Formula X [Memory 7]

formulax copy

Judul: Formula X [Memory 7]

Main Cast:

Jung Yonghwa CNBlue sebagai Jung Yonghwa

Seo Joohyun SNSD sebagai Seo Joohyun

Other Cast:

Lee Jonghyun CNBlue sebagai Lee Jonghyun

Im Yoona SNSD sebagai Im Yoona

Cho Kyuhyun Super Junior sebagai Cho Kyuhyun

Rating: PG-17

Lenght: Chaptered

Genre: Romance, Action, AU

Teaser – Prolog – Memory 1 – Memory 2 – Memory 3 – Memory 4 – Memory 5 – Memory 6

Kediaman Keluarga Im, Gangnam-gu, Seoul

Pukul 22.30 KST

Dengan susah payah Yoona menyeret kedua kakinya menaiki anak tangga. Bahunya turun, kepalanya tertunduk, dan tangannya terkulai lemah. Begitu berhasil masuk ke dalam kamar, ia melempar tasnya kesembarang tempat dan segera menghempaskan tubuhnya yang tak bertenaga itu ke atas tempat tidur king sizenya yang terasa berpuluh-puluh kali lebih nyaman dari biasa. Ia memejamkan mata sambil memijat pelan ke dua pelipisnya. Ini hari yang begitu panjang. Selain harus memeriksa pasien yang beberapa hari terakhir jumlahnya makin meningkat, ia juga ikut berpartisipasi dalam acara pemeriksaan kesehatan amal bagi pasien di panti jompo hari ini.

Yoona menghela napas panjang. Rasanya seluruh tubuhnya remuk, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia bahkan berniat tidur tanpa mandi atau hanya sekedar berganti pakaian. Seolah melakukan hal itu benar-benar bisa membuat dirinya pingsan kehabisan tenaga.

Baru saja setengah dari kesadarannya menghilang di telan alam mimpi, ketika suara nyaring ponsel kembali menyadarkannya. Yoona bangkit dari tempat tidur sambil bersungut-sungut merutuki si penelepon yang tidak tahu waktu. Diambilnya ponsel layar sentuh di dalam tas yang telah tergeletak tak karuan di lantai kamar.

Yoona melihat nomor si penelepon dan makin kesal ketika mendapati nomor lelaki itu yang tengah menghubunginya di malam hari seperti ini. Benar-benar tidak punya sopan santun.

“Wae??” semburnya galak.

Im Yoona…” Yoona mengernyitkan alisnya. Suara lelaki itu terdengar berbeda. Tidak seperti biasa yang terdengar usil dengan kekehan aneh di awal pembicaraan. Kali ini terdengar sangat lemah dengan napas terputus-putus. “Aku membutuhkanmu sekarang. Apartement Seohyun”.

-Bip-

Dan telepon segera terputus tanpa ada penjelasan lebih lanjut.

Yoona menatap layar ponselnya dengan sebelah alis terangkat. Ada apa ini? Apa lelaki itu mencoba mengerjainya malam-malam seperti ini?

Yoona mencoba menghubungi lelaki itu kembali. Namun beberapa kali dicoba, tidak ada satupun panggilan yang terjawab. Hal itu membuat Yoona merasa ada sesuatu yang sedang terjadi. Dan firasatnya mengatakan, itu bukan sesuatu yang baik.

Dengan cepat, Yoona segera merapihkan isi tasnya yang berserakan dan segera beranjak keluar rumah.

Tepat ketika menuruni anak tangga, sebuah suara menahan langkahnya.

“Kau mau kemana lagi malam-malam seperti ini?” Ibunya berjalan menghampiri sambil menatap heran.

“A-Aku ke apartement Seohyun. Ia membutuhkanku sekarang”

“Seohyun? Kenapa dengannya?” Wajah ibunya mulai terlihat khawatir. Ibunya sudah cukup lama mengenal Seohyun dan sudah menganggap Seohyun layaknya anak sendiri.

“Aniyo, eomma. Tidak seburuk yang kau bayangkan. Aku mungkin tidak akan pulang malam ini. Eomma istirahatlah”. Tanpa menunggu balasan sang ibu, Yoona segera menghambur keluar rumah menuju mobilnya yang terparkir di halaman.

-X-

Apartement Seohyun, Apgujeong-dong

Pukul 23.00 KST

Yoona menekan bel berkali-kali namun tidak ada satupun jawaban dari dalam apartement. Dilihat dari keadaannya, sepertinya apartement Seohyun tengah tidak berpenghuni. Lalu kenapa Jonghyun memintanya datang ke sini? Apa yang terjadi dengan Seohyun? Semua pikiran buruk mengenai kondisi Seohyun melintas di benaknya. Membuatnya merasa cemas setengah mati.

Yoona lalu memperhatikan daerah sekitar, lorong lantai 6 apartement ini sudah sangat sepi. Tidak ada tanda-tanda aktivitas di hampir tengah malam seperti ini.

Tanpa mau menunggu lagi, Yoona mengeluarkan ponselnya dan siap menelepon Seohyun. Namun diurungkan niatnya begitu mengingat bahwa Jonghyunlah yang tadi menghubunginya. Maka ia mencoba menghubungi Jonghyun kembali.

Setelah nada tunggu mengalun untuk beberapa saat, akhirnya telpon itupun dijawab. Tanpa banyak basa-basi, Yoona segera bertanya. “Kau dimana? Apa yang terjadi? Aku sudah tiba di depan apartement Seohyun”

Nomor 607” jawab Jonghyun dengan suara yang sama lemahnya dengan di telepon beberapa menit yang lalu. “Password 258085

-Bip-

Telepon kembali diputus secara sepihak.

Yoona menatap layar ponselnya dengan kerutan di dahi yang makin dalam. Masih tidak mengerti apa sebenarnya maksud dan tujuan lelaki itu.

Akhirnya Yoona menuruti perkataan Jonghyun. Iapun berjalan ke apartement 607 yang berada tepat di samping apartement Seohyun. Dengan sedikit ragu, ia memasukkan kode kunci apartement yang Jonghyun sebutkan tadi. Dan ternyata, pintu apartement benar-benar terbuka.

Yoona mengintip dengan ragu ke dalam sebelum melangkah memasuki apartement. Lampu di dalam menyala, menandakan ada seseorang di dalam apartement.

“Apa ada orang di dalam?” Yoona mulai melangkah masuk sambil mengedarkan tatapan waspada ke seluruh sudut apartement.

Tidak ada sahutan dari dalam. Dan itu membuat Yoona semakin ragu untuk melanjutkan langkahnya ke dalam apartement yang tidak ia ketahui pemiliknya.

