Crush [Part 13]

crush cover

Judul: Crush – part 13

Main Cast:
Lee Jonghyun CNBlue sebagai Lee Jonghyun
Im Yoona SNSD sebagai Im Yoona

Other Cast:
Jung Yonghwa CNBlue sebagai Im Yonghwa
Seo Joohyun SNSD sebagai Lee Seohyun
Lee Jungshin CNBlue sebagai Lee Jungshin
Choi Siwon Super Junior sebagai Choi Siwon
Im Seolong (OCs)

Rating: PG-15

Lenght: Chaptered

Genre: Romance, Angst, AU

Prolog – Part 1 – Part 2 – Part 3 – Part 4 – Part 5 – Part 6 – Part 7 – Part 8 – Part 9 – Part 10 – Part 11– Part 12

“Hyung, ayahmu lah yang membawa mobil itu pada malam kejadian”

Bruuuukkk

Seluruh nasi bekal yang berada di genggaman Yoona jatuh berserakan di lantai. Tangannya tiba-tiba terasa lemah tak bertenaga. Begitu pula dengan seluruh bagian lain tubuhnya. Kepalanya berdenyut hebat, jantungnya terasa hampir berhenti tiba-tiba, dan napasnya terasa begitu sesak. Yoona bahkan harus berpegang pada dinding terdekat untuk meyakinkan dirinya tidak akan terjatuh.

Pikirannya kosong. Semua terlalu tiba-tiba. Kenyataan yang baru saja diterimanya terlalu tiba-tiba. Bagai bongkahan batu besar yang tiba-tiba saja menghantam tubuhnya dan menghempaskannya sejauh bermil-mil. Yoona sama sekali tidak siap akan kenyataan menyakitkan ini. Tidak! Ia bahkan tidak pernah terbesit sedikitpun akan kemungkinan seperti ini. Bagaimana mungkin ini semua terjadi? Bagaimana mungkin kebetulan segila ini bisa terjadi kepadanya?

Seketika Yoona teringat dengan lelaki itu. Ia harus memastikannya pada lelaki itu bahwa semua ini pasti tidak benar. Pasti ada kesalahan saat penyelidikan berlangsung. Yoona harus menemui lelaki itu sekarang. Dan dengan langkah terhuyung, Yoona menyusuri lorong kantor yang dengan seketika terasa begitu panjang dan menyesakkan.

-ooo-

Yoona berlari menaiki tangga ke arah lantai enam apartemen-nya. Ia melangkahi dua anak tangga sekaligus untuk mempercepat langkahnya. Napasnya tersengal dan paru-parunya seperti kolaps kehabisan udara karena bekerja begitu keras. Tak henti-hentinya ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua pasti tidak benar. Ia tidak akan percaya jika tidak mendengarnya langsung dari lelaki itu.

Yoona mengetuk pintu bercat putih di hadapannya tidak sabar. Namun tidak ada tanggapan bahkan tanda-tanda bahwa ada orang di dalam sana. Yoonapun meraih engsel pintu dan mencoba membukanya. Ternyata pintu tidak terkunci. Yoona mencoba mengintip keadaan di dalam rumah semi permanen itu dari celah pintu.

Di tengah ruangan, lebih tepatnya di meja makan dekat dapur, tengah duduk tenang lelaki itu –Lee Jonghyun- yang terlihat tengah membaca koran dan tidak sedikitpun terganggu dengan kegaduhan yang Yoona buat beberapa saat tadi. Dengan sedikit ragu, Yoona melangkah masuk dan kemudian berdiri beberapa meter di depan Jonghyun.

Jonghyun masih menatap koran di depannya dan sama sekali tak mengacuhkan Yoona yang jelas-jelas sudah berdiri di hadapannya. Yoona melirik lelaki itu dari sudut matanya kemudian menggigit bibir bawahnya ragu. Begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan sampai-sampai ia tidak tahu harus memulainya dari mana. “Aku ingin bicara” Yoona berkata dengan pelan.

Lelaki itu sama sekali tidak merespon perkataan Yoona. Seolah-olah Yoona bagaikan benda tak kasat mata baginya. Ia hanya mematung di tempatnya dan tak bergerak seinci-pun semenjak Yoona memasuki ruangan ini. Yoona menghela napas dalam. “Oppa, ada yang ingin aku bicarakan” ulang Yoona masih sama pelannya.

“Pergilah. Tolong tinggalkan aku sendiri” Jonghyun menjawab tanpa menatap Yoona. Suaranya terdengar berat dan lemah.

Yoona menatap Jonghyun nanar. Jadi seperti inilah reaksi yang Jonghyun perlihatkan. Melihat reaksi Jonghyun, Yoona yakin bahwa lelaki itu telah menerima berita tersebut, bahwa semua berita itu jugalah nyata. Ternyata benar bahwa ayahnya-lah pelaku tabrak lari yang menimpa Jonghyun. Ternyata ayahnya-lah yang telah menghancurkan kehidupan Jonghyun. Ternyata ayahnya-lah orang yang selama ini Jonghyun cari.

Yoona menarik napas panjang. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak dan terlalu berat bahkan hanya untuk memasukkan beberapa hirup oksigen ke dalam tubuhnya.

“Mianhe, oppa” ucap Yoona lirih. Entah apa yang mendorongnya untuk berkata seperti itu. Tapi bagaimanapun, hanya itu yang bisa Yoona lakukan sekarang. Ia hanya dapat meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat oleh ayah kandungnya. Yoona merasa malu sekaligus bersalah kepada lelaki itu.

“Sebenarnya aku masih tidak percaya dengan semua ini. Namun aku mewakili ayahku, meminta maaf atas apa yang sudah terjadi. Aku benar-benar minta maaf” Ulang Yoona kembali. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam sambil terus mengucapkan kata maaf dari bibirnya yang mungkin tidak dapat terdengar oleh Jonghyun. Walaupun Yoona tahu, beribu kata maaf-pun yang keluar dari bibirnya, tidak akan mampu mengubah semua yang telah terjadi.

“Cukup! Pergilah! Tolong pergilah!”. Yoona mengangkat wajahnya begitu mendengar suara serak Jonghyun. Nada suara lelaki itu lebih keras dari sebelumnya. Lelaki itu menatap lekat Yoona tepat ke manik matanya. Tatapannya terasa menusuk dan begitu menyesakkan. Yoona dapat melihat kemarahan dan kesedihan yang bercampur pada mata hitam itu.

