Formula X [Memory 3]

formulax copy

Judul: Formula X [Memory 3]

Main Cast:

Jung Yonghwa CNBlue sebagai Jung Yonghwa

Seo Joohyun SNSD sebagai Seo Joohyun

Other Cast:

Lee Jonghyun CNBlue sebagai Lee Jonghyun

Im Yoona SNSD sebagai Im Yoona

Cho Kyuhyun Super Junior sebagai Cho Kyuhyun

Hwang Kwanghee ZE:A sebagai Hwang Kwanghee

Rating: PG-17

Lenght: Chaptered

Genre: Romance, Action, AU

Teaser – Prolog – Memory 1 – Memory 2

The Kitchen Italian Restaurant, Sinsa-dong, Gangnam-gu

Pukul 22.30 KST

“Ya Tuhan eomma, sampai kapan kau mau menyuruhku untuk pergi kencan buta seperti ini?” rajuk Yoona di dalam salah satu bilik toilet.

Dia pria baik sayang. Ayahnya salah satu dari rekan bisnis appamu” ucap ibunya meyakinkan dari seberang telepon.

Yoona memijat pelipis sambil memejamkan matanya. “Eomma, ini tidak ada hubungannya tentang dia ‘anak dari rekan bisnis appa’ atau bahkan ‘anak dari seorang perdana menteri’. Aku tidak mau! Hentikan semua omong kosong ini!”

Yoonie sayang, eomma hanya ingin kau mendapatkan yang terbaik. Tolong jangan kacaukan acara ini sayang. Eomma mohon padamu” pinta ibunya dengan suara memelas.

Yoona menghela napas panjang. “Ini yang terakhir eomma. Tidak ada lagi kencan buta chapter lima, chapter enam, atau chapter-chapter selanjutnya”

Klik

Yoona memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari ibunya. Kemudian ia keluar dari bilik toilet dan berdiri di depan kaca wastafel. Ia memandang dirinya di dalam cermin. Mata indah, hidung mancung, kulit putih, wajah berbentuk V line dan rambut coklat yang tergerai halus. Sempurna! Namun kenapa kisah cintanya selalu berakhir dengan sebuah kencan buta konyol yang orang tuanya siapkan untuk dirinya? Meski memang harus ia akui bahwa sampai detik ini ia belum memiliki pria sempurna yang bisa ia kenalkan kepada orang tuanya untuk menghentikan seluruh aksi konyol mereka.

Karirnya sebagai seorang dokter spesialis syaraf sedang mencapai puncaknya saat ini, ditambah dengan pekerjaannya sebagai dosen pembimbing dan kegiatan amalnya di panti-panti jompo untuk membantu para lansia yang mengalami masalah kesehatan. Waktunya terlalu berharga jika dihabiskan untuk berkencan dengan seorang lelaki. Dan sepertinya kedua orang tuanya tidak berpikiran sama dengannya.

Mereka menuntut Yoona terlalu banyak dan berharap terlalu tinggi padanya. Mungkin karena memang Yoona anak tunggal di dalam keluarga sehingga semua beban seperti status sosial keluarga, harta warisan, penerus perusahaan serta tetek bengek di dalamnya dilimpahkan pada Yoona.

Yoona memang merasa bersyukur dengan status sosial keluarganya, segala kelimpahan harta yang tidak pernah kurang, serta statusnya sebagai seorang dokter, namun ia juga tidak ingin terus dikekang dan dibanyangi soal masalah perjodohan dan calon suaminya kelak. Oh ayolah, ini abad 21 dimana semua orang bebas memilih dan dipilih oleh pasangannya tanpa dibayang-bayangi status sosial mereka. Maksudnya, apa masih jaman perjodohan klasik antara si penerus perusahaan ini dan si pewaris perusahaan itu?

Yoona menatap lagi dirinya di dalam cermin lekat-lekat. Sepertinya ia memang harus melakukan ‘aksi pemberontakan’ kecil untuk membuat orang tuanya jera. Dengan senyum licik, akhirnya Yoona berjalan cepat keluar toilet dan berbelok di ujung lorong.

-X-

Jonghyun mengetuk-ngetuk jarinya di atas kemudi seirama dengan lagu Tears in Heaven dari Eric Clapton yang mengalun lembut di dalam mobilnya. Kemudian gerakannya terhenti ketika melihat gadis yang sejak 40 menit lalu ditunggunya keluar dari dalam sebuah restaurant. Ia tersenyum melihat gadis itu berjalan cepat ke arah mobilnya yang terparkir di sisi jalan.

“Perlu tumpangan Nona?” tawar Jonghyun setelah menurunkan kaca mobil. Ia tersenyum memamerkan deretan gigi putih dan lesung pipinya yang menawan.