Langkahnya terhenti ketika tiba-tiba ia mendengar suara erangan samar-samar dari dalam. Wajah Yoona seketika kaku, napasnya tertahan dan detak jantungnya tiba-tiba berpacu cepat. Ada apa di dalam? Entah kenapa ia takut membayangkan apapun itu. Ini terlalu mengerikan.

Namun rasa penasarannya lebih kuat ketimbang rasa takutnya. Maka ragu-ragu, Yoona merapatkan diri ke dinding dan pelan-pelan kembali melangkah ke dalam apartement itu.

Apa yang dilihatnya ternyata jauh lebih menakutkan dari yang ia bayangkan sejak awal. Ia hampir saja jatuh terduduk jika tidak berpegangan pada dinding terdekat. Jantungnya terasa berhenti berdetak.

Di ruang tengah apartement itu, Lee Jonghyun telah duduk terkulai di lantai dengan wajah sepucat mayat. Napasnya terengah dan putus-putus. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Dan tangan kanannya memegangi perut yang mengeluarkan darah segar tanpa henti. T-shirt abu-abu yang dikenakannya hampir sebagian telah ternodai warna merah darah yang nampak begitu jelas.

Tanpa berpikir panjang, Yoona segera berlari menghampiri lelaki itu. “Ya Tuhan! Lee Jonghyun, kau kenapa? Apa yang terjadi?”

Yoona menatap horor luka pada perut Jonghyun. Dengan perlahan, ia mengangkat tangan Jonghyun dari luka itu dan betapa terkejutnya ia ketika melihat sebuah luka tusukan benda tajam yang cukup dalam pada perut lelaki itu.

Dengan cepat, Yoona segera membuka sweaternya. Ia menekan luka itu dengan sweater agar pendarahan tidak semakin parah.

“Ayo, kita ke Rumah Sakit sekarang” Yoona mencoba mengangkat tubuh Jonghyun dengan tubuh kecilnya, namun Jonghyun menolak.

“Tidak ke Rumah Sakit” jawab Jonghyun lemah.

“Kenapa??” Yoona menatap Jonghyun heran. “Kau harus segera mendapatkan tindakan medis”

Jonghyun menggeleng. “Maka dari itu aku memanggilmu” Ia mengerang lalu menggigit bibir bawahnya. Ia terlihat begitu kesulitan hanya untuk mengucapkan satu kalimat sependek itu. “Lakukan. Pertolongan. Pertamamu. Disini” ucapnya putus-putus.

Yoona menatap Jonghyun dengan alis bertaut. Meniti tiap tetes keringat yang mengalir di wajah pucat lelaki itu.  Matanya menyiratkan ketakutan dan keraguan di waktu yang sama.

“Aku punya alasan. Tolonglah” Jonghyun memohon. Membalas tatapan Yoona.

Entah apa yang terjadi sebenarnya, Yoona tidak tahu. Namun keselamatan lelaki itu yang lebih penting sekarang. Akhirnya dengan berat hati, Yoona menyanggupi permintaan Jonghyun.

Setelah membaringkan Jonghyun di tempat tidur dengan posisi yang benar, Yoonapun kembali turun ke bawah untuk mengambil perlengkapan medisnya di dalam mobil. Untunglah ia belum merapihkan peralatan yang ia bawa ketika melakukan acara amal di panti jompo sore tadi sehingga hampir semua alat medis masih berada di dalam mobilnya.

Beberapa menit kemudian, Yoona kembali dengan semua peralatan medis. Ia lalu mulai mengeluarkan beberapa alat bedah minor seperti scapel, gunting, pinset, klem, needle, benang bedah, dan lain-lain.

Setelah semua dirasa siap, Yoonapun memakai handscoen dan masker untuk memulai pembedahan kecil untuk membersihkan luka, menghentikan pendarahan dan menjahit luka tersebut.

“Aku akan mulai. Kau istirahatlah. Semua akan baik-baik saja” ucap Yoona menenangkan. Ia menyeka keringat yang telah membasahi wajah Jonghyun dengan sebuah handuk kecil.

Jonghyun mengangguk lemah di atas tempat tidur.

Yoona menyuntikkan anastesi lokal pada Jonghyun sebelum memulai operasi. Kemudian ia menggunting kaos Jonghyun untuk mempermudah pekerjaannya. Terlihat luka berbentuk vertical sepanjang 5 cm yang cukup dalam di bagian perut sebelah kanan. Namun sepertinya luka itu tidak sampai mengenai organ vital. Walau begitu, luka tersebut menyebabkan Jonghyun kehilangan banyak darah. Yoona harus segera menghentikan pendarahan sebelum keadaan Jonghyun makin memburuk.

Yoona menarik napas dalam-dalam. Lama tidak melakukan pembedahan minor, ditambah rasa takut yang makin menjadi akan kondisi Jonghyun saat ini membuat kedua tangannya gemetar hebat. Ia harus bisa mengatasi semua ini. Semua pasti baik-baik saja. Yoona yakin akan kemampuannya sebagai seorang dokter.

Setelah hampir 2 jam menangani luka Jonghyun, akhirnya Yoona berhasil menghentikan pendarahan dan menjahit luka tersebut. Yoona menyeka keringat yang membasahi dahinya lalu tersenyum lega. Jonghyun telah terlelap di atas tempat tidur. Sepertinya lelaki itu kelelahan. Yoona tidak habis pikir bagaimana Jonghyun bisa bertahan dengan luka seperti itu selama hampir satu jam. Pasti ia sangat kesakitan. Yoona meringis membayangkannya.

Ia kemudian bangkit dan mulai merapihkan peralatan medisnya. Setelah semua dirasakan beres, Yoona bergegas pergi untuk mengambil satu kantong darah di Bank Darah Rumah Sakit. Lelaki itu telah kehilangan cukup banyak darah dan butuh transfusi untuk memulihkan kondisinya kembali.

-X-

Jejudo Island

Pukul 04.00 KST 

Yonghwa keluar dari hotel dan berjalan mengendap-ngendap bersembunyi di balik kegelapan, berusaha untuk tidak terlihat. Dieratkannya jaket dan topi yang menutupi wajahnya sambil terus membuntuti orang itu ke arah pantai. Sesekali ia memperhatikan keadaan sekitar dengan kewaspadaan tingkat tinggi, meyakinkan bahwa tidak ada orang lain yang sedang mengawasinya.

Ia berhenti beberapa meter dari bibir pantai dan mengawasi orang itu dari jarak aman. Orang itu terlihat berjalan bolak-balik dengan kepala tertunduk. Awalnya Yonghwa mengira ia hanya sekedar menghabiskan waktu di pantai sambil menunggu matahari terbit, namun makin lama gelagat orang itu terlihat makin aneh. Ia berjongkok dan mulai mengais-ngais pasir pantai sambil menangis. Yonghwa mulai merasakan ada yang tidak beres di sana.