Melihat Jonghyun menatapnya seperti itu, hati Yoona seakan tercabik-cabik menjadi kepingan-kepingan kecil tak berbentuk. Begitu sakit. Begitu perih. Dan kini Yoona sadar, ia tidak seharusnya berada di dekat lelaki ini lagi. Keberadaannya hanya makin membuat Jonghyun tersiksa karena kejadian 4 tahun yang lalu itu. Yoona sendiri juga merasa tidak pantas jika terus berada di dekat Jonghyun. Ia tidak punya muka untuk terus berada di sini.

Yoona mengangguk lemah menyetujui permintaan lelaki itu. “Arasho. Aku akan pergi. Jaga dirimu, oppa. Sekali lagi aku meminta maaf”. Dengan satu gerakan, Yoona berbalik dan pergi meninggalkan lelaki itu tanpa menoleh kembali ke belakang. Jonghyun butuh sendiri, maka ia akan pergi untuk saat ini atau … mungkin untuk selamanya?

-ooo-

“Aku ingin bicara”. Akhirnya gadis itu datang dan berdiri tepat di depan Jonghyun. Jonghyun dapat mendengar deru napasnya yang tidak beraturan. Mungkin gadis itu berlari sekuat tenaga ke sini setelah mendengar berita itu. Dan Jonghyun tahu, cepat atau lambat, gadis itu pasti akan menemuinya untuk meminta penjelasan.

“Oppa, ada yang ingin aku bicarakan” ulang gadis itu setelah tidak mendapatkan respon dari Jonghyun. Jonghyun memejamkan matanya sesaat dan menarik napas panjang untuk mengontrol seluruh organ tubuhnya yang semenjak tadi pagi bagaikan mati rasa.

“Pergilah. Tolong tinggalkan aku sendiri” ucap Jonghyun tanpa menatap Yoona. Suaranya terdengar berat dan lemah. Jonghyun sendiri tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Berita tentang penyelidikan yang baru saja Kyuhyun kabarkan tadi pagi terasa bagaikan mimpi baginya. Ia sendiri bahkan tidak tahu respon apa yang harus ia berikan. Semuanya begitu tiba-tiba. Dan ia tidak pernah menyangka bahwa ayah dari gadis itulah pelakunya. Gadis yang selama ini begitu ingin ia lindungi, gadis yang selama ini –Jonghyun akui- telah banyak mewarnai hari-harinya, dan gadis yang selama ini begitu berarti baginya.

Pikirannya kosong. Ia bahkan tidak dapat melakukan apapun semenjak tadi pagi selain mencoba bernapas dengan normal. Ia hanya duduk diam di bangku meja makan ini selama 4 jam terakhir tanpa melakukan apapun. Hanya diam termenung tanpa tau apa yang benar-benar ia pikirkan dan apa yang akan ia lakukan.

“Sebenarnya aku masih tidak percaya dengan semua ini. Namun aku mewakili ayahku, meminta maaf atas apa yang sudah terjadi. Aku benar-benar minta maaf”. Jonghyun mengangkat wajahnya dan melihat gadis itu tengah berbicara dengan kepala tertunduk. Seketika emosi Jonghyun meluap. Apa yang dikatakan gadis itu? Untuk apa ia meminta maaf atas kejahatan yang tidak pernah ia perbuat?

“Cukup! Pergilah! Tolong pergilah!” ucap Jonghyun tegas. Ia tidak mau lagi mendengar gadis itu menyalahkan dirinya sendiri. Ia sudah cukup gila dengan semua kejadian ini dan ia tidak ingin bertambah gila melihat gadis itu terpuruk di depan matanya. Ia butuh sendiri saat ini. Ia butuh menenangkan diri dan memikirkan jalan terbaik untuk masalah ini.

Gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Jonghyun nanar. Mata coklatnya itu terlihat sendu dan berkaca-kaca. Pemandangan itu terasa bagaikan pukulan telak bagi Jonghyun tepat ke ulu hatinya. Dan demi apapun, ia tidak ingin melihat gadis itu seperti ini.

Gadis itu mengangguk lemah menyetujui permintaan Jonghyun. “Arasho. Aku akan pergi. Jaga dirimu, oppa. Sekali lagi aku meminta maaf” ucapnya pelan. Kemudian gadis itu berbalik dan berjalan menjauh meninggalkan Jonghyun sendiri.

Jonghyun mengusap wajahnya pelan. Kemudian ia memejamkan matanya yang terasa begitu berat. Mengingat semua kejadian ini, membuat Jonghyun mengeluarkan tawa parau dari balik bibir pucatnya. Ini gila! Semua benar-benar gila! Semua kebetulan ini benar-benar gila! Dari sekian banyak manusia di dunia, kenapa harus ayah dari gadis itu pelakunya? Lihatlah betapa Tuhan telah merancang skenario kehidupannya dengan sangat apik.

-ooo-

Pukul 14.00 KST @ Kamar rawat inap Seohyun Lt. 2 – Seoul Hospital

“Kau tidak istirahat, Hyun?”. Yonghwa menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar rawat inap Seohyun. Lelaki itu menyunggingkan senyum cerah yang memperlihatkan beberapa buah gigi gingsulnya yang justru makin mempermanis senyumannya. Seohyun tersenyum melihat lelaki itu. “Masuklah, oppa” ucapnya sambil meletakkan buku yang tadi tengah dibacanya di atas meja nakas di samping ranjang.

“Coba tebak, apa yang aku bawa untukmu?” tanya Yonghwa masih pada posisinya semula. Lelaki itu terlihat tengah menyembunyikan sesuatu di balik pintu. Seohyun menatap Yonghwa curiga kemudian kembali tersenyum. “Apa kau membawakan ku goguma?” tanyanya penuh harap dengan mata berbinar cerah.

Yonghwa terkekeh mendengar pertanyaan Seohyun. “Apa hanya ada goguma di otakmu itu, Hyun?”. Seohyun mengerucutkan bibirnya kecewa. “Kalau bukan goguma, lebih baik kau pergi saja” rajuk Seohyun. Yonghwa kembali terkekeh di tempatnya. Gadis itu terlihat begitu menggemaskan jika sedang merajuk seperti itu.

“Tadaaa… Lihat apa yang ku bawakan untukmu” Yonghwa mengeluarkan benda yang sejak tadi ia sembunyikan di balik pintu. Seohyun terbelalak melihat benda itu. Sebuah gitar tua yang begitu Seohyun kenal. “Gitarku!!” pekik Seohyun senang. Wajahnya kembali berbinar lebih cerah dari sebelumnya.

Yonghwa berjalan pelan menghampiri Seohyun. Sedikit bangga akan dirinya yang mampu membuat gadis ini terlihat begitu senang sekarang. “Dari mana kau dapatkan gitarku?” tanya Seohyun tanpa melepaskan pandangannya dari gitar yang tengah dibawa Yonghwa.

