Formula X [Memory 2]

formulax copy

Judul: Formula X [Memory 2]

Main Cast:

Jung Yonghwa CNBlue sebagai Jung Yonghwa

Seo Joohyun SNSD sebagai Seo Joohyun

Other Cast:

Lee Jonghyun CNBlue sebagai Lee Jonghyun

Im Yoona SNSD sebagai Im Yoona

Cho Kyuhyun Super Junior sebagai Cho Kyuhyun

Kwon Yuri SNSD sebagai Kwon Yuri

Rating: PG-17

Lenght: Chaptered

Genre: Romance, Action, AU

Teaser – Prolog – Memory 1

Apartement Seohyun, Apgujeong-dong

Pukul 04.00 KST

“Kau yakin sudah mengingat semuanya?”

“Cepat kemasi barang-barangmu. Kita akan pergi sekarang”

Ada mobil yang mengikuti kita di belakang”

Booooooommm!!!!

Hosh… Hosh… Hosh…

Seohyun terjaga dari tidurnya. Napasnya tersengal, peluh membanjiri seluruh kulitnya, tubuhnya bergetar hebat tak terkendali. “Nnngggg…”. Ia mengerang sambil memegang kepalanya yang terasa hampir meledak. Sakit kepalanya kembali kambuh. Dan yang kali ini terasa berpuluh-puluh kali lebih menyiksa dari sebelumnya. Seohyun menggigit bibir bawah untuk meredam suara erangan yang keluar dari mulutnya serta mengalihkan rasa sakit di kepalanya. Hingga tak terasa rasa asin dari darah segar yang keluar dari bibirnya telah larut bersamaan dengan saliva yang begitu sulit ia telan.

Seohyun segera bangkit dari tempat tidurnya. Dengan napas terengah, ia membuka laci meja di samping tempat tidurnya dan mencari suatu benda dengan tidak sabar di sana. Tangannya gemetar dan bola mata hitamnya bergerak-gerak tidak tenang. Napasnya putus-putus seolah ia bisa berhenti bernapas kapan saja. Ia sudah hampir menangis frustasi jika saja dalam detik berikutnya ia tidak juga menemukan benda itu.

Seohyun segera menggenggam benda itu erat-erat. Ditangkupkan benda itu di depan bibirnya seolah benda itu dapat menyerap habis rasa sakitnya. Dan di detik berikutnya, napas gadis itu mulai berangsur tenang, gemetar di seluruh tubuhnya tak lagi terlihat, dan peluh yang membajiri tubuhnya perlahan mulai berhenti.

Setelah semuanya kembali tenang dengan cahaya temaram lampu kamar dan suara samar-samar jangkrik yang mulai terdengar, tubuh Seohyun yang tidak bertenaga merosot ke lantai kamar yang dingin. Kemudian ia membenamkan kepalanya di antara lutut. Mencoba kembali bernapas dengan tenang dan teratur.

Suara-suara itu kembali terdengar lagi tadi. Suara-suara yang tak ia kenal yang menghantui tidurnya. Suara seorang gadis kecil yang terdengar cemas, suara lembut seorang lelaki, dan suara ledakan yang memekakkan telinga. Seohyun tidak tahu apa arti suara-suara itu. Apakah suara itu ada hubungan dengan ingatan masa lalunya? Dan siapa pemilik suara-suara tersebut? Entahlah, ia tidak tahu. Semuanya kosong. Seohyun tidak ingat apapun. Namun seolah ia dipaksa untuk mengingatnya. Dan semua itu sungguh sangat menyakitkan.

Setelah merasa lebih baik, Seohyun bangkit dari posisinya. Ia berjalan gontai ke arah dapur masih dengan menggenggam erat sebuah benda kecil di tangannya. Ia tidak akan melanjutkan tidurnya. Ia hanya akan menunggu matahari terbit dengan ditemani satu atau dua cangkir kopi.

-X-

J n J Design Architecture Office, Gangnam-gu, Seoul

Pukul 09.00 KST

“Hyunnie, kau kenapa?”

Seohyun mendongakkan kepalanya dari depan layar komputer untuk melihat seseorang yang tiba-tiba berbicara tepat di sampingnya. Walau tanpa melihat pun sebenarnya ia sudah bisa menebak siapa pemilik suara itu.

“Kenapa eonni?” tanya Seohyun bingung.

Yuri terlihat telah duduk di samping Seohyun sambil memperhatikan wajah gadis itu. “Wajahmu pucat. Kau tidak enak badan?” tanyanya khawatir.

Seohyun menggeleng cepat. “Tidak. Hanya sedikit lelah”

Yuri memicingkan matanya menatap Seohyun kemudian tersenyum sambil mengacak pelan puncak kepala gadis itu. “Aigoo anak ini! Jangan terlalu memaksakan diri dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya itu. Sedikit istirahat dan makan siang sepertinya akan memulihkan tubuhmu”

Seohyun terkekeh kecil mendengar komentar yang dikeluarkan Yuri. “Sebentar lagi aku istirahat eonni. Kau mau makan siang bersama?”