Gadis itu berhenti kemudian mendelik kesal. Tanpa sepatah katapun, gadis itu kemudian melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan Jonghyun.

Jonghyun kembali tersenyum. Dengan santai, ia keluar dari mobil dan berjalan mengikuti gadis itu setelah terlebih dulu mengunci mobilnya.

“Ini sudah cukup malam. Sepertinya kendaraan umum sudah tidak beroperasi” ucap Jonghyun setelah mampu menyamai langkah gadis itu.

Gadis itu berhenti dan menatap Jonghyun galak. “Apa maumu?”

“Membantumu” jawab Jonghyun polos dan kembali tersenyum.

“Tidak butuh” gadis itu kembali berjalan meninggalkan Jonghyun di belakang.

“Aku orang baik” Jonghyun meyakinkan.

Gadis itu menatap Jonghyun dari atas ke bawah kemudian mendengus kesal. “Maaf ahjushi, tapi aku bukan perempuan murahan seperti yang kau bayangkan. Pergilah ke club di blok sebelah maka kau akan mendapatkan apa yang kau butuhkan malam ini”

Jonghyun terkekeh mendengar jawaban gadis itu. Ia kemudian berhenti berjalan dan menatap punggung gadis itu yang makin menjauh. Selang beberapa detik kemudian, gadis itu berbalik dan berjalan cepat ke arah Jonghyun. Jonghyun yang masih berdiri di tempatnya menatap bingung gadis itu.

Gadis itu berjalan melewati Jonghyun dan berhenti beberapa meter setelahnya. Ia menoleh ke kiri dan kanan dengan cemas sambil sesekali melirik ke arah dua orang pria berjas hitam yang berjalan mendekat ke arahnya.

“Ahjushi, tawaranmu masih berlaku?”

Jonghyun menoleh ke arah gadis itu dan mengangkat alisnya bingung. “Kau berbicara padaku?” Jonghyun menunjuk dirinya.

“Hanya kau yang berdiri di sana. Masih berniat membantuku?”

Jonghyun tersenyum dan mengangguk santai. “Oke” jawabnya sambil berjalan ke arah tempat mobilnya terparkir.

-X-

Yoona tahu ia gila dengan tindakannya ini, namun ibunya jauh lebih gila. Yoona tidak menyangka ibunya sampai mengirim dua orang body guard yang biasa bekerja untuk ayahnya hanya untuk memastikan kencan butanya berjalan lancar malam ini. Ibunya sudah benar-benar terobsesi menjodohkannya dengan sosok pria impian versi ibunya sendiri.

Yoona kemudian melirik lelaki di sampingnya yang masih bersenandung kecil mengikuti irama lagu yang sedang diputar di dalam mobil. Ia tidak tahu sama sekali siapa lelaki ini. Tadi otaknya sudah benar-benar buntu karena takut pelariannya dipergoki oleh para body guard suruhan ibunya. Setelah mencoba menunggu taksi yang tak kunjung melintas, akhirnya Yoona hanya bisa pasrah meminta bantuan lelaki itu untuk membawanya kabur sementara.

“Menepilah” perintah Yoona tiba-tiba yang di ikuti tatapan tidak mengerti dari lelaki itu.

Lelaki itu kemudian menepikan mobilnya sesuai perintah Yoona di sebuah halte. Yoona segera keluar dari mobil dan membungkuk sekenanya untuk berterimakasih atas bantuan lelaki itu.

“Aku bisa mengantarmu pulang” tawar lelaki itu dari dalam mobil.

“Tidak perlu. Aku bisa naik taksi dari sini. Terimakasih”

Lelaki berkulit putih itu tersenyum kemudian mengangguk mengerti. “Kalau begitu kau berhutang satu buah bantuan padaku, Nona”

Yoona mengerutkan dahinya tidak suka. Ia kemudian membuka tas dan mengeluarkan dompetnya. “Aku tidak suka berhutang. Kau mau ku bayar berapa?”

Lelaki itu terkekeh. “Nyawa dibayar nyawa, darah dibayar darah, dan hutang budi dibayar hutang budi. Semoga malammu menyenangkan Nona”. Lelaki itu kemudian memberikan sebuah kedipan singkat kepada Yoona sebelum menjalankan mobilnya kembali.

Yoona hanya dapat mendengus sambil menatap mobil sport putih itu menjauh. “Playboy” gerutunya kesal.

-X-

Esok hari

Apartement Seohyun, Apgujeong-dong

Pukul 07.00 KST

Ting – Tong

Seohyun menekan bel apartement Yonghwa setelah beberapa saat berdiri ragu di ambang pintu. Sedetik kemudian terdengar suara sahutan lelaki itu dari dalam.

“Oh, Joohyun-sii?” Yonghwa membuka pintu dan tersenyum lebar pada Seohyun. “Ada yang bisa ku bantu?”

