Formula X [Memory 4]

formulax copy

Judul: Formula X [Memory 4]

Main Cast:

Jung Yonghwa CNBlue sebagai Jung Yonghwa

Seo Joohyun SNSD sebagai Seo Joohyun

Other Cast:

Lee Jonghyun CNBlue sebagai Lee Jonghyun

Im Yoona SNSD sebagai Im Yoona

Kang Minhyuk CNBlue sebagai Kang Minhyuk

Rating: PG-17

Lenght: Chaptered

Genre: Romance, Action, AU

Teaser – Prolog – Memory 1 – Memory 2 – Memory 3

Seoul International Hospital

Pukul 09.15 KST

Jonghyun berdiri terpaku di tempatnya tanpa berkedip. Jantungnya berdegup cepat dan keringat dingin mulai keluar membasahi tubuhnya. Ia berusaha menelan ludah dengan sulit dan bernapas dengan teratur. Matanya menatap lurus tepat ke manik mata coklat itu, memperhatikan dengan seksama reaksi seperti apa yang akan ditunjukkan orang itu. Semua plan B, plan C, dan plan-plan yang lain berputar cepat dalam otaknya, yang memiliki kemungkinan terbaik agar ia bisa segera terlepas dari situasi ini tanpa dicurigai.

Gadis itu berdiri tenang berhadapan dengannya. Matanya menatap Jonghyun lurus-lurus. Dan di detik berikutnya, gadis itu berjalan melewati Jonghyun tanpa sedikitpun memperlihatkan reaksi yang dikhawatirkannya.

Mata Jonghyun mengerjap-ngerjap cepat dan ia kembali bisa menghela napas lega. Ternyata keadaan tidak seperti yang ia bayangkan. Dokter itu sepertinya tidak secermat yang ia duga. Jonghyun kembali memakai kacamata bulatnya. Setelah mampu mengotrol deru napasnya untuk kembali normal, ia segera melangkah meninggalkan ruangan catatan medis itu.

“Tunggu”

Jonghyun menghentikan langkahnya tepat sebelum tubuhnya keluar dari ruangan itu. Jantungnya kembali berpacu kencang. “Sial” batinnya kesal.

Yoona kembali berjalan mendekati Jonghyun dan memperhatikan punggung lelaki itu. “Kau mahasiswa resident di sini?”.

Jonghyun hanya mengangguk menjawab pertanyaan Yoona.

“Aku sepertinya tidak pernah melihatmu” Yoona berkata dengan nada ragu.

“Aku mahasiswa resident tahun pertama, professor” jawab Jonghyun masih dengan posisi memunggungi Yoona.

Yoona mengerutkan alisnya kemudian melipat kedua tangan di depan dada. “Kalau kau tahu aku seniormu, kenapa kau berbicara memunggungiku? Apa kau tidak punya sopan santun?” tanya Yoona sarkastik.

Jonghyun kemudian memutar tubuhnya ragu dengan kepala tertunduk. “Maaf, professor” ucapnya pelan setelah kembali berdiri berhadapan dengan Yoona.

“Siapa namamu? Dari departement apa?”

Jonghyun membenarkan letak kacamatanya kemudian menjawab dengan terbata, “Collin Black, departement penyakit dalam” kemudian ia membungkuk memberi hormat kepada Yoona layaknya seorang junior.

Yoona menatap Jonghyun tajam dari atas ke bawah sambil mengangguk pelan. Detik berikutnya, ekspresi gadis itu berubah drastis, ia tertawa geli melihat ekspresi ketakutan lelaki di hadapannya itu. “Maaf jika aku menakutimu. Aku tidak bermaksud seperti itu. Baiklah, selamat bekerja Black uisanim” Yoona menepuk ringan bahu Jonghyun masih sambil terkekeh pelan, kemudian ia berlalu pergi dan menghilang di balik lemari.

-X-

Apartement Seohyun, Apgujeong-dong

Pukul 20.00 KST

Yonghwa menekan bel apartement Seohyun kemudian menunggu dengan sabar sampai gadis itu membukakan pintu untuknya dan menyambutnya dengan senyum cerah.

“Selamat malam Joohyun-sii” sapa Yonghwa sambil membungkuk formal ala bangsawan Eropa yang justru membuat Seohyun tertawa geli karenanya.

“Masuklah, Yonghwa-sii” tawar Seohyun.

Yonghwa tidak segera melangkahkan kakinya memasuki apartement melainkan mengulurkan satu buah kantong berisikan ubi jalar ke hadapan Seohyun. “Hadiah perkenalan sebagai tetangga baru” jelas Yonghwa.

Seohyun terkekeh kecil kemudian mengambil kantong itu dari tangan Yonghwa. “Terimakasih”

Tepat sebelum Seohyun membalikkan tubuh, Yonghwa kembali memberikan Seohyun sebuah benda. “Dan ini ucapan terimakasih karena telah mengundangku makan malam”. Yonghwa mengeluarkan sebuah bunga mawar merah dari balik tubuhnya, yang membuat Seohyun menatap kagum bunga mawar merah itu.

“Terimakasih Yonghwa-sii. Sungguh, kau tidak perlu memberikan semua ini”

Yonghwa tersenyum kecil. “Tidak apa-apa”

Seohyun mengambil mawar merah itu dari tangan Yonghwa dan menatapnya lekat-lekat sambil tersenyum senang, kemudian tatapannya beralih pada tangan kanan lelaki itu. “Oh! Arm slingmu sudah dilepas?”

Yonghwa mengangguk. “Park uisanim bilang bahwa kondisi tanganku makin membaik. Hanya perlu waktu penyembuhan sekitar 1 minggu lagi untuk kembali seperti semula”.

Seohyun menatap kagum tangan Yonghwa sambil mengangguk mengerti. “Syukurlah” gumamnya sambil menghela napas lega.

-X-

“Woah, aku tak mengira apartementmu sekeren ini Joohyun-sii” Yonghwa mengedarkan tatapan kagumnya ke seluruh penjuru sudut apartement Seohyun sambil tak henti bergumam takjub.

Seohyun yang baru saja kembali dengan sebuah vas kecil berwarna gading di tangannya hanya dapat tersenyum mendengar semua pujian berlebihan Yonghwa. “Aku bisa mendesign apartementmu jika kau mau” tawar Seohyun sambil meletakkan setangkai bunga mawar merah yang Yonghwa berikan kepadanya tadi ke dalam vas.

