Crush [Part 7]

crush cover

Judul: Crush – part 7

Main Cast:

Lee Jonghyun CN Blue sebagai Lee Jonghyun

Im Yoona SNSD sebagai Im Yoona

Other Cast:

Jung Yonghwa CN Blue sebagai Im Yonghwa

Seo Johyun SNSD sebagai Lee Seohyun

Lee Jungshin CN Blue sebagai Lee Jungshin

Tiffany Hwang SNSD sebagai Tiffany

Cho Kyuhyun Super Junior sebagai Cho Kyuhyun

Jessica Jung SNSD sebagai Jessica

Rating: PG-15

Lenght: Chaptered

Genre: Romance, Angst, AU

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6

21.00 KST @Trax Lounge and Bar

“Ya!! Tambah satu lagi!” Yonghwa menyodorkan gelas kosong kepada bartender di depannya.

“Tapi tuan, ini sudah gelas ke tujuh anda” ucap seorang bartender yang sedari tadi melayani Yonghwa

“Tsk!! Ku bilang tambah!!!” bentak Yonghwa sambil menghentakkan gelas kosongnya ke meja berkali-kali diikuti racauan tidak jelas yang keluar dari mulutnya.

“Ne, Tuan” akhirnya bartender itu mengalah dan menambahkan lagi vodka ke dalam gelas Yonghwa.

Yonghwa segera meminumnya beberapa teguk. Kesadarannya sudah hampir mencapai batas namun ia tidak peduli. Masalah yang menderanya hari ini begitu membebani pikirannya. Masalah mengenai kesehatan ibunya yang makin memburuk ditambah kenyataan yang ia temukan mengenai kondisi adiknya selama ini. Semua membuat Yonghwa tertekan dan ia makin frustasi karena tidak bisa menyelesaikan semua masalah itu.

Yonghwa meneguk kembali minumannya. Kepalanya memang terasa sudah makin berat saat ini karena pengaruh kuatnya alkohol, namun ia tidak bisa berhenti. Setiap teguk alkohol yang masuk ke dalam tubuhnya membuat Yonghwa bisa melupakan sejenak masalah-masalah yang sedang menimpanya saat ini.

I remember tears streaming down your face
When I said, I’ll never let you go
When all those shadows almost killed your light
I remember you said, Don’t leave me here alone
But all that’s dead and gone and passed tonight

Yonghwa menoleh kearah panggung kecil didepan bar begitu mendengar petikan gitar dan suara lembut penyanyi yang baru saja memulai pertunjukkannya malam hari ini. Yonghwa memandang lurus kedepan. Telinganya mendengar lagu lembut yang dinyanyikan penyanyi dipanggung itu namun pikirannya melayang entah kemana.

Just close your eyes
The sun is going down
You’ll be alright
No one can hurt you now
Come morning light
You and I’ll be safe and sound

Don’t you dare look out your window darling
Everything’s on fire
The war outside our door keeps raging on
Hold onto this lullaby
Even when the music’s gone

Just close your eyes
The sun is going down
You’ll be alright
No one can hurt you now
Come morning light
You and I’ll be safe and sound

Just close your eyes
You’ll be alright
Come morning light,
You and I’ll be safe and sound…

(Safe and sound – Taylor Swift)

Tepuk tangan meriah memenuhi seluruh sudut bar ketika penyanyi itu mengakhiri lagunya. Yonghwa hanya terpaku ditempatnya. Entah kenapa suara penyanyi itu tiba-tiba menghangatkan hatinya dan membungkusnya lembut. Rasanya emosi yang tadi tidak terkendali, tiba-tiba meredup bersamaan dengan berakhirnya lagu tersebut.

“Wah… Penyanyi baru itu hebat. Suaranya benar-benar bagus” ucap seorang bartender kepada teman disebelahnya.

“Iya, dia juga cantik. Semenjak dia mulai bekerja 4 hari yang lalu, pengunjung bar ini jadi makin ramai” tanggap seorang bartenter lain disampingnya.

Yonghwa dapat mendengar pembicaraan kedua bartenter tersebut dengan jelas dari tempat duduknya saat ini. Ia sendiri juga menikmati pertunjukkan dari gadis penyanyi itu. Memang tidak bisa ia pungkiri bahwa suara penyanyi tersebut begitu jernih dan merdu walaupun kemampuannya bermain gitar masih jauh dibawah Yonghwa.

Yonghwa meneguk kembali minuman didepannya hingga habis tidak tersisa. Tiba-tiba kepalanya terasa berat dan sakit. Yonghwa mencoba bangkit dari tempat duduknya saat ini namun kakinya terasa seperti jely yang tidak mampu menahan seluruh beban tubuhnya. Yonghwa hampir tersungkur ke lantai jika saja bartender yang sedari tadi melayaninya tidak membantunya berdiri.

“Kau tidak apa-apa Tuan?” tanya bartenter itu sambil memegangi tangan kanan Yonghwa untuk membantunya berdiri tegak.

“Aniyo, gwenchana” jawab Yonghwa sembari menarik tangannya yang masih dipegangi bartenter tersebut.

“Anda yakin Tuan?” tanya bartender itu kembali, terlihat khawatir akan kondisi Yonghwa yang sudah hampir tidak sadarkan diri.

Yonghwa hanya menjawabnya dengan gumaman sambil mengangkat tangan kanannya untuk memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja. Yonghwapun kembali melangkahkan kakinya dan berjalan tidak stabil menuju toilet terdekat untuk membasuh wajahnya.

Yonghwa membasuh wajahnya di wastafel untuk meningkatkan lagi kesadarannya. Namun sepertinya hal tersebut kurang efektif untuknya saat ini. Yonghwa menoleh ke cermin di hadapannya, ia bahkan tidak bisa melihat jelas bayangan wajahnya yang terpantul dari cermin. Pandangannya mulai samar dan tidak jelas. Yonghwa kembali membasuh wajahnya. Ia harus segera mengembalikan kesadarannya mengingat malam ini ia harus mengemudikan mobilnya sendirian untuk pulang ke rumah.

