Formula X [Memory 6]

formulax copy

Judul: Formula X [Memory 6]

Main Cast:

Jung Yonghwa CNBlue sebagai Jung Yonghwa

Seo Joohyun SNSD sebagai Seo Joohyun

Other Cast:

Lee Jonghyun CNBlue sebagai Lee Jonghyun

Im Yoona SNSD sebagai Im Yoona

Kwon Yuri SNSD sebagai Kwon Yuri

Rating: PG-17

Lenght: Chaptered

Genre: Romance, Action, AU

Teaser – Prolog – Memory 1 – Memory 2 – Memory 3 – Memory 4 – Memory 5

Apartement Seohyun, Apgujeong-dong

Pukul 12.00 KST

Yonghwa menekan bel apartement Seohyun dengan tidak sabar. Napasnya terengah dan putus-putus. Pikirannya benar-benar kalut. Tanpa pikir panjang ia segera melesat ke sini begitu mendapatkan telepon dari Seohyun satu jam yang lalu. Macetnya jalanan ibu kota pada siang ini ditambah supir taksi yang mengendarai mobil melebihi lambannya seekor siput membuatnya hampir bunuh diri karena frustasi.

Beberapa detik kemudian, pintu apartement terbuka dan muncul Seohyun dari dalam.

“Kau tak apa? Baik-baik saja?” sembur Yonghwa begitu melihat Seohyun di hadapannya.

Seohyun mengangguk singkat kemudian memberikan jalan agar Yonghwa dapat masuk ke dalam apartementnya.

“Apa yang terjadi?” tanya Yonghwa tepat ketika dirinya memasuki apartement Seohyun.

Seohyun tidak menjawab dan hanya menghela napas panjang, ia lalu berjalan masuk ke ruangan lain di sisi kanan apartement. Yonghwa yang mengerti bahwa Seohyun ingin agar ia mengikutinya, berjalan menyusul di belakang.

Yonghwa mengedarkan pandangannya begitu memasuki ruangan. Tidak salah lagi, ruangan ini adalah kamar tidur Seohyun. Yonghwa sangat familiar dengan ruangan ini, mengingat setiap malam ia mengawasi Seohyun melalui kamera tersembunyi yang ia pasang di beberapa sudut kamar gadis itu.

Seohyun kemudian berjalan menuju ke sebuah lemari pakaian 3 pintu di sudut ruangan. Ia membuka pintu lemari dan memperlihatkan isi lemari itu pada Yonghwa.

“Saat aku pulang, aku mendapati kondisi lemari ini tidak dalam keadaan terkunci” jelas Seohyun sambil memandang isi lemari pakaiannya.

“Benarkah?” Yonghwa berjalan mendekati lemari itu. “Apakah ada barang berharga yang hilang?”

Seohyun menggeleng pelan. “Anehnya, tidak ada. Semua uang dan perhiasan di dalam lemari tidak ada yang hilang satupun”

Yonghwa menatap Seohyun kemudian mengangkat sebelah alisnya. “Kau yakin?”

“Yakin” Seohyun membalas tatapan Yonghwa diikuti dengan anggukan pasti.

“Atau mungkin kau memang lupa mengunci pintu lemari?” terka Yonghwa sambil kembali memperhatikan lemari itu.

“Aku tidak mungkin lupa. Kau masih ingat bahwa aku memiliki ingatan fotografi bukan?”

Yonghwa terdiam sesaat dan kembali menatap Seohyun. Ia hampir saja lupa bahwa gadis itu memiliki ingatan akurat yang tak terbantahkan. “Ah ya. Aku hampir saja lupa”

Seohyun kemudian berjalan ke sisi seberang ruangan. Ia membuka seluruh laci meja nakas di samping tempat tidur untuk kembali memperlihatkan isi laci itu pada Yonghwa.

“Seluruh isi laci tidak berada pada tempatnya semula. Aku ingat betul seluruh isi setiap laci”

Yonghwa berjalan menghampiri Seohyun kemudian berjongkok untuk ikut memeriksa laci-laci itu.

“Dan tidak ada satupun barang yang hilang” Seohyun menambahkan seolah tahu apa yang ada di pikiran Yonghwa.

“Ini aneh” gumam Yonghwa. Ia menegakkan tubuhnya kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa dijadikan petunjuk.

“Maka dari itu aku menghubungimu. Awalnya aku ingin menghubungi polisi. Tapi dengan tidak adanya barang yang hilang untuk dijadikan bukti, maka aku mengurungkan niatku” Seohyun menatap Yonghwa dengan alis bertaut. Yonghwa bisa melihat dengan jelas ketakutan gadis itu dari tatapannya. “Bagaimana menurutmu?”

Yonghwa mengangguk setuju. “Ya, lebih baik jangan kau laporkan dulu pada polisi”

Yonghwa menatap kembali laci dan lemari itu bergantian. Otaknya berpikir cepat. Kejadian ini sungguh janggal. Tidak ada pencuri yang masuk ke rumah tanpa membawa lari barang-barang berharga yang jelas-jelas sudah ada di depan mata. Ini seratus persen bukan kasus pencurian.

Yonghwa menelan ludahnya. Rasanya ia tahu apa yang terjadi di sini. Dan sepertinya mulai saat ini ia harus lebih memperketat penjagaannya terhadap gadis itu. Karena ia yakin, mereka sudah mulai bergerak saat ini. Ia tidak boleh lengah.

“Tenanglah. Aku akan mencari jalan keluarnya. Pastikan kau selalu mengunci pintu apartementmu” Yonghwa berpesan sebelum pergi dari apartement Seohyun.

Seohyun mengangguk mengerti. Dua kali apartementnya dimasuki oleh seseorang tanpa sepengetahuannya membuatnya sangat takut dan cemas. Namun ia tidak mempunyai alasan yang kuat akan ketakutannya itu. Apa sebenarnya tujuan orang itu memasuki apartementnya? Apa yang ia cari? Semua pertanyaan itu berputar-putar dalam otaknya. Membuatnya menjadi paranoid karena hal tak beralasan itu.

-X-

Apartement Yonghwa, Apgujeong-dong

Pukul 12.30 KST

Dengan cepat, Yonghwa membuka laci yang terletak di sudut kamarnya. Matanya bergerak liar mencari benda yang seharusnya dapat menjawab semua pertanyaan tentang kejadian di apartement Seohyun pagi ini. Ia kemudian tersenyum puas setelah berhasil menemukan monitor kecil itu dari dalam lacinya.

