Formula X [Memory 5]

formulax copy

Judul: Formula X [Memory 5]

Main Cast:

Jung Yonghwa CNBlue sebagai Jung Yonghwa

Seo Joohyun SNSD sebagai Seo Joohyun

Other Cast:

Lee Jonghyun CNBlue sebagai Lee Jonghyun

Im Yoona SNSD sebagai Im Yoona

Kwon Yuri SNSD sebagai Kwon Yuri

Rating: PG-17

Lenght: Chaptered

Genre: Romance, Action, AU

Teaser – Prolog – Memory 1 – Memory 2 – Memory 3 – Memory 4

J n J Design Architecture Office, Gangnam-gu, Seoul

Pukul 19.00 KST

Jari-jari lentiknya menari lincah, menimbulkan bunyi ketukan kecil dari tuts-tuts keyboard yang ditekan itu. Mata hitamnya bergerak cepat mengikuti susunan kata yang terbentuk menjadi sebuah kalimat-kalimat panjang di dalam layar monitor. Sesekali ia menghela napas panjang dan mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa perih akibat lima jam digunakan tanpa henti.

Tubuhnya tersentak ketika tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundaknya pelan. “Kau belum pulang Hyunnie?”

Seohyun menghentikan aktivitasnya dan menoleh kepada si pemilik tangan. Didapati gadis berkulit coklat keemasan itu tersenyum padanya. Seohyun balas tersenyum.

“Belum eonni. Masih ada beberapa hal yang perlu ku perbaiki”

Yuri, gadis berkulit coklat keemasan itu, mendekatkan wajahnya ke depan monitor kemudian membaca beberapa deret kalimat yang saat ini sedang dikerjakan oleh Seohyun. Setelah selesai, ia kembali menegakkan tubuhnya kemudian menggeleng pelan. “Aigoo, sampai kapan pekerjaan itu akan berakhir?”

Seohyun tertawa ringan. “Kau kan tahu bahwa minggu depan seleksi akhir dari project Art Museum di pulau Jeju itu. Aku harus menyelesaikan design dan laporanku secepatnya” jelas Seohyun.

Yuri berdecak kemudian kembali menepuk pelan pundak Seohyun. “Kalau begitu aku pulang duluan Hyunnie. Atau mau ku temani sampai kau selesai?” tawarnya.

“Aniyo eonni” tolak Seohyun cepat. “Kau pulanglah dulu. Aku belum tahu sampai kapan laporan ini selesai”

Yuri akhirnya mengangguk menyetujui perkataan Seohyun. “Baiklah aku duluan. Hati-hati ketika pulang nanti” pamit Yuri sebelum pergi meninggalkan Seohyun seorang diri di kantor.

Seohyunpun menghela napas berat begitu melihat sosok Yuri yang telah menghilang di balik pintu. Walaupun ini bukan pertama kalinya ia lembur, namun tetap saja melihat ruangan seluas ini kosong tanpa ada seorangpun, membuatnya bosan dan tidak bersemangat.

“Fighting, Seo Joohyun!!!” ucapnya lantang menyemangati diri sendiri.

Seohyun menegakkan tubuhnya, menggerakkan badannya ke kiri dan ke kanan untuk memberi sedikit perenggangan pada otot-ototnya yang sudah terasa kaku sejak beberapa jam yang lalu, kemudian ia mengikat rambut panjangnya membentuk kuncir ekor kuda. Ia lalu meneguk kopi yang sudah terasa dingin di sampingnya sebelum melanjutkan kembali perkejaannya yang belum juga rampung.

-X-

Bersembunyi di balik gelapnya malam, satu sosok manusia dengan pakaian serba hitam menunggu dengan tenang di dalam mobil Mersedes Benz yang juga berwarna hitam. Matanya menatap lekat-lekat mobil VW Beetle warna kuning mencolok yang terparkir tidak jauh dari tempatnya. Sesekali ia juga memperhatikan gedung berlantai 16 yang menjulang tinggi di hadapannya. Hampir semua lampu di setiap lantai gedung itu telah padam, kecuali lampu di lantai 5, tempat gadis itu bekerja.

Kemudian ia menyeringai lebar, sepertinya mendapatkan gadis itu tidak akan menjadi tugas yang sulit. Ah, bukan gadis itu yang ingin ia dapatkan, melainkan ingatan gadis itu. Ingatan paling berbahaya di dunia ini.

-X-

Kediaman Keluarga Im, Gangnam-gu, Seoul

Pukul 19.00 KST

“Ya! Im Yoona!! Kau benar-benar anak nakal!!” sembur ibunya tepat ketika Yoona menginjakkan kakinya di dalam rumah.

“Kau bilang ada di Rumah Sakit? Di Rumah Sakit mana? Apa kau bekerja di dua Rumah Sakit?” tanya ibunya tanpa henti sambil menghampiri Yoona dengan sebuah sapu di tangannya.

Yoona membelalakkan mata ketika melihat sosok menyeramkan sang ibu mendekatinya. Dengan secepat kilat, Yoona segera berlindung demi menyelamatkan dirinya dari amukan sang ibu.

“Ya! Im Yoona!! Dimana kau tadi? Kenapa tidak datang menemui Donghae? Kenapa tidak ada di Rumah Sakit?” ibunya mulai berlari mengejar Yoona dengan sebuah gagang sapu yang siap kapan saja mendarat di kepala atau bahkan di pantatnya.

“Sejak awal aku sudah bilang bahwa aku tidak akan menemuinya” jawab Yoona yang bersembunyi di balik punggung untuk menghindari serangan sang ibu.

“Ya!! Kau masih berani menjawab??” geram sang ibu yang membuatnya makin gencar menangkap Yoona.

Terjadilah kejar-kejaran ala tikus dan kucing antara ibu dan anak itu. Yoona masih berlindung sambil berusaha menghindari serangan bertubi-tubi dari ibunya, sedangkan ibunya dengan sekuat tenaga mengayunkan gagang sapunya ke arah putri tunggalnya itu.

