[One Shot] Last Valentine

Last Valentine

FF ini terinspirasi dari lagu Taecyeon 2pm yang berjudul My Valentine. Ini buatnya cuma iseng-iseng aja. Semoga tidak mengecewakan ya…

Last Valentine

honey you are my valentine
You’re my love forever
honey you are my valentine
You’re still my love even if you’ve left me

Hari itu, salju turun lebih lebat dari biasa. Membuat seluruh kota Seoul didominasi oleh warna putih di setiap sudutnya. Angin juga berhembus lebih kencang. Menimbulkan bunyi kerutuk kecil dari jendela yang bersinggungan dengan ujung-ujung ranting pohon yang bergoyang. Langit berwarna kelam dan matahari terlihat bersembunyi di balik awan hitam, enggan untuk sekedar menampakkan wujudnya.

Yoona menatap sendu ke luar jendela apartement. Di tatapnya satu per satu butir salju yang sudah hampir 3 jam terakhir jatuh ke atas bumi. Atap-atap rumah terlihat sudah mulai tertutup salju seluruhnya. Begitupula dengan pekarangan dan jalan-jalan setapak di sekitar area apartement.

Yoona menghela napas panjang. Kemudian ia melirik ponsel yang tergeletak begitu saja di atas meja. Benda itu bagaikan onggokan sampah tidak berharga. Tidak ada pesan singkat ataupun panggilan masuk selama 3 hari ini. Yoona mendesah pelan kemudian meraih cangkir di hadapannya. Ia lalu menyuruput pelan teh hangat yang baru ia buat beberapa menit yang lalu. Berharap dengan begitu, rasa dingin di tubuhnya dapat berangsur membaik.

Sudah 3 hari ini Yoona berdiam diri di apartement. Tidak pergi ke kantor seperti biasa, bahkan ke mini market di blok sebelah hanya untuk sekedar membeli beberapa bahan makanan. Ia tidak ingin keluar. Tidak ingin repot-repot merasakan dinginnya salju yang akan membekukan seluruh tubuhnya.

Yoona menyukai musim dingin. Dulu. Sebelum 3 hari yang lalu. Ia suka akan warna putihnya yang lembut, suka akan lembabnya udara yang menggelitik ujung hidungnya, dan angin dingin yang menerbangkan helai-helai rambutnya yang halus.

Namun semuanya berubah.

Warna putih itu terlihat begitu menyakitkan sekarang. Lembabnya udara membuatnya sesak dan sulit bernapas. Terpaan angin seolah membekukan tubuh dan hatinya tanpa ampun. Semua itu terjadi begitu saja. Ketika orang yang begitu dicintainya mengucapkan kalimat itu kepadanya.

Kita berpisah saja. Aku menyukai gadis lain

Saat itu, Yoona hanya bisa berdiri terpaku di tempat. Dengan tumpukan salju yang mengikat kakinya dan angin musim dingin yang membekukan seluruh tubuhnya. Ternyata waktu 4 tahun tidaklah cukup. Tidak cukup bagi mereka untuk mengenal satu sama lain. Tidak cukup bagi mereka untuk bergantung satu sama lain. Dan tidak cukup pula bagi hati mereka untuk saling menyatu dan berpaut. Untuk saling percaya satu sama lain sampai akhir.

Namun Yoona tidak menangis, tidak juga memohon dan menjadi lemah di depan lelaki itu. Entah kenapa, justru sebuah kalimat yang sama sekali tak pernah terpikirkan yang terlontar keluar dari bibir pucatnya.

Baiklah, kita berpisah. Tapi sampai berakhirnya hari Valentine

Dan besok hari Valentine. Yang juga berarti hari terakhirnya bersama lelaki itu. Mungkin orang lain akan menganggapnya bodoh. Membiarkan orang yang begitu dicintainya pergi begitu saja tanpa mencoba menahannya. Tanpa mencoba memohon agar ia tidak pergi dan untuk tetap terus berada di sisinya. Namun Yoona tidak bisa. Mungkin ia memang bodoh, namun ia tidak ingin menjadi egois. Tidak lagi.