Yonghwa kemudian menghidupkan monitor kecil itu. Dan tepat saat itu, monitor yang terhubung dengan beberapa kamera tersembunyi di apartement Seohyun menampilkan kondisi kamar tidur gadis itu di detik ini juga. Yonghwa lalu menekan tombol rewind untuk mengulang rekaman yang telah ditangkap kamera itu beberapa jam yang lalu.

Tepat di pukul sembilan lewat lima menit pagi ini, kamera menangkap sosok misterius yang memasuki kamar tidur Seohyun. Yonghwa mendekatkan monitor itu pada wajahnya agar dapat melihat dengan jelas siapa sosok itu. Sosok misterius itu menggunakan pakaian serba hitam ditambah topi hitam yang membuat wajahnya tidak terekam jelas oleh kamera. Sosok itu terlihat berjalan ke meja nakas di samping tempat tidur Seohyun kemudian membuka satu demi satu lacinya. Ia terlihat sedang mencari sesuatu. Setelah memeriksa seluruh laci, sosok itu beralih ke lemari pakaian Seohyun. Awalnya ia menarik kenop lemari, namun setelah menyadari bahwa lemari itu terkunci, akhirnya ia membuka lemari itu dengan sebuah benda yang Yonghwa duga adalah sebuah kawat.

Setelah beberapa menit menggeledah seluruh isi kamar Seohyun dan juga seluruh sudut apartement, sosok itupun akhirnya mengakhiri aksinya dan pergi dari apartement gadis itu. Yonghwa yakin dengan penglihatannya bahwa orang itu tidak menemukan barang yang ia cari mengingat tidak ada satupun benda yang ia bawa ketika keluar apartement. Dan itu membuat Yonghwa yakin bahwa orang itu pasti akan kembali lagi suatu saat nanti.

Setelah 5 kali melihat ulang rekaman kejadian itu, Yonghwa meletakkan kembali monitor kecil ke dalam laci lalu tersenyum mengejek. Dari cara orang itu membuka lemari dan memeriksa seluruh isi laci Seohyun, Yonghwa bisa menebak bahwa sosok itu belum terlalu profesional dalam aksi penyusupannya ini. Ia terlalu banyak meninggalkan jejak di lokasi. Sepertinya sosok itu harus lebih banyak belajar cara-cara menjadi agen rahasia yang baik dan benar darinya.

Yonghwa kemudian mengambil ponsel dari sakunya dan menghubungi seseorang.

Wae Hyung?

“Jonghyun-ah, maaf tadi tiba-tiba aku pergi tanpa pamit. Ada hal darurat yang terjadi”

Apa itu? Terjadi sesuatu yang buruk pada Seohyun?” suara Jonghyun terdengar setengah penasaran dan setengah panik.

Yonghwa terkekeh ringan. “Aniyo. Tidak terlalu buruk. Hanya saja, sepertinya mulai saat ini kita akan mendapatkan lawan yang akan sedikit mempersulit misi kita”

Benarkah? Apa yang terjadi?

“Pagi ini agen Korea Utara menyusup ke dalam apartemen Seohyun” jawab Yonghwa enteng.

Hah???” Yonghwa menjauhkan ponsel dari telinganya. Jelas sekali Jonghyun tengah berteriak kaget dari seberang sana. Suara bassnya membuat gendang telinga Yonghwa hampir pecah.

Apanya yang sedikit mempersulit Hyung? Ini jelas-jelas masalah besar” protes Jonghyun.

“Tsk! Kita bicarakan masalah itu nanti. Sekarang aku ingin minta bantuanmu. Ini penting!”

Apa itu? Apa kau ingin menyuruhku memata-matai seseorang lagi kemudian memberikan hasil laporannya padamu?

“Tidak” potong Yonghwa cepat

Lalu apa?

“Bisakah kau berpura-pura menjadi seorang detektif di depan Seohyun?” pinta Yonghwa tiba-tiba.

Hah? Kau tidak sedang mabuk kan?

Yonghwa memutar bola matanya. “Tentu saja tidak bodoh!”

“Begini, biar ku jelaskan. Seohyun berencana melaporkan kasus mengenai masuknya orang asing ini kepada polisi. Kau tahu apa yang akan terjadi jika kepolisian benar-benar mengusut kasus ini? Jika kepolisian benar-benar berhasil menangkap pelaku yang memasuki apartement Seohyun saat ini?”

Jonghyun terdiam sesaat, kemudian berbisik “Misi kita akan gagal

“Benar” jawab Yonghwa setuju.

Ya, Jika kepolisian sampai mengetahui bahwa pelaku itu merupakan agen rahasia Korea Utara dan mengetahui bahwa tujuan mereka ke Korea Selatan untuk mencaritahu Formula AZ887 yang merupakan bahan Reaktor Nuklir berdaya ledak tinggi, kemudian memberitakan hal itu kepada publik, maka bukan hanya misinya yang akan dinyatakan gagal, keselamatan Seohyun juga akan teracam dan pemerintah juga pasti akan terkena dampaknya. Maka dari itu, kepolisian tidak boleh sampai mengetahui kasus yang merupakan rahasia negara ini.

Baiklah Hyung. Kalau begitu aku akan menyamar sebagai seorang detektif yang menangani kasus ini untuk Seohyun” ucap Jonghyun mengerti.

“Bagus. Dengan begitu Seohyun tidak perlu melaporkan kasusnya itu pada kepolisian. Aku akan mengatakan bahwa kau adalah detektif yang juga sering bekerjasama dengan kepolisian distrik Gangnam”

“Oke” ucap Jonghyun setuju. “Dan Hyung, apa sebenarnya tujuan mereka menyusup ke dalam apartement Seohyun?

Yonghwa berdecak sebelum menjawab pertanyaan Jonghyun yang terdengar begitu bodoh baginya. “Tentu saja mencari informasi, sama seperti yang kita lakukan. Memang kau pikir apa lagi?” jawab Yonghwa malas. Sepertinya perhargaan untuk agen terbaik tahun ini benar-benar akan jatuh ke tangannya.

-X-

Keesokan hari

Starbuck Coffee, Gangnam-gu, Seoul

Pukul 12.02 KST

“Jadi, apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya Lee Jonghyun-sii?”