“Hmmm… Rahasia” jawab Yonghwa sambil mengerling nakal. Yonghwa kemudian duduk di kursi di samping ranjang Seohyun. Seohyun memutar bola matanya dan mendengus dramatis membalas perkataan Yonghwa. Yonghwa kembali terkekeh melihat Seohyun. “Hyun, lihat! Lubang hidung mu membesar”.

“Berikan padaku. Aku rindu ingin memainkannya”. Tanpa melepaskan pandangannya dari gitar, Seohyun mengadahkan kedua tangannya kehadapan Yonghwa. Yonghwa menggeleng pelan sambil menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. “Andwe! Lihat, tanganmu masih diinfus. Kau tidak boleh memainkan ini”

Seohyun mengernyitkan dahi sambil memasang wajah masam. Padahal ia ingin sekali memainkan gitar kesayangannya itu. Lalu untuk apa gitar itu dibawa jika tidak bisa ia mainkan?

“Biar aku yang memainkannya untukmu” Yonghwa berkata seakan bisa membaca pikiran Seohyun. Seohyun mengerjapkan matanya beberapa kali. “Kau bisa bermain gitar, oppa?”

“Yah! Kau merendahkanku? Aku ini pro!” jawab Yonghwa bangga. Lelaki itupun membenarkan posisi duduknya dan bersiap memetik gitar yang telah berada di pangkuannya. “Ini lagu ciptaanku. Kau dengarkan baik-baik”. Yonghwa berdeham sebelum memulai pertunjukkan kecilnya untuk gadis istimewa di hadapannya ini.

When i look at you my face gets red
When i see you my heart goes thump thump
I talk with shyness like a kid
When i look at you i just smile out of nowhere
Like a fool I keep doing that
I think love came to me

You’re the president of my heart
You’re my chests’ star embroider
I’m Genie for you girl
You make me stop breathing
Whatever you want
Because i love you
There’s no reason for my love you know

You’re a darling
You’re more beautiful than the stars above in the night sky
The shining thing deep inside my heart
My own love light

I love you darling
Give me light next to me whenever
Every night i look at you
And you’re beautiful even when i look at you
You’re my love light

Seohyun memejamkan matanya menikmati alunan nada indah yang Yonghwa ciptakan. Kepalanyapun bergerak mengikuti irama tanpa ia perintah. Dan tanpa sadar, garis senyum telah terukir di bibir mungilnya. Lagu ini sangat indah. Dan Seohyun begitu menyukainya.

When i see you i feel like im up on the clouds
It may be immature but i keep doing this
I tihnk love came to me

You’re a darling
You’re more beautiful than the stars above in the night sky
The shining thing deep inside my heart
My very own love light

I love you darling
Give me light next to me whenever
Every night i look at you
And you’re beautiful even when i look at you
You’re my love light

You’re lovely
You’re more blinding than the sunlight up in that sky
You shine the dark places inside my heart
My own love light

I love you lovely
Even if i close my eyes i see you
Looking at you like this
You’re still blinding even when i see you
You’re my love light
(CNBLUE – Love Light)

Seohyun membuka matanya begitu lagu itu selesai dibawakan dengan sempurna oleh Yonghwa. Gadis itu bertepuk tangan dengan begitu antusias. “Kau suka lagunya?” tanya Yonghwa. Seohyun mengangguk cepat. “Suka. Bagus sekali. Aku tidak menyangka oppa bisa menciptakan sebuah lagu” ucapnya sambil menatap Yonghwa dengan mata bulatnya.

Yonghwa tersenyum mendengar pujian Seohyun. “Kau tahu lagu itu aku ciptakan untuk siapa?”

Seohyun memiringkan kepalanya sambil menatap Yonghwa bingung. “Untuk siapa?” tanyanya lugu.

Yonghwa mengerutkan keningnya seolah-olah sedang berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Seohyun. “Hmmm… Dua bulan yang lalu aku menciptakan lagu ini. Inspirasi dari lagu ini adalah seorang gadis yang saat ini tengah duduk menatapku dengan mata bulatnya yang indah dan lubang hidungnya yang membesar” jawab Yonghwa yang diakhiri dengan kekehan kecil.

Seohyun mengalihkan tatapannya dari wajah Yonghwa dan menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga. Seketika saja wajahnya terasa panas dan mungkin saat ini telah berubah warna semerah kepiting rebus. Perkataan Yonghwa barusan benar-benar membuat jantungnya terasa ingin meledak saat ini. Ia tidak mengira lelaki ini sampai menciptakan sebuah lagu khusus untuk dirinya. Seohyun merasa tersanjung dengan apa yang telah diperbuat lelaki itu.

“Terimakasih, Yong oppa” ucap Seohyun pelan dengan wajah merah yang tengah tertunduk malu. Yonghwa mengacak gemas puncak kepala Seohyun. “Jika kau ingin berterimakasih, maka cepatlah sembuh”

Seohyun kembali menatap Yonghwa setelah mampu mengontrol detak jantungnya. “Kau sudah makan, oppa?” tanyanya tiba-tiba. Ia ingat beberapa hari ini Yonghwa begitu keras bekerja sampai-sampai lupa makan dan kurang istirahat.

Yonghwa menggeleng. “Aku akan makan sebentar lagi” ucapnya ringan. Seohyun mengerutkan keningnya tidak suka. “Kau harus makan teratur dan istirahat yang cukup, oppa. Lihatlah, kau semakin kurus” ucapnya cemas.

Seohyun menyingkap poni yang menutupi sebagian dahi Yonghwa. Yonghwa terkejut dengan tindakan Seohyun yang begitu tiba-tiba. Namun gadis itu terlihat tidak peduli dengan keterkejutan yang Yonghwa perlihatkan. Ia justru menatap dalam mata Yonghwa dengan mata hitamnya, yang membuat Yonghwa hampir saja lupa cara bernapas. “Lihatlah. Kantung matamu menghitam, oppa”

Yonghwa berdeham dan segera meraih tangan Seohyun yang hendak menyentuh kantung matanya. Sebelum ia benar-benar lupa caranya bernapas dan sebelum jantungnya berhenti bekerja secara tiba-tiba, ia harus segera menghentikan gadis ini. “Tenang saja, aku akan menjaga kesehatanku. Kau tidak perlu khawatir” janji Yonghwa sambil menepuk punggung tangan Seohyun untuk meyakinkan gadis itu.

Yonghwa mengambil gitar dan menaruhnya kembali ke dalam case. Namun gerakannya berhenti tiba-tiba begitu mengingat sesuatu. “Ah Hyun, aku lupa memberitahumu. Kemarin kau sudah aku masukkan ke dalam daftar penerima transplantasi liver. Jika suatu saat Rumah Sakit mendapatkan donor yang tepat untukmu, maka kau harus bersiap untuk melakukan operasi” terang Yonghwa.