.

.

.

Pagi ini salju tidak lagi turun. Matahari telah merangkak naik dari persembunyiannya dan mulai kembali bekerja menghangatkan seluruh isi kota. Tumpukan salju di ranting-ranting pohon sudah mulai mencair. Begitupula di atap-atap dan pekarangan rumah. Mobil pembersih salju juga telah beroperasi sejak pagi buta untuk menyingkirkan tumpukan salju sehingga mobil dan bus sudah dapat kembali beroperasi melintasi jalan utama.

Yoona menambah lilitan scraft di lehernya. Meskipun salju sudah tidak turun dan matahari telah bersinar semejak pagi ini, namun suhu udara masih terasa begitu menusuk. Ia berjalan cepat sambil menyisipkan kedua tangannya ke dalam saku. Kemudian ia berhenti di halte bus yang berjarak beberapa meter dari apartementnya. Yoona menghela napas panjang kemudian mencoba tersenyum untuk melatih otot-otot wajahnya yang selama beberapa hari terakhir terasa begitu kaku.

Setelah menempuh 30 menit perjalanan dengan bus, Yoonapun berhasil menginjakkan kakinya di depan sebuah cafe. Cafe favoritenya dan juga lelaki itu. Yoona menarik napas panjang sebelum mendorong pintu kayu klasik di depannya.

Bunyi gemerincing kecil dari bel yang tergantung di atas pintu membuat perhatian beberapa orang teralih. Cafe ini berukuran minimalis, sehingga bunyi gemerincing itu dapat terdengar ke seluruh meja. Mata Yoona menyapu seluruh sudut ruangan dan menangkap sosok lelaki itu tengah duduk di sudut cafe di dekat jendela besar.

Lelaki itu duduk diam. Matanya fokus pada cangkir keramik putih di depannya. Tanpa perlu bergerakpun, sosok itu terlihat begitu sempurna di mata Yoona. Bagai sebuah lukisan, sosok lelaki yang begitu dicintainya berlatar belakang sisa tumpukan salju berwarna putih pada kunsen jendela dan sinar matahari pagi yang baru bergerak naik dari arah timur. Indah. Dan Yoona menyukainya. Jadi ia biarkan dirinya menatap lelaki itu lebih lama kali ini.

“Oppa!”

Yoona menyapa riang lekaki itu setelah beberapa menit berdiri di ambang pintu. Ia melangkahkan kakinya yang masih terasa berat kemudian duduk di hadapan lelaki itu. Yoona tersenyum, berharap garis senyumnya yang sudah ia latih sejak pagi tadi tidak terlihat aneh di depan lelaki itu.

Lelaki itu menatap Yoona. Ia tidak menjawab sapaan Yoona, tidak pula membalas senyuman Yoona. Hanya menatapnya. Tatapan yang Yoona sendiri tidak dapat mengartikannya.

“Hari ini kita akan kencan kemana?”. Yoona masih mencoba mempertahankan nada suaranya sewajar mungkin. Walau ia tidak tahu, sampai kapan ia bisa bertahan.

“Yoon, aku sudah bilang ___”

“Myeong-dong!” potong Yoona cepat. “Oppa, ayo kita pergi ke Myeong-dong. Hari ini banyak toko yang memberikan sale khusus Valentine”

Dengan cepat Yoona berdiri, kemudian menarik tangan lelaki itu agar segera bangkit. “Oppa kajja! Aku tidak ingin membuang-buang waktu hari ini”

Jika memang ini hari terakhir, maka Yoona akan membuatnya seindah mungkin. Tanpa rasa sakit, tanpa ada penyelasan dan air mata pada akhirnya.

.

.

.