Tanpa berpikir panjang, Yonghwa menghampiri pos penjaga pantai terdekat dan meminta salah seorang petugas untuk mengecek kondisi orang itu.

“Bisakah kau menghampiri gadis di sana itu? Sepertinya ia membutuhkan pertolongan” pinta Yonghwa sambil menunjuk Seohyun yang tengah menangis histeris seorang diri di tepi pantai.

-X-

“Ada di sini. Pasti ada di sini!!” Seohyun meyakinkan diri. Matanya terus bergerak liar menyurusi tiap inci pantai berpasir putih itu.

Peluh mulai membasahi keningnya, napasnya putus-putus dan tidak beraturan. Serangan panik mulai menguasai dirinya, membuat seluruh tubuhnya gemetar hebat tak terkendali.

Seohyun lalu berjongkok. Tangannya kini mulai aktif bekerja di antara tumpukan pasir pantai. Angin laut yang dingin dan langit yang masih dibungkus oleh kegelapan malam tidak membuatnya berhenti begitu saja.

“Pasti ada di sini. Aku yakin!” Seohyun kembali meyakinkan dirinya sendiri. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipi polosnya, isakannya mulai menguat, dan penglihatannya mulai terasa berputar-putar dan menggelap.

Ia masih terus mencari. Tangannya yang gemetar masih terus bergerak tanpa arah. Matanya tak lepas mencari benda berkilau itu di tumpukan pasir. Kuku-kuku jarinya mulai kotor dan lecet, namun Seohyun masih belum mau beranjak. Ia tidak dapat bertahan tanpa benda itu. Ia bahkan mungkin tidak bisa hidup tanpa benda itu.

Sebuah tepukan pelan di bahu menghentikan gerakannya. Seorang lelaki paruh baya telah berdiri di hadapannya dengan sebuah senyum ramah dan bersahabat. “Saya penjaga pantai di sini, ada yang bisa saya bantu Nona?” tanyanya sopan.

Seohyun menoleh, pipinya basah dan hidungnya memerah. Tatapan matanya kosong tanpa cahaya.

“Nona?” ulang si penjaga pantai.

Seohyun tidak merespon. Ia justru terduduk lemah di atas pasir. Air matanya tumpah dan isakannya makin kuat. Ia lalu menarik ujung baju lelaki itu.

“Tolong aku” Seohyun berbisik. Suaranya lemah dan serak. Matanya bergerak-gerak cepat ketakutan.

“Apa yang bisa ku bantu?”

“Tolong aku!!!” Seohyun berteriak histeris. Ia menangis sambil menarik-narik ujung baju lelaki itu kuat-kuat.

Rasa takut kembali menyelimutinya. Sudah sejak tengah malam ia mencari kalung Four Clover Leaf itu. Kamar hotelnya telah berantakan tak karuan, semua sudut kamarnya telah ia periksa namun hasilnya nihil. Ia juga telah mencari di sepanjang jalan dari hotel sampai ke pantai ini, namun tidak juga berhasil menemukannya. Dan sekarang hanya pantai ini yang merupakan harapan satu-satunya, namun semua tidak berjalan sesuai harapan. Ia tetap tidak berhasil menemukan kalung itu. Kalung itu merupakan satu-satunya benda berharga miliknya. Kemana lagi ia harus mencari?? Setengah nyawanya terasa pergi bersama dengan hilangnya kalung itu.

-X-

W Shinjeju Hotel, Jeju-do Island

Pukul 05.15 KST

“Ia mencari kalungnya yang hilang. Dan sekarang sudah mulai tenang” Sang penjaga pantai memberikan informasi pada Yonghwa setelah mengantar Seohyun kembali ke dalam kamar hotel.

Yonghwa mengangguk mengerti.

Ia merasa panik luar biasa begitu melihat keadaan Seohyun tadi, namun ia tidak bisa muncul begitu saja di hadapan gadis itu. Akhirnya ia hanya dapat memantau keadaan dari jauh sampai Seohyun dapat diantar kembali ke dalam hotel dengan keadaan lebih tenang.

“Terimakasih atas bantuanmu, Tuan” Yonghwa membungkuk dalam-dalam sebelum lelaki itu pergi.

Yonghwa menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya di dinding lorong hotel. Ia menatap pintu kamar Seohyun yang tertutup di hadapannya lekat-lekat. Ia tahu bahwa kalung itu sangat berharga bagi Seohyun, namun ia tidak menyangka reaksi yang ditunjukkan Seohyun sampai sehisteris itu. Seohyun terlihat kehilangan kendali dirinya. Apa yang akan terjadi jika kalung itu benar-benar tidak bisa ditemukan?

Yonghwa melirik jam tangannya. Ia akan mencoba kembali ke pantai dan mencari kalung itu. Masih ada waktu beberapa jam lagi sampai pesawatnya berangkat. Yonghwa tahu jika kemungkinan untuk menemukan kalung itu sangat kecil, namun setidaknya ia ingin mencoba keberuntungannya.

-X-

Apartement Yonghwa, Apgujeong-dong

Pukul 08.00 KST

Jonghyun mengerjapkan matanya perlahan. Sinar matahari pagi yang menyengat langsung ke dalam retinanya membuat kepalanya terasa pusing tiba-tiba. Ia mengedarkan pandangan dan mendapati dirinya telah berada di atas tempat tidur. Ketika hendak bangkit, ia merasakan nyeri hebat pada perutnya. Iapun mengerang sambil memegang bagian perut sebelah kanan yang terasa begitu sakit.

“Kau belum boleh bangun” sebuah suara lembut tiba-tiba terdengar olehnya.

Yoona telah berdiri di sisi tempat tidur dengan ekspresi khawatir yang begitu kentara. Wajahnya pucat dengan lingkaran hitam yang menghiasi kantung matanya. Gadis itu terlihat kacau.

“Bagaimana kondisimu?”

Jonghyun menatap Yoona sesaat, kemudian terkekeh pelan. “Kau harus lebih memikirkan kondisimu. Kau terlihat kacau, Im uisanim”

Yoona menghela napas lega. Jika lelaki itu sudah bisa mengeluarkan kalimat menyebalkannya seperti biasa, itu pertanda bahwa kondisinya telah membaik.

Yoona mengecek kantong darah yang sudah habis hampir seperempatnya. Lalu ia melakukan pemeriksaan vital sign seperti denyut nadi, kecepatan pernapasan, dan suhu tubuh untuk mengetahui kondisi Jonghyun hari ini.