Seohyun terdiam sesaat kemudian menghela napas panjang. “Oppa” ucapnya pelan. “Aku tidak ingin dioperasi”. Yonghwa kembali menghentikan kegiatannya dan menatap Seohyun penuh tanya. “Kenapa?”

“Aku mengerti kondisimu saat ini. Yang terpenting saat ini adalah perusahaan dan ayahmu yang sampai sekarang belum sadar. Dahulukanlah mereka. Aku tahu biaya operasiku tidaklah sedikit. Jadi tolong, jangan membebani dirimu sendiri, oppa”

Yonghwa menatap Seohyun sambil menghela napas panjang. “Aku akan mengatasi semuanya, Hyun. Kau tetap harus dioperasi, ayahku juga akan menjalankan operasi, dan aku juga akan memulihkan kembali perusahaan. Aku yakin aku bisa melakukannya semuanya. Yang perlu kau lakukan sekarang adalah sembuh. Maka itu akan sangat membantuku”.

Seohyun menggeleng lemah. “Biarkan aku kembali bekerja dan mengumpulkan uang untuk membiayai operasiku sendiri” pintanya.

“Ani! Aku tidak setuju. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi” potong Yonghwa cepat. Ia tidak mungkin membiarkan Seohyun kembali bekerja dengan kondisi tubuhnya yang seperti itu. Itu tidak akan terjadi. Ia akan tetap membiayai operasi Seohyun bahkan jika ia harus bekerja siang-malam tanpa henti.

-ooo-

Ruang rawat inap Im Seolong Lt.1 @ Seoul Hospital

Bunyi teratur dari mesin kardiograf memenuhi seluruh sudut ruangan ini. Yoona menatap sendu ayahnya yang saat ini terbaring tidak sadarkan diri di ranjang. Sudah hampir satu minggu semenjak kejadian ayahnya kolaps di ruang rapat. Dan sampai hari ini, ayahnya belum juga sadarkan diri.

Melihat wajah ayahnya itu, seketika ia teringat akan Jonghyun. Teringat bagaimana semua usaha Jonghyun untuk menemukan ayahnya selama ini, teringat bagaimana lelaki itu begitu membenci pelaku tabrak lari yang ternyata merupakan ayah kandung Yoona. Yoona menghela napas untuk mengatur emosinya yang tiba-tiba saja meluap. Ia mengadahkan kepala untuk menahan cairan bening yang tiba-tiba saja ingin meluncur dari sudut matanya.

Yoona kemudian meraih tangan ayahnya dengan tangannya yang bergetar. Ia menggenggam erat tangan ayahnya yang terasa dingin. “Appa, kenapa kau melakukan semua ini?” ucap Yoona lirih. Ia kembali menatap wajah lelaki tua di depannya itu. Jika ingin jujur, Yoona merasa kesal. Kesal karena ayahnya telah mencampakkan ibunya, kesal karena ayahnya lebih mementingkan seorang wanita pengganggu dari pada dirinya, dan kesal karena ternyata ayahnya telah melakukan kejahatan itu. Namun, jika kembali melihat wajah ayahnya saat ini, Yoona merasa lemah. Wajah itu telah dihiasi keriput halus di beberapa bagian, terlihat begitu lelah. Beberapa helai rambutnyapun telah memutih yang menandakan usianya telah menginjak lebih dari setengah abad, ditambah kondisinya yang masih belum juga sadarkan diri. Bagaimanapun juga, lelaki ini adalah ayah kandungnya. Di dalam tubuh Yoona, mengalir darah lelaki ini. Sebesar apapun rasa bencinya kepada lelaki ini, Yoona tidak bisa mengelak garis keturunan yang telah mengikatnya itu.

Ia kembali teringat akan pembicaraannya dengan dokter yang menangani ayahnya selama ini beberapa menit yang lalu.
Kondisi Tuan Im belum mengalami kemajuan sejak beberapa hari ini. Kondisi jantungnyapun makin melemah dari hari ke hari. Jika sampai 48 jam dari sekarang beliau belum terlihat mengalami kemajuan, maka kami menyarankan agar beliau segera melakukan operasi pemasangan alat pacu jantung untuk mengurangi segala resiko yang akan terjadi. Dan setelah itu, jika memang dibutuhkan, Tuan Im mungkin juga akan menjalani operasi transplantasi jantung. Tentunya setelah mendapatkan pendonor yang tepat bagi beliau

Yoona kembali menghela napas berat. Apa yang harus ia perbuat sekarang? Kenapa semua masalah seakan datang bertubi-tubi menghantamnya tanpa ampun? Ayahnya harus segera dioperasi, namun ia tahu, kondisi keluarga dan perusahaannya tidak memungkinkan saat ini. Yoona juga tidak bisa berbuat banyak. Tiba-tiba ia merasa seperti orang paling tidak berguna di dunia.

Akhirnya Yoona bangkit dari kursi. Ia akan keluar mencari udara segar. Berada di sini hanya makin membuatnya sesak napas. Melihat kondisi ayahnya dan mengingat semua masalah yang telah menimpanya hanya makin membuatnya semakin frustasi. Yoona juga butuh waktu untuk menenangkan diri.

-ooo-

Yoona berjalan pelan menyusuri koridor Rumah Sakit yang terlihat lenggang dari biasanya. Hanya ada beberapa suster yang terlihat lalu lalang sambil berbincang ringan dengan teman sejawatnya dan beberapa suster yang membantu mendorong kursi roda pasien.

Yoona menoleh ke samping kiri. Di sana terbentang luas taman Rumah Sakit yang terlihat sejuk dan indah. Yoona berencana menghabiskan waktu di taman itu. Hanya untuk sekedar memenuhi paru-parunya dengan oksigen dan merelaks-kan seluruh organ-organ tubuhnya yang bekerja terlalu keras hari ini.

Belum sempat Yoona melangkah lebih jauh, ia menangkap sosok familiar yang sedang berlari ke arahnya. Yoona menyipitkan mata untuk melihat lebih fokus pada sosok itu.

Lelaki itu akhirnya tiba di depan Yoona. “Dimana Yonghwa hyung?” tanya lelaki itu dengan napas tak beraturan. Yoona menyernyitkan dahi bingung. “Apa ada Jungshin oppa? Kenapa kau berlarian seperti itu?”

Jungshin mengatur napasnya sebelum menjawab pertanyaan Yoona. “Aku menghubunginya dari tadi tapi ponselnya tidak aktif”. Yoona makin menatap Jungshin penuh tanya. “Memang ada apa, oppa? Apa sesuatu telah terjadi?” tanyanya was-was.

