Crush [Part 11]

crush cover

Judul: Crush – part 11

Main Cast:

Lee Jonghyun CNBlue sebagai Lee Jonghyun

Im Yoona SNSD sebagai Im Yoona

Other Cast:

Jung Yonghwa CNBlue sebagai Im Yonghwa

Seo Joohyun SNSD sebagai Lee Seohyun

Lee Jungshin CNBlue sebagai Lee Jungshin

Rating: PG-15

Lenght: Chaptered

Genre: Romance, Angst, AU

Prolog – Part 1 – Part 2 – Part 3 – Part 4 – Part 5 – Part 6 – Part 7 – Part 8 – Part 9 – Part 10

Sinar matahari pagi menyusup masuk melalui celah jendela kecil disisi ruang makan apartement Yoona. Yoona menyipitkan mata dan berusaha menghalau sinar matahari dengan mengangkat tangan kanan untuk menutupi sebagian wajahnya. Hari ini tidak seperti biasa, matahari bersinar lebih terang dari biasanya padahal kini telah memasuki musim gugur. Salah satu hari tercerah dimusim gugur ini.

Yoona mendesah. Diliriknya jam dinding yang tergantung disisi seberangnya. Sudah pukul 10 pagi dan Yoona benar-benar kehabisan akal untuk apa yang akan dilakukannya. Sudah 3 hari ini Yoona tidak masuk kerja. Ia diberikan izin selama 1 minggu oleh Kim ahjuma untuk beristirahat dan menenangkan diri semenjak peristiwa meninggal ibunya. Yoona tidak menolak. Tentu saja. Keadaannya memang belum membaik seratus persen dan ia butuh istirahat untuk menenangkan dirinya. Mencoba mengumpulkan kembali kepingan-kepingan dirinya yang saat itu hancur tak bersisa. Namun sepertinya meliburkan diri bukanlah ide yang bagus juga. Dengan tidak adanya kegiatan dan aktivitas yang Yoona lakukan, sontak membuatnya mudah sekali kembali teringat akan ibunya. Kembali teringat akan kenangan-kenangan indah bersama ibunya. Itu membuat Yoona semakin tidak bisa bangkit dari rasa sedih yang menyelimutinya. Rasanya ia masih belum percaya dengan kejadian empat hari yang lalu itu. Semuanya masih terasa bagaikan mimpi bagi Yoona. Semua kejadian itu masih terus berputar-putar dan dengan mudah membolak-balikkan mood Yoona selama beberapa hari ini.

Yoona menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan pelan kearah lemari pendingin. Dibukanya lemari pendingin tersebut untuk mengecek isi didalamnya. Sejak kemarin siang Yoona memang belum sedikitpun menyentuh makanan. Ia lebih suka duduk termenung di balkon atau di sofa ruang tamu tanpa tahu apa yang benar-benar dipikirkannya. Setelah hampir 20 jam tidak diisi makanan, perut Yoona seakan protes menuntut keadilan dari sang pemilik. Yoona berdecak setelah menyadari tidak ada apa-apa didalam lemari pendinginnya. Kosong. Yoona memang belum sekalipun berbelanja semenjak kejadian beberapa hari yang lalu itu. Sepertinya hari ini Yoona harus melepas diri dari apartementnya. Ia harus segera ke swalayan untuk membeli bahan makanan sebelum cacing-cacing diperutnya berdemo besar-besaran didalam sana.

Yoona keluar dari pintu apartementnya setelah mengambil asal salah satu jaket yang tergantung didalam lemari. Namun langkahnya terhenti begitu berpapasan dengan seseorang. “Oh, oppa” sapa Yoona dengan nada terkejut.

“Kau mau kemana?” tanya Jonghyun penuh selidik. Terdengar sedikit protektif dari nada bicaranya.

“Aku mau ke swalayan. Bahan makananku habis” jawab Yoona jujur

Jonghyun mengangguk singkat kemudian segera berbalik arah. “Kajja” ucapnya sambil berjalan mendahului Yoona. Yoona mengerjapkan matanya heran. Namun akhirnya ia mengikuti Jonghyun dari belakang.

-ooo-

“Kajja”. Jonghyun segera berbalik arah dan meninggalkan Yoona yang masih berdiri mematung dibelakangnya. Tidak beberapa lama, gadis itu dapat menyusul Jonghyun dan sudah berjalan beriringan disisi kanan Jonghyun.

“Kau mau ke swalayan juga?” tanya Yoona polos sambil berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah besar Jonghyun.

“Memang kau mau masak apa?” tanya Jonghyun tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan Yoona. Yoona memiringkan kepalanya terlihat berpikir. “Aku juga tidak tahu. Mungkin ramyeon atau bibimbap atau ddukbokki” gumam Yoona lebih kepada dirinya sendiri.

Jonghyun menatap Yoona yang masih sibuk beragumen sendiri tentang menu makan siangnya nanti. Sebenarnya ia tidak berencana pergi ke swalayan. Tentu saja. Persediaan ramyeon di apartementnya masih cukup banyak untuk satu bulan kedepan. Tadi ia hendak pergi ke apartement Yoona. Semenjak kejadian empat hari yang lalu, Jonghyun rutin menjenguk Yoona ke apartementnya. Hanya untuk memastikan gadis itu baik-baik saja. Dan ia senang karena mendapati hari ini Yoona berinisiatif untuk keluar rumah. Setidaknya dapat membantu Yoona melupakan kejadian itu untuk beberapa saat.

Dan tentu saja Jonghyun tidak bisa melepas gadis ini pergi seorang diri begitu saja. Ia sendiri juga tidak mengerti, tapi entah mengapa rasa khawatir terhadap gadis ini masih terus menyelimuti Jonghyun. Ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Perasaan takut, cemas, khawatir, dan ingin melindungi gadis ini bercampur aduk begitu kuat. Apakah itu normal? Entahlah. Mungkin alasannya karena Jonghyun tidak ingin melihat Yoona seperti malam itu.

“Kalau begitu lebihkan untukku. Aku juga belum makan sejak tadi pagi” sela Jonghyun kemudian ditengah-tengah gumaman panjang Yoona.

-ooo-

“Sebenarnya kau ingin membeli apa?” tanya Jonghyun yang masih berjalan tepat dibelakang Yoona sambil mendorong troli yang masih kosong belum terisi apapun. Sudah 15 menit mereka berputar-putar di swalayan ini tanpa ada satu barangpun yang diambil Yoona. Dan itu jelas membuat Jonghyun sedikit kesal. Ia bukan tipe lelaki yang suka berputar-putar didalam swalayan sambil memilah-milih barang belanjaan. Baginya, ambil belanjaan yang telah ditentukan sebelumnya, bayar dan pulang. Selesai! Sungguh simple dan tidak memakan waktu seperti ini.

Yoona masih terus berjalan tanpa menghiraukan protes Jonghyun dibelakangnya. Ia menoleh kekanan dan kekiri untuk menemukan bahan yang sedang dicarinya. “Oh! Ketemu!” ujar Yoona senang ketika berhasil menemukan katsuobushi sebagai bahan pelengkap okonomiyakinya. Tadi saat dijalan akhirnya Yoona memutuskan untuk memasak okonomiyaki. Selain enak, okonomiyaki juga mudah dan tidak repot untuk membuatnya. Salah satu ilmu masakan dari halmoni yang dikusai Yoona dengan baik.

Yoona berbalik untuk menaruh belanjaannya pada troli yang didorong Jonghyun. Namun begitu ia menoleh, ia tidak menemukan lelaki itu dibelakangnya. Yoona mengernyitkan dahi. Kemana lelaki itu?