Yonghwa berjalan keluar toilet masih dengan langkah sempoyongan. Tangannya mencoba meraih dinding disampingnya untuk menjaga keseimbangan tubuhnya yang semakin berkurang. Namun tiba-tiba saja Yonghwa merasa pandangannya yang tadi kabur sekarang mulai menggelap, suara dentuman musik di bar pun mulai meredup dipendengarannya, tubuhnya terasa lemah dan bumi tempatnya berpijak seakan bergoyang tidak beraturan. Iapun kehilangan keseimbangan dan terjatuh ditempatnya.

“Tuan… Tuan…” Yonghwa dapat mendengar suara itu sayup sayup. Dan seketika itu, kesadarannya hilang.

-ooo-

Yonghwa memutar tubuhnya untuk menemukan posisi yang lebih nyaman didalam posisi tidurnya saat ini. Setelah tiga atau empat kali memutar tubuh, ia tidak juga menemukan posisi yang nyaman. Ia juga dapat merasakan leher dan punggungnya yang terasa pegal dan juga kepalanya yang berdenyut hebat. Ia mencoba membuka matanya dan dengan seketika sinar matahari pagi menyengat langsung menembus pupilnya. Yonghwa mencoba memalingkan wajahnya untuk menghindari sinar matahari yang menyengatnya langsung dari arah depan dan alangkah terkejutnya ia ketika menemukan sosok gadis yang sedang duduk disisi kirinya menatap lekat wajahnya.

Refleks, Yonghwa terlonjak dari posisi tidurnya dan duduk tegak ditempatnya saat ini. Ia memperhatikan sekitar dan terkejut ketika mendapati kenyataan bahwa saat ini ia berada di dalam mobil. Tidur didalam mobilnya sendiri.

“Siapa kau? Kenapa aku ada disini?” tanya Yonghwa dengan suara serak kepada gadis yang masih menatap lekat disisi kirinya.

“Kau sudah bangun?” gadis itu malah balik bertanya.

Yonghwa menggerang ketika merasakan kepalanya berdenyut hebat akibat gerakan tiba-tibanya tadi. Yonghwapun memegang kepalanya dan memijitnya pelan. Ia memejamkan mata dan mencoba mengingat apa yang terjadi sehingga dirinya bisa berada disini. Seingatnya, tadi malam ia minum sampai tidak sadarkan diri di bar. Namun kenapa sekarang ia bisa berada dimobilnya dan dengan seorang gadis disampingnya? Ia masih belum mampu mengingat semua yang terjadi tadi malam.

“Kenapa aku bisa ada disini?” Yonghwa kembali bertanya kepada gadis disampingnya. Kali ini suaranya sudah terdengar lebih jelas.

“Kau pingsan tadi malam. Lalu aku membawamu kesini” jawab gadis itu polos. “Maaf, aku tidak bisa membawamu ke hotel,  aku tidak punya cukup uang menyewakan hotel untukmu. Lagipula didompetmu tidak ada uang cash, hanya ada kredit card. Aku mana bisa menggunakannya” lanjut gadis itu.

Yonghwa memutar kepalanya dan menatap kesal gadis disampingnya. Sebenarnya Yonghwa ingin marah ketika mendengar gadis itu membuka dompetnya sembarangan. Namun mengingat gadis itu telah menolongnya, ia mengurungkan amarahnya dan mencoba berpikir rasional. Gadis itu pasti hanya ingin membantunya.

“Kau tidak mengingatku?” tanya gadis itu tiba-tiba kepada Yonghwa

Yonghwa mengernyitkan dahinya dan memandang wajah gadis itu. Ia mencoba menggali ingatannya. Wajah gadis ini memang tidak asing baginya. Sepertinya ia pernah bertemu sebelumnya dengan gadis itu. Namun Yonghwa tidak mampu mengingatnya. Kepalanya terasa bertambah sakit ketika ia mencoba menggali ingatannya. Sepertinya pengaruh alkohol itu masih berefek padanya sampai pagi ini.

“Maaf, aku tidak ingat” ucap Yonghwa sambil kembali memijit keningnya yang terasa sakit.

“Tsk!” gadis itu terlihat kecewa dengan jawaban Yonghwa. “Satu juta won. Apa kau tidak ingat?” gadis itu kembali memberikan pertanyaan kepada Yonghwa.

“Saat ini aku tidak ingin main tebak-tebakan, agashi!” jawab Yonghwa ketus. Ia merasa kesal karena gadis ini terus saja menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ia jawab dan malah membuat kepalanya bertambah sakit.

Gadis itu mendengus kesal mendengar jawaban Yonghwa. “Aku gadis dirumah sakit itu. Aku meminjam uangmu satu juta won. Kau tidak ingat Jung Yonghwa-sii?” jawab gadis itu tidak kalah ketus, merasa kesal dengan perkataan Yonghwa tadi. Jika laki-laki ini bukan orang yang pernah menolongnya, mungkin ia akan meninggalkan lelaki ini tergeletak di bar sampai pagi.

Yonghwa terbelalak kaget. Ia ingat sekarang. Gadis ini adalah gadis yang ia tolong di Rumah Sakit tempo hari. Gadis yang mencoba kabur dari Rumah Sakit karena merasa dirinya telah sembuh, gadis yang dengan mudahnya meminjam uang kepadanya padahal ia belum pernah mengenal Yonghwa sebelumnya.

“Lee Seohyun-sii?” tanya Yonghwa ragu. Masih mengingat-ingat mana gadis itu

“De” jawab Seohyun ketus tanpa melihat ke arah Yonghwa.