Jonghyun menyeruput pelan Hot Americano-nya. Kemudian meletakkan kembali cangkir keramik berwarna putih itu di atas meja sambil tersenyum. Ia lalu menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi sebelum menjawab pertanyaan gadis di depannya itu.

“Aku hanya ingin bekerjasama denganmu” jawabnya tenang.

Gadis itu menatap Jonghyun dengan kedua alis terangkat. Namun ia tidak mencoba membuka suara sebelum Jonghyun menyelesaikan kalimatnya yang terkesan menggantung itu.

“Begini” Jonghyun menangkupkan kedua tangan di depan wajahnya sambil menatap gadis itu lekat-lekat. “Aku ingin kau merancang gedung baru YBS yang akan dibangun di Busan”

Gadis itu membulatkan matanya begitu mendengar alasan Jonghyun. “Aku? Merancang gedung YBS?” ulangnya tak percaya.

Jonghyun mengangguk. “Aku berencana mendirikan cabang YBS di Busan. Kau bersedia bekerjasama dengan kami, Yuri-sii?”

Yuri tergagap. Matanya menatap Jonghyun tanpa berkedip. Otaknya seakan mengalami difungsi secara tiba-tiba. Apa ia baru saja bermimpi? Mengetahui bahwa CEO muda berbakat dari YBS ingin bertemu dengannya saja sudah membuatnya hampir pingsan mendadak dan sekarang ia justru ditawari project besar untuk mendesign gedung baru salah satu perusahan broadcast terbesar se-Korea itu. Bukankah ini terdengar terlalu membual?

Jonghyun terkekeh pelan melihat reaksi Yuri. “Kenapa? Apa kau tidak percaya diri?”

Yuri menggeleng cepat. “Tidak. Tentu saja tidak. Tapi kenapa aku?”

“Memang kenapa? Apa kau merasa ada yang lebih baik darimu untuk project ini?”

Yuri menggedikkan bahunya kemudian menjawab dengan ragu, “Seohyun, mungkin”

“Seohyun?” tanya Jonghyun tertarik. “Awalnya aku juga berniat memberikan project ini padanya. Namun ku dengar ia tengah disibukkan dengan project Art Museum”

Yuri mengangguk. “Ya. Design-nya masuk ke dalam tiga besar”

“Benarkah?” Jonghyun berusaha terlihat tertarik.

Yuri mengangguk lebih antusias. “Tentu. Ia benar-benar arsitek berbakat. Aku bangga padanya”

Jonghyun meneggakkan posisi duduknya. ”Apa… Kau kenal dekat dengannya?” tanya Jonghyun hati-hati.

“Tentu saja. Kami berteman sejak sekolah menengah pertama”

Jonghyun menyeringai. “Apa dia sudah berbakat sejak masih sekolah?”

“Iya. Ia bahkan lulus jurusan arsitek di usia 19 tahun. Bukankah itu luar biasa? Di usia 15 tahun ia bahkan membuat design untuk renovasi panti asuhan tempat tinggalnya. Bahkan sampai sekarang design itu masih digunakan oleh panti asuhan karena ___”

Jonghyun mengulas senyum kemenangan di bibirnya. Tak ia sangka bisa semudah ini mengorek informasi dari Yuri. Tak sia-sia ia mengorbankan project design gedung perusahaannya kepada gadis itu, karena sekarang ia bisa memanfaatkan Yuri untuk mencari tahu informasi tentang masa lalu Seohyun lebih dalam.

-X-

Ice Frappuchino satu”

Yoona mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jarinya sambil menunggu pesanan tiba. Seharian bekerja mengunjungi pasien di kamar rawat inap kemudian stand by di poliklinik membuatnya membutuhkan tenaga extra dari secangkir caffein pada siang ini. Ia kemudian menatap sekeliling kedai kopi untuk mencari meja kosong yang bisa ia tempati. Namun tatapannya terhenti pada sebuah meja di sudut ruangan.

Yoona mengerjap-ngerjapkan matanya. Sepertinya ia tidak asing dengan sosok itu. Bukankah itu Lee Jonghyun? Apa yang ia lakukan di sini? Ia terlihat berbeda dengan setelan jas armani yang dikenakannya. Dan siapa gadis seksi itu? Yoona menggerutu. Hah! Agaknya ia tahu apa yang sedang lelaki itu lakukan di sini. Berpenampilan menarik dan mengaku sebagai CEO sepertinya merupakan modus utamanya dalam mengencani seorang gadis. Dasar playboy!!

“Pesanan Anda Nona”

Yoona mengambil pesanannya kemudian membayar di kasir masih dengan gerutuan yang tak ada habisnya. Kemudian ia berjalan cepat dan duduk di salah satu meja di luar kafe. Matanya tak lepas menatap lelaki itu yang masih terlihat berbincang santai dengan gadis seksi yang tak bisa ia lihat wajahnya.

Yoona mengerti bahwa ia tak seharusnya terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat, karena sejak awal ia sudah tahu bahwa lelaki itu memang type pria hidung belang. Tetapi tetap saja, melihat semua itu dengan mata kepalanya secara langsung membuat emosinya meluap sampai ke ubun-ubun.

Yoona menghela napas panjang. Ia kemudian mengeluarkan tablet dari tasnya dan mulai menyibukkan diri dengan benda itu. Waktu istirahatnya terlalu berharga jika dihabiskan untuk merutuki lelaki bodoh itu.

-X-

“Oh, Im uisanim?”

Yoona mengalihkan tatapannya dari tablet ke wajah seseorang yang baru saja menyapanya. Tanpa melihatpun sebenarnya Yoona tahu siapa yang sedang berbicara padanya saat ini. Dan jika boleh jujur, ia akan lebih senang jika tidak mempedulikan orang itu, namun sayangnya ia tidak bisa. Ia tumbuh dan diajarkan sopan santun oleh keluarganya. Maka setidaknya, ia akan menunjukkan sedikit basa-basi.

“Hai. Sepertinya kau sibuk” sapa Yoona tanpa ekspresi.

Jonghyun telah berdiri di depan Yoona seorang diri. Tanpa terlihat mencurigakan, dengan secepat kilat Yoona mencari sosok yang seharusnya bersama Jonghyun saat ini, namun ia tidak menemukan tanda-tanda sosok itu bersama Jonghyun. Sepertinya gadis itu telah pergi lebih dulu.