Yoona berkeliling mencari Jonghyun yang tiba-tiba menghilang sambil memberengut dongkol. Kemana perginya lelaki itu? Apa ia pulang dan meninggalkannya disini tanpa pamit? Benar-benar. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Jonghyun berdiri di salah satu stand promosi daging sapi Korea.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Yoona begitu tiba disamping Jonghyun. Jonghyun sedikit terkejut dengan kehadiran Yoona. Namun kemudian ia mengambil satu potong daging dan menyodorkannya kepada Yoona. “Cobalah! Ini enak” tawarnya sambil mendekatkan daging itu kedepan mulut Yoona. Yoona menatap ragu Jonghyun dan daging didepannya secara bergantian. Kemudian iapun membuka mulut dan membiarkan Jonghyun memasukkan sepotong daging itu kedalam mulutnya. “Hmmm… Enak” gumam Yoona disela-sela kunyahannya.

“Benarkan? Bagaimana kalau kita beli daging ini untuk makan malam?” tanya Jonghyun dengan senyum terkembang dan mata berbinar senang.

Yoona terpaku ditempatnya. Matanya melebar. Rasa hangat tiba-tiba saja menjalar didalam tubuhnya. Ia dapat merasakan udara disekelilingnya menipis dan jantungnya berdetak cepat hendak keluar dari tubuhnya. Lihatlah! Lee Jonghyun tersenyum. Lelaki itu tersenyum kepada Yoona untuk pertama kali. Bukan senyum sinis atupun senyum mengejek yang biasa lelaki itu tunjukkan. Tetapi senyum yang… yang… Entahlah. Dan demi Tuhan, Yoona tidak mampu melepaskan pandangannya dari wajah lelaki itu.

Tanpa mendengar jawaban dari Yoona terlebih dahulu, Jonghyun berbalik dan kembali berbicara kepada penjaga stand didepannya “Ahjuma, Tolong satu bungkus”.

-ooo-

“Apa semua wanita selalu menghabiskan waktu berjam-jam seperti itu di swalayan?” protes Jonghyun tepat ketika mereka memasuki apartement Yoona. Ia sungguh tidak habis pikir kenapa hanya untuk membeli bahan okonimiyaki, gadis didepannya ini membutuhkan waktu dua jam penuh untuk berkeliling menjajaki setiap sudut swalayan.

“Maka dari itu, lelaki tidak seharusnya pergi berbelanja” jawab Yoona asal sambil melenggang ke arah dapur. Tentu saja ia membutuhkan waktu lama, Yoona harus memikirkan masakan apa yang harus dibuatnya tadi lalu setelah itu ia juga harus mengingat-ingat bahan apa saja yang dibutuhkan dan memastikan tidak ada bahan yang terlupakan. Berbeda dengan lelaki yang pergi ke swalayan hanya untuk membeli ramyeon atau sekaleng soju.

Yoona mengeluarkan seluruh belanjaannya diatas meja dapur dan mempersiapkan bahan-bahan yang akan digunakannya saat memasak. Jonghyun berjalan menghampiri Yoona dan berdiri disamping gadis itu sambil memperhatikan. “Ada yang bisa kubantu?” tawarnya. Yoona menatap Jonghyun kemudian tersenyum singkat “Aniyo. Ini mudah. Aku bisa melakukannya sendiri”.

Yoona tengah sibuk membersihkan kulit udang di wastafel. Ia benar-benar berkonsentrasi saat ini dengan pekerjaannya. Inilah bagian yang menurut Yoona paling sulit saat memasak yakni membersihkan seafood. Jonghyun yang sedari tadi hanya duduk akhirnya penasaran dengan apa yang dikerjakan Yoona di wastafel hingga memakan waktu begitu lama. Lekaki itupun bangkit dari duduknya dan memperhatikan Yoona sambil berdiri disampingnya dan sepertinya gadis itu tidak sadar dengan kehadiran Jonghyun. Jonghyun kemudian melihat cumi-cumi yang sepertinya masih belum dibersihkan Yoona didalam wadah. Iapun mengambil wadah itu dan mengulurkannya kehadapan Yoona. “Kau belum membersihkan yang ini” ucap Jonghyun polos.

Yoona menjerit dan melompat kaget karena cumi-cumi yang secara tiba-tiba muncul didepan matanya. “Aigo!! Lee Jonghyun!!!” pekik Yoona sembari mendelik ke arah Jonghyun.

Jonghyun tertawa geli melihat reaksi berlebihan Yoona. “Kenapa wajahmu seperti itu?”.

Yoona mendengus melihat Jonghyun. Namun kekesalan Yoona sontak menguap ketika melihat wajah Jonghyun. Lagi. Lelaki itu tersenyum lagi. Yoona seakan kehilangan ingatan dan terbius oleh senyum lelaki itu. Rasanya dunia tiba-tiba mengecil dan hanya ada ia dan Jonghyun didalamnya.

Jonghyun berhenti tertawa dan memandang Yoona heran. “Kenapa dengan wajahku?” tanya Jonghyun bingung ketika mendapati gadis itu memperhatikan wajahnya tanpa berkedip.

“Lesung pipi”

“Hah?” Jonghyun menaikkan sebelah alisnya bingung.

“Aku baru tahu kalau kau mempunyai lesung pipi. Teruslah tersenyum seperti itu. Aku menyukai senyummu itu, oppa” jawab Yoona jujur.

Jonghyun menatap Yoona dalam diam selama 5 detik. Kemudian ia berdeham kaku dan berjalan menjauhi dapur. “Aku tunggu didepan TV saja”

-ooo-

Yoona mencuci piring-piring kotor sisa makan siangnya hari ini. Selesai mencuci piring, Yoona berencana membersihkan apartementnya. Sudah hampir seminggu apartement ini tidak terurus oleh Yoona. Dan Yoona sudah mulai tidak betah dengan debu-debu yang kian menebal disetiap sudut apartementnya. Lagipula, Yoona memang ingin menyibukkan diri.

Yoona memulai pekerjaannya dengan mengelap seluruh kaca di apartementnya kemudian membersihkan meja makan dan dapur juga mengisi dan menata lemari pendinginnya agar terlihat lebih rapih. Setelah itu Yoona mengambil penghisap debu dan membersihkan seluruh debu yang menempel dilantai dan dikarpetnya.

Yoona membersihkan ruang TV dengan penghisap debu dan melirik kesal kearah lelaki yang sedari tadi berkonsentrasi dengan TV didepannya tanpa sedikitpun mengacuhkan Yoona. Lee Jonghyun benar-benar keterlaluan. Setelah menumpang makan, ia bahkan tidak sekedar berbasa-basi menawarkan diri untuk membantu Yoona yang jelas-jelas terlihat sibuk mondar-mandir semenjak tadi.

Yoonapun menghentikan kegiatannya dan menyipitkan matanya memandang Jonghyun sambil melipat kedua tangan didepan dada. “Ya, Tuan Lee. Tidakkah kau melihat jika tuan rumah sedang sibuk? Apa kau tidak ada niat untuk membantunya?” sindir Yoona.

Jonghyun melirik sekilas ke arah Yoona lalu merebahkan kepalanya kesandaran sofa dan menutup mata. “Sehabis makan aku akan mengantuk” gumam Jonghyun pelan. Yoona mendengus kesal mendengar jawaban Jonghyun. Lelaki ini benar-benar mahir membuat mood Yoona turun naik persis seperti sebuah roller coaster.

Yoona memandang puas apartementnya yang sudah terlihat lebih bersih dan rapih sekarang. Iapun mengelap peluh yang mengalir dipelipis dengan punggung tangannya. Jika kakaknya melihatnya saat ini, ia pasti akan terkejut. Ia pasti tidak akan mengira jika adiknya satu-satunya inilah yang telah menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga ini dengan sempurna. Yoona sendiri juga terkejut. Ternyata tinggal sendiri di apartement ini selama beberapa bulan telah banyak mengubah sikapnya. Ia jauh lebih mandiri dan lebih rajin saat ini.

Yoona duduk di sofa dan memperhatikan Jonghyun yang telah terlelap disampingnya. Yoonapun tersenyum simpul melihat lelaki itu. Sebenarnya Yoona benar-benar merasa berterimakasih atas semua bantuan dan dukungan yang telah diberikan lelaki itu untuknya beberapa hari ini. Selama beberapa hari ini, Jonghyunlah yang selalu berdiri disamping Yoona. Menguatkan Yoona ketika Yoona merasa lemah dan tak berdaya, menopang Yoona ketika ia goyah oleh kejadian yang tiba-tiba menghantamnya, menuntun Yoona ketika ia hampir kehilangan arah dan menyadarkan Yoona bahwa ia masih memiliki tempat untuk berpegang.

