Formula X [Memory 8]

formulax copy

Judul: Formula X [Memory 8]

Main Cast:

Jung Yonghwa CNBlue sebagai Jung Yonghwa

Seo Joohyun SNSD sebagai Seo Joohyun

Other Cast:

Lee Jonghyun CNBlue sebagai Lee Jonghyun

Im Yoona SNSD sebagai Im Yoona

Cho Kyuhyun Super Junior sebagai Cho Kyuhyun

Rating: PG-17

Lenght: Chaptered

Genre: Romance, Action, AU

Teaser – Prolog – Memory 1 – Memory 2 – Memory 3 – Memory 4 – Memory 5 – Memory 6 – Memory 7

Sudah lima belas menit berlalu sejak mereka pergi meninggalkan Bloom & Goute Cafe. Yonghwa masih sibuk mengemudikan VW Beetle kuning milik Seohyun di tengah jalanan kota Seoul yang mulai padat sore ini. Sesekali ia melirik ke samping, tempat Seohyun yang sejak tadi duduk diam. Matanya tak lepas menatap jendela di sampingnya, memperhatikan satu per satu kendaraan yang berjalan melewati mereka.

“Kau baik-baik saja?” tanya Yonghwa memecahkan keheningan di antara mereka.

Seohyun mengangguk pelan tanpa melepaskan tatapannya dari jendela. Seharian ini ia benar-benar terlihat berbeda. Yonghwa tahu betul penyebabnya, namun ia tidak menyangka bahwa hilangnya kalung itu akan berefek begitu besar pada Seohyun.

Sebenarnya banyak hal yang ingin Yonghwa tanyakan pada gadis itu, terlebih mengenai Kyuhyun, si pemilik cafe yang mereka temui beberapa menit lalu. Ia ingin memastikan kecurigaannya terhadap lelaki itu. Memang konyol jika ia mencurigai seseorang hanya karena beberapa luka di wajahnya. Namun intuisinya berkata lain, ada sesuatu dari lelaki itu yang membuatnya curiga, walau ia tidak tahu apa pastinya. Tapi Yonghwa cukup peka, ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal semacam itu pada Seohyun. Ia akan mulai menyelidikinya besok.

“Kau tidak kerja hari ini?”

“Aku mengambil cuti satu hari”

“Kau mengambil cuti?” ulang Yonghwa. “Kalau begitu tidak seharusnya kita pulang sekarang. Bagaimana kalau kita mampir dulu?”

Seohyun memutar kepalanya dan menatap Yonghwa dengan alis menyatu. “Ke mana?”

Yonghwa tersenyum memperlihatkan beberapa gigi ginsulnya yang menawan. “Kau mau ke mana? Anggap saja kau telah mem-bookingku untuk satu hari ini. Aku akan menemani ke manapun kau mau”

Seohyun terlihat berpikir beberapa saat, kemudian ia menjawab. “Ke mana saja. Aku hanya butuh tempat yang tenang”

Yonghwa menangguk mengerti, “Siap. Nona, Seo” ia menjawab dengan aksen Busan yang begitu kentara, membuat Seohyun mau tidak mau menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.

-X-

Hangang River, Banpo Bridge, Seoul

Pukul 16.40 KST

Seohyun memperhatikan sungai Han sambil duduk tenang di atas kap mobil kesayangannya. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk mencari sosok Yonghwa yang sejak lima belas menit lalu pergi untuk membeli minuman.

Sebeskas rasa sedih masih saja menyelimuti dirinya sejak kepulangannya dari pulau Jeju. Setengah nyawanya masih tertinggal di sana, tanpa bisa ia temukan walau sekuat apapun ia berusaha mencari. Namun Seohyun berjanji, keadaan akan kembali seperti semula setelah hari ini berakhir. Ia akan menjadi Seohyun yang sibuk akan pekerjaannya di kantor dan tidak sempat memikirkan tentang kalung itu ataupun sakit kepalanya yang mungkin akan muncul sewaktu-waktu. Setidaknya itu yang ia harapkan.

Ia tersentak begitu menerima rasa dingin yang tiba-tiba dari pipinya. Ia menoleh cepat, dan mendapati Yonghwa telah berada di sampingnya dengan sekaleng kopi dingin yang tertempel ke pipi kanannya.

Seohyun mengambil kaleng kopi itu dari tangan Yonghwa. “Kau membuatku kaget” rajuknya pelan.

Yonghwa terkekeh. “Apa yang kau pikirkan?”. Ia ikut duduk di atas kap mobil bersama Seohyun.

“Justru seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau pikirkan sampai membawaku ke tempat ini?”. Seohyun membuka kaleng kopinya kemudian meminumnya beberapa teguk.

Yonghwa melirik Seohyun dari sudut matanya, kemudian berkata, “Bukankah kau yang memintaku untuk membawa mu ke tempat yang tenang?”

“Dari sekian banyak opsi, kau memilih sungai Han?”

Yonghwa berdecak pelan. “Tsk! Kau ternyata type gadis yang banyak mau ya”.

Seohyun mendengus mendengar perkataan Yonghwa, disusul oleh kekehan pelan dari mulutnya. “Tapi terimakasih. Kau sudah mau menemaniku sepanjang hari ini”

“Tidak masalah. Lagipula kau sudah mentraktirku hari ini”

Yonghwa meletakkan kaleng kopinya pada kap mobil kemudian mengambil sesuatu dari dalam kantong celananya. “Ulurkan tanganmu”

Seohyun menatap Yonghwa dengan kedua alis terangkat. “Apa maksud__”

“Tangan!” potong Yonghwa cepat. Mengabaikan pertanyaan dan tatapan bingung Seohyun.

Akhirnya Seohyun mengulurkan tangannya tanpa mencoba protes lebih lanjut. Dan tepat setelah itu, Yonghwa meletakkan sesuatu di dalam telapak tangannya.

Awalnya Seohyun tidak mengerti dengan maksud Yonghwa memberikan sebuah benda di tangannya itu. Namun setelah berpikir lebih jauh, ia paham. Dan itu berhasil membuatnya tersentuh. Ia kemudian menoleh kepada Yonghwa yang tengah menanti respon darinya.