Wajar Yonghwa tidak mengenalinya, gadis dihadapannya ini terlihat begitu berbeda dengan gadis yang bertemu dengannya di Rumah Sakit beberapa bulan lalu. Gadis dihadapannya saat ini terlihat begitu rapih dan cantik dengan make up minimalis dan dress hitam yang ia kenakan. Begitu berbeda dengan tampilannya di Rumah Sakit tempo hari.

“Kau kenapa bisa ada disini?” tanya Yonghwa kepada Seohyun yang masih duduk dikursi kemudi sedari tadi.

“Aku bekerja disini” jawab Seohyun singkat. Terlihat masih kesal dengan jawaban Yonghwa tadi

“Bekerja?” tanya Yonghwa penasaran.

“Sebagai penyanyi” jawab Seohyun cepat. Tidak ingin Yonghwa salah sangka dengan pekerjaannya.

“Ah…” Yonghwa menanggapi sambil mengganggukkan kepalanya mengerti. Ia ingat, pasti penyanyi di bar tadi malam itu Seohyun.

“Terimakasih karena telah menolongku” Yonghwa merasa tidak enak pada Seohyun karena belum berterimakasih atas bantuannya hari ini. “Tapi kenapa kau menungguiku?” tanya Yonghwa yang penasaran kenapa gadis ini tidak meninggalkannya sendiri didalam mobil tadi malam.

“Mana mungkin aku membiarkanmu tidur didalam mobil seorang diri? Itu terlalu berbahaya”

Tanpa sadar, Yonghwa tersenyum mendengar jawaban Seohyun. Entah kenapa, jawaban gadis ini begitu jujur dan polos.

“Kenapa tersenyum?” tanya Seohyun yang bingung melihat Yonghwa tiba-tiba mengulum senyum seorang diri

“Ani. Aku hanya merasa ini lucu. Ternyata dunia tidak sebesar yang kukira. Buktinya aku bisa bertemu denganmu lagi” jawab Yonghwa bohong.

Seohyun mengangguk kecil, menyetujui perkataan Yonghwa tadi. Ia juga tidak mengira bisa bertemu dengan lelaki ini lagi padahal Seohyun belum sempat menghubunginya. Dunia memang begitu kecil.

“Ah iya. Aku belum bisa mengembalikan uangmu, Yonghwa-sii. Aku masih berusaha mengumpulkan uangmu. Begitu semuanya telah terkumpul, aku janji akan mengembalikannya. Namun aku tidak bisa menjanjikan waktunya. Tapi pasti aku kembalikan! Aku mohon pengertianmu” jelas Seohyun begitu mengingat utangnya kepada Yonghwa. Ia takut jika Yonghwa tiba-tiba meminta uangnya saat ini.

“Aniyo, Gwenchana.  Aku tidak akan memintanya sekarang” jawab Yonghwa santai. Ia memang belum terlalu membutuhkan uang itu saat ini.

“Dimana rumahmu, Seohyun-sii?”

“Sangdodong. Kenapa?”

“Biar kuantar kau pulang” jawab Yonghwa sembari membuka pintu mobil disampingnya untuk bertukar tempat dengan Seohyun.

-ooo-

“Terimakasih, Yonghwa-sii” Seohyun membungkuk ketika Yonghwa membukakan pintu mobil untuknya setibanya mereka didepan apartement Seohyun. Seohyun merasa senang sekaligus tersanjung atas perlakuan Yonghwa terhadap dirinya, padahal mereka belum lama mengenal.

“Maaf kau jadi telat pulang karena aku” Yonghwa masih merasa bersalah karena mengakibatkan seorang gadis pulang terlambat.

“Gwenchanna”

Yonghwa tersenyum mendengar perkataan Seohyun. Entah kenapa, ia merasa moodnya membaik setelah obrolan singkatnya dengan Seohyun tadi. Menurut Yonghwa, Seohyun merupakan gadis yang pintar, pemalu, dan unik.

Tadi ketika diperjalanan menuju apartement Seohyun, tidak ada dari mereka yang membuka suara dan suasana menjadi begitu canggung. Maka Yonghwa mencoba untuk mencairkan suasana dengan membuka percakapan. Dan Yonghwa begitu dikejutkan dengan jawaban-jawaban Seohyun dari percakapan mereka. Gadis itu bilang bahwa ia begitu menyukai Ban Ki Moon yang merupakan seorang diplomat Korea Selatan dan SekJen dari PBB, suka membaca buku tentang self improvement, suka makan ubi dan minum jujube latte. Gadis itu jelas berbeda sekali dengan gadis-gadis seumurannya yang lebih menyukai Idol seperti Super Junior dan membaca komik atau novel percintaan remaja. Dan menurut Yonghwa, mungkin itulah pesona seorang Seohyun.

“Masuklah” ucap Yonghwa kepada Seohyun.

“De. Terimakasih sekali lagi, Yonghwa-sii” Seohyun kembali membungkukkan tubuhnya kepada Yonghwa dan kemudian berjalan masuk ke apartementnya.

Yonghwa melirik jam tangannya. Ia sudah terlambat 10 menit masuk kantor. Yonghwapun segera masuk mobil dan langsung meluncur ke kantornya tanpa berniat mampir pulang terlebih dahulu hanya untuk sekedar mengganti pakaian.

-ooo-

12.20 KST @Coffe Lab – Coffe Shop

Jonghyun kembali melirik jam tangannya untuk kesekian kali. Ini sudah lebih dari dua puluh menit dari waktu janjiannya dengan seseorang dan sampai sekarang belum ada tanda-tanda orang tersebut akan datang. Ternyata kebiasaan buruk orang itu belum juga berubah sampai sekarang. Kebiasaannya datang terlambat ketika ada janji tidak juga berubah.