Yoona melihat Jonghyun tiba-tiba bergerak mengubah posisi didalam tidurnya. Yoonapun segera berjalan memasuki kamarnya dan keluar dengan membawa sebuah selimut. Kemudian ia menyelimuti tubuh Jonghyun dan sedikit membetulkan posisi tidur Jonghyun yang masih terlelap di atas sofa. “Gomawo, oppa” bisik Yoona lembut tepat ditelinga Jonghyun.

-ooo-

Pukul 15.00 KST @ Heaven Coorp

“Hyung! Aku mendapatkan info” lapor Jungshin sembari berjalan cepat masuk ke dalam ruangan Yonghwa. Yonghwa mengangkat kepalanya dari kertas-kertas diatas meja dan menatap Jungshin yang telah duduk dikursi seberangnya. “Apa?” tanya Yonghwa singkat.

“Saham Sky Mild, Ltd naik nol koma tiga persen hari ini” ucap Jungshin sambil tersenyum sumringah.

“Mwo?” Yonghwa terbelalak kaget. “Bagaimana bisa?”

“Kau tahu hyung, sepertinya kau memang tidak seharusnya meragukan keputusan ayahmu. Bayangkan saja, belum seminggu Heaven Coorp membeli perusahaan itu, kini sahamnya telah naik. Ini perkembangan hebat, hyung”

Yonghwa mengangguk pelan. Ya, mungkin memang seharusnya ia tidak meragukan kemampuan ayahnya. Ayahnya adalah pebisnis ulung. Yonghwa tahu itu. Sebenarnya sudah banyak perusahaan-perusahaan yang hampir failed seperti Sky Mild, Ltd dibeli murah oleh Heaven Coorp untuk dikembangkan sebagai anak perusahaan Heaven Coorp. Dan semua itu berhasil sampai saat ini. Ayahnya, Im Seolong tidak pernah gagal. Tapi tetap saja Yonghwa sedikit khawatir. Sky Mild, Ltd tidak sama dengan perusahan-perusahan failed yang pernah Heaven Coorp beli sebelumnya. Perusahaan ini memiliki hutang menumpuk yang jumlahnya luar biasa menurut Yonghwa. Dan Yonghwa ragu, apakah ayahnya bisa mengatasi masalah ini? Apakah ia harus percaya sepenuhnya kepada kemampuan bisnis ayahnya itu?

“Tolong kau pantau terus perkembangannya Jungshin-ah” ucap Yonghwa pada akhirnya.

“Oke, hyung”

-ooo-

Pukul 19.00 KST @ apartement Yoona

“Oppa, kita makan malam di atap saja. Ya?” bujuk Yoona sudah yang ke delapan kalinya semenjak 3 menit terakhir kepada Jonghyun.

“Udara diluar dingin. Kita makan didalam saja” jawab Jonghyun kekeuh. Masih sama semenjak 3 menit terakhir. Yoona berdecak kesal dan memberengut. “Ya sudah, aku saja yang makan diatap sendiri” .

Jonghyun memutar mata dan akhirnya mendesah keras. Ya ampun, gadis ini benar-benar keras kepala, batinnya.

Udara malam musim gugur yang dingin segera menusuk kedalam pori-pori kulit Jonghyun ketika mereka sampai di lantai paling atas gedung ini. Iapun mengeratkan jaketnya untuk membantu mengurangi hawa dingin yang masih terasa di kulitnya. Diliriknya Yoona yang berjalan disamping kanannya. Gadis itu bukannya menggigil kedinginan seperti dirinya, malah berlari kecil ke arah gazebo di sisi kiri atap ini. Setelah sampai di gazebo dan menaruh kotak makan disana, kemudian gadis itu berjalan ke tepi atap. Jonghyun dapat melihat gadis itu merentangkan kedua tangannya disamping tubuhnya dan beberapa saat kemudian ia berbalik menghadap Jonghyun dan tersenyum lebar dengan mata berbinar cerah. “Oppa, ini indah sekali” serunya riang. Jonghyun hanya tersenyum kecil melihatnya.

Gadis itu, entah sejak kapan kehadirannya menjadi sebuah keharusan bagi Jonghyun. Dan sepertinya Jonghyun sudah mulai terbiasa. Melihat gadis itu berada di area pandangnya, seperti sebuah kebenaran. Dan Jonghyun tidak keberatan akan hal itu. Ia sendiri juga tidak mengerti akan dirinya. Apakah perasaannya ini hanya sebuah rasa iba kepada gadis itu atau perasaan yang lain yang masih belum bisa Jonghyun jelaskan. Tapi yang pasti, Jonghyun suka seperti ini. Jonghyun suka gadis itu terus berada digaris edarnya seperti ini.

“Oppa, ayo kita makan” suara gadis itu membuyarkan lamunan singkat Jonghyun. “Ne” sahut Jonghyun sambil berjalan kearah gazebo.

-ooo-

Yoona berlari kecil kearah gazebo disisi kiri atap dan segera meletakkan kotak makan yang sudah ia siapkan semenjak di apartement nya tadi. Iapun segera berjalan ke tepi atap dan merentangkan kedua tangannya sambil melihat pemandangan dibawahnya. Ini indah. Sungguh. Sudah lama Yoona tidak ketempat ini. Dan ia senang dapat kembali ketempat ini lagi. Melihat pemandangan malam wilayah ini yang berhiaskan lampu jalan dan lampu rumah penduduk terlihat begitu indah dan itu semua membuat hati Yoona tenang. Yoona menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Mencoba mamasukkan seluruh udara segar ini kedalam paru-parunya yang sudah beberapa hari terasa sesak dan mati rasa. Kemudian, senyum lebar menghiasi bibir mungilnya. Yoonapun berbalik dan menatap lelaki yang masih berdiri terpaku di belakangnya. “Oppa, ini indah sekali” seru Yoona riang. Dan lelaki itu membalas dengan senyum kecil yang tersungging dibibirnya.

Yoona dengan cepat memutar kembali tubuhnya untuk menyembunyikan wajah gugupnya. Wajah Yoona terasa panas dan ia yakin kini sudah berubah warna menjadi merah. Ia memegang dada dengan kedua tangannya. Yoona dapat merasakan detak jantungnya tiga kali lebih cepat dari keadaan normal. Ini benar-benar aneh. Selama seharian ini semua seakan tidak normal. Beberapa kali Yoona merasakan debaran yang luar biasa dari dalam jantungnya jika melihat wajah tersenyum lelaki itu. Dan debaran ini berbeda dari sebelum-sebelumnya. Debaran ini terasa jauh lebih kuat dan lebih lama. Yoona mencoba mengatur ulang napasnya dan merelaks-kan seluruh otot-otot wajahnya yang tiba-tiba menegang tadi. Kemudan ia berjalan kembali kearah gazebo dan menyiapkan menu makan malam mereka. “Oppa, ayo kita makan” panggil Yoona kepada Jonghyun setelah selesai menata makanan di gazebo.

-ooo-

Yoona menatap langit abu-abu diatasnya sambil tersenyum simpul. Langit malam ini terlihat cerah dan bintang bertaburan memenuhi seluruh sudut langit malam. Bulan setengah lingkaranpun terlihat ikut meramaikan langit malam ini. Yoona menghembuskan napasnya pelan. Ia senang dapat kembali merasakan perasaan tenang seperti ini. Dan yang paling membuatnya senang adalah kehadiran lelaki disampingnya ini. Yoona melirik Jonghyun yang tengah duduk diam sambil juga memandang langit disisi kirinya. Semenjak selesai makan, mereka hanya diam seperti ini. Tidak ada dari mereka yang mencoba membuka percakapan. Hal ini mengingatkan Yoona pada kebiasaan mereka setiap pulang kerja dulu. Tapi yang berbeda kali ini, mereka tidak berada di halte melainkan diatas atap. Namun menurut Yoona, berada di atas atap inipun juga baik. Lebih baik malah. Karena Yoona merasa jaraknya dengan bintang-bintang itu menjadi lebih dekat.