Dengan mata berkaca-kaca, ia berbisik “Terimakasih. Sungguh, terimakasih”

Mungkin pemberian Yonghwa bukanlah sesuatu yang luar biasa, jika dari sudut pandang orang lain. Namun tidak baginya. Benda yang diberikan Yonghwa padanya adalah sebuah botol kaca kecil berisi daun clover biasa dengan tiga daun yang tumbuh di batangnya. Namun yang membuatnya berbeda adalah, clover berdaun tiga itu secara sengaja ditempelkan satu daun lagi dengan sebuah selotip agar membentuk empat daun clover yang langka, seperti bandul kalung miliknya yang hilang itu.

“Aku tidak berhasil menemukan clover berdaun empat yang langka itu. Maka aku membuat itu untukmu”. Yonghwa menggaruk tengkuknya sambil menjelaskan dengan canggung. “Setidaknya aku berharap, itu bisa membuatmu sedikit lebih tenang. Aku akan mencarikan clover berdaun empat yang asli untukmu. Bersabarlah sampai hari itu tiba dengan daun rekayasa genetik buatanku itu” lanjutnya sambil terkekeh ringan.

Seohyun tersenyum memandang botol kaca itu di dalam tangannya. Mungkin benda itu memang tidak dapat menggantikan kalung clovernya yang hilang, namun usaha Yonghwa untuk melakukan semua ini yang membuat Seohyun menghargainya. Dan ia berjanji, tidak akan menghilangkan benda ini. Ia akan menjaganya dengan baik. Sampai kapanpun.

-X-

Keesokan harinya

Seoul International Hospital

Pukul 10.00 KST

“Mulai besok jadwalkan Tuan Kim untuk terapi rutin setiap hari. Resep yang barusan ku buat sudah dapat diberikan hari ini. Laporkan perkembangan kondisinya padaku 2 x 24 jam ke depan”

Seorang perawat dan beberapa dokter residence dengan serempak mengiyakan instruksinya. Beberapa diantaranya bahkan terlihat mencatat semua instruksi tersebut tanpa satu hal pun yang terlewat.

Yoona tersenyum kepada pasien yang baru saja ia periksa di bangsal rawat inap sebelum beranjak pergi. Itu merupakan pasien rawat inap terakhir yang harus ia periksa kondisinya hari ini.

Yoona kemudian melangkah keluar diikuti oleh perawat bangsal dan beberapa orang residence yang berada di bawah tanggungjawabnya selama mereka melakukan praktek di Rumah Sakit ini. Namun langkahnya terhenti begitu ponsel di dalam sakunya berdering. Sebelum mengangkat ponselnya, ia menyuruh perawat dan para residence untuk pergi lebih dulu.

Sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Dengan ragu, Yoona menjawabnya.

Ini aku Yonghwa” sebuah suara yang tidak terlalu familiar terdengar dari seberang sana.

Yoona refleks menoleh ke sekitar dan mendapati kondisi lorong Rumah Sakit yang sedikit ramai. Ia kemudian berjalan ke ujung lorong untuk mengantisipasi kalau-kalau Yonghwa ingin membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan masalah Seohyun. “Ada apa Yonghwa-sii?” tanyanya sedikit waspada.

Aku akan mengirimkan sebuah alamat rumah padamu. Bisakah kau pergi ke sana sekarang? Ada pasien yang membutuhkan pertolonganmu

Yoona mengernyit mendengar permintaan Yonghwa yang tiba-tiba itu. “Siapa?” tanyanya penasaran.

Kau akan tahu nanti. Tolong cegah ia untuk keluar dari rumah. Ia orang yang sangat keras kepala. Aku mengandalkanmu, Im uisanim

“Tapi__” belum sempat Yoona menyelesaikan kalimatnya, Yonghwa telah memutus sambungan telpon.

Yoona menatap layar ponselnya sambil bersungut-sungut. “Apa semua agen rahasia begitu menyebalkan??”

-X-

Cheongdam-dong, Gangnam-gu, Seoul

Pukul 11.00 KST

Yoona memarkirkan mobilnya persis di depan sebuah rumah di kawasan elite Cheongdam-dong. Ia kemudian turun dari mobil dan memperhatikan rumah dengan pagar setinggi hampir tiga meter di hadapannya. Ia kembali membuka pesan singkat dari Yonghwa beberapa waktu yang lalu yang berisikan sebuah alamat rumah untuk mencocokkan alamat tersebut dengan alamat rumah di hadapannya.

“Benar ini alamatnya” Yoona meyakinkan. Tanpa mau menunggu lebih lama lagi, ia menekan bel rumah mewah itu.

Beberapa saat kemudian, pagar besar berwarna hitam itu terbuka dan muncul seorang wanita paruh baya dengan tubuh yang sedikit gempal dan kulit gelap kecoklatan. Yoona menyapanya ramah.

“Annyeonghaseyo, saya Im Yoona. Beberapa saat yang lalu seorang teman bernama Yonghwa menghubungi saya dan berkata bahwa ada seseorang yang membutuhkan pertolongan medis di rumah ini”

Wanita paruh baya itu mengangguk membenarkan sambil tersenyum ramah, ia kemudian mempersilahkan Yoona untuk masuk ke dalam rumah.

Yoona berjalan mengikuti wanita itu ke arah rumah utama. Saat melewati halaman rumah, Yoona tak henti menatap kagum pemandangan yang jarang sekali ia lihat. Rumah ini memiliki taman yang luas dan tertata indah. Rumput hijau terhampar sejauh mata memandang, deretan pohon rindang di beberapa sudut, dan bunga-bunga berwarna terang menghiasi taman itu. Di tengah-tengah taman bahkan terdapat sebuah air mancur besar dengan ornamen ala Eropa yang memberikan nuansa elegan, tidak ketinggalan kursi-kursi taman berbahan kayu dan jalan setapak yang terbuat dari batu granit. Yonna berpikir, pastilah si pemilik rumah merupakan wanita kaya yang gemar berkebun dan merawat tanaman.