Jungshin menatap Yoona dan mengangguk pelan. “Perusahaan GoChun Ltd. ingin membatalkan kerjasama dengan perusahaan kita”

-ooo-

Pukul 21.00 KST

Yoona menengadahkan wajahnya menatap langit malam yang terlihat gelap tak berbintang dan masih terus mencoba untuk terus bernapas dengan tenang dan teratur. Dinginnya udara malam pada akhir musim gugur ini tidak menghalangi Yoona untuk duduk berdiam diri di halte favorite-nya. Sudah hampir satu jam Yoona duduk sendiri di sini namun tidak ada satu bintangpun yang terlihat sudi menemani Yoona.

Yoona mendesah berat. Rasanya semua masalah menumpuk menjadi satu di dalam kepalanya dan siap meledak kapanpun. Mulai dari perusahaan keluarganya yang mengalami permasalahan finansial yang semakin menjadi -mengingat beberapa rekan bisnis perusahaan yang membatalkan kerjasama mereka-, ayahnya yang masih belum sadar dan harus segera menjalani operasi, ditambah kasus kelam yang terjadi antara ayahnya dengan Jonghyun empat tahun yang lalu. Semua itu berputar-putar tak henti di dalam kepala Yoona.

Yoona kembali menatap langit gelap di atasnya. Seketika ia teringat akan ibunya yang telah lebih dulu pergi meninggalkannya. Rasa rindu tiba-tiba saja membuncah di dalam dadanya.

“Eomma, apa kabarmu di sana?” Yoona menerawang jauh. “Kau pasti bahagia di sana. Di sana tempat yang damai bukan? Tidak akan ada lagi masalah yang membebanimu”. Yoona menundukkan wajahnya dan menarik napas panjang. Tiba-tiba saja tenggorokannya terasa panas. Seperti ada sebuah bongkahan batu besar yang mengganjal dan membuatnya sulit bernapas.

“Aku merindukanmu, eomma” ucapnya pelan. Sangat pelan sampai hampir seperti sebuah bisikan.

“Eomma mianhe. Izinkan aku menjadi lemah untuk malam ini saja. Setelah itu aku berjanji akan kembali menjadi Yoona yang kuat. Yoona yang selalu kau banggakan”. Yoona menyeka air mata yang tiba-tiba mengalir di kedua pipinya. Suaranya mulai terdengar parau dan isakannya semakin kuat. Rasanya ia tidak bisa lagi menahan semua ini sendirian. Ia ingin mengadu, namun ia tidak memiliki tempat untuk mengadu. Maka untuk malam ini saja, biarkan ia menjadi egois, biarkan ia menjadi manja. Hanya untuk malam ini saja.

Akhirnya, tangisannyapun pecah. Merobek keheningan malam yang terasa begitu menusuk. Yoona menangis keras. Ia tidak peduli pada apapun sekarang. Ia hanya ingin menangis sekeras yang ia bisa. Berharap dengan begitu, semua rasa sesak yang menghimpit dadanya hilang terbawa air mata yang jatuh dari sudut matanya. Walau ia tahu, sekeras apapun ia menangis, semua masalah itu tidak akan selesai dengan sendirinya.

Hanya ada satu jalan yang terpikir oleh Yoona. Jalan yang bisa mengatasi atau setidaknya memperbaiki semua masalah ini. Jalan yang tidak akan menyakiti semua orang. Oppanya, appanya, seluruh karyawan perusahaan, dan juga Lee Jonghyun. Namun Yoona tahu betul, jalan itu hanya akan menyakitinya. Setidaknya hanya dia. Hanya akan ada dia yang terluka, bukan yang lain.

Yoona menyeka air mata dengan punggung tangannya dan menghela napas panjang. Ia kembali menatap langit dan tersenyum lemah. “Eomma, lindungi aku. Aku telah memutuskan akan mengambil jalan itu. Karena itulah yang terbaik untuk semua”.

-ooo-

Keesokkan hari @ Gedung perkantoran Lotte Coorp

“Silahkan Nona, Im. Presdir telah menunggu anda di dalam” ucap seorang sekertaris cantik kepada Yoona. Yoona mengangguk dan mengambil napas panjang sebelum melangkah masuk ke dalam ruangan itu.

Ruangan itu masih sama seperti terakhir kali Yoona datang. Masih terlihat mewah dan elegan dengan dominasi warna silver dan metalik. Yoona melangkah masuk dengan ragu dan berdiri kaku di tengah ruangan.

“Apa kabar, Nona Im? Aku tidak menyangka dapat bertemu lagi denganmu dalam waktu sesingkat ini” sapa seorang lelaki dari balik meja kerjanya.

“Annyeong Haseyo, Tuan Choi” sapa Yoona sopan sambil membungkuk hormat. Lelaki itu bangkit dari meja kerjanya dan berjalan santai ke arah Yoona. “Duduklah” tawarnya begitu ia telah duduk bersilang kaki di atas sofa. Yoona menuruti perkataan Siwon dengan terbata. Ia merapihkan rok lipit-nya sebelum duduk dengan sopan di hadapan lelaki itu.

“Ada yang bisa saya bantu, Nona Im?” tawar Siwon berbasa-basi. Yoona menatap Siwon beberapa saat lalu menelan ludah sebelum angkat bicara. “Aku setuju” ucap Yoona singkat.

Siwon menaikkan sebelah alisnya. “Maksudmu?” tanyanya tak mengerti.

“Aku setuju untuk menikah denganmu”. Yoona berkata dengan tenang. Tidak ada keraguan dari balik suaranya. “Namun kau harus berjanji untuk membantu perusahaan kami” lanjut Yoona.

Siwon memiringkan kepalanya dan menatap Yoona curiga. “Apa aku tidak salah dengar?”

Yoona membalas tatapan Siwon dengan tajam. “Apa kau bisa menepati janjimu?”

Tawa Siwon meledak setelah mendengar ucapan Yoona. “Kau benar-benar wanita yang menarik, Nona Im” ucapnya sambil menyeka sudut matanya yang berair akibat tawanya yang terlalu keras. “Aku pasti akan menepati janjiku. Kau tidak perlu khawatir” lanjutnya menjawab pertanyaan Yoona tadi.

“Namun aku punya satu permintaan lagi” potong Yoona cepat. Siwon mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Yoona. “Bawa aku pergi. Kemanapun itu. Asal bukan di sini, di Korea” ucap Yoona yakin.

Siwon membelalakkan matanya mendengar permintaan Yoona. Namun ia tidak mau ambil pusing dengan alasan gadis itu. Akhirnya ia hanya mengangguk setuju sambil memamerkan senyum andalannya. “Baiklah jika itu maumu. Kita akan menetap di New York”.

