[One Shot] Love Steril

love steril

Pertama-tama aku ingin kasih tahu bahwa ini adalah FF tergaje dan teraneh yang pernah aku buat. Jadi jangan berharap terlalu tinggi dengan FF ini. Aku buat FF ini cuma untuk iseng-iseng aja. Sebenernya FF ini udah lama dibuat tapi aku ragu apa FF ini pantes di post atau ga. Jadi dari awal aku sudah memberi peringatan kecil bahwa sebenarnya FF ini tidak layak untuk di baca.

FF ini adalah FF pertamaku dengan Sudut Pandang orang pertama tunggal. Jadi mohon maaf kalau ada kata-kata yang aneh karena aku baru pertama mencoba. Dan FF ini terinspirasi dari salah satu cerita komik yang aku lupa judulnya. Tapi hanya alur besarnya aja yang sama, yang lainnya berdasarkan cerita aku sendiri. Mohon dimaklumi jika bertebaran beberapa typo di dalamnya.

 

Mantel? Oke

Boot? Oke

Payung? Oke

Masker? Oke

Sarung tangan? Oke

Narik napas… Hembuskan… Tarik napas… Hembuskan…

Oke, ku rasa aku sudah siap!

“Eomma, aku pergi dulu”

Dengan ragu, aku melangkahkan kaki keluar rumah setelah mengenakan seluruh perlengkapan yang aku yakin dapat melindungiku. Baru saja langkah pertama, seketika itu juga semua terasa tidak benar bagiku. Aku kembali menarik napas panjang dan mencoba mulai melangkah secepat yang aku bisa.

Air, kotor, tanah dan bau. Semua hal yang ku benci berkumpul menjadi satu seolah menantang ku hari ini. Bibirku tak henti-hentinya merutuk sepanjang jalan. Bisa ku lihat orang-orang yang berpapasan denganku memandang dengan tatapan aneh bahkan ada yang tidak segan-segan melontarkan kalimat terkutuk yang makin membuat mood ku tidak baik hari ini. Memang apa peduli kalian? Dasar manusia-manusia jorok!

Ku pererat genggamanku pada gagang payung yang ku bawa sambil terus berjalan cepat hingga aku dapat segera sampai di ruang kampus yang tiba-tiba terasa beribu kali lebih baik. Mencoba tidak mengacuhkan tatapan-tatapan itu dan bunyi keciprak air dari aspal di bawahku. Aku bahkan harus semakin merapatkan tubuhku di bawah payung untuk memastikan agar punggung dan pundakku aman terlindungi.

Udara yang begitu lembab dan basah terasa begitu menyesakkan bagiku. Bau tanah yang memuakkan hampir saja membuatku memuntahkan seluruh sarapan yang telah masuk ke dalam lambungku. Ditambah percikan-percikan air bercampur tanah kotor yang melekat di boot dan di ujung-ujung mantelku, semua terasa bagaikan neraka. Memuakkan!

Bugh!

Tubuhku tiba-tiba terhuyung ke belakang dan dalam hitungan detik jatuh di atas aspal yang basah dan kotor. Aku mengumpat sejadi-jadinya dan mendelik kepada orang yang dengan sembarangan menabrakku.

Dia pemuda. Tampan. Tinggi. Namun… Oh! JOROK!! Ia mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya cemas.

Aku menatap horor tangannya yang penuh lumpur. Tanpa perlu pikir panjang, ku tepis tangannya dari wajahku. Akupun bangkit dan segera berjalan menjauh dari makhluk kotor itu. Oke, sepertinya hari ini memang benar-benar akan menjadi hari paling buruk bagiku.

-oOo-

“Oh, ya Tuhan Yoonie. Sampai kapan kau akan berpenampilan seperti itu ketika musim hujan tiba?”

“Stop!! 50 cm! Jangan mendekat lebih dari 50 cm dariku!”. Aku memberi peringatan dengan mengangkat kedua tangan untuk menahan Taeyeon agar tidak mendekat kepadaku. “Apa kau sudah cuci tangan? Apa kau sudah membersihkan celanamu dari cipratan lumpur? Apa kau sudah memberikan disinfectant pada tanganmu? Jika belum, maka jangan mendekat!”

Taeyeon memutar bola matanya malas. “Jika kau terus seperti ini, aku jamin sampai tiga puluh tahun ke depan kau tidak akan pernah mendapatkan seorang pacar, Nona Steril” lalu ia berlalu pergi.

Aku mendengus mendengar perkataan sahabatku itu. Pacar? Memang aku peduli? Semua lelaki sama aja. Mereka jorok, kotor, dan menjijikkan. Lihatlah betapa tidak terurusnya mereka. Sepatu mereka berlubang dan dipenuhi lumpur, keringat mereka bau, baju mereka kotor, tangan mereka dipenuhi kuman. Aku bergidik ngeri membayangkannya.

Mungkin hampir semua orang yang mengenalku menganggapku aneh. Aku memang maniak kebersihan. Aku tidak bisa mentolerir debu atau sesuatu yang kotor berada dalam jarak pandangku. Sejak kecil aku terbiasa hidup bersih. Aku membersihkan kamarku dua kali sehari, begitupula toilet di rumahku. Aku membilas bajuku sebanyak 5 kali dengan cairan disinfectant. Aku selalu mencuci tangan sehabis memengang benda yang tidak ku kenal. Aku selalu merendam seluruh peralatan makan dengan air hangat selama 10 menit sebelum ku gunakan untuk membunuh kuman. Semua itu kulakukan dengan alasan kesehatan. Aku hidup bersih karena aku ingin sehat. Bukankah seharusnya pemikiranku itu wajar dan dapat diterima?

Dan inilah saat yang paling kubenci. Hujan membuat semuanya berantakan. Membuatku ingin mendekam di dalam kamar seharian sampai semuanya terasa benar. Seandainya saja tidak ada hujan, tidak ada tanah, tidak ada kuman, dan tidak ada lelaki. Pasti hidupku terasa lebih aman.

-oOo-

“Aku pulang”

Aku melepaskan seluruh perlengkapan pelindungku. Sepatu boot, sarung tangan, masker wajah, dan mantel hujan. Semua itu lalu ku masukkan ke dalam plastik dan ku letakkan di dalam tong di ujung lorong. Nanti sehabis berganti pakaian, aku akan segera merendamnya dengan cairan disinfectant agar dapat kembali ku kenakan esok hari.