Setelah diantar tepat sampai depan pintu kamar si pemilik rumah, wanita paruh baya itu meninggalkan Yoona tanpa sepatah katapun, membuat Yoona kebingungan dengan apa yang harus dilakukannya. Yoona mengetuk pintu kamar itu dengan ragu, namun beberapa kalipun diketuk ia tidak mendapat jawaban dari dalam. Ia pikir, mungkin si pemilik rumah benar-benar jatuh sakit sehingga tidak dapat turun dari ranjangnya. Akhirnya dengan segala pertimbangan, ia memberanikan diri untuk masuk kamar itu.

“Permisi” Yoona berjalan pelan memasuki kamar super besar itu. Ia sedikit tercengang, kamar ini bahkan jauh lebih luas dari kamar miliknya di rumah, padahal luas kamarnya di rumah dapat dibilang ‘sedikit tidak masuk akal’.

Yoona mengamati sekeliling kamar, dan tidak mendapati seorangpun di dalam kamar itu. Jika tidak ada pasien, lalu untuk apa ia diminta datang kemari? Yoona mulai was-was, sebenarnya apa tujuan Yonghwa memintanya datang tiba-tiba seperti ini? Tunggu!! Sejak awal ia memang telah merasa telepon dari Yonghwa mencurigakan, ditambah wanita paruh baya aneh yang tidak mengeluarkan sepatah katapun saat membawanya kemari. Jangan-jangan ini merupakan jebakan karena ia telah mengetahui rahasia kasus sebesar itu? Apa mereka berusaha menyekapnya di dalam kamar ini?

Yoona mulai terlihat panik dengan segala pemikiran buruk yang terlintas dalam otaknya. Penculikan dengan segala macam siksaan tergambar jelas dalam pikirannya, membuat Yoona bergidik ngeri. Maka dengan cepat, ia segera berbalik dan berjalan ke arah pintu keluar untuk menyelamatkan diri.

Tepat sebelum ia meraih kenop pintu, sebuah suara membuat tubuhnya terlonjak. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Yoona mematung di tempatnya. Belum sempat berbalik, ia telah mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. “Berhenti!!” teriaknya sambil mengangkat kedua tangan ke atas tubuh. “Jangan mendekat!! Aku bisa melaporkanmu atas tindakan kriminal!!”

“Apa maksudmu?”

Langkah kaki itu kini terhenti beberapa meter di belakangnya. Yoona mencoba melihat sosok itu dari sudut matanya namun tidak berhasil. Lantas masih dengan rasa takut yang menyelimuti ditambah dengan rasa penasaran, ia memutar pelan tubuhnya.

“Lee Jonghyun-sii? Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Yoona kaget. “Kau tidak akan menyekapku bukan?” Yoona menatap Jonghyun dengan penuh curiga.

Jonghyun mengernyit. “Justru aku yang seharusnya bertanya, apa yang kau lakukan di dalam kamarku?”

“Hah? Ka-Kamarmu?” Yoona tergagap. Dengan cepat ia mengedarkan tatapannya ke setiap sudut kamar itu. Di detik berikutnya, matanya berhasil menangkap sebuah foto Jonghyun di atas meja di sudut kamar yang seharusnya ia lihat sebelum otaknya mengirimkan pemikiran-pemikiran konyol tadi. Yoona merutuki kebodohannya dalam diam. Benar-benar kejadian memalukan.

“Maaf” gumamnya sambil menunduk malu.

Kedua sudut bibir Jonghyun tertarik ke atas melihat sikap salah tingkah Yoona. Rasanya ia ingin tertawa terbahak-bahak jika mengingat tingkah aneh gadis itu tadi, namun luka di perutnya tidak mengizinkannya untuk melakukan hal itu. Menyebalkan memang, bahkan tertawapun sekarang terasa berat untuknya.

“Apa Yonghwa hyung yang memintamu untuk datang ke sini?”

Yoona mengangguk membenarkan, membuat Jonghyun berdecak kesal. Di saat seperti ini Yonghwa terlihat sangat menyebalkan. Sejak awal ia telah berkata bahwa kondisinya baik-baik saja dan ia rasa ia sudah bisa melanjutkan perkerjaannya. Namun Yonghwa selalu melarang dan berkata bahwa kondisinya belum sepenuhnya pulih dan memintanya untuk tetap istirahat di rumah sampai lukanya benar-benar sembuh. Hari ini sudah masuk 3 hari sejak ia izin kerja. Lalu sampai kapan ia harus terus di rumah? Bisa-bisa ia gila jika menuruti perkataan Yonghwa.

“Pulanglah. Aku ada urusan di luar” Jonghyun berbalik dan mengenakan jas yang telah ia ambil dari dalam lemari pakaiannya saat Yoona masuk tadi.

“Bagaimana kondisi lukamu? Apa sudah baikan?” Yoona berjalan menghampiri Jonghyun. “Buka bajumu. Biar ku lihat lukamu dulu”

Jonghyun menatap Yoona tidak percaya. “Ya! Bagaimana bisa seorang gadis meminta seorang pria membuka baju di dalam kamarnya? Kau sudah gila??”

“Tsk! Aku di sini sebagai dokter. Kau ingat? Dasar playboy berotak mesum” cibir Yoona.

Setelah tarik menarik selama beberapa menit, akhirnya Jonghyun mengalah dan membuka kemejanya agar Yoona dapat memeriksa luka di perutnya. Jonghyun benar-benar tidak habis pikir dengan tindakan gadis itu.

“Ya Tuhan! Kau tidak berobat rutin ya?” Yoona mengeluarkan komentarnya setelah beberapa saat memeriksa luka Jonghyun. “Lihatlah! Lukamu ini sudah infeksi!” lanjutnya panik.