“Kau baik-baik saja kan?” suara pelan Jonghyun memecahkan kesunyian diantara mereka berdua. Yoona mengangguk kecil. “Sudah lebih baik” jawabnya singkat tanpa menoleh ke arah Jonghyun.

Kesunyian kembali melingkupi mereka. Biasanya disaat-saat seperti ini, Yoona pasti merasa canggung. Tapi entah kenapa, saat ini Yoona justru merasa nyaman. Kesunyian ini membuat Yoona tenang.

“Oppa, kau sudah menemui Seohyun-sii?”. Tiba-tiba Yoona teringat akan adik perempuan Jonghyun yang baru pertama kali ia lihat dipemakaman ibunya. Jonghyun mengangguk dan bergumam pelan. “Hmm.. Sudah”.

“Lalu bagaimana? Kau tidak memintanya tinggal bersamamu?” tanya Yoona lagi sambil memiringkan sedikit kepalanya untuk menatap Jonghyun. “Sudah. Tapi ia tidak mau” jawab Jonghyun sambil menatap lurus kedepan.

Yoona mengerutkan keningnya. “Kenapa?” tanya Yoona tidak mengerti. Jonghyun menghembuskan napasnya pelan lalu melirik Yoona sekilas. “Ia bilang, ia ingin menunggu ibu disana. Ibu sudah lama pergi dan satu-satunya yang ibu ketahui hanyalah alamat apartement Seohyun. Jika Seohyun pindah dari sana, ia takut ketika ibu kembali, ibu tidak dapat menemukannya”. Yoona mengangguk mengerti dan bergumam pelan. “Ya, memang sebaiknya seperti itu”.

Jonghyun menoleh kearah Yoona dan menatapnya lekat. “Kau sudah tidak apa-apa kan?”. Terdengar nada khawatir dari balik suaranya. Tadi tanpa sengaja topik mengenai ibu menjadi bahan pembicaraan mereka. Jonghyun merasa topik itu masih sangat sensitif bagi Yoona. Yoona tersenyum simpul kemudian menjawab. “Aku sudah lebih baik, oppa. Kau tidak perlu khawatir”.

Jonghyun memutar tubuhnya untuk dapat duduk berhadapan dengan Yoona kemudian menatap gadis itu lekat. “Kau yakin sudah tidak apa-apa?” ulang Jonghyun dengan lebih menekankan intonasinya. Yoona melirik Jonghyun kemudian ikut memutar tubuh agar dapat duduk berhadapan dengan Jonghyun. Lelaki itu mengerutkan dahinya, belum sepenuhnya percaya dengan perkataan Yoona tadi.

Yoona menatap lurus Jonghyun dan menarik napas panjang sebelum membuka suara. “Aku memang belum sepenuhnya baik-baik saja. Tapi aku berusaha agar baik-baik saja” jawab Yoona jujur.

“Kau tahu, kehilangan orang yang paling dicintai dalam hidup tentu bukan hal yang bisa dengan mudah aku atasi” Yoona kembali memutar tubuh ke posisinya semula dan memandang lurus kedepan. Tiba-tiba saja matanya terasa panas begitu teringat ibunya. Yoona tidak ingin Jonghyun menemukan kesedihan dibalik matanya. Ia tidak ingin membuat lelaki itu kembali khawatir. “Tapi aku akan kuat. Aku tidak boleh terus terkurung dalam kesedihan tanpa dasar. Eomma juga pasti sedih jika melihatku seperti itu. Saat ini eomma pasti juga sedang memperhatikanku dari atas sana” lanjut Yoona sambil menatap langit cerah diatasnya.

“Aku harus kuat. Demi eomma, demi Yonghwa oppa, dan juga demi kau, oppa”. Yoona menolehkan kepalanya untuk menatap Jonghyun sekilas. Namun tatapannya terkunci. Jonghyun juga tengah menatapnya saat ini. Dan selama beberapa detik, mereka saling bertatapan tanpa suara.  Entah kenapa, tatapan Jonghyun terasa berbeda. Tatapan mata lelaki itu begitu dalam. Begitu teduh dan menenangkan. Yoona bahkan merasa tatapan itu membungkusnya lembut dan siap menjaganya kapanpun.

Kemudian Jonghyun tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan. “Aku tahu. Kau gadis yang kuat. Seharusnya aku tidak perlu terlalu khawatir padamu” ucapnya sembari mengacak pelan rambut Yoona.

“Hatchiiiiim…” tiba-tiba suara keras keluar dari mulut Yoona. Yoona mengucek pelan ujung hidungnya sambil memberengut menyalahkan cuaca. Sontak moment manis yang baru saja terbangun buyar seketika.

Jonghyun tertawa geli melihat Yoona. Yoona hanya bisa mengerucutkan bibirnya sebal melihat reaksi Jonghyun. Tiba-tiba Jonghyun menyampirkan jaketnya ke bahu Yoona. Yoona tersentak dan kembali menatap Jonghyun. “Sudah kubilang malam ini dingin. Kenapa kau tidak membawa jaketmu?” Jonghyun berdecak sambil menyentil dahi Yoona. Yoona hendak protes dan angkat bicara namun Jonghyun lebih dulu memotong ucapannya. “Sudah, pakai saja. Dan jangan protes”.

-ooo-

Tiga hari kemudian. Pukul 12.00 KST @ Apartement Yoona

Ting – Tong

Yoona menghentikan kegiatan memotong sayuran ketika mendengar bel apartementnya berbunyi. Iapun bergegas berjalan kedepan dan membukakan pintu apartementnya. “Oh. Jungshin oppa” sapa Yoona ramah ketika melihat Jungshin berdiri dibalik pintu. Jungshin tersenyum dan mengangkat tangan kanannya. “Annyeong, Yoon-ah” sapanya riang.

Yoona menyingkir dari depan pintu untuk memberikan Jungshin jalan masuk. “Wah. Aku tidak menyangka kau tinggal sendirian di apartement ini” komentar Jungshin ketika berjalan masuk sambil memperhatikan setiap sudut apartement Yoona. “Apa oppa yang memintamu kesini?” tanya Yoona sambil berjalan mengikuti Jungshin memasuki apartementnya. Jungshin mengangguk membenarkan. “Hyung memintaku melihat keadaanmu. Ia sedang sibuk saat ini”.

“Aku baik-baik saja” jawab Yoona sambil berjalan kearah dapur untuk membuatkan minuman untuk Jungshin. “Kau mau minum apa, oppa?” tanya Yoona. Jungshin mengikuti Yoona kearah dapur. “Kau bisa membuat minuman?” tanyanya sangsi. Yoona menyipitkan mata dan berdecak. “Kau meragukanku?”. Jungshin tertawa dan segera mengoreksi perkataannya. “Bukan itu maksudku. Bagaimanapun juga kau nona muda Im. Aku agak tersanjung jika kau membuatkan minuman untukku” gurau Jungshin sambil terkekeh pelan.

Yoona tertawa kemudian berkata. “Baiklah. Kita lihat seberapa besar kau akan jatuh kedalam pesona kopi buatan Nona Im ini”

-ooo-

“Oke. Sepertinya kau benar. Aku telah terpesona dengan kopi buatanmu, Nona Im” canda Jungshin tepat setelah ia menyeruput kopi buatan Yoona. Yoona tertawa mendengarnya. “Lain kali kau harus membayarnya kalau begitu”.

Yoonapun duduk disamping Jungshin di sofa ruang tamu. “Bagaimana keadaan Yonghwa oppa?” tanya Yoona membuka percakapan. “Aku belum bertemu dengannya semenjak kejadian itu”

“Ia baik-baik saja. Sepertinya kerjaan yang menumpuk membuatnya dengan cepat bangkit dari kesedihannya” jelas Jungshin mencoba menenangkan Yoona. Yoona mengangguk kemudian bergumam. “Syukurlah kalau begitu”.