“Di tempat itu lagi?”

Seohyun menjawab pertanyaan Yuri dengan anggukan ringan sambil kembali fokus pada monitor di depannya.

Yuri mengerucutkan bibirnya sebal. “Lupakan saja kalau begitu”.

Tanpa menunggu respon Seohyun, Yuri segera berbalik ke meja kerjanya diikuti gumaman protes yang masih bisa Seohyun dengar dengan jelas. Seohyun hanya bisa mengulum senyum mendengar semua gumaman yang dikeluarkan sunbaenya itu.

-X-

Bloom & Goute Cafe, Gangnam-gu, Seoul

Pukul 12.45 KST

Sinar matahari yang cukup menyengat siang ini menembus masuk melalui jendela besar di salah satu sisi cafe. Seohyun yang sejak 30 menit lalu duduk di meja favoritnya terlihat memperhatikan sesuatu sambil bertopang dagu pada salah satu tangannya. Ia menatap benda kecil berkilau itu lekat-lekat kemudian memutarnya ke berbagai sudut seolah sedang mencari sesuatu yang mungkin tertempel pada benda itu. Kemudian ia mendesah pelan. Merasa usahanya mengamati benda itu sejak tadi sia-sia.

“Kalung itu lagi?”

Seohyun mengalihkan tatapannya dari benda itu begitu terdengar suara yang familiar baginya. Kemudian ia sudah melihat Kyuhyun duduk di seberang meja sambil tersenyum jenaka kepadanya.

“Oh” Seohyun membenarkan pertanyaan Kyuhyun sambil mengangguk singkat.

“Four Clover Leaf bukan?” Kyuhyun kemudian ikut mengamati kalung di tangan Seohyun. “Daun pertama untuk kepercayaan, daun kedua untuk harapan, daun ketiga untuk cinta, dan daun keempat untuk keberuntungan. Kau percaya itu?”

Seohyun mengangkat bahu. “Mungkin” gumamnya pelan.

Seohyun kembali menatap kalung kecil itu. Kalung berbentuk empat daun clover dengan ukiran “Seo Joohyun” berwarna perak yang indah di baliknya. Dan sejujurnya, Seohyun sama sekali tidak ingat dari mana ia mendapatkan kalung itu, siapa yang memberikan kepadanya dan sejak kapan ia memilikinya. Hanya kalung itu yang ia miliki ketika ia terbangun di Rumah Sakit 16 tahun yang lalu. Dan dari kalung itulah, ia mengetahui namanya yang bahkan tidak dapat ia ingat saat itu.

Hanya kalung itu satu-satunya benda yang dapat menghubungkannya dengan masa lalu. Jadi ketika potongan mimpi buruk yang mungkin berasal dari masa lalunya mulai memaksa masuk dan menghantam kepalanya seperti ribuan paku tajam -seperti tadi malam-, maka ia hanya akan menggenggam kalung itu erat-erat atau menatap kalung itu lekat-lekat. Berharap dengan begitu, ingatannya bisa segera kembali atau setidaknya rasa sakit di kepalanya dapat segera menghilang.

Dan itu selalu berhasil. Entahlah jika kalung ini memang kalung keberuntungan dengan bentuk empat daun clovernya. Namun yang pasti Seohyun bersyukur ia memiliki kalung ini karena hanya ini satu-satunya benda berharga yang ia miliki.

“Bagaimana dengan sakit kepalamu?” pertanyaan Kyuhyun membuyarkan lamunan Seohyun dari kalung dalam genggamannya itu.

“Sedikit berangsur” jawab Seohyun ragu. Ia sadar jika ia berbohong, namun ia hanya tidak ingin membuat Kyuhyun khawatir akan kondisinya.

Kyuhyun mengangguk pelan, “Baguslah” ucapnya tanpa sedikitpun rasa curiga. “Ku pikir sakit kepalamu kembali kambuh karena kau terlihat pucat hari ini”

“Sepucat itukah?” Seohyun menepuk pelan kedua pipinya sambil mengerjap-ngerjapkan mata bulatnya. “Aku hanya kurang istirahat”

Kyuhyun tersenyum. “Syukurlah kalau begitu. Jangan terlalu memaksakan dirimu, itu tidak baik”

Seohyun mengangguk patuh sambil tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya. “Baik, Tuan Cho”

Kyuhyun terkekeh mendengar jawaban Seohyun yang terkesan seperti seorang murid yang patuh mendengar nasehat gurunya.

“Seohyunie, apa kau punya waktu kosong minggu depan?” tanya Kyuhyun ragu-ragu.

“Kenapa oppa?” Seohyun menghentikan gerakan untuk menenguk segelas air mineral di tangannya dan lebih berminat menatap Kyuhyun di seberang meja.