“Kau sudah pulang Yoonie?” tanya ibu dari arah dapur

“Ne, eomma. Aku ganti baju dulu” seruku sambil berjalan menaiki tangga menuju kamarku.

Aku membuka pintu kamarku dan terpaku sesaat. Ku kerjapkan mataku berkali-kali untuk memastikan pemandangan di hadapanku saat ini hanyalah sebuah halusinasi hororku.

Seorang lelaki. Membuka baju. Telanjang dada. Di kamarku.

“AAAAAAAAAaaaaaAAAA…” Aku menjerit sekuat yang ku bisa. “Kurang ajar! Siapa kau? Apa maumu? Kenapa kau bisa di dalam kamarku? Brengsek!” Semua sumpah serapah keluar dari mulutku. Tanpa pikir panjang, segera ku lemparkan semua benda yang berada dalam jarak jangkauku. Tas, bantal, boneka minion, buku, figura, patung keramik, sampai… meja.

“Ya! Ya! Tunggu!!” lelaki itu segera merampas meja yang telah ku angkat dan siap ku lemparkan kepadanya. “Ini salah paham” jelasnya cepat.

“Kenapa kau bisa berada di kamarku? Kenapa kau bisa ganti baju di sana? Kenapa kau berani-beraninya telanjang di kamarku???” teriakku frustasi.

Lelaki itu segera menutup mulutku dengan tangannya. “Kau berisik sekali!” protesnya sambil melotot kepadaku. Aku segera mendorong tubuhnya untuk melepaskan diri. Ku pandangi lelaki itu dari atas sampai bawah. Tubuhnya dipenuhi keringat yang bau, wajah dan tangannya kotor, baju yang baru saja dilepasnya dipenuhi lumpur. Dan seketika itu juga, aku menyadari bahwa aku akan muntah.

“Kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat” lelaki itu terlihat khawatir dan kembali mendekat.

“Berhenti!!” potongku. “Jangan mendekat! Kau… kau benar-benar kotor!!!” teriakku sambil segera berlari ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan diri.

-oOo-

“Yoonie, maaf karena eomma lupa memberitahumu. Dia adalah Lee Jonghyun. Dia putra paman Doujin di Busan. Jonghyun akan mengikuti tes masuk kerja di sini. Jadi ia akan menginap beberapa hari bersama kita”

Aku menatap ibu tidak percaya. “Eomma, bagaimana bisa kau tidak menanyakan pendapatku terlebih dahulu?” protesku.

“Memang kenapa? Jonghyun tidak akan merepotkan kita di sini. Appa senang ia bisa tinggal bersama kita” ayah menepuk-nepuk punggung Jonghyun dan tersenyum kepadanya. Lelaki yang bernama Jonghyun itu hanya membalas dengan senyuman sekenanya sambil terus melahap makan malam. Aku mendelik kesal kepadanya. Lihatlah bagaimana cara ia makan. Ya Tuhan, ini musibah. Benar-benar musibah.

-oOo-

Bip – Bip – Bip – Bip

Aku menggeliat ketika suara alarm memenuhi seluruh sudut kamarku. Ku raba meja nakas di sisi kiriku dan segera menutup mulut si alarm cerewet yang selalu setia membangunkanku setiap pagi. Dengan susah payah, aku mengumpulkan kesadaranku dan bangkit dari tempat tidur. Aku berjalan gontai ke arah kamar mandi dengan handuk terselempang di atas pundak. Dengan mata masih setengah terpejam, ku buka pintu kamar mandi dan tepat saat itu, aku mendapati Jonghyun tengah menggosok gigi di wastafel.

“Kau sudah bangun?” tanyanya dengan mulut penuh busa.

Aku mendelik jijik. “Cepatlah. Aku sudah telat” jawabku malas.

Dan Ya ampun!! Demi dewa Higeia yang berada di langit ke tujuh, mataku terbuka penuh begitu melihat benda yang begitu ku kenal berada dalam genggam lelaki itu. “Ya!! Kau menggunakan sikat gigiku???”

Lelaki itu menghentikan kegiatannya dan menatap sikat gigi itu. “Oh, jadi ini punyamu? Aku pinjam. Aku belum sempat ke minimarket untuk membeli perlengkapan mandi” setelah itu ia melanjutkan kembali aktivitasnya tanpa rasa bersalah.

Aku menatapnya horor. Mulutku terbuka lebar tanpa sadar. Namun segera ku tutup kembali karena tiba-tiba aku merasa begitu mual. Aku harus segera meminta ibu untuk mengusir lekaki jorok itu dari rumah ini. Ini musibah. Lelaki itu benar-benar musibah.

-oOo-

“Ya! Kau kenapa lagi?” Taeyeon mengetuk-ngetuk kerutan di dahiku dengan ujung jarinya. Aku mendengus lalu melirik kesal ke arahnya. Ia segera mengangkat kedua tangannya seperti seorang penjahat yang kedapatan mencuri dan mengerucutkan bibirnya sok imut. “Aku sudah mencuci tanganku tadi. Ini steril. Sungguh!”

“Kenapa dengan kerutan di dahimu itu? Masih kesal dengan hujan yang tidak kunjung berhenti?”

Aku mendesah malas. “Ani. Ini seribu kali lebih buruk dari hujan”

“Apa itu?” Taeyeon mendekatkan wajahnya kepadaku penasaran. “Apa yang bagimu lebih buruk dari hujan?”

“Ada seorang lelaki yang tinggal di rumahku saat ini”

“Mwo???” Taeyeon teriak tepat di telingaku. Aku mencibir kesal kepadanya namun tidak dihiraukan. Ia justru terlihat semakin penasaran dengan kalimatku tadi. “Seorang lelaki? Di rumahmu? Bagaimana bisa?”

“Dia anak dari teman baik ayahku. Saat ini ia akan mengikuti test masuk kerja”

Taeyeon terlihat berpikir untuk beberapa saat, kemudian ia menatapku dan tersenyum dengan wajah aneh. “Atau lelaki itu memang dijodohkan denganmu?” tanyanya dengan suara sok menggoda yang membuatku tiba-tiba ingin mencekiknya.