“Aku baik-baik saja”

“Kau tidak boleh keluar rumah” potong Yoona cepat. “Kondisimu tidak baik. Kau juga terlihat pucat. Istirahatlah, aku akan memberikanmu obat”

“Tidak bisa” tolak Jonghyun tegas. Ia buru-buru mengancingkan kembali kemeja dan mengenakan jasnya. “Ada rapat yang tidak bisa ku tinggal”

“Kau bisa meminta izin. Lagipula bukankah Yonghwa-sii telah mengetahui kondisimu? Rekan-rekanmu di NIS juga pasti akan mengerti”

“Apa kau pikir aku hanya bekerja sebagai agen NIS?”

“Memang kau bekerja di tempat lain?” tanya Yoona bingung.

Jonghyun tidak menjawab pertanyaan Yoona, ia justru mengambil tas kerjanya di atas meja dan bersiap pergi.

“Tunggu!” Yoona menahan lengan Jonghyun. “Apakah kau benar-benar harus pergi? Tidak bisakah kau izin dan istirahat sehari lagi?”

Jonghyun menghela napas dan menatap Yoona tajam. “Rapat ini sangat penting. Aku tidak bisa absen kali ini, aku punya tanggung jawab”

Alis Yoona menyatu. Manik matanya menggambarkan kesedihan dan kekhawatiran dalam waktu yang sama.

“Baiklah” setelah beberapa menit berpikir, akhirnya Yoona melepas genggamannya dari lengan Jonghyun. “Tapi dengan satu syarat”

“Syarat?” sebelah alis Jonghyun terangkat. Ia tidak suka mendengar satu kata menyebalkan itu.

“Kau boleh pergi ke luar rumah, tapi dengan satu syarat” Yoona merampas tas kerja Jonghyun, kemudian berkata dengan tegas “Aku ikut bersamamu”.

-X-

Bloom & Goute Cafe, Gangnam-gu, Seoul

Pukul 11.30 KST

Di dalam sebuah mobil, dengan sabar Yonghwa memperhatikan semua gerak gerik Kyuhyun yang tengah sibuk dengan pelanggan cafenya dari jarak yang cukup aman. Lelaki itu memang tidak berbeda dari orang lain pada umumnya bahkan terkesan sangat ramah. Yonghwa baru mulai memata-matai lelaki itu sejak hari ini dan belum banyak informasi yang ia dapatkan. Ia hanya tahu bahwa Kyuhyun memulai usaha cafenya sejak 6 bulan yang lalu, dan ia tidak memiliki informasi lain lebih dari itu.

Seharusnya hal-hal semacam ini merupakan tugas Jonghyun. Lelaki itu bisa diandakan dalam tugas mendapatkan informasi-informasi penting dari target mereka. Namun karena luka yang didapatkannya itu, Yonghwa tidak bisa meminta bantuannya kali ini. Jonghyun butuh istirahat dan mendapatkan perawatan sehingga bisa segera pulih.

Namun Jonghyun cukup keras kepala untuk menuruti semua perkataannya. Ia selalu saja bersikeras untuk kembali bekerja dan menjelaskan bahwa kondisinya telah pulih. Tidak ada orang yang bisa melarang Jonghyun atau bahkan merawatnya jika ia di rumah, karena sampai saat ini Jonghyun hanya tinggal seorang diri di sana. Hanya ada beberapa orang pembantu rumah tangga dan supir yang pastinya tidak bisa sedikitpun menolak perkataan Jonghyun. Maka dari itu Yonghwa meminta Yoona untuk datang ke rumahnya, karena Yonghwa tahu setidaknya Jonghyun tidak dapat melawan gadis itu. Yoona punya ‘kekuatan’ unik yang membuat lelaki playboy itu tidak dapat berkutik di depannya.

Ponsel Yonghwa tiba-tiba berdering. Ia segera mengangkatnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari sosok Kyuhyun di seberang jalan.

“Bagaimana?” tanya Yonghwa to the point.

Aku telah mengecek data kependudukan dan catatan sipil kota Seoul juga menerobos website kepolisian pusat. Tidak didapatkan sedikitpun data seorang bernama Cho Kyuhyun yang kau maksud di sana, Hyung

“Arrasho. Terimakasih, Kwanghee. Aku berhutang padamu”

Yonghwa memutuskan sambungan teleponnya. Beberapa waktu lalu ia meminta Kwanghee untuk mencari data tentang Kyuhyun pada website dinas kependudukan dan juga kepolisian pusat. Namun ternyata dugaannya benar, Cho Kyuhyun sama sekali tidak memiliki data riwayat hidup selama di Seoul. Kecugiaannya makin bertambah. Namun ia tidak ingin terburu-buru, karena jika memang Kyuhyun merupakan salah satu agen mereka maka tidak menutup kemungkinan bahwa ia juga tengah diawasi saat ini. Ia tidak boleh lengah.

-X-

Tidak jauh dari tempat mobil Yonghwa terparkir, sebuah mobil Mersedes Benz berwarna hitam juga tengah terparkir di sana. Seseorang di dalamnya mengawasi seluruh gerak-gerik Yonghwa. Ia memperhatikan Yonghwa yang berada di dalam mobil dan Kyuhyun yang berada di cafe seberang jalan secara bergantian. Kemudian sebuah seringai menghiasi bibirnya.

“Jung Yonghwa, Cho Kyuhyun. Kalian mempersulit pekerjaanku. Lihatlah apa yang bisa ku lalukan untuk kalian”

Ia lalu memasang kacamata hitam di wajahnya dan segera melajukan mobil mewah itu melesat ke tengah jalan ibu kota Seoul siang ini.

-X-

YBS Office. Yeouido, Yeongdeungpo-gu, Seoul

Pukul 12.30 KST

“Selamat siang, Ketua Lee”

Beberapa orang menyambutnya ketika mereka memasuki gedung salah satu stasiun televisi terkenal di Korea Selatan itu. Jonghyun berjalan dengan gaya arogant di depannya, sedangkan Yoona membalas sapaan orang-orang di lobi dengan kikuk di belakang Jonghyun.

Yoona lalu berlari kecil menyamai langkah besar Jonghyun. Sambil memandang sekeliling, ia berbisik, “Jadi benar kau CEO dari YBS?”