“Benarkah?” tanya Yonghwa tertarik sambil menghampiri Seohyun yang tengah meletakkan vas berisikan bunga mawar merah tadi di atas lemari di sisi lain ruangan.

Seohyun mengangguk cepat. “untukmu, kuberikan gratis, tanpa bayaran”

“Aigoo, aku beruntung mendapatkan tetangga sebaik dirimu, Joohyun-sii” goda Yonghwa sambil menyenggol pundak kecil gadis itu dengan pundaknya.

Seohyun terkekeh. “Maka dari itu, bersikap baiklah dengan tetangga berhargamu ini” goda Seohyun tak mau kalah sambil menepuk-nepuk ringan punggung Yonghwa.

Yonghwa kemudian memperhatikan figura yang terletak persis di samping vas bunga yang baru Seohyun letakkan. Itu merupakan satu-satunya foto yang terdapat di apartement ini, dan foto itulah yang masih membuat Yonghwa penasaran semenjak ia masuk secara diam-diam ke apartement Seohyun beberapa hari yang lalu.

“Siapa itu?” Yonghwa menunjuk figura berbingkai coklat itu.

Seohyun mengikuti arah telunjuk Yonghwa dan mendapati sebuah foto yang sudah lima tahun ini terpajang di sana. “Itu teman kerjaku, Yuri eonni”

Yonghwa mengangguk mengerti. “Teman dekatmu? Sesama arsitek?”

“Bisa dibilang ia salah satu teman terdekatku, selain Yoona eonni”

Yonghwa menatap tajam foto kedua gadis itu. Yuri, seorang arsitek yang bekerja di J n J Design Architecture. Yonghwa rasa hanya dengan bermodal informasi itu sudah cukup baginya untuk menemukan dan menyelidiki gadis itu nanti.

“Yonghwa-sii, ada yang ingin ku tanyakan” ucap Seohyun ragu-ragu.

Yonghwa menatap Seohyun dan menunggu gadis itu melanjutkan ucapannya yang tiba-tiba terdengar menjadi lebih serius.

“Apa akhir-akhir ini kau melihat orang yang mencurigakan yang berkeliaran di sekitar apartement?”

Yonghwa menatap Seohyun bingung, kemudian ia menggeleng pelan. “Tidak. Kenapa?”

Seohyun kembali melihat figura di atas meja itu kemudian menggigit bibir bawahnya. Alisnya berkerut menadakan ada sesuatu yang sedang ia pikirkan.

“Figura itu…” ucap Seohyun tertahan.

Yonghwa mengerutkan dahinya sambil menatap Seohyun dan figura itu bergantian. “Kenapa dengan figura itu?”

“Kau ingat saat beberapa hari lalu aku pergi ke Daegu?”

Yonghwa mengangguk.

“Sepertinya ada seseorang yang masuk ke dalam apartementku”

Yonghwa hampir saja mengeluarkan kedua bola matanya jika saja hal itu bisa dilakukannya. Namun lelaki itu hanya dapat mematung di tempat dengan isi perut yang terasa dipilin-pilin dan diremas-remas, jantung yang tiba-tiba berpacu cepat dan keringat dingin yang mulai membasahi pelipis dan jari-jari tangannya yang mengepal kuat. Apa ia melakukan kesalahan? Apa ia meninggalkan sesuatu yang membuat gadis itu curiga? Seingatnya ia menjalankan aksinya dengan bersih, ia bahkan mengecek berkali-kali seluruh ruangan sebelum pergi meninggalkan apartement, seperti yang biasa ia lakukan pada aksi-aksi sebelumnya.

Yonghwa sebisa mungkin mengontrol ekspresinya agar tetap tenang sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dari gadis itu.

“Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?” tanya Yonghwa dengan nada suara sewajar mungkin.

“Figura itu, ketika aku pulang telah berpindah posisi kira-kira 3 mili dari tempatnya semula”

Kali ini Yonghwa tidak mampu menutupi keterkejutannya. Ia menatap Seohyun tanpa berkedip dengan mulut setengah terbuka.

“3 mili??” tanya Yonghwa shock. “Bagaimana kau bisa tahu perbedaannya jika hanya 3 mili?”

Seohyun menatap Yonghwa kemudian tersenyum canggung. Ia tahu semua orang pasti akan merasa aneh jika mendengar apa yang baru saja ia ucapkan, namun itulah kenyataannya. Seohyun bisa mengingat semua bentuk dan posisi barang-barang dengan akurat, mengingat semua kata per kata yang hanya ia lihat beberapa detik dari dalam buku, ia bahkan bisa menyebutkan model dan warna baju apa saja yang seorang gunakan setiap harinya dalam sebulan atau bahkan enam bulan terakhir. Hal-hal detail seperti itu sudah sangat wajar bagi Seohyun.

“Kau pernah mendengar tentang kemampuan mengingat fotografi?”

Yonghwa memiringkan kepalanya berpikir. Tentu saja ia pernah mendengarnya, ia bahkan sudah mencari banyak informasi tentang itu. Karena kemampuan fotografi itulah yang membuat Seohyun terlibat dalam misinya kali ini. Namun ia tidak menyangka bahwa kemapuan itu sungguh sangat luar biasa. Hal itu membuat dirinya sadar, bahwa ia harus lebih berhati-hati menghadapi gadis ini. Kesalahan sekecil apapun bisa membahayakan.

“Sepetinya aku pernah membacanya di sebuah situs internet. Itu seperti kemampuan mengingat luar biasa hanya dengan sekali lihat bukan?”

Seohyun mengangguk membenarkan.

“Dan kau memilikinya?” tanya Yonghwa pura-pura takjub.

Seohyun kembali mengangguk.

“Wow. Unbelieveable. Maksudku, apa kemampuan itu benar-benar ada?”

“Aku memilikinya” jawab Seohyun. Gadis itu kemudian menunggu respon Yonghwa namun sepertinya lelaki itu masih terlihat shock sehingga tidak ada lagi kalimat yang keluar dari mulutnya. “Memang sulit dipercaya. Namun tolong jangan anggap aku aneh”.

“Tentu saja tidak” potong Yonghwa cepat. “Itu tidak aneh, tapi keren”.

“Jika aku memiliki kemampuan itu, aku pasti dapat lulus kuliah dengan predikat magna cumlaude dengan mudah” Yonghwa berandai.

Well, buktinya aku lulus sarjana di usia 19 tahun”

“Woah, kau benar-benar beruntung memiliki kemampuan itu” ucap Yonghwa iri.