“Apa kau gila???” omelku. “Orang tuaku tidak mungkin melakukan hal konyol seperti itu”

Well. Tapi bukankah hal-hal seperti itu memang sangat klasik?” Taeyeon menggedikkan bahunya sekilas sambil nyengir lebar kepadaku. Kemudian ia segera pergi melarikan diri sebelum amukanku semakin menjadi. Kim Taeyeon, ingin rasanya aku merauk wajahmu dan melemparkannya ke dalam tong sampah.

-oOo-

Aku mendekap kedua tanganku sambil berjalan cepat dengan wajah tertunduk. Hujan memang sudah berhenti sejak beberapa jam yang lalu namun genangan air masih tersisa di beberapa tempat. Dan itu membuatku sangat tidak nyaman terlebih tanpa adanya perlengkapan perlindung di tubuhku. Aku menghentikan jalanku dan menoleh kesal ke arah belakang.

“Tidak bisakah kau mempercepat langkahmu?” omelku tak sabar.

Lelaki itu tersenyum dan menghampiriku masih dengan gaya berjalan yang sama lambat dari sebelumnya. “Tidak perlu terburu-buru. Aku punya banyak waktu”

“Aku yang tidak punya banyak waktu” potongku kesal dan kembali berjalan cepat meninggalkannya di belakangku.

Tadi sepulang dari kampus, ibu memintaku untuk menemani Jonghyun membeli beberapa keperluan di minimarket. Satu hal itu sudah cukup membuatku kesal. Ditambah ibu melarangku memakai perlengkapan pelindungku dengan alasan hujan telah reda dan letak minimarket yang tidak jauh dari rumah. Dan kini aku memiliki dua alasan kuat untuk terus merutuki lelaki itu di sepanjang perjalanan.

“Kau merasa tidak aman tanpa perlengkapanmu itu kan?” lelaki itu tiba-tiba sudah berada di sampingku dan mensejajarkan langkahnya dengan langkah cepatku.

“Apa pedulimu?” jawabku tak acuh.

Lelaki itu terkekeh tiba-tiba dan aku menatapnya aneh. “Ku rasa kita pernah bertemu sebelumnya. Aku pernah ingin menolongmu saat kau terjatuh. Kau gadis bermantel biru dengan masker seperti ninja itu kan?”

Aku memiringkan kepalaku untuk mengingat kejadian itu. “Ya! Kau yang menabrakku saat itu? kau lelaki dengan tangan penuh lumpur itu kan?”

“Aku tidak menabrakmu. Aku ingin menolongmu saat itu”

“Kau yang menabrakku. Jangan berkilah!”

“Saat itu jalanan memang sangat licin. Mungkin kau tergelincir”

Aku menghentikan langkahku dan berdiri berhadapan dengannya. “Aku merasakan kau yang menabrakku. Karena kau, mantel dan sepatuku jadi basah dan kotor” ucapku tak mau kalah.

Lalu tiba-tiba lelaki itu menarikku ke dalam pelukannya dan memutar tubuhku ke sisi lain jalan. Aku mengerjapkan mata berkali-kali untuk memulihkan keterkejutanku, kemudian segera mendorong tubuhnya menjauh. “Apa yang kau lakukan?” teriakku emosi.

“Maaf” jawabnya sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. “Tadi itu emergency situation

Lelaki itu kemudian berjalan terlebih dahulu meninggalkanku yang masih dalam keadaan kesal. Saat itu, aku dapat melihat seluruh baju bagian belakangnya kotor terkena lumpur. Kemudian aku beralih melihat keadaan jalan. Benar saja, tepat di belakang tempatku berdiri tadi, terdapat genangan air yang cukup besar. Dan sepertinya genangan tersebut terlintasi oleh mobil yang lewat dengan kencang tadi. Tatapanku pun kembali beralih pada punggung lelaki itu.

“Aku akan membelikanmu baju ganti” ucapku begitu mampu menyamai langkahnya.

“Tidak perlu. Kau hanya perlu mengucapkan terimakasih”

Aku menatapnya sesaat kemudian kembali tertunduk. “Terimakasih” gumamku pelan.

-oOo-

Hah! Sepertinya kesialan selalu saja menghampiriku selama beberapa hari terakhir. Aku mendesah kesal sambil menghentakkan kakiku berkali-kali ke lantai. Lihatlah! Hujan turun begitu lebat sekarang, dan aku sama sekali tidak membawa perlengkapan pelindungku. Bagaimana aku bisa pulang ke rumah kalau begini?

Kemudian aku mengambil ponselku dari dalam saku dan dengan cepat menekan deretan angka yang sudah ku hapal di luar kepala.

“Eomma!!” rengekku tepat ketika telepon tersambung. “Sudah ku bilang lebih baik aku membawa perlengkapanku. Lihatlah sekarang! Bagaimana aku bisa pulang?”

Bersabarlah sampai hujan reda” ucap ibu tak tertarik

“Bagaimana kalau hujan tak juga reda sampai malam hari?” tanyaku kesal.

Kalau begitu beli payung di manimarket, dan berlarilah pulang

“Tapi…”

Tut – Tut – Tut

Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, ibu sudah memutuskan telepon secara sepihak. Aku menatap kesal layar ponselku. Tidak percaya ibu bisa melakukan hal sekejam ini kepadaku. Ibu macam apa itu?

Ku lirik Jonghyun di sampingku, ia terlihat tenang dan bahkan sempat-sempatnya bermain dengan seekor anjing milik seorang ahjuma yang juga sedang berteduh menunggu hujan reda di depan minimarket.

Aku memperhatikannya dalam diam. Namun lama kelamaan…

Oh! Aku mulai merasa jijik melihat kegiatan Jonghyun dengan anjing itu. Anjing itu menjilati wajah Jonghyun dengan lidahnya yang penuh air liur yang bau dan lengket. Jonghyun justru terlihat senang kemudian mengelus-elus anjing itu dengan gemas. Aku mengernyit tidak suka. Jika saja tidak tahu situasi, aku pasti telah muntah sampai lambungku kosong tak berisi.

Sudah hampir 2 jam aku menunggu, namun hujan tak kujung reda. Hari sudah mulai kelam dan lampu jalan sudah mulai dihidupkan. Beberapa orang yang awalnya menunggu hujan reda di depan minimarket, akhirnya memilih untuk pulang menerobos hujan dengan hanya menggunakan sebuah payung. Kini di depan minimarket hanya ada aku dan Jonghyun. Jika saja boleh, rasanya aku ingin menangis sejadi-jadinya sekarang.