“Kondisimu makin membaik” jelas Yoona begitu selesai melakukan pemeriksaan.

“Terimakasih. Kali ini aku berhutang nyawa padamu”

Yoona tertawa geli mendengar perkataan Jonghyun. “Maaf Tuan Lee. Tapi aku ini seorang dokter. Jika semua pasienku berpikir sama sepertimu, maka aku sudah menjadi kaya raya dengan hutang-hutang nyawa dari semua pasienku”

Jonghyun terdiam sesaat kemudian mengangguk canggung. “Terimakasih. Ku pikir kau tidak akan datang tadi malam”

“Saat kau menyebut nama Seohyun, aku langsung bergegas meluncur ke sini. Ku pikir Seohyun dalam bahaya”. Yoona mengambil sebuah bantal dan menambahkannya ke bawah kepala Jonghyun untuk meninggikan posisi kepalanya. “Aku sudah memasak bubur. Kau harus makan karena ada obat yang akan ku berikan”.

Yoona pergi keluar kamar, dan tak lama kemudian ia datang dengan membawa semangkuk bubur dan segelas air mineral. Yoona duduk di kursi samping tempat tidur lalu mulai menyendok bubur di dalam mangkuk dan meniupnya sebelum diberikan pada Jonghyun.

“Ini. Aaaa…” Yoona mengarahkan sendok penuh bubur ke mulut lelaki itu.

Jonghyun mendengus dan memutar bola matanya. “Aku tahu kau ingin melakukan adegan-adegan seperti di dalam drama. Tapi dalam kasusku, yang terluka bagian perut, bukan tangan. Kondisi tanganku sehat dan aku masih bisa makan sendiri” Jonghyun mengibas-ngibaskan tangan kanannya yang bebas dari jarum transfusi di depan wajah Yoona.

Yoona mengerucutkan bibir kesal. Ia meletakkan mangkuk bubur di atas meja nakas dan segera beranjak pergi. Jonghyun menatap kepergian gadis itu dengan kerutan di dahi.

“Ya! Berikan mangkuk itu ke tanganku dulu” protes Jonghyun.

“Ambil saja sendiri!” rajuk Yoona dari luar kamar

Jonghyun menghela napas panjang kemudian berdecak. “Tsk! Gadis aneh”.

-X-

“Minumlah. Untuk mempercepat proses penyembuhanmu”. Yoona memberikan beberapa pil ke tangan Jonghyun setelah lelaki itu menyelesaikan sarapan paginya.

Jonghyun mengernyit melihat pil warna-warni dengan berbagai bentuk dan ukuran di dalam telapak tangannya. “Sebanyak ini?” protes Jonghyun. Ia memang bukan type orang yang pilah-pilih dalam meminum obat, namun apakah harus sebanyak ini obat yang ia konsumsi?

“Apa perlu ku jelaskan satu persatu indikasi obat-obat itu? Jika kau keberatan, aku bisa membawamu ke Rumah Sakit untuk konsultasi dengan dokter yang lebih ahli dalam bidang ini”

Jonghyun menghela napas. Perkataan Yoona lebih terdengar seperti ancaman baginya. Ia akhirnya menelan habis seluruh obat-obat itu tanpa protes lebih lanjut.

“Apa kau tidak merasa perlu menjelaskan sesuatu padaku?” tanya Yoona tiba-tiba sambil mengambil gelas Jonghyun yang telah kosong dan meletakkannya pada meja nakas samping tempat tidur.

Jonghyun melirik Yoona dari sudut matanya kemudian menyandarkan tubuhnya pada kepala tempat tidur. “Memang apa yang perlu ku jelaskan?”

Yoona berdecak kesal mendengar pertanyaan Jonghyun yang terkesan menghindar. “Semuanya. Siapa kau? Apa yang terjadi tadi malam? Dan apa hubungannya dengan Seohyun? Ku rasa aku berhak tahu semua itu sekarang”

Wajah Jonghyun tiba-tiba mengeras, ia menatap Yoona tajam. “Kau tahu, pertanyaanmu barusan bisa mengundangmu masuk ke dalam bahaya yang dapat mengancam nyawamu sendiri. Jadi ada baiknya kau tidak perlu tahu apapun”

“Aku akan bertanggung jawab atas keselamatan nyawaku sendiri. Jadi jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi” Yoona bersikeras. Ia tidak peduli akan apapun bahaya yang Jonghyun sebutkan tadi. Ia sudah terlanjur ikut campur dalam masalah ini, jadi ia tidak keberatan untuk melibatkan diri lebih jauh jika itu memang dapat berguna bagi keselamatan Seohyun.

Selama beberapa detik, mereka saling bertatapan. Yoona masih bertahan dengan rasa ingin tahunya yang berbahaya, sedangkan Jonghyun masih bertahan untuk tidak membocorkan semua masalah ini kepada Yoona.

Jonghyun akhirnya menghela napas panjang. Ia mengusap pelan wajahnya yang masih terlihat pucat. “Baiklah. Aku akan menjelaskan semuanya padamu”.

Jonghyun tidak tahu apakah keputusannya ini akan berakibat baik atau buruk. Namun ia merasa Yoona memang perlu mengetahui semua masalah ini, karena nantinya Yoona mungkin dapat banyak membantu mereka.

Yoona tersenyum senang mendengar keputusan Jonghyun.

“Namun aku punya dua syarat yang harus kau patuhi” lanjut Jonghyun yang membuat senyum di wajah Yoona perlahan memudar.

“Apa itu?”

“Pertama, kau harus berjanji tidak akan menceritakan hal ini kepada siapapun, sekalipun itu kepada Seohyun. Kedua, kau harus bisa melindungi dirimu sendiri. Kami tidak bertanggung jawab atas keselamatanmu, karena kau bukanlah bagian dari misi kami”

Yoona terdiam sesaat, berpikir. Dan akhirnya ia mengangguk menyanggupi semua syarat yang Jonghyun sebutkan.

Jonghyun berdeham sebelum memulai penjelasan panjangnya. “Aku adalah agent NIS yang ditugaskan melindungi Seohyun dari agent Korea Utara yang menginginkan Formula Nuklir berdaya ledak tinggi yang berada dalam ingatan Seohyun”

Yoona tercengang mendengar satu kalimat pembuka mengenai agent NIS, Korea Utara, dan Reaktor nuklir yang baru saja Jonghyun lontarkan. Rasanya ia hampir saja tidak percaya jika Jonghyun tidak segera menjelaskan lebih lanjut mengenai misinya dan latar belakang perkerjaan ayah Seohyun yang merupakan peneliti nulir di Korea Utara. Semuanya hampir terasa tidak nyata dan tidak masuk akal. Yoona membayangkannya seperti sebuah film action yang ia tonton di televisi setiap hari.