Jonghyun menoleh padanya sekilas kemudian memutar kedua bola matanya. Ia sudah cukup bosan menjelaskan hal itu pada gadis ini. Tanpa menjawab pertanyaan Yoona, Jonghyun segera menaiki lift yang memang diperuntukkan khusus untuk dewan direksi di gedung ini. Rapat dewan direksi tinggal 10 menit lagi dan ia tidak ingin datang terlambat sehingga memperburuk citranya di hadapan para petinggi YBS tersebut.

Yoona masih mengekor di belakang Jonghyun. Tepat setelah pintu lift tertutup, Yoona segera menanyakan kondisi lelaki itu. “Bagaimana lukamu? Apa makin terasa sakit?”

“Tidak apa. Aku baik-baik saja” jawab Jonghyun sambil menekan tombol lift menuju lantai 20.

“Tapi wajahmu pucat” Yoona memperhatikan rona wajah Jonghyun dengan khawatir. “Sini biar ku periksa dulu luka__”

“Im Yoona” potong Jonghyun cepat. Ia menatap Yoona lekat-lekat. “Apapun yang terjadi, tolong jangan sampai ada seorangpun yang tahu bahwa aku tengah terluka. Bersikap wajarlah”

Yoona menatap Jonghyun dengan alis bertaut kemudian dengan berat hati, ia mengangguk pelan menyetujui permintaan Jonghyun.

“Tapi tolong, berjanjilah untuk tidak memaksakan dirimu” pintanya pelan yang dijawab dengan anggukan singkat dari Jonghyun.

-X-

Yoona mengetuk-ngetukkan ujung jarinya pada gagang kursi tanpa minat. Sesekali ia melirik jam tangannya dan kembali menghela napas panjang. Sudah hampir dua jam ia melakukan hal serupa berulang kali. Jari tangannya sudah terasa pegal dan pantat serta punggungnya sudah terasa panas duduk dalam posisi yang sama selama dua jam. Dan Jonghyun belum juga keluar dari ruang rapat. Ia benar-benar merasa bosan. Jika tidak memikirkan kondisi lelaki itu, mungkin sudah sejak satu jam lima puluh lima menit yang lalu ia pergi dari ruangan ini.

Ia memang bukan type orang yang senang menunggu. Terlebih lagi menunggu tanpa sedikitpun hiburan seperti ini. Jonghyun memintanya untuk menunggu di dalam ruang kerjanya dengan segelas teh manis dan sepiring macaroons yang sekarang hanya tinggal separuh.

Yoona bangkit dari kursi. Ia menatap sekeliling ruangan yang berdesign klasik itu. Ia sudah mengitari ruangan ini belasan kali tadi dan tidak berhasil mendapatkan satupun hal yang menarik perhatiannya. Hanya ada tumpukan kertas di atas meja kerja dan puluhan buku yang tersusun rapi pada sebuah lemari besar di sisi lain dinding. Jelas sekali, Lee Jonghyun memang benar-benar type pria pekerja keras dan membosankan –jika dilihat dari penataan ruang kerjanya-.

Karena tidak bisa lagi menahan diri, akhirnya Yoona berjalan ke luar ruangan. Ia hanya akan berkeliling sebentar untuk mencari angin segar kemudian kembali lagi ke dalam ruang kerja Tuan Lee Jonghyun yang sangat membosankan itu tepat sebelum lelaki itu selesai dengan rapatnya.

“Apa yang tadi itu pacar ketua Lee?”

Yoona menghentikan langkahnya begitu mendengar percakapan dua orang pegawai di balik tembok. Ia mendekat untuk dapat mendengar lebih jelas pembicaraan kedua orang itu.

“Eyy… tidak mungkin. Kau kan tahu bahwa Ketua Lee memang senang bermain dengan banyak wanita”

“Tapi dari sekian banyak wanita yang pernah berhubungan dengannya, baru kali ini ia membawa seorang wanita ke dalam kantor. Kau ingat?”

“Benar juga. Bahkan saat ia digosipkan tengah dekat dengan sekertaris pribadinya, mereka tidak pernah terlihat akrab di kantor. Mereka hanya bertemu di luar jam kerja”

“Benarkan? Ketua Lee memperlakukan wanita itu dengan berbeda”

“Tapi Ketua Lee itu sangat berhati-hati antara urusan pribadi dan perkejaan. Jadi tidak mungkin ia membawa sembarang wanita ke dalam kantor. Angap saja wanita tadi memang memiliki urusan pekerjaan dengannya. Tidak mungkin Ketua Lee berhubungan serius dengan satu wanita. Kau tahu sendiri sifatnya bukan?”

“Benar, anggap saja seperti itu”

Yoona mencibir mendengar semua pembicaraan antara kedua pegawai itu. Bisa-bisanya mereka menggosipkan atasannya sendiri di dalam kantor. Apa mereka tidak punya cukup pekerjaan yang bisa mereka tangani sampai-sampai memiliki waktu untuk memikirkan urusan pribadi orang lain? Dasar orang-orang kurang kerjaan!!

Yoona berputar dan hendak berjalan kembali ke ruangan Jonghyun. Sepertinya ia lebih memilih untuk menunggu di dalam ruang kerja Jonghyun yang membosankan itu ketimbang mendengar gosip-gosip yang beredar tentang dirinya. Namun tiba-tiba ia teringat akan pembicaraan kedua orang pegawai tadi. Apa benar Jonghyun murni hanya menganggapnya sebagai ‘rekan kerja’? Karena ia telah terlibat jauh dalam kasus ini dan sekaligus telah memproklamirkan diri sebagai dokter pribadinya? Apa karena itu juga Jonghyun memperbolehkannya masuk ke dalam kantor? Bagaimana jika ia tidak pernah terlibat dalam kasus itu? Atau bagaimana jika ia tidak dibutuhkan sebagai dokter? Apa Jonghyun masih akan memperbolehkannya masuk ke dalam kantornya?