Jonghyun berdecak kesal sambil terus melirik jam tangannya. Ia hanya punya waktu kosong hingga 40 menit kedepan sampai jam makan siangnya berakhir dan ia harus secepatnya kembali ketempat kerjanya lagi. Jonghyunpun menyeruput hot latte didepannya untuk sekedar mencoba menenangkan diri. Ia mencoba mengontrol emosinya yang mulai memuncak akibat seseorang yang ditunggunya itu. Ia tetap harus tenang, bagaimanapun ia membutuhkan orang itu untuk membantunya. Karena hanya orang itu harapan Jonghyun satu-satunya saat ini.

Beberapa menit kemudian, pintu coffee shop itu terbuka dan masuklah seorang lelaki dengan langkah cepat. Lelaki itupun mengedarkan pandangan cepat ke segala sudut ruangan untuk menemukan seseorang yang telah membuat janji dengannya dua puluh lima menit yang lalu. Setelah menghabiskan beberapa detik mengobservasi tempat itu, akhirnya ia dapat menemukan orang yang telah membuat janji dengannya, sahabat lamanya.

“Jonghyun-ah” panggilnya sembari berjalan ke arah Jonghyun.

“Ya!! Cho Kyuhyun! Kau benar-benar!” rutuk Jonghyun ketika melihat sahabatnya, Cho Kyuhyun berjalan sambil melambaikan tangan ke arahnya.

“Apa kabar brother?” sapa Kyuhyun santai ketika ia tiba dimeja yang telah dipesan Jonghyun kemudian duduk dihadapan sahabatnya itu.

“Tidak bisakah kau merubah kebiasaan burukmu itu??” tanya Jonghyun to the point.

“Mian. Tadi aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu. Aku jadi lupa waktu ketika kasus yang sedang kutangani saat ini menemukan kemajuan” jawab Kyuhyun sambil menyunggingkan senyum mautnya kepada Jonghyun. Senyum andalannya yang bisa menaklukkan wanita hanya dalam waktu 5 detik. Namun senyum itu seratus persen tidak berpengaruh terhadap Jonghyun.

Lelaki dihadapannya ini adalah Cho Kyuhyun, sahabatnya sedari Junior High School. Cho Kyuhyun merupakan sunbaenim-nya di sekolah dulu, ia satu tahun lebih tua dari Jonghyun dan mereka sudah bersahabat semenjak Jonghyun memasuki tahun pertamanya di sekolah.

Jonghyun mengenal dekat Kyuhyun ketika Kyuhyun membentuk grup yang bernama “Kyu Line” disekolahnya. Ia merekrut siswa-siswa disekolah yang tampan dan berprestasi untuk masuk kedalam genk nya tersebut. Konyol memang, namun toh Jonghyun setuju untuk bergabung dengan genk bentukkan Kyuhyun itu. Dengan begitu ia dapat bersahabat baik dengan Changmin sang ketua OSIS tampan yang berusia dua tahun diatasnya, Minho yang merupakan bintang basket berbakat berusia satu tahun dibawahnya, dan juga Kyuhyun sendiri, siswa terpandai yang meraih juara umum 3 tahun berturut-turut di sekolahnya. Jonghyun sendiri direkrut karena –menurut Kyuhyun- ia merupakan Leader sekaligus gitaris berbakat di band sekolahnya dulu.

“Bagaimana kasusku? Apa sudah ada perkembangan sejauh ini?” tanya Jonghyun ketika Kyuhyun telah selesai memesan ice frappuchinno-nya kepada pelayan.

“Bisa dibilang ada, namun hanya sedikit. Susah sekali menemukan petunjuk mengingat saksi mata yang diketahui hanya orang itu” jawab Kyuhyun serius.

Saat ini Kyuhyun bekerja sebagai seorang detektif di kepolisian pusat Seoul. Jonghyun meminta bantuan Kyuhyun untuk menyelidiki kasus yang terjadi padanya empat tahun yang lalu. Namun sepertinya kasus ini memang menemui jalan buntu, bahkan Kyuhyun yang dinobatkan sebagai detektif muda berbakat tahun ini dari kepolisian pusat pun kesulitan untuk menyelesaikan kasus Jonghyun. Sampai saat ini belum ada bukti maupun saksi yang ditemukan. Jonghyun sendiri hampir putus asa untuk mengusut kembali kasus ini. Namun hati kecilnya berontak, ia yakin pasti akan ada jalan keluarnya suatu saat nanti.

“Beberapa hari yang lalu aku dan rekan ku kembali menyusuri TKP dan bertanya kepada beberapa warga didaerah itu. Ternyata salah satu diantaranya ada yang mengenal saksi kunci yang kau ceritakan. Namun sepertinya orang itu telah pindah dari wilayah itu sekitar 2 tahun yang lalu. Dan sampai saat ini, aku belum menemukan petunjuk kembali” jelas Kyuhyun sambil menyeruput ice frappuchinno nya yang telah tiba.

Jonghyun berdecak. Ia harus kembali menelan kekecewaan. Saat ini, Jonghyun sedang mencari saksi kunci pada kasusnya yang terjadi empat tahun yang lalu. Hanya saksi itu yang dapat membantunya menemukan pelaku dari kasusnya tersebut. Pelaku yang telah membuat cacat tangan kirinya dan merubah kehidupannya.

“Hyung, tolong kabari aku jika kau menemukan kembali perkembangan kasus ini sekecil apapun” pinta Jonghyun.

“Arasho, aku pasti akan mengabarimu” Kyuhyun menyanggupi permintaan Jonghyun. Ia sendiri begitu gemas dengan kasus Jonghyun yang tak kunjung menemui titik terang. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan mengerahkan seluruh kemampuan untuk menyelesaikan kasus sahabatnya itu.

“Jonghyun-ah, kudengar Tiffany kembali ke Korea. Apa kau sudah bertemu dengannya?” Kyuhyun tiba-tiba mengubah topik pembicaraannya dengan Jonghyun.

Jonghyun tidak langsung menjawab pertanyaan Kyuhyun. Ia justru menyeruput hot latte yang mulai mendingin dihadapannya.