Jonghyun, yang sedari tadi berdiri di tengah-tengah kekacauan antara ibu dan anak itu, terlihat bingung dengan keadaan yang semakin tidak terkendali. Yoona yang menghindari serangan ibunya, berlindung di balik punggungnya sambil menarik-narik kemejanya mengikuti gerakan gadis itu. Sedangkan sang ibu, yang masih tidak sadar dengan kehadiran Jonghyun sampai saat ini, masih terus berusaha menyerang putrinya dengan gagang sapu yang sudah beberapa kali mengenai muka, tangan, perut, bahkan kepala Jonghyun.

“Eommonim” panggil Jonghyun terbata.

Namun panggilan Jonghyun sama sekali tidak dihiraukan bagaikan angin lalu. Kedua wanita yang berada di depan dan belakangnya masih saja sibuk dengan usaha menyerang dan menyelamatkan diri mereka masing-masing. Jonghyun menghela napas, kemudian kembali membuka suara dengan intonasi yang lebih tinggi.

“Eommonim!!”

Akhirnya kedua wanita itu berhenti setelah mendengar suara orang selain mereka di ruangan itu.

Ibu Yoona menatap Jonghyun heran tanpa berkedip. “Siapa?” tanyanya pelan.

Yoona yang sejak tadi bersembunyi di balik punggung Jonghyun, setelah melihat amarah ibunya mereda, memberanikan diri untuk keluar dari persembunyiannya.

“Eomma, kenalkan ini Lee Jonghyun” jawab Yoona.

Jonghyun segera membungkuk memberi hormat pada wanita di depannya itu. “Anyeonghasimnika, Lee Jonghyun imnida” sapa Jonghyun sopan.

-X-

“Maafkan atas kejadian tadi Jonghyun-sii. Anak itu memang masih belum bisa bersikap dewasa” ucap ibu Yoona dengan suara yang dibuat seanggun mungkin.

Yoona mendelik kesal pada ibunya. Bisa-bisanya sang ibu menyalahkan dirinya atas semua kejadian memalukan tadi. Jelas-jelas ibunya yang lebih dulu membuat masalah dengan membawa gagang sapu sialan itu dengan wajah seseram sadako sambil menghampirinya. Jadi wajar saja jika Yoona mencoba menyelamatkan hidupnya agar tidak mati konyol. Dan sekarang justru ialah yang disalahkan dengan alasan yang juga tak kalah konyol. Sebenarnya siapa yang kekanak-kanakkan dalam kasus ini?

Jonghyun hanya dapat tersenyum mendengar ucapan wanita setengah baya di hadapannya itu. Kemudian ia melirik Yoona yang duduk di sampingnya, gadis itu terlihat tengah cemberut sambil bergumam kata-kata yang tidak dapat Jonghyun dengar dengan jelas, membuat Jonghyun ingin tertawa geli jika saja tidak ada orang di sana. Sekarang Jonghyun tahu dari mana sifat Yoona berasal. Ibu dan anak ini sama-sama menarik.

“Jadi, kau yang bersama Yoona tadi siang?” tanya ibu Yoona tiba-tiba.

“Ya” Jonghyun membenarkan.

Ibu Yoona tersenyum sumringah mendengar jawaban Jonghyun. “Aigoo… Yoonie sayang, kenapa kau tidak segera memberitahu ibu kalau kau sudah memiliki pacar setampan ini? Jika ibu tahu, maka ibu tidak akan repot-repot menyuruhmu mengikuti kencan buta seperti itu”

Jonghyun menatap Yoona sambil tersenyum penuh arti. Yoona yang tahu arti senyuman itu sebagai ‘Sudah ku bilang juga apa’, hanya dapat mendengus kesal kepada Jonghyun. Ternyata memang inilah satu-satunya cara paling ampuh untuk menghentikan aksi konyol ibunya.

Tiba-tiba ibu Yoona mengambil ponsel dari dalam sakunya dan menghubungi seseorang. “Yeobo, bisakah kau pulang sekarang? Kita makan malam di rumah. Yoona membawa pacarnya” seru ibunya senang.

Yoona membelalakkan matanya tidak percaya. “Eomma, kau menghubungi appa?”

Ibunya mengangguk cepat. Kemudian tatapannya beralih kepada Jonghyun. “Lee Jonghyun-sii, makan malamlah bersama kami hari ini”.

-X-

Yoona melirik ayah dan ibunya yang tengah menyantap makan malamnya dalam diam di seberang meja. Kemudian tatapannya beralih pada Jonghyun yang juga terlihat tenang menekuni makan malamnya. Iapun menghela napas panjang, apa hanya dirinya yang merasa gelisah di antara semua orang di meja makan ini?

Lee Jonghyun, orang yang seharusnya juga merasa gelisah dan tegang seperti dirinya malah bersikap biasa-biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Ini pertama kalinya Yoona membawa seorang pria ke rumah untuk bertemu dan bahkan makan malam dengan kedua orang tuanya, jadi wajar jika ia merasa gelisah dan tidak tenang. Namun melihat sikap Jonghyun saat ini, membuat Yoona berasumsi macam-macam tentang lelaki itu. Lee Jonghyun terlihat sudah tidak asing dengan suasana seperti ini. Sudah berapa banyak rumah seorang gadis yang ia kunjungi?

“Jadi Lee Jonghyun-sii, sejak kapan kau berhubungan dengan Yoona?” tanya ayahnya yang tiba-tiba membuka percakapan di antara mereka.

Yoona membelalakkan matanya kaget. Inilah yang ia takuti. Ia dan Jonghyun bahkan tidak saling kenal satu sama lain. Bagaimana jika kebohongan mereka terbongkar oleh kedua orang tuanya?

Jonghyun tersenyum mendengar pertanyaan ayah Yoona. Ia meneguk air mineralnya dengan tenang, kemudian mulai berbicara. “Kami memang belum lama saling kenal. Namun ku rasa, aku telah terhipnotis padanya sejak pertemuan pertama kami” jawab Jonghyun sambil menatap mata Yoona dalam-dalam.

