Crush [Part 14]

crush cover

Judul: Crush – part 14

Main Cast:

Lee Jonghyun CNBlue sebagai Lee Jonghyun

Im Yoona SNSD sebagai Im Yoona

Other Cast:

Jung Yonghwa CNBlue sebagai Im Yonghwa

Seo Joohyun SNSD sebagai Lee Seohyun

Lee Jungshin CNBlue sebagai Lee Jungshin

Tiffany Hwang SNSD sebagai Tiffany Hwang

Im Seolong (OCs)

Rating: PG-15

Lenght: Chaptered

Genre: Romance, Angst, AU

Prolog – Part 1 – Part 2 – Part 3 – Part 4 – Part 5 – Part 6 – Part 7 – Part 8 – Part 9 – Part 10 – Part 11– Part 12Part 13

Pukul 09.30 KST @ Kamar rawat inap Seohyun Lt. 2 – Seoul Hospital

“Oh? Oppa?” Seohyun menoleh kaget dengan kehadiran tiba-tiba Yonghwa di dalam kamar rawat inapnya. “Kenapa kau datang sepagi ini? Apa kau tidak masuk kantor?” tanya Seohyun bingung sambil tak lepas menatap Yonghwa yang tengah berjalan ke arahnya.

Yonghwa menghempaskan tubuhnya ke atas sofa di dekat ranjang Seohyun dan mendesah frustasi. “Biarkan aku menenangkan diriku dulu, Hyun. Aku tidak bisa ke kantor dengan kondisi seperti ini” ucap Yonghwa setengah bergumam.

“Apa yang terjadi, oppa?” tanya Seohyun was-was.

Yonghwa makin membenamkan tubuhnya di atas sofa empuk itu dan memejamkan mata. Ia memijat pelan pelipisnya yang terasa berdenyut hebat. “Tadi pagi Yoona pergi ke New York” jawabnya pelan.

“Ne?? Apa maksudmu oppa?” tanya Seohyun bingung.

Yonghwa menegakkan duduknya. Ia menarik napas panjang sebelum kembali menjawab pertanyaan Seohyun. “Yoona akan menikah dengan Siwon. Dan mereka memutuskan akan menetap di New York” jelas Yonghwa tanpa menatap Seohyun.

“Apa?? Jadi Yoona menerima tawaran Choi Siwon?” pekik Seohyun kaget. Ia membulatkan matanya menatap Yonghwa tidak percaya.

Yonghwa menatap Seohyun dengan alis bertaut. “Jadi kau sudah tau tentang tawaran itu?”

Seohyun mengangguk kaku. “Maafkan aku karena tidak memberitahumu, oppa. Ku pikir masalah ini sudah selesai”

Yonghwa kembali menarik napas panjang. Ia menundukkan wajah sehingga dapat melihat ujung-ujung sepatunya di lantai. Jadi Yoona memang sudah merencanakan semua ini dari awal dan ia sama sekali tidak tahu menahu akan rencana Yoona ini. Entah kenapa, jika mengingat semua ini Yonghwa merasa menjadi orang paling tidak berguna di dunia. Ia seperti seorang kakak yang menghancurkan masa depan adik satu-satunya hanya demi menyelamatkan perusahaan keluarga. Seperti seorang pecundang yang berlindung di balik punggung adiknya dan tidak bisa menyelesaikan semua masalah ini seorang diri.

Tiba-tiba Yonghwa tersentak dengan rasa hangat yang berasal dari pundaknya. Seohyun telah berdiri di sampingnya setelah bersusah payah menarik tiang infus dengan tangan kirinya. Ia menepuk pundak Yonghwa pelan. Gadis itu menatap Yonghwa dan tersenyum lembut. “Aku tahu apa yang oppa pikirkan. Semua ini bukan salah mu oppa. Kau sudah melakukan yang terbaik selama ini. Jadi jangan salahkan dirimu”

“Kau kenapa turun dari ranjangmu?” protes Yonghwa. Ia segera menggeser tubuhnya dan menarik pelan Seohyun agar ikut duduk di sampingnya.

Seohyun mendengus pelan. “Aku tidak apa-apa, oppa. Kau terlalu berlebihan”

“Lalu, kenapa kau tidak menghentikan Yoona?” tanya Seohyun setelah ia duduk di samping Yonghwa.

Yonghwa mendesah sambil melirik Seohyun dari sudut matanya. “Aku sudah melarangnya. Namun ia menolak. Ia berkata bahwa inilah jalan terbaik untuk saat ini. Dan kurasa, aku tidak dapat menahannya karena aku sendiripun belum mampu menyelesaikan semua masalah ini”

Kening Seohyun berkerut mendengar ucapan Yonghwa. “Tapi, kenapa Yoona tiba-tiba berubah pikiran?” tanyanya bingung. Yonghwa menoleh begitu mendengar ucapan Seohyun. “Saat itu Yoona menolak tawaran Choi Siwon. Namun kenapa sekarang tiba-tiba ia menerimanya?” tanya Seohyun lebih kepada dirinya sendiri. Tidak habis pikir kenapa Yoona tiba-tiba berubah pikiran secepat itu.