“Minggu depan akan ada acara pameran lukisan di Daegu Art Centre. Bagaimana kalau kita ke sana? Desain gedung Daegu Art Centre cukup bagus untuk kau gunakan sebagai referensi pada projectmu, sedangkan pameran lukisannya bisa ku gunakan sebagai referensi untuk karya lukisku selanjutnya”

Seohyun terlihat berpikir. Ia memang sedang sibuk mengerjakan project gedung Art Centre yang baru memasuki tahap seleksi kedua. Masih ada beberapa seleksi lagi yang harus ia lalui untuk sampai pada tahap akhir dan ia dituntut untuk terus memperbaiki desain buatannya. Sedangkan Kyuhyun memang merupakan pelukis pemula yang masih sangat membutuhkan banyak referensi untuk karya-karya selanjutnya. Hampir seluruh lukisan yang terpajang di cafe ini merupakan hasil karyanya. Dan Seohyun sangat menghargai karya-karyanya yang cukup briliant itu, untuk seorang pelukis pemula seperti Kyuhyun.

“Oke” Seohyunpun akhirnya mengangguk menyetujui ajakan Kyuhyun.

“Asa!!” Kyuhyun bertepuk tangan senang dengan jawaban Seohyun.

Seohyun terkekeh melihat reaksi Kyuhyun. Entah sejak kapan ia merasa begitu akrab dengan lelaki itu. Seohyun memang bukanlah orang yang mudah bergaul dengan orang lain, karena ia bukanlah orang yang mudah berbasa-basi ataupun bersikap ramah. Namun mungkin itu berbeda untuk kasus Kyuhyun. Lelaki itu cukup baik dan menyenangkan untuk ukuran orang yang baru dikenalnya beberapa bulan. Dan mungkin karena kegemaran mereka yang hampir sama yang membuat Seohyun merasa nyaman bersama Kyuhyun. Mereka sama-sama menyukai seni. Dan sepertinya itu alasan yang cukup untuk membuat mereka nyaman satu sama lain.

Selang beberapa menit kemudian, Seohyun terlonjak dan melihat jam tangannya dengan cemas. “Oppa, jam istirahat siangku hampir habis. Aku pergi dulu. Besok kita bicarakan lagi mengenai waktu dan tempat bertemunya”. Seohyun segera meraih dompet dan ponselnya di atas meja dan dengan cepat menghambur keluar cafe.

-X-

Keesokkan harinya

Apartement Seohyun, Apgujeong-dong

Pukul 07.30 KST

Seohyun baru saja menginjakkan kakinya di luar pintu apartement untuk bersiap berangkat kerja ketika suara-suara berisik dari apartement sebelah membuatnya sedikit penasaran dengan apa yang sedang dikerjakan tetangganya pagi ini. Saat hampir mendekati pintu kamar 607 di sebelah, Seohyun dikejutkan dengan keluarnya dua orang pria bertubuh gempal dari kamar itu. Dan diikuti oleh suara teriakan lelaki dari dalam kamar.

“Terimakasih ajushi! Sisanya biar aku yang angkat” ucap suara dari dalam.

Sedetik kemudian, Seohyun berpapasan dengan pemilik suara itu di depan pintu.

“Oh? Kau??” Seohyun berucap dengan nada terkejut yang tidak bisa ia tutupi.

“Oh?? Kau??” ucap lelaki yang baru saja keluar dari dalam kamar 607 itu yang juga tak kalah terkejutnya dengan Seohyun.

“Kenapa kau bisa ada di sini? Apa yang kau lakukan?” Seohyun bertanya tanpa basi-basi untuk menjawab keterkejutannya.

“Aku baru saja pindah. Apa kau juga tinggal di sini?”

Seohyun mengangguk kaku sambil terus menatap lelaki itu tanpa berkedip.

“Wah, kebetulan yang mengejutkan. Dimana kau tinggal?”

Seohyun menunjuk kamarnya yang berada persis di samping kamar lelaki itu tanpa melepaskan tatapan ‘heran sekaligus terkejut’-nya dari lelaki itu.

“Jadi kita bertetangga? Sungguh kebetulan yang mengejutkan” lelaki itu berucap sembari terkekeh kecil.

“Kalau begitu” lelaki itu mengulurkan tangan kirinya ke hadapan Seohyun. “Mohon bantuan untuk ke depannya. Aku Jung Yonghwa, jika kau masih ingat”

Seohyun masih menatap wajah lelaki itu tanpa berkedip, kemudian tatapannya beralih pada tangan kanan lelaki itu yang terbalut arm sling berwarna hitam. “Ne, mohon bantuannya. Aku Seo Joohyun” akhirnya Seohyun menyambut uluran tangan lelaki itu dengan masih setengah percaya dengan kebetulan mengejutkan ini.

-X-

“Bukankah kau akan berangkat kerja? Apa tidak merepotkan?”

“Tidak apa. Tidak masalah”

Seohyun mengambil salah satu dari sekian banyak kardus yang tertumpuk dan mengangkatnya ke dalam pelukannya. Sedangkan lelaki itu, Jung Yonghwa mengambil gitar case dan menyampirkan ke bahu kirinya, sedangkan tangan kirinya yang bebas mengambil sebuah tas ransel yang terlihat cukup berat kemudian menjinjingnya.

“Bisa?” Seohyun menatap ragu ke arah Yonghwa.