Seohyun tersenyum simpul, namun sorot matanya tiba-tiba berubah menjadi sayu dan redup. “Tidak, kurasa tidak juga” gumamnya pelan.

Yonghwa menatap Seohyun lekat-lekat. Ia tidak tahu pasti apa maksud dari ucapan gadis itu, namun sepertinya itu mengandung suatu arti yang cukup penting.

“Kurasa tidak ada orang yang mencurigakan di sekitar sini. Pengamanan di apartement ini cukup ketat kan? Kau tidak usah khawatir” ucap Yonghwa tiba-tiba yang membuat sorot mata Seohyun kembali seperti semula.

Seohyun mengangguk ragu menyetujui ucapan Yonghwa, mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua baik-baik saja dan tidak ada yang perlu ditakutkan.

“Figura itu berpindah hanya sejauh 3 mili. Mungkin saja sesuatu menyentuhnya secara tidak sengaja, seperti tikus atau kecoa” jelas Yonghwa ringan.

Seohyun mendelik cepat ke arah Yonghwa. “Tikus? Kecoa? Itu bahkan jauh lebih buruk!!” teriaknya histeris.

-X-

Apartement Yonghwa, Apgujeong-dong

Pukul 02.00 KST

Di atas tempat tidurnya, dengan cahaya rampu temaram kamar dan suara dengung dari Air Conditioner yang monoton dan teratur, Yonghwa masih sibuk berkutat dengan sebuah monitor kecil di tangannya. Hari sudah lewat tengah malam dan Yonghwa masih belum dapat tertidur. Ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, bahkan hanya untuk sekedar memalingkan penglihatannya barang sekejap dari benda kecil itu yang saat ini sedang menampilkan gambar dari sebuah kamar dengan seorang gadis yang tengah terlelap di atas ranjangnya.

Itu adalah kamera pengawas yang ia letakkan di seluruh penjuru apartement Seohyun beberapa waktu yang lalu. Sudah beberapa malam ini ia selalu mengawasi gadis itu. Sebenarnya Yonghwa juga masih tidak mengerti kenapa ia melakukan hal konyol seperti ini. Namun ia meyakini bahwa ia akan menemukan suatu hal penting jika terus mengawasi gadis itu.

Yonghwa meraih cangkir kopinya yang sudah dingin dari atas meja nakas untuk kembali meningkatkan kesadarannya yang sudah mulai berkurang. Begitu akan menyeruput kopi tersebut, tiba-tiba gerakannya terhenti. Ia kembali meletakkan cangkir itu sebelum sempat menyentuh bibirnya kemudian mendekatkan monitor itu untuk melihat lebih jelas apa yang sedang terjadi.

Gadis itu mulai bergerak gelisah dalam tidurnya. Yonghwa juga dapat mendengar gadis itu meracaukan sebuah kata yang Yonghwa sendiri tidak mengerti.

“Deuterium?” gumam Yonghwa tidak yakin begitu dapat mendengar dengan samar  apa yang diucapkan gadis itu.

Yonghwa segera mengambil tablet di sampingnya dan segera mencari tahu apa arti kata tersebut. Setelah beberapa menit mencari informasi melalui internet, Yonghwa akhirnya dapat mengambil kesimpulan bahwa Deuterium merupakan salah satu bahan pembuat nuklir.

Bingo! Yonghwa tersenyum senang. Ternyata pengorbanannya untuk tidak tidur beberapa hari ini terbayarkan. Ini merupakan informasi terbesar yang ia dapatkan selama menjalankan misi ini. Ia harus melaporkan informasi ini pada NIS pusat secepatnya.

-X-

Apartement Seohyun, Apgujeong-dong

Pukul 02.00 KST

“Appa, ada mobil yang mengikuti kita di belakang” Seohyun menatap cemas seorang pria setengah baya yang tengah berkonsentrasi menyetir di sampingnya. Kemudian tatapannya beralih ke belakang, dimana dua buah mobil hitam tengah mengejar mobil yang mereka tumpangi.

Seohyun merasakan ketakutan luar biasa ketika pria setengah baya di sampingnya itu menambah kecepatan mobil mereka. Tangan kanan Seohyun meremas kuat kalung berbandul daun clover yang menggantung di lehernya, sementara tangan kirinya menggenggam kuat-kuat handle pintu mobil di sampingnya. Ia memejamkan matanya kemudian dengan sepenuh hati berdoa kepada Tuhan agar mereka berdua dapat selamat.

Saat berdoa, ia dapat mendengar suara-suara mengerikan di telinganya. Suara memekakkan seperti sebuah bom besar yang berasal dari mobil mereka, ia tidak tahu pasti apa itu, namun yang pasti ia sangat takut. Teramat takut. Suara bom itu kemudian disusul oleh suara rentetat yang tak kalah mengerikan, seperti sebuah suara petasan di tahun baru, namun ini jauh lebih mengerikan.

Seohyun menggigit bibir bawahnya. Ia takut, ia ingin menangis, ia ingin lari dan bersembunyi dari sini. Namun ia tidak bisa, ia tidak ingin membuat pria di sampingnya ini cemas. Ia harus kuat, dan harus terus bersama pria itu sampai akhir. Karena hanya pria itu satu-satunya orang yang paling berharga baginya.

Ingatannya tiba-tiba bergulir pada saat pria itu memberikannya sebuah kertas dan memintanya mengingat semua tulisan-tulisan yang tidak ia mengerti di dalamnya. Semuanya terlihat samar-samar bagi Seohyun. Ia tidak bisa mengingat semua bagian dengan jelas. Deuterium. Hanya itu tulisan yang paling terlihat jelas saat ini.

Semuanya terjadi dengan cepat. Pria itu tiba-tiba merengkuhnya ke dalam pelukan yang membuat Seohyun terkejut sekaligus takut. Dan setelahnya, suara seperti bom itu kembali terdengar dengan kekuatan berkali-kali lipat lebih keras dan menakutkan. Seohyun dapat merasakan pria itu berucap ‘jangan takut Hyunnie’ sebelum akhirnya mobil yang ditumpangi mereka menabrak sesuatu dengan sangat keras sehingga ia tidak sadarkan diri.

Seohyun kembali terjaga dari tidurnya. Napasnya tersengal dan tubuhnya gemetar hebat. Seluruh tubuhnya telah basah dengan keringat, dan air matanya juga telah mengalir deras di pipinya entah sejak kapan. Ia menangis dan terisak kuat. Ia tidak tahu kenapa, namun ia merasa sangat takut dan sedih.