Yoona tersedak dan terbatuk-batuk begitu mendengar jawaban Jonghyun. Kemudian ia segera meneguk segelas air mineral sampai habis tak bersisa. Rasanya bulu kuduknya berdiri begitu mendengar jawaban Jonghyun yang begitu cheesy baginya. Tsk! Lelaki itu benar-benar playboy yang norak.

“Omo!” Tidak seperti Yoona, ibunya justru terpekik senang begitu mendengar jawaban Jonghyun yang begitu gentle. Sepertinya tanpa sadar ia telah jatuh dalam pesona seorang Lee Jonghyun.

Ayah Yoona berdeham kaku setelah mendengar jawaban Jonghyun. Sedikit terkesan dengan jawaban pemuda itu. Namun ia tidak ingin terlihat puas hanya dengan sebuah jawaban seperti itu. Sebagai seorang ayah yang teladan dan bertanggung jawab, maka ia harus memastikan bahwa putrinya mendapatkan seorang pria yang tepat.

“Lalu apa pekerjaanmu?”

Yoona menoleh cepat ke arah Jonghyun. Ia juga penasaran dengan jawaban Jonghyun. Sejak tadi pagi, Yoona meyakini bahwa lelaki itu bekerja sebagai polisi atau seorang detektif, melihat bagaimana lelaki itu mencari tahu semua informasi tentang Seohyun.

Jonghyun mengeluarkan dompet dan mengambil satu buah kertas kecil dari dalamnya, kemudian menyerahkannya kepada Tuan Im.

“Ini kartu nama saya”

Ayah Yoona mengambil kartu nama itu kemudian membacanya. “CEO dari YBS?” ucapnya kaget. “Benarkah?”

“Maldo andwe” gumam Yoona tidak percaya.

Jonghyun mengangguk membenarkan.

Yoona memperhatikan penampilan Jonghyun dari atas ke bawah sambil bergumam sangsi. CEO? YBS? Salah satu perusahaan Boardcast terbesar di Korea? Milik pemuda itu?Ha! Yang benar saja?

“Kebetulan sekali, salah satu kenalanku ada yang bekerja di sana” ucap ayah Yoona senang.

“Benarkah? Kalau begitu, mampirlah jika Anda ada waktu” tawar Jonghyun sopan.

Ibu Yoona yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, tiba-tiba mengambil tissue di atas meja dan terisak pelan. Sontak, seluruh orang di meja makan menatapnya heran.

“Kau kenapa Yeobo?” tanya ayah Yoona lembut sambil mengusap pundak sang istri.

“Ini tangis bahagia Yeobo” jawab ibu Yoona sambil terisak pelan. Kemudian ia menatap Yoona dengan mata berkaca-kaca. “Yoonie sayang, eomma senang karena kau akhirnya mendapatkan pria yang baik dan mapan. Eomma pikir kau akan menjadi perawan tua seumur hidupmu. Mulai besok eomma akan pergi ke kuil dan sembahyang selama tiga hari berturut-turut untuk mengucap syukur”.

Ya Tuhan. Yoona memutar kedua bola matanya malas. Ibunya memang seorang Drama Queen yang luar biasa.

Di sisi lain, Jonghyun berusaha sekuat tenaga menyembunyikan kekehannya yang semakin tak terkendali hingga perutnya terasa sakit. Namun tiba-tiba dirinya tersentak begitu mendapatkan sebuah cubitan di tangannya. Pelakunya tidak lain adalah gadis yang duduk di samping kirinya. Gadis itu tengah menatap kesal ke arahnya, seperti ingin menelannya hidup-hidup saat ini juga. Hal itu membuat Jonghyun segera menghentikan kekehannya. Ia tidak berniat mati muda saat ini.

-X-

“Terimakasih atas bantuanmu hari ini” Yoona berkata tepat sebelum Jonghyun membuka pintu mobilnya. Lelaki itu kemudian berbalik dan tersenyum jahil.

“Kalau begitu kau punya 1 hutang budi lagi kepadaku” ucapnya santai.

Yoona mendengus kesal. “Apa bantuanku itu tidak cukup? Ku rasa aku akan berkontribusi besar dalam penyelidikanmu kali ini”

“Penyelidikan? Apa aku terlihat seperti seorang detektif?”

Yoona kemudian menyipitkan matanya menatap Jonghyun curiga. “Lalu apa? Apa kau seorang mata-mata dari organisasi terlarang?”

Tawa Jonghyun meledak begitu mendengar jawaban Yoona. “Sepertinya kau terlalu banyak menonton drama. Terserah kau mau berpikir seperti apa, Im uisanim. Kau bebas berspekulasi kali ini”

“Baiklah kalau begitu, Tuan mata-mata” gerutu Yoona kesal. “Dan sebelum aku lupa, sepertinya kau dalam masalah besar”

Jonghyun menautkan alisnya. “Maksudmu?”

“Ayahku tidak bercanda mengenai kenalannya yang bekerja di YBS. Jika kau ketahuan, maka habislah kau! Lagipula, kenapa harus seorang CEO? Apa itu tidak berlebihan?” gumam Yoona sambil mendelik kesal kepada Jonghyun.

Jonghyun menaikkan sebelah alisnya. Masih tidak mengerti maksud dari perkataan gadis itu. Namun setelah beberapa detik bergumul dengan pikirannya, akhirnya iapun mengerti. Dan untuk kesekian kalinya di malam ini, ia kembali tertawa geli karena gadis itu.

Yoona semakin kesal melihat tingkah Jonghyun. Apa yang lucu dari perkataannya kali ini? Sepertinya di lain kesempatan, ia harus memeriksakan lelaki ini ke bagian psikiatri di Rumah Sakit.

Setelah puas tertawa, akhirnya Jonghyun angkat bicara. “Jadi kau menganggap aku berbohong tadi?”