Jungshin menatap Yoona dan tersenyum. Bagaimanapun juga, ia sudah menganggap Yoona seperti adiknya sendiri. Dan keadaan Yoona saat kejadian itu benar-benar membuat Jungshin khawatir. Tapi syukurlah, sepertinya sekarang keadaan Yoona memang sudah makin membaik. Jungshin sedikit tenang setelah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Yonghwa juga pasti akan tenang jika mengetahui keadaan Yoona saat ini.

Bel apartement Yoona kembali berbunyi. Yoona memiringkan kepalanya dan bergumam pelan “Siapa lagi?”. Kemudian ia segera bangkit dari sofa dan berjalan kearah pintu.

Dua puluh detik kemudian, Yoona kembali masuk ke dalam apartement bersama seorang lelaki. Jungshin berdiri dan mengedikkan kepala singkat kepada lelaki itu dan lelaki itu membalas dengan hal yang serupa. “Oppa, kenalkan ini Lee Jonghyun” ucap Yoona yang saat ini telah berdiri diantara kedua lelaki itu. Jungshinpun mengulurkan tangannya kearah Jonghyun, kemudian ia balas memperkenalkan dirinya. “Perkenalkan, Lee Jungshin imnida”.

-ooo-

“Perkenalkan, Lee Jungshin imnida” ucap lelaki jangkung dihadapannya sambil mengulurkan tangan kearah Jonghyun. Jonghyun terbelalak dan seketika membeku ditempatnya. Apa katanya tadi? Lee Jungshin?

“Oppa” panggilan Yoona menyadarkan Jonghyun dari keterkejutannya. Iapun segera menyambut uluran tangan Jungshin yang masih menunggunya dari tadi. “Lee Jonghyun imnida” jawab Jonghyun singkat.

Jonghyun melirik kearah Yoona yang tengah sibuk membuat kopi untuk Jonghyun di dapur. Kemudian ia beralih menatap Jungshin yang tengah sibuk dengan ponsel dihadapannya. “Jadi Lee Jungshin-sii, sudah berapa lama kau bekerja di Heaven Coorp?” Jonghyun mencoba membuka percakapan. Jungshin melepas konsentrasi dari ponselnya kemudian beralih menatap Jonghyun. “Sudah hampir tiga tahun” jawabnya singkat.

“Kau sendiri, sudah berapa lama tinggal di apartement ini?” tanya Jungshin. Juga mencoba membuka pembicaraan basi-basi yang biasa dilakukan oleh tiap orang yang baru bertemu.

“Hampir empat tahun” jawab Jonghyun. Jungshin mengangguk singkat dan kembali memfokuskan diri pada pesan yang baru masuk di ponselnya. “Ku dengar, kau sekarang tinggal di wilayah Seocho-gu. Sudah berapa lama kau tinggal disana?” tanya Jonghyun hati-hati.

“Sekitar tiga tahun” Jungshin menjawab sambil lalu tanpa sedikitpun curiga. Padahal pada pertanyaan yang Jonghyun berikan, terlihat jelas bahwa Jonghyun sudah tahu tempat tinggal lelaki itu. Namun sepertinya Jungshin tidak curiga. Lelaki itu terlihat lebih fokus pada ponsel digenggamannya.

“Tiga tahun yang lalu? Jadi sebelumnya kau tinggal dimana?” Jonghyun kembali bertanya. Dalam hati, ia berharap jawaban yang diberikan lelaki ini sesuai dengan harapannya.

“Yeoksam” jawab Jungshin singkat sambil meletakkan ponselnya diatas meja.

Jonghyun menyeringai singkat mendengar jawaban Jungshin. Ketemu kau!, batinnya.

-ooo-

Yoona berjalan pelan sambil membawa nampan berisikan kopi dan cookies ke arah ruang tamu. Samar-samar Yoona dapat mendengar suara Jonghyun dan Jungshin yang tengah berbincang. Yoona senang karena kedua lelaki itu terlihat cepat akrab.

“Empat tahun yang lalu?” ulang Jungshin sambil mengerutkan keningnya.

“Ya. Malam empat tahun yang lalu. Tepat pukul sebelas lebih dua puluh lima menit malam di Yeoksam. Apa kau tidak ingat?” tanya Jonghyun untuk yang ke tiga kalinya. Jungshin kembali mengerutkan keningnya dan memiringkan kepala untuk kembali mengingat kejadian empat tahun yang lalu. “Empat tahun yang lalu? Apa? Kejadian apa?” gumam Jungshin kepada dirinya.

Jonghyun berdecak tak sabar. “Empat tahun yang lalu. Kejadian tabrak lari di Yeoksam. Kau melihat kejadian itu kan?”. Akhirnya Jonghyun membeberkan jawaban dari semua pertanyaannya tadi. Sedikit kesal karena Jungshin begitu sulit mengingat kejadian sepenting itu.

“Tabrak lari? Apa maksudmu oppa?” Yoona tiba-tiba datang dan menatap Jonghyun penuh tanya. Yoonapun segera duduk dan meletakkan nampan yang ia bawa diatas meja. “Apa maksudmu?” ulang Yoona kepada Jonghyun. Yoona menatap Jonghyun dan Jungshin yang berada di samping kiri dan kanannya secara bergantian. Berharap ada dari salah satu lelaki itu yang menjawab pertanyaannya.

Jonghyun kembali menatap Jungshin. “Apa kau tidak ingat? Kejadian tabrak lari di Yeoksam empat tahun yang lalu?” ulang Jonghyun.

Yoona tersentak dan membelalakkan matanya lebar. “Apakah itu…” kalimat Yoona menggantung. Kemudian ia menatap Jonghyun dan menunggu respon lelaki itu untuk menjawab dugaan Yoona. Jonghyun mengangguk membenarkan dugaan Yoona. Sontak Yoona beralih menatap Jungshin. Apa hubungan Jungshin dengan kejadian empat tahun yang lalu itu?

Jungshin semakin bingung karena dua pasang mata yang tengah menatapnya menuntut. Iapun kembali mencoba menggali ingatannya tentang kejadian empat tahun lalu pada pukul sebelas lewat dua puluh lima menit malam di Yeoksam. Dan saat itu juga, potongan demi potongan kejadian itu terlintas dibenaknya. Mobil BMW hitam, seorang lelaki dengan jaket kulit, buket bunga mawar merah, dan bunyi tabrakan yang memekakkan telinga. Iapun menepuk kedua tangannya dan berseru “Aku ingat!!”

-ooo-

“Saat itu aku sedang dalam perjalanan pulang dari rumah temanku yang berada di salah satu apartement diwilayah Yeoksam menggunakan sepeda. Saat itu hampir tengah malam. Aku ingat, semua sudah sepi. Tidak ada orang ataupun mobil yang melintasi jalanan itu mengingat jalanan itu hanya mengarah pada area apartement temanku diujung jalan. Namun ditengah jalan, aku berpapasan dengan seorang lelaki yang terlihat tengah tergesa-gesa berjalan ke arah area apartement sambil membawa sebuket bunga mawar merah. Apakah itu kau, Lee Jonghyun-sii?” tanya Jungshin ditengah-tengah ceritanya. Jonghyun mengangguk singkat membenarkan.

Yoona melirik Jonghyun sekilas. Ia tahu, saat itu Jonghyun hendak mengunjungi apartement Tiffany. Tiffany pernah menceritakan kepadanya bahwa Jonghyun mengalami kecelakaan ketika pergi menemui Tiffany. Namun Yoona tidak pernah tahu bahwa Jonghyun tengah membawa sebuket bunga mawah merah pada saat kejadian itu.