Yonghwa menggeleng pelan. “Entahlah” jawabnya singkat. Karena kali ini ia memang benar-benar tidak dapat memahami jalan pikiran adiknya itu.

“Ah! Jangan-jangan…” potong Seohyun tiba-tiba. Ia menatap Yonghwa dengan mata melebar dan alis bertaut. Yonghwa hanya menatap Seohyun bingung. “Oppa, apakah mungkin alasan Yoona pergi bukan sepenuhnya karena masalah perusahaan?”.

“Maksudmu?” tanya Yonghwa bingung.

“Apa mungkin, ini ada kaitannya dengan kasus antara kakakku dan ayahmu?” ucap Seohyun pelan. Ia kembali teringat akan kenyataan mengejutkan beberapa hari yang lalu tentang kakaknya, Lee Jonghyun dan ayah Yonghwa, Im Seolong. Bahwa kejadian menyakitkan empat tahun yang lalu yang merubah hidupnya dan kakaknya adalah sepenuhnya tanggung jawab dari seorang Im Seolong.

“Apa mungkin, alasan Yoona pergi juga karena kakakku?” terka Seohyun.

“Kenapa Yoona pergi karena kakakmu?” tanya Yonghwa yang masih belum mengerti maksud perkataan Seohyun.

Seohyun menatap Yonghwa nanar. Jika memang perkiraannya benar, ini semua pasti sangatlah berat untuk Yoona. “Untuk menjauh. Dan untuk menjaga perasaan kakakku” ucapnya pelan.

-ooo-

“Bagaimana keadaannya uisanim?” tanya Yonghwa tidak sabar.

Pria tua berjas putih itu tersenyum menenangkan. “Beliau sudah sadar. Kondisinya memang masih sedikit lemah. Namun anda sudah boleh menemuinya”.

Yonghwa membungkuk dalam dan mengucapkan terimakasih berkali-kali kepada pria tua itu. Pria itu mengangguk dan menepuk pelan pundak Yonghwa sebelum pergi.

Dengan perlahan, Yonghwa membuka pintu kamar rawat di depannya. Baru beberapa menit yang lalu ia menerima kabar bahwa ayahnya Im Seolong sudah sadarkan diri. Mengetahui berita baik itu, Yonghwa bergegas turun ke lantai satu tempat dimana ayahnya dirawat.

“Appa?” panggil Yonghwa begitu ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan tersebut.

Pria yang dipanggil Appa oleh Yonghwa itu menoleh dan mengangguk pelan kepada Yonghwa. Ia mengisyaratkan kepada Yonghwa agar segera menghampirinya.

“Bagaimana keadaanmu? Apa yang kau rasakan sekarang?” tanya Yonghwa begitu ia duduk di bangku di samping ranjang ayahnya.

“Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu cemas” jawab ayahnya dengan suara yang sedikit serak.

“Apa kau membutuhkan sesuatu?”

“Aniyo” jawab ayahnya cepat. “Bagaimana kondisi perusahaan?” tanyanya langsung.

Yonghwa berdecak kesal. “Appa, kau baru saja sadarkan diri. Tolong jangan membebani pikiranmu dengan masalah itu”

“Justru pikiranku akan makin terbebani jika aku tidak tahu berita perusahaanku saat ini” potong Im Seolong tegas. “Katakan padaku apa yang terjadi selama aku meninggalkan perusahaanku?”

Yonghwa memutar bola matanya dan mengendus kesal. Ayahnya selalu saja seperti ini. Tidak berubah sedikitpun. Baginya perusahaan adalah satu-satunya hal yang ada di dalam otaknya. Bahkan ketika ia baru saja sadar dari komanya selama berhari-hari, hanya perusahaannyalah hal pertama yang diingat olehnya.

“Harga saham perusahaan semakin menurun dan hutang perusahaan di bank belum dapat terlunasi. Beberapa rekan bisnispun membatalkan kerjasamanya dengan perusahaan kita” terang Yonghwa sesingkat mungkin. “Maaf, aku belum bisa memperbaiki keadaan” lanjut Yonghwa pelan dengan nada penyesalan di dalam ucapannya.

Yonghwa melirik ayahnya. Pria itu terlihat sangat tenang mendengar apa yang diucapkan Yonghwa. Yonghwa sedikit terkejut dengan reaksi ayahnya. Kenapa ia bisa setenang itu setelah mendengar semua berita ini?

“Appa, kau baik-baik saja?” tanya Yonghwa cemas. Sedikit takut jika tiba-tiba ayahnya mengalami seragan jantung mendadak seperti tempo hari.

“Aku masih memiliki sebuah rumah di Jepang, London, dan Los Angeles serta sebuah resort di pulau Jeju. Segera kau hubungi pengacara pribadiku untuk meminta surat-surat kepemilikannya, dan setelah itu segera kau jual semua properti pribadi itu untuk membayar semua hutang perusahaan. Jika masih belum juga tertutupi, gadaikan kediaman kita saat ini” ucap Im Seolong mantap.