“Ya. Sedikit sibuk” Jonghyun mengangguk santai kemudian ikut duduk di hadapan Yoona.

Yoona menatap Jonghyun datar kemudian kembali beralih pada tabletnya. “Yeah, aku bisa melihat kesibukanmu itu”

Jonghyun menelengkan kepala melihat Yoona. “Kau melihatku sejak tadi? Kenapa tidak menyapa?”

Yoona mendengus tanpa melihat ke arah Jonghyun. “Dan menganggu kesibukanmu dengan gadis berbaju merah yang seksi itu? Ku rasa tidak”

Jonghyun mengangkat sebelah alisnya dan mulai terkekeh. “Kau cemburu?”

Yoona melotot ke arah Jonghyun kemudian mencibir. “Hah! Yang benar saja!!”

Mendengar jawaban Yoona yang terkesan ketus, justru membuat Jonghyun makin terbahak kuat. Yoona bersungut-sungut di tempatnya.

“Maaf saja Tuan Lee. Tapi ini Gangnam. Rumahku, kantor ayahku, tempat belanja ibuku, semuanya ada di daerah ini. Bagaimana jika mereka melihatmu bersama gadis tadi? Aku yang akan mendapatkan masalah” jelas Yoona sambil memasukkan tabletnya ke dalam tas.

“Setidaknya, berkencanlah di tempat lain” tambah Yoona buru-buru. Tidak ingin lelaki itu kembali salah paham dan berpikir macam-macam.

Jonghyun mengangguk ringan. “Oke. Lain kali aku akan berhati-hati dan berkencan di tempat yang lebih aman”

Yoona melirik kesal pada Jonghyun yang terlihat sama sekali tidak merasa bersalah. Baru kali ini ia bertemu lelaki hidung belang yang tidak tahu malu seperti itu. Seharusnya sejak awal ia tidak perlu terjebak dalam urusan ‘hutang piutang’ konyol itu dengannya.

Dalam satu gerakan cepat, Yoona bangkit dari tempat duduknya. Ia mengambil tasnya dari atas meja dan siap untuk melangkah pergi meninggalkan cafe ini.

Jonghyun melihat Yoona bingung. “Kau sudah mau pergi?”

“Waktu istirahatku sudah hampir habis”

Jonghyun ikut berdiri. “Ku antar” tawarnya.

Yoona menunjukkan kunci di tangannya ke hadapan Jonghyun sambil berkata. “Terimakasih. Tapi aku membawa mobilku”

Tanpa banyak berbasa-basi lagi, Yoonapun berjalan pergi meninggalkan Jonghyun.

Jonghyun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kemudian menghela napas panjang melihat kepergian Yoona. “Benar-benar gadis yang menarik” gumamnya sambil mengulum senyum geli.

-X-

Satu minggu kemudian

Apartement Yonghwa, Apgujeong-dong

Pukul 05.00 KST

Yonghwa tersentak dan bangun dari tidur dengan kedua mata memerah. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya lalu membenarkan kembali posisi tubuhnya di kursi. Kemudian ia mengedarkan pandangan dan mendapati dirinya masih berada di meja makan apartement. Sepertinya ia kembali tertidur ketika sedang melakukan pengawasan tadi malam.

Yonghwa menghela napas panjang dan mengusap wajahnya pelan lalu meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Pukul lima pagi. Yonghwa kembali tersentak. Pukul lima pagi? Sial! Sudah berapa lama ia tidur?

Dengan cepat, Yonghwa meraih monitor kecil di atas meja. Ia kemudian mengecek kondisi gadis itu. Dan ia kembali dikejutkan dengan tidak adanya sosok gadis itu di dalam monitornya. Yonghwa kemudian menekan tombol next untuk memperlihatkan gambar dari kamera yang lain. Ruang makan, dapur, ruang tamu, sosok gadis itu tidak ditemukan di satupun kamera pengawas yang terpasang. Kemana gadis itu? Bukankah ini terlalu pagi untuk berangkat kerja??

Tanpa pikir panjang, Yonghwa segera melesat ke luar apartement untuk mencari tahu kondisi gadis itu.

“Oh? Yonghwa-sii?” suara gadis itu terdengar tepat saat Yonghwa ke luar apartement.

“Kau sudah mau berangkat kerja sepagi ini?” Yonghwa menatap heran Seohyun yang telah berpakaian rapih.

Seohyun tersenyum lalu menggeleng pelan. “Tidak. Pagi ini aku akan ke bandara”

“Bandara?”

“Aku ada pekerjaan di pulau Jeju selama 2 hari” jelas Seohyun.

“Pulau Jeju?” tanya Yonghwa kaget. “Kau sendirian?”

“Ya. Tapi sudah ada yang menungguku di pulau Jeju nanti” jelas Seohyun. Ia lalu menatap Yonghwa heran. “Dan kau sendiri? Apa yang kau lakukan sepagi ini?”

“A-Aku…” Yonghwa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Oh, ya ampun! Pasti penampilannya sangat kacau sekarang. “Aku berencana jogging pagi ini” Yonghwa beralasan.

Seohyun menatap Yonghwa dari atas ke bawah kemudian mengangkat sebelah alisnya. “Dengan piyamamu itu?” tanyanya sangsi.

Yonghwa mengikuti arah pandang Seohyun dan mendapati dirinya tengah mengenakan piyama motif simpson yang belum sempat ia ganti karena terlalu panik tadi. Ia merutuki dirinya dalam hati.

Seohyun terkekeh melihat reaksi Yonghwa. Ia tahu bahwa lelaki itu berbohong. Tapi apapun alasannya, ia tidak akan bertanya lebih jauh.

“Ah! Kau sudah bertemu dengan detektif yang ku rekomendasikan tempo hari?” tanya Yonghwa tiba-tiba.

Seohyun mengangguk. “Ya. Aku sudah bertemu dengan detektif Lee kemarin. Ia bersedia membantu untuk menyelidiki kasus ini lebih jauh”

“Baguslah kalau begitu. Kalau terjadi sesuatu, kau harus segera menghubunginya” saran Yonghwa.

“Aku mengerti. Aku juga merasa lebih baik menghubunginya daripada langsung melaporkan kejadian ini pada polisi. Lagipula aku tidak punya cukup bukti untuk melaporkan kasus ini” jelas Seohyun.