“Kami hanya berpapasan jalan, bahkan aku tidak dapat melihat dengan jelas wajahnya karena saat itu suasana gelap. Beberapa detik setelah aku berpapasan dengan lelaki itu, aku mendengar suara tabrakan yang begitu keras dari arah belakang ku. Arah dimana lelaki itu berjalan. Sontak aku segera menghentikan sepedaku dan menoleh kebelakang. Seketika itu juga, aku melihat lelaki itu telah jatuh bersimbah darah di jalan aspal”

Yoona menutup rapat mulutnya dengan kedua tangannya. Jika tidak, ia yakin pekikkannya akan membuat semua orang melihat kearahnya. Membayangkan Jonghyun yang tergeletak bersimbah darah di aspal membuat sekujur tubuh Yoona bergidik ngeri. Yoona tidak bisa membayangkannya. Ia benar-benar tidak sanggup.

“Dan dalam hitungan detik, mobil yang menabrak lelaki itu segera pergi dan menghilang ke arah jalan utama. Kejadian itu begitu cepat. Mobil itu datang dari arah area apartement dan yang aku ingat, itu mobil BMW warna hitam, tapi aku tidak tahu serinya. Saat itu aku benar-benar syok bahkan tidak dapat beranjak sedikitpun dari tempat ku berdiri. Namun beberapa detik kemudian, aku melihat seseorang berlari ke arah lelaki itu sambil berteriak minta tolong. Teriakan itulah yang menyadarkan ku dari keterkejutan dan saat itu juga aku segera menghubungi ambulance. Hanya sampai situ cerita yang ku tahu” Jungshin menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa setelah menyelesaikan ceritanya.

“Jadi, kau tidak melihat pelakunya?” tanya Yoona sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Jungshin. Jungshin menggeleng pelan. “Aku rasa orang itu yang tahu semuanya. Ia yang melihat kejadian itu secara utuh dan ia juga yang menyelamatkan nyawamu. Dan semoga saja, ia juga yang tahu petunjuk mengenai pelaku tabrak lari itu” jawab Jungshin sambil menatap Jonghyun yang tengah duduk diseberangnya. Jonghyun terlihat memandang lurus kedepan. Namun tatapannya menerawang. Pikirannya kacau saat ini. Disaat ia menduga kasus ini telah menemukan titik terang dengan menemukan Jungshin sebagai saksi mata tunggal, ia kembali harus menelan kekecewaan dengan semua kenyataan yang diceritakan Jungshin. Bahwa Jungshin bukan saksi mata tunggalnya, bahwa seseorang yang tidak diketahui yang telah menolongnyalah yang merupakan satu-satunya pemilik petunjuk mengenai pelaku tabrak lari itu.

-ooo-

“Seohyun-sii, ada seseorang yang mencarimu” ucap salah seorang rekan kerja Seohyun. “Siapa?” tanya Seohyun sambil memberikan uang kembalian pelanggan dan berkata “Terimakasih” seraya membungkukkan badannya.

“Aku tidak tahu. Dia menunggu disana”. Seohyun sontak menoleh ke tempat yang ditunjukkan oleh rekan kerjanya. Kemudian Seohyun mengernyitkan dahi sekilas. Sepertinya ia kenal dengan mobil merah itu.

Setelah meminta temannya untuk menggantikan pekerjaannya untuk sementara, Seohyunpun berjalan menghampiri mobil merah yang telah terparkir disisi pom bensin tempat kerjanya. Seohyun dapat melihat seorang lelaki yang berdiri bersandar pada sisi mobil merah itu.

“Yong oppa? Ada apa?” tanya Seohyun tepat tiga meter sebelum ia sampai didepan lelaki itu. Yonghwa menoleh ketika mendengar suara Seohyun yang begitu familiar baginya. Yonghwapun tersenyum ketika mendapati gadis itu sudah berdiri tepat didepannya. “Kau sudah istirahat? Aku ingin mengajakmu makan diluar”

Seohyun menatap Yonghwa kemudian memutar kepalanya untuk melihat rekan kerjanya yang tengah menggantikannya untuk sementara waktu. “Sepuluh menit lagi. Kau mau menunggu?”

Yonghwa mengangguk pasti sambil memasang senyum terimutnya. “Oke. Aku akan menunggumu disini. Cepatlah! Aku sangat lapar, hyu~un!”. Seohyun terkekeh mendengar rengekan Yonghwa kemudian ia segera kembali melanjutkan pekerjanya sampai waktu makan siang tiba.

“Kau menunggu lama, oppa?”. Yonghwa segera memutar kepalanya ketika mendengar suara lembut Seohyun. “Ani. Kau sudah selesai?” tanya Yonghwa begitu Seohyun tiba disampingnya. Seohyun mengangguk menjawab pertanyaan Yonghwa.

“Kajja, oppa. Aku juga sudah lapar” ajak Seohyun sambil memutar tubuhnya untuk berjalan kesisi lain mobil. Namun tiba-tiba Yonghwa menahan lengan Seohyun dan segera memutar tubuh gadis itu agar berhadapan dengannya. Seohyun mengangkat alis bingung dengan tindakan Yonghwa. Sedangkan Yonghwa mengerutkan alis terlihat cemas dan khawatir. Lelaki itu segera merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah benda berwarna putih. Yonghwa langsung menempelkan sapu tangan berwarna putih itu tepat di lubang hidung Seohyun.

“Kau mimisan lagi, hyun!” ucap Yonghwa tercekat. Nada suaranya terdengar sangat khawatir. Seohyun hanya diam tak melawan dan juga tak membalas perkataan Yonghwa tadi. “Kau pucat. Ayo kita ke rumah sakit sekarang”

“Aniyo, oppa” tolak Seohyun sambil melepas genggaman Yonghwa dari pergelangan tangannya dan membersihkan hidungnya dengan sapu tangan Yonghwa dengan cepat kemudian berusaha menyunggingkan sebuah senyuman untuk meyakinkan Yonghwa bahwa ini bukan masalah besar. “Aku baik-baik saja. Lihatkan?”

Yonghwa menggeleng cepat kemudian segera menarik Seohyun untuk masuk kedalam mobilnya. “Tidak. Kau tidak baik-baik saja. Dan aku tidak akan percaya sebelum aku tahu keadaanmu yang sebenarnya” ucap Yonghwa tegas ketika ia telah duduk dibalik kemudinya.

-ooo-

Pukul 12.30 KST @ Seoul Hospital

“Bagaimana uisanim?” tanya Yonghwa tidak sabar kepada dokter tua yang tengah membaca hasil pemeriksaan Seohyun dihadapannya. Dokter itu melirik sekilas kearah Yonghwa kemudian beralih menatap Seohyun disamping Yonghwa. “Aku menyarankan agar kau segera dirawat, Nona Lee” anjur dokter tua itu seraya menatap Seohyun lekat dibalik kacamata bundarnya. “Keadaanmu tidak baik. Dan kau perlu perawatan secepatnya”

Seohyun menggeleng cepat. “Animida, uisanim. Aku merasa baik ba-“

“Tolong segera siapkan kamar perawatannya, uisanim” potong Yonghwa. Seohyun mendelik kearah Yonghwa. “Oppa, aku baik-baik saja. Aku tidak mau dirawat” protes Seohyun.

“Hyun, kau dengar sendiri apa yang dikatakan uisanim” Yonghwa mencoba menjelaskan kepada Seohyun. Namun Seohyun berdecak kesal sambil menatap tajam kearah Yonghwa. “Aku yang tahu tentang kondisi tubuhku. Dan aku tahu, aku baik-baik saja”. Yonghwa hendak kembali memprotes ucapan Seohyun tetapi ia ingat bahwa saat ini mereka tengah berada di ruangan dokter dan tidak pantas jika mereka sampai bertengkar disini. Akhirnya Yonghwa bangkit dari tempat duduknya seraya menarik Seohyun agar juga bangkit dari tempat duduknya untuk segera keluar. Namun sebelum keluar, Yonghwa membungkuk hormat kepada dokter dan meminta agar tetap disiapkan kamar rawat untuk Seohyun.