“Ini…” Seohyun mengulurkan sepiring sandwitch tuna pada Yonghwa. “Kurasa kau belum sarapan, jadi…” Seohyun menggantungkan kalimatnya dan hanya menyelesaikan dengan sebuah gerakan menyelipkan rambut di belakang telinganya.

Yonghwa tersenyum dan menerima sandwitch itu dengan antusias. “Terimakasih. Aku memang belum sempat sarapan”

“Kau bekerja hari ini?” tanya Seohyun.

Yonghwa menggeleng. “Sepertinya belum. Dengan kondisi tangan seperti ini, aku belum bisa memainkan gitarku”

Seohyun mengangguk sambil mengucapkan kata ‘benar’ tanpa suara. Dalam hati ia makin merasa bersalah karena akibat menolong dirinya lelaki itu terpaksa libur dari pekerjaan satu-satunya.

“Kalau begitu, kau istirahat saja dulu di rumah” saran Seohyun. “Aku berangkat kerja dulu. Sampai nanti”

“Ya, selamat bekerja dan terimakasih untuk sandwitch-nya”

-X-

Yonghwa menutup pintu apartementnya. Wajahnya yang tadi terlihat ramah seketika berubah menjadi lebih serius. Ia meletakkan sandwitch pemberian Seohyun di atas meja makan kemudian segera kembali duduk di depan laptop.

Ia baru saja mendapatkan email dari Jonghyun beberapa menit yang lalu. Dan kedatangan Seohyun membuatnya harus menghentikan pekerjaannya. Jonghyun mengirimkan email yang berisikan data-data Im Yoona. Mulai dari pekerjaannya, latar belakang keluarga, pendidikan serta teman-teman terdekat gadis itu. Sepertinya Jonghyun sudah memulai misinya untuk mencari tahu seluruh data gadis itu. Dan seperti biasa, Jonghyun tidak pernah mengecewakannya. Lihatlah, baru satu hari lelaki itu diberi tugas, ia sudah berhasil mengumpulkan data sebanyak ini.

Yonghwa kemudian mengambil sebuah monitor kecil yang menunjukkan koordinat-koordinat suatu wilayah. Sebuah titik merah yang berkedip-kedip terlihat bergerak lambat di sana. Itu merupakan alat penyadap. Dan alat penyadap itu memberikan informasi kepadanya dimana Seo Joohyun saat ini berada. Alat sadap itu ia pasang di mobil Seohyun saat mereka pergi ke Rumah Sakit kemarin. Dengan begitu, ia bisa mengamati pergerakan gadis itu kapan saja dan dimana saja. Dan seperti yang ditunjukkan monitor itu sekarang, bahwa mobil Seohyun tengah bergerak menuju kantornya di Gangnam-gu.

-X-

National Intelligence Service Office Center, Naegok-dong, Seocho-gu, Seoul

Pukul 10.00 KST

Yonghwa berjalan cepat memasuki gedung sambil sesekali membalas sapaan beberapa rekan kerja yang berpapasan dengannya. Ia kemudian berhenti di salah satu pintu besi dan mendekatkan wajahnya pada alat pendeteksi iris mata yang terpasang di salah satu sisi pintu. Setelah pintu terbuka otomatis, Yonghwa melanjutkan langkahnya memasuki ruangan dan berhenti di sebuah meja kerja di sudut ruangan. Yonghwa segera duduk di kursi kemudian mencari sesuatu di dalam laci bawah meja.

“Kau masuk kerja hari ini hyung?” Kwanghee berdiri di samping meja Yonghwa sambil melihat dengan penasaran apa yang sedang dilakukan sunbaenya itu di meja kerja miliknya yang sudah hampir 3 tahun terakhir tidak digunakan lelaki itu.

Yonghwa mendelik kesal ke arahnya. “Jangan ganggu aku. Pergi sana” jawabnya datar.

Kwanghee mengerucutkan bibirnya kesal. Ia tahu Yonghwa pasti masih marah atas insiden beberapa hari yang lalu itu. Namun ia rasa, itu tidak sepenuhnya kesalahannya. Berbeda dengan Yonghwa dan Jonghyun yang bekerja di bawah divisi National Clandestine Service (Layanan Bawah Tanah Nasional) yang berkerja langsung di lapangan, Kwanghee bekerja di bawah divisi Science and Technology yang memiliki tugas mengumpulkan, menganalisis, dan memberikan informasi mengenai data-data yang diperlukan NIS dan pemerintah melalui berbagai macam sumber. Ia lebih banyak bekerja di depan komputer, jadi wajar saja jika ia tidak terbiasa dengan tugas lapangan seperti itu.

Saat Kwanghee hendak berbalik, tiba-tiba Yonghwa memanggilnya. “Mana Jonghyun?” tanya Yonghwa yang masih sibuk membongkar laci meja kerjanya.