“Tentu saja” jawab Yoona cepat. Siapa yang akan percaya kalau pemuda aneh di hadapannya ini adalah seorang CEO dari YBS? –Ah! Pengecualian untuk kedua orang tuanya-.

“Kalau begitu sekali lagi akan ku katakan. Terserah kau mau berpikir seperti apa, Im uisanim. Kau bebas berspekulasi kali ini” jawab Jonghyun sama persis dengan jawabannya beberapa detik yang lalu.

Belum sempat Yoona membalas perkataan Jonghyun, lelaki itu sudah masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk pergi.

“Terimakasih untuk makan malamnya. Lain kali aku akan mampir lagi” ucap Jonghyun sambil menyalakan mesin mobilnya. “Kalau begitu, jaljayo chagiya…” Jonghyun terkekeh sambil melambaikan tangannya kepada Yoona, kemudian segera melajukan mobilnya sebelum gadis itu sempat mengumpat abis-abisan kepadanya.

-X-

Apartement Yonghwa, Apgujeong-dong

Pukul 21.30 KST

Yonghwa menatap cemas monitor kecil di tangannya. Sesekali ia melirik jam dinding yang tergantung di salah satu sisi kamar dengan gelisah. Hari sudah menunjukkan pukul 9 lewat dan titik merah yang berkedip-kedip pada alat penyadap di tangannya masih menunjukkan koordinat yang sama sejak tadi pagi, yang berarti mobil VW Battle berwarna kuning milik gadis itu masih terletak di kantornya di daerah Gangnam-gu sejak tadi pagi dan tidak bergerak sedikitpun sampai saat ini. Bukankah jam kerja kantor sudah lewat sejak tadi?

Yonghwa menatap ragu ponsel genggamnya. Haruskah ia menghubungi gadis itu untuk memastikan keadaannya? Namun alasan apa lagi yang akan ia buat kali ini?

Yonghwa menarik napas dalam-dalam. Masa bodoh dengan alasannya yang mungkin juga tidak masuk akal kali ini, karena prioritasnya yang utama adalah keselamatan gadis itu.

Ya, Yonghwa-sii?” suara merdu gadis itu terdengar di ujung telepon, membuat Yonghwa dapat bernapas lega karena berarti kondisi gadis itu baik-baik saja.

“Kau belum pulang?” tanya Yonghwa to the point.

Belum. Hari ini aku lembur. Ada beberapa tugas yang harus ku selesaikan hari ini

Yonghwa mengangguk mengerti, walau ia tahu Seohyun tidak dapat melihatnya. “Hmmm… Kau sendirian?”

Ya. Semua pegawai sudah pulang sejak pukul 7 tadi

“Mau ku temani?” tanya Yonghwa canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Hmmm?

“Kebetulan aku memang ingin pergi keluar. Beberapa hari ini aku mengalami gangguan tidur” Yonghwa menambahkan kalimat penjelas dengan cepat. Sepertinya akhir-akhir ini kemampuan berbohongnya sudah semakin meningkat.

Tentu, kebetulan aku juga butuh teman lembur” jawab Seohyun senang.

“Kau ingin ku bawakan apa? Bagaimana kalau kita pesta pizza?”

Terdengar menarik. Ah! Kalau boleh, bisa bawakan Americano? Sepertinya aku butuh beberapa caffein tambahan

“Baiklah. Pesanan Anda akan tiba dalam 30 menit lagi, Nona”

Yonghwa memutuskan sambungan telepon, kemudian ia segera mengambil salah satu jaket yang tergantung di dalam lemari. Tepat sebelum Yonghwa melangkahkan kakinya ke luar apartement, ia teringat sesuatu dan kembali ke dalam kamar.

Yonghwa membuka brangkasnya yang terletak di dalam lemari, kemudian mengambil sebuah benda kesayangannya. Benda yang sudah setia menemaninya selama 5 tahun terakhir. Benda paling berharga yang ia miliki dan ia cintai seperti kekasihnya sendiri. Benda berwarna hitam mengkilat yang sangat anggun di matanya. FN Five-Seven berkaliber 5,7 mm. Si cantik yang siap merobek daging siapa saja yang menghalanginya. Yonghwa membawanya hanya untuk berjaga-jaga. Hanya berjaga-jaga. Ia hanya akan menggunakannya jika benar-benar diperlukan.

-X-

J n J Design Architecture Office, Gangnam-gu, Seoul

Pukul 22.00 KST

Yonghwa turun dari taksi sambil menjinjing satu kotak pizza berukuran extra large, beberapa snack, dan Americano pesanan Seohyun. Dengan susah payah, ia berjalan menuju gerbang masuk gedung. Namun tatapannya teralih pada sebuah mobil Mersedes Benz warna hitam yang terparkir di sisi jalan tidak jauh dari tempatnya berdiri. Hanya itu satu-satunya mobil yang terparkir di sana. Sungguh aneh melihat mobil semewah itu terparkir sembarangan di sisi jalan saat malam seperti ini. Mungkin pemiliknya seorang milioner yang sudah bosan dengan uangnya dan dengan sengaja mempersilahkan para pencuri mobil yang biasa berkeliaran pada malam hari untuk menyantap Mersedes Benz-nya itu.

Setelah meminta izin kepada satpam yang bertugas, Yonghwa akhirnya dapat masuk ke dalam gedung berlantai 16 itu. Yonghwa segera menaiki lift dan menuju lantai 5 tempat Seohyun berada.

“Pesanan Anda telah tiba, Nona. Maaf menunggu lama” ucap Yonghwa tepat ketika ia memasuki ruang kerja Seohyun.

Seohyun yang sejak tadi berkonsentrasi pada komputer di hadapannya, tersentak begitu mendengar suara lantang Yonghwa. “Aigoo… Kau mengagetkanku, Delivery Ahjussi”

Delivery Ahjussi? Bukankah seharusnya Delivery Boy?” Yonghwa berjalan menghampiri meja Seohyun kemudian segera mengeluarkan semua makanan yang dibawanya dari dalam kantong.