Mimpi tadi merupakan mimpi terjelas yang pernah ia alami. Biasanya ia hanya akan mendengar suara-suara mengerikan, namun sekarang ia dapat melihat semua kejadian itu, seperti sebuah film. Semuanya terasa nyata. Mobil itu, pria itu, rasa takutnya, serta suara ledakan itu. Semuanya terasa teramat nyata. Ia seperti diseret kembali saat kejadian itu terjadi.

Seohyun menggenggam badul kalung four clover yang menggantung di lehernya dengan erat. Ia kemudian meringkuk di atas tempat tidur dan menenggelamkan wajahnya di antar kedua lutut. Mencoba kembali bernapas dengan normal dan teratur. Namun sepertinya ia tidak akan bisa lagi melanjutkan tidurnya. Itu terlalu mengerikan. Sangat mengerikan.

-X-

Apartement Yonghwa, Apgujeong-dong

Pukul 02.08 KST

Baru saja Yonghwa merasa lega karena akhirnya ia bisa tidur dengan tenang, namun sesuatu hal menganggunya. Ia kembali melihat monitor untuk mengecek keadaan gadis itu dan ia mendapati gadis itu tengah meringkuk di atas tempat tidurnya sambil terisak.

“Kenapa gadis itu?”

Yonghwa tahu ada yang tidak beres dengan gadis itu. Gadis itu terlihat sangat ketakutan. Yonghwa menggigit kuku ibu jarinya cemas. Ada sesuatu yang salah, namun ia tidak tahu apa itu.

Yonghwa bangkit dari duduknya dan melangkah keluar kamar, namun niatnya terhenti. Ia tidak mungkin pergi ke apartement gadis itu di tengah malam seperti ini. Yonghwa akhirnya hanya dapat berjalan mondar-mandir di dalam kamar masih dengan memperhatikan dengan cemas monitor di tangannya.

Yonghwa kemudian meraih ponselnya. Masa bodo jika gadis itu menganggapnya tidak sopan, namun ia begitu cemas dan khawatir. Takut terjadi sesuatu yang buruk pada gadis itu. Ia hanya ingin memastikan.

“Joohyun-sii, maaf menganggu malam-malam. Apa kau sudah tidur?”

Aniyo. Ada apa Yonghwa-sii?

Yonghwa dapat mendengar suara sengau gadis itu. Jelas sekali bahwa ia habis menangis.

“Ehm… itu…” Yonghwa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung mau membuat alasan apa karena ia tadi sama sekali tidak mempersiapkannya sebelum menelepon. “Bagaimana dengan keadaan tikus dan kecoa di apartementmu?”

Yonghwa memukul kepalanya sendiri sambil bergumam “Pabo” tanpa suara. Itu benar-benar pertanyaan paling memalukan dan paling tidak esensial dalam sejarah hidupnya. Rasanya ia ingin mengunci mulutnya dan menenggelamkan wajahnya ke dalam kolam saat ini juga.

Namun ia mengurungkan niatnya ketika mendengar suara tawa merdu dari seberang sana. “Apa hanya karena itu kau menelponku malam-malam?”

Yonghwa tersenyum kemudian kembali memperhatikan monitor di tangannya. Gadis itu tidak lagi meringkuk saat ini, ia menyandarkan tubuhnya pada kepala tempat tidur. Gadis itu terlihat tertawa sambil menyeka sisa-sisa air mata di pipinya.

“Tidak juga. Aku hanya tidak bisa tidur dan ku rasa aku butuh teman bicara”

Kalau begitu aku akan menjadi temanmu bicara untuk malam ini. Sebagai gantinya, traktir aku makan siang besok. Bagaimana?” ucap gadis itu.

Yonghwa menghela napas lega. Mendengar gadis itu sudah dapat mengeluarkan kalimat candaan seperti tadi membuat dirinya tenang. Entah kenapa, ia tidak ingin melihat gadis itu dengan keadaan seperti tadi. Terlalu menakutkan dan terlalu menyedihkan. Dengan hanya melihatnya melalui sebuah monitor kecil saja sudah membuat Yonghwa dapat merasakan kesedihan gadis itu. Sebenarnya apa yang terjadi dengan gadis itu?

-X-

Starbucks Coffe, Lantai 1 Gd. A National Intelligence Service Office Center, Naegok-dong, Seocho-gu, Seoul

Pukul 10.00 KST

“Ada apa lagi memanggilku, hyung?”

Yonghwa melepas tatapannya dari layar ponsel dan mengangkat wajah untuk sekedar memastikan bahwa orang yang akan ia temuilah yang telah berdiri tepat di hadapannya.

“Duduklah” tawar Yonghwa sopan.

Lelaki berjas hitam itu menghela napas panjang lalu tanpa membantah menuruti perkataan Yonghwa. Ia duduk di hadapan Yonghwa kemudian menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa dan menyilangkan kedua kakinya.

“Kau mau pesan apa? Hari ini aku yang traktir”

“Aigoo, kenapa kau jadi baik hati seperti ini hyung? Langsung saja ke pokok pembicaraan. Kali ini siapa lagi orang yang mesti ku selidiki?”

Yonghwa terekeh kecil mendengar jawaban rekan kerjanya itu. Seperti dugaannya, Lee Jonghyun memang bukan orang yang suka diajak berbasa-basi dan bertele-tele, ia lebih suka to the point langsung ke pokok permasalahan.

“Tsk! Kau sama sekali tidak manis” goda Yonghwa yang dibalas dengan tatapan sinis dari Jonghyun. Yonghwa berdeham kecil kemudian menegakkan posisi duduknya. “Baiklah. Kalau begitu kita langsung saja. Pertama, aku ingin mengetahui laporanmu mengenai catatan medis Seohyun yang telah kau dapatkan. Dan yang kedua, aku ingin kau kembali menyelidiki seseorang”

“Persis seperti dugaanku” gumam Jonghyun malas.

Jonghyun kemudian menyerahkan map berwarna merah yang sejak tadi dibawanya kepada Yonghwa. “Itu semua data yang kudapatkan mengenai catatan medis Seohyun”

Yonghwa mengambil map merah itu dan mulai membacanya secara teliti.