“Tadi ku lihat ia masuk ke ruangan Ketua Choi” jawab Kwanghee jujur.

Yonghwa hanya mengangguk singkat mendengar jawaban Kwanghee tanpa mengucapkan sepatah katapun, membuat Kwanghee kembali mengerucutkan bibirnya kesal.

-X-

“Jonghyun-ah” Yonghwa memanggil Jonghyun tepat setelah lelaki itu keluar dari ruangan Choi Siwon. Jonghyun tersenyum melihat kehadiran Yonghwa dan segera menghampiri lelaki itu di meja kerjanya.

“Apa yang kau lakukan hyung?”

Yonghwa tertawa mendengar pertanyaan Jonghyun. “Apa salah jika aku datang ke tempat kerjaku sendiri?”

Jonghyun ikut tertawa kemudian duduk di hadapan Yonghwa. “Aku sudah lama mengenalmu. Kau memang orang yang paling malas datang ke tempat kerja kalau tidak ada kepentingan”

Yonghwa hanya bisa terkekeh tanpa sedikitpun membantah ucapan sahabatnya itu.

“Jadi apa kepentinganmu hari ini?” tanya Jonghyun kembali.

Yonghwa mengeluarkan sebuah kotak hitam dari dalam laci meja dan membukanya. Terlihat beberapa benda kecil berwarna hitam berdiameter tak sampai 1 cm di dalamnya. Jonghyun mengangguk mengerti setelah melihat benda itu.

“Sudah siap memata-matai gadis itu rupanya?”

Yonghwa mengangguk sambil mengambil salah satu benda kecil itu dari dalam kotak. “Sudah cukup lama aku tidak memakai micro camera ini”

Jonghyun tersenyum. Namun di detik berikutnya, raut wajahnya berubah drastis seakan teringat sesuatu. “Tunggu! Kau akan memasangnya di kamar gadis itu?” Jonghyun menunjuk benda kecil yang berada di tangan Yonghwa sambil membulatkan mata tidak percaya.

Yonghwa kembali mengangguk, membuat Jonghyun makin membulatkan matanya kemudian mengarahkan telunjuknya ke wajah Yonghwa. “Ya hyung! Kau akan memasang kamera itu di kamar seorang gadis??” tanyanya histeris.

Yonghwa menanggapi dengan mengangkat bahu santai. “Aku tidak punya pilihan”

-X-

Kantin Gedung A, National Intelligence Service Office Center

Pukul 12.10 KST

“Jonghyun-ah, kau sudah bertemu dokter itu kan? Bagaimana menurutmu?” tanya Yonghwa sambil mengaduk bibimbap telurnya sebagai menu makan siang hari ini.

“Cantik” jawab Jonghyun sekenanya.

Yonghwa mengentikan kegiatannya mengaduk bibimbap kemudian mendelik kesal ke arah Jonghyun. “Aku tidak minta pendapatmu soal penampilannya”.

Jonghyun menghentikan kegiatannya membaca koran kemudian membalas tatapan Yonghwa dengan muka polosnya. “Lalu apa? Kau tadi jelas-jelas bertanya tentang pendapatku”.

Yonghwa mengangkat sendoknya dan hampir saja memukul kepala Jonghyun dengan alat makannya itu. “Kau masih mempertahankan gelarmu sebagai cassanova abad 21 ternyata?”

Jonghyun tersenyum geli. “Itu pekerjaan sampinganku, hyung” candanya yang justru mendapatkan tatapan tidak suka dari Yonghwa.

“Oke, oke. Kembali ke topik awal” Jonghyun mengangkat kedua tangannya sebagai tanda damai agar lelaki di hadapannya itu tidak benar-benar melemparkan sendok kotor itu ke wajah tampannya yang berharga. “Ku rasa ia tidak terlibat dalam kasus ini. Ia murni hanya sebagai dokter pribadi Seo Joohyun. Seperti data yang telah ku kirimkan padamu pagi ini. Keluarga, pendidikan, teman-teman, pekerjaan, semuanya jelas dan tidak mencurigakan”

Yonghwa mengangguk mendengar penjelasan Jonghyun. “Kalau begitu kita bisa memanfaatkan gadis itu nanti”

Jonghyun mengangkat alisnya tidak mengerti. “Maksudnya?”

“Seperti yang pernah di jelaskan Tiffany-sii tempo hari. NIS mencurigai bahwa gadis itu memiliki ingatan yang hilang tentang formula itu”. Yonghwa meletakkan sendoknya ke dalam mangkuk kemudian mencondongkan tubuhnya agar suaranya lebih terdengar oleh Jonghyun. “Gadis itu memiliki riwayat sakit kepala. Kemungkinan sakit kepala tahunan, mengingat ia sudah menjalani pengobatan yang cukup lama dengan dokter Im. Menurut analisaku, kemungkinan besar sakit kepala itu berhubungan dengan ingatan masa lalunya yang hilang. Dan kita bisa mendapatkan semua informasi itu hanya dari dokter Im, dokter pribadinya”.