Yoona menggelengkan kepalanya cepat. Ia telah berpikir terlampau jauh. Semua karena kedua pegawai kurang kerjaan itu. Tidak dapat dipungkiri bahwa Jonghyun dekat dengannya memang hanya karena memanfaatkan keahliannya sebagai seorang dokter. Ia tidak keberatan dengan semua itu, jadi ia tidak akan berharap lebih. Cukup sampai titik ini, ia tidak ingin kecewa.

-X-

“Rapatnya sudah selesai?” tanya Yoona ketika memasuki ruangan dan mendapati Jonghyun telah berada di dalam.

Jonghyun mengangguk lemah. Ia menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi. Satu dari dua jam rapat ia habiskan dengan berdiri untuk menjelaskan presentasi di depan semua dewan direksi. Kali ini lukanya benar-benar terasa sakit. Sedikit saja bergerak membuatnya merasakan nyeri yang begitu hebat.

Yoona yang melihat wajah Jonghyun yang semakin pucat dan mengeluarkan banyak keringat menyadari adanya sesuatu yang tidak beres. “Apa lukanya sakit lagi?”

Tanpa menunggu lama, Yoona membuka jas Jonghyun untuk memberikannya ruang gerak yang lebih leluasa. Namun begitu berhasil melepaskan jasnya, Yoona melihat darah telah merembes keluar pada kemeja putih yang dikenakan Jonghyun.

“Astaga. Sepertinya lukanya kembali terbuka. Bagaimana ini??” ucap Yoona kalut. Ia sama sekali tidak menyangka jika hal seperti ini akan terjadi. Pastilah Jonghyun terlaku banyak bergerak ketika rapat tadi.

“Di lemari terdapat pakaian ganti. Tolong ambilkan kemeja lain di sana”

Tanpa membantah, Yoona segera berlari menuju lemari yang ditunjuk Jonghyun di sudut ruangan. Ia segera menarik asal salah satu kemeja yang ada di dalamnya.

Sebelum berganti kemeja, Yoona terlebih dahulu mengangganti perban pada luka Jonghyun. Namun perban saja tidak cukup untuk menghentikan darah yang keluar. Secepatnya mereka harus pergi dari kantor sebelum kemeja ganti Jonghyun kembali berubah warna karena darah yang terus keluar sehingga membuat semua orang di sini mengetahui kondisinya.

“Apa kau kuat untuk berjalan?” tanya Yoona yang ragu melihat kondisi Jonghyun.

Jonghyun mengangguk mantap. Dengan napas terengah ia berkata, “Aku bisa. Tapi tolong bantu aku”

Yoona akhirnya melingkarkan kedua tangannya pada lengan Jonghyun untuk membantunya berjalan. Ia harus berhati-hati agar gerakan mereka tidak menimbulkan kecurigaan.

Sejak melangkah keluar ruangan sampai di depan lobby di lantai bawah, Yoona bisa mendengar dengan jelas bisik-bisik para pegawai yang membicarakannya. Semua orang terlihat heboh melihatnya berjalan berpegangan tangan dengan sang CEO. Yoona hanya dapat mengabaikan suara-suara sumbang serta tatapan tajam dari orang-orang itu. Yang terpenting sekarang bukan apa yang orang-orang itu pikirkan, namun apa yang harus ia lakukan untuk memulihkan kondisi Jonghyun yang makin memburuk.

-X-

Apartement Seohyun, Apgujeong-dong

Pukul 00.30 KST

“Appaaaaaa…” suara merdu seorang gadis kecil dengan rambut ekor kuda menggema di dalam telinganya.

“Hyunnie, ini. Kau baca dan kau ingat semua isi di dalamnya. Kau bisa?”

Ia mengambil kertas itu. Sebuah kertas berisikan tulisan yang tak dapat ia mengerti. Buram. Kabur. Semuanya seolah berputar-putar. Ia tidak dapat melihat dengan baik tulisan-tulisan itu.

Deuterium? Ya, ia ingat dengan deuterium. Tapi apa itu deuterium? Tidak tahu. Ia sama sekali tidak mengerti. Pentingkah itu?

Sebuah kata di dalam kertas itu perlahan-lahan terlihat semakin jelas.

Plutonium 240? Apa itu plutorium 240?

“Sudah, appa” gadis kecil itu memberikan kertas tadi kepada seorang pria yang tengah tersenyum kepadanya.

Tunggu! Ia belum selesai membacanya. Tolong perlihatkan sekali lagi kertas itu kepadanya. Ia butuh kertas itu!!

“Gadis pintar” pria tadi tersenyum lembut dan mengelus puncak kepala gadis kecil itu.

Ia juga ikut tersenyum, seolah merasakan sentuhan hangat pria itu di puncak kepalanya. Namun tiba-tiba air matanya mengalir deras membasahi pipi polosnya.

Booooooommmm!!!

Suara memekakkan itu kembali terdengar. Telinganya sakit, kepalanya terasa hampir pecah. Ia menutup telinganya kuat-kuat. Meringkuk menenggelamkan kepalanya diantara kedua lutut. Sakit. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Tolong!!

Hosh! Hosh! Hosh!

Seohyun terbangun dari tidurnya dengan napas putus-putus. Air matanya mengalir deras membasahi kedua pipinya. Keringat dingin keluar di sekujur tubuhnya yang gemetar hebat. Ia turun dari tempat tidurnya dengan limbung. Dengan cepat ia segera mengacak isi laci lemari untuk mencari sesuatu di dalam sana. Bola matanya bergerak liar, jari-jari tangannya bergetar tanpa henti.

Ia tidak berhasil menemukan benda itu. Akhirnya tubuhnya jatuh terduduk pada lantai kamarnya yang dingin. Ia menangis kuat. Sekuat yang ia bisa. Berharap rasa sakit dan takutnya dapat hilang bersamaan dengan keluarnya air mata yang membasahi suluruh wajahnya.

Ia tidak berdaya. Tanpa benda itu, semua sakit ini tidak akan hilang. Sampai kapan rasa sakit ini akan terus menghantuinya? Tidak bisakah seseorang menolongnya??