“Bukan masalah besar”

Mereka berdua kemudian berjalan beriringan menaiki lift di ujung lorong. Seohyun yang rencananya hendak berangkat kerja lebih pagi untuk melanjutkan beberapa pekerjaannya di kantor, akhirnya memutuskan untuk membantu tetangga barunya itu untuk mengangkat barang-barangnya yang masih tergeletak tak karuan di lantai bawah apartement. Ia tidak setega itu membiarkan lelaki dengan tangan kanan yang terluka karena menolongnya beberapa hari lalu membawa barang-barang sebanyak itu seorang diri.

Ketika keduanya memasuki lift, Seohyun segera menekan angka 6, lantai di mana apartement mereka berada.

“Bagaimana keadaan tanganmu?” Seohyun melirik tangan kanan Yonghwa.

Yonghwa mengikuti arah pandang Seohyun pada tangan kanannya kemudian tersenyum ringan. “Sudah membaik. Hari ini aku berencana ke Rumah Sakit untuk kontrol ulang dan mengganti perban”

Seohyun mengangguk samar mendengar penjelasan Yonghwa. “Jam berapa kau akan ke Rumah Sakit?”

“Mungkin nanti siang. Setelah aku menyelesaikan barang-barang ini”. Yonghwa menunjuk kardus yang berada di pelukan Seohyun dengan dagunya.

Seohyun terlihat berpikir sejenak kemudian berkata, “Kalau begitu tunggu aku. Aku akan mengantarmu saat jam makan siang nanti”

“Eyy, tidak perlu Joohyun-sii. Aku bisa melakukannya sendiri. Lagi pula jarak Rumah Sakit tidak terlalu jauh” tolak Yonghwa sopan.

“Kebetulan mobilku sudah keluar dari bengkel kemarin siang. Dengan kondisi seperti itu, akan lebih mudah jika kau bersamaku ketimbang menggunakan kendaraan umum”

Belum sempat Yonghwa membalas perkataan Seohyun, tepat saat itu pintu lift terbuka dan Seohyun telah lebih dulu berjalan keluar. “Maaf, tapi aku tidak menerima penolakan” ucap Seohyun sambil terus berjalan meninggalkan Yonghwa di belakangnya.

Yonghwa hanya bisa terkekeh pelan sambil memperhatikan punggung gadis itu menjauh. “Gadis yang menarik” batinnya.

-X-

Apartement Seohyun, Apgujeong-dong

Pukul 12.05 KST

Seohyun menghentikan VW Beetle warna kuning kesayangannya di pelataran parkir apartement, lalu ia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan menghubungi salah satu nomor di dalam kontak yang baru saja ia dapatkan tadi pagi.

Seohyun segera berbicara begitu panggilan itu tersambung. “Aku sudah di bawah. Cepatlah”

Beberapa menit kemudian, seorang lelaki mengenakan kaos abu-abu dan celana jeans belel berjalan ke arah mobilnya terparkir. Seohyun segera menurunkan kaca jendela mobilnya.

Lelaki itu kemudian berhenti di samping mobil dan menundukkan kepalanya untuk menyapa Seohyun. “Maaf menunggu lama. Kau tahu, memasang baju dan celana dengan menggunakan satu tangan terasa berpuluh-puluh kali lebih sulit”

Seohyun mengangguk mengerti sambil tersenyum kecil. “Masuklah” tawarnya.

Yonghwa segera duduk di kursi penumpang. Lelaki itu kemudian mengamati seluruh isi mobil Seohyun. “Kau tahu, mobilmu terlihat sangat… ehmmm… menarik”. Yonghwa terlihat mencari kata yang cocok untuk mendeskripsikan mobil berwarna kuning mencolok milik gadis itu.

“Terimakasih. Aku memang sedikit anti-mainstream” jawab Seohyun acuh sambil mengangkat bahunya.

-X-

Seoul Internastional Hospital

Pukul 12.40 KST

“Lukamu sudah terlihat makin membaik, Tuan Jung. Namun  aku menyarankan agar kau tetap mengenakan arm sling itu untuk dua hari ke depan sampai hari kontrol ulang selanjutnya. Setelah melihat kondisimu hari itu, maka kita putuskan apakah arm sling itu akan terus terbalut di tanganmu atau  kau bisa membuangnya ke dalam tumpukan sampah di rumahmu” jelas Park uisanim sambil mengerling ke arah Yonghwa.

Yonghwa terkekeh mendengar penjelasan Park uisanim kemudian mengangguk mengerti kepada pria tua itu. “Jadi apa yang harus ku lakukan agar benda sialan ini benar-benar bisa ku buang ke dalam tumpukan sampah di rumahku, uisanim?”

Simple. Jangan bergerak atau merenggangkan tanganmu berlebihan. Hal itu bisa mengakibatkan luka di tanganmu melebar. Lukanya belum kering dan jaringan parut belum sepenuhnya terbentuk”

Yonghwa kembali mengangguk patuh. “Baiklah, terimakasih untuk hari ini Park uisanim”. Yonghwa bangkit dari kursinya dan membungkuk hormat sebelum keluar dari ruang praktek pria setengah baya itu.