“Oppa! Lihat! Scraft ini lucu! Bagaimana menurutmu?”. Yoona merentangkan scraft berwarna pastel dengan kedua tangannya kehadapan lelaki itu. Lelaki itu hanya menanggapi dengan gumaman pelan. Yoona tersenyum cerah. Sejak mereka bersama hari ini, lelaki itu tidak banyak bicara ataupun merespon semua ucapan Yoona. Dan Yoona selalu menanggapinya sewajar mungkin. Seolah-olah semuanya berjalan normal seperti biasanya, ketika mereka bersama dulu. Ketika mereka sama-sama masih memiliki debaran di dada mereka.

“Ice cream! Oppa, aku mau makan ice cream! Kajja!”. Yoona kembali menarik lengan lelaki itu untuk mengikutinya. Sudah menjadi kebiasaannya memakan ice cream saat musim dingin. Kebiasaan buruk, namun Yoona tidak bisa menghilangkannya. Dan sehabis makan ice cream, biasanya Yoona akan terserang flu selama 2 hari berturut-turut. Ia hanya akan berbaring di ranjang sambil mengeluh hidungnya gatal dan kepalanya yang terasa berat. Itu selalu terjadi dan Yoona tidak pernah merasa jera.

Lelaki itu yang biasanya memarahi Yoona ketika memakan ice cream saat musim dingin. Dan lelaki itu juga yang biasanya menjaga Yoona ketika ia terbaring lemah di ranjang saat flu yang dideritanya semakin memburuk. Yoona tidak pernah jera, karena ia yakin selalu ada lelaki itu yang akan menemaninya.

Namun tidak mulai saat ini. Lelaki itu tidak melarang Yoona, tidak pula menceramahinya tentang pentingnya menjaga kesehatan pada musim dingin. Lelaki itu hanya diam menatap Yoona yang sedang menyendok ice creamnya dari seberang meja. Tanpa berkomentar apapun. Dan itu membuat Yoona sadar, bahwa lelaki itu telah berubah.

Mereka kembali melanjutkan kencan mereka. Walaupun suhu udara masih terasa dingin, namun daerah Myeong-dong telah dipadati ratusan orang siang ini. Mungkin karena hari valentine. Terlihat dari banyaknya pasangan yang berjalan beriringan sambil berpegangan tangan ataupun berangkulan.

Yoona meraih tangan lelaki itu dan menggenggamnya. Tangannya dingin, begitu pula tangan lelaki itu. Walaupun tangan mereka bersentuhan, namun tidak terasa percikan kehangatan yang mengalir dari ujung-ujung jari mereka.

Datar

Dingin

Biasanya, saat angin berhembus lebih kencang atau saat tetesan salju pertama mulai turun, lelaki itu akan menggenggam tangan Yoona kemudian memasukkan tangan mereka ke dalam saku mantelnya. Membiarkan tangan mereka saling berpaut hingga kehangatan dari ujung-ujung jari mereka akan merambat sampai ke kaki, tangan dan dada seperti sebuah aliran listrik. Membuat tubuh Yoona terasa hangat meski tanpa penghangat ruangan ataupun sebotol soju.

Namun tidak mulai saat ini, lelaki itu hanya menggantungkan tangannya tanpa berusaha menautkan jari-jari mereka. Yoona hanya dapat menatap kedua tangan itu lama-lama. Sudah tidak ada kehangatan lagi dalam genggaman mereka. Dan Yoona semakin sadar, bahwa lelaki itu memang sudah berubah.

“Oppa, bagaimana jika kita menonton film? Kudengar ada film bagus yang sedang diputar di bioskop”

Seperti yang diduga, lelaki itu kembali tidak merespon ucapan Yoona. Namun Yoona tidak peduli, ia kembali menarik lengan lelaki itu ke seberang jalan tempat dimana sebuah gedung bioskop berada.