Yonghwa mengangguk setuju lalu menghela napas lega. Setidaknya Seohyun sudah merasa lebih aman dengan adanya sosok ‘detektif Lee’ yang akan membantunya. Sekarang Yonghwa hanya perlu fokus untuk mencaritahu siapa sosok yang menyusup ke dalam apartement Seohyun dan memastikan posisi Seohyun dalam keadaan aman.

“Yonghwa-sii” panggil Seohyun yang membuat Yonghwa tersadar dari lamunan singkatnya. “Kantung matamu terlihat menghitam. Kau tidak bisa tidur akhir-akhir ini?” tanya Seohyun sambil menunjuk kantung matanya sendiri.

Yonghwa menyentuh kantung matanya. Tentu saja kantung matanya menghitam dan membengkak. Selama hampir seminggu ini ia tidak bisa tidur untuk mengawasi kondisi gadis itu setelah kejadian masuknya sosok asing ke dalam apartementnya. Setiap malam ia memantau kondisi melalui kamera tersembunyi yang ada di apartement gadis itu, tiap dua jam sekali ia juga berpatroli mengelilingi apartement untuk memastikan kondisi di sekitar apartement aman. Bahkan terkadang ia mendapati dirinya terbangun di depan pintu apartement gadis itu atau di atas meja makannya seperti pagi ini. Siklus tidurnya benar-benar kacau selama seminggu ini.

“Ah ya, akhir-akhir ini amnesiaku kambuh” Yonghwa kembali berbohong.

“Istirahatlah yang kucup. Kondisimu terlihat tidak baik” saran Seohyun. Ia kemudian mengambil kopernya dari dalam apartement dan menariknya keluar. “Aku pergi dulu kalau begitu. Pesawatku barangkat satu jam lagi. Sampai jumpa”

“Sampai jumpa. Hati-hati di jalan” Yonghwa tersenyum sambil melambaikan tangannya sampai sosok Seohyun menghilang di dalam lift.

Setelah itu, Yonghwa segera mengambil ponsel dari dalam kantongnya dan menghubungi seseorang.

“Jonghyun-ah. Dua hari ini kau gantikan aku untuk mengawasi apartement Seohyun. Aku akan pergi ke pulau Jeju hari ini”

-X-

Jejudo Island

Pukul 10.00 KST

“Di atas tanah seluas 5 hektar inilah Museum Art Center akan dibangun. Kondisi tanah di sini memang sedikit berbukit. Di sisi Barat terdapat pantai yang hanya berjarak 20 meter, nantinya kita bisa memanfaatkan bibir pantai sebagai salah satu fasilitas di Art Museum. Tepat di sisi Utara area ini, terdapat hutan dengan bukit kecil sehingga kita bisa memanfaatkan view hutan itu untuk memperkuat kesan nature pada Art Museum kita nanti. Lalu di sisi Selatan ___”

Seohyun mencatat seluruh hal-hal penting yang tengah dijelaskan oleh perwakilan dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata untuk perencanaan pembangunan Art Museum di pulau Jeju ini sambil sesekali memperhatikan lahan yang ditumbuhi ilalang hijau yang terhampar luas di depan matanya.

Seohyun tersenyum dan menaik napas dalam-dalam. Rasanya ia mulai menyukai pekerjaan di luar kota seperti ini. Selain bekerja ia juga bisa sedikit refreshing otak. Ia bahkan sudah merencanakan itinerary kecil untuk perjalanannya di Pulau Jeju ini. Dan ia sudah tidak sabar untuk melakukan semua yang telah ia rencanakan itu.

“Joohyun-sii, mari kita tinjau area ini dari sisi Barat yang berbatasan dengan pantai”

Seohyun tersentak dari lamunan singkatnya kemudian mengangguk cepat menjawab ajakan dari staff Kementrian. “Baiklah” jawab Seohyun.

Seohyun merutuki kebodohannya tanpa suara. Ia harus fokus sekarang. Saat ini ia sedang dalam tugas kerja, nanti pasti ada waktu dimana ia bisa menikmati pulau Jeju ini barang sebentar.

-X-

Yonghwa melepas kacamata hitamnya. Ia memperhatikan Seohyun yang tengah meninjau lokasi bersama beberapa orang yang tidak ia kenal dari dalam mobil. Sesekali ia memperhatikan daerah sekitar untuk memastikan bahwa tidak ada orang mencurigakan yang sedang mengawasi mereka.

Tadi setelah mengetahui bahwa Seohyun akan ke Pulau Jeju hari ini, maka tanpa pikir panjang Yonghwa segera membeli tiket pesawat tercepat yang bisa membawanya ke pulau Jeju hari ini juga. Untunglah akhirnya ia bisa mendapatkan penerbangan tepat setelah penerbangan Seohyun, sehingga penjagaannya terhadap Seohyun tidak terputus. Ia bahkan juga memesan kamar di hotel yang sama dengan Seohyun. Ia tidak mau lengah atau kehilangan sedikit saja penjagaan terhadap gadis itu. Terlalu berbahaya.

Dan karena ia harus mengawasi Seohyun di pulau Jeju ini, maka Jonghyunlah yang harus menjaga apartement Seohyun sekarang. Yonghwa tidak sempat bertemu Jonghyun tadi karena ia terlalu tergesa-gesa pergi ke bandara. Jadi ia hanya menelepon untuk memberitahukan kode kunci apartementnya kepada Jonghyun dan dimana ia menyimpan semua peralatan mata-matanya agar Jonghyun dapat menggunakannya kelak.

Tepat saat ia tiba di Pulau Jeju tadi, Jonghyun mengirimkan pesan bahwa ia telah tiba di apartement Yonghwa dan siap membuat rusuh apartementnya untuk 2 hari ke depan. Yonghwa tiba-tiba teringat akan sekotak Peperonya yang baru ia beli dua hari yang lalu. Awas saja jika anak itu sampai menghabiskan semua isi lemari pendinginnya.

Yonghwa kembali memakai kacamata hitamnya kemudian mulai melajukan mobil sewaannya mengikuti Seohyun dan rombongan yang sudah bersiap pindah ke lokasi lain.