Jonghyun menyelesaikan penjelasannya setelah hampir setengah jam berbicara panjang lebar. Ditatapnya Yoona yang tidak bersuara sedikitpun sejak tadi.

“Bagaimana menurutmu?”

Yoona hanya menatap Jonghyun tanpa berkedip.

Jonghyun tahu bahwa Yoona baru saja terserang shock mendadak mengenai informasi yang ia terima. Jonghyun lalu terkekeh pelan dan menyentil dahi gadis itu untuk membuatnya kembali tersadar.

“Apa aku terlihat lebih mempesona setelah kau tahu bahwa aku seorang agent NIS?” godanya untuk mencairkan suasana.

Yoona mengerjap cepat setelah mendengar perkataan Jonghyun, seolah ia ditarik paksa dari alam bawah sadarnya.

“Hah! Yang benar saja” protes Yoona sambil menatap Jonghyun tidak suka.

Ia merasa shock, tentu saja. Siapa yang tidak akan shock ketika mengetahui kebenaran segila ini? Ia tidak mengira jika Seohyun terlibat dalam masalah sepelik ini. Masalah ini bahkan menyangkut keamanan kedua belah negara dan merupakan kasus rahasia pemerintah.

Yoona memang tidak mengetahui masa lalu Seohyun terlebih sebelum kecelakaan yang menimpa Seohyun 16 tahun yang lalu. Ia tidak pernah tahu bahwa ayah Seohyun merupakan seorang peneliti nuklir di Korea Utara. Ia juga tidak pernah tahu bahwa ingatan Seohyun berhubungan dengan formula rahasia yang diperebutkan kedua belah negara. Ini semua benar-benar jauh dari perkiraannya di awal. Seohyun jelas-jelas dalam bahaya besar sekarang.

“Lalu dimana Seohyun sekarang? Ia tidak ada di apartementnya tadi malam” Yoona panik begitu menyadari ketidak beradaan Seohyun.

“Ia pergi ke pulau Jeju dua hari yang lalu”

“Sendirian? Bagaimana jika orang-orang itu mengikutinya? Kenapa kau bisa-bisanya membiarkan ia pergi tanpa penjagaan?”

“Tenanglah. Kau pikir aku bekerja sendiri?” Jonghyun mengubah posisi bantalnya dan mulai berbaring. Lukanya kembali terasa nyeri sehingga ia tidak dapat bertahan dalam posisi duduk lebih lama.

“Jadi ada agent lain yang bersama Seohyun saat ini?”

Jonghyun memejamkan matanya dan mengangguk pelan.

Yoona yang melihat perubahan warna wajah Jonghyun yang semakin pucat, akhirnya mulai memeriksa kondisi lelaki itu. “Apa lukanya kembali terasa sakit? Kurasa kau perlu ke Rumah Sakit sekarang” ucapnya cemas.

“Tidak ke Rumah Sakit” tolak Jonghyun tegas. Terlalu berbahaya baginya jika ia dirawat di Rumah Sakit dengan riwayat luka tusukan benda tajam. Itu akan membuat orang-orang curiga. “Nanti setelah rekanku datang, aku akan pergi ke Pusat Kesehatan di NIS Office. Tugasku belum selesai sampai ia tiba di sini”.

Yoona menatap punggung Jonghyun yang membelakanginya dengan alis bertaut. Ia tau bahwa kondisi Jonghyun tidak baik, namun lelaki itu masih saja keras kepala dan bersikeras loyal pada pekerjaannya.

“Kau pulang dan beristirahatlah. Terimakasih untuk bantuanmu hari ini. Kau bahkan sampai tidak masuk kerja karena aku”

“Aku akan pulang setelah rekanmu datang. Tugasku belum selesai sampai ia tiba di sini” Yoona membalikkan semua perkataan Jonghyun.

Tentu saja ia lelah. Semalaman ia tidak tidur dan terus memonitor kondisi Jonghyun. Badannya terasa hampir remuk dan penampilannya pasti sangat kacau. Ia juga harus libur dari pekerjaannya karena tidak mungkin meninggalkan Jonghyun sendirian dalam kondisi seperti ini. Setidaknya ia harus memastikan bahwa akan ada orang yang bisa menjaganya setelah ia pergi nanti.

-X-

Apartement Yonghwa, Apgujeong-dong

Pukul 11.00 KST

Yonghwa menekan kode pintu apartementnya dan segera masuk begitu pintu berhasil terbuka.

“Jonghyun-ah, kau masih di sini?” panggilnya begitu masuk ke dalam apartement.

Tidak ada jawaban, maka Yonghwa berpikir mungkin lelaki itu telah pulang. Ia lalu meletakkan kopernya di sudut ruangan dan berjalan memasuki kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.

Begitu memasuki kamar, Yonghwa dikejutkan oleh pemandangan langka yang membuat matanya terbelalak. Ia mendapati Jonghyun tengah terlelap di atas ranjangnya dan seorang gadis yang tidak ia ketahui juga tengah terlelap di atas kursi di samping ranjang. Apa yang terjadi? Apa yang mereka lakukan di dalam kamarnya?

Yonghwa mengamati seluruh isi kamar dan mendapati pemandangan tidak biasa di sana. Ada sebuah kantong darah yang tergantung dan tersambung melalui selang ke tubuh Jonghyun dan beberapa kotak obat serta perban yang terletak di atas meja. Ia lalu berjalan mendekat, hendak menganalisis lebih jauh apa yang telah terjadi dengan Jonghyun, gadis itu, serta kamarnya.

Yonghwa tersentak ketika mendapati gadis yang tengah tertidur di kursi itu menggeliat tiba-tiba. Gadis itu terjaga lalu mengerjap-ngerjapkan matanya sambil memandang sekeliling dengan kesadaran yang belum penuh. Tatapannya terhenti tepat di tempat Yonghwa berdiri. Yonghwa terpaku sambil menahan napas, ia seperti seorang pencuri yang kedapatan mengendap-ngendap di dalam rumah seseorang.

“Siapa kau??” sembur gadis itu ketika mendapati orang asing masuk ke dalam kamar.

“Oh? Im uisanim?” Yonghwa menunjuk wajah gadis itu dengan ekspresi kaget yang tidak dapat ditutupi.

Yoona mengerjapkan matanya kemudian menatap Yonghwa dari atas ke bawah. “Kau__” ucapnya tertahan sambil berpikir cepat. Sepertinya ia pernah melihat lelaki itu sebelumnya. “Lelaki yang pernah ke Rumah Sakit bersama Seohyun bukan?”

Yonghwa mengangguk membenarkan.

“Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Yoona bingung.