-ooo-

Pukul 16.00 KST @ Apartement Yoona

Suara ketukan pintu menyadarkan Yoona dari lamunannya. Suara ketukan itu semakin lama semakin keras dan tidak sabar. Yoona segera berjalan ke depan dan membukakan pintu apartement-nya. Di depan pintunya, berdiri kakaknya Im Yonghwa dengan wajah kusut dan rambut yang tidak tertata dengan rapih lagi. Yoona mengerjapkan matanya beberapa kali melihat Yonghwa. “Ada apa oppa?” tanyanya bingung.

Yonghwa dengan tidak sabar segera masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Yoona yang masih berdiri mematung karena melihat penampilan Yonghwa tadi. Tidak lama kemudian, ia menghampiri Yonghwa yang sudah berdiri di ruang tengah.

Yonghwa menatap Yoona tajam dan menarik napas dalam sebelum bicara. “Apa yang telah kau lakukan, Yoon?” tanya Yonghwa menggantung.

“Maksud oppa?” Yoona balas bertanya bingung.

“Apa yang kau lakukan sehingga Siwon mau membantu perusahaan kita?” tanya Yonghwa tidak sabar dengan nada suara tinggi. Yoona terdiam di tempatnya. Tidak menyangka oppanya akan tahu secepat ini. Namun itu pertanda bahwa Siwon telah menepati janjinya bukan?

“Apa Lotte Corp sudah setuju untuk membantu perusahaan kita?” Yoona balik bertanya.

Yonghwa mengacak rambutnya frustasi. “Bukan itu masalahnya sekarang. Apa yang kau lakukan sehingga pria itu mau membantu kita? Katakan padaku dengan jujur, Yoon!”

Yoona menarik napas dalam dan menghembuskannya dengan tenang. “Kami membuat perjanjian”

Yonghwa menatap Yoona curiga. “Perjanjian? Perjanjian apa?” tanyanya was-was.

“Aku akan menikah dengannya jika ia mau membantu perusahaan kita” jawab Yoona tenang.

“Mwo?” Yonghwa terbelalak mendengar perkataan Yoona. “Dan kau menyetujuinya?” tanyanya frustasi. Yoona mengangguk. Dan Yonghwa benar-benar membatu di tempatnya. Matanya membulat. Ia membuka mulut namun tidak tahu apa yang akan ia ucapkan.

“Kau gila, Yoon!” teriak Yonghwa beberapa saat kemudian setelah mampu mengumpulkan kembali seluruh kesadarannya. “Andwe! Batalkan perjanjianmu itu! Aku tidak setuju!!” kesal Yonghwa.

Yoona menggeleng cepat. “Tidak bisa, oppa. Aku sudah menyetujuinya”

“Batalkan!” potong Yonghwa tidak sabar. “Aku tidak setuju. Sampai kapanpun aku tidak akan setuju!”

“Tolong hargai keputusanku ini, oppa. Ini demi kebaikan semuanya” bela Yoona

Yonghwa menggeleng cepat. “Tidak jika harus mengorbankan dirimu”

“Aku tetap akan melakukannya” ucap Yoona yakin. “Meskipun oppa tidak setuju, aku tetap akan melakukannya”. Yoona menatap tajam mata Yonghwa. Mencoba memberikan keyakinan kepada kakaknya bahwa inilah jalan terbaik yang bisa mereka lakukan saat ini.

Yonghwa mengusap wajahnya lelah. “Aku tidak ingin kau mengorbankan dirimu, Yoon-ah. Aku merasa gagal menjadi seorang kakak yang baik bagimu jika kau melakukan itu” ucap Yonghwa lirih. Emosi yang tadi sempat menguasainya perlahan mulai meredup.

Yoona berjalan mendekati Yonghwa dan menggenggam kedua tangan lelaki itu. “Kau adalah kakak terbaik yang aku miliki. Jangan pernah menganggap bahwa kau gagal. Kau yang terbaik, oppa. Maka dari itu, tolong jaga appa untukku”

“Apa maksudmu?”

Yoona menelan ludah sebelum berbicara. “Besok aku akan berangkat ke New York. Aku dan Siwon akan menetap disana dan tidak akan kembali ke Korea. Jaga dirimu, oppa”

Sekali lagi, Yonghwa dikejutkan oleh berita yang Yoona berikan. Ia menatap Yoona tidak percaya. “Tidak! Aku tidak akan mengizinkan mu” ucapnya sambil berjalan pergi menjauhi Yoona untuk menghentikan pembicaraan konyol ini.

Yoona menahan tangan Yonghwa sebelum lelaki itu pergi terlalu jauh. “Oppa, ini keinginanku. Aku yang meminta Siwon untuk membawaku. Jadi tolong izinkan aku” pintanya. Yoona memang meminta Siwon untuk membawanya pergi dari Korea. Bukan tanpa sebab. Yoona melakukan ini demi lelaki itu. Ia akan mencoba menjauh dan melupakan lelaki itu. Berada di sini hanya makin membuat Jonghyun semakin tersakiti karena kehadiran Yoona. Karena melihat Yoona, sama saja dengan mengingatkan Jonghyun akan kejadian empat tahun yang lalu itu. Dan Yoona tahu, itu pasti sangat berat bagi Jonghyun. Maka demi lelaki itu, Yoona akan pergi menjauh.

-ooo-

Keesokkan harinya. Pukul 08.00 KST @ Incheon Airport

Yoona melirik jam tangannya. Masih ada waktu satu jam lagi sebelum keberangkatannya ke New York tiba. Yoona memandang sekeliling bandara Incheon. Begitu banyak orang yang lalu lalang dengan langkah cepat, larut dalam kesibukannya hari ini. Yoona mencoba merekam dengan baik semua adegan di depan matanya. Mengingat mungkin ini terakhir kalinya ia melihat tanah kelahirannya ini. Karena, mungkin ia tidak akan pernah lagi menginjakkan kakinya ke negara ini.

Yoona berangkat ke New York seorang diri hari ini. Siwon berjanji akan menyusulnya seminggu kemudian dikarenakan jadwal pekerjaannya yang begitu padat dan tidak bisa diubah. Setelah Siwon menyusulnya ke New York, maka mereka akan melangsungkan pernikahan di sana. Hanya sebuah pernikahan sederhana, itu permintaan Yoona.

Yoona memperhatikan orang-orang yang baru saja tiba di bandara ini. Sebenarnya Yoona menunggu seseorang. Ia masih berharap kakaknya akan datang untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Namun sepertinya itu tidak akan terjadi. Kemarin malam kakaknya marah besar dan pulang tanpa pamit dari apartement Yoona. Yoona sudah mencoba menelpon dan mengirimkan pesan singkat, namun tidak ada satupun yang direspon oleh kakaknya. Sebenarnya Yoona sedih jika harus meninggalkan Korea dengan keadaan seperti ini. Namun ia tidak bisa berbuat banyak. Jika kakaknya tidak datang, maka ia akan tetap pergi.