“Bagaimana?” Seohyun segera menghampiri Yonghwa ketika melihat lelaki itu keluar dari ruangan praktek dokter Park.

“Baik” jawab Yonghwa ringan yang disusul decakan tidak suka dari gadis di sampingnya.

“Kalau kondisimu baik, kenapa benda itu masih kau gunakan?” Seohyun menunjuk arm sling di tangan Yonghwa dengan dagunya.

“Park uisanim yang menyarankan. Hanya untuk dua hari ke depan. Bukan masalah besar”

Seohyun mengerucutkan bibirnya sambil memperhatikan benda hitam yang masih terbalut pada tangan kanan Yonghwa. Ia masih benar-benar merasa bertanggung jawab atas semua yang terjadi kepada lelaki itu. Jika Yonghwa tidak menolongnya pada malam itu, mungkin keadaannya tidak akan seperti ini sekarang.

“Hyunnie?”

Seohyun mengalihkan tatapannya pada tangan kanan Yonghwa ketika suara yang familiar terdengar memanggil namanya.

“Eonni?”

Im Yoona, dokter syaraf langganan Seohyun terlihat berjalan menghampirinya sambil tersenyum lebar. “Apa kau akan konsul hari ini? Kenapa tidak menghubungiku?” tanyanya begitu sampai di hadapan Seohyun.

Seohyun menggeleng cepat. “Ani. Aku hanya mengantar seseorang” jelas Seohyun sambil melirik ke arah Yonghwa yang berdiri tepat di sampingnya.

Yoona mengikuti arah pandang Seohyun dan beradu pandang dengan Yonghwa.

“Annyeonghaseyo, Im Yoona imnida” sapa Yoona ramah sambil mengulurkan tangannya.

Yonghwa membungkuk hormat kemudian dengan ragu menggulurkan tangan kirinya ke hadapan Yoona. “Maaf jika tidak sopan. Tapi tangan kananku tidak memungkinkan untuk menyambut uluran tanganmu itu”

Yoona dengan cepat menyadarinya dan buru-buru mengganti tangan kanan dengan tangan kirinya untuk menyambut uluran tangan Yonghwa.

“Jung Yonghwa imnida” sapa Yonghwa.

Yoona mengangguk dan tersenyum ramah. “Apa yang terjadi dengan tanganmu?” tanyanya sambil memperhatikan tangan kanan Yonghwa.

“Hanya kecelakaan kecil”

Yoona menatap tangan Yonghwa miris. “Semoga lekas sembuh kalau begitu”

“Terimakasih, uisanim”

Yoona kemudian beralih menatap Seohyun yang masih berdiri di tempatnya. “Jadi bagaimana kondisimu? Apa sakit kepala itu berkurang setelah kau mengkonsumsi obat yang ku berikan tempo hari? Kau tidak memberiku kabar. Membuatku cemas setengah mati. Dan kapan kau akan kembali konsul?” tanya Yoona beruntun.

“Eonni” sela Seohyun. “Kita bicarakan itu nanti. Aku sibuk. Aku akan menelponmu nanti. Oke? Annyeong”. Seohyun kemudian menarik Yonghwa untuk segera pergi menjauh.

Im Yoona memang sangat memperhatikan Seohyun seperti layaknya seorang kakak kepada adiknya. Namun terkadang ia tidak bisa menempatkan diri dengan baik. Jelas-jelas ada orang asing di antara mereka berdua, dan dengan entengnya Yoona menanyakan masalah penyakit Seohyun di depan orang asing itu. Terkadang Seohyun meragukan pemahaman Yoona mengenai kode etik kedokteran, di luar dari kemampuannya yang luar biasa saat menangani pasien.

“Apa kau sering konsultasi dengan Im uisanim?” tanya Yonghwa begitu mereka berjalan keluar Rumah Sakit.

“Aniyo. Tidak sesering yang kau duga” bantah Seohyun cepat. “Hanya vertigo ringan” tambahnya untuk meyakinkan lelaki itu.

Yonghwa mengangguk mengerti dan tidak kembali membahas masalah itu karena dirasanya Seohyun terlihat tidak nyaman.

“Joohyun-sii, kau sudah makan siang?”. Yonghwa mencoba membuka percakapan baru.

Seohyun menggeleng sekenanya menjawab pertanyaan Yonghwa karena tengah sibuk mencari kunci mobil di dalam tasnya.

“Bagaimana kalau kita makan siang? Aku yang traktir”

Seohyun menghentikan kegiatan mengacak tasnya kemudian menatap Yonghwa yang tengah tersenyum kepadanya. “Oke” jawabnya tanpa ragu.

-X-

The Place Cafe & Steak House, Jongno-gu, Seoul

Pukul 12.50 KST

Yonghwa menatap miris steak daging yang tersaji di hadapannya. Kemudian tatapannya teralih pada satu set pisau dan garpu yang tergeletak manis di sisi kanan dan kirinya. Ia lalu menghela napas berat dan menggerutu pelan merutuki kebodohan dirinya. Rasa laparnya yang sudah sampai ke ubun-bun serta godaan tulisan tenderloin steak pada buku menu beberapa menit yang lalu membuatnya lupa akan kondisi tangan kanannya. Ia tidak mungkin makan steak hanya dengan menggunakan sebuah garpu pada tangan kirinya bukan? Sekarang mengingat hal itu, nafsu makannya tiba-tiba menguap tak tersisa.