“Ini apartementku” Yonghwa menjawab jujur.

Yoona lalu menatap Yonghwa dan Jonghyun yang masih terlelap di atas tempat tidur secara bergantian. “Jadi kau agent rahasia yang bersama dengan Jonghyun??”

Yonghwa mengatupkan rahangnya kuat-kuat begitu mendengar pertanyaan Yoona. Matanya terbelalak dan wajahnya tiba-tiba mengeras. Ia menatap Yoona lekat tanpa berkedip. Kenapa gadis ini bisa tahu identitasnya? Apakah gadis itu merupakan mata-mata Korea Utara yang telah melakukan penyelidikan terhadap mereka?

Tepat saat itu, sebuah suara berkata. “Ia sudah tahu identitas kita hyung. Aku yang memberitahunya”

Ternyata Jonghyun telah terbangun dan mencoba untuk bangkit. Yoona segera membantu lelaki itu untuk duduk bersandar pada kepala tempat tidur.

Yonghwa beralih menatap Jonghyun. Tatapannya terkesan mengintimidasi, meminta penjelasan lebih lanjut mengenai kalimat yang baru saja dilontarkan lelaki itu. Jonghyun yang mengerti akan maksud Yonghwa akhirnya meminta Yoona untuk meninggalkan mereka berdua. Ia perlu bicara empat mata dengan Yonghwa untuk menjelaskan semua masalah ini.

Tepat ketika Yoona keluar kamar, Yonghwa segera menyembur Jonghyun dengan deretan pertanyaan. “Kenapa dokter itu bisa tahu identitas kita? Apa yang terjadi? Apa kau tidak berpikir bahwa hal itu dapat membahayakannya? Apa kau sudah gila?”

Jonghyun meringis. Mendengar deretan pertanyaan Yonghwa, membuat lukanya kembali terasa nyeri.

“Apa aku sudah boleh bicara?” tanya Jonghyun begitu Yonghwa selesai dengan seluruh pertanyaannya.

Yonghwa mengangguk lalu mendudukkan diri pada kursi di samping tempat tidur. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, siap mendengarkan penjelasan Jonghyun.

“Tadi malam salah satu dari mereka kembali menyelinap ke dalam apartement Seohyun”

Yonghwa yang semula memasang wajah tidak bersahabat, tiba-tiba telihat terkejut dengan penjelasan Jonghyun.

“Aku sempat menghadangnya. Namun begitu aku lengah, ia memberi luka ini padaku” Jonghyun memperlihatkan luka di perutnya yang telah terbalut perban pada Yonghwa. “Lukanya cukup dalam. Dan aku tidak bisa pergi ke Rumah Sakit umum dengan luka tusukan benda tajam seperti ini, aku juga tidak mungkin pergi ke pusat kesehatan NIS malam itu. Kondisiku tidak memungkinkan. Akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi dokter itu untuk memberikan pertolongan pertama padaku, dengan konsekuensi ia akan mengetahui semua masalah ini”

“Kau bisa berbohong. Banyak alasan yang bisa kau buat agar gadis itu tidak curiga” protes Yonghwa. Ia masih belum bisa menerima alasan Jonghyun sampai lelaki itu harus membocorkan misi mereka yang harus dijaga kerahasiannya.

“Untuk apa aku berbohong? Kau juga tahu hyung, bahwa pada akhirnya, cepat atau lambat gadis itu juga akan ikut terlibat dalam kasus ini. Agent Korea Utara pasti akan menemuinya untuk mencari informasi tentang kondisi Seohyun, sama seperti yang kita lakukan. Dan jika itu terjadi, setidaknya ia sudah bisa mengantisipasi diri. Ia tahu apa yang harus ia lakukan, dan pada siapa ia berpihak”

Yonghwa terdiam mendengar semua penjelasan Jonghyun. Setengah dirinya telah sutuju akan pendapat Jonghyun tentang posisi dokter itu yang bisa banyak membantu mereka jika ia tahu masalah sebenarnya. Di sisi lain, ia masih tidak bisa mentolerir bentuk pelanggaran yang telah Jonghyun lakukan.

“Baiklah” dengan segala pertimbangan, akhirnya Yonghwa setuju. Ia kemudian mengusap pelan wajahnya. “Tapi bagaimana dengan keselamatan gadis itu? Siapa yang akan bertanggung jawab jika sesuatu yang buruk terjadi padanya karena misi kita ini?”

“Aku yang akan bertanggung jawab penuh mengenai keselamatannya” jawab Jonghyun yakin. Walaupun ia sudah membuat perjanjian dengan Yoona sejak awal, namun tetap saja ialah orang yang telah membuat gadis itu terlibat lebih jauh dalam kasus ini. Maka ia akan bertanggung jawab penuh pada keselamatan gadis itu.

Yonghwa mengangguk mengerti. Tatapannya kemudian beralih pada luka Jonghyun. “Apa kau melihat wajah orang itu?”

“Tidak” Jonghyun menggeleng pelan. “Saat itu sudah tengah malam dan kondisi pencahayaan sangat kurang. Aku tidak berhasil melihat wajahnya dengan jelas, namun yang pasti aku berhasil membuat beberapa luka di daerah pelipis serta sudut bibirnya”

“Ah… Ternyata mereka lebih kuat dari yang ku perkirakan” gumam Yonghwa sambil menyandarkan tubuh pada punggung kursi dan memijat pelipisnya. “Lalu apa yang mereka cari di apartement Seohyun?”

“Catatan harian” jawab Jonghyun yakin. “Aku berhasil merebutnya sebelum ia membawa pergi buku itu” Jonghyun menunjuk laci meja dengan dagunya sebagai isyarat pada Yonghwa.

Yonghwa membuka laci dan mendapati sebuah buku diary bersampul coklat di dalamnya. Ia mengambilnya dan segera membuka buku itu sekilas kemudian bertanya dengan antusias, “Apa ada petunjuk di dalamnya?”

“Tidak ada”

Yonghwa menghela napas panjang dan kembali bersandar pada punggung kursi. Begitu banyak kejadian mengejutkan hari ini, namun tak ada satupun kabar baik yang ia terima.

“Aku juga punya kabar dari pulau Jeju. Tapi ku rasa, dokter Im perlu mendengar juga kabar ini” ucap Yonghwa.

Ia lalu berjalan keluar kamar dan memanggil Yoona untuk bergabung bersama mereka. Yoona masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi tempat tidur dengan sedikit canggung, sedangkan Yonghwa kembali duduk di kursi.