Yonghwa tergugu mendengar semua ucapan ayahnya. Ia hanya bisa terdiam mematung beberapa detik sampai akhirnya tersadar dan memahami seluruh ucapan ayahnya itu. “Tapi appa…” Yonghwa hendak protes mengenai keputusan itu namun buru-buru dipotong oleh Im Seolong. “Itu satu-satunya jalan saat ini, Yonghwa. Hanya ini satu-satu jalan untuk menyelamatkan perusahaan beserta para pegawai kita”.

Yonghwa menelan ludah begitu mendengar penjelasan ayahnya. Menggadaikan rumah? Apa harus se-ekstrim itu langkah yang diambil? Apa tidak ada jalan lain yang bisa mereka usahakan? “Tapi appa, setidaknya kita harus rundingkan dulu mengenai masalah penggadaian rumah” pinta Yonghwa.

Ayahnya menoleh dan menatap Yonghwa tajam. “Sampai kapan kau akan belajar Yonghwa? Kita sudah tidak punya waktu untuk berunding. Dalam berbisnis, waktu adalah uang. Semakin lama kita membuat keputusan, semakin banyak kerugian yang kita dapatkan. Apa kau belum juga mengerti?”

Yonghwa tercekat. Ya, ayahnya benar. Selama ini ia hanya mengulur-ngulur waktu dengan berbagai pertimbangan untung rugi dari setiap tindakan yang akan diambilnya. Namun sampai saat ini, hasilnya masih nihil. Mungkin inilah kelemahan Yonghwa selama ini. Ia selalu ragu dan takut untuk mengambil sebuah keputusan untuk perusahaannya. Yonghwa akhirnya hanya dapat mengangguk menyetujui keputusan ayahnya. Berharap semua pengorbanan ini dapat membuahkan hasil yang setimpal.

“Dan hubungi Yoona. Beritahukan kepadanya mengenai keputusanku ini. Setidaknya anak itu tidak akan terkejut jika sewaktu-waktu pihak bank menyegel rumah kita”

Yonghwa tidak segera memenuhi perintah ayahnya. Yoona tidak akan terkejut jika rumah mereka disegel oleh pihak bank karena Yoona memang mungkin tidak akan kembali ke rumah. Yonghwa menatap ayahnya dan menarik napas panjang. Bagaimanapun juga ia harus memberitahukan masalah Yoona kepada ayahnya. Masalah mengenai Yoona yang akan menikah dengan Choi Siwon demi mempertahankan perusahaan mereka dan juga masalah mengenai kejadian antara Jonghyun dan ayahnya empat tahun yang silam.

“Appa, ada yang ingin aku bicarakan” ucap Yonghwa pelan. Lagi-lagi Yonghwa harus menelan ludah untuk mencoba membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa begitu kering. Ia tahu berita ini mungkin lagi-lagi akan mengejutkan ayahnya. Namun bagaimanapun juga, ayahnya harus mengetahui berita ini secepatnya. Yonghwa hanya bisa berharap kali ini jantung ayahnya dapat bertahan sedikit lebih kuat.

-ooo-

“Gadis bodoh!” rutuk Im Seolong setelah mendengar penjelasan dari Yonghwa. “Cepat kau jemput dia dan bawa ia kembali kesini” perintah Im Seolong emosi.

“Appa, tenangkan dirimu” Yonghwa mencoba menenangkan ayahnya yang terlihat begitu emosi ketika mendengar kabar mengenai Yoona. Khawatir akan kondisi kesehatannya yang masih belum pulih sepenuhnya.

“Aku tidak menjual putiku demi perusahaan” kali ini Im Seolong sedikit mampu mengontrol emosinya. Ia mengusap pelan wajahnya dan menghela napas berat. “Kau jemput dia, Yonghwa. Sebelum semuanya terlambat, kau harus menjemputnya” ucapnya pelan.

“Ne, appa”. Yonghwa sedikit terkejut dengan respon yang ayahnya tunjukkan mengenai masalah Yoona. Yonghwa pikir, ayahnya mungkin tidak akan ambil pusing mengenai masalah itu. Namun ternyata ia salah. Ia dapat melihat dengan jelas kesedihan yang terpancar dari wajah ayahnya. Ayahnya jelas-jelas terlihat begitu khawatir akan kondisi Yoona. Khawatir akan kondisi putri satu-satunya yang saat ini berada jauh darinya bersama orang yang mungkin tidak dapat ia percaya.

Dan Yonghwa bersyukur karena ia mengetahui hal ini sekarang. Bahwa ayahnya, seorang Im Seolong meski tidak dapat menunjukkan rasa cintanya secara gamblang kepada keluarga, namun ia peduli. Ia peduli akan kebahagiaan dan kesejahteraan putra putrinya.

“Dan untuk kecelakaan empat tahun yang lalu, aku siap menjalani persidangannya” ucap Seolong yakin.

Yonghwa membelalakkan matanya. Lagi-lagi ia terkejut dengan respon yang ayahnya berikan. Yonghwa tidak menyangka bahwa ayahnya sama sekali tidak membantah ataupun menyangkal semua tuduhan itu. “Jadi, semua itu benar?” tanya Yonghwa ragu.