“Bagaimana sekarang?” tanya Jonghyun setelah hampir 2 jam tidak berbicara padaku.

Aku tidak menjawab. Aku hanya memandang hujan yang masih juga turun dengan tidak berdaya. Masih berharap Tuhan mau mendengarkan doaku untuk sekali ini saja. Aku berjanji akan membantu ibu melakukan seluruh pekerjaan rumah selama 1 bulan penuh jika saja hujan dapat berhenti saat ini juga.

“Aku akan beli payung dan mantel di minimarket”

Jonghyun berjalan memasuki minimarket tanpa menunggu jawaban dariku terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian, ia kembali keluar dengan tidak membawa satupun juga barang yang ia sebut tadi. Aku hanya dapat menatapnya penuh tanda tanya.

“Payung dan mantelnya telah habis. Kau masih berniat menunggu hujan reda?”

Aku hanya mendesah frustasi. Di satu sisi aku tidak ingin menerobos hujan yang begitu lebat, itu terlalu menjijikkan, dan di sisi lain aku harus segera pulang karena besok ada jadwal kuliah pagi dengan Prof. Jung yang terkenal kejam dan menakutkan.

Jonghyun tiba-tiba saja melepas kemeja yang sedang ia kenakan. Lalu ia berdiri mendekatiku dan menjadikan kemejanya tudung bagi kami berdua.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku terkejut sambil berjalan menjauhinya.

“Kita harus pulang. Ini satu-satunya cara untuk melindungi kita”

Aku menatap ragu kemeja dan Jonghyun secara bergantian. Aku yakin, sebelum sempat kami menginjakkan kaki di dalam rumah, aku telah pingsan terlebih dahulu di tengah jalan.

“Aku tibak bisa” tolakku pada akhirnya.

Jonghyun menatapku lama, kemudian ia mengangguk. “Baiklah. Aku duluan kalau begitu”

Aku membuka mulut hendak berteriak, namun lelaki itu telah terlebih dahulu berlari menerobos hujan dengan kecepatan kilat. Aku hanya dapat menatap tidak percaya kejadian yang baru saja ku lihat. Lelaki itu benar-benar kurang ajar. Bisa-bisanya ia meninggalkanku seorang diri di minimarket ini? Woah!! Jika aku bertemu dengannya besok, aku bersumpah akan memangkas rambutnya sampai botak tak bersisa, memakaikannya rok miniku, lalu menyeretnya ke tengah-tengah jalan di Gangnam-gu. Sungguh keterlaluan!!

-oOo-

Seratus empat puluh lima… Seratus empat puluh enam… Seratus empat puluh tujuh…

Aku duduk berjongkok di salah satu sudut minimarket sambil menghitung kelap-kelip lampu LED warna-warni yang terpajang di depan minimarket. Sudah 20 menit semenjak Jonghyun pergi meninggalkanku seorang diri di sini, dan hujan masih aja turun tanpa ampun. Aku menghembuskan napas panjang. Rasanya aku benar-benar ingin menangis saat ini.

“Dasar lelaki kurang ajar” umpatku kesal.

Aku memeluk lutut dan merapatkan tubuhku pada dinding untuk menghindari cipratan hujan yang mulai mengenaiku. Kemudian aku kembali memperhatikan lampu warna-warni itu dan mulai menghitungnya lagi.

Seratus empat puluh delapan… Seratus empat puluh sembilan…

“Maaf lama menunggu”

Sebuah payung berwarna biru tiba-tiba saja memenuhi pandangan mataku. Aku mengerjap-ngerjap cepat kemudian terdiam memandang payung itu. Tak lama kemudian, payung itu berubah menjadi wajah seorang lelaki yang tengah tersenyum aneh. Aku terkejut setengah mati, dan hampir saja membenturkan kepala belakangku ke dinding jika saja aku tidak mempunyai refleks tubuh yang baik.

“Kau? Kenapa kau bisa ada di sini lagi?” Aku menatap tidak suka kepada lelaki yang tengah berjongkok tepat di hadapanku itu. Ia kemudian menyerahkan sebuah kantong plastik besar kepadaku. Aku segera membuka kantong plastik itu, dan betapa terkejutnya ketika mendapati seluruh perlengkapan pelindungku berada di dalamnya.

“Kau mengambil semua ini?” tanyaku tak percaya.

Jonghyun tersenyum kemudian ia bangkit berdiri. “Ayo pulang”

Aku menatap Jonghyun tanpa berkedip. Tubuhnya sudah basah kuyup karena hujan, dan wajahnya terlihat pucat mungkin karena kedinginan. Tiba-tiba saja aku merasa bersalah telah menyumpahinya bermacam-macam sejak tadi. Rasanya aku ingin menangis karena terharu. Tapi maaf, aku tidak akan melakukannya. Hanga diriku terlalu tinggi untuk melakukan hal memalukan seperti itu.

Akupun bangkit dari posisiku dan mulai memakai seluruh perlengkapan pelindungku. Setelah semuanya beres, akupun siap berjalan menerobos hujan tanpa ragu.

“Terimakasih” ucapku di tengah perjalanan pulang kami. Aku berhutang budi padanya dan pasti akan ku bayar suatu saat nanti.

-oOo-

“Apa kau tidak lelah dengan keadaanmu?” Jonghyun tiba-tiba berdiri di depan pintu kamarku. Ia terlihat masih mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil sambil berjalan memasuki kamar. Kemudian tanpa izin, ia duduk di atas ranjangku.

“Lelah apa? Memang kenapa dengan keadaanku?”. Aku menatapnya tidak suka. Baru saja aku mencoba mereset ulang pemikiranku tentang sikapnya, namun tiba-tiba saja aku membatalkan niatku. Lelaki itu memang kurang ajar dan tidak punya sopan santun.

“Phobia-mu itu. Apa kau tidak lelah?”

“Phobia? Memang aku punya phobia apa?”

Jonghyun berdecak mendengar pertanyaanku. “Rasa takut secara berlebihan itu disebut phobia. Dan kau jelas-jelas memiliki phobia terhadap segala sesuatu yang menurutmu kotor”

“Takut pada kotor itu bukannya sebuah hal yang wajar?” elakku tak mau kalah.