Riuh dan gelak tawa memenuhi seisi theater. Beberapa pasang penonton terlihat berangkulan ataupun berkomentar tentang tingkah konyol sang pemeran utama dengan lawan mainnya. Yoona hanya menatap muram kantung popcorn yang setengah berisi di pangkuannya. Sambil sesekali menyuap sebuah atau dua buah popcorn ke dalam mulutnya.

Yoona melirik lelaki itu. Wajah itu menatap lurus ke arah layar, namun Yoona tahu jiwanya tidak berada di sini, bersamanya. Mungkin ia sedang memikirkan gadis itu, gadis yang ia cintai saat ini. Entahlah, Yoona tidak tahu. Dan memang Yoona tidak pernah tahu apa yang ada dipikirkan lelaki itu, sejak 4 tahun yang lalu bahkan sampai hari ini.

Hatinya mencelos. Mungkin memang perpisahan jalan yang terbaik bagi mereka. Empat tahun mereka bersama, namun Yoona tidak pernah tahu apa yang diinginkan lelaki itu, apa yang dipikirkan lelaki itu, makanan seperti apa yang ia sukai, jenis musik seperti apa yang ia gemari. Yoona tidak pernah tahu. Tidak pernah.

Jika mereka harus berpisah, maka Yoona-lah orang yang paling bertanggung jawab atas semua kejadian ini. Karena memang dirinyalah sumber semua permasalahan. Dirinya yang terlalu egois, yang terlalu terobsesi pada sebuah pekerjaan sehingga orang yang paling berharga baginyapun perlahan menjauh. Membatalkan janji kencan, melupakan hari ulang tahun, mengabaikan hari-hari spesial adalah hal wajar yang Yoona lakukan. Dan kini, saat ia hampir kehilangan semua itu, ia baru menyadari betapa pentingnya hal-hal kecil tersebut.

Yoona menarik napas panjang. Napasnya terasa sesak dan matanya terasa panas ketika kembali mengingat masa-masa bersama lelaki itu. Ia sungguh bodoh. Membiarkan perlahan-lahan dirinya dan lelaki itu menjauh. Menjadi orang asing yang hanya berkomunikasi melalui telepon atau sebuah pesan singkat. Bertatap muka hanya jika di antara mereka ada yang membutuhkan. Tidak ada pembicara selain “Apa kabar?” atau “Kau sudah pulang?”. Ia yang membuat jarak diantara mereka melebar. Jadi wajar jika ada seseorang yang masuk untuk menempati celah kosong di antara mereka.

Yoona mengusap dengan cepat air mata yang telah basah membanjiri pipinya. Ia mengatupkan rapat-rapat bibirnya agar suara isakannya tidak terdengar. Kemudian iapun bangkit dengan cepat dari tempat duduknya yang di ikuti tatapan bingung dari lekaki itu. “A-Aku ke toilet”. Tanpa menunggu jawaban dari lelaki itu, Yoona segera berjalan keluar studio.

.

.

.

Setelah mencuci mukanya yang sembab, Yoona berdiri di luar studio menunggu lelaki itu keluar. Ia tidak kembali masuk ke dalam karena dirasakannya tempat itu begitu sesak dan pengap. Jadi ia lebih memilih menunggu di luar dengan udara dingin dan butir salju yang mulai turun satu per satu dari langit.

Yoona menendang malas salju yang mulai menumpuk di depannya. Sambil sesekali mengusap ke dua lengan atasnya untuk menghalau rasa dingin yang semakin menjadi. Ia meninggalkan mantelnya di dalam studio karena terlalu terburu-buru untuk keluar studio tadi. Ia tidak ingin lelaki itu melihat keadaannya yang kacau. Karena ia sudah berjanji, hari ini tidak akan ada air mata yang akan dilihat lelaki itu menetes dari sudut matanya.