Im Seolong mengangguk. “Memang aku pelakunya” jawabnya pelan. “Malam itu, aku dalam keadaan mabuk berat akibat perusahaan yang terancam failed. Saat itu aku baru pulang dari apartement Gyuri yang berada di ujung jalan. Dan tanpa sengaja, aku menambrak seorang pelajan kaki. Aku panik, dan tanpa pikir panjang, aku segera melarikan diri. Namun setelah aku sadar, aku merasakan rasa bersalah yang begitu besar. Bahkan sampai saat inipun rasa bersalah itu masih ada. Masih terus menghantuiku betapapun aku mencoba melupakannya”.

Im Seolong menghentikan sejenak ucapannya dan menatap Yonghwa nanar. “Maafkan ayahmu ini, Yonghwa. Aku tidak mampu menjadi ayah yang baik bagimu dan Yoona”

Yonghwa mengatupkan rahangnya kuta-kuat dan menengadahkan kepalanya untuk menahan cairan yang tiba-tiba saja menggenang di kantung matanya. Ia menarik napas panjang mencoba menenangkan diri. Entah kenapa, ucapan ayahnya tadi membuat dadanya terasa sesak seketika. “Istirahatlah appa. Kau masih belum pulih sepenuhnya”. Yonghwa mencoba mengakhiri pembicaraan dengan ayahnya.

Ketika Yonghwa hendak keluar dari ruangan, tiba-tiba saja ayahnya kembali memanggilnya. “Yonghwa, apa Gyuri telah pergi?” tanyanya pelan sambil menatap langit luar yang terlihat mendung di balik jendela.

“Ne. Tiga hari setelah kau kolaps, ia pergi dari rumah dan sampai saat ini aku belum mengetahui keberadaannya”

Yonghwa dapat melihat ayahnya menggangguk pelan dan menghela napas panjang. Dari tempatnya saat ini,  Yonghwa dapat melihat pundak ayahnya yang mulai terlihat rapuh. Tidak setegap dan sekokoh dulu. Entah karena usianya yang semakin menua atau karena semua masalah yang terlampau berat yang menghimpit pundak kokoh itu tanpa ampun.

-ooo-

Pukul 12.00 KST @ apartement Jonghyun

Tok –Tok –Tok

Jonghyun melirik ke arah pintu rumahnya sekilas. Ia mendesah kemudian kembali duduk bertangkup tangan di atas meja sambil berusaha mengabaikan suara berisik yang berasal dari pintu rumahnya. Ia sedang tidak ingin menerima tamu saat ini. Ia tidak ingin diganggu karena ia masih berusaha memperbaiki kondisi psikologisnya yang sangat buruk beberapa hari terakhir. Selama beberapa hari ini otaknya terasa kosong. Tubuhnya bagaikan raga kosong tanpa nyawa yang hanya dapat duduk diam tanpa tahu apa yang benar-benar dipikirkannya.  Semua karena kenyataan menyakitkan yang baru ia ketahui beberapa hari yang lalu. Padahal ia telah berjanji pada dirinya sendiri akan mencari jalan terbaik untuk kasus empat tahun lalu yang baru saja menemui titik terang itu, namun sampai saat ini ia masih belum mampu menemukannya.

Tok – tok – tok

Suara ketukan di balik pintu terdengar semakin keras dan tidak sabar. Jonghyun berdecak kesal kemudian bangkit dari duduknya dengan malas. Apa orang itu tidak mengerti bahwa ia sedang tidak ingin menerima tamu? Batin Jonghyun kesal. Ia berjalan pelan ke arah pintu dan membukanya.

“Wae?” ucap Jonghyun begitu berhasil membuka pintu.

“Oppa, kemana saja kau sampai aku harus menunggu lebih dari lima menit hingga kau membukakan pintu?” protes Seohyun cepat.

Jonghyun mengerjapkan matanya beberapa detik melihat Seohyun. “Kenapa kau bisa ada disini?” tanya Jonghyun heran.

Tanpa menjawab pertanyaan Jonghyun, Seohyun segera menerobos masuk ke dalam rumah. Ia segera berjalan ke arah dapur dan duduk di salah satu kursi meja makan. Ia menarik kursi di sebelahnya dan mengisyaratkan agar Jonghyun juga duduk di kursi tersebut.

“Ada yang ingin aku bicarakan” ucap Seohyun tepat setelah Jonghyun duduk di kursi sebelahnya.

“Apa?”

Seohyun membenarkan posisi duduknya agar dapat berhadap-hadapan dengan Jonghyun. “Oppa, apa kau tahu kalau tadi pagi Yoona berangkat ke New York?” tanyanya hati-hati

Jonghyun melebarkan kedua matanya dan terpaku sejenak. Dalam sepersekian detik, Seohyun dapat melihat perubahan raut wajah Jonghyun. Tak lama kemudian, Jonghyun kembali kepada ekspresi datarnya namun matanya terlihat menerawang jauh ke depan, membuat Seohyun tidak dapat menerka apa yang sedang dipikirkan lelaki itu.

“Hanya itu yang ingin kau sampaikan?” Jonghyun membuka suara setelah beberapa detik terdiam di tempatnya. “Cepatlah kembali. Para suster pasti mencarimu” ucapnya sambil bangkit dari kursi dan berjalan ke arah ruang tengah.