Seohyun segera melepaskan cengkraman tangan Yonghwa dari tangannya begitu mereka berada diluar ruang dokter. Seohyun segera berjalan cepat meninggalkan Yonghwa yang masih terkejut akan sikap tiba-tiba Seohyun.

Yonghwa berlari menyusul Seohyun didepannya. “Kau mau kemana, hyun?”. Yonghwa menahan pundak Seohyun dan memutar tubuh gadis itu agar menghadapnya. “Aku mau pulang” jawab Seohyun ketus dan kembali berbalik menjauhi Yonghwa. Yonghwa kembali mengejar Seohyun dan menahan lengan gadis itu. “Ini demi kebaikanmu, hyun”. Seohyun segera memutar tubuhnya kembali menghadap Yonghwa. “Kebaikan? Tidak, jika harus kembali berbaring diatas ranjang Rumah Sakit!!” seru Seohyun setengah berteriak. Tiba-tiba Seohyun memejamkan mata menahan rasa pusing yang seketika menyerangnya. Wajahnya pucat pasi dan penglihatannya menjadi tidak fokus dan mulai menggelap. Dalam hitungan detik, Seohyun merasa lemah dan kehilangan seluruh kontrol tubuhnya.

Yonghwa sontak menahan tubuh Seohyun yang tiba-tiba lemah tak bertenaga. Iapun memanggil nama Seohyun berkali-kali namun tidak ada sedikitpun respon dari gadis itu. Yonghwa tiba-tiba memucat dan panik. Ia segera mengangkat tubuh Seohyun yang sudah lemah tak sadarkan diri dan segera berlari mencari bantuan.

-ooo-

Seohyun membuka mata dan mengerang tertahan sambil memegang kepalanya yang terasa hampir pecah. Tubuhnya juga terasa masih lemah tidak bertenaga. Seohyun memutar matanya dan mendapati sosok lelaki yang tengah menatapnya lekat disisi kirinya.

“Oppa” gumam Seohyun. “Kenapa aku-“

“Jangan banyak bergerak dulu” potong Yonghwa sambil mendorong pelan tubuh Seohyun yang hendak bangkit dari posisi tidurnya.

“Ini dimana?” tanya Seohyun sambil memandangi seluruh sudut ruangan. “ER Seoul Hospital” jawab Yonghwa singkat tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Seohyun. Seohyun menatap Yonghwa kemudian ia bangkit dari posisi tidurnya. “Ayo kita pulang, oppa. Aku sudah merasa baikkan”

“Hyun!” bentak Yonghwa frustasi. Yonghwa menatap Seohyun kemudian menarik napas panjang mencoba mengontrol emosinya. “Jebal. Ku mohon, jangan keras kepala. Ini demi kebaikanmu, hyun”. Suara Yonghwa mulai melunak. Seohyun menatap lekat Yonghwa kemudian hendak membuka suara. Namun Yonghwa segera memotongnya. “Demi aku. Bisakah kau melakukannya demi aku?” tanya Yonghwa dengan pancaran mata yang tidak Seohyun mengerti.

Yonghwa mendesah keras dan mengacak rambutnya frustasi. Kemudian ia kembali menatap Seohyun yang juga masih menatapnya tanpa bergerak. “Kumohon hyun. Jika kau terus seperti ini, kau bisa membuatku mati cemas”

-ooo-

Pukul 16.00 KST @ Ruang VIP Lantai 2 Seoul Hospital

Tok – Tok – Tok

Jonghyun segera membuka pintu dihadapannya dan meringsek masuk kedalam ruangan tanpa menunggu jawaban dari dalam. “Hyunnie, kau baik-baik saja?” tanya Jonghyun tepat ketika ia menginjakkan kaki kedalam ruangan tersebut. Jonghyun segera berjalan cepat kearah ranjang yang berada di salah satu sisi ruangan.

“Oppa”. Seohyun mengerjapkan matanya beberapa kali ketika melihat lelaki itu berjalan mendekatinya. “Kenapa kau ada disini?”

Jonghyun tidak segera menjawab pertanyaan Seohyun melainkan menempelkan telapak tangannya pada dahi dan pipi Seohyun untuk mengecek keadaan adik satu-satunya itu.

“Aku yang menelponnya tadi” sahut Yonghwa untuk menjawab pertanyaan Seohyun tadi. Jonghyun menoleh kepada Yonghwa yang tengah duduk di sofa beberapa meter disampingnya. Kemudian ia mengedikkan kepala sekilas untuk menyapa lelaki itu dan Yonghwa membalas dengan hal serupa.

“Kau sudah merasa lebih baik, Seohyun-sii?” tanya suara lain kepada Seohyun. Seohyun sedikit mendongak untuk melihat si pemilik suara yang terhalang oleh tubuh Jonghyun. Jonghyun sedikit menggeser tubuhnya untuk memudahkan Seohyun melihat. “Oh, Yoona-sii?” Seohyun membulatkan matanya. Tidak menduga bahwa sejak tadi gadis itu telah berada diruangan ini. Sepertinya gadis itu datang bersama kakaknya tadi. “Annyeong Haseyo” sapa Yoona ramah sambil menyunggingkan senyum manisnya kepada Seohyun. “Annyeong Haseyo, Yoona-sii” balas Seohyun senang.

-ooo-

Jonghyun menyodorkan segelas kopi panas kehadapan Yonghwa. Yonghwa mendongak dan menerima pemberian Jonghyun itu. “Terimakasih” ucapnya pelan.

Jonghyun duduk disebelah Yonghwa dan matanya menerawang lurus kedepan. Selama beberapa menit, tidak ada dari kedua lelaki itu yang mencoba untuk membuka suara. Keduanya sibuk bergelut dengan pikirannya masing-masing.

Hari telah menunjukkan pukul delapan malam dan sejak tadi mereka tengah duduk disalah satu lorong Rumah Sakit yang sepi. Jonghyun menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Hari ini benar-benar hari yang membuatnya pusing dan frustasi. Pertama, ia harus menerima kenyataan tentang fakta yang dibeberkan Jungshin mengenai kejadian tabrak larinya empat tahun yang lalu dan yang kedua, kenyataan yang ia ketahui dari Yonghwa beberapa menit yang lalu tentang kondisi adiknya yang semakin memburuk. Dua kejadian buruk yang diterimanya dalam satu hari benar-benar membuatnya gila.

Disisi lain, Yonghwa menyeruput pelan kopi panasnya kemudian pikirannya kembali teringat pada Seohyun. Kondisi gadis itu memang benar-benar tidak baik. Hal itu mengingatkan Yonghwa akan kejadian beberapa minggu yang lalu ketika dia menguping pembicaraan Seohyun dan eommanya.

Liver.

Itu yang Seohyun akui didepan eommanya. Yonghwa tidak dapat berpikir apa yang akan terjadi pada gadis itu kelak. Dan ia tidak mau memikirkannya. Ia tidak mau memikirkan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi. Namun satu hal yang pasti, ia berjanji akan melakukan apapun untuk menyembuhkan gadis itu, bagaimanapun caranya. Ia telah kehilangan jantungnya, dan ia tidak akan mau kehilangan udaranya juga.

Drrrrttt – Drrrrttt

Bunyi geratan ponselnya membuat Yonghwa tersadar dari lamunan singkatnya. Dirogoh saku celananya dan segera menjawab panggilan itu dengan satu sentuhan kecil dilayar ponselnya.

“Wae, Jungshin-ah?”

“…..”

“Aku sedang di Seoul Hospital. Waeyo?”

“…..”

“Mwo?”

“…..”

“Mworago???”

“…..”

“Arasho. Aku akan segera kesana”

Yonghwa segera memasukkan ponselnya kembali kedalam saku celana dan segera beranjak dari tempat duduknya. Pikirannya kalut dan benar-benar masih tidak percaya dengan apa yang Jungshin katakan padanya ditelepon tadi. Yonghwa hendak bergegas pergi namun langkahnya terhenti begitu melihat Yoona yang entah sejak kapan telah berdiri beberapa meter disampingnya sambil menatap Yonghwa curiga.