Seohyun mengamati perubahan ekspresi Yonghwa dari seberang meja. Kemudian ia tersenyum geli sambil memotong steaknya dalam diam.

“Ini. Makanlah”

Yonghwa mengangkat wajahnya dan mendapati satu porsi tenderloin steak lain yang telah terpotong rapih di hadapannya. Kemudian ia menatap Seohyun, orang yang meletakkan steak itu di depannya.

Seohyun hanya menggedikkan dagunya memberi isyarat agar Yonghwa memakan steak itu. Gadis itu kemudian mengambil steak Yonghwa yang masih belum tersentuh dari tadi dan mulai memotongnya untuk ia nikmati.

“Terimakasih”. Yonghwa tersenyum lebar, dan tanpa mau menunggu lagi, ia segera melahap steak yang sejak tadi membuat cacing-cacing di perutnya protes tidak karuan.

Seohyun kembali tersenyum melihat bagaimana lahapnya Yonghwa makan. Seperti seorang pengemis yang belum makan selama berhari-hari atau seperti seorang anak lelaki kecil yang baru menikmati steak pertamanya.

“Selapar itukah?” gurau Seohyun.

Yonghwa menghentikan kesibukan pada steaknya lalu menatap Seohyun tidak mengerti dan saat itu juga Seohyun tidak bisa menahan tawanya melihat wajah innocent lelaki di hadapannya itu.

“Kenapa?” tanya Yonghwa masih tidak mengerti. “Apa ada yang salah denganku?”

Seohyun menggeleng cepat. “Tidak. Maaf. Lanjutkan saja”

Yonghwa memiringkan kepalanya tidak mengerti kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat terganggu tadi.

“Kalau boleh aku tahu, apa pekerjaanmu Yonghwa-sii?” Seohyun mencoba membuka percakapan ringan.

Yonghwa meraih segelas air mineral dan menghabiskan setengah dari isinya sebelum membuka suara. “Hmmm… mungkin bisa dibilang seorang musisi”

“Musisi?” ulang Seohyun tertarik.

Yonghwa mengangguk. “Yeah, namun tidak sehebat yang kau bayangkan. Terkadang aku bernyanyi di sebuah cafe, terkadang di jalan, terkadang di sebuah acara pernikahan atau ulang tahun. Ya semacam itulah”

Seohyun membulatkan matanya. “Kau bernyanyi?” ulangnya sangsi.

Yonghwa mengangguk sambil terus memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya. “Dan bermain gitar. Sebenarnya aku bermain musik bersama seorang teman. Lain kali akan ku kenalkan kau dengannya”

“Sepertinya pekerjaanmu cukup menyenangkan”

“Aku cukup menikmatinya” Yonghwa membenarkan. “Kau sendiri, apa pekerjaanmu?”

“Arsitek” jawab Seohyun singkat. “Ku rasa kau dapat langsung mengerti seperti apa pekerjaanku”

Yonghwa terkekeh. “Terdengar keren”

“Yeah. Dan cukup menyenangkan” setuju Seohyun. “Lalu kenapa kau pindah?”

Yonghwa memutar bola matanya berpikir. “Hmmm… Mencari suasana baru, mungkin” jawabnya sambil mengangkat bahu.

Seohyun mengernyit. “Mungkin?”

“Sebenarnya tidak ada alasan khusus. Aku hanya sedikit bosan dengan suasana apartementku sebelumnya”. Yonghwa kembali memasukkan satu potong daging ke dalam mulutnya. “Lagipula, aku mendapat harga sewa khusus dari Nyonya pemilik apartement” jelasnya senang.

-X-

“Terimakasih untuk makan siangnya, Jung Yonghwa-sii”

“Terimakasih juga telah repot-repot menemaniku ke Rumah Sakit, Seo Joohyun-sii”

Seohyun tertawa mendengar jawaban Yonghwa yang tak kalah formal dengan ucapannya. Baru beberapa jam Seohyun bersama Yonghwa, namun entah kenapa ia merasa begitu akrab dengan lelaki itu. Seperti bertemu seorang teman lama. Mungkin karena sikap Yonghwa yang sangat easygoing dan cukup ramah, type lelaki playboy yang bisa mendapatkan hati banyak wanita dengan mudah.