“Langsung saja” ucap Yonghwa tanpa basa-basi. “Joohyun kehilangan kalungnya di pulau Jeju”

“Hah?” tanya Yoona kaget. “Kalung Four Clover Leaf itu? Bagaimana bisa? Itu benda yang sangat penting”

“Aku juga tidak tahu kapan dan bagaimana kalung itu hilang. Aku sudah berusaha mencarinya tapi tidak berhasil. Kondisi Joohyun terlihat buruk setelah mengetahui kalung itu hilang. Apa kalung itu sangat penting baginya?” tanya Yonghwa pada Yoona.

“Tentu saja penting. Selain kalung itu merupakan benda satu-satunya yang ia miliki sejak terjadinya kecelakaan itu, kalung itu juga seperti obat penenang baginya. Ketika sakit kepalanya kambuh, kalung itu yang bisa menenangkannya. Obat yang kuberikan sekalipun bahkan tidak berpengaruh. Mungkin terdengar tidak masuk akal, tapi mungkin itu merupakan sugesti yang Seohyun buat sendiri sebagai benteng pelindung baginya”

“Jadi maksudmu, jika kalung itu tidak ada, maka sakit kepala Seohyun mungkin tidak akan bisa diredakan?” tanya Jonghyun dengan napas putus-putus menahan sakit.

“Mungkin” Yoona mengangguk ragu. Ia lalu menatap cemas Jonghyun yang terlihat semakin pucat. “Bisakah kita menghentikan pembicaraan ini sekarang? Kita bisa melanjutkannya lain waktu. Kau butuh pertolongan lebih lanjut di Rumah Sakit”

Yonghwa mengangguk setuju dengan saran Yoona. Ia lalu bangkit berdiri dan menghampiri Jonghyun. “Kita ke NIS Office sekarang. Kondisimu terlihat tidak baik”

-X-

Keesokkan harinya

Apartement Yonghwa, Apgujeong-dong

Pukul 11.30 KST

Ting – Tong

Yonghwa menghentikan kegiatannya membaca koran dan segera bangkit untuk membukakan pintu apartement.

“Oh? Joohyun-sii?”

Seohyun telah berdiri di ambang pintu dengan sebuah senyum simpul yang menawan. Penampilannya terlihat rapi dengan cardigan rajutan berwarna pastel dan jeans hitam. Tanpa basa-basi, ia segera bertanya pada Yonghwa, “Kau ada waktu kosong hari ini? Bisa menemaniku keluar?”

Yonghwa mengangkat kedua alisnya. Jika ia tidak salah ingat, sekarang adalah hari Kamis, namun kenapa gadis itu tidak pergi bekerja? Ia hendak menanyakan hal itu, namun diurungkan ketika melihat Seohyun tengah menatapnya lekat dengan kedua bola mata bulatnya, menunggu jawaban.

“Baiklah. Tunggu sebentar” Yonghwapun kembali masuk ke dalam apartement untuk berganti pakaian. Ia masih punya banyak waktu untuk menanyakan perihal itu nanti.

-X-

Myeong-dong Market

Pukul 13.00 KST

Sudah sejak 30 menit yang lalu mereka berjalan di tengah pasar Myeongdong yang tidak terlalu padat hari ini. Seohyun mengajaknya ke tempat ini dengan alasan ingin mencari sesuatu. Namun sejak tadi belum ada satu bendapun yang dibeli gadis itu. Ia hanya sibuk melihat-lihat dan sesekali menghampiri beberapa toko. Namun belum sempat sang pemilik toko menawarkan barang dagangannya, gadis itu sudah terlanjur pergi tanpa bertanya sedikitpun.

Yonghwa sendiri hanya berjalan mengikutinya dalam diam seperti sebuah bayangan. Ia tidak bertanya ataupun protes pada tingkah laku Seohyun yang terlihat impulsif dan tanpa tujuan, walau sebenarnya dalam hati ia penasaran setengah mati dengan benda yang dicari gadis itu.

Setelah berputar-putar hampir satu jam di tempat ini, Seohyun kembali menghampiri sebuah toko yang cukup besar di dekat persimpangan. Entah itu sudah toko keberapa yang dimasuki gadis itu siang ini.

Awalnya gadis itu hanya melihat-lihat perhiasan yang dipajang di etalase depan. Yonghwa hanya menunggu di luar toko, karena ia kira gadis itu akan kembali pergi tanpa mencoba bertanya seperti yang sudah-sudah. Namun kali ini gadis itu tidak segera pergi, melainkan menghampiri pemilik toko dan bertanya padanya.

“Apa kau memiliki sebuah kalung berbentuk empat daun clover?”

Yonghwa mengangkat wajahnya begitu mendengar pertanyaan gadis itu. Jadi sejak awal gadis itu berusaha mencari kalung yang sama dengan miliknya yang hilang. Yonghwa lalu memperhatikan wajah Seohyun, entah apa ia yang tidak peka sejak tadi, namun ia baru melihat bahwa mata gadis itu memerah dan berkaca-kaca begitu berbicara pada sang pemilik toko.

Tidak lama setelah itu, gadis itu berjalan keluar toko. Bahunya turun dan wajahnya tertunduk lesu. Yonghwa menghampiri kemudian menepuk pelan pundaknya. Seohyun buru-buru mengusap wajahnya dan tersenyum pada Yonghwa.

“Sudah siang. Bagaimana jika kita makan siang? Aku yang traktir” tawar Seohyun dengan suara yang dibuat-buat ceria. “Aku tahu tempat makan yang enak”

-X-

Bloom & Goute Cafe, Gangnam-gu, Seoul

Pukul 14.00 KST

Yonghwa memperhatikan Seohyun dari seberang meja dalam diam. Gadis itu bertopang dagu sambil menatap kosong ke luar jendela. Wajahnya datar, tanpa ekspresi. Ia terlihat seperti raga kosong yang ditinggal pergi jiwanya.

“Kenapa kau mencari kalung daun clover tadi?” Yonghwa akhirnya membuka percakapan setelah lama terdiam.

Seohyun terlihat tersentak dengan suara tiba-tiba Yonghwa, kemudian menoleh. “Kalungku hilang” jawabnya singkat.

“Kalung ‘itu’? Hilang?” Yonghwa bertanya seolah tidak tahu masalahnya.

Seohyun mengangguk. “Kupikir dengan mendapatkan penggantinya yang sama persis, bisa membuatku sedikit lebih tenang. Namun sepertinya aku salah. Walaupun aku berhasil menemukan kalung yang sama persis dengan aslinya, pada kenyataannya itu tidak akan sama. Itu tetap tidak akan menjadi kalungku. Kalung milikku yang menyimpan ribuan kenangan berharga sejak aku masih kecil”

“Seberharga itukah kalung itu bagimu?”