“Hmmmm” Jonghyun hanya menjawab pertanyaan Kyuhyun dengan gumaman dan sedikit anggukan dikepalanya.

“Apa kau sudah berbicara padanya?” tanya Kyuhyun terlihat penasaran.

“Ani” jawab Jonghyun singkat.

“Tsk! Jonghyun-ah sampai kapan kau mau seperti ini? Sifat keras kepalamu tidak juga membaik ya?” sindir Kyuhyun

“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi hyung”

“Tapi setidaknya dengarkan penjelasan Fanny terlebih dahulu. Lagipula ia tidak bermaksud meninggalkanmu saat itu”

Jonghyun hanya diam mendengar perkataan Kyuhyun. Sebenarnya ia tidak mau membahas masalah itu saat ini.

“Perbaikilah hubungan kalian. Kurasa itu semua hanya salah paham” lanjut Kyuhyun.

“Hubungan kami telah berakhir saat itu hyung. Sudah empat tahun berlalu”

Kyuhyun berdecak. Sifat keras kepala dan harga diri Jonghyun yang terlalu tinggi membuat lelaki itu sulit menerima masukkan dari orang lain.

“Baiklah jika itu keputusanmu” Kyuhyun akhirnya menyerah dengan sifat keras kepala sahabatnya itu. “Tapi setidaknya akhiri semua ini dengan baik. Kalian memulai hubungan ini dengan baik, maka akhiri dengan baik pula” lanjut Kyuhyun terdengar bijak.

“Aku merasa aneh jika kau yang mengucapkan kalimat itu hyung” sindir Jonghyun. Ia tahu betul sifat Kyuhyun yang flamboyan. Lelaki ini terkenal playboy dan tidak pernah bertahan lebih dari satu bulan dengan seorang wanita.

“Ya!! Aku sudah berubah sekarang. Setidaknya aku mengkhawatirkan mu, bodoh!” protes Kyuhyun sambil menjitak kepala Jonghyun dengan tangan kanannya.

“Tsk! Arasho, nanti aku seselaikan semuanya” ucap Jonghyun kesal sambil mengelus kepalanya yang terasa sakit akibat jitakan Kyuhyun tadi.

-ooo-

Esokan hari di sebuah apartement di sudut kota Seoul.

“Selesai” ucap Yoona riang sembari menyeka keringat yang mengalir di dahinya.

“Aigoo… Ternyata barang-barangmu banyak juga Yoon-ah” ucap Yonghwa yang baru saja tiba dengan satu kardus besar ditangannya.

“Oppa, letakkan itu disana” perintah Yoona sambil menunjuk salah satu sudut ruangan yang masih kosong dari tumpukan barang-barang.

Yonghwapun meletakkan kardus besar yang berisi baju-baju Yoona di sudut ruangan itu kemudian kembali menghampiri Yoona didepan pintu.

“Apa kau yakin dengan semua ini, Yoon-ah?” tanya Yonghwa ketika dirinya telah berdiri tepat disamping adiknya itu.

“Ne, oppa. Kurasa ini yang terbaik saat ini” jawab Yoona yakin.

Hari ini Yoona pindah ke sebuah apartement sederhana disudut kota Seoul. Inilah ide yang Yoona sarankan kepada kakaknya tempo hari. Ia meminta persetujuan Yonghwa untuk keluar dari rumahnya dan tinggal sendiri disebuah apartement untuk menghindari pertengkarannya dengan ayah dan ibu tirinya. Yoona rasa, inilah jalan terbaik untuk saat ini. Dengan keluarnya ia dari rumah, maka Yoona tidak perlu lagi mendapatkan perlakuan tidak adil dari ayahnya terlebih ketika kakaknya sedang tidak berada di rumah. Lagipula ayahnya tidak dapat melarang Yoona saat ini. Bukankah ayahnya sudah berjanji untuk tidak mencampuri kehidupan Yoona selama satu tahun ini?

“Tapi oppa bisa menyewakan apartement yang lebih baik dari ini” protes Yonghwa sambil memperhatikan sekeliling apartement Yoona. Apartement ini terlihat begitu kumuh dan tua. Yonghwa sebenarnya keberatan jika Yoona harus tinggal ditempat seperti ini.

“Aniyo. Gwenchanna, oppa. Aku merasa nyaman disini. Aku mengenal pemilik apartement ini. Lagipula gajiku saat ini hanya cukup untuk menyewa apartement ini” Yoona tersenyum, merasa senang membayangkan kehidupannya yang akan jauh dari tekanan mulai sekarang.

“Oppa bisa menyewakan apartement lain untukmu. Biar oppa yang bayar semuanya”

“Aniyo, oppa. Aku ingin melakukan semuanya sendiri. Mulai hari ini aku ingin hidup dengan penghasilanku sendiri” tolak Yoona sambil memasang senyum bangga diwajahnya.

“Arasho” akhirnya Yonghwapun mengalah dan menyetujui keputusan Yoona. “Tapi oppa akan selalu mengawasimu. Oppa akan mengunjungimu jika oppa memiliki waktu, namun jika oppa sedang sibuk, oppa akan meminta Jungshin untuk menggantikan oppa melihat keadaanmu”

“Iya, aku mengerti oppa”

“Kau tinggal sendiri bukan berarti kau bebas melakukan apapun, Yoon-ah. Tidak boleh keluar lebih dari jam 11 malam, kunci pintu ketika akan tidur, tidak boleh membawa tamu asing, dan bersihkan kamarmu minimal seminggu sekali” pesan Yonghwa kepada adiknya

“Oppa cerewet sekali” protes Yoona sambil  mengerucutkan bibirnya.