“Mantelmu”. Lelaki itu menyerahkan mantel Yoona ke tangannya tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya. Yoona tersenyum simpul kemudian menggambil mantelnya sambil mengucapkan terimakasih dengan gumamam pelan.

“Apa filmnya sudah selesai?”

“Kenapa kau tidak kembali?” lelaki itu malah balik bertanya.

“Hehe… Maaf. Tiba-tiba aku lebih tertarik pada salju” dusta Yoona.

“Kau memang selalu semaumu” gumam lelaki itu pelan. Kemudian ia berjalan lebih dulu tanpa menunggu Yoona.

Yoona hanya dapat tersenyum getir mendengarnya. Lelaki itu memang sudah acap kali mengeluh tentang sikapnya yang acuh, cuek dan semaunya sendiri. Dan kali ini ia tidak akan protes. Tidak akan mencoba mengelak ataupun membela diri yang nantinya akan berujung pada pertengkaran panjang mereka. Ia mau melewati hari ini dengan baik. Setidaknya, ia akan mencoba sebaik yang ia bisa untuk lelaki itu. Hanya sampai hari ini. Hari terakhir mereka.

.

.

.

Yoona mendudukkan dirinya pada bangku besi panjang di sisi sungai Han. Ia lalu menepuk pelan space kosong di sampingnya untuk memberi isyarat agar lelaki itu juga ikut duduk di sana. Lelaki itu duduk patuh tanpa sedikitpun protes akan angin kencang dan butir salju yang turun di atas mereka.

Mereka terdiam. Tidak ada yang mencoba memulai pembicaraan. Yoona menghembuskan napasnya pelan dan berat. Hawa dingin sudah mulai menyeruak masuk ke pori-porinya dan menusuk ke dalam paru-parunya. Bibirnya yang sedari tadi belum bergerak sudah mulai terasa kaku dan membiru. Namun ia tidak menghiraukannya. Ia hanya ingin duduk lebih lama di tempat ini bersama lelaki itu. Tempat kenangan mereka berdua.

“Maaf. Hanya ini tempat yang terpikirkan oleh ku”. Yoona akhirnya membuka suara setelah beberapa menit terdiam. Suaranya terdengar serak dan berat.

Yoona kemudian melirik lelaki itu. Lelaki itu hanya duduk diam dengan pandangan mata lurus menatap sungai Han yang tenang.

“Kau… masih ingat saat itu kan?” tanya Yoona. Kini pandangan matanya ikut menatap lurus. Namun ia tidak menatap sungai Han di depannya, melainkan menerawang jauh ke masa 4 tahun yang lalu.

Di tempat ini, saat musim semi 4 tahun yang lalu, ketika kuncup-kuncup bunga mulai bermekaran, kupu-kupu berwarna cantik bertebangan, dan semilir angin musin semi yang lembut dan hangat menerbangan helai-helai rambutnya, lelaki itu mengutarakan perasaan padanya. Dengan membawa seikat bunga lili putih dan sebuah boneka teddy bear berbulu coklat yang lucu. Masih terekam jelas di otaknya bagaimana ia begitu bahagia hari itu. Lelaki itu tersenyum lebar dengan lesung di kedua pipinya, sedangkan pipi Yoona bersemu menyemburkan warna merah muda seperti bunga sakura di musim semi.

Namun semuanya kini berbalik. Semua awal indah itu harus di akhiri hari ini dan saat ini juga. Hubungan ini memang sudah tidak bisa dipertahankan lebih lama. Karena hati lelaki itu sudah bukan lagi miliknya. Dan Yoona tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk tetap terus memiliki hati itu. Perasaan mereka telah berubah. Tergerus dan terkikis seiring berjalannya waktu. Semakin lama semakin hilang dan akhirnya tergantikan oleh perasaan baru. Si pemilik hati baru.

Yoona kemudian merogoh isi tasnya. Ia mengeluarkan kotak kecil berwarna merah maroon dan menyerahkannya pada lelaki itu.