Tapi sepertinya bukan hanya itu satu-satunya alasan Seohyun merasa nyaman dengan Yonghwa. Banyak lelaki di luar sana yang jauh lebih easygoing dan lebih ramah jika dibandingkan dengan Yonghwa. Dan pada kenyataannya, tidak ada satupun yang bisa membuat seorang Seo Joohyun akrab dalam waktu kurang dari satu hari –bahkan dirinya dengan Kyuhyun butuh waktu berbulan-bulan-. Keberanian dan kebaikan hati Yonghwa yang mungkin membuat Seohyun merasa nyaman di dekatnya. Karena sejak kejadian malam itu, tanpa ia mau ataupun tanpa ia atur, Yonghwa telah menjelma menjadi sosok “Penyelamat Hidup”-nya. Mungkin karena itu Seohyun lebih mudah menerima Yonghwa untuk berada di sekitarnya.

“Aigoo, jam makan siangku telah lewat” tiba-tiba Seohyun melirik jam tangannya. “Ayo, ku antar kau pulang dulu” ucapnya panik sambil mengambil kunci mobil dari dalam tas.

“Tidak perlu. Kau kembalilah ke kantormu. Kebetulan aku ada urusan sebentar” tolak Yonghwa sambil bangkit dari kursi.

Seohyun menatap Yonghwa dengan alis terangkat.

“Sungguh. Ini bukan basa-basi” lanjut Yonghwa meyakinkan.

Selama beberapa detik Seohyun terdiam dan akhirnya ia mengangguk setuju. “Oke. Aku pergi duluan kalau begitu. Hati-hati”

“Kau juga” ucap Yonghwa sambil melambaikan tangannya kepada gadis itu.

-X-

National Intelligence Service Office Center, Naegok-dong, Seocho-gu, Seoul

Pukul 14.00 KST

“Hyung, apa yang terjadi dengan tanganmu?” Jonghyun menatap tangan kanan Yonghwa yang terbalut armsling kemudian berjalan menghampiri lelaki yang baru tiba itu.

Yonghwa mendengus kesal mendengar pertanyaan Jonghyun. “Mana Kwanghee? Sialan anak itu! Satu tanganku ini lebih berharga dari 10 buah kepalanya!!” amuk Yonghwa tiba-tiba.

Jonghyun hanya dapat melongo mendengar sunbae-nya yang baru datang beberapa detik lalu mengamuk tanpa sebab. Kemudian dilihatnya keadaan di dalam ruangan, beberapa rekan kerjanya menatap Yonghwa heran sambil berbisik-bisik, membuat Jonghyun merasa tidak enak telah menganggu konsentrasi mereka.

“Aku menyuruhnya untuk sekedar membuatku lebam, bukan menusuk lenganku dan mengirimku masuk ke dalam kamar operasi!!” lanjut Yonghwa dengan nada yang makin meninggi. “Ingin mati rupanya anak itu!!”

Dengan takut, Jonghyun menepuk pelan pundak Yonghwa, berharap hal itu dapat menenangkannya. Setelah dilihatnya reaksi Yonghwa yang makin melunak, maka ia menuntun lelaki itu untuk duduk di salah satu kursi paling dekat.

“Apa yang sebenarnya terjadi hyung?” tanya Jonghyun takut-takut.

Yonghwa menatap Jonghyun tajam kemudian kembali mendengus kesal. “Aku memang menyuruh Kwanghee untuk menakuti gadis itu sehingga aku dapat menolongnya. Kau tahu, seperti drama-drama romantis di televisi. Si gadis mendapatkan kesulitan lalu datang seorang lelaki penolong, mereka kemudian dekat dan dengan begitu semua pekerjaanku bisa menjadi lebih mudah. Itu skenario awalnya. Tapi Kwanghee menghancurkan semuanya. Aku terluka dan harus dilarikan ke Rumah Sakit. Aku tidak bisa menggerakkan tanganku untuk memegang senjata bahkan untuk makan sepiring steak! Sial! Itu benar-benar tidak keren!!” jelas Yonghwa panjang lebar.

Jonghyun yang awalnya mendengar penjelasan Yonghwa dengan serius, pada akhirnya tidak mampu menahan tawa. Ia tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya yang sakit, membuat Yonghwa mendelik kesal ke arahnya. “Maaf hyung. Tapi itu benar-benar lucu” ucap Jonghyun sambil menghapus air matanya yang keluar akibat terlalu kuat tertawa.

Setelah puas tertawa, Jonghyun berdeham kecil kemudian kembali menegakkan tubuhnya. “Jadi bagaimana rencanamu itu? Apa berhasil?”

Wajah Yonghwa berubah serius kemudian ia menyeringai penuh arti. “Tentu saja berhasil. Aku ini Jung Yonghwa, agen rahasia terbaik se-Korea Selatan” ucapnya bangga. “Sekarang bahkan aku telah tinggal di samping apartement gadis itu”

Jonghyun membulatkan matanya tidak percaya. “Benarkah? Bagaimana kau melakukannya?”

“Mudah” jawab Yonghwa enteng. “Aku membayar dua kali lipat dari harga sewa normal. Dan saat itu juga, penghuni sebelumnya langsung ditendang keluar oleh pemilik apartement. Mudah bukan?” lelaki itu terlihat bangga dengan apa yang telah dilakukannya.