“Oppa hanya mengkhawatirkanmu, sweety”  ujar Yonghwa sambil menjitak pelan kepala adik kesayangannya ini. Sebenarnya Yonghwa masih tidak tenang untuk mengizinkan Yoona tinggal seorang diri, terlebih lagi Yoona biasa dilayani dari ia kecil. Yonghwa tahu betul kemampuan Yoona. Adiknya ini tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah tangga seorang diri. Ia tidak bisa memasak, mencuci, mengepel, menyetrika, bahkan menjemur pakaianpun Yoona tidak pernah melakukannya. Dan semua itu menambah kekhawatiran Yonghwa terhadap kehidupan adiknya kedepan nanti.

“Oppa tenang saja. Aku akan menunjukkan pada oppa bahwa aku bisa mandiri” ucap Yoona meyakinkan Yonghwa.

Yonghwa hanya menggangguk sambil mengelus puncak kepala Yoona. Mencoba meyakinkan dirinya sendiri atas perkataan yang diucapkan Yoona tadi.

-ooo-

21.00 KST @ Kediaman Jonghyun

Tok – tok – tok

Jonghyun berjalan gontai ke arah pintu rumahnya. Siapa yang bertamu ke rumahnya malam-malam seperti ini? Ia tidak pernah kedatangan tamu semalam ini sebelumnya. Kecuali saat kejadian Yoona yang tiba-tiba muncul di gazebo depan rumahnya beberapa hari yang lalu. Namun ia rasa yang satu itu tidak masuk hitungan.

“Nuguseyo?” tanya Jonghyun persis setelah ia berhasil membuka kunci rumahnya.

“Anyeong Haseyo” sapa Yoona sambil membungkukkan tubuhnya setelah melihat Jonghyun membuka pintu

“Kau… Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini?” tanya Jonghyun sambil memandang Yoona heran

“Aku ingin mengembalikan ini” Yoona menyerahkan sebuah kantong kepada Jonghyun.

Tanpa menunggu perintah, Jonghyun segera melihat isi kantong tersebut. Ternyata isinya adalah baju kemeja, celana jeans, dan sepatu yang ia pinjami untuk Yoona beberapa hari yang lalu.

“Kau bisa mengembalikannya besok di cafe” ucap Jonghyun yang tidak habis pikir dengan tindakan Yoona yang mengunjungi rumahnya malam-malam hanya untuk mengembalikan barang ini.

“Aniyo. Sebenarnya bukan hanya itu tujuanku datang kesini”

Jonghyun mengeryitkan dahinya setelah mendengar perkataan Yoona. Sedikit bingung dan penasaran dengan ucapan menggantung yang Yoona berikan. Namun ia tidak berusaha menanyakan maksud perkataan Yoona melainkan hanya diam menunggu penjelasan lebih lanjut dari gadis dihadapannya ini.

“Memang sebenarnya sudah agak larut malam” jawab Yoona ragu sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal, merasa sedikit bersalah karena telah mengganggu istirahat Jonghyun. “Tapi aku hanya ingin menyapa tetangga baruku. Aku baru saja pindah ke apartement ini siang tadi. Rumahku di lantai 5 nomor 502. Jadi, mohon bantuannya untuk kedepan” jelas Yoona sambil kembali membungkuk hormat kepada Jonghyun.

“Hah?” Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Jonghyun setelah mendengar penjelasan Yoona. Masih belum mampu mencerna perkataan Yoona dengan baik.

“Kau pindah kesini? Ke apartement ini?” Jonghyun mencoba mengklarifikasi ulang perkataan Yoona barusan

Yoona menggangguk cepat membenarkan pertanyaan Jonghyun tadi. Terlihat senyuman mulai menghiasi wajah mungilnya.

“Mohon bantuanmu, Lee Jonghyun-sii” ucap Yoona kemudian masih dengan senyum yang terus terkembang dibibirnya.

-ooo-

Esok hari, 13.00 KST @Amore Cafe

“Yoonie~~, ada yang mencarimu” panggil Jessica dari arah luar ruang istirahat.

“Siapa eonni?” Tanya Yoona sambil berjalan ke arah Jessica

“Tiffany-sii” jawab Jessica setengah berbisik

“Heh?” Yoona mengeryitkan darinya terlihat terkejut sekaligus bingung. Kenapa Tiffany mencarinya?

Yoonapun berjalan menghampiri meja tempat dimana Tiffany duduk di sudut cafe. Ia dapat melihat Tiffany yang tengah sibuk dengan handphonenya sambil sesekali menyeruput Hot Chocolatte kesukaannya. Dari jauhpun Yoona dapat melihat kecantikkan dan postur tubuh sempurna Tiffany. Sedikit iri dengan gadis itu. Kenapa Tuhan bisa menciptakan makhluk sesempurna itu di dunia? Sungguh tidak adil.

“Kau mencariku, Tiffany-sii?” tanya Yoona ketika ia telah tiba di meja Tiffany.

Tiffany yang sedari tadi masih sibuk dengan handphonenya menoleh ke arah Yoona. Iapun tersenyum ramah begitu melihat Yoona telah berdiri disampingnya. “Anyeong Haseyo, Yoona-sii” sapa Tiffany yang terlihat senang dengan kehadiran Yoona.

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Kau ada waktu?” lanjut Tiffany

-ooo-

Samwon House Resto, Gagnam-gu

Yoona kembali melahap Bibimbap dihadapannya dan mengunyahnya pelan. Diliriknya Tiffany -yang duduk dihadapannya-  masih sibuk mengaduk bibimbap-nya dari lima menit yang lalu. Saat ini mereka berada di salah satu restoran yang cukup terkenal di daerah Gagnam. Tiffany yang mengajak Yoona kesini untuk membicarakan sesuatu, namun sampai saat ini Tiffany sendiri belum membuka suara dan malah sibuk dengan bibimbap dihadapannya.