Jonghyun mengangguk mengerti.

“Tapi untuk langkah awal, kita cari tahu informasi itu dari riwayat medisnya” jelas Yonghwa.

“Bagaimana caranya?”

Yonghwa menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi kemudian tersenyum penuh arti. “Tugasmu. Dapatkan data riwayat medis Seo Joohyun di Rumah Sakit bagaimanapun caranya”

Jonghyun mendengus kesal mendengar kalimat terakhir Yonghwa. Ia harus kembali beraksi, padahal baru kemarin ia menyelesaikan tugas pertamanya. Tidak bisakah lelaki ini melihatnya tenang sebentar saja?

-X-

Esok hari

Seoul Stasiun KTX

Pukul 07.10 KST

Seohyun berlari menuruni anak tangga sambil sesekali melirik jam tangannya dengan cemas. Keringat telah mengalir dari pelipis dan jatuh di sudut rahangnya. Napasnya terengah dan kakinya terasa lemah tak bertenaga. Bibirnya tak henti menggerutu kesal atas kecerobohannya bangun siang dari waktu yang telah ia rencanakan.

Seohyun menghentikan langkahnya setelah tiba di tempat tujuan. Mata hitamnya bergerak liar mencari sosok yang ia kenal di antara puluhan orang yang berlalu lalang di hadapannya. Ia menggigit bibir bawahnya panik. Kemudian diambilnya ponsel layar sentuhnya dari dalam tas dan segera mencari nomor seseorang yang seharusnya sudah ada di tempat ini sejak 10 menit yang lalu.

Sambil menunggu panggilannya terjawab, Seohyun terus mengedarkan pandangannya ke setiap sudut stasiun untuk mencari sosok itu. Kemudian secara tiba-tiba, sesuatu menyentuh pundaknya dari belakang. Seohyun menoleh kaget dan seketika itu ia mendapati sosok yang sejak tadi dicarinya sedang tersenyum.

“Oppa” ucap Seohyun lega.

“Ku kira kau tidak datang. Aku menghubungimu sejak tadi”

“Aku juga menghubungimu” Seohyun menunjuk ponsel yang masih tertempel di telinganya, kemudian ia menurunkan ponsel itu dan memutuskan panggilan yang masih belum terjawab. “Maaf, tadi aku bangun kesiangan, Kyuhyun oppa”

Kyuhyun tertawa. “Tidak masalah. Tapi…” Kyuhyun melirik jam tangannya kemudian menunjuk kereta di belakang Seohyun dengan dagunya. “Kereta kita akan berangkat dua menit lagi. Kajja”

-X-

Apartement Seohyun dan Yonghwa, Apgujeong-dong

Pukul 07.15 KST

Yonghwa menekan bel apartement Seohyun berkali-kali namun tidak ada jawaban dari dalam. Ia menghela napas kemudian melirik sebuah kantong berisikan 1 kg ubi jalar di tangannya. Ia berencana memberikan ubi itu sebagai ucapan terimakasih dan perkenalan sebagai penghuni baru apartement ini, juga sebagai kamuflase agar ia bisa masuk ke dalam apartement gadis itu untuk meletakkan benda-benda kecil yang kemarin ia ambil dari kantornya.

Kemudian Yonghwa mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Ia mencari nomor seseorang kemudian menghubunginya.

Ya, ada apa Yonghwa-sii?” terdengar suara lembut dari seberang telepon.

“Kau tidak ada di rumah?” Yonghwa bertanya tanpa basa-basi.

Iya. Aku dalam perjalanan ke Daegu. Apa ada sesuatu?

Yonghwa menggaruk lehernya yang tidak gatal sambil berpikir cepat. “Aku hanya ingin bertanya lokasi mini market yang paling dekat” jawabnya bohong. Ia tidak mungkin berkata pada gadis itu bahwa ia ingin mengantarkan ubi untuknya dan memasang kamera pengawas di dalam apartementnya bukan?

Hanya berjarak dua blok dari apartement. Ke arah utara

“Arasho. Terimakasih”

Yonghwa segera mengakhiri sambungan teleponnya kemudian tersenyum licik sambil memperhatikan kunci pintu elektronik apartement Seohyun. Pekerjaannya akan jauh lebih mudah jika gadis itu tidak ada di dalam apartementnya sekarang.