-X-

Yonghwa memarkirkan mobilnya tidak jauh dari mobil rombongan Seohyun yang berjarak beberapa meter di depan. Ia bisa melihat rombongan itu masuk ke salah satu restoran di tepi pantai setelah tadi hampir satu setengah jam sibuk meninjau lokasi tidak jauh dari sana. Yonghwa kemudian melirik jam tangannya. Hari sudah menunjukkan pukul satu, pantas saja orang-orang itu istirahat untuk makan siang.

Ia mengerutkan alisnya ketika mendapati Seohyun yang berjalan sendirian menjauhi rombongan. Gadis itu terlihat berjalan pelan ke tepi pantai. Apa yang dilakukannya? Yonghwa tiba-tiba merasa sedikit paranoid jika gadis itu berjalan seorang diri tanpa perlindungan seperti itu.

Yonghwa akhirnya keluar dari mobil dan berjalan mengendap-ngendap sambil mempertahankan jarak aman antara dirinya dan Seohyun. Ia tidak mau sampai ketahuan datang ke sini, ia juga tidak tahu harus membuat alasan apa lagi untuk membohongi gadis itu.

Ia lalu bersembunyi di balik salah satu pohon kelapa yang tumbuh dengan subur di tepi pantai. Matanya mengawasi Seohyun lekat-lekat. Gadis itu terlihat tengah asik menikmati angin laut yang berhembus lembut dan juga air laut yang menggulung kaki telanjangnya di tepi pantai. Yonghwa tersenyum melihat tingkah Seohyun. Gadis itu berlari-lari riang sambil menendang pasir putih yang menghalangi langkahnya. Sepertinya ia telah lupa bahwa tujuannya ke sini bukan untuk berlibur melainkan untuk bekerja.

Senyum Yonghwa tiba-tiba memudar begitu melihat satu sosok mencurigakan yang tengah memperhatikan Seohyun dari sisi pantai yang lain. Mungkin bagi orang awam, orang itu terlihat sama seperti wisatawan umum yang sama sekali tidak mencurigakan. Namun Yonghwa memiliki firasat lain. Cara orang itu menatap Seohyun sangat berbeda. Dan Yonghwa yakin bahwa orang itu mempunyai hubungan dengan misinya ini. Ia tidak boleh lengah. Siapa saja bisa menjadi musuhnya saat ini.

Orang itu kini terlihat berjalan mendekati Seohyun. Yonghwa mulai bersiaga dan pelan-pelan keluar dari tempat persembunyiannya. Beberapa meter mendekati Seohyun, orang itu tersadar akan kehadiran Yonghwa yang tengah menatap tajam ke arahnya. Ia kemudian mudur dengan teratur dan berbalik pergi menjauhi gadis itu.

Yonghwa menoleh cepat ke arah Seohyun dan melihat gadis itu telah berjalan menjauhi pantai ke arah restoran. Merasa Seohyun telah dalam keadaan aman, lantas Yonghwa segera berlari mengejar orang itu. Langkah kakinya lebar-lebar menjejaki pasir pantai yang halus dan basah yang mulai tertempel di semua sisi sepatu ketsnya, membuatnya sedikit kesulitan untuk berlari lebih kencang.

Yonghwa terus berlari tanpa melepas tatapannya dari orang itu yang semakin menjauh. Napasnya sudah mulai putus-putus. Paru-parunya seperti kolaps kehabisan udara. Namun Yonghwa terus berlari dan tidak akan berhenti di sini. Ia harus bisa menangkap orang itu dan menginterogasinya untuk mendapatkan informasi lebih jauh.

Kakinya kini mulai menginjak ranting-ranting dan daun-daun kering yang telah gugur di tanah. Ia telah memasuki hutan kecil yang berbukit-bukit. Yonghwa terus berlari bahkan mencoba untuk menambah kecepatannya pada kondisi jalanan yang sempit dan berbatu ini. Tidak jarang ia hampir terpeleset atau wajahnya terhalangi oleh ranting pohon yang tumbuh liar menutupi jalan. Membuat Yonghwa harus sigap menepis ranting-ranting itu dengan kedua tangannya.

Orang itu terlihat kelelahan dan mulai memperlambat langkah kakinya. Yonghwa tidak menyia-nyiakan kondisi ini dan segera melompat ke arah orang itu sehingga membuat tubuh mereka terjatuh dan membentur tanah hutan yang dingin dan basah.

Yonghwa mengunci gerakan orang itu dengan memelintir kedua tangannya ke belakang tubuh. Ia juga menekan lututnya pada punggung orang itu sehingga tubuhnya tertempel mencium tanah dan tidak bisa bergerak.

Dengan napas putus-putus akhirnya Yonghwa mulai bicara. “Siapa kau?”

Orang itu tidak menjawab pertanyaan Yonghwa dan justru meronta-ronta di balik kukungan Yonghwa. Yonghwa menekan lututnya lebih kuat pada punggung orang itu sehingga orang itu mengerang kesakitan.

“Siapa kau??” ulang Yonghwa dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.

Orang itu tetap diam seribu bahasa. Yonghwa yang mulai merasa geram, akhirnya menarik rambut orang itu untuk mengangkat wajahnya.

Wajah itu telah kotor oleh tanah dan rumput-rumput kecil yang menempel di sekitar pipinya. Yonghwa bisa melihat seorang lelaki muda mungkin seusia dirinya tengah menatap tajam ke arahnya. Bentuk wajahnya oval, hidungnya sedikit bengkok dengan mata yang sipit namun terkesan mengintiminasi. Kulitnya putih pucat dengan sedikit bintik-bintik hitam di sekitar bawah mata dan hidung. Jujur Yonghwa tidak pernah melihat orang itu sebelumnya. Apa ia yang memasuki apartement Seohyun tempo hari?

“Siapa kau? Apa tujuanmu?” tanya Yonghwa pelan dan terkesan menuntut.

Lelaki itu masih menatap Yonghwa lekat. “Kau pikir aku akan semudah itu memberitahumu?” tanyanya sambil menyeringai mengejek.