Masih dengan isakannya yang belum berhenti, Seohyun mengedarkan tatapannya ke seluruh sudut kamar. Rambutnya basah karena keringat, wajah cantiknya terlihat pucat pasi. Tatapannya terhenti pada sebuah botol kaca kecil di atas meja. Dengan segera ia meraih botol itu dan mendekapnya kuat-kuat di depan dada. Berharap benda itu dapat menyerap habis ketakutan dan kesakitan yang ada dalam dirinya.

-X-

Apartement Yonghwa, Apgujeong-dong

Pukul 00.25 KST

Yonghwa kembali meneguk Americano-nya yang mulai mendingin. Matanya tak lepas memandang layar monitor sejak 3 jam yang lalu. Ia masih berusaha mencari data tentang Kyuhyun dari berbagai data kepemerintahan yang dapat ia masuki keamannya.

Data kependudukan hampir di seluruh wilayah di Korea Selatan, bank data alumni beberapa sekolah di Korea Selatan, dan bahkan data imigran-imigran yang memasuki Korea beberapa tahun terakhir, semua telah ia periksa dan hasilnya nihil. Ia tidak dapat menemukan satu identitaspun mengenai Kyuhyun. Hal itu membuat kecurigaan Yonghwa bertambah. Apa mungkin lelaki itu memalsukan identitasnya?

Merasa lelah karena tidak juga mendapatkan hasil, akhirnya Yonghwa mencoba beristirahat sebentar. Ia melepaskan kacamatanya dan menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi. Seakan ingat sesuatu, ia bangkit dan mengambil sebuah monitor kecil di dalam kamarnya.

Ia menghidupkan monitor itu dan tidak lama setelahnya, terlihat gambar Seohyun yang tengah tertidur. Yonghwa tersenyum lega.

Namun senyumnya perlahan memudar begitu melihat gadis itu bergerak gelisah dalam tidurnya.

“Plutonium 240”

Yonghwa membelalakkan matanya begitu mendengar sebuah kata yang secara tidak sadar keluar dari mulut gadis itu. Dengan segera, ia menuliskan kata asing itu di atas selembar kertas. Ia lalu kembali memperhatikan monitor kecil itu. Seohyun telah terbangun dengan kondisi yang jelas-jelas tidak baik. Apa sakit kepala gadis itu kembali kambuh? Lalu apa yang akan terjadi jika tidak ada kalung itu di sisinya?

Seohyun terlihat mencari-cari sesuatu di dalam lemari. Namun setelah itu, ia jatuh tertuduk tak berdaya pada lantai kamar. Gadis itu menangis kuat dengan tubuh gemetar hebat. Yonghwa yang melihatnya merasa ini tidak baik. Ini jauh lebih buruk dari pada saat gadis itu kehilangan kalungnya.

Dengan rasa panik yang mulai menguasai, Yonghwa mencoba menelpon gadis itu. Berharap dengan menjawab teleponnya, kondisi gadis itu dapat segera membaik. Namun panggilan teleponnya sama sekali diabaikan.

Yonghwa yang kalut melihat kondisi Seohyun, akhirnya tanpa pikir panjang berlari keluar apartement dan segera menekan deretan kode pintu apartement gadis itu -yang telah ia ketahui sejak aksi penyusupan yang dilakukannya tempo hari-.

Tanpa salam apalagi persetujuan, ia segera memasuki kamar gadis itu yang berada di sebelah kanan ruang tengah.

“Joohyun-sii” panggil Yonghwa tepat setelah ia berhasil membuka pintu kamar Seohyun.

Yonghwa mendapati Seohyun tengah terisak sambil meringkuk di atas lantai dengan memeluk kedua lututnya. Tangan kanannya menggenggam botol kaca yang ia berikan tempo hari.

“Apa yang terjadi?” Yonghwa berjongkok di hadapan gadis itu. Wajahnya menggambarkan kekhawatiran yang begitu kentara.

Perlahan, Seohyun mengangkat wajahnya. Matanya memerah dengan wajah sepucat mayat. Pandangannya matanya kosong seolah jiwanya telah pergi entah kemana. Napasnya tidak beraturan dan putus-putus. Yonghwa merasa ini sesuatu yang buruk.

“Joohyun-sii?” dengan ragu, Yonghwa menepuk pelan pundak kecil itu.

Seohyun mengerjapkan matanya beberapa saat. Ia menatap Yonghwa lekat-lekat, seolah meneliti setiap garis wajah lelaki itu. Perlahan, Yonghwa bisa melihat kesadaran gadis itu mulai kembali. Sinar matanya menyata dan pola napasnya kembali teratur. Di detik berikutnya, Seohyun menghambur ke dalam pelukan Yonghwa. Yonghwa sendiri hanya dapat  membatu di tempatnya.

Seohyun menenggelamkan wajahnya pada dada lelaki itu. Ia mengeratkan pelukannya, dan dengan pelan berkata, “Terimakasih. Terimakasih telah datang”.

-X-

Hallo readers, apa kabar…

Duh, maaf ya aku lama updatenya. Kemarin-kemarin ini banyak kerjaan jadi sulit sekali untuk dapet waktu buat nulis FF ini.

Sebagai bocoran supaya readers ga bingung, “Seseorang di Mersedes Benz itu bukan Selatan ataupun Utara lho”…😀

Oh iya, sekalian aku mau ucapin Happy 4th Aniv buat CNBLUE… Semoga makin sukses dan jadi TOP of THE WORLD!!! Selalu ditunggu karya-karya kalian yang mengagumkan… :*

dan buat readers, selamat membaca… :))

49 thoughts on “Formula X [Memory 8]

  1. Akhirnya yg ditunggu-tunggu muncul juga. Makasih buat updatenya ya… beneran nih kyu mata2 dr utara? Moga2 jonghyunnya cepet sembuh ya… tambahin jongyoon momentnya dong. Makasih..