-X-

Yonghwa menoleh ke kiri dan kanan dengan sedikit cemas. Setelah ia yakin dengan kondisi di sekitar yang aman dan tidak ada satupun orang yang terlihat berjalan ke arahnya, Yonghwa segera melancarkan aksinya. Ia membuka kunci elektronik apartement Seohyun kemudian mencolokkan dua kabel berwarna merah dan hitam pada masing-masing sisi kunci elektronik. Kabel-kabel itu tersambung pada suatu alat serupa monitor di tangannya. Tidak butuh waktu lama, alat itu segera bekerja. Awalnya terlihat angka yang bergerak-gerak cepat dan tidak beraturan di dalam monitor itu. Kemudian alat itu mulai menunjukkan deratan angka secara tepat satu per satu. Dimulai dengan angka 2 kemudian 3, dilanjutkan dengan angka 0, 6, 9, dan 7.

Klik

Terdengar suara kecil yang menandakan pintu apartement itu telah berhasil dibuka. Yonghwa tersenyum senang, kemudian dengan cepat melepaskan alat itu dari kunci apartement Seohyun dan memasukkannya ke dalam saku celana.

Yonghwa berjalan santai memasuki apartement Seohyun sambil memperhatikan setiap sudut apartement. Ia cukup tercengang dengan desain apartement gadis itu. Desain interiornya cukup unik dan anti-mainstream, sama seperti gadis itu.

Ruangan itu terkesan funky, mengingatkan Yonghwa dengan film Austin Power pada tahun 90-an. Begitu memasuki ruang tengah, pandangan Yonghwa langsung terfokus pada lukisan cat berwarna coklat, orange, dan kuning yang membentuk pola garis horizontal panjang pada dinding putih yang cukup kontras. Sofa berwarna krem dan hitam dengan sarung bantal berpola garis stip merah, kuning, orange, dan abu-abu, karpet bulu berwarna coklat serta langit-langit berwarna orange dengan pola tak beraturan. Benar-benar ide yang unik dan brilliant. Yonghwa harus mengacungkan jempol untuk kemampuan desain gadis itu.

Pandangan Yonghwa kemudian terhenti pada satu-satunya foto yang terpajang di apartement ini. Yonghwa mengambil foto itu dari atas meja dan memperhatikannya. Foto Seohyun dengan seorang gadis yang tidak ia kenal. Gadis itu cukup cantik dengan kulit coklat keemasan, rambut hitam panjang, dan bibir yang seksi. Yonghwa kemudian mengambil ponselnya dan memotret foto ke dua gadis itu, mungkin foto itu dapat berguna suatu saat nanti.

Setelah menyelesaikan tugasnya memasang micro camera di hampir setiap ruangan -kecuali kamar mandi-, Yonghwa kemudian keluar dari apartement Seohyun setelah yakin tidak akan ada sesuatu barang atau hal tertinggal yang nantinya akan menimbulkan kecurigaan gadis itu.

-X-

Waterside Resting Place, Daegu Art Museum

Pukul 13.00 KST

“Tadi itu sangat keren oppa”

“Kenapa kau jadi bersemangat seperti ini?”

Kyuhyun ikut duduk di samping Seohyun sambil mengulurkan sekaleng kopi dingin kepada gadis itu. Seohyun menerimanya dengan senang hati dan langsung membuka kaleng kopi itu.

“Aku baru pertama kali ke sini. Dan ternyata jauh lebih keren dari pada perkiraanku” Seohyun berkata setelah meminum satu teguk kopi.

Seohyun cukup terkesan dengan desain gedung art museum yang bertema modern dan futuristik ini. Dinding gedung yang di dominasi oleh kaca-kaca besar dan pilar-pilar besar berwarna putih sebagai penyangka. Bentuk gedung yang asimetris serta penempatan dan penataan tiap-tiap ruangan yang sangat apik.

Setelah lelah mengelilingi dan mengamati gedung yang cukup luas ini selama berjam-jam, akhirnya ia dan Kyuhyun sepakat untuk beristirahat di area Waterside yang merupakan salah satu fasilitas istirahat yang disediakan di gedung ini.

Seohyun kemudian menatap kolam di depannya. Kolam dengan bentuk tak beraturan dengan air mancul kecil dan balok-balok berbeda bentuk di dalamnya serta pohon-pohon yang tertata rapi di sekeliling kolam. Dilengkapi dengan taman dan area pedestrian serta elevator tower sebagai tempat istirahat untuk melihat seluruh area museum dari atas ketinggian. Seohyun benar-benar mendapatkan banyak inspirasi dari gedung museum ini.

“Terimakasih telah mengajakku ke sini, oppa”

“Aniyo. Terimakasih juga karena telah menemaniku”

Seohyun tersenyum. Kemudian ia kembali meneguk kopinya lagi.

Setelah merasa cukup beristirahat, akhirnya Seohyun dan Kyuhyun memutuskan untuk segera kembali ke Seoul untuk mengejar kereta berikutnya. Seohyun tidak ingin pulang terlalu larut karena besok pagi ia harus kembali masuk kerja.