“Kalung itu satu-satunya benda berharga yang ku miliki. Kalung itulah satu-satunya benda yang menghubungkanku dengan masa lalu”. Seohyun menarik napas panjang. Urat matanya mulai memerah dan terasa panas. Ia merasa sangat bersalah telah menghilangkan kalung itu. Ia menyesal tidak bisa menjaga kalung itu dengan baik.

Tepat ketika suasana canggung mulai melingkupi mereka, seseorang datang dengan membawa nampan berisi pesanan makan siang mereka.

“Pesananmu, Nona Seo” ucap Kyuhyun sambil meletakkan pesanannya di atas meja.

“Terimakasih, Kyuhyun oppa” Seohyun tersenyum pada Kyuhyun. “Oh! Kenapa dengan wajahmu?” Seohyun menatap wajah Kyuhyun kaget.

Kyuhyun menyentuh wajahnya dan tersenyum canggung. “Aku terlibat perkelahian dengan beberapa orang kemarin malam. Tenang saja, ini tidak terlalu parah”

Yonghwa memperhatikan beberapa luka di wajah lelaki itu. Matanya terbelalak begitu mengingat perkataan Jonghyun tempo hari.

Aku tidak berhasil melihat wajahnya dengan jelas, namun yang pasti aku berhasil membuat beberapa luka di daerah pelipis serta sudut bibirnya

-X-

36 thoughts on “Formula X [Memory 7]

  1. nah loo, jangan-jangan kyuhyun agent korut-nya,
    yoona jadi terlibat, semoga gg ada agen korut yang ganggu yoona, hhe

    ditunggu chapter selanjutnya author,🙂

  2. thanks for update thorrrr …. !!!!!!
    Nah Loooo….. beneran nihhh si kyu agent korut..???
    btw btw…. JongYoon Sweet Bangetzzzz >_<
    authornim update ASAP!!!!!!!

  3. kyuhyuuuuuuuuun si pencuri yg berkelahi dengan jonghyun itu yaaaaa mulailah terkuak. hyaaaat!!!
    bayangin kalutnya seohyun kehilangan kalung itu jd sedih. yong pasti stress jg.
    part ini makin greget ma misi korut itu. kasian hyun nasibnya gak tenang mulu. yong jaga hyun ya
    dan jonghyun akan bertanggung jawab penuh dgn keselamatan yoona *ahaaaaideeeh. kenapa aku lebih excited ma deerburning mulu ya hehe.

  4. Wah jadi kyuhyun agen korut,kira2 yuri agen korut jg bkn ya,semoga bkn kadian seohyun masa semua temannya agen korut semua kecuali yoona tentu saja

  5. aihhhhh
    makin demen aja liat jonghyun ama yoona deketan begitu.
    yoona udah mulai terlibat nih sama masalah yang sebenarnya(??)
    makin menarik thorr

    ding dong deng
    benerkan dugaanku thor, kyu pasti agen korut.
    wahhh jadi makin seru thor, makin penasaran ama tindakan yong ke kyu nantinya
    dan tentunya moment jongyoon juga thor jangan lupa, ehhahahaha

    semangat thor :))

  6. akhirnya di update jg!
    makin seru ceritanya.. lanjut thor.
    aaa jongyoon omg omg😄
    aku bakal check blog ini tiap hari. jangan lama2 ya thor wkkwwk

  7. Huahhh trnyta bner klo kyu itu pnjhatnya .bner kan thor huaduhh musuh dlam slimit tuh
    sneng bgt aa moment jongyoon dsni .malasih thor .
    aku sering bgt ksini thor buat liat dah dilnjut blum nih ff .tryta blum trs next jgan lama2 yh thor .pnsaran juga itu kalung bisa ilang kmna

  8. hhuuuuuaaa…. ReRead again…
    habis dpat morning shock dengan berita
    Yoona & Seung Gi pacaran.
    Congrats for Yoona & seung Gi. ^_^
    But… still Love Deerburning >_<
    Of course YongSeo too ♥♥♥

    • berita awal tahun yang membahagiakan… hahaha
      sebenernya ga terlalu kaget pas ada berita Yoona sm Seung Gi pacaran. Abis moment mereka di Strong Heart unyu bgt… hahaha
      Congrats for couple…
      tp maaf, aku masih akan terus menggunakan Yoona-Jonghyun dalam FF ku. abis karakter mereka udh klop sih di otak…😛

  9. keren banget crtanya… huaaa aku deg degan sendiri…
    aku suka sifat seo yg terbuka ma yong…
    aigooo jong ma yoona makin deket aja… hehehe
    jdi bneran kyu yg jdi mata2 korea tpi pasti msih ada ni selain kyu #biasanya sih yg gendre action gitu… kkkk tpi aku gx mau sotoi jdinya nextttt partnya bner2 ditunggu thor

  10. Kayaknya bener,ya kalo kyuhyun itu mata2 Korut?
    Makin kompleks, makin keren ceritanya
    Makin bikin penasaran juga
    Jangan update lama2,ya authornim

  11. Tuh kan kyuhyun terlibat cuma masih penasaran siapa ya yang dikejar sama yonghwa itu..
    Makin complicated & makin butuh konsentrasi buat baca ff ini..
    Thor tetep semangat buat bikin lanjutannya!!!🙂

  12. Hyun psti sedih bgt kalung clovernya ilang tp tenang hyun slnya yong yg akn sllu nenangin hyun hihi
    Senyum geje tiap part yongseo tp kdang tegang sendri
    Yoona jg sweet bgt ke jonghyun, lama2 yoona bisa naksir bneran sama jonghyun ni hihihi
    Korut itu pasti kyu! Yakin bgt klo yg nusuk jonghyun itu kyu /plak

  13. AUTHOR HEBAT!!! 4 jempol deh buat author
    ff nya keren bangeet, bahasanya juga baguss banget, ceritanya aku juga suka banget, bikin deg2an. maaf baru komen di chapter ini hehe aku udh lama bgt pgn baca ff ini eh baru sempet sekarang bacanya hehe😀

  14. Jangan2 agent korea utara itu kyuhyun?sekarang keselamatan yoona jg trancam,apa jonghyun jg akan melindunginya tp kan jonghyun sangat sibuk….wah lanjut author…gmana jg m ssohyeon yg khilangan kalungnya apalagi itu sangat brpengaruh….pd sakit kepala ygbduderitanya.

  15. Ahaaayyy jonghyun bakal bertanggung jawab sepenuhnya atas keselamatan yoona,,yihaaaa
    Jdi kyu yg masuk apartment seo,, apa dy jg agen korut?? Iisshh penasrnn,,soalnya yg ngikutin seo k jeju blm terungkap… Sbnernya curiga juga sm yuri siih,, ayooo lanjuutt…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s