“Wajar jika tidak berlebihan seperti apa yang kau lakukan”

Aku menggerutu kesal. Ini bukan phobia, tapi ini merupakan proteksi ekstra terhadap tubuhku. Lagipula aku tidak merepotkan seseorang dengan semua yang ku lakukan. Aku justru membantu menjaga lingkungan di sekitar ku agar tetap bersih dan steril.

“Mau ku bantu?” ucap Jonghyun tiba-tiba

“Bantu? Bantu apa?” aku menatapnya tidak mengerti.

Jonghyun kemudian berdiri dan menepuk kedua pundakku pelan. “Aku akan membantumu menghilangkan phobia itu. Percayalah padaku” ucapnya sok yakin dan profesional.

Musibah! Sejak awal aku sudah tahu bahwa lelaki ini adalah musibah.

-oOo-

Pernahkah aku berkata bahwa aku akan mencekik seseorang dan menjadikannya umpan untuk harimau-harimau yang kelaparan di kebun binatang? Jika belum, maka ku rasa aku akan melakukannya hari ini!!

Ya Tuhan! Lee Jonghyun benar-benar serius dengan misi konyolnya untuk membantuku menghilangkan phobia –yang menurutnya- ku derita. Mulai dari membuang semua disinfectant di dalam rumah, kemudian menyuruhku untuk makan dengan tangan, melarangku mandi, sampai mengajakku bermain pasir di pantai. Semua itu selalu gagal, namun ia tidak juga menyerah, terlebih lagi ibuku mendukung penuh aksi konyolnya itu. Semua itu membuatku hampir gila.

Dan puncaknya adalah sekarang, saat ia mengajakku pergi mengelilingi Seoul tanpa membawa satupun perlengkapan pelindungku. Aku menolaknya tentu saja, namun ibu mengancam akan memotong uang sakuku jika aku menolak. Akhirnya dengan berat hati, aku harus menyetujuinya.

“Tenang saja. Aku sudah melihat ramalan cuaca bahwa hari ini tidak akan turun hujan” ucap Jonghyun yakin.

Aku menghela napas pasrah. Fisarasatku mengatakan bahwa hari ini akan berakhir dengan buruk. Maka aku hanya dapat berdoa dalam hati untuk meminta perlindungan pada Tuhan.

-oOo-

Cuaca memang sangat terik hari ini. Matahari bersinar begitu terang seolah mengejekku akan firasat bodoh yang ku rasakan sesaat sebelum keluar rumah tadi. Aku melirik Jonghyun di sampingku yang tengah asik menjilati es krim vanilla-nya yang mulai mencair.

“Kau mau?” tawarnya polos.

Aku mengernyit. “Tidak. Terimakasih”

Kami sedang duduk di salah satu kedai es krim di pinggir jalan. Beberapa menit yang lalu, Jonghyun tiba-tiba saja menarikku ke kedai ini untuk membeli es krim yang disebut-sebut paling enak di daerah Myeongdong. Namun, tentu saja aku menolak membelinya. Lihatlah kedai ini, letaknya di pinggir jalan, tempatnya juga sudah tua dan kumuh. Pasti tidak hygienis. Dan aku tidak mau mengambil resiko mempertaruhkan kesehatanku yang berharga hanya untuk sebuah es krim konyol. Jadi aku lebih memilih membeli sebotol air mineral dingin pada vending machine di sebelah yang sudah terjamin kebersihannya.

Baru saja aku selesai meneguk air mineral dinginku yang segar, tiba-tiba saja Jonghyun menyambarnya dari tanganku. Ia segera meminum air mineral itu sampai bersisa tidak sampai separuh. Aku menatapnya tidak percaya. Bukankah botol air mineral itu baru saja ku minum langsung dari mulutku?

“Kenapa?” tanyanya sambil mengembalikan botol itu padaku.

Aku melongo.

“Itu kan bekas mulutku”

“Lalu kenapa? Apa kau belum sikat gigi tadi pagi?”

Haaah… Rasanya aku ingin menenggelamkan tubuhku ke kolam terdekat sekarang. Ibu! Kenapa kau tega sekali membiarkan anakmu bersama lelaki super jorok ini?

-oOo-

Aku berjalan pelan sambil sesekali menendang kerikil yang berada di depanku. Kakiku sudah hampir mati rasa setelah berjalan mengelilingi kota Seoul seharian, dan sekarang kami justru berada di tepi sungai Han. Jonghyun kembali menarikku ke tempat ini dengan alasan ingin melihat matahari terbenam di tepi sungai Han. Sungguh Tuan yang banyak mau.

Jonghyun langsung mendudukkan tubuhnya di atas rerumputan hijau tanpa ragu. Sedangkan aku hanya berdiri di samping sambil memperhatikannya. Tidak tertarik jika harus duduk di atas rerumputan yang kotor itu. Namun tiba-tiba Jonghyun menarik tanganku dan membuatku jatuh terduduk. Ia kemudian hanya tertawa menanggapi tatapan tidak suka dariku. Akhirnya akupun menyerah, dan mencoba menikmati angin sore yang berhembus lembut di tepi sungai Han.

“Tidak buruk kan?” tanya Jonghyun sambil menatap sungai Han yang tenang.

“Apanya?”

“Menjadi normal”

“Normal?” aku mendelik padanya. “Jadi kau pikir aku tidak normal?” tanyaku kesal.

“Kau bukannya tidak normal. Tetapi sedikit… luar biasa”. Jonghyun berkata sambil menepuk puncak kepalaku.

Awalnya aku tersentak dengan sentuhannya yang tiba-tiba itu. Rasanya tubuhku secara refleks ingin menghindarinya kemudian menyemprotkan tangannya dengan cairan disinfectant yang biasa ku bawa tiap saat. Tapi akhirnya aku sadar, bahwa semua cairan disinfectant yang ku punya telah dibuang olehnya. Jadi kubiarkan tangannya berada di atas kepalaku lebih lama, walau dengan perasaan yang teramat sangat tidak nyaman.

Ia menatapku lama kemudian tertawa geli. Aku hanya mengerucutkan bibir tidak suka melihat tingkahnya yang semakin aneh.

Dalam jarak sedekat ini, tiba-tiba aku merasa lelaki ini memiliki mata hitam yang indah. Dan pernahkah aku berkata bahwa lesung pipinya terlihat begitu menawan?

Oh! Tunggu!