“Tidak ada masalah dengan hasil CT-Scan. Tidak ada retakan, tidak ada radang ataupun tekanan intracranial dalam otak. Di situ juga ditulis bahwa Seohyun-sii telah mengalami sakit kepala itu selama bertahun-tahun setelah terjadinya kecelakaan. Diagnosa sementara adalah Amnesia Retrograde akibat benturan pada kepala. Semuanya sama dengan informasi yang kita dapatkan sebelumnya dari NIS”

Yonghwa mengangguk mengerti masih sambil terus membaca dengan teliti catatan medis Seohyun. “Lalu tidak ada laporan mengenai perkembangan ingatannya?” tanya Yonghwa sambil membalik-balikkan kertas untuk mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri.

“Tidak ada”

Yonghwa menutup map tersebut kemudian menghela napas panjang. “Sial” gumamnya kesal. “Padahal kupikir setidaknya ada sedikit laporan mengenai perkembangan ingatannya”

“Kenapa kau begitu yakin kalau ingatannya sudah berkembang?”

Yonghwa menyeruput kopinya sebelum menjawab pertanyaan Jonghyun. “Aku mendapatkan informasi besar. Aku sudah mengawasi gadis itu sejak beberapa hari terakhir, dan tadi malam saat ia sedang tidur, gadis itu meracau sebuah kata yang aku sendiri tidak mengerti”

“Apa itu?” Jonghyun terlihat mulai tertarik dengan penjelasan Yonghwa.

“Deuterium”

“Deuterium?” ulang Jonghyun.

Yonghwa mengangguk membenarkan. “Aku sudah mencari tahu melalui internet. Itu merupakan salah satu bahan pembuat nuklir”

“Benarkah?” tanya Jonghyun kaget. “Jadi dugaan NIS selama ini benar? Bahwa gadis itu memiliki ingatan tentang formula AZ887 yang ia peroleh dari Prof. Seo? Wah, benar-benar sulit dipercaya”

“Aku juga belum tahu pasti. Aku sudah melaporkan temuanku itu pada divisi Science and Technology untuk mencari tahu informasi lebih dalam. Aku juga berencana meminta KAERI (Korean Atomic Energy Research Institute) untuk bekerjasama dengan kita dalam kasus ini”

Jonghyun mengangguk mengerti. Kemudian tiba-tiba Yonghwa menyerahkan selembar kertas kepadanya.

“Apa ini?” Jonghyun memperhatikan gambar di kertas itu kemudian menatap Yonghwa meminta jawaban.

“Tugasmu, tentu saja”

Jonghyun mendengus begitu mendengar penjelasan Yonghwa.

“Gadis di samping Seohyun dalam foto itu bernama Yuri. Ia salah satu teman dekat Seohyun yang bekerja di J n J Design Architecture. Cari tahu informasi tentangnya. Pastikan apakah ia agen rahasia Korea Utara atau tidak”

“Arasho” jawab Jonghyun tidak semangat sambil menyimpan foto itu ke dalam saku jasnya.

“Dan satu lagi Jonghyun-ah”

“Apa lagi?”

“Jika memang laporan perkembangan ingatan Seohyun tidak ada dalam catatan medis, namun tidak menutup kemungkinan dokter pribadinya mengetahuinya bukan? Bisakah kau mencari tahu mengenai perkembangan ingatan Seohyun melalui Im uisanim?”

“Baiklah. Semua akan ku kerjakan dan ku laporkan padamu secepatnya”

Yonghwa tersenyum mendengar jawaban yang sangat memuaskan dari hobae-nya itu. Sepertinya mereka sudah selangkah lebih maju sekarang.

-X-

Halte bus, depan Soul International Hospital

Pukul 22.00 KST

Yoona duduk di halte yang telah sepi sambil menghela napas panjang untuk yang kesekian kalinya. Sepertinya hari ini merupakan hari sialnya. Ia mendapatkan kesialan berturut-turut tanpa henti. Pertama, tadi pagi ia ditegur atasannya yang merupakan kepala departement karena kemarin ia mangkir dari pertemuan mingguan untuk membahas perkembangan pasien rawat inap. Kedua, orang tuanya kembali akan mengadakan acara kencan buta konyol untuknya. Ketiga, tadi ketika ingin pulang, mobilnya secara tiba-tiba tidak bisa dihidupkan dan terpaksa harus ia tinggal di Rumah Sakit untuk malam ini. Keempat, hujan lebat tiba-tiba saja mengguyur kota Seoul padahal saat ini tengah musim panas. Dan yang kelima, ia belum juga mendapatkan taksi padahal sudah menunggu lebih dari satu jam di halte ini seorang diri.

Yoona memejamkan matanya dan memijit pelan pelipisnya. Jika ia harus seperti ini setiap hari, ia yakin sebelum umur 40 tahun kerutan di wajahnya sudah melebihi kerutan ratu Elizabeth.

Yoona menatap hujan yang masih turun dengan lebatnya sambil sesekali bergerutu menyalahkan awan, matahari, dan reporter laporan cuaca yang tidak memberitahukannya terlebih dahulu bahwa hari ini akan turun hujan selebat ini. Kemudian ia mengacak rambutnya frustasi. Mau sampai kapan ia menunggu sendirian di halte sialan ini?

Tin!! Tin!!

Suara klakson mobil yang memekakkan telinga membuat Yona mendelik kesal pada mobil sport putih yang tiba-tiba saja berhenti di depan halte. Rasanya ingin sekali Yoona melempar sepatu high heel-nya agar mendarat tepat ke kaca jendela mobil berisik itu. Apa pemilik mobil itu tidak tahu bahwa dirinya sedang benar-benar bad mood?

“Nona, kenapa kau senang sekali menunggu kendaraan umum di tengah malam seperti ini? Apa itu hobimu?”

Kaca mobil sport itu terbuka dan memperlihatkan seorang lelaki berkulit putih sedang menatapnya kemudian tersenyum sehingga memperlihatkan kedua lesung di pipinya. Yoona mengerutkan alisnya, mencoba mengingat apa ia pernah bertemu lelaki itu sebelumnya?

“Kau… Si playboy?” tanya Yoona ragu.

Jonghyun tertawa mendengar ucapan Yoona. “Playboy?” ulangnya geli.

“Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau menguntitku?”

Bagus. Ini berarti kesialan Yoona belum berakhir. Kesialan keenam hari ini, ia harus bertemu dengan lelaki playboy menyebalkan.

“Wah, kau ternyata seorang wanita yang percaya diri ya, Im uisanim”

Yoona menyipitkan matanya menatap lelaki itu curiga. “Dari mana kau tahu namaku?”

“Sangat mudah mencari tahu nama seorang gadis cantik sepertimu” jawab Jonghyun bangga.