“Oppa! Yoona akan menikah di sana!” potong Seohyun cepat.

Sontak Jonghyun menghentikan langkahnya dan berdiri mematung memunggungi Seohyun. “Lalu apa urusannya denganku?” jawabnya pelan.

Seohyun berdiri dari kursi dan menatap punggung Jonghyun tajam. “Apa kau ingin mengulangi kejadian yang sama seperti dulu?”

Jonghyun tidak menjawab pertanyaan Seohyun. Ia justru mengambil remote televisi di atas lemari dan menghidupkannya.

Seohyun berdecak kesal melihat reaksi kakaknya. Seohyun tahu betul bahwa kakaknya memiliki perasaan khusus kepada Yoona. Namun ia begitu kesal karena lelaki itu terlihat sama sekali tidak berusaha untuk memperbaiki keadaan. Hal ini hampir sama dengan masalah yang menimpa kakaknya dengan Tiffany empat tahun yang lalu. Ketika Tiffany harus pergi ke Paris karena pekerjaan orang tuanya tepat saat Jonghyun mengalami kecelakaan. Dan saat itu, Jonghyun sama sekali tidak berusaha menghubunginya. Ia sama sekali tidak berusaha mempertahankan hubungannya dengan Tiffany dan pasrah akan keadaan yang menimpanya. Dan Seohyun benci itu. Ia benci ketika melihat kakaknya menjadi lemah seperti itu.

Tok – tok – tok

Suara ketukan pintu memecahkan kesunyian diantara dua kakak beradik itu. Seohyun menoleh ke arah pintu rumah. Sebelum ia sempat bergerak, Jonghyun telah lebih dulu berjalan untuk membukakan pintu.

“Apa Seohyun ada di sini?” suara khawatir itu terdengar tepat setelah Jonghyun membuka pintu rumahnya.

“Yong oppa?” terka Seohyun dari dalam rumah. Gadis itu segera berjalan ke depan untuk memastikan tebakannya.

“Hyun, kenapa kau pergi dari Rumah Sakit tanpa pesan? Aku hampir mati cemas mencarimu” ucap Yonghwa tepat ketika ia melihat sosok Seohyun di balik punggung Jonghyun.Tiga puluh menit yang lalu, ketika Yonghwa pergi keluar Rumah Sakit untuk sebuah keperluan, Yonghwa mendapatkan kabar dari seorang suster bahwa Seohyun tiba-tiba tidak ditemukan di dalam kamar rawatnya. Dan itu membuat Yonghwa kalut seketika. Ia bahkan sempat memarahi seorang suster karena tidak becus dalam mengurus pasien. Ketika itu yang terlintas di benaknya bahwa mungkin Seohyun pergi ke apartemen Jonghyun, dan untunglah ternyata dugaannya benar.

“Maafkan aku, oppa” sesal Seohyun dengan kepala tertunduk. Merasa bersalah karena ia tadi tidak sempat mengabarkan hal ini kepada Yonghwa. Karena setelah Seohyun mengetahui berita tentang Yoona, ia langsung berencana menemui Jonghyun secepatnya.

“Masuklah” tawar Jonghyun. Yonghwa segera mengikuti Jonghyun berjalan masuk ke dalam rumah.

Baru saja Yonghwa memasuki ruang tengah, ia segera menghentikan langkahnya dan memanggil Jonghyun. “Kurasa Seohyun sudah menceritakan masalahnya. Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” tanya Yonghwa

Jonghyun memutar tubuhnya menghadap Yonghwa. “Tidak ada. Aku hanya tinggal menunggu sampai persidangan dimulai” jawabnya pelan.

“Ya! Selama ini kau anggap apa adikku?”. Yonghwa mulai emosi melihat respon tak acuh dari Jonghyun. “Ia mengorbankan dirinya demi perusahaan, demi ayah kami, dan juga demi dirimu. Apa kau belum juga mengerti?”

Jonghyun menatap Yonghwa tajam. “Lalu memang apa yang harus aku lakukan?” balas Jonghyun geram.

Yonghwa mengambil sebuah amplop dari dalam saku jasnya dan meletakkannya di atas lemari. “Ini tiket ke New York untuk lima hari lagi. Jika kau memang tidak ingin melepaskannya, maka pergilah jemput dia sebelum semuanya terlambat”. Yonghwa lalu menoleh ke arah Seohyun yang semenjak tadi berdiri terpaku di sampingnya. “Ayo Hyun, kau harus segera kembali ke Rumah Sakit” ajak Yonghwa.

Yonghwa segera berbalik dan berjalan menjauh. Namun langkahnya terhenti dan ia kembali membalikkan tubuhnya menghadap Jonghyun. “Aku lupa. Bilang pada Yoona, bahwa ayah telah sadar dan beliau memintanya untuk kembali. Semua masalah perusahaan juga telah teratasi. Jadi ia tidak perlu memikirkan masalah itu lagi. Ayah juga sudah bersedia menjalani persidangan sesuai hukum. Dan Yoona tidak ada sangkut pautnya dalam masalah empat tahun yang lalu antara kau dan ayah. Jadi tolong jangan jadikan masalah ini sebagai alasan untuk merusak hubungan kalian berdua”.