  2. Thanks For Update thor…..^_^
    jadi bertanya2… Yonghwa kn tiba2 masuk apart seohyun…
    kira2.. apa jawaban Yonghwa… kalo seohyun tiba2 brtnya bgaimana dia bisa tahu password apart seohyun…
    apa yonghwa akan mengaku ma seohyun???
    *So curiously*
    DeerBurning aww… makin sweet aja dech… hahahaha

    please update asap thor…. kkk~

    BTW.. Congats for CNBLUE & SNSD yg berhasil dpat award d 28th GDA ^__^

  3. aaaaaa kecee bgt ini tulisan author makin lama makin wowwww. suka bgt sikap yong dr awal sampe bagian akhir heroik bgt *cocuiiitu* hehehe
    dan itu jonghyun yoona ga kalah unyu~nya walo hanya sekedar dokter yg membantu pasien. mereka hrs jadian ya author~nim *ngancem mode on* hehehe
    2couple disini unyuuu bgt suka

    dan itu siapa sih pengintai yg d mobil itu??? dan kyu itu siapa??? aduuuh penasaran abis.

    ditunggu bgt kelanjutannya lg. keep writing PAITINGGGG author hihi

  4. seneng banget akhirnya udh update lagi ^^ semakin penasaran nih sm siapa agen dr korutnya dan siapa yg ngawasin yonghwa sm kyu. pokoknya bikin tambah penasaran deh😀 suka juga sama momen2nya yongseo dan deerburning.. ditunggu lanjutannya yaa.. keep writing ^^

  5. makasih author udh update:)..makin seru nih ceritanya,aku berasa nonton drama korea beneren hehe…next chap ditunggu ya.aku penasarang banget nih thorr.Fighting thorr!!!

  6. yeeeeeee akhirnya lanjutannya ada juga… hhhh gomawo thor udh dilanjutin🙂
    aigoo yongseo semakin dekat aja ni🙂
    Yongppa tau aja apa yg buat Jong gx akan ngelawan, tuhkan liat aja Jong klau udh ktmu ma Yoona sifat kras kepalanya akan berubah lbh cair sedikit😀 aigoo Jong sihh bandel tuhkan gara2 gx rutin periksa lukanya lihat sekrg jdi infeksi untung aja Yoona ikut kekntor Jong klau tdk hummm bisa berabe aja tuh…
    Jadi bneran ada lagi org selain kyu? huummm lalu dia siapa klau bukan dri utara maupun selatan? #penasaran
    Yonghwa menerobos masuk kedalam kamar Hyun?😮 gimana ni nnti caranya untuk jelasin ke Hyun cara dia bisa masuk kedalam apartemen Hyun? saking panik + cemes lupa semuanya si Yong… kkkk tapi baguslah berkat Yong dtang Hyun jdi lbh tenang :D…
    thor semangat untuk lanhutinnya🙂 nextnya ditunggu BaNgEt🙂

  7. aaaakhirnya~
    hampir tiap hari gentayangin ini WP dan baru hari ini yang membuahkan hasil(????) hahaha xD

    yongseo makin deket, jongyoon makin anet(?)
    ehehehe

    yah bang haruskah pake selotip itu daun clover nya??
    /di jambak yong/
    oho ada pemain baru rupanya, kalo bukan dari korut atau korsel trus dari mana thor???
    ahhh makin penasaran

    wah yoona kayaknya udah mulai ada rasa nih ama jonghyun
    acie makin suka dah ama ini couple😀

    next part thor
    di tunggu~
    fighting😀

  8. akhirnya yang dah lama ditunggu datang juga.. makadih tuk ff-nya.. tambah moment deerburningnya dong.. coz aq cuman baca yg part-nya mereka aja..

    • wah, sayang bgt cuma baca part deerburning aja. padahal nntinya cerita mereka berempat bakal berkaitan…
      aku ga bisa janji untuk banyakin part deerburning. di part ini aja aku udah ngerasa banyak. soalnya main cast tetep yongseo…

  9. Akhirnya update jg…senengnya…jonghyun sm yoona tambah deket aja, get well soon jongie…makin seru aja nih ada pihak ketiga selain utara selatan yg di mercedes itu…tp jujur aja aq bacanya lbh fokus sm uri jongyoon jd smoga makin banyak jongyoon momentnya.

  10. Aiguuuu akhirnya dteng juga .. knp tbc dsaat lgi seru .. jongyoonn suka bgt liat moment mreka perbnyak thor .
    johyun udahinget kah? Duhh kasian liatnya .next jgn lama2 donk thor

  11. Makasih updatenya, thor…
    Makin sweet aja, nih yongseo sama jongyoonnya
    Makin penasaran juga
    Ini beneran apa gak si kyuhyun mata2 Korut?
    Terus ada pelaku lain lagi?
    Jangan update lama2, authornim, fighting..!

  12. Yeeiy,, makin seru ceritanya😀
    yongseo sama deerburning couple semakin deket aja
    Semangat author buat ff selanjutnya, terima kasih🙂

  13. Author jjang..is the best pokoknya kekecewaanku yang lalu jadi ilang karna cerita yang makin okeh..nyaman deh bacanya.
    Oiy kalo boleh tau km line brp ya,salam kenal ya aq line 89..suka banget sama ff km yg lainnya juga.🙂

  14. Deerburning moment disini byk bgt😄
    Yoona sadar dong khawatir ke jonghyun tuh udh tanda suka loh hahahaha
    Sweet bgt moment mereka ber2
    Yong jga wlpun di part ini ga bgtu byk tp ttp sweet
    Perhatian yong ke hyun itu loh yg bikin senyum2🙂

  15. Jonghyun tambah parah az lukanys…tp rada ikutan kesel sih yg para pekerja blang klo jonghyun itu kpribadianya sangat playboy…..
    Duh…kasian jg m soohyeon yg nggak ad kalungnya sekarangvyg bsa jd pggantinya adlah cm dg adanya yonghwa….

  16. Kalo bkn selatan sm utara lalu siapa yg di mobil mercedes itu?? Apa itu yuri yg mgkin sbnernya gag suka sm seo…tpi kok dy kenal sm yonghwa??
    Aiiisshhh…
    Jongyoon,,,jadi yoona sempet berharap lebih yaa?? Ciieee yg ada rasa sm jong..tpi jong kpn tuuh ada rasa sm yoona??
    Alnjuutt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s