Crush [Part 10]

crush cover

Judul: Crush – part 1o

Main Cast:

Lee Jonghyun CNBlue sebagai Lee Jonghyun

Im Yoona SNSD sebagai Im Yoona

Other Cast:

Jung Yonghwa CNBlue sebagai Im Yonghwa

Seo Joohyun SNSD sebagai Lee Seohyun

Tiffany Hwang SNSD sebagai Tiffany Hwang

Lee Jungshin CNBlue sebagai Lee Jungshin

Im / Han Haera (OCs)

Im Seolong (OCs)

Rating: PG-15

Lenght: Chaptered

Genre: Romance, Angst, AU

Prolog – Part 1 – Part 2 – Part 3 – Part 4 – Part 5 – Part 6 – Part 7 – Part 8 – Part 9

18.00 KST

Yonghwa melajukan BMW merah miliknya dengan kecepatan diatas rata-rata pada jalanan kota Seoul sore ini. Ia bahkan sudah dua kali menerobos lampu merah dijalan utama ini. Ia tidak peduli dengan yang lain, yang ada dipikirannya saat ini adalah agar dapat segera sampai di Seoul Hospital secepatnya. Sepuluh menit yang lalu Yonghwa mendapatkan telepon dari Jungshin di tengah-tengah rapatnya dengan perusahaan GoChun Ltd. untuk membahas kerjasama mengenai eksport barang dagang mereka ke negara-negara di benua Eropa. Namun Yonghwa segera meninggalkan rapat penting itu dan menyerahkan kelanjutannya kepada bawahannya setelah mendapatkan kabar mengenai ibunya dari Jungshin.

“Sial!!” rutuk Yonghwa sambil memukul kemudi dihadapannya. Mobilnya harus berhenti karena terjebak lampu merah. Tadi ia tidak sempat menerobos lampu merah ini karena sudah ada mobil yang menghalangi jalan didepannya. Yonghwa menggigit kuku ibu jarinya cemas dan melirik jam tangannya sekilas. Ia harus cepat sampai di Rumah Sakit sekarang. Ibunya mungkin membutuhkannya. Tadi Jungshin menjelaskan secara singkat di telepon bahwa kondisi ibunya menurun drastis tadi siang dan saat ini tengah dirawat di ruang ICU karena kondisinya yang tidak sadarkan diri.

Lampu merah didepan telah berganti dengan hijau. Yonghwa membunyikan klakson berkali-kali tidak sabar agar mobil didepannya segera menyingkir dari jalannya. Yonghwa menginjak pendal gas dalam dan kembali melajukan mobil secepat yang ia bisa. Bahkan tidak terhitung sudah berapa mobil yang disalip olehnya.

 

-ooo-

 

18.15 KST @ Seoul Hospital

Yonghwa berlari memasuki Rumah Sakit terbesar di kota Seoul ini. Ia bahkan tidak menghiraukan teriakan seorang suster yang menyuruhnya agar memperlambat langkahnya didalam Rumah Sakit. Persetan dengan semuanya. Yang ada dipikiran Yonghwa hanyalah ibunya. Dan ia harus sampai disana secepat mungkin. Yonghwa menggeleng kepalanya cepat begitu otaknya berpikir yang tidak-tidak mengenai kondisi ibunya. Mencoba menghapus seluruh pikiran buruk tentang kondisi yang mungkin akan terjadi nanti. Ibunya akan baik-baik saja. Ibunya pasti baik-baik saja.

“Hyung!” panggil Jungshin tepat ketika Yonghwa tiba didepan ruang ICU

“Bagaimana kondisinya?” tanya Yonghwa langsung sambil melangkah cepat menghampiri Jungshin

“Aku belum tahu, hyung. Kita belum diperbolehkan masuk. Dokter masih memeriksa kondisi ibumu didalam”

Yonghwa berjalan kedepan pintu ICU bercat putih tersebut. Mencoba melihat keadaan didalam sana. Namun Yonghwa tidak bisa melihat apapun karena sebuah tirai besar berwarna hijau menutupi pandangan matanya.

Yonghwa berjalan mondar-mandir sambil menggigit kuku ibu jarinya. Cemas, takut, gelisah. Semua rasa itu bercampur aduk dalam diri Yonghwa saat ini. Jungshin yang tengah duduk dibangku tunggu hanya bisa memperhatikan sikap gelisah Yonghwa tanpa bisa menghentikan lelaki itu.

“Oppa!!” suara lembut seseorang menghentikan kegiatan mondar-mandir Yonghwa

“Hyun?”

Seohyun berjalan cepat menghampiri Yonghwa. Tadi ia mendapatkan telepon dari Jungshin mengenai kondisi Ny. Han. Seohyun bergegas pergi dari tempat kerjanya segera setelah mendapatkan kabar dari Jungshin tersebut.

“Bagaimana kondisi eommonim?” tanya Seohyun cemas setelah sampai dihadapan Yonghwa

Yonghwa menggeleng lemah. “Aku tidak tahu, hyun” jawabnya pelan

Seohyunpun menatap sekilas pintu ICU yang masih tertutup kemudian kembali beralih menatap Yonghwa. “Tenanglah, oppa” ucapnya pelan sambil mengelus lengan atas Yonghwa.

Diujung bangku, Tiffany melihat semua kegelisahan dan kecemasan yang terjadi dihadapannya dalam diam. Ia tidak mau menginterupsi moment krusial ini. Bahkan jika ingin jujur, Tiffany juga sedikit merasa gelisah mengenai kondisi orang didalam ruang ICU itu yang bahkan tidak ia kenal.