“Apa yang mau kau bicarakan, Tiffany-sii?” tanya Yoona yang sudah hampir hilang kesabaran melihat Tiffany yang masih diam sedari tadi

Tiffany akhirnya menghentikan kegiatannya mengaduk bibimbap dan menatap Yoona. Ia terlihat tengah berpikir untuk memulai pembicaraan dengan Yoona. Yoonapun kembali menyuap bibimbapnya sambil terus memandang Tiffany menuntut penjelasan.

“Apa kau anak dari Im Seolong?” tanya Tiffany tiba-tiba yang berhasil membuat Yoona tersedak makanannya. Yoonapun terbatuk dan mencoba melancarkan kembali pernapasannya dengan memukul-mukul dadanya. Tiffany refleks mengambil gelas berisi air disisi kirinya dan menyodorkannya kepada Yoona

“Mian” ucap Tiffany cepat ketika Yoona sudah mulai dapat mengatur napasnya.

Yoona menatap tajam Tiffany. Mencoba mencari tahu apa maksud dari pertanyaan Tiffany barusan.

“Apa maksudmu?” tanya Yoona menggantung. Masih menatap lekat Tiffany yang duduk dihadapannya. Yoona tidak mau langsung menjawab pertanyaan Tiffany tersebut. Setidaknya ia ingin tahu apa alasan Tiffany bisa menanyakan pertanyaan seperti itu kepadanya.

“Maaf, sebenarnya itu hanya pemikiranku saja. Aku mengajakmu bertemu untuk menanyakan hal itu” Tiffany terlihat mulai gelisah dengan tatapan menuntut Yoona. Merasa tidak enak jika pemikirannya itu ternyata salah.

“Kemarin, aku menjalani pemotretan untuk iklan Lotte Mall. Lalu tiba-tiba ada seorang staf yang bilang padaku bahwa Siwon-sii telah memiliki tunangan yakni putri dari pemilik Heaven Coorp, Im Seolong. Dan staf itu bilang bahwa Siwon-sii mengajak tunangannya itu pada malam pembukaan Lotte Mall” jelas Tiffany.

Yoona masih diam tidak berkomentar. Masih menunggu penjelasan Tiffany lebih lanjut mengenai dirinya.

“Dan setahuku, aku hanya melihat Siwon-sii bersama denganmu pada malam pembukaan Lotte Mall itu. Jadi aku mengira, kaulah anak Tuan Im Seolong. Apa… itu benar?” tanya Tiffany ragu-ragu. “Kalau aku salah, aku benar-benar minta maaf Yoona-sii. Aku tahu ini bukan kapasitasku untuk menanyakan hal ini. Namun kabar yang beredar mengenai tunangan Siwon-sii semakin hari makin meluas dikalangan karyawan Lotte Coorp” lanjut Tiffany cepat.

Yoona meneguk kembali air putih dihadapannya. Mencoba menenangkan diri dan berpikir sebelum menjawab pertanyaan Tiffany barusan.

“Lalu apa yang kau dapat jika kau tahu siapa anak dari Im Seolong?” tanya Yoona mencoba tetap tenang

“Aku hanya ingin memberitahukan hal itu. Kau tahu kan, gosip diantara kalangan chaebol1 bisa mengubah banyak hal. Termasuk perekonomian dan perubahan harga saham” terang Tiffany.

Ya, Yoona sendiri juga mengerti. Gosip mengenai dirinya dan Siwon bisa berdampak pada perusahaan ayahnya dan perusahaan Siwon sendiri. Para pengusaha pasti berpikir jika berita yang beredar itu benar, maka tidak menutup kemungkinan kedua perusahaan besar di Korea Selatan –Heaven Coorp dan Lotte Coorp- itu menyatukan perusahaan mereka. Dan itu berarti, akan ada respon negatif dan respon positif mengenai bergabungnya dua perusahaan besar itu. Sebagian perusahaan yang bekerja sama dengan Heaven Coorp ataupun Lotte Coorp mungkin akan senang karena merasa rekan bisnis mereka memiliki saham yang semakin kuat dan menguntungkan mereka, sedangkan lawan bisnis mereka mungkin akan mengganggap penggabungan kedua perusahaan besar itu sebagai sebuah ancaman. Maka dari itu, gosip seperti ini tidak bisa dibiarkan berkembang dan harus segera di konfirmasi.

“Arasho. Terimakasih atas informasinya” jawab Yoona. “Sebagai informasi untukmu, aku memang anak dari Im Seolong. Tapi perlu kupertegas, kalau aku bukan tunangan dari Choi Siwon” jelas Yoona mantap pada akhirnya.

“Jadi itu benar?” Tiffany membulatkan matanya kaget

Yoona menjawabnya dengan anggukan. “Tapi tolong kau rahasiakan ini. Aku mohon” pinta Yoona. Ia merasa Tiffany dapat dipercaya dan dapat menyimpan rahasianya. Ini pertama kalinya Yoona mengaku sebagai anak dari Im Seolong, sebelumnya ia tidak pernah mengaku secara terang-terangan seperti saat ini.

Tiffany mengangguk cepat menanggapi permintaan Yoona. “Tenang saja, kau bisa mempercayaiku” ucap Tiffany sambil tersenyum senang ke arah Yoona. Senang karena gadis ini akhirnya mau berkata jujur kepadanya.

“Terimakasih, Tiffany-sii”

“Aniyo. Ah! Aku boleh memanggilmu Yoonie? Kelihatannya lebih akrab. Kau boleh memanggilku dengan sebutan lain” pinta Tiffany

“Oke. Fanny eonni? Bagaimana jika kau ku panggil seperti itu. Bukankah kau satu tahun lebih tua dariku?”

“Oke, tidak masalah, Yoonie” ucap Tiffany sembari terkikik pelan.