Yoona mendegus kesal. “Benar dugaanku. Kau memang playboy”

“Butuh tumpangan?” tawar Jonghyun sopan.

“Tidak perlu”

Jonghyun mengangguk. “Baiklah kalau begitu. Asal kau tahu, aku hanya memberikan penawaran satu kali padamu. Aku tidak akan berbaik hati seperti tempo hari”

Jonghyun menghidupkan kembali mesin mobil dan menutup kaca jendela mobilnya. Namun tiba-tiba saja Yoona berdiri dari tempatnya dan segera menerobos hujan ke sisi lain mobil kemudian membuka pintu dan duduk di kursi penumpang di samping Jonghyun. Jonghyun menatap Yoona heran. Antara geli dan kesal dengan harga diri gadis ini yang sok kelewat tinggi.

“Sudah, jalankan mobilnya” ucap Yoona tanpa menatap Jonghyun. Rasa malunya sudah sampai ke ubun-ubun saat ini. Namun ia tidak punya pilihan. Dari pada ia harus menunggu di halte sialan itu sampai pagi, maka ia lebih memilih menumpang mobil si playboy ini sampai rumahnya. Sepertinya lelaki itu dapat dipercaya. Lagipula setidaknya ia pernah sekali diselamatkan oleh lelaki itu.

-X-

Rumah Kediaman Keluarga Im, Gangnam-gu, Seoul

Pukul 23.00 KST

“Terimakasih telah mengantarku” ucap Yoona sopan sambil melepaskan safety belt dari tubuhnya.

Ketika ia hendak membuka pintu mobil, Jonghyun lebih dulu menghentikan gerakan Yoona dengan ucapannya. “Kau sudah 2 kali hutang budi padaku, kau ingat?”

Yoona menggertakkan gigi kesal lalu membalikkan tubuhnya menghadap Jonghyun. “Lalu apa maumu? Apa yang harus ku berikan agar hutang budiku lunas?” tanya Yoona geram.

“Aku butuh bantuanmu”

“Apa? Cepat katakan!”

“Besok jam 1 siang. Aku tunggu kau di Mango Six Cafe. Aku yang traktir”

Yoona mendelik kesal ke arah Jonghyun. “Tidak bisa, aku sibuk!”

“Itu jam makan siang”

“Aku ada jadwal operasi” jawab Yoona sekenanya.

Jonghyun tertawa geli mendengar jawaban Yoona. “Kau dokter syaraf, bukan dokter bedah. Apa kau lupa, Im uisanim?”

Yoona mengusap wajahnya frustasi. Lelaki ini benar-benar tidak bisa dianggap remeh. “Baiklah, jam 1 siang di Mango Six. Tidak boleh telat”

Yoona menutup dengan kasar pintu mobil Jonghyun kemudian berjalan cepat masuk ke dalam rumahnya. Jonghyun hanya dapat menahan tawa melihat tingkah laku gadis itu. Im Yoona, benar-benar gadis yang menarik.

-X-

Keesokkan hari

Korean Atomic Energy Research Institute (KAERI), Daejon

Pukul 11.00 KST

“Terimakasih atas kesediannya membantu penyelidikan kami, Tuan Kang”

Yonghwa mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan salah satu Lab. Assistant yang dengan suka rela bersedia membantu penyelidikan NIS dalam kasus formula AZ887 ini.

“Sama-sama. Saya juga merasa terhormat jika dapat membantu NIS dan pemerintah untuk kasus ini” jawab Kang Minhyuk, sang Lab. Assistant, sambil menyambut uluran tangan Yonghwa.

“Jika kami berhasil menemukan informasi kembali, maka kami akan segera menghubungi anda”

Minhyuk mengangguk sambil membenarkan letak kacamata bulatnya. “Kami akan menunggunya. Dan kami akan berusaha memberikan data seakurat mungkin bagi NIS. Lagipula kami semua di sini sangat tertarik dengan formula yang diciptakan oleh Prof. Seo Im Han yang dikabarkan memiliki daya ledak 8 kali lebih besar dari type APR-1400. Wacana itu sangat mengguncang semua peneliti nuklir di seluruh dunia saat ini”

“Dan… Ah! Tunggu sebentar Tuan Jung” Minhyuk mengambil dompetnya dari dalam saku celana dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Ia kemudian menyerahkan sebuah kertas kecil kepada Yonghwa. “Itu adalah kartu namaku. Kau bisa menghubungiku kapanpun kau membutuhkannya”

Yonghwa menerima kartu nama tersebut kemudian menyimpannya ke dalam saku jas. “Baiklah kalau begitu, saya pamit pergi. Terimakasih atas kerjasamanya” Yonghwa membungkuk sopan kepada Minhyuk sebelum pergi meninggalkan tempat itu.

-X-

Mango Six Cafe, Gangnam-gu, Seoul

Pukul 13.02 KST

Yoona berjalan cepat memasuki cafe kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan untuk menemukan seseorang yang seharusnya sudah ada di cafe ini. Masih sibuk mencari, sesekali Yoona bergumam kesal kepada dirinya sendiri, ‘Awas saja jika playboy itu telat. Aku tidak akan membantunya’

Baru saja ia mangeluarkan ancaman seperti itu, tiba-tiba saja ia melihat sosok yang ia kenal tengah duduk tenang di salah satu sudut cafe. Yoona mendengus sebelum akhirnya pergi menghampiri sosok itu.

“Kau telat dua menit” ucap lelaki itu tepat ketika Yoona tiba di mejanya.

Yoona segara duduk di hadapan lelaki itu lalu menjawab dengan malas, “Apa kau tidak tahu betapa sibuknya seorang dokter?”

“Oke. Terimakasih karena telah meluangkan waktumu yang sibuk itu untuk bertemu denganku, Im uisanim yang terhormat” jawab Jonghyun dengan nada mengejek.

Yoona mendelik kesal karena ucapan Jonghyun yang justru terdengar merendahkannya. “Langsung saja. Apa yang kau inginkan?”

Jonghyun menegakkan tubuhnya sebelum menjawab pertanyaan Yoona. “Sebelum aku menjelaskannya, aku punya satu kondisi untuk kau setujui”

“Apa itu?”

“Berjanjilah kau tidak akan bertanya apapun. Apa, kenapa, bagaimana bisa, mengapa. Aku tidak akan menjawab semua pertanyaan seperti itu”

“Baiklah. Cepat katakan apa itu?” ucap Yoona tidak sabar. Ia ingin segera menyelesaikan urusannya dengan lelaki menyebalkan ini.