“Penumpang dengan Nomor penerbangan NY 307 tujuan New York, harap segera naik ke dalam pesawat”

Yoona terdiam mendengarkan panggilan infomasi yang menggema di seluruh sudut bandara. Sudah saatnya ia berangkat. Yoonapun bangkit dari kursi dan menarik kopernya menuju bagasi check-in. Baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba seseorang memanggil namanya. Yoona segera berbalik dan menemukan kakaknya tengah berlari menghampiri dirinya.

Yonghwa segera memeluk Yoona tepat ketika ia telah tiba di hadapan Yoona. Yonghwa melepas pelukannya dan menatap Yoona dalam. “Apa kau yakin dengan semua ini?” tanya Yonghwa pelan.

Yoona mengangguk yakin. “Ya, oppa. Terimakasih kau sudah bersedia datang hari ini. Maafkan aku”

Yonghwa terpaku lama menatap Yoona kemudian menggangguk lemah. “Baiklah. Kau tahu apa yang terbaik untukmu, Yoon”

Yoona tersenyum mendengar ucapan Yonghwa. “Titipkan salamku untuk Seohyun dan Jungshin oppa. Maaf karena aku tidak bisa pamit kepada mereka. Aku mendoakan agar operasi Seohyun dapat berhasil. Dan juga, tolong jaga appa. Kabarkan padaku kondisi appa setelah dioperasi nanti dan setelah itu…” Yoona terdiam sesaat sebelum melanjutkan perkataannya. “Tolong oppa sewa pengacara untuk menyelesaikan kasus appa dan Jonghyun. Dan juga, tolong sampaikan maafku kepada Jonghyun oppa”

Yonghwa tidak segera merespon permintaan Yoona, ia justru berkata, “Jika kau tiba-tiba berubah pikiran di sana, segera hubungi aku. Aku akan menjemputmu saat itu juga”

Yoona menggangguk menyetujui permintaan Yonghwa. “Aku harus pergi, oppa” ucap Yoona setelah mendengar panggilan ulang untuk penerbangannya. Yoona memeluk kakaknya sekali lagi sebelum pergi. Yonghwa mengusap puncak kepala Yoona kemudian mengecupnya sayang. “Jaga dirimu baik-baik” bisiknya.

Yoonapun berbalik dan berjalan menjauhi Yonghwa. Air mata yang sedari tadi setengah mati ditahannya akhirnya tumpah membanjiri pipinya. Ia harus terlihat kuat di depan kakaknya. Ia tidak ingin membuat kakaknya khawatir. Bersamaan dengan jatuhnya air mata dari pipinya, Yoona mengucapkan selamat tinggal untuk semua. Selamat tinggal Yonghwa oppa, Selamat tinggal appa, Selamat tinggal Korea, dan Selamat tinggal Lee Jonghyun.

-ooo-

Hallo… Kembali lagi dengan Crush Part 13. selamat membaca dan selamat menikmati. Jangan lupa tinggalkan comment yang membangun untuk memperbaiki kemampuan menulis author ya…🙂

60 thoughts on “Crush [Part 13]

  1. First kah? :O
    Eonnie-yaaa pinter banget buat readers jungkir balik.-.
    Itu gimana reaksi Jonghyun kalo tau Yoona pergi ke New York? Aish..
    Dan… Itu beneran nggak sih Siwon ngebantuin Yoona? Takutnya ntar Yoona diambil tapi dia nggak jadi bantuin.-.
    Aigoo.. YongSeo disini sweet banget *-*
    Masih penasaran sama partnya uri JongYoon .-.
    Oke, ditunggu ya eon chapter 14nya! Kalo bisa asap._.) oke, fighting eonnie-yaaa!’O’)9

    • Wah… Readernya akrobat ya sampe jungkir balik segala…
      Hehehe
      Siwon beneran koq bantu Yoona. Kan udh diceritain di atas klo Siwon udah menawarkan bantuan ke Heaven Coorp. sehingga Yonghwa sampe tau klo Yoona melakukan sesuatu karena Siwon tiba2 bersedia membantu mereka

      • Wohoho.. Iya dong eon.. Abis seru gitu..😄
        Oh, oke, tapi tetep aja dia licik._.
        Aku tungguin ya eon chapter selanjutnya!😄

  2. akhirnya publish juga chapter 13nyaa..
    Itu Jonghyunnya gimana? Udah tau kalo Yoona pergi belum?
    sumpah ini jadi sedih banget pas baca chapter ini..
    author pinter bgt mainin perasaan readernya nih😀
    semoga chapter14 nya bisa cepet publish..
    semangat authoorr..😀

  3. Daebakk,, dtunggu kelanjutannya ♡≈iЎªãª≈♡ thor,,, ‎​ƗƗaϑeeƗƗ…X_X X_X΅( ¬͡͡˛ ¬͡͡”) tp jgn lama2 yahh,, ♏:)ª:*K:)ª:*§:)Ǐ:*♓

  4. nangiiiiissssssssssss. berasa nonton drama :””””
    sedih bgt jonghyun cinta yoona tp dia ga bs mempertahankan yoona. apa dia ga tau yoona pergi. hiks
    siwon jg kenapa sombong bgt sih. mau aja nikah sama org yg ga cinta sama dia.

    yonghwa kasian hiks.
    aduuuuuh gmn nasib jonghyun yoona ini.
    ga mau sad ending😦

    author sebulan loh ini aku nungguin
    lanjut sampai akhir ya. aku pasti nunggu terus karya author

    • Maaf, capslock nya jebol ya??? Yg kayak gini nih makin ngebuat aku males nulis…
      Saya nulis ga dibayar yah. Dan saya msh banyak kerjaan lain selain ini. Jadi tolong hormati dong! Saya sudah meluangkan waktu saya untuk membuat cerita ini.
      Kalau anda keberatan menunggu, ya sudah tidak usah baca karya saya. Saya tidak memaksa anda koq!! Terimakasih atas commentnya

  5. Setelah sekian lama ._. Chapter ini di publish juga😀 ini seru thor.. Aku penasaran sama cerita selanjutnya, disini yg paling menderita kayanya yoona ya -_-” okelah, gaperlu di kritik apa2 karna alur dan kisahnya menarik😉 next !

  6. akhirnya rilis juga nih part 13 setelah menunggu sekian lama ..
    mudah”an aje siwon nepatin janjinya yah ..
    lalu bagaimana ini denhan jonghyun ??
    next part jgn lama” ya author ..