“Kau terlalu tua untuk ku panggil Delivery Boy” canda Seohyun sambil terkekeh ringan. Kemudian gadis itu bangkit dari tempat duduknya dan ikut membantu Yonghwa mengeluarkan semua makanan. “Kau benar-benar ingin mengadakan pesta ya?” tanya Seohyun begitu melihat banyaknya makanan yang dibawa Yonghwa.

“Kan sudah ku bilang kalau aku akan mengadakan pesta” jawab Yonghwa mengingatkan. Kemudian ia mengambil satu cup  Americano dan memberikannya kepada Seohyun. “Isi battery-mu dulu”.

“Terimakasih” Seohyun menerima pesanannya dari Yonghwa dengan antusias. Ia kemudian duduk di atas meja dan segera meminum Americano-nya. “Ah… Rasanya hidup kembali”.

“Jadi di sini tempatmu bekerja?” Yonghwa ikut duduk di atas meja lain di depan Seohyun, lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan yang sudah sangat sepi itu. “Apa kau tidak takut?”

Seohyun ikut mengedarkan pandangan pada ruangan kerjanya yang memang sudah sangat sepi, di beberapa sisi bahkan sudah ada lampu yang dipadamkan. “Tidak” jawab Seohyun santai. “Aku sudah pernah lembur beberapa kali sebelumnya”.

“Apa aku tidak menganggu pekerjaanmu?” tanya Yonghwa tiba-tiba.

Seohyun menggeleng cepat. “Tentu saja tidak. Aku justru berterimakasih kau mau datang. Lagipula pekerjaanku sudah hampir selesai”

Tepat saat itu, tiba-tiba ponsel Seohyun berbunyi. Seohyun segera mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kemudian menjawabnya.

“Ya, eonni?

“…..”

“Ya, aku masih di kantor”

“…..”

“Aniyo, sebentar lagi selesai. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan mengabarimu begitu aku tiba di rumah”

“…..”

“Selamat malam, eonni. Terimakasih”

Seohyun mengakhiri panggilan teleponnya kemudian kembali menyesap Americano-nya hingga tinggal separuh.

“Siapa?” tanya Yonghwa penasaran.

“Yuri eonni” Seohyun tersenyum geli begitu mengingat percakapannya dengan Yuri tadi. “Ia mengkhawatirkanku. Cerewet sekali, seperti orang tua saja”.

“Yuri? Yang ada di foto waktu itu?” tanya Yonghwa begitu mengingat foto yang terpajang di apartement Seohyun tempo hari.

Seohyun mengangguk membenarkan. “Ia sudah seperti keluarga bagiku”

Yonghwa menatap Seohyun lama, menimang sebuah pertanyaan yang sangat ingin ia ketahui tentang gadis itu sejak dulu.

“Lalu, bagaimana dengan keluargamu?” tanya Yonghwa ragu-ragu. “Maksudku, keluargamu yang sebenarnya. Seperti ayah dan ibumu”.

Yonghwa dapat melihat perubahan ekspresi gadis itu begitu mendengar pertanyaannya. Yonghwa tahu bahwa pertanyaan ini bersifat sangat pribadi dan sensitif. Namun ia hanya ingin memastikan, apakah gadis itu benar-benar hilang ingatan? Apakah ia benar-benar tidak bisa mengingat kedua orang tuanya?

Seohyun menarik napas panjang kemudian menggigit bibir bawahnya. Tiba-tiba mendapat pertanyaan seperti itu membuat moodnya berubah drastis. Seohyun dapat merasakan matanya mulai memanas sekarang.

Seohyun akhirnya menggeleng pelan. “Aku tidak tahu” gumamnya.

Yonghwa menatap Seohyun lekat-lekat. Ia dapat melihat air mata gadis itu perlahan mulai menetes satu per satu. Ingin rasanya ia menghentikan pembicaraan ini, namun ia tidak bisa. Ia butuh informasi ini untuk memastikan kebenaran data yang telah dimiliki NIS sebelumnya.

“Aku tidak pernah ingat siapa saja keluargaku”

“Bagaimana bisa?” Yonghwa berusaha mengorek informasi perlahan-lahan.

Seohyun menghapus air mata yang mengalir di pipinya dengan punggung tanggannya sebelum menjawab pertanyaan Yonghwa. “16 tahun yang lalu, ketika aku duduk di bangku sekolah dasar, aku mengalami kecelakaan. Akibat kejadian itu, ayahku meninggal di tempat kejadian dan aku kehilangan ingatanku. Dokter menceritakan bahwa aku terbangun di Rumah Sakit setelah mengalami koma 10 hari, setelah menjalani 3 kali operasi dengan 21 jahitan di kepala, dan dengan kondisi kaki kananku retak. Dan saat itu, aku tidak ingat apa-apa. Bahkan aku tidak ingat siapa namaku.

“Aku mengetahui namaku dari kalung yang ku pakai saat itu. Kalung itu bertuliskan nama Seo Joohyun di baliknya” Seohyun memperlihatkan kalung Four Clover yang tengah tergantung di lehernya kepada Yonghwa. “Setelah tahu namaku, para polisi berusaha mencari keluargaku untuk memberikan informasi mengenai kondisiku saat itu. Hampir 1 bulan aku menunggu seseorang yang akan menjemputku keluar dari Rumah Sakit, namun hasilnya nihil. Tidak pernah ada yang datang untuk menjemputku, berapa lamapun aku menunggu” Seohyun menghentikan ceritanya untuk menarik napas panjang. Dadanya terasa ngilu dan sesak. Perasaan sedih dan kecewa yang ia rasakan belasan tahun yang lalu kembali muncul menguasai dirinya.