“Aku membutuhkanmu untuk memberikanku informasi mengenai perkembangan ingatan Seo Joohyun, pasienmu”

Yoona mengerutkan alisnya tidak mengerti. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang tidak beres sedang terjadi. Ia tidak menyangka lelaki itu akan memintanya membocorkan perkembangan penyakit salah satu pasiennya. Dan terlebih lagi pasien itu merupakan Seohyun.

Yoona menatap Jonghyun curiga. “Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau ingin mengetahui informasi tentang Seohyun?” tanya Yoona serius.

Jonghyun tersenyum mendengar pertanyaan Yoona. “Jawaban untuk pertanyaan pertama, aku adalah Lee Jonghyun. Jawaban untuk pertanyaan kedua, maaf aku tidak bisa memberitahukannya kepadaku, sesuai kesepakatan kita di awal. Namun yang pasti, aku dapat menjamin bahwa aku bukanlah orang yang berbahaya. Keberadaanku di sini justru untuk menyelamatkan Seohyun”

“Kau tahu bahwa aku seorang dokter. Seorang dokter punya kode etik untuk tidak membocorkan rahasia pasiennya kepada siapapun”

“Aku tahu” jawab Jonghyun santai. “Maka dari itu, semua informasi yang akan aku dapatkan darimu nanti tidak akan bocor kepada pihak lain”

“Apa kau seorang polisi? Apa Seohyun terlibat dalam sebuah kasus kejahatan?” tanya Yoona khawatir.

“Aku tidak bisa memberitahukan hal ini kepadamu saat ini. Terlalu berbahaya, untuk Seohyun dan juga untuk mu”

“Tapi…”

“Aku tidak akan memintamu memberikan informasi itu saat ini” potong Jonghyun. “Kau masih bisa memikirkan lagi tawaranku. Aku tidak akan memaksamu”

Jonghyun tiba-tiba berdiri dari kursinya dan bersiap untuk pergi meninggalkan cafe itu. “Ini nomor teleponku yang bisa kau hubungi” Jonghyun menyerahkan selembar kertas kecil kepada Yoona. “Dan satu lagi, jangan bicarakan pertemuan kita ini kepada siapapun, termasuk Seo Joohyun”

Jonghyun kemudian melangkah pergi meninggalkan Yoona yang masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang baru saja terjadi kepadanya.

Yoona menatap lekat-lekat deretan angka di dalam selembar kertas yang Jonghyun berikan tadi. Otaknya benar-benar tidak dapat berpikir saat ini. Begitu banyak pertanyaan yang tidak terjawab berputar-putar di dalam kepalanya. Apa yang harus ia lakukan? Apa ia bisa mempercayai lelaki itu?

Yoona tiba-tiba terhenyak dan segera berlari keluar cafe. Ia berlari ke arah mobil sport putih yang baru saja akan berjalan meninggalkan cafe. Yoona menghadang mobil itu kemudian dengan cepat masuk ke bangku penumpang di salah satu sisi mobil.

“Satu pertanyaanku yang harus kau jawab” ucap Yoona tepat setelah dirinya masuk ke dalam mobil.

Jonghyun menatap Yoona dan menunggu pertanyaan dari gadis itu dalam diam.

“Apa saat ini Seohyun dalam bahaya?” tanyanya sambil menatap Jonghyun cemas. Entah kenapa, ia begitu khawatir dengan keadaan Seohyun. Ia yakin Seohyun tengah berada dalam masalah saat ini, bahkan mungkin Seohyun sendiri tidak menyadarinya.

Jonghyun terdiam beberapa saat. Kemudian ia menjawab pertanyaan Yoona dengan satu anggukan kecil. Dan itu membuat jantung Yoona mencelos.

“Baiklah, aku akan membantumu. Namun kau bisa menjamin bahwa Seohyun akan baik-baik saja kan?”

“Aku akan berusaha semampuku”

Yoona mengangguk mendengar jawaban Jonghyun. Ia tahu apa yang dilakukannya ini gila, namun entah kenapa firasatnya mengatakan bahka lelaki itu bukan orang jahat dan ia bisa mempercayainya.

“Jika saatnya tiba, bisakah kau berjanji untuk menjelaskan semuanya kepadaku?” pinta Yoona

“Tentu” Jonghyun menyanggupi permintaan Yoona tanpa ragu. Jika ia bisa, jika ia diperbolehkan membuka identitasnya sebagai agen rahasia, maka ia pasti sudah menjelaskan semua ini kepada gadis itu. Namun ia tidak bisa melakukannya saat ini. Terlalu berbahaya jika Yoona juga ikut terlibat dalam kasus ini, terlebih jika pihak Korea Utara mengetahuinya. Mereka pasti akan memanfaatkan Yoona untuk mendapatkan informasi mengenai Seohyun. Dan ia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.

“Kalau begitu aku akan memberitahukanmu informasi yang ku ketahui tentang Seohyun” ucap Yoona pelan. “Aku yakin kau pasti sudah tahu beberapa informasi dasar seperti kecelakaan yang menimpa Seohyun dan kehilangan ingatannya setelah kejadian itu. benarkan?”

Jonghyun mengangguk membenarkan.

“Sampai sejauh mana kau mengetahui informasi tentangnya?”

“Ia juga menderita sakit kepala setelah kejadian itu bukan? Hanya sampai situ. Tidak ada yang lain lagi”

Yoona terdiam beberapa saat menatap Jonghyun. Ternyata lelaki ini sudah memiliki informasi tentang Seohyun sebelumnya. Itu membuatnya yakin bahwa Jonghyun bukanlah orang sembarangan.

“Ya, dan kurasa itu aneh. Seharusnya berdasarkan data medis, Seohyun tidak lagi memiliki trauma sakit kepala seperti itu mengingat kecelakaan yang terjadi sudah belasan tahun. Lagipula tidak terdapat tanda-tanda kerusakan pada otak ataupun tulang rangka kepalanya. Seharusnya sakit kepala seperti itu telah hilang, dan bahkan seharusnya ingatannya berangsur-angsur membaik karena itu bukan merupakan amnesia permanet”

“Aku juga berpikir seperti itu” timpal Jonghyun. “Ku rasa sakit kepalanya itu berhubungan dengan ingatannya bukan?”