Yonghwa menghela napas panjang. Sepertinya ini akan lebih sulit dari perkiraannya. Ia kemudian mengedarkan pandangan ke sekitar untuk mencari sesuatu benda yang mungkin bisa membantunya untuk mengingat lelaki ini agar lebih memudahkannya dalam menginterogasi. Namun ternyata kelengahannya yang hanya berkisar sepersekian detik tidak disia-siakan oleh lelaki itu. Dengan cepat, ia menyikut perut Yonghwa kuat-kuat. Membuat Yonghwa terhempas dan mau tidak mau melepas kunciannya dari orang itu dan meringis kesakitan. Tanpa membuang waktu, orang itu segera melarikan diri ke tengah hutan. Yonghwa hanya bisa menatap sosok itu yang semakin menjauh sambil merutuki kecerobohannya sendiri. Ia kemudian kembali mengerang memegangi perutnya yang masih terasa sakit. Sial! Ia tidak mengira orang itu masih memiliki tenaga sekuat itu.

-X-

Keesokkan hari

Apartement Yonghwa, Apgujeong-dong

Pukul 20.00 KST

Jonhyun duduk di sofa di depan televisi dengan ponsel yang tertempel di telinganya. Sesekali ia menekan acak remote televisi di tangannya tanpa minat.

“Jadi kau mau bilang bahwa kau hampir menangkap orang itu namun gagal karena ia lebih dulu melarikan diri?”

Ralat. Aku sudah menangkapnya namun ia keburu kabur

Jonghyun berdecak malas. “Itu sama saja Hyung. Intinya kau gagal menangkapnya”

Yonghwa mendengus di ujung telepon. “Kau sendiri bagaimana? Apa kondisi di apartement terkendali?

“Tentu saja. Kau tidak perlu khawatir” jawab Jonghyun santai sambil memasukkan keripik kentang ke dalam mulutnya.

Jangan lengah Jonghyun-ah. Kita tidak tahu jumlah mereka dan seperti apa kekuatan mereka” Yonghwa mengingatkan.

“Arasho”

Aku akan kembali besok pagi

“Hmmm…” gumam Jonghyun sambil kembali memasukkan beberapa keripik kentang ke dalam mulutnya.

Ya! Awas kau sampai menghabiskan makananku! Aku akan menggantungmu di depan beranda apartement seperti Teru-Teru Bozu!!

Tanpa menjawab, Jonghyun segera memutuskan sambungan telepon dari Yonghwa. Ia kemudian tertawa geli membayangkan wajah Yonghwa yang kini tengah geram padanya.

-X-

Jonghyun menopangkan dagunya pada sebelah tangan di atas meja makan. Tangan lainnya sibuk menekan monitor kecil yang bergantian menampilkan kondisi apartement Seohyun dari segala sudut. Sama seperti kemarin, apartement Seohyun terlihat kosong. Tidak ada tanda-tanda adanya penyusup yang masuk ke dalam apartementnya seperti tempo hari. Mungkin penyusup itu sudah merasa cukup dengan hanya sekali masuk ke dalam apartement Seohyun karena apa yang dicarinya ternyata tidak ada di sana.

Jonghyun mendesah malas sambil melirik jam dinding di sisi seberangnya. Sudah pukul sepuluh malam dan ia merasa sangat bosan. Ia heran kenapa Yonghwa bisa bertahan melakukan hal membosankan ini selama berhari-hari. Ia lebih memilih memata-matai seseorang lalu memberikan laporannya kepada Yonghwa ketimbang harus stand by menjaga seseorang selama berhari-hari seperti ini. Ia benar-benar merasa mati kutu.

Tangan Jonghyun berhenti menekan-nekan monitor itu begitu melihat sosok mencurigakan di sana. Ia mendekatkan monitor itu pada wajahnya dan benar saja, ia mendapati satu sosok tengah berjalan di dalam apartement Seohyun. Sosok itu mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan sebuah topi yang sempurna menutupi wajahnya. Dengan cepat, Jonghyun bangkit berdiri dan bersiap keluar apartement untuk menangkap sosok misterius itu. Ia tidak akan membiarkan yang satu ini kabur.

Jonghyun sudah bersembunyi di ujung lorong dekat pintu darurat. Ia kembali memperhatikan monitor di tangannya. Sosok itu sudah berjalan ke pintu untuk keluar dari apartement Seohyun dengan sebuah buku kecil di tangannya. Jonghyun yakin jika sosok itu pasti menggunakan pintu darurat untuk keluar dari apartement ini nanti.

Dan benar saja, tepat beberapa detik kemudian, Jonghyun telah berhadapan dengan orang itu. Jonghyun menyeringai lebar melihat orang itu yang terkejut karena kehadirannya. Tanpa mengulur waktu, orang itu segera menyerang Jonghyun. Ia mengarahkan tinjunya tepat ke wajah Jonghyun, namun Jonghyun cukup gesit untuk menghindari pukulannya itu. Jonghyun kemudian balik menyerang dengan meninju tepat di rahangnya. Orang itu mengerang kesakitan menerima pukulan Jonghyun.

Orang itu dengan cepat menguasi diri dan siap kembali menyerang. Jonghyun juga sudah siap dengan kuda-kudanya. Ia mencoba kembali memukul Jonghyun namun Jonghyun dengan cepat menahan tangannya untuk menghentikan gerakan. Dengan tangan yang lain, Jonghyun berhasil memukul dengan kuat tengkuknya yang membuat sosok itu jatuh tersungkur ke lantai. Lantas Jonghyun tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia menendang dagu orang itu dengan lututnya dan membuat orang itu terpental satu meter dengan punggung membentur dinding.

Jonghyun berjalan santai ke arahnya kemudian berjongkok mengambil buku kecil yang didapatkan orang itu dari apartement Seohyun. Tepat saat Jonghyun berdiri, orang itu mengeluarkan sebuah pisau dari dalam jaketnya dan melayangkannya ke arah Jonghyun. Jonghyun refleks menghindar. Untunglah ia tidak sempat terluka karena pisau itu. Jonghyun tidak mengira jika orang itu sampai membawa benda tajam bersamanya. Jonghyun harus lebih berhati-hati.

Orang itu kembali bangkit dengan mata pisau yang mengarah pada Jonghyun. Jonghyun berdecak dan berkata, “Ya! Apa kau tidak memiliki senjata yang jauh lebih baik dari pisau dapur itu?”

Tanpa menjawab pertanyaan Jonghyun, ia kembali menyerang. Jonghyun menahan tangan orang itu dengan tangan kanannya tepat sebelum pisau itu melukai tubuh Jonghyun, kemudian memukul pergelangan orang itu dengan tangan yang lain sehingga pisau itu terjatuh ke lantai. Jonghyun lalu segera melayangkan pukulan tepat ke pipi orang itu dan membuat sudut bibirnya lebam dan robek.