“Dari ratusan ribu orang yang tinggal di Korea, tak adakah satu orangpun yang mengenalku? Tak adakah satu orangpun yang mengakuiku sebagai keluarganya? Tak adakah dari mereka yang merasa kehilanganku? Walau hanya satu orang saja? Satu orang saja…” Seohyun kembali terisak. Kali ini ia menyerah untuk menghentikannya, jadi ia biarkan air matanya mengalir deras membanjiri wajahnya. Sebanyak apapun ia mengingat kenangan menyedihkan itu, sebanyak itu pula ia akan kembali terpuruk pada kenangan satu-satunya dan yang paling menyedihkan tentang masa kecilnya. Di usia semuda itu, ia harus merasakan kehilangan yang amat besar. Tidak hanya ingatannya yang hilang, namun keluarganya juga hilang dari hidupnya. Ia sebatang kara di dunia ini. Tidak ada seorangpun yang jadi penopang ataupun tempatnya bersandar, tempatnya bermanja ataupun mengadu segala keluh kesahnya layaknya gadis berusia 8 tahun lainnya.

Sejak saat itu, Seohyun harus menjalani kerasnya kehidupan di panti asuhan. Pihak Rumah Sakit memutuskan untuk mengirimnya ke panti asuhan di salah satu kota kecil dekat perbatasan. Selama hampir 3 tahun, Seohyun mengalami gangguan psikologis yang cukup serius dan harus terus dikontrol rutin oleh tim medis dari Rumah Sakit. Trauma akibat kecelakaan, ditambah dengan beban mental yang ditanggungnya, membuat Seohyun menjadi pribadi yang sangat tertutup. Ia tidak memiliki teman, tidak bermain dan bergabung dengan teman-teman seusianya di panti. Ia hanya mengurung diri di kamar atau menangis di pojok ruangan setiap harinya. Keadaan seperti itu ia alami selama bertahun-tahun lamanya.

Yonghwa menatap iba gadis yang sedang terisak di hadapannya itu. Tiba-tiba ia bisa melihat seorang gadis berumur 8 tahun yang tidak tahu apa-apa dan tidak berdaya, harus menghadapi beban seberat itu seorang diri, sedang terisak di depannya. Lantas Yonghwa turun dari meja tempatnya duduk dan berjalan mendekati gadis kecil itu. Tanpa ragu, ia merengkuh gadis rapuh itu ke dalam pelukannya, mendekapnya erat untuk memberikan sedikit ketenangan dan kekuatan kepadanya.

“Kau tidak sendirian sekarang, Seo Joohyun” bisik Yonghwa lembut di telinga Seohyun.

-X-

Dua hari kemudian

Apartement Yonghwa, Apgujeong-dong

Pukul 07.30 KST

Setelah sarapan dengan dua tangkup sandwitch keju sederhana dan satu cangkir hot Americano buatannya sendiri, Yonghwa mengambil tas ranselnya dan bersiap untuk ke luar apartement. Setelah seharian kemarin mengurung diri di apartement untuk membuat laporan mengenai informasi masa lalu Seohyun yang baru ia dapatkan, kini ia mempunyai janji bertemu dengan Jonghyun di NIS office. Mungkin lelaki itu sudah menyelesaikan tugasnya yang baru beberapa hari lalu Yonghwa berikan. Tidak mengejutkan, karena memang Jonghyun merupakan salah satu agen terbaik yang dimiliki NIS, walau tidak sebaik dirinya.

Tepat ketika ia keluar dari pintu apartement, saat itu juga ia mendapati pintu apartement sebelah terbuka. Dan di detik berikutnya, Seohyun keluar dari apartementnya dan terlihat telah siap untuk berangkat kerja.

“Selamat pagi Joohyun-sii” sapa Yonghwa ramah dengan seulas senyum di bibirnya.

Seohyun menatap Yonghwa sebentar lalu mengalihkan pandangannya menolak bertatap muka. Ia kemudian membungkuk kaku dan segera berjalan tanpa sepatah katapun.

Yonghwa mengerutkan dahinya melihat sosok Seohyun yang semakin menjauh. Lalu dengan secepat kilat, ia segera berlari menyusul gadis itu dan berhasil naik ke dalam lift yang sama.

“Ada apa denganmu?” Yonghwa bertanya to the point tepat ketika pintu lift tertutup.

“Aniyo” jawab Seohyun cepat. Masih menolak menatap Yonghwa.

Yonghwa memperhatikan gadis itu lekat-lekat. Ada yang aneh di sini. Sikap Seohyun kepadanya terlihat aneh. Namun ia tidak tahu apa penyebabnya.

“Apa karena malam itu?”

Seohyun menoleh sekilas kepada Yonghwa kemudian kembali bungkam.

“Apa kau merasa menyesal menceritakan masa lalumu kepadaku?” Yonghwa menebak-nebak. Karena terakhir kali mereka bertemu adalah malam ketika Seohyun kerja lembur di kantornya. Dan sekarang, tiba-tiba saja gadis itu bersikap aneh kepadanya. Jadi pastilah penyebabnya ada pada malam itu.

Seohyun diam tidak menjawab. Sebenarnya bukan itu masalah utamanya. Ia memang belum pernah menceritakan masa lalunya itu kepada orang lain selain Yuri dan Yoona yang memang sahabat baiknya, tapi bukan itu yang benar-benar menjadi masalah utama saat ini.

Seohyun juga malu mengakuinya, namun kejadian malam itulah yang membuatnya bersikap kaku dan canggung kepada lelaki itu. Kejadian memalukan pertama adalah ketika ia menangis tersedu-sedu di depan lelaki itu. Baru pertama kali ia menangis di depan seorang lelaki di usia sematang ini, dan itu cukup memalukan baginya. Dan yang kedua, kejadian yang juga tidak kalah memalukan, ketika lelaki itu memeluknya saat ia menangis malam itu. Seumur hidupnya, Seohyun belum pernah diperlakukan oleh seorang lelaki seintens itu.

Harus ia akui bahwa yang dilakukan lelaki itu memang cukup menenangkan. Membuatnya merasa nyaman dan terlindungi pada saat yang bersamaan, dan Seohyun berterimakasih untuk itu. Namun setelah semua kejadian itu berlalu, Seohyun bingung harus bersikap seperti apa sekarang.