Saat hendak bangkit dari duduk, tiba-tiba saja Seohyun merasakan sakit luar biasa di kepalanya. Ia kembali mendudukkan diri di bangku dan meringis kesakitan sambil memegang kepalanya. Kyuhyun yang melihat kondisi Seohyun segera mendekatkan diri pada gadis itu untuk mengecek keadaannya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Kyuhyun cemas

Seohyun mengibaskan salah satu tangannya untuk memberi isyarat pada Kyuhyun bahwa ia baik-baik saja. Namun rasa sakit di kepalanya malah makin menjadi sehingga tanpa sadar ia mengeluarkan erangan kesakitan.

Deuterium. Deuterium. Deuterium” racau Seohyun berkali-kali tak sadar. Ia kembali mengerang kesakitan kemudian kembali meracau menyebut suatu kata yang ia sendiri tidak mengerti.

Kyuhyun menatap Seohyun dengan alis bertaut. Bingung dengan apa yang dikatakan gadis itu dan bingung dengan tindakan apa yang harus ia lakukan. Ia kemudian mengambil tas Seohyun dari pangkuan gadis itu dan segera mencari sesuatu di dalam sana. Ia menemukan satu kotak pil berwarna biru yang ia duga merupakan obat sakit kepala Seohyun yang diberikan dokter Im. Dengan cepat, ia segera mengambil satu butir obat itu dan memasukkannya ke dalam mulut Seohyun.

Seohyun masih mengerang kesakitan. Matanya bergerak liar tidak fokus, keringat sebesar biji kacang mengalir di pelipisnya. Kyuhyun yang merasa obat itu tidak memberikan efek, kembali mencari sesuatu dari dalam tas Seohyun. Ia kemudian menemukan kalung kecil dengan bandul daun clover di sana dan segera menggenggamkannya pada telapak tangan Seohyun yang telah basah dengan keringat.

“Seohyun-ah” panggil Kyuhyun cemas.

Refleks, Seohyun segera menangkupkan kalung itu ke depan bibirnya yang masih terus meracau tak karuan. Dan beberapa detik setelahnya, Seohyun berangsur lebih tenang. Tidak ada lagi racauan, erangan, dan rasa sakit yang menggerogoti kepalanya. Kyuhyun bernapas lega setelah melihat perubahan kondisi Seohyun.

“Seohyun-ah. Bagaimana keadaanmu? Sudah membaik?”

Seohyun mengangguk pelan dengan pandangan mata kosong menatap lurus ke depan. Ini aneh, baru kali ini ia mendapatkan serangan sakit kepala yang luar biasa di luar jam tidurnya. Biasanya ia hanya akan merasa kesakitan setelah bangun dari mimpi-mimpi aneh tentang suara-suara yang tidak ia mengerti. Namun kali ini, bukan suara-suara aneh itu yang ia dengar, melainkan sebuah penglihatan kabur tentang sebuah tulisan di selembar kertas. Deuterium. Hanya itu satu-satunya kata yang terlihat jelas dalam ingatannya. Dan Seohyun sama sekali tidak mengerti maksud dari kata itu.

-X-

Beberapa hari kemudian

Seoul International Hospital

Pukul 09.00 KST

Seorang lelaki mengenakan jubah putih dengan sebuah kaca mata bulat besar dan rambut yang acak-acakan berjalan pelan di koridor Rumah Sakit. Sesekali ia membungkuk kaku ketika perawat ataupun pasien yang lewat menyapanya dengan sebutan ‘uisanim’. Ia kemudian berhenti di ruang catatan medis pasien di ujung lorong.

“Se-Selamat siang” sapanya kaku kepada beberapa orang petugas di dalam ruangan itu. Ia kemudian mengulurkan tanda pengenalnya kepada seorang petugas. “Aku ingin mencari status pasien untuk bahan ujianku. Apa boleh?” tanyanya dengan wajah tertunduk.

Petugas itu memperhatikan lelaki berjubah putih itu dari atas ke bawah kemudian tersenyum genit. “Aigoo, kau mahasiswa resident di sini? Manis sekali”.

Petugas itu kemudian melihat kartu tanda pengenal lelaki itu. “Collin Black”. Ia membaca nama yang tertera di dalam kartu dengan lantang. “Baiklah, Black uisanim. Kau bisa mencari status pasien yang kau perlukan di ruangan itu” ucapnya sembari menunjuk sebuah ruangan yang dipenuhi oleh lemari-lemari catatan medis pasien.

Lelaki itu kemudian membungkuk sopan dan berjalan ke dalam ruangan setelah sebelumnya mengambil tanda pengenalnya. Setelah tiba di ruangan yang di maksud, lelaki itu melepaskan kaca mata bulatnya kemudian tersenyum licik. Ia tidak mengira dapat semudah itu mengelabui petugas Rumah Sakit.