“Ada apa oppa?” tanya Yoona penuh selidik. Yonghwa terlihat menimbang apakah harus memberitahu Yoona atau tidak mengenai masalah ini. Sontak Yonghwa teringat kejadian beberapa waktu lalu tentang ibunya, akhirnya Yonghwa memutuskan untuk memberitahu Yoona. Yoona berhak tahu. Apapun alasannya dan apapun akibatnya nanti.

Yoona masih menunggu Yonghwa dengan alis bertaut. Melihat ekspresi kakaknya, sepertinya itu bukanlah suatu berita yang baik.

Yonghwa menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Yoona. “Yoon-ah” ucapnya pelan. “Appa terkena serangan jantung”.

-ooo-

Hallo… Apa kabar para readerku yang paling keren?

Maaf ya aku lama update part 11 ini. Kemarin banyak kejadian yang ngebuatku sulit merampungkan part 11 ini

Semoga para reader tidak bosan dengan ceritanya ya. Kalau ada krtitik dan saran, silahkan tinggalkan di comment box ya… Terimakasih…🙂

47 thoughts on “Crush [Part 11]

  1. Makin seru eonnie!
    Apalagi udah beberapa rahasia kebongkar.. Dan nambah beberapa konflik lagi..😄
    Aku makin enjoy baca tulisan eonnie eaea abis seru sih.. Chapter depan makin seru lagi ya eon, kalo bisa sampe bikin jantung readers copot *plak *salah -_-V
    Oke, ditunggu chapter 12 nya loh eon! Fighting!’O’)9

  2. Terima kasih masih mau menyempatkan diri membuat dan memposting ff ini🙂
    Makin rumit euy🙂
    Semangat ya🙂
    Semoga semua aktivitas berjalan lancar🙂

    • terimakasih juga karena telah membaca dan meninggalkan comment di blog ku ini…🙂
      doakan saja semoga semua berjalan lancar supaya aku bisa cepat posting part selanjutnya ya…🙂

  3. akhirnya klr jg udh lm nunggunya,daebak smg yoona ma jonghyun cpt jadian trs yoona ga jd dijodohin ma siwon.

  4. yaah, ternyata masih ada saksi yang lain ya, yang tau detailnya kecelakaan jonghyun. aku udah seneng pas jungshin cerita, eh taunya.. hehe

    jonghyun udah mulai suka yoona, asiiikk,🙂

    eon, berarti bakal ada cast baru lagi ya, yang jadi saksi mata kecelakaan jonghyun?

    eonni ff ini rencananya mau nyampe part berapa? hehe
    ditunggu part berikutnya eon, hwaiting🙂

    • mungkin sekitar 3-4 part lagi. itupun kalo imajinasi ku ga ngalor-ngidul…
      hahaha…
      terkadang aku suka dapat ide untuk nambah-nambah cerita dari draft cerita awal yg udah aku buat. jadilah ceritanya makin panjang…😛

  5. daebak!!
    akhirnya~ part 11 udah ada..
    huwaaa~ ceritanya makin seru ajaaa~
    jadi yang nabrak jonghyun itu siapaaa??? jungshin gak bantu banget #ditabok jungshin..
    hubungan jonghyun sama yoona makin deket ajaaa~ ayoo cepetan jadian.. didukung 10000%
    appanya yoona serangan jantung? omo~
    di tunggu banget next partnyaaa~ fighting!!

  6. akhr’y part 11 d post jG aq mPe LumuTn nNggu part niE…! next part d tnGgu ya mkin pNzran s’pa yG nbRak jOnghyun…!!??!

  7. huaaaaaa finally keluar jg part 11 ini *fiuhhhelapkeringet haha
    ihhhhh greget deh yoona ma jonghyun pd belum sadar itu kalo mereka udh jatuh cinta. aduhhhh pengen bgt ada adegan romantisnya buat mereka *film kali adegan* haha
    ternyata jungshin bukan saksi tunggal hemmm penasaran siapa yg nolong jonghyun itu. masi ada hubungannya ma tuan Im 4th lalu kan bener itu kasus tabrak lari.
    yonghwa aaaaaaa sayang bgt ma hyun cuicuiiit. ga mau kehilangan udaranya. ah ah penasaran ma kisah mereka jg :p
    dan itu sakit serangan jantung hemmmm jgn2 dihasut ma mak tiri yoona nih dia pny niat jahat kan pst.
    aduuuuh. pusing deh itu hidup yong ma jonghyun ya plus yoona ma hyun

    mengharapkan happy ending ini dan cepat cepat dikeluarkan part 12nya. penasaran tingkat akut. hehe

  8. Finally part 11 publish,,keke..
    Bukan jungshin saksi tunggal,pasti nambah cast baru lagi yah!!
    ato cast yang udah ada yg jadi saksi tunggalnya??
    yoona,jonghyun,yonghwa,seohyun moment mereka makin nambah seru..
    trus gimana kabar jungshin dan tiffany,sama minhyuk,siwon nie???
    part selanjuttnya ditungguu 🙂

  9. akhirnya publish juga part 11 nyaa..
    Dan sedikit demi sedikit terbongkar juga yah teka teki ttg Jonghyun ya walaupun ternyata bukan Jungshin saksi matanyaa.. Btw yah, jadi Jonghyun sama Yoona sbnrnya udah deket selalu sama sama tapi belum sadar perasaan asli masing masing gtu?? duuhh Jonghyuuuunnnn… Lemot amat soal urusan cinta nih.. Mehehehehhee…

    Ga sabar nunggu part selanjutnyaa..
    Hehhehee…

  10. Aigooo ..! Lanjuuut😀 duh,suerr dah alur ceritanya keren bgt !!! Trus rada bencu ama ayahnya yoona dan yonghwa, ish! Cepet ya thor jgn lama2 chapter 12 nya😉

  11. Annyeong thor ^^
    reader baru =D asti imnida ^^

    sebenernya aku udah ngikutin ff ini sampe part 3 di “FF CNBLUE indo”
    karna aku orangnya gak sabaran jadi nyari2 Wp resmi(?) author dan akhirnya ketemu =D

    asli thor ini ff bikin penasaran asli, jalan ceritanya itu sulit di tebak
    hhehe
    lanjut thor asap^^

    • Selamat datang di blog saya…
      Maaf ya yg di blog ffcnbluindo memang terlambat dan ketinggalan jauh jd kamu sampe nyari ksni…
      Hehe…
      Doakan saja biar bs cpt update ya… kondisi tubuhku lg krg baik skrg. Tp akan aku usahakan biar bs secepatnya di update…🙂

  12. salam kenal buat authornya,,,
    bisa dibilang aku reader baru, dan juga baru kasih comment,,,
    ada kesalahan nih pada dialognya.
    dialog yang yoona nawarin minuman ke jungshin ketika jungshin berkunjung ke apartemenya.
    “Aku mau minum apa, oppa?” tanya Yoona seharusnya “oppa mau minum, apa?” atau apalah yang karena disini yoona yang nawarin pada jungshin bukan pada diri sendiri.

    ffnya bagus, suka deh sama pasangan ini yonna-jonghyun , yonghwa-seohyun.
    keep fighting ya thor….

  13. Huaaaaa knpa cobaan tak hnti2nya dtang pda dua kluarga ini bru bbrpa hri yg lalu emmo yong ma yoon mininggal skrng appa mrka kna serangan jantung dan Jonghyun mndengar adiknya sakit ditmnh pagi tadi sdh brtmu dengan saksi mata yg tak lain lee jung shin tpi ternyta jungshin bukan saksi mata satu2nya… huaaaa yg kuat untuk mrk berempat

  14. Chingu di cerita ini yoona sangat mnderita….ya baru sja yoona dtinggal eomma sekarang ayahnya trkna serangan jantung…..

  15. Bisa jantungan jg tuh bapaknya yoona. Hoho…
    Kisah cinta mereka bakal complicated nihh. Yoona sama jonghyun, yonghwa sama seohyun. Kira2 siapa yg bakal ngalah? Apa nanti seo bakal mati ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s