Tiffany memperhatikan dua orang –Yonghwa dan Seohyun- yang berdiri beberapa meter dari tempatnya duduk. Entah kenapa, kedua wajah orang tersebut terasa begitu familiar bagi Tiffany. Padahal ia yakin, mereka baru sekali ini bertemu bahkan Tiffany tidak tahu nama mereka berdua. Tiffany memiringkan kepalanya berpikir. Mencoba mengingat apa ia pernah bertemu dengan kedua orang itu atau mungkin ada kenalannya yang mirip dengan kedua orang tersebut. Namun ia tetap tidak bisa menemukan jawabannya.

Tiffany kemudian melihat Jungshin yang tengah duduk diam di ujung lain bangku ini. Lelaki itu menangkup kedua tangannya dan menatap lekat pintu ICU didepannya. Terlihat lelaki itu tak kalah khawatirnya dengan kedua orang yang masih berdiri cemas didepan pintu ICU tersebut. Tiffany tiba-tiba teringat dengan percakapan Jungshin di telepon ketika mereka dalam perjalanan ke Rumah Sakit tadi. Jungshin sempat menyebutkan nama Haera ahjuma saat ditelepon. Apa mungkin orang bernama Haera itu yang sedang berada di dalam ruang ICU?

Haera. Haera. Im Haera? Tiba-tiba Tiffany tersentak dan membulatkan matanya kaget. Ia ingat!! Haera adalah nama ibu kandung Yoona. Yoona pernah menceritakan tentang ibu kandungnya kepada Tiffany. Nama ibu Yoona adalah Im Haera dan sudah hampir empat tahun Yoona tidak pernah bertemu dengan ibunya ataupun mendapatkan kabar mengenai ibunya. Kemudian Tiffany melirik kearah lelaki yang masih berdiri cemas didepan pintu ICU. Pantas saja ia seperti pernah bertemu dengan lelaki itu. Lelaki itu mirip dengan Yoona. Apa lelaki itu yang bernama Yonghwa? Im Yonghwa, kakak kandung dari Im Yoona. Jika semua dugaannya benar, lalu kemana Yoona? Apa gadis itu tidak tahu mengenai kondisi saat ini? Atau bahkan Yoona memang tidak tahu bahwa ibunya berada di Rumah Sakit ini sekarang?

Tiffanypun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menjauh ke ujung lorong Rumah Sakit. Kemudian ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

Wae, eonni?

“Yoonie, kau berada dimana sekarang?”

Aku masih di cafe. Waeyo?” jawab Yoona diujung telepon dengan nada datar. Sepetinya gadis itu masih marah soal masalah Jonghyun tempo hari.

“Bisakah kau ke Seoul Hospital sekarang?”

Kenapa eonni? Kau sakit?” tiba-tiba nada bicara Yoona berubah, terdengar cemas

“Aniyo. Kau cepatlah kesini. Kurasa kau harus mengetahui sesuatu, namun aku tidak bisa menjelaskannya ditelepon. Aku tunggu kau di depan ruang ICU. Mengerti?” ucap Tiffany, kemudian ia segera mengakhiri sambungan teleponnya dengan Yoona.

 

-ooo-

 

Setelah menunggu lebih dari satu jam, akhirnya pintu ICU terbuka dan keluarlah seorang dokter. Tanpa menunggu aba-aba, semua orang berhambur ke hadapan dokter tersebut.

“Bagaimana keadaan ibuku, uisanim?” tanya Yonghwa tidak sabar.

“Kau yang bernama Im Yonghwa-sii?”

“Ne, saya Im Yonghwa. Anak kandung dari Han Haera”

Dokter tersebut menggangguk pelan kemudian menghelas napasnya berat. Iapun melepaskan kacamata bulat yang terbingkai diwajah tuanya itu. “Maafkan saya Im Yonghwa-sii. Saya sudah berusaha sekuat tenaga namun kondisi ibumu memang sudah tidak memungkinkan”.

Yonghwa seketika membeku ditempatnya. Ucapan pelan dokter tadi terasa seperti petir besar yang menyambarnya ditengah hari. Yonghwa melangkah mundur pelan dari tempatnya. Tidak percaya dengan ucapan yang baru saja didengarnya. Dalam hitungan detik, tubuhnya jatuh tersungkur kelantai dingin Rumah Sakit. Semua tenaganya hilang. Ia terasa begitu lemah, teramat lemah. Kakinya terasa tak kuat lagi menopang tubuhnya. Yonghwa dapat merasakan matanya memanas dan didetik kemudian, cairan bening itu meluncur deras dari sudut matanya.

Tubuhnya bergetar hebat. Ia meracau memanggil ibunya pelan disela-sela isakannya “eomma… eomma…”. Ibunya telah tiada. Ibu yang begitu ia cintai telah pergi meninggalkannya. Lalu apa arti pencariannya selama ini? Lalu apa arti usaha yang ia lakukan untuk kesembuhan ibunya selama ini? Empat tahun ia tidak bertemu dengan ibunya, namun kenapa dalam waktu singkat mereka harus dipisahkan lagi? Apa ini adil? Yonghwa memukul dadanya berkali kali. Sesak. Disitu terasa sesak. Tubuhnya seakan mati rasa karena jantungnya telah berhenti berdetak dan berhenti memompa darah keseluruh jaringan tubuhnya.