-ooo-

Keesokkan harinya. Pukul 11.30 KST @ Heaven Coorp

“Hyung, kau mencariku?” tanya Jungshin sambil menyembulkan kepalanya dari balik pintu ruang kerja Yonghwa.

“Hmm… Masuklah”

Yonghwa segera menyerahkan sebuah map kepada Jungshin begitu lelaki itu duduk di hadapannya. “Apa ini, Hyung?” tanya Jungshin bingung.

“Itu surat-surat kepemilikan rumah dan sebuah resort milik ayahku. Tolong kau urus penjualan semua properti itu”

“Ne? Semua ini mau dijual?” tanya Jungshin tak percaya sambil membuka map dan membolak-balikkan isi di dalamnya.

Yonghwa menggangguk pasti. “Ini jalan terbaik untuk perusahaan kita saat ini. Dan tolong segera kau tolak tawaran bantuan dari Lotte Coorp. Kita sudah tidak membutuhkan bantuan mereka”

“Baik, Hyung. Akan segera ku urus semuanya”

Tiba-tiba terdengar suara dari ponsel milik Jungshin. Jungshin melihat layar ponselnya sekilas kemudian tersenyum kaku kepada Yonghwa. Yonghwa mengerutkan keningnya tidak suka. “Angkat saja. Lain kali kecilkan ringtone handphonemu. Aku bisa tuli lama-lama mendengarnya” protes Yonghwa.

Jungshin segera menjawab panggilan di ponselnya. “Waeyo, chagiya?” jawabnya setengah berbisik sambil menutupi gerakan mulutnya dengan tangan agar Yonghwa tidak mendengarnya.

Kau dimana, oppa? Aku sekarang ada di lobi kantormu

“Kenapa kau tidak mengabarkan akan kesini?”

Surprise!! Aku membawa makan siang untukmu. Cepatlah turun dan kita makan siang bersama

“Arasho. Tunggu aku sebentar”

Jungshin mengakhiri panggilannya dan kembali membenarkan posisi duduknya di hadapan Yonghwa. “Apa ada lagi yang bisa ku bantu, Hyung?” tanya Jungshin basa-basi.

“Tsk! Pergilah dan segera temui tunanganmu” jawab Yonghwa sinis.

Jungshin mengerucutkan bibirnya dan bergumam kesal. “Inilah kenapa pria matang yang belum memiliki pasangan itu menyebalkan”

“Ya! Aku bisa mendengarmu!!” potong Yonghwa cepat.

-ooo-

“Oppaaa…” panggil seorang gadis cantik tepat ketika Jungshin menginjakkan kakinya di lobi perusahaan. Gadis itu tersenyum manis dan berlari kecil menghampiri Jungshin.

“Fanny-ah, kau sudah lama menunggu?”

Gadis itu -Tiffany- menggeleng sambil kembali menunjukkan eye smile-nya. “Lihat, aku baru saja berhasil memasak bulgogi. Ayo kita makan bersama” ajak Tiffany sambil menunjukkan kotak bekal yang ia bawa di depan wajah Jungshin.

“Baiklah. Kebetulan aku belum makan siang. Kajja”

-ooo-

“Apa?? Yoona pindah ke New York?” tanya Tiffany tidak percaya sambil membulatkan matanya.

Jungshin mengangguk membenarkan. Lelaki itu kembali menyumpit bulgogi di hadapannya dan memasukkan ke dalam mulut.

Tiffany terlihat mematung di tempatnya. Ia masih syok dengan semua cerita Jungshin mengenai masalah Yoona dan keluarganya. Terlebih mengenai masalah kecelakaan empat tahun lalu yang menimpa Jonghyun yang ternyata ulah dari ayah Yoona dan juga masalah kepergian Yoona ke New York. Tiffany memang sudah cukup lama tidak menghubungi Yoona, dan Yoona sama sekali tidak menceritakan apapun kepadanya.

“Dan pelaku tabrak lari Jonghyun, apa benar ayah Yoona pelakunya?” tanya Tiffany pelan sambil menerawang jauh.

Jungshin kembali mengangguk dan mengambil satu potong lagi bulgogi di hadapannya. “Ya!!” Tiba-tiba Tiffany memukul tangan Jungshin. Jungshin terlonjak kaget dengan perlakuan tiba-tiba Tiffany.

“Waeyo?” tanya Jungshin bingung

“Kenapa kau masih bisa sesantai ini? Apa kau tidak mencemaskan Yoona?” berang Tiffany

“Tentu saja aku mencemaskannya. Namun memang apa yang bisa ku lakukan saat ini?” jawab Jungshin sambil mengambil kembali bulgogi dan memasukkan cepat ke dalam mulutnya.

Tiffany berdecak dan melirik Jungshin tajam. “Kau tidak bisa diandalkan di saat-saat seperti ini, oppa” gumamnya kesal.