Yoona mengangguk setuju. “Ya. Dan beberapa hari yang lalu, Seohyun melaporkan padaku bahwa ia kembali mengalami serangan sakit kepala dengan intensitas yang jauh lebih kuat. Dan saat itu, Seohyun menceritakan bahwa ia melihat tulisan-tulisan kabur dalam ingatannya. Satu-satunya kata yang terlihat jelas, hanya…”

“Deuterium” potong Jonghyun.

“Kau tahu??” tanya Yoona kaget.

“Hmm…” gumam Jonghyun membenarkan. “Jangan tanya kenapa aku bisa mengetahuinya”

Yoona menatap Jonghyun lama kemudian akhirnya mengangguk mengerti. “Ya aku mengerti”

“Untuk saat ini hanya itu informasi yang ku punya. Aku akan menghubungimu lagi ketika aku mendapatkan informasi lain. Dan…” Yoona terdiam sesaat kemudian kembali melanjutkan kalimatnya dengan intonasi yang lebih lembut. “Dan tolong lindungi Seohyun”

“Pasti” ucap Jonghyun yakin.

Saat Yoona hendak keluar dari mobil, ponselnya berdering yang mengharuskannya kembali duduk di mobil dan mengangkat ponselnya.

“Ya eomma?”

Kau dimana Yoonie? Bukankah kau sudah ada janji dengan Donghae di Mango Six siang ini?

Yoona menghela napas panjang. “Eomma, jangan seperti itu. Aku lelah dengan semua kencan buta konyol ini. Saat ini aku sedang di Rumah Sakit. Aku sibuk” Yoona menutup cepat ponselnya dan segera me-non aktif­-kan ponselnya agar tidak ada lagi telepon menyebalkan yang masuk dari ibunya.

Jonghyun yang mendengar semua pembicaraan Yoona dengan ibunya di telpon hanya dapat terkekeh pelan. “Apa mobilku terlihat seperti Rumah Sakit untukmu?” godanya.

Yoona mengerucutkan bibirnya kesal. “Tertawalah sesukamu”

Jonghyun kemudian menghentikan tawanya dan berdeham pelan. “Aku bisa membantumu, jika kau mau. Sebagai balasan atas bantuanmu kepadaku”

Yoona mengerutkan alisnya menatap Jonghyun. “Apa maksudmu?”

Jonghyun tersenyum licik. Entah kenapa sesuatu yang menarik terlintas di kepalanya, walaupun itu sama sekali tidak berhubungan dengan misinya kali ini. “Kenalkan aku pada orang tuamu. Maka dengan begitu mereka akan menghentikan aksi kencan buta konyol yang kau sebut-sebut tadi”

-X-

Halo reader, apa kabar? Duh, saya mau minta maaf sedalam-dalamnya karena post FF ini dengan jarak yang sangat lama (mengaku salah). Soalnya bulan kemarin aku cuti tahunan, jadi FF ini benar-benar aku abaikan selama itu. Ditambah aku masih belum bisa move on dari euforia Bluemoon Jakarta beberapa minggu yang lalu. Jadilah FF ini benar-benar terlantar.😦

Saran dan kritik masih sangat ditampung sebensar-besarnya. Akhir kata, selamat membaca…🙂

24 thoughts on “Formula X [Memory 4]

  1. Wah,Jonghyun oppa menawarkan diri untuk jadi pacarnya Yoona
    Asyik
    please update soon
    Akan seru juga kalo Yoona juga dalam bahaya dan Jonghyun menyelamatkannya
    please update soon
    tq

  2. makiiiiin seruuuuuuuuuu.
    dan hubungan 2 lead couple disini makin uwoooowwwww.
    jadi yong curiganya ma yuri ya heeeem. masi penasaran di siapa mata2 dr korut itu. selebihnya sukaaaaa bgt ma cerita. dan ini makin byk pengetahuan di dapet ya baca ini.

    iya nih sebulan jeda part 3 dan 4 huhuu
    emang ya susah bgt move on apalagi udh liat aslinya yg uwwowww bgt mereka. hope we can meet up again with them in next concert.🙂
    ditunggu karya berikutnya. keep writing kakaaaaa🙂

  3. uwaaaaaahhhhhhh
    udah masuk cerita cinta nihhhh (?) hhhahaha xD

    yong curiga ama yuri?
    padahal aku curiganya ama kyu(?) /apalah/ xD
    ecieeeee jonghyun itu nawar atau ngebet(?) kepengen dateng ke rumahnya yoona???
    ehhhahaha xD
    next chapter thorrrr🙂

  4. Suka banget sm scene JongYoon-nya…jd senyum2 sendiri…keep writting yaa Authornim…smoga scene jongyoon-nya bs lbh banyak lg🙂

  5. Ternyata Yoona tpi syukur Jong kagak ketahuan jago bner deh si Jong oppa nyamarnya pantas jdi detektif🙂
    aigoo Yong oppa khawatir niee ma Hyun smpai gx tega gitu liat Hyunnie mndrita saat mimpi buruk… kkkk #colekYongppa
    WoW Hyunni daebak baru bergeser segitu doang dia smpai takut Yongppa ampe keribgat dingin gitu wkwkwkwk
    Pantas Yoon manggil Jong Plyboy scra tingkah Jong bneran Playboy si… kkkk lanjut baca next partnya >>>>>

  6. Apakah komenku bakal dibaca sama authornya ya?!!!
    Aq mau bilang kalo author jahat banget,aq kira ff ini ga bakal dilanjutin lagi karena lama banget jeda tiap partnya..karna kecewa jadi ga mau buka buka blog ini lagi tapi karena berhubung kangen sama goguma couple dan deerburning jadi buka blog ini lagi dan tenyata ff ini masih berlanjut bahkan uda sampe chap 9..yehet!!
    Aq jadi seneng yah walaupun harus punya stok kesabaran ekstra untuk tungguin next partnya..
    Maaf thor jadi curcul gini..
    Keep writing & semangat ya thor biar bisa cepet publish tiap chap..
    Fighting!!

  7. Senyum2 sndiri baca part ini😄
    Sweet gmna gitu hahaha :))
    Yongseo couple love it, sllu suka moment mreka di ff ini🙂
    Deerburning jga, si jonghyun bner2 casanova pas deketin yoona hihihi
    Makin mnarik critanya😀

  8. Yeeyyy akhirnya jong menawarkan diri…hahahaaa asyeeekkk
    Ditunggu moment jongyoonnya yg lbh sweet and lucu,,walo sering tengkar tp asyiikk…
    Jong bnar2 memanfaatkan moment yaaa..
    Lanjuuutt…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s