  7. ais,thor mkin pnzran ja nie…!? ah,yoona knp dia mnrima p’jnjian ma siwon ais bkin gereget ja…!? pLeas thor bkin mrka b’satu…!?

  8. waduh thor kenapa makin komplikasi masalahnya ya??hari ga bs nebak endingnya kan klo begini,tapi two thumbs up deh bwt sweet moment yongseo nya..hehe
    semangat terus thor!!!!

    • Sengaja dibuat makin complicated supaya Yoona makin tertekan krn semua permasalahan sehingga ia terpaksa mengambil tawaran Siwon untuk kebaikan semua org…
      Yongseo memang selalu sweet. Ku juga suka sm mereka :3

  9. part 13, finally publish. 🙂
    Kasian sama Jonghyun and Yonna-nya..
    Kelanjutan kasus Jonghyun sama Appa-nya Yoona, apa yg terjadi yah!!
    Lagu Love Light-nya buat keinget lagi sama moment Yongseo in WGM..
    Berharap yg terbaik buat Jonghyun Yoona.. (Hopely)..
    Next part, for author Fithingg…

  10. Sumpah ini ceritanya sedih banget sampai aku nangis loh thor ^^
    Aku harap part selanjutnya lebih panjang
    yang penting jangan lama-lama post part selanjutnya

    • woah… sudah ada 2 reader yg ngaku nangis…
      waduh, padahal aku buatnya buru2 lho. jd feelnya menurutku blm terlalu dapet
      tp syukurlah ternyata pada hanyut sm ceritanya ya…🙂
      semoga proses pembuatan part selanjutnya bs lebih cpt… doakan saja

  11. yeeaahh, akhirnya setelah menunggu lama, muncul juga part 13-nya.
    makin seru nih eon, lanjutannya ditunggu ya eon, hwaiting,🙂

  12. Makin gereget aja thorrr >.<
    Dan sukses bikin aku esmosi ama prilaku Yoona yang mau2nya nyaperin Siwon dan setuju ama perjanjian lama /aku kira masalah itu gak bkal keungkit lagi, ehhh ternyata -.-)
    aaaaandwe Jonghyun mau di kemanain(?)

    Jonghyun maafin appa Yoona, trus susul Yoona ke NY bawa balik lagi sbelum mreka nikahhhhh /ahhh gereget banget thorrr/

    Next chapter thor^^
    (Semangat, gpp lama juga. Asal tetep di lanjut sampe tamat jgn ngegantung =D)

    • hahaha…
      justru masalah itu yg bakal jd masalah lagi. makanya dibuat…:P
      wah, readernya udh punya draft cerita sendiri nih… hahaha…
      ok. mkasih atas pengertiannya ya…😀

  13. akhirnyaaa part 13 muncul jugaa😀
    kasian bgt yoona.. masalah bertubi2, salah paham ama maksud jonghyun..
    siwon tulus ga tuh bantunya?
    ditunggu part selanjutnya.. asap🙂

  14. Br liat part 13 ud publish gr2 tgu klmaan s,hehe.. Jd ngbayangin gmn kl iff ni jd drama & tokoh’y bnr2 mereka pst jd drama dgn bugdet termahal..halah jd ngaco pkk’y crita’y oke bgt bkin yg baca ikt mrsakn

  15. Finally.. part 13 publish jugaaaa..
    Gomawo jeongmal uri author yg kece badaiii bisa bikin ff ini seru bangeeeet!
    Disetiap episodenya ga pernah bikin kecewa deh walaupun emosi dibikin campur aduk sm author ini hihi
    Semoga selalu punya mood dan ide bagus ya untuk lanjutan episodenya ^^

  16. Pgn ktwa gmn mksd’y thor?? Hehe!!
    Kmrn2 tiap hr cek kali ajj ud dpublish tp lm2 bosen jg krn blm jg yah wlaupn lumutan tp ga nyesel de pkk’y baca ini ff,daebak. Smga ttp semangat&dpt ide jg dpt mood yg bgus y thor buat lnjtn ff ini..

  17. daebak… tulisannya rapih banget feelnya dapet. ah~ ternyata yg nabrak jonghyun itu appanya yoona. lho.. yoona ke NY. jonghyun gak tau ya itu. gimana reaksinya klo tau? lanjut

  18. Akhirnya… setelah nunggu lama keluar juga nih part 13. Semoga siwon menyadari klo cinta tidak bisa dipaksakan dan dengan ikhlas mau membantu perusahaan yonghwa, so cinta jongyoon dapat menyatu. Tetep semangat buat nulisnya ya authornim. Ditunggu part 14nya. Fighting!

  19. Maaf ya, thor… Aku baru comment di part ini. Biasa, itu emang kebiasaanku… Dikebut dan baca pada part yang terakhir aku baca. Baru aja tadi malem aku baca FF ini… Eh, tau – tau udah berpart-part, yaudah aku kebut dulu.

    Dan menurut aku FF ini mainin mood aku… Kadang nge-fly kalo ana JongYoon couple, tapi langsung down kalo disitu Yoona, Jonghyun, Yonghwa, ama Seohyun dapet masalah. Aku rasa perjuangan mereka berempat itu berat banget. Mereka punya masalah yang rumit dikehidupan pribadi mereka, dari masalah cinta, keluarga, sampai perusahaan.

    Dan demi apa di part 10 sampai part ini aku sering nangis waktu baca FF ini. Feel nya kerasa banget. Sumpah, thor, kamu telah mempermainkan perasaanku. Hahaha…😀 Thor, aku harap nanti walaupun terpisah JongYoon tetep ada perasaan satu sama lain. Aku pengennya si Yoona happy ending sama Jonghyun.😀

    Terus aku harap author cepet publish ya. Aku liat author terakhir publish part ini tanggal 23 Mei 2013 dan itu menurut aku udah lama. Tapi aku tau kalo author sibuk, karena kalo author masih pelajar bulan Mei sama Juni itu penuh dengan ujian.

    Aku dukung FF ini!! Pokoknya next part harus dipublish !! Dan… JongYoon happy ending!!! Yea…

    Keep writing and FIGHTING!!

  20. Hwaaaaa jinjja Yoona setujuh nikah? dan pergi dri korea? bagaimana dengan Jonghyun? apa mereka bner2 gx akan bersama? Wonppa knp kau jdi jahat gini sih😦
    tpi semoga Yongseo bisa bersama ku terharu saat oppa menyanyikan Love Light itu lgu untuk Seohyun… hwaaaa terharu

  21. Waduh…yoonwon bersatu seneng jg sih…maaf yah…tp yoona sangat dewasa dg mengorbankan dirinya demi kebaikan semua orang terutama jonghyun….lanjut….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s