Jonghyun menatap Yonghwa dengan mulut setengah terbuka dan alis berkerut. Oke, ia akui Yonghwa memang merupakan agent terbaik di Korea Selatan, namun terkadang ia juga merasa lelaki itu memiliki tingkat kebodohan yang hampir setara dengan anak sekolah dasar. Setiap orang juga bisa berpikir seperti itu, tanpa harus menggunakan embel-embel seorang agen rahasia. Itu bukan hal yang patut dibanggakan dan sama sekali tidak keren.

“Oh iya, Jonghyun-ah” Yonghwa menepuk bahu Jonghyun seakan baru ingat dengan tujuannya datang ke kantor. “Kita bagi tugas. Aku akan mengawasi gadis itu dan menemukan cara bagaimana agar ingatannya kembali. Sedangkan kau, awasi orang-orang disekitarnya dan cari data-data lengkap mereka. Siapa tahu diantara mereka ada yang merupakan agen rahasia Korea Utara yang dalam penyamaran”

Jonghyun mengangguk mengerti.

“Dan aku sudah punya tugas untukmu” lanjut Yonghwa semangat. “Im Yoona. Dokter spesialis syaraf di Seoul International Hospital. Awasi dia dan dapatkan data sebanyak-banyaknya mengenai gadis itu. Mungkin kita akan mendapatkan informasi yang menarik nanti” Yonghwa kembali menepuk bahu Jonghyun dan tersenyum penuh arti.

Jonghyun ikut tersenyum. “Oke, hyung” jawabnya tak kalah semangat. Im Yoona, tugas pertamanya dalam kasus ini. Semoga menjadi hal yang menarik nantinya.

-X-

Halo readers… Duh, aku bener-bener minta maaf karena telah menjadi author tidak bertanggung jawab selama beberapa minggu ini. Aku sadar kalo FF ini lama banget jaraknya. Akhir-akhir ini aku sedang mengalami writter’s block. Sempet stuck waktu nulis FF ini. Insya Allah aku usahakan Part 3 akan aku publish sekitar 1 minggu lagi. FFnya sedang aku buat dan tinggal beberapa halaman aja kelar.

Sekali lagi aku minta maaf atas keterlambatannya ya. Kritik dan saran selalu aku harapkan untuk kemajuanku ke depannya. Terimakasih banyak… *bow

P.S: Sampai jumpa di Bluemoon Jakarta ya…😀

18 thoughts on “Formula X [Memory 2]

  1. kkyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa dugaan bener ternyata orang yg nakut2in hyun itu orang suruhan yong dan ternyata masi temen sekantor. ngikik bacanya yg yong mau sok keren tapi malah jd org ga bs apa2 haha.[uk2 abang yong

    kasian ma hyun deh itu tersiksa bgt penyakitnya. hiks..dan dokter im kyaaaaaa akan bertemu dengan jonghyun nanti asiiik deerburning will meet up hahaha. /gaksabar

    aku masih penasaran ama kasus korea utara ma koreaselatan ini nih. apa karna kelamaan jd aku lupa penjelan awal yal, nanti aku baca ulang dr prolog deh. makin menarik aja ceritanya ini. suka bgt ma karakter yong ma hyun ga beda jauh ma aslinya kayanya. jd kangen wgm yongseo /curcol

    ditunggu part selanjutnya kakanya… yukk mare kita countdown bluemoon jakarta smogaa acara berjalan lancar sampai hari H /harap2cemas trauma th 2011 jg ni huhu *curcol lg ;p

  2. jiahhhh ternyata ini akal akalan yonghwa tohhhh
    tapi sayangnya senjata makan tuan bang😀
    di crus tangan jonghyun yg jadi korban(?) di sini tangan yong yang jadi korban /kayaknya author demen banget yahhh bikin tangan mereka gak jadi tumbal(?) ehhhhahahahaha xD

    acieeee jonghyun bakalan ketemu yoona dongs😀
    tuituiwww.
    siap siap ada yang mau jatuh cintrong nehhhhh /toel(?) jonghyun/ xD
    next part thorrr :))

  3. yong udh brhsil dket sama hyun hihi
    wlpun cra yong bgtu tp ttp aja brhasil
    smoga yong sama hyun trus smkin dket hihi
    hidup yongseo couple😀
    next nunggu kdektan jongyoon couple😄

  4. Huaaaa sumpah pas bgian yong bicara soal rencnanya yang bisa dikatakab sdikit gagal soalnya kwanghee malah membuatnya masuk ruang operasi bgian itu bnar2 lcu aku gx jauh beda ma jong perutku sakit pas baca krn tertwa.. wkkwk tp rncana Yong cukup berhsil soalnya sekrng seo udh mlai akrab ma yong… kkkk
    Jong akan menyelidikin Yoona hummm akan seru ni… kkk klau diperhatikan ni dri korut utu kyknya kyu deh!!!! tpi gx mau sotoi ahhh mnding bca nextnya supaya lbh tau… Author Daebak aku suka crtnya….

  5. Ommo….trrnyata youghwa jg yg ngerencansain bwat nyelakain drivsendiri…he…he…senjata mkan tuan deh….wah jonghyun mulai aksinya dg yoona….ah….tambh penasatan….lanjut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s