Jonghyun lalu kembali berjongkok dan mengambil pisau yang sudah tergeletak di lantai. Ia kemudian menatap orang yang telah tersungkur di hadapannya itu. Jonghyun menyeringai lebar. “Katakan siapa dirimu dan apa tujuanmu. Maka aku tidak akan menyakitimu”

Jonghyun perlahan berdiri masih sambil menggenggam pisau itu di tangannya. Dan tepat saat itu, ia merasakan sebuah benda tajam menusuk perutnya. Jonghyun terhenyak mendapati orang itu telah berdiri di depannya dengan sebuah pisau yang telah tertancap di perutnya. Bukan pisau yang berada di tangannya, melainkan pisau lain yang lebih besar.

Pisau itu dicabut dari perutnya dan seketika itu Jonghyun jatuh tersungkur dengan sebelah tangan memegangi perutnya yang mulai mengeluarkan darah segar. Penglihatannya perlahan memudar dan semakin menggelap. Ia bisa melihat sosok itu berlari menjauh ke arah tangga darurat, namun Jonghyun tidak cukup tenaga untuk mengejarnya.

Jonghyun tahu bahwa tidak lama lagi ia akan kehilangan kesadaran, maka dengan cepat ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang yang sudah berada di nomor panggilan cepat ponselnya. Tidak lama kemudian panggilan itu terjawab.

Jonghyun berbicara dengan sisa kesadarannya yang hampir penipis. “Im Yoona. Aku membutuhkanmu sekarang. Apartement Seohyun”

-X-

Halooo… Kembali lagi dengan lanjutan FF Formula X. Maaf kalau lama updatenya karena akhir-akhir ini lagi sibuk sama kerjaan di kantor…

Saran dan Kritik yang membangun masih penulis tunggu untuk meningkatkan kemampuan menulis saya…

Selamat membaca dan sampai jumpa di part selanjtnya…😀

33 thoughts on “Formula X [Memory 6]

  1. waah, keren walaupun belum terlalu ngerti sama ceritanya soalnya bru baca di chap ini. hhe

    yang nusuk jonghyun cewe gituh? untung saja bukunya keburu diambil jonghyun,

    ditunggu part selanjutnya author,🙂

  2. Hahaha yoona cemburu…jd yoong tdk kenal dg yuri yak…poor jonghyun, smoga dia baik2 saja, tp kalo dia dirawat di rs, dia bs lbh dkt sm yoona, bs dijagain yoona terus kan yoona dokternya😀

  3. ohhhhhh no lagi pas adegan joghyun minta bantuan yoona malah abis. aduuuh author buat gregeeeet.

    waaaaaaaa itu org korut byk ternyata. penasaran bgt siapa sih.
    part ini suka bgt bagian yonghwa yg perhatiannya ma joohyun. terus bagian yoona cemburu d cafe aja suka bgt aku. jd bener ya jonghyun CEO YBS nih. manteeep

    aduh aduh ditunggu bgt lanjutannya ini author~nim. smoga bs cepet update hehe
    semoga kerjaan dkantornya cepet selesai juga🙂

  4. ceritanya kependekan thor, and perbanyak moment jonghyun-yoona coz cerita mereka lbih seru.. sekalian aja jongyoonnya jdi main cast juga, kan g salah juga klo main castnya ada 2 and ganti juga dong capernya sama yg ada photo jongyoonnya..next part ditunggu ya.. makasih

    • kependekan? udah lebih dari 5000 kata dan 18 halaman Ms.Word masih kependekan?
      waduh, aku ga tau lagi deh mau nulis kayak gmn lagi. itu aja udah disempet2in buatnya…
      dari awal emang aku buat FF ini dgn Main cast Yongseo…
      tapi Jongyoon juga msh lead couple koq. dan cerita mereka untuk bumbu penyedap supaya cerita utama ga monoton aja…
      jadi maaf ya…
      nanti kalau ada waktu lagi juga bakal aku buat mereka sbg main cast di FF yang lain…

      • mian mungkin krna ceritanya menarik jadi bacanya keasyikan, jadi terasa kependekan dech.. aq suka partnya jongyoon krna feelnya dapet bgt.. ditunggu lanjutan ff-nya..

  5. aaaaa author makin gereget aja o_O
    itu kyuhyun kan yang di kejar kejar ama yonghwa????
    iyakan iya dongs(???) tetep xD

    knapa tbcnya pas lagi gereget geregetnyaaaa
    udah punya firasat pasti jonghyu bkal tlpn yoona trus yoona dateng tolongin jonghyun trussss bla bla bla
    eh eh eh taunya
    TBC –”
    next thor asap, cepet, gpl
    hahaha fighting~

  6. Ini yg di tunggu2 .. knp,lama kali publish nya thor..mpe luutan.hehehe
    hduh jonghyun di tusuk.. yoona cpet datang slamtkan suamimu #plakk
    siapa sih yg nyisup tuh pinter amat.. thor cpet lnjut yah

  7. hy,thor.salam kenal ya.maaf aku baru komen pas di part ini.Sebenernya aku udh ngikutin ffmu dari dulu he he he..fanficmu selalu bagus.FIGHTING,thor untuk ffmu selanjutnya

  8. Saduh smoga aj jonghyun ga knp2..orang yg ketemu yonghwa trs juga sama jonghyun itu siapa ya..makin penasaran..feelnya dapet thor,tegang..

  9. Hyun sprtinya mulai mnempatkan yong diurutan pertama stiap ada ssuatu hihihi
    Hyun nt lama2 klo yong ga ada sedih loh hihih
    Deerburning, yoona mulai cemburu tuh ama jonghyun
    Tp jonghyun kasian ditusuk gitu, semoga yoona cepet dtg nyelamatin jonghyun😀

  10. Waduh…siapa penyusup itu yah….sampe main pisau segala tmbh seru az….wah jonghyun mnta bantuan yoona.gimana m soohyoen yah….

  11. Yaa ampuuun syapa yg ngikutin seo dn masuk apartment seo?? Iiisshhh kasian jonghyun,, ayoo yoonaaa cepeetaannnn…
    Nneeeexxxttt….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s