Yoonapun ikut tertawa. Entah kenapa Yoona begitu nyaman berbicara dengan Tiffany.  Ia seperti mendapatkan seorang kakak perempuan hari ini. Sudah lama Yoona ingin memiliki kakak perempuan. Seseorang yang dapat berbagi pendapat mengenai fashion dengannya, bercerita tentang kegiatannya setiap hari, menangis bersama ketika menonton drama, pergi ke salon bersama, dan bergosip tentang seorang lelaki tampan bersamanya. Yoona berharap setidaknya ia dan Tiffany bisa saling berbagi cerita, baik mengenai kegiatan mereka ataupun tentang seorang lelaki mungkin.

Yoona tiba-tiba teringat dengan lelaki yang membuatnya mengenal Tiffany. Lee Jonghyun. Dan dengan seketika, berbagai pertanyaan yang dahulu hanya dipendamnya mengenai hubungan Tiffany dan Jonghyun mendadak menguap ingin keluar dari mulutnya.

“Fanny eonni, boleh aku tanya sesuatu?” Yoona terlihat ragu-ragu

“Tentu” jawab Tiffany riang sambil menatap Yoona dengan eye-smile nya

“Apa hubunganmu dengan Lee Jonghyun?” akhirnya pertanyaan yang terus bergumul didalam otak Yoona selama berhari-hari itu keluar juga

Yoona dapat melihat perubahan wajah Tiffany sekilas. Namun gadis itu kembali tersenyum kearah Yoona. Sedangkan Yoona masih diam menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Tiffany.

“Aku  adalah orang selalu mencintainya”

Jawaban singkat Tiffany itu sukses membuat dada Yoona terasa tersayat-sayat. Yoona sendiri tidak mengerti, kenapa dadanya terasa begitu ngilu setelah mendengar pengakuan Tiffany barusan. Rasanya sesak sekali. Perasaan apa sebenarnya ini?

-ooo-

1: pengusaha besar / konglomerat di Korea Selatan

Halo semua ketemu lagi di Crush Part 7. Maaf agak lama updatenya. Sebagai ucapan maaf, aku kasih part 7 ini lebih panjang dari part-part sebelumya. Semoga kalian menyukainya. Dan satu lagi, maaf kalau ada beberapa bagian yang tidak sesuai fakta dilapangan seperti soal saham dan perusahaan. Karena jujur aku ga ngerti banyak soal area itu. hehehe…😀

Terakhir, aku ucapkan selamat membaca untuk para reader tercinta….

28 thoughts on “Crush [Part 7]

  1. akhirnya dipsot lagi🙂
    semakin seru nih tiffany sama yoona jadi temenan hahaha bakal dalem deh nanti konfliknya. semangat author😀 ditunggu part selanjutnya :*

  2. Kereen thor,, jngn lama2 part selnjtnya,, n banyakin moment jongyoon ny dong,, n karakterny dy Q ngga mudeng suka ga sama yoona… Mksh

  3. bagus ^^ aku suka bacanya. sampe ketawa2 sendiri ^o^ bahkan nangis saat pertemuan yonghwa dgn ibunya😥
    buat karakter jonghyunnya…sangat suka!!! dia emang burning :*

  4. Waiii.. Aku balik lagiii~
    Ada momment YongSeo :O
    Serulah ini Yoona tinggal deketan sama Jonghyun..😄 bakal makin akrab nggak ya?
    Yonghwa perhatian banget sama Yoona..😄
    Eh? YoonFan temenan? Aigoo.. :O
    Itu yang nabrak Jonghyun, appanya Yoona bukan sih?:/
    Makin keren eonnie FFnya.. Suka suka! Apalagi panjang.. Hehe..😄 oke, ditunggu kelanjutannya ne? Fighting!’O’)9

    • makasih chingu…
      disini Yonghwa emg aku buat jadi kakak yang penuh perhatian sm ade satu2nya… *dampak punya kakak kelewat cuek T.T
      kira2 siapa ya pelaku pd kasus jonghyun?? tungguin aja di part2 selanjutnya yaaaa… hihihihi

  5. ahhhhh fanny jujur lai ma yoona . ahhhh cemburu deh dia.
    dan penasaran akut ma masa lalu jonghyun 4 th lalu yg ngerubah hidupnya dan yg buat tiffany ninggalin dia. ahhhh
    dan ini kenapa feeling juga ngarah kalo jonghyun ma yoona saling terikat ma kasus 4th yg lalu.
    seohyun yonghwa ihh wowww berasa nonton wgm lagi. suka ahhhh smoga mereka jadian ihiiiy
    lanjuut

  6. hidup yongseo *loh? hahahah maf ya say, aqu shiper yongseo soalnya /plak sneng momen yongseo di ff ini kya~
    stuju ma yoon mnding kluar dr rmh kluarga IM drpda ttp tinggal n dpt KDRT mlu /plak
    wahh yoon ma fanny jd deket, sesuatu deh tp aga nyesek pas bgian fanny blg dya sllu mncintai jonghyun *wow
    next part 8🙂

  7. Yeeeee Yongseo kmbli bertemu dan mrk sdh mulai bolh dibilng akrab dan sortinya Yongppa sangat nyamn bersm seo eon… smiga smakiiiiiin akrab😀
    yoon m jong juga smkn akrab.
    Jdi ide yoona itu pindah? emng itu yg terbaik

  8. wah kakak adiknya aku suka, mereka sweet~
    moment jonghyun yoona yg di apart juga,
    ga kebayang liat ekspresi jonghyun kalo yoona mulai tinggal disitu
    lanjutkan thor, hwaiting!^^

  9. Keren chingu…ff nya..duh yoona pndah ke tempat jonghyun berada….duh sangat tdk dpercaya…yoona pasti galau stlh thu jwaban hbngan jonghyun dg fany…

  10. itu namax cemburu yoonie…
    kekekekekekeke
    jalan critax baguz tp kok lama bgt bahaz mslh 4 taon lalu????!!!!da pa se sebnarx???
    mo bkin penasaran para reader y???
    psti bkal banyak kejutan d chapt2 akhir
    woooah..g sabar jdx!baca next chapt ah..♥♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s