-ooo-

Pukul 13.30 KST @ apartemen Jonghyun

Jonghyun menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia berjalan pelan ke tepi atap sambil mengeratkan mantel kulitnya. Kemudian ia melipat kedua tangannya di atas pagar pembatas sambil memandang lurus jauh ke depan. Sudah hampir dua malam ia tidak bisa tidur. Insomnianya kembali kambuh. Namun kali ini bukan karena pikirannya mengenai keluarganya yang hancur ataupun kecelakaan yang menimpanya empat tahun yang lalu. Kali ini karena gadis itu. Entah kenapa setiap Jonghyun berusaha menutup mata, wajah sedih gadis itu saat terakhir bertemu dengannyalah yang muncul. Dan itu benar-benar menyiksa Jonghyun. Membuatnya tiba-tiba terasa sesak dan sulit bernapas.

Jonghyun mengambil sebuah amplop dari balik mantelnya. Ia menatap amplop itu lama. Apakah ia harus pergi menjemputnya? Bagaimana jika gadis itu tidak menginginkannya? Bagaimana jika gadis itu menolak kehadiran Jonghyun? Mungkin gadis itu memang sengaja pergi untuk menghindarinya. Mungkin gadis itu juga telah membencinya, mengingat betapa ia begitu membeci ayah gadis itu yang merupakan pelaku kasus tabrak larinya. Gadis itu pasti membenci orang yang selama ini mencari ayahnya untuk dijebloskan ke dalam penjara bukan? Lalu untuk apa ia menjemput gadis itu? Mungkin dengan seperti ini, semua pasti akan menjadi lebih baik. Baik untuk dirinya dan juga untuk gadis itu. Gadis itu pasti bisa menata hidupnya dengan lebih baik di sana. Dan berbahagia dengan lelaki lain selain dirinya.

“Konyol” gumam Jonghyun sambil tertawa miris. Konyol jika ia harus menjemputnya dan membuat gadis itu kembali tersakiti dengan semua kenyataan di sini.

“Apanya yang konyol?” suara tiba-tiba dari arah belakang membuat Jonghyun terlonjak kaget.

“Fanny?”

“Lama tak berjumpa” sapa Tiffany sambil berjalan mendekat kemudian ikut melipat tangan di atas pagar pembatas di sebelah Jonghyun. “Apa kabarmu?”.

Jonghyun mengangguk dan bergumam pelan. “Hmmm… baik”

“Baik? Dilihat dari sisi yang mana?” jawab Tiffany sedikit sarkastik.

Jonghyun menoleh ke arah Tiffany dan menaikkan sebelah alisnya. “Apa maksudmu?”

Tiffany memutar tubuhnya dan berdiri berhadapan dengan Jonghyun. “Oppa, apa kau ingin mengulang hal yang sama seperti empat tahun yang lalu?” ucap Tiffany sambil menatap Jonghyun tajam.

“Kau tidak mengerti keadaannya, Fanny” elak Jonghyun

“Aku memang tidak mengerti” potong Tiffany. “Aku memang tidak mengerti masalah mu saat ini. Namun aku mengerti masalah kita empat tahun yang lalu. Ku akui aku memang salah karena harus pergi meninggalkanmu tanpa kabar. Namun itu bukan mauku. Bukan mauku untuk pergi meninggalkanmu saat itu. Akupun berusaha untuk menghubungimu sesampainya di Paris. Namun nomormu tidak bisa dihubungi dan alamat rumahmupun berubah. Dan kau tidak pernah berusaha untuk menghubungiku kan? Tidak pernah berusaha untuk meminta penjelasan kenapa aku pergi atau menjelaskan kecelakaan yang menimpamu. Kau tidak pernah berusaha sedikitpun untuk mempertahankan hubungan kita” Tiffany menghentikan ucapannya dan menghapus dengan kasar air mata yang tiba-tiba mengalir di pipinya. Gadis itu menarik napas panjang untuk menenangkan diri sejenak. “Aku selalu menunggu kabar darimu, asal kau tahu. Namun kau tidak pernah sekalipun menghubungiku. Kau seperti hilang di telan bumi sampai aku kembali ke Korea untuk mencarimu empat tahun kemudian” lanjut Tiffany.

“Oppa, jangan kembali mengulang kesalahan yang sama. Ku mohon, untuk kali ini, perjuangkanlah Yoona. Jangan menyerah. Jangan jadi pengecut yang hanya bisa menerima takdir yang Tuhan berikan kepadamu. Aku sudah mencoba melupakanmu dan berharap kau dapat hidup dengan lebih baik setelah aku pergi. Jadi ku mohon, kali ini, hiduplah dengan baik”

Jonghyun tergugu mendengar semua perkataan Tiffany. Semua yang Tiffany katakan benar. Ia memang pengecut. Ia tidak pernah berusaha merubah takdir yang Tuhan berikan kepadanya. Jonghyun merasa malu dengan dirinya sendiri. Sampai kapan ia ingin menjadi pengecut yang selalu pasrah akan takdir? Sampai kapan ia akan berdiam diri dari seluruh masalah yang menimpanya tanpa ampun? Ia harus bangkit. Ia harus menemui gadis itu. Persetan jika gadis itu tidak ingin kembali ke Korea atau bahkan menolak menemuinya. Setidaknya ia akan datang hanya untuk mengatakan bahwa ia membutuhkannya. Bahwa Jonghyun membutuhkan gadis itu, Im Yoona.