Disisi lain, Seohyun juga telah banjir air mata. Ia terisak pelan. Napasnya tercekat. Bagaimanapun Ny. Han telah ia anggap seperti ibunya sendiri. Selama ini Seohyun selalu bersamanya, menemaninya. Namun sekarang ia pergi. Wanita dengan tatapan teduh, wanita dengan senyum hangat, wanita yang memiliki rasa kasih sayang yang begitu tulus dan besar telah pergi meninggalkannya.

Seohyun berjalan pelan menghampiri Yonghwa. Kemudian ia duduk disisi Yonghwa yang masih menangis terisak. Iapun mengulurkan tangannya dan memeluk lelaki itu erat. Membiarkan bahu kecilnya menjadi topangan bagi tubuh rapuh Yonghwa saat ini. Yonghwa menenggelamkan wajahnya dibahu Seohyun dan kembali meracau didalam dekapan Seohyun “Hyun.. eom..ma… eomma…”

“Oppa, kuatkan dirimu” ucap Seohyun dibalik tangisnya sambil kembali mendekap erat Yonghwa didalam pelukannya. Seohyun dapat merasakan tubuh Yonghwa masih gemetar hebat. Gemetar karena kesedihan yang teramat dalam.

“Fanny eonni?”

Semua memalingkan wajahnya ketika mendengar suara seseorang yang begitu familiar. “Ada apa ini?” tanya suara itu cemas

“Yoon-ah?” tanya Jungshin kaget yang melihat kehadiran Yoona di Rumah Sakit

Yoona melihat kakaknya terduduk lemah dilantai dan segera menghampirinya. “Oppa, ada apa? Kenapa ini?” tanya Yoona cemas. Yonghwa menatap mata Yoona sendu. Ia tidak menjawab pertanyaan Yoona melainkan kembali terisak. Ia tidak sanggup memberi kabar buruk itu kepada adiknya. Yoona yang melihat keadaan Yonghwa justru merasa semakin cemas. Ia dapat merasakan sesuatu yang buruk telah terjadi. Jungshinpun menghampiri Yoona dan menuntun tubuh Yoona agar berjalan mengikutinya masuk ke ruang ICU.

Dan disitu, Yoona melihatnya dengan jelas. Tubuh orang yang begitu dicintainya terbujur kaku di atas ranjang. Tubuh kaku ibunya, Im Haera. Yoona membeku ditempatnya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya saat ini. Yoona menutup mulut dengan kedua tangannya dan menggeleng cepat tidak percaya. Air matanya mengalir deras menganak sungai dipipinya. Berbeda dengan Yonghwa, Yoona justru tidak terisak. Ia menutup rapat mulutnya namun air mata terus mengucur deras dari sudut matanya. Tubuhnya gemetar hebat. Yoonapun meracau tidak jelas “eomma… ke… kenapa… kenapa… eomma”. Kemudian ia segera menghambur memeluk tubuh kaku ibunya.

Yoona mendekap tubuh dingin ibunya erat. Begitu erat. Ini pertemuan pertama dengan ibunya semenjak empat tahun yang lalu. Rindu menyesak masuk ke dalam rongga dadanya. Ia menciumi tiap inci wajah teduh ibunya itu. “eomma… bangun… eomma. Ini aku anakmu, Im Yoona” bisik Yoona dibalik dekapan dingin tubuh ibunya. Yoona menatap wajah tenang ibunya. Begitu tenang. Seolah-olah semua bebannya selama ini telah terangkat dan pergi jauh bersama jiwanya. “eomma bangun. Bangun…” Yoona mengguncang pelan bahu ibunya. Ia ingin ibunya membuka mata, melihatnya dan tersenyum kepadanya. Kemudian berkata bahwa semua baik-baik saja dan Yoona tidak perlu khawatir.

Air mata terus mengalir membasahi pipi Yoona. Ibunya tidak kunjung bangun. Ia mencoba mengguncang tubuh ibunya lebih kuat. Ibunya akan bangun. Ibunya pasti bangun. Ibunya pasti baik-baik saja. “eomma… bangun. Aku sudah disini. Jangan tinggalkan aku lagi” panggil Yoona bak racauan tidak jelas yang keluar dari balik bibir gemetarnya. Namun tubuh ibunya tidak bergeming sedikitpun. Tubuh itu telah kaku. Telah dingin. Tidak ada lagi kehangatan yang terasa dari tubuh itu, tidak ada lagi tubuh yang selalu merengkuhnya ketika Yoona menangis, dan tidak ada lagi tubuh yang selalu melindunginya ketika ia takut.

Jungshin menarik pelan tubuh Yoona dari jenazah ibunya. Yoona sempat melawan namun tubuhnya begitu lemah. Yoona memandang tubuh kaku ibunya yang mulai hilang dari penglihatannya akibat air mata yang terbendung di kantung matanya. Kepalanya terasa pusing dan berdenyut hebat. Dadanya terasa sakit dan ngilu. “Jangan menagis Yoon-ah. Ibu tahu kau anak yang kuat” dalam kesadarannya yang hampir setengah, Yoona dapat mendengar suara lembut itu mengalun merdu ditelinganya. Tidak beberapa lama, Yoona melihat semuanya mulai menggelap dan sejurus kemudian Yoonapun sempurna kehilangan kesadarannya.

 

-ooo-

3 jam kemudian. Pukul 23.00 KST @ apartement Jonghyun

Drrrrtttt – Drrrrrtttt

Suara getaran ponsel mengalihkan konsentarsi Jonghyun dari koran yang sedang ia baca dihadapannya. Iapun mengambil ponselnya kemudian menjawab panggilan itu.