Tadi ketika pertama kali melihat lelaki itu keluar dari apartementnya pagi ini, tiba-tiba saja sesuatu yang aneh terjadi. Jantung Seohyun berpacu cepat begitu melihat lelaki itu dan tiba-tiba saja perutnya seperti dihinggapi ribuan kupu-kupu saat ia melihat lelaki itu tersenyum. Semua itu sangat aneh, sehingga membuat Seohyun tidak dapat bersikap wajar.

“Maaf. Karena aku, kau harus kembali mengingat kejadian menyakitkan itu”

Seohyun menoleh cepat ke arah Yonghwa. Lelaki itu tengah menatapnya sendu kemudian tersenyum simpul.

Yonghwa menepuk pelan pundak Seohyun ketika pintu lift terbuka. Dan tanpa berkata lagi, lelaki itu segera melangkah keluar lift meninggalkan Seohyun.

Seohyun menghela napas panjang melihat punggung Yonghwa yang makin menjauh. Bukan itu maksudnya, ia sama sekali tidak menyesal menceritakan masa lalunya kepada Yonghwa. Lelaki itu pasti salah paham. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

-X-

National Intelligence Service Office Center, Naegok-dong, Seocho-gu, Seoul

Pukul 11.00 KST

“Tidak biasanya kau yang meminta bertemu lebih dulu. Ada apa?” Yonghwa duduk santai di hadapan Jonghyun yang terlihat sibuk dengan berkas-berkasnya yang berserakan di atas meja.

“Tentu saja memberikan laporan penyelidikanku. Memang apa lagi?” jawab Jonghyun ketus. Kesal karena Yonghwa masih saja menanyakan hal tidak penting seperti itu.

Yonghwa terkekeh mendengar jawaban Jonghyun. “Ku kira kau belum menyelesaikannya” godanya.

Jonghyun menghentikan kesibukannya kemudian menatap Yonghwa tajam. “Maaf saja hyung. Selama 3 tahun kau bertugas di luar negeri, aku yang selalu mendapatkan penghargaan sebagai agen terbaik di sini” ucap Jonghyun bangga.

Yonghwa mengangguk mengerti. “Arasho. Tidak sia-sia selama ini aku membimbingmu untuk menjadi penerusku. Tapi maaf dongsaeng, tahun ini aku yang akan mengambil alih kembali penghargaanku”

Jonghyun mendengus kesal. “Ha! Coba saja”

Setelah selesai dengan percakapan ‘membanggakan diri sendiri’ yang sebenarnya tidak terlalu penting itu, akhirnya Jonghyun memberikan map laporannya kepada Yonghwa. Yonghwa menegakkan posisinya untuk membaca dengan teliti seluruh laporan Jonghyun.

“Jadi informasi yang dimiliki Im uisanim tentang penyakit Seo Joohyun masih sebatas ini?”

Jonghyun mengangkat bahunya. “Entahlah. Namun baru itu yang bisa ku laporkan saat ini. Aku akan terus menggali informasi dari dokter itu”

Yonghwa mengangguk mengerti. “Kalau begitu, coba kau cari tahu lebih dalam tentang kecelakaan yang menimpa Seo Joohyun versi Im uisanim. Dimana terjadinya kecelakaan dan apa penyebabnya untuk crosscheck data yang dimiliki NIS saat ini”

“Oke, tidak masalah” sanggup Jonghyun. “Ah! Ada yang aku lupa tuliskan di dalam laporan, hyung”

“Apa itu?”

“Saat itu kau pernah bilang bahwa Seo Joohyun sempat meracau sebuah kata aneh bukan? Dan ternyata itu merupakan salah satu bahan pembuat nuklir”

Yonghwa mengangguk membenarkan.

“Saat gadis itu meracau seperti tidak sadarkan diri, saat itulah ingatannya akan masa lalu mulai muncul. Dan pada saat itu juga, sakit kepala hebat menyerangnya. Dengan kata lain, semakin gadis itu dipaksa mengingat masa lalunya, semakin besar pula rasa sakit yang dialaminya”

“Persis seperti dugaanku” gumam Yonghwa.

“Lalu bagaimana selanjutnya hyung? Bagaimana cara kita mencari tahu tentang Formula AZ887 jika ternyata hal itu justru membuat gadis itu menderita?”

Yonghwa tidak segera menjawab pertanyaan Jonghyun. Tiba-tiba saja ia teringat bagaimana Seohyun menangis di hadapannya malam itu. Mencari tahu informasi mengenai Formula itu sama saja mengorek luka lama gadis itu. Apa ia sanggup melakukannya?

“Kita pikirkan caranya nanti” jawab Yonghwa akhirnya. Kemudian ia kembali membaca laporan penyelidikan Jonghyun.

“Kau yakin Yuri-sii bukan agen Korea Utara?” tanya Yonghwa sambil membolak-balik lembar laporan Jonghyun.

Jonghyun mengangguk mantap. “Gadis itu teman Seohyun sejak kecil. Mereka bahkan saling kenal semenjak Seohyun duduk di sekolah menengah”

“Sekolah menengah?” ulang Yonghwa. “Kalau begitu, apa ia mengenal Seohyun sejak gadis itu masih tinggal di panti asuhan?”

“Seohyun pernah tinggal di panti asuhan?” Jonghyun balik bertanya.

Yonghwa menjawab hanya dengan sebuah anggukan. “Kalau begitu, coba kau cari tahu lebih lanjut”

Yonghwa kemudian menutup map dan memberikannya kembali pada Jonghyun. Ia kemudian menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi. Ia merasa tidak dapat konsentrasi saat ini. Semua informasi itu terasa berputar-putar dalam otaknya. Apa yang harus ia lakukan agar bisa mendapatkan informasi mengenai formula rahasia tanpa harus menyakiti gadis itu?

Yonghwa tersentak karena tiba-tiba merasakan ponselnya bergetar di dalam saku. Iapun segera mengecek siapa yang menghubunginya. Dan ternyata nomor Seohyunlah yang muncul di layar ponsel. Yonghwa segera menegakkan tubuhnya dan menjawab panggilan itu.