-ooo-

Empat hari kemudian. Pukul 20.00 EST @ apartemen Choi Siwon, Manhattan, New York

Yoona mengambil salah satu mantel bulu paling tebal berwarna beige dari dalam lemari dan memakainya. Kemudian ia juga mengambil topi rajut berwarna senada dengan mantel dan memakainya menutupi hampir sebagian kepalanya. Tidak lupa ia membawa hand gloves dan furry ear muffs jika sewaktu-waktu dibutuhkan mengingat cuaca malam ini melebihi minus delapan derajat celcius.

Yoonapun memanut diri di depan cermin hanya untuk memastikan penampilanya sudah sempurna. Kemudian ia memaksakan seulas senyum di bibir mungilnya. “Lumayan. Kau memang sempurna, Im Yoona” gumam Yoona masih sambil mencoba mengatur senyumnya agar sampai kepada taraf paling wajar mengingat hampir satu minggu lebih ia tidak pernah mencoba tersenyum. Sepertinya otot-otot pipinya sudah hampir spastik karena tidak pernah ia gunakan selama ini. Setelah selesai dengan persiapannya, Yoonapun berjalan keluar kamar.

Malam ini ia berencana pergi ke Central Park atau mungkin hanya berjalan-jalan menikmati keindahan malam kota Manhattan untuk merayakan pesta lajangnya seorang diri, mengingat besok siang Siwon akan datang ke New York dan lusa mereka akan melangsungkan pernikahan. Dan Yoona tidak ingin menghabiskan malam terakhirnya sebagai lajang hanya dengan berdiam diri di dalam apartemen.

“Nona muda, anda mau kemana? Cuaca di luar sangat dingin. Saya akan meminta Tuan Chris untuk mengantarmu” tawar seorang pelayan.

“Tidak perlu. Aku ingin keluar sendiri. Hanya sebentar. Aku janji akan pulang sebelum jam 12 malam”

“Tapi Nona”

“Tidak apa-apa” potong Yoona cepat. “Jika Siwon menelpon dan menanyakan keadaanku, bilang saja kalau aku sudah tidur. Ok?” pinta Yoona sambil mengambil sepasang sepatu boot dari rak sepatu.

“Aku pegi dulu” ucap Yoona setelah selesai memakai sepatu kemudian ia melangkah pergi ke luar rumah diikuti oleh pandangan cemas dari pelayan di apartemennya.

-ooo-

Benar saja, ternyata musim dingin di Amerika jauh lebih mengerikan dari pada di Korea. Semenjak Yoona lahir, baru kali ini Yoona merasakan musin dingin yang sangat dingin. Yoona mengeratkan mantelnya untuk sedikit menghadang hawa dingin yang menerobos masuk ke dalam pori-pori kulitnya. Ia menghirup napas panjang dan menghembuskannya pelan untuk memberikan cukup oksigen bagi paru-parunya yang terasa hampir kolaps.

Yoona berusaha mempercepat laju langkahnya. Namun tumpukan salju yang menebal membuatnya kesulitan melangkah. Ditambah lagi persendian kakinya yang terasa membeku dan sulit digerakkan. Yoona melilitkan scraft yang telah tergantung di lehernya menjadi berlapis-lapis hingga tidak ada lagi ujung-ujung scraft yang menggantung. Sepertinya yang kali ini cukup efektif untuk memberikan rasa hangat di sekitar leher dan mulutnya.

Namun tiba-tiba saja Yoona kehilangan keseimbangan. Kakinya terasa kaku dan tidak bisa digerakkan. Akhirnya Yoona jatuh terduduk di tumpukan salju. “Appo!” rengek Yoona dalam bahasa Korea.

“Gwenchanna?” Seseorang mengulurkan tangannya ke hadapan Yoona. Yoona mendongak untuk melihat orang baik hati yang telah mengulurkan bantuan untuknya. Namun, begitu Yoona berhasil melihat wajah orang itu, jantung Yoona mencelos dan seakan berhenti berdetak. Yoona membelalakkan matanya tidak percaya.

“Lee Jong Hyun?”

-ooo-

Halo readers, maaf ya lagi-lagi aku telat nge-post FF ini. Seminggu kemarin WordPress ku ga bisa dibuka. Aku juga bingung kenapa. Aku ga bisa nge-post sama ga bisa buka Stats aku. Aku bener-bener dibikin pusing seminggu itu… T.T Jadi mohon pengertiannya ya.

Part selanjutnya adalah Part terakhir dari FF ini dan akan aku usahakan nge-post sebelum masuk bulan puasa. Ok deh. Terimakasih banyak dan Selamat membaca…🙂

78 thoughts on “Crush [Part 14]

  1. Baca ff ini sks hehe
    kyaa akhirnya stlh disadarin sna sini (?). Jonghyun nyusul yoona jg. dan mdh2an yoona nya ga bkn jonghyun skit hati dulu😀
    Pnsran sma lnjutannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s