“Happy Valentine’s day” ucap Yoona pelan hampir seperti sebuah bisikan.

“Itu coklat terakhir yang ku buat untukmu” jelas Yoona yang sekaligus menjawab tatapan tidak mengerti dari lelaki itu. Yoona kemudian tersenyum. Senyum tertulus yang bisa ia berikan untuk lelaki itu sambil menatap dalam mata gelapnya. Yoona kemudian menarik napas panjang dan ia segera berdiri dalam satu gerakan cepat.

“Aku sudah menyelesaikannya. Terimakasih untuk semuanya. Selamat tinggal, Lee Jonghyun-sii”

Yoona berjalan dengan langkah cepat. Tangannya mengepal sehingga buku-buku jarinya kaku dan membiru. Ia mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Ia sudah melakukannya dengan baik, dengan begini lelaki itu bisa menemukan kebahagiannya yang baru.

Di musim dingin pada bulan Februari, dengan salju yang turun lebat serta sungai Han yang tenang sebagai saksinya, kita berpisah untuk memulai jalan masing-masing. Meskipun sakit, meskipun berat dan menyiksa namun seiring berjalannya waktu, semua pasti akan pulih. Aku pasti akan baik-baik saja dan semua luka ini pasti akan sembuh. Ketika masa itu telah tiba, maka aku akan sanggup tersenyum lagi dan menjadikan semua ini sebagai kenangan yang tak terlupakan. Terimakasih untuk semuanya, karenamu aku bisa mengerti apa itu cinta. Kau akan terus menjadi bagian dariku. Akan terus menjadi cintaku. Menjadi Valentine terakhirku.

—-

oh iya, ada reader yang nonton Bluemoon Jakarta ga bulan Oktober nanti? Sampai ketemu di Venue ya…😀

25 thoughts on “[One Shot] Last Valentine

  1. aaaaaa keren banget ceritanyaaa T-T

    suka banget sama sifat yoona di sini meskipun akhirnya bikin nguras air mata T-T
    aku suka banget sama katakatanya author. simple tapi WOW :))

    good job thor aku tunggu karya karya author yang lainnya😀

  2. aaaa author ini antara sad ending ma happy ending nih
    sad ending krn harus berpisah tp happy ending emang karna buat kebaikan mereka. hiksss makanya yongie jgn sibuk2 hiks

    nice story as usual🙂

    aku aku nonton BM jakarta ayooo bareng teriak2. aku d side abang jonghyun loh. hihi.
    bisa kali kita buat banner jongyoon jjang hahaha. couple delusi favorit kita hihi

    • Wah… Seneng deh ada reader yg liat ff ini dr sisi berbeda.
      Yupz sebenernya ini juga termasuk happy ending. Karena untuk kebahagian mereka juga…
      Aku nntn bluemoon di tengah2 nih. Biar adil bisa loat semuanya…😀

  3. sequel bolehhh bgt nihhh *baca balesan author diatas* hihi
    ga usah berpart panjang one shoot yg membahagiakan cukup /plak byk maunya

    ditunggu bgt karya berikutnya. kami akan tetap menanti begitu pun yg yongseo hihi

  4. Actually, aku belom pernah baca deerburning yang broken gini, jadinya agak gimana gitu ya kak–” tiba-tiba melengos pas baca, “Selamat tinggal, Lee Jonghyun-sii”
    Tapi, bagus kok kak’-‘b simple tapi ngena. Nyaman aja bacanya😄
    Oke, ditunggu FF yang lain loh! Especially buat uri deerburning ya!😄 Fighting!’-‘)9

  5. Hhadehh thor ko sad end sih.. coba ada squel nya diambil side nya jonghyun jdi ga pnasaran gni..sbnrnya jonghyun emng dah ga cibta lgi ma yoona apa cuma biar yoona brubah..nyesek akh mreka hrz putus gtu.. salam knal reader baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s