“Nah, baiklah Lee Jonghyun, segera selesaikan tugasmu kemudian kau dapat segera kembali bersantai di kantor” ucapnya senang.

Setelah beberapa menit kesulitan mencari sebuah catatan medis diantara ratusan catatan medis lain, akhirnya Jonghyun berhasil menemukan catatan medis gadis itu.

Ia segera mengeluarkan ponselnya dan dengan cekatan mengambil foto dari tiap lembar catatan medis Seohyun. Tidak ada satu halamanpun yang terlewatkan olehnya. Tepat setelah ia mengambil foto dari halaman terakhir catatan medis Seohyun, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Dengan cepat, ia segera memasukkan ponsel ke dalam sakunya dan meletakkan kembali catatan medis itu di tempat semula.

Belum sempat ia memakai kembali kaca mata bulatnya, seseorang yang paling tidak ingin ia jumpai di sini, hadir tepat di hadapannya. Jonghyun membelalakkan matanya tidak percaya sambil menelan ludah dengan sulit.

-X-

 Halo… akhirnya aku berhasil menyelesaikan Formula X [Memory 3] ini tepat waktu. Kritik dan saran masih sangat penulis harapkan. Selamat membaca…😀

17 thoughts on “Formula X [Memory 3]

  1. ketemu yoona lg deh..ceritanya menarik sampe2 pembaca melanjutkan jalan ceritanya masing2..
    ditunggu thor part selanjutnya..:-D

  2. aaaa ternyaa lebih cepet dari yang aku kira
    tapi baguslah biar penasarannya gak kependem lama
    hheheeheee

    aaaa akhirnya di mulai juga cerita percintaan(?) jonghyun yoona😀
    kkkekeekeeekekekkk
    yong masang kamera di kamar seohyun?? wah wah waaaa enak di yong itu mah /ehhahahha xD
    curiga kalu kyu itu mata mata korut dehhhh /iya kannnnnn :0/
    next chapter thorrrr
    dan mudahmudahan gak lama publish nyaaaa
    hhehehehe😀

  3. yeaaaaa,,, akhirnya updatenya lbh cepet sesuai janji…
    seohyun yonghwa msh blum ada progresss nie..*masih lama
    yoona jonghyun *sicak..
    lanjutannya jgn lama2 ya thorr…
    hehehehehehe…*enak aja

  4. kyaaaaaa kerja jonghyun cepet banget dan lihaiiii. suka deh ama pertemuan pertama mereka kayanya mereka bakal kaya tom and jerry hihi. dan itu penyamaran jonghyun akan terbongkar jg d dpn yoona tuh? hihiii. penasaran yg ini

    kyuhyun orang baik apa ada niat jahatnya. kenapa feeling aku dia itu mata2 tp smoga bukan. dan itu hyun meracau kata2 aneh itu jangan2 kode formula yg dulu ayahnya kasiiii. woaaaaa yong harus tau hehe

    yong hebat ih kerjanya serasa liat drama city hunter. anggota nis itu emang kerjanya ngutak ngatik kode rahasia.

    makin seru nih. enak kalo dibuat jd tiap minggu keluar partnya serasa nonton drama hehehe

    keep writing chingu🙂

  5. Jangan bilang klau Jong ketahuan? siapa yang dilihat Jong sih? #penasaran

    aku sependpat denga Jong Yong bnran taro kamera pengintai itu di kmar Joohyun gx slah ni oppa gimana nnti klau Hyun…. aissshhh ada2 aja ni detektif… mau lnjut bca dlu… kkk

  6. Wahhh jonghyun pro ni haha krjany gesit bgt🙂
    Kira2 siapa yg diliat jonghyun? Yoona?
    Pengen cepet2 lnjut baca part brikutnya😀
    Curiga sama kyu, entah knpa ngera gak enak aja sama kyu😦
    Semoga stlh ini yongseo smakin deket😀

  7. Wah..
    Itu. Pasti yoona yg mngagetkan jonghyun..tp apa yoona akan knal dg jonghyun?tp di cerita ini siwon pasif bgt cm sbg pelengkap…..knpa nggak jd orang ug dijodohin m yoona?
    Wah…kyuhyun jg disini….younghwa mau ngpain yah msuk k apartemen seohyoen?

  8. Ketemu yoona lgi deeehh bakal ketahuan gag yaa jong nyaa??
    Akuu kok curiga kyu ya yg jd mata2,,salah atw bener saeng?? Lanjut aja deeehh…
    Sworry 2 chapter sblmnya aku nyerah coment soalnya susah gagal mulu jaringannya…isshh tp insha allah klo ini bisa pasti koment chapter sblmnya di utarakan,,hihihiiii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s