“Ada apa, Fanny?”

Oppa. Kau tahu dimana Yoona sekarang?” tanya Tiffany cemas diseberang telpon

“Tidak. Mungkin diapartementnya. Kenapa?”

Ani. Tadi Yoona bersamaku di Rumah Sakit. Namun sekarang ia menghilang. Aku khawatir oppa. Kondisinya sedang tidak baik

“Maksudmu?”

Ibu Yoona baru saja meninggal. Tadi ia sempat pingsan di Rumah Sakit. Namun ketika kami ingin melihat kondisinya, ia sudah tidak ada disini. Oppa, tolong bantu kami mencarinya. Kondisinya sedang tidak stabil sekarang

“Arasho. Aku akan menghubungimu jika aku menemukannya”

Gomawo, oppa

Jonghyun segera beranjak dari tempat duduknya dan mengambil asal salah satu jaket yang tergantung dibalik pintu. Ia segera berlari keluar rumah. Pikirannya kalut. Entah kenapa ia begitu khawatir terhadap gadis itu. Ini sudah hampir tengah malam dan gadis itu berada diluar seorang diri dengan kondisi psikis yang tidak baik.

Jonghyun menyusuri jalan besar yang sudah hampir sepi dengan kendaraan yang lalu lalang. Matanya tidak berhenti memperhatikan dengan awas setiap sudut jalan yang dilaluinya. Berharap dapat menemukan sosok gadis yang begitu membuatnya cemas saat ini. Kemana gadis itu? Apa yang ia lakukan saat ini? Segala macam pikiran buruk berkelebat melintas di otak Jonghyun. Ia harus menemukan gadis itu sebelum sesuatu yang buruk terjadi padanya.

Sudah lebih dari empat puluh lima menit Jonghyun menyusuri jalan besar ini dan ia belum juga berhasil menemukan gadis itu. Jonghyun mengacak rambutnya frustasi. Baru sekali ini ia merasakan kekhawatiran sebesar ini. Ia bahkan tidak mempedulikan kakinya yang mulai lemah akibat berjalan tanpa henti, ia juga tidak mempedulikan angin dingin musim gugur yang menerpa kulit wajahnya dan membekukan tubuhnya. Yang ada dipikirannya saat ini hanya satu. Gadis itu.

Selang beberapa menit, Jonghyun menangkap sosok yang begitu dikenalnya. Gadis itu. Gadis yang hampir membuatnya gila semenjak hampir satu jam yang lalu. Gadis itu duduk tenang di sebuah halte. Halte yang juga begitu familiar bagi Jonghyun. Tempat dimana ia dan gadis itu menghabiskan waktu memandang langit setiap malam.

Jonghyun berjalan cepat menghampiri gadis itu tanpa sedetikpun mengalihkan pandangannya. Gadis itu duduk tenang. Tidak begeming sedikitpun dengan kehadiran Jonghyun. Gadis itu menatap lurus kedepan. Tatapan matanya kosong. Wajahnya kaku tanpa ekspresi. Seperti sebuah patung yang sedang duduk diam. Matanya terlihat sembab namun tidak ada lagi bulir air mata yang menetes jatuh dipipinya.

Jonghyun mendekat pelan ke arah gadis itu. “Ya!” panggilnya. Gadis itu diam. Tidak terpengaruh dengan suara panggilan Jonghyun. Jonghyunpun mengulang panggilannya “Im Yoona”. Baru kali ini ia memanggil gadis itu menggunakan namanya. Berharap gadis itu menoleh dan merespon panggilannya kali ini. Namun ternyata itu juga gagal. Gadis itu tetap menatap kosong jalan didepannya. Jonghyun merasa ini aneh. Gadis ini seperti bukan Yoona yang ia kenal. Yoona yang cerewet dan tidak bisa diam. Yoona yang hangat dan penuh semangat. Sepertinya kondisi psikis Yoona benar-benar buruk. Pastilah kejadian meninggal ibunya sangat menohok bagi Yoona.

Jonghyunpun menggenggam lembut tangan kiri Yoona. Tangan gadis ini terasa begitu dingin. Wajahnya memucat dan bibirnya juga membiru. Jelas saja, gadis ini duduk diluar selama  berjam-jam dengan kondisi udara seperti ini. Jonghyun melepas jaketnya dan menyampirkan pada pundak Yoona. Lalu ia mengangkat pelan gadis itu dari posisi duduknya. Dan menuntun gadis itu untuk berjalan pulang ke apartement mereka.

 

-ooo-

 

Pukul 00.30 KST @ Apartement Yoona

“Aku sudah menemukannya. Kalian tidak usah khawatir”

Syukurlah. Kami akan segera kesana

“Jangan dulu. Kurasa saat ini Yoona butuh ketenangan. Besok pagi aku akan membawanya ke rumah duka. Namun sekarang biarkan dia istirahat”

Arasho. Gomawo, oppa

Jonghyun memutuskan sambungannya dengan Tiffany. Tadi ia memberikan kabar mengenai kondisi Yoona seperti janjinya. Namun ia rasa Yoona butuh ketenangan saat ini. Jadilah ia melarang yang lain untuk datang menemui Yoona.