“Ada apa Joohyun-sii?”

Yonghwa-sii” Yonghwa dapat mendengar suara khawatir gadis itu dari seberang telepon.

“Ada apa?” tanya Yonghwa tak sabar.

Kau ingat saat ku bilang kalau apartementku dimasuki oleh seseorang?

Yonghwa menelan ludahnya. Apa lagi ini?

Apartementku dimasuki oleh seseorang lagi hari ini

“Apa??” Yonghwa refleks berdiri dari duduknya dan mulai terlihat gelisah. Tempo hari memang ialah pelakunya, namun siapa lagi kali ini?

Bisakah kau pulang sekarang? Aku takut

Tanpa aba-aba, Yonghwa segera mengambil jaketnya yang tersampir di punggung kursi dan tas ranselnya di atas meja kerja. Ia segera menghambur keluar ruangan tanpa sempat berpamitan pada siapapun. Jonghyun yang sejak tadi berada di sana, hanya dapat menatap kepergian Yonghwa dengan ratusan pertanyaan di dalam benaknya.

-X-

Halo Readers… Maaf baru bisa update FFnya. Saran dan kritik masih penulis harapkan… Terimakasih… Happy reading🙂

25 thoughts on “Formula X [Memory 5]

  1. ahhhh author bisa aja bikin readers penasaran :3
    /“Kami memang belum
    lama saling kenal. Namun ku rasa, aku
    telah terhipnotis padanya sejak
    pertemuan pertama kami” jawab Jonghyun
    sambil menatap mata Yoona dalam-
    dalam./
    awwwwwww jonghyun-ah tak ku sangka kau bisa ngegombal kaya gitu(????)
    hhahaha
    ceo??? benarkahhh?? –”

    seohyun udah ada rasa ya ama yong~
    acieeee
    nah itu pasti agen korut yang masuk ke apartement seo??? iyakan iyadong😀
    aaahhhh makin penasaran
    sebenernya agen korut tuh yuri atau kyu /keukeuh/
    ahhh next chapter thorrr
    fighting~

  2. Penasaran,penasaran,penasaran sama kelanjutannya..bu author ini senang sekali bikin reader penasaran…:-(
    Momen romantisnya diperbanyak jg boleh ko,hwaiting!!!😀

  3. Yoona sama eoma nya sama saja ternyata hahaha, aigoooo makin deket aja mereka berdua..smoga kedepannya makin banyak jongyoon momentnya, dan yg pasti agen korutnya bukan yoona kan?

  4. Eeeyyy.. Ngakak di partnya Jonghyun Yoona.. Ya ampun Jonghyun beneran CEO?

    Terus itu siapa yg masuk ke apartemennya Seohyun?
    Semoga part selanjutnya ga lama lama yah.. Hehe..
    Semangaaatt..

  5. sumpah keluarga yoona kocak bgt hahahaha.
    dan itu maknya bener2 drama queen daebak. ngikik aku baca adegan itu. dan penasaran jonghyun apa beneran CEO YBS masa pny 2 pekerjaan dia –”
    yuri ini yuri???? serius deh ini yg buat menerka2 dan itu mobil BMW siapa? *berpikir keras*

    aaaaa hyun udah mulai ada rasa ya ma yong ecieeeeee. yong jagain hyun ya. itu siapa lg yg dtg ke apartemen hyun?

    aaaaaaa penasaran penasaran. ditunggu part selanjutnya

  6. Waaaahhhhh….. sprtinya Yong & Hyun dah mulai falling in love neeehhhh….
    mungkin kah org yg d mbil mercedes benz… wktu seohyun lembur yg msuk ke apartemennya. ..
    penasaraaaaannnnnnn ..
    UPDATE ASAP!!!!!!!!!!

  7. Halo thor aku reader baru ff ini..biasanya ksNi cuma baca ff deerburning doank.tpi pas liat teaser nih ff kyanya menarik tryta iya..maaf yah komen dsni lngsung.ditunggu next part.penasaran sapa yg msuk ke apartement nya johyun..msa aku mrinding pas bagian akhir.cpet lnjut yah thor

  8. Huaaaa Jonghyun sungguh malang nasibmu smpai2 kau harus mndpat pukulan dri eomma yoona… wkwkwkwkwk tpi mrka berhsil mngelabui orng tua yoon… btw serius jong CEO?
    itu eomma Yoona kocak abis yah bner dram queen…
    Siapa yg mmrkir mobilnya didepan kntor Hyun? tdi kukira Yong ternyata bukan…
    Siapa yg masuk kedalam apartemn Hyun???
    hmpir lupa komen Hyun udh jatuh cintaaaaa yeeeeeee *jingkrak2

  9. Aigoo yonghwa seohyun mulai ada feeling nih..ah pokoknya makin seru ceritanya semacam detective conan,makin liar nih pikiran pikiran asal nebak haha..punya feeling yang agen rahasia itu kyuhun atau yuri de atau bahkan mereka berdua..hemmm lanjut baca aja deh!!

  10. Sumpah jonghyun casanova bgt, ortu yoona dibuat terkagum2 hahaha :))
    Aku sllu ngerasa entah kenapa kkawatiran yong itu sprti ke pacar hihihi
    Mlah ga kliatan klo lg tugas, bkin yg baca sllu senyum sndri🙂

  11. Wah..siapa yg msuk ke. Apartemenya soohyeon yah….jd ngeri jga…
    Ah…lucu bgt moment deerburningnya yg ibunya bwa2 lidi sgala kya anak kampungan pdhl orangkaya..ha..ha…lucu sekali

  12. Waahh suka moment jongyoon,, moga2 berlanjut ciiee mreka jadian d depn ortu yoona…CEO YBS?? Benarkah??pa pengalihan sj??
    Waahh syapa yg ngawasi seo dri dlm mobil mercedes itu?? Dn yg masuk k apartmenya siapa juga tuuuh?? Aahh lanjuut..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s