Apa aku baru saja bilang ia menawan? Hanya karena dua buah lubang tidak berguna yang bertengger di pipinya, dan aku mengakui bahwa ia menawan? Sepertinya tiba-tiba otakku tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Ini konyol!

Ini tidak benar!

Sadarlah Im Yoona!!

Guk – Guk

Aku harus berterimakasih kepada suara yang telah mengembalikan kesadaranku tepat pada waktunya.

Tiba-tiba saja seekor anjing pudle kecil berwarna putih melompat ke atas tubuh Jonghyun. Aku yang terkejut juga melompat ke sisi lain untuk menghindari anjing itu. Anjing itu menjilati wajah Jonghyun tidak sabar dengan ekor yang mengibas-ngibas cepat. Jonghyun tertawa senang kepada anjing itu. Lalu dari jauh, aku bisa melihat seorang anak lelaki bertumbuh gempal berlari ke arah kami.

“Soruuuuu” teriak anak kecil itu dari kejauhan.

Ia terengah-engah setelah sampai di hadapan Jonghyun. Kemudian anak kecil itu membungkuk sopan. “Maafkan Soru”.

“Oh! Kau kakak yang waktu itu kan?” anak kecil itu menunjuk Jonghyun kaget, kemudian tersenyum senang. “Pantas Soru mengenalimu”

Jonghyun tersenyum kemudian kembali mengelus anjing bernama Soru itu dengan gemas.

“Kenapa anjing itu bisa mengenalimu?” tanyaku pada Jonghyun penasaran, masih mempertahankan jarak aman antara diriku dan anjing puddle itu.

“Kakak ini telah menyelamatkan hidup Soru” anak kecil bertubuh gempal itu mewakili Jonghyun menjawab.

Aku mengangkat sebelah alisku, meminta penjelasan lebih lanjut.

Anak itu ternyata mengerti maksudku, dan dengan semangat ia menceritakan panjang lebar mengenai aksi heroik Jonghyun yang telah menolong anjingnya dari dalam sungai saat hujan deras beberapa hari yang lalu. “Untunglah kakak ini datang, kalau tidak mungkin Soru telah hanyut terbawa arus sungai yang deras” ucapnya di akhir cerita.

Aku mengangguk mengerti. Kemudian tatapanku beralih pada Jonghyun yang entah sejak kapan sudah sibuk bermain frisbee dengan Soru. Aku tersenyum diam-diam. Pantas saat pertama kali bertemu denganya, tubuh Jonghyun dipenuhi lumpur yang kotor dan bau. Ternyata saat itu ia baru saja menyelamatkan nyawa Soru dari bahaya. Dan aku harus mengakui kali ini, bahwa Jonghyun memiliki hati yang luar biasa.

Tiba-tiba saja frisbee itu mendarat tepat di depanku. Soru berlari menghampiriku kemudian mengibas-ngibaskan ekornya dengan semangat. Aku mundur dengan teratur. Kemudian menatap Jonghyun tak berdaya, memohon bantuannya melalui tatapan mataku.

Dan, khas Jonghyun -tanpa berpikirpun aku sudah tau kalau ini akan terjadi-. Bukannya membantuku, ia justru duduk menunggu sambil tertawa menyebalkan. Baru saja aku memujinya beberapa menit yang lalu, sekarang aku akan menarik kembali ucapanku itu.

Dengan takut-takut, akhirnya aku memberikan frisbee itu kepada Soru. Soru terlihat tidak tertarik dengan frisbeenya, ia justru memilih untuk duduk manis di depanku. Mau apa anjing ini?

“Sepertinya ia ingin bermain denganmu” teriak Jonghyun dari kejauhan.

Aku mengernyit dan menolak ide Jonghyun tanpa perlu pikir panjang.

“Letakkan saja tanganmu di atas kepalanya” Jonghyun mengusulkan ide yang lebih gila.

“Jauhkan dia dariku” perintahku galak.

“Ia tidak akan menggigitmu. Tenang saja”

Aku menatap Soru ragu, dan Soru juga menatapku dengan mata bulatnya yang terlihat menggemaskan. Kami saling bertatapan selama beberapa detik. Dan akhirnya aku mengaku kalah, Soru terlalu imut untuk ku abaikan. Dengan ragu, aku mengulurkan tanganku ke atas kepalanya. Perlahan-lahan, inci demi inci.

“Soru, kau sudah mandi kan? Bulu putihmu ini tidak bau kan?” tanyaku pada Soru dan tentu saja tidak mendapatkan satupun jawaban darinya.

Oh! Ini tidak terlalu buruk! Aku menyukai sensasi yang kurasakan ketika mengelus bulunya. Ternyata bulu Soru terasa lembut dan menggumpal, terasa sedikit lebih kasar dari kapas kosmetik yang biasa ku pakai. Aku tersenyum begitu melihat Soru menikmati tiap inci sentuhanku.

Soru kemudian menegakkan tubuhnya dan kembali mengibas-ngibaskan ekornya sambil menggonggong gembira. Akupun bangkit kemudian mengambil frisbee milik Soru dan melemparkannya jauh-jauh. Dengan secepat kilat, Soru mengejar frisbee itu dan berhasil menangkapnya. Ia lalu membawa frisbee itu kembali padaku. Sepertinya Soru memang benar-benar ingin bermain denganku. Anjing pintar!

-oOo-

Bukankah aku sudah mengatakannya sejak awal, bahwa aku mempunyai firasat buruk hari ini? Dan sepertinya Tuhan benar-benar mengerti cara ampuh untuk membuatku frustasi. Hujan kembali mengguyur Seoul senja ini, sebelum aku sempat mendekap di dalam kamarku yang sangat nyaman dengan piyama Hello Kitty favoriteku.

Lagi-lagi aku hanya dapat menatap hujan yang turun dengan tidak berdaya. Kami berteduh di depan kedai kecil di tengah perjalanan pulang. Dan sampai saat ini, belum ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Aku menghela napas panjang. Rasanya sebagian jiwaku telah terbang entah kemana.

“Kau tunggulah di sini”. Aku melihat Jonghyun telah siap dengan sebuah jaket yang menutupi kepalanya. “Aku tidak akan lama”.

Tepat sebelum lelaki itu berlari menerobos hujan, aku menarik ujung t-shirtnya. “Kau mau pulang mengambil perlengkapanku lagi?”

Jonghyun mengangguk. “Tunggulah sebentar”.

“Tapi jarak rumah masih sangat jauh”. Aku kembali menarik t-shirt hitamnya untuk menghentikan gerakannya. Aku tidak mungkin membiarkannya berlari pulang ke rumah dengan jarak sejauh itu, kemudian membuatnya harus kembali lagi untuk membawakan perlengkapan pelindungku. Aku sudah terlalu banyak berhutang budi padanya. Kau terlalu baik hati, Lee Jonghyun.

“Tapi…”

Belum sempat Jonghyun menyelesaikan kalimatnya, aku sudah terlebih dahulu menempatkan diriku di bawah jaket abu-abunya. “Ayo kita pulang bersama”

Jonghyun menatapku tanpa berkedip. “Apa kau yakin?”

Aku mengangguk, kemudian makin merapatkan tubuhku di bawah jaketnya yang tidak terlalu besar untuk kami berdua. “Kau bilang akan membantuku kan? Jadi bantu aku sekarang”

Jonghyun tersenyum dan mengangguk mengerti. “Ini tidak akan sesulit yang kau kira”.

Akhirnya tanpa ragu, kamipun berlari di bawah derasnya hujan. Aku tahu bahwa tindakanku saat ini benar-benar di luar batas kemampuanku. Di sepanjang jalan pulang yang panjang dan begitu berat, aku bisa merasakan bagaimana bau tanah basah yang begitu ku benci menyeruak masuk ke dalam penciumanku. Aku juga bisa merasakan banyaknya cipratan tanah kotor yang menempel di seluruh bajuku.

Dan ajaib!

Entah kenapa, aku tidak merasa terganggu dengan semua itu. Justru rasa hangat dan aman yang lebih ku rasakan. Dengan adanya jaket tipis itu yang menahan derasnya hujan di atas kepalaku, dengan adanya lengan kekar itu yang melindungiku, dan dengan adanya dia di sampingku, tiba-tiba saja semuanya terasa benar. Sepertinya Tuhan tidak benar-benar membuatku frustasi, justru mungkin Tuhan benar-benar mengerti bagaimana mengubah cara pandang dan juga hatiku mengenai semua hal. Melalui orang itu, dan juga hujan deras ini.

-oOo-

Begitu membuka mata, aku merasakan sinar matahari menusuk retinaku yang belum siap dengan deretan specktrum-nya yang begitu menyilaukan. Lantas kepalaku juga terasa berdenyut-denyut hebat akibat sinar yang tiba-tiba ku terima itu. Ku pijat pelan pelipisku sebelum bangkit dari tidur.

Ternyata ibu telah berada di sampingku entah sejak kapan. Ia menatapku khawatir, kemudian ia memegang dahiku untuk memeriksa suhu tubuhku.

Aku menatap ibu tidak mengerti.

“Aigoo… Kau membuat eomma khawatir!!” ibu mulai memukuli lenganku.

“Eomma, appo!!” rengekku sambil menghindari pukulan ibu yang bertubi-tubi. Aku tidak mengerti kenapa ibu tiba-tiba bersikap seperti ini.

“Makanya, jangan sok menjadi kuat dan pulang dengan keadaan basah kuyup seperti itu!”

Basah kuyup? Ah… Aku ingat sekarang. Kemarin aku pulang dengan menerobos hujan deras bersama Jonghyun. Apa aku jatuh sakit karena kejadian itu?

“Kau pingsan selama 2 hari, anak nakal” jelas ibu seolah-olah tau akan pikiranku.

“Hah? 2 hari?” tanyaku kaget.

“Kata uisanim, sistem kekebalan tubuhmu tidak bagus karena sebelumnya kau sangat menjaga kebersihan. Kejadian kemarin seperti shock berat bagi tubuhmu. Tubuhmu tidak terbiasa dengan hal seperti itu. Maka dari itu…bla-bla-bla”

Aku bengong mendengar semua deretan penjelasan ibu yang tidak ada abisnya. Suara ibu terdengar seperti terompet sumbang. Membuat telingaku sakit dan kepalaku terasa hampir pecah.

“Lalu mana Jonghyun?” potongku untuk menghentikan ocehan ibu.

“Dia sudah pergi”

“Hah? Pergi??” tanyaku kaget. “Kemana? Kapan? Ibu mengusirnya ya?”

Ibu menjitak kepalaku. “Tentu saja pulang ke rumahnya di Busan. Ia baru saja berangkat 30 menit yang lalu. Ia tidak lulus tes pekerjaan di sini, maka ia memutuskan untuk kembali ke Busan”

Tanpa pikir panjang, aku segera bangkit dari kasurku dan mengambil asal salah satu sweater yang tergantung di balik pintu.

“Yoonie, kau mau kemana? Di luar hujan deras” teriak ibu dari dalam kamar yang tidak ku acuhkan.

-oOo-

Aku berlari menerobos hujan hanya dengan sebuah payung dan sweater tipis yang ku kenakan. Bisa ku rasakan suhu tubuhku yang masih belum pulih sepenuhnya. Penglihatanku terasa kabur dan aku bisa merasakan uap panas yang keluar dari mulutku. Demam ini datang tidak pada waktunya.

Aku tidak peduli dengan bau tanah basah ataupun percikan kotor air hujan yang biasa mengangguku sebelumnya. Yang ada di benakku sekarang hanya lelaki itu. Bisa-bisanya ia pergi tanpa pamit setelah semua yang ia lakukan padaku. Setelah mengganggu kehidupanku yang tenang dan steril, setelah memaksaku untuk mengubah gaya hidupku, dan setelah dengan kurang ajarnya masuk dan menjadi tokoh utama dalam cerita cintaku. Lihat saja Lee Jonghyun! Jika aku berhasil menemukanmu, maka aku akan mencukur habis rambutmu hingga botak kemudian memaksamu menari Gangnam style di tengah jalan utama Gangnam-gu.

Setelah hampir 20 menit berlari di tengah hujan, akhirnya aku sampai di Seoul Stasiun KTX. Aku mengedarkan pandangan mencari sosok lelaki itu. Berharap belum terlambat dan ia masih berada di stasiun ini.

“Ya! Lee Jonghyun!!” panggilku setelah melihat sosok familiar yang tengah berdiri memperhatikan papan petunjuk keberangkatan.

Aku menghampirinya secepat kilat tanpa melepas tatapanku padanya. Jonghyun terlihat terkejut dengan kehadiranku di sini.

Bugh!

“Aarrrgh!!”

Aku menendang kakinya tanpa rasa bersalah. Ia merigis kesakitan kemudian menatapku galak. “Ya! Apa yang kau lakukan?”

“Untung aku hanya menendang sebelah kakimu. Apa kaki sebelahnya juga ingin merasakan hal yang sama??” tantangku sambil menatapnya galak.

“Ada apa denganmu?”

“Kau masih bertanya kenapa?”. Sekarang aku mulai memukulinya dengan payung yang ku bawa. Ya ampun, lelaki ini benar-benar membuat darah tinggiku kumat.

“Walaupun kau kecewa karena gagal tes masuk, setidaknya kau harus berpamitan padaku yang telah berbaik hati menemanimu selama ini. Kau benar-benar pria tidak tahu terimakasih” omelku panjang lebar.

Jonghyun segera merebut payung itu dariku dan menatapku dengan wajah kebingungan. “Gagal tes? Berpamitan?”

Kemudian, tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak. Membuatku malu dengan tatapan orang-orang yang sudah mulai memperhatikan tingkahnya yang mulai tidak waras. Sepertinya aku harus segera pulang sebelum petugas keamanan menangkap kami.

“Ya, bodoh! Kau mengira aku gagal tes masuk?” Jonghyun menjitak puncak kepalaku, membuatku mendengus kesal padanya.

“Maaf saja, tapi aku tidak sebodoh yang kau kira. Aku lulus tes masuk dan mulai bekerja minggu depan”

Aku menatapnya tanpa berkedip. Ibu, jadi inikah balas dendammu akibat ulahku pulang dengan tubuh basah kuyup tempo hari? Tega sekali!

“Aku pulang ke Busan untuk mengambil barang-barangku. Lusa aku akan kembali ke Seoul”

Aku menunduk malu. Ah… Rasanya aku perlu melakukan operasi plaktik kemudian mengubah identitasku dan hidup di desa terpencil seorang diri.

Tiba-tiba Jonghyun mengulurkan tangannya ke hadapanku. “Aku pamit. Sampai jumpa dua hari lagi”

Aku hanya menatap tangan itu lama-lama tanpa berniat membalasnya.

“Ah… Aku lupa. Tanganku tidak steril. Aku belum mencuci tanganku sejak tadi” kemudian ia menarik kembali tangannya.

Aku menatap Jonghyun dengan alis bertaut. Dasar bodoh! Bukan itu yang ku pikirkan. Persetan dengan segala kuman dan ketidak-sterilan itu. Aku hanya tidak ingin berpamitan padamu. Apa kau tidak mengerti?

Aku tahu apa yang ku lakukan setelah ini benar-benar di luar akal sehatku. Ini benar-benar reaksi spontan tubuhku yang tidak dapat ku hentikan. Tepat sebelum ia berbalik pergi, aku mengulurkan kedua tanganku dan memeluknya. Kejadian itu hanya berdurasi sepersekian detik, namun efeknya begitu luar biasa bagi tubuhku. Jantungku berpacu dengan frekuensi tidak karuan secara kurang ajarnya, keringat dingin membasahi seluruh tubuhku, dan wajahku terasa panas seperti dipanggang di dalam oven bersuhu tinggi.

Jonghyun menatapku tanpa berkedip, kemudian ia tersenyum.

Dan kejadian selanjutnya mungkin benar-benar bisa membuatku dilarikan ke ICU karena serangan jantung mendadak.

Jonghyun mengecup bibirku. Ringan. Namun manis.

Kemudian ia terkekeh ringan dan berbalik pergi tanpa sepatah katapun. Membuatku hanya dapat menatap kosong punggungnya dengan kesadaran yang tinggal separuh.

Lalu tiba-tiba ia berbalik lagi dan berkata, “Oh! Maaf, tapi aku lupa menyikat gigiku tadi pagi”

Aku melotot. Sepertinya kesadaranku kembali lebih cepat dari seharusnya. “Ya!! Lee Jonghyun! Kau mau mati??” teriakku histeris.

-oOo-

26 thoughts on “[One Shot] Love Steril

  1. Ya Ampyuunnn,,,
    Kyaaaaaa,,, Sekian lama Haus akan FF DeerBurning
    Akhirnyaaa,,,
    Benar2 deeh FF mu bagus Ceritanya menarik dan Bahasanya juga tepat,,,
    Huaaaa,,,
    Jooaaahhhhhh,,,
    Aku tunggu Project DB lainnya,,Hehe
    Keep Writing

  2. ahahaha, kereeen. jadi akhirnya yoona gg phobia kotor lagi? yee, jonghyun berhasil bikin yoona sedikit normal.

    amit2 banget punya phobia kaya yoona. hha bisa kerepotan banget tuh,🙂

    ditunggu ff yoona selanjutnya author,🙂

  3. huh lma bgt gx main diblog ini..heee
    cerita ini juga pernah di buat ftvnya..
    tp ceritanya beda..
    intiny doang yg sma..hihihi
    ditunggu trs ff deerburning..

  4. apapun ceritanya asalkan mereka berdua ybg jadi cast utamanya aku tetep sukaaaa

    ahhhh jadi gereget sama ini pasangan(?)
    perbanyak(?) cerita mereka berdua thorrr
    aku jadi ngepens ama ini couple hahaha😀

  5. Aakhhhh akhirnya stlahmnunggu lama ff joongyoon lagi akhirnya kluar juga ff jongyoon baru…. senyum2 thpr bacanya..heheh lucu critanya.wlopun crta kaya gni dah umum tpi msih sweet pas dibaca pplgi cast nyawjongyoon..chingu bkin ff jongyoon lgi yah.kebal..khamsa

  6. Waaahhhh keren banget thor ceritanya..lama ga baca ff deerburning. Harapan deerburning bersatu didunia nyata uda pupus jadi cuma berharap deerburning bersatu terus didunia ff,kekeke!!

    Thor bikin lagi cerita deerburning yang lain ya!!!

  7. Hmmn sprtinya aku tau author terinspirasi dr komik apa, klo ga salah komik watase yuu tp lupa judulnya /plak
    Well crita ini begitu manis, simple konfliknya tp bikin deg2an tiap bacanya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s