Jonghyun mengaduk pelan teh hangat dihadapannya. Diliriknya Yoona yang tengah duduk meringkuk diam disofa depan. Semenjak sampai di apartement, Yoona masih juga diam membatu seperti tadi. Tidak ada sedikitpun kata yang keluar darinya. Gadis itu terlihat lebih mirip seperti mayat hidup. Hanya suara pelan deru napasnya yang menandakan gadis itu masih memiliki nyawa.

Jonghyun berjalan menghampiri Yoona sambil membawa teh hangat didalam genggamannya. Iapun duduk disisi kiri Yoona. Lagi-lagi gadis itu tidak bergeming dengan kehadirannya. Ia seperti asik dengan dunianya sendiri dan menghiraukan semua yang berada disekitarnya. Akhirnya, Jonghyun menyuapi teh hangat itu ke dalam mulut Yoona untuk sedikit memberikan rasa hangat pada tubuh dingin gadis itu. Yoona tidak menolak. Jonghyun miris melihat keadaan Yoona. Gadis itu tidak menolak dan tidak melawan ketika Jonghyun membawanya pulang dan menyuapinya. Gadis ini benar-benar seperti patung. Ini tidak benar. Bukan seperti ini seharusnya reaksi Yoona. Jika ingin jujur, Jonghyun lebih memilih Yoona menangis meraung-raung ketimbang melihat keadaan Yoona yang seperti ini.

Jonghyun meletakkan cangkir teh yang sudah habis setengah diatas meja. Kemudian ia menangkupkan tangan kanannya pada pipi Yoona dan mengarahkan wajah gadis itu agar menatapnya. Wajah Yoona berhadapan dengan Jonghyun, namun tatapannya masih kosong. Ia hanya menatap lurus seolah-olah tidak merasakan kehadiran Jonghyun dihadapannya.

“Im Yoona, ada apa dengan mu?” ucap Jonghyun lembut. Masih menatap dalam mata coklat gadis itu.

“Jangan seperti ini, Yoon-ah. Ini tidak sepertimu. Katakan padaku apa yang kau rasakan”. Ucap Jonghyun tercekat. Kesedihan tiba-tiba saja meringsek masuk kedalam dirinya. Yoona menatap Jonghyun. Kali ini setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Jonghyun terpaku. Gadis ini terlihat sangat rapuh. Apa rasa sedih begitu besar dirasakannya, sehingga untuk mengeluarkannya saja ia tidak sanggup?

Jonghyun mengusap pelan air mata yang jatuh dipipi Yoona dengan tangan kanannya. “Kau boleh menangis. Kau boleh menangis saat ini. Aku ada disini untuk menghapus air matamu. Aku ada disini untuk tempatmu bersandar” kalimat singkat Jonghyun itu sukses membuat Yoona banjir air mata. Yoona memegang dadanya yang begitu sakit sedari tadi. Tangis yang ia tahan semenjak tadi meledak dihadapan lelaki ini.

Jonghyun segera mengulurkan tangannya dan menuntun gadis itu kedalam dekapannya. Tangis Yoona makin pecah. Iapun meracau tidak jelas didalam pelukan Jonghyun “eomma… eomma pergi. Eomma… su… sudah pergi”. Jonghyun mengusap lembut rambut Yoona. Mencoba menenangkan Yoona, atau setidaknya memberitahu kepada gadis itu bahwa ia ada disini untuknya. Mendengar tangis pilu Yoona membuat hati Jonghyun ikut tersayat-sayat. Ia ingin melindungi gadis ini. Melindungi sisi rapuh gadis yang begitu berharga baginya ini.

 

-ooo-

Keesokkan hari pukul 11.00 KST @ Pemakaman Han Haera

Langit mendung dan suara isakan mewarnai pemakaman Han Haera. Yonghwa sebagai anak tertua dari Han Haera tak henti-hentinya terisak melihat peti mati ibunya perlahan masuk kedalam tanah. Seohyun yang sedari tadi selalu berdiri disisi Yonghwa juga terisak melihat peti Ny. Han yang mulai menghilang dari pandangan matanya. Seohyun mengelus punggung Yonghwa pelan. Mencoba menenangkan lelaki itu walaupun tidak banyak berpengaruh bagi Yonghwa.

Disisi lain, Yoona juga tak kalah sedih. Ia sudah banjir air mata semenjak mereka berada di rumah duka tadi pagi. Isakan Yoona menguat ketika melihat tubuh ibunya mulai tertutup oleh tumpukan tanah. Disampingnya, Jonghyun menggenggam erat tangan kiri Yoona yang terbalut sarung tangan berenda. Ia tidak mau sedetikpun menjauh dari gadis ini. Keadaan psikis Yoona memang sudah mulai membaik sejak tadi pagi. Yoona menangis semalaman didalam dekapan Jonghyun. Bahkan mereka berdua tertidur di sofa dalam keadaan Yoona didalam pelukan Jonghyun. Untunglah, semenjak kejadian tadi malam, Yoona sudah mulai dapat menerima kepergian ibunya. Ia sudah mulai terlihat sedikit lebih tegar dan lebih hidup.

Acara pemakaman telah selasai dan para pelayat sudah mulai pergi meninggalkan area makam. Yoona masih terlihat duduk terpaku disisi makam ibunya yang masih basah. Ia mengusap lembut tumpukan tanah dihadapannya. “Eomma. Tidurlah dengan tenang. Aku mencintaimu” ucap Yoona lirih. Setelah dirasakannya cukup, Yoonapun beranjak dari duduknya dibantu oleh Jonghyun yang masih setia menemaninya sejak tadi.

“Oppa, kau duluan saja. Aku mau berbicara dulu dengan Yonghwa oppa” pinta Yoona.

Jonghyun diam. Tidak langsung menyutujui permintaan Yoona. Sejujurnya, ia tidak mau jauh dari sisi gadis ini sekarang. Ia takut kondisi gadis ini kembali seperti tadi malam. Dan ia tidak mau hal itu terjadi lagi.

Yoona melihat keraguan dimata Jonghyun, iapun mencoba meyakinkan lelaki itu. “Aku tidak apa-apa, oppa. Aku hanya ingin berbicara berdua dengan Yonghwa oppa”. Dengan ragu, akhirnya Jonghyunpun mengangguk menyetujui permintaan Yoona. Iapun berjalan menjauh meninggalkan gadis itu.

Yoona berjalan mendekati Yonghwa yang masih duduk sendiri disisi lain makam ibunya. Seohyun juga sudah pergi atas permintaan Yonghwa tadi. Yonghwa tahu bahwa ia harus menjelaskan semua ini kepada Yoona. Apapun resikonya. Meskipun mungkin Yoona akan membencinya.

Yoona duduk disamping Yonghwa. Ia lalu melirik sekilas kakak satu-satunya itu. Yonghwa terlihat masih menangis dalam diam.

“Mungkin oppa mau menjelaskan sesuatu padaku” ucap Yoona dengan suara parau memecahkan keheningan mereka.

Yonghwa menundukkan kepalanya dalam. Mencoba mengontrol suaranya yang masih bergetar. “Mianhe, Yoon-ah” hanya itu kalimat yang terucap dari balik mulut Yonghwa. Yoona diam. Ia masih menunggu penjelasan dari kakaknya ini.

“Maaf. Aku tidak memberitahumu mengenai kondisi eomma” akhirnya Yonghwa mengakui kesalahannya masih dengan suara tertahan.

Yoona menarik napas dalam. Mencoba untuk tetap tenang. “Apa alasanmu oppa?”

“eomma memintaku, Yoon. Ia tidak mau kau sedih melihat kondisinya”

Yoona sempurna terdiam. Lihatlah, dengan kondisinya yang seperti itu, ibunya masih sempat memikirkan dirinya. Memikirkan perasaan Yoona yang mungkin hancur jika melihat kondisi ibunya saat itu. Kemana lagi ia bisa mencari ibu terbaik seperti itu?

“Kau boleh membenciku, Yoon-ah. Aku yang salah. Kau boleh membenciku” ucap Yonghwa dengan suara seraknya

Yoona menatap kakaknya sayu. Mana mungkin ia membenci lelaki ini? Lelaki yang selalu menjaganya dan melindunginya semenjak ia kecil? “Aku tidak akan pernah membencimu, oppa” ucap Yoona bijak. Yonghwa menatap Yoona tidak percaya. Ia telah merahasiakan hal penting ini dari Yoona. Yoona seharusnya marah padanya. Karena dirinya, Yoona tidak bisa bertemu langsung dengan ibu yang begitu ia rindukan selama empat tahun ini.” Aku tahu kau memiliki alasan melakukan semua ini” lanjut Yoona. Yonghwa sempurna tergugu. Ia tidak menyangka adik kecilnya ini telah berpikir jauh lebih dewasa darinya. Yoonapun menggenggam tangan kakaknya kemudian memeluk erat kakak satu-satunya itu.

 

-ooo-

Jonghyun berjalan pelan meninggalkan area pemakaman. Ia tidak akan langsung pulang, melainkan menunggu Yoona di depan pemakaman ini. Ia masih belum bisa meninggalkan gadis itu. Lagipula, Jonghyun rasa akan lebih baik bagi Yoona jika ia kembali ke apartement daripada kembali ke rumahnya yang penuh kenangan buruk itu.

Ya, Jonghyun sudah tahu semuanya. Tiffany menceritakan semua padanya tadi. Tentang ayah Yoona yang berlaku tidak adil padanya, tentang orang tuanya yang bercerai dan tentang ibunya yang pergi dari rumah empat tahun yang lalu. Semua itu membuat Jonghyun merasa sangat bersalah atas ucapannya kepada gadis itu beberapa hari yang lalu. Ternyata Yoona bukanlah gadis manja yang bermain-main dengan kehidupannya, bukanlah gadis yang menganggap semua masalah dapat dengan mudah diatasi, dan juga bukanlah seorang gadis yang munafik. Pastilah Yoona sangat terpukul mendengar ucapan Jonghyun tempo hari. Jonghyunpun mengutuk dirinya sendiri kesal. Kesal dengan ucapan bodohnya, kesal dengan emosinya yang tak bisa terkendali, dan kesal dengan dirinya yang tidak tahu apa-apa tentang Yoona.

Jonghyun memandang sekitar. Area pemakaman ini sudah hampir sepi. Dan gadis itu belum juga terlihat batang hidungnya. Jonghyun menendang malas kerikil-kerikil kecil dibawah kakinya untuk menghabiskan waktu.

“Oppa”. Jonghyun menoleh mendengar suara wanita yang begitu familiar dengannya

“Kau… Jonghyun oppa kan?” tanya gadis berbaju hitam itu. Jonghyun membulatkan matanya kaget. Hampir tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.

“Hyunnie?? Lee Seohyun??” tanya Jonghyun tidak percaya

Gadis itu tersenyum senang. Namun dengan seketika, air mata jatuh membasahi pipinya. Bukan, bukan air mata sedih. Melainkan air mata gembira yang tidak dapat dibendungnya. Sejurus kemudian, gadis itu menghambur kedalam pelukan Jonghyun.

“Oppa, nomu bogoshipposo” lirih Seohyun didalam dekapan Jonghyun. Jonghyun mengeratkan pelukannya pada gadis itu. “Aku juga. Aku sangat merindukanmu, Hyunnie”

“Apa yang kalian lakukan?” suara berat seorang lelaki menghamburkan moment manis yang baru saja tercipta antara Jonghyun dan Seohyun. Dihadapan mereka tengah berdiri dua kakak beradik yang memandang mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Apa maksud semua ini, hyun?” tanya Yonghwa kepada Seohyun sambil menatap tajam Jonghyun didepannya. Disisi Yonghwa, terlihat Yoona membuang wajah dalam diam, menolak melihat pemandangan dihadapannya itu.

“Oppa… ini… ini tidak seperti yang kau pikirkan” jelas Seohyun terbata-bata. Entah kenapa ia takut melihat wajah Yonghwa yang tiba-tiba mengeras dan begitu tidak bersahabat dihadapannya.

Jonghyun melangkah maju mendekati Yonghwa. Kemudian mengulurkan tangannya kehadapan lelaki itu. “Perkenalkan. Aku Lee Jonghyun. Kakak kandung dari Lee Seohyun”

 

-ooo-

 

Dua hari kemudian @ Heaven Coorp

Jungshin berjalan cepat memasuki ruangan General Manager Heaven Coorp dilantai lima gedung ini. Ditangannya, terdapat map merah yang baru saja didapatnya dari hasil rapat direksi beberapa hari yang lalu.

“Hyung. Aku mendapatkan kabar penting” ucap Jungshin sambil berjalan cepat ke meja Yonghwa.

“Apa itu?”

Jungshin menyerahkan map merah itu kepada Yonghwa. Yonghwa menatap Jungshin heran. Lalu ia segera membuka dan membaca isi map yang dibawa assistent pribadinya itu.

“Mwo??” Yonghwa terbelalak kaget membaca apa yang tertulis didalam map merah itu. “Apa ia gila???” tanya Yonghwa frustasi.

“Aku juga kaget mendengarnya, hyung. Tapi itu sudah keputusan dari rapat direksi beberapa hari yang lalu”

“Tapi ini sama saja menggali kuburan sendiri!!” teriak Yonghwa emosi

Didalam map itu, terdapat surat pembelian perusahaan Sky Mild, Ltd atas nama Heaven Coorp. Sky Mild, Ltd merupakan sebuah perusahaan yang hampir failed dan tinggal menghitung hari untuk menunggu kehancurannya. Dan dengan bodohnya, Heaven Coorp membeli perusahaan dengan hutang terbesar se-Korea Selatan itu. Bukankah itu merupakan usaha bunuh diri? Yonghwa tidak habis pikir atas apa yang sedang dipikirkan ayahnya saat itu.

“Aku ingin bertemu ayahku sekarang” perintah Yonghwa

“Tapi hyung, Presdir sedang ada rapat dengan salah satu mitra kita”

Yonghwa berdecak kesal kemudian segera menghambur keluar tanpa mendengarkan perkataan Jungshin selanjutnya. Ia berjalan menuju lantai 11, ruangan President Direktur Heaven Coorp, Im Seolong.

 

-ooo-

 

Yonghwa berjalan cepat menuju ruangan besar diujung lorong lantai 11 ini. Bahkan ia tidak mempedulikan teriakan dari salah seorang sekertaris pribadi ayahnya yang berkata bahwa Tuan Im Seolong sedang ada tamu saat ini. Yonghwa tidak peduli. Ia hanya ingin menanyakan alasan ayahnya mengenai tindakan bodohnya itu.

Yonghwa membuka pintu besar didepannya dan segera menghambur masuk kedalam. Beberapa orang menatap sinis ke arahnya. Mungkin menganggap bahwa Yonghwa tidak memiliki etika dan sopan santun karena menerobos masuk tanpa izin. Ayahnya menatapnya sekilas lalu memberikan kode kepada semua orang agar meninggalkannya berdua dengan Yonghwa diruangan ini.

“Ada apa?” tanya Im Seolong tepat ketika semua orang telah keluar dari ruangannya.

Yonghwa berjalan kedepan meja Im Seolong lalu melempar map merah itu diatas meja. “Bisa kau jelaskan kepadaku apa maksud semua ini?”

Im Seolong menatap Yonghwa tajam. Terlihat angkuh dengan tatapannya saat ini. “Apa yang harus ku jelaskan padamu?”

“Apa maksudmu membeli perusahaan sekarat itu? Apa kau tidak tahu ini bisa berakibat fatal bagi perusahaan kita?” tanya Yonghwa geram

“Itu sudah keputusan dari rapat direksi. Dan menurutku, kau tidak memiliki kapasitas untuk ikut campur dalam masalah ini, Im Yonghwa-sii. Kuharap kau masih ingat posisimu diperusahaan ini” jawab Im Seolong tenang

Yonghwa mengatupkan rahangnya kuat. Kesal. Ia sangat kesal. Orang ini tidak pernah mau mendengar masukan darinya hanya karena posisinya sebagai General Manager disini. “Lakukan sesukamu!!” desisnya. Kemudian ia segera pergi meninggalkan ruangan itu dan menghilang dibalik pintu.

 

-ooo-

Annyeong… kembali lagi dengan ff crush part 10. Maaf kalau banyak typo ya. Soalnya aku menyelesaikannya hari ini mumpung lagi libur. Gimana ceritanya? Makin menarik? Aku selalu menunggu komentar yang membangun dari para reader semua. Sampai ketemu di part selanjutnya ya…🙂

45 thoughts on “Crush [Part 10]

  1. sedih bacanyaaa,, Yoona bertemu ibunya saat ibunya sudah ga ada.. Tapi senyam senyum sendiri pas baca part Jonghyun Yoona nya.. hehehe.. Akhirnya Jonghyun mulai sadar kalo dia itu ada rasa sama Yoona.. Daaaaaannn bener kaann Seohyun itu adiknya Jonghyun.. eeehh tapi gimana itu hub keempatnya.. YongSeo sama Jongyoon, kan sodaraan Jong Seo sama Yong Yoon.. Emang boleh yah jadi pasangan gtu? bukannya nti jadi ipar? Hahahhaa.. sudahlah.. Aku tunggu part selanjutnya yaaaahh.. Hwaiting authoorr…

  2. cieee jonghyun sama yoona udah akur lagi hihiihhi cepet jadian dong >.<
    tapi bingung juga ya kakak beradik suka sama kakak beradik yang satunya T.T
    aaaah makin dalem nih komfliknya. semangat author ya ditunggu part selanjutnya🙂
    oia selamat ya author sudah mulai launching di wordpressnya ff cnblue indo🙂 semoga mendapat lebih banyak perhatian dan dukungandari pecinta ff🙂

    • hahahaha… emang kenapa klo kakak beradik? kan ga ada yg larang…😛
      iya nih. aku post di cnblueindo soalnya dapat tanggapan yg bagus dr blog ku ini… hahahaha
      semua berkat para reader…🙂

  3. selamat karena anda mampu membuat saya menangis🙂
    suka banget sama karakter Yoona disini🙂
    Strong Yoona🙂
    Semangat ya Author🙂
    Keep Writing and Thank You🙂

  4. huwaaa~ makin seru aja.. daebak!!
    jonghyun kereen nemenin yoona terus di saat paling pait di kehidupan yoona..
    tapi, itu seohyun kan ama yonghwa, yoona ama jonghyun.
    seohyun adiknya jonghyun terus yoona adiknya yonghwa.. terus gimana sama nasib percintaan mereka? mereka sodaraan..
    okey, di tunggu banget next partnya..

  5. waaahhh makin complicated aja critanya. Aku suka critanya, bikin pnasaran🙂 Cepet2 di lanjut ya thor part slanjutnya ^^

  6. ahhhhh makin greget sih ini aih aih aih.
    semua terbuka skrg dan bener dugaan aku hyun adenya jonghyun kyaaaaa. yong udh cemburu aja pst pas liat jonghyun ma hyu pelukan haha.
    aku sedih ikut berkacakaca pas eomma yoona ma yong meninggal hiks. kasian bgt yoona ketemu malah pas ibunya udh meninggal. ahhh
    fanny baik ya ternyata hehee. sempet kesel pas awal *mianhe
    ahhh jonghyun udh mulai da rasa kan ma yoona. sweet bgt sih adegan ternyata yoona pergi ke halte itu dan jonghyun yg nemuin ihiiiy. dan mereka bermalam bersama. ah jonghyun ayo skrg hrs jaga yoona jg.
    hissss ini im seolong bodoh atau emang udh gelap mata sih masa beli perusahaan yg udh mau bangkrut ckck

    makin penasaran authorrrr ayooo lanjut secepatnya hehe

  7. waahh, ga nyangka qu ud ngikutin ff ini smp chap 10 ^^
    makin seru dr chap ke chap, daebak author chingu! ^_^b
    konflik antar tokoh mulai bermunculan…
    waiting 4 the next chap, yah..smoga ga terlalu panjang ff ini jadinya ^.~
    smgt, author chingu!!! ^^9

  8. Author tanggung jawab buat aku mewek😥 aigoo yoona diluar dugaan ternyta lbih kuat dan dewasa dia.bisa mnrma semuanya dengan ikhlas..
    Tunggu dlu ada yg cmburu nih #lirikIMbersaudra… wkwkwk tnang aja Yong n Yoona eon meka sdra gx lbh… hhhh Yongppa posesif ni kyknya😀

  9. chap ini feelnya dapet,jadi sedih bacanya:(
    yampun kenapa aku gak nyadar kalau marga jonghun sama seo sama-_-
    waaah kebetulan. lanjut thor, hwaiting!^^~

  10. Wah…dampe nangis ni bca ff ….wah yoona bijak sekali bkannya mrah karens tlah mnyembunyikan orang yg ditunggu nya mlah mnyembunyikan semuanya….lanjut…..

  11. tu kan jonghyun ma seohyun kakak adik
    truz gmna????jonghyun kan ma yoona truz yonghwa ma seohyun tp kok sodaraan smw
    aaaaah bgungin deh…

  12. Sediiih yoona cm bs ngeliat ibunya pas udh gag ada,,, kangen sm moment yongyoonnya niih mana yonghwa yg perhatian sm adiknya??
    Lanjuuutt…

  13. nmu web ini di 2015, telaat bgt😦
    Ngbut baca, brhti dlu buat cmnt😀
    crtanya jjang!! Seru bgt. Di chap ini feelnya dpt bgt. Jdi iktn sdih😦
    Lnjtt baca lgi😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s