning always wlpun suka brantem tp sllu sweet😉
    Next part sprtinya penuh ktegangan ni, hyun ngedenger pembicaraan yong sama kyu!
    Omo pasti hyun shock berat dh

  13. Waduh….ketahuan m soehyeon trus siapa yg akan dipercaya m seohyeon lagi.aduh..
    Jd bnar kyuhyun adalah utusan korea utara tp aku kira awalnya dia baik….
    Moment deerburning nya lucu amat yah..lanjut thor….mkin deg2an apa yg terjd selanjutnya.

  14. deerburning di part ini bikin kretek2.author tau gak?hari ini aku baru nemu ff ini .dan langsung baca dari part 16,15,14,13,12,11,10,9.dan koment juga,,,meskipun gitu aku puas karena ada deerburning

  15. Waahh kyu sm yong ketahuan seo..
    Yg d mercedes itu seunghyun kaah??waaahh ada seunghyun juga,,tp knp dy jd jahat??!! Jahat gag siih?? Penasaraan… Jongyoon moment sllu bikin